Merohanikan Sinode Godang (bagian keempat – tammat)

August 26, 2010
By

sinode-godang-penghitungan-suara.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Sinode Godang pemilihan Pimpinan HKBP  yang sangat demokratis, semarak,  hiruk-pikuk dan penuh manuver serta intrik ala partai politik, tak bisa disangkal  ternyata telah menuai hujan kritik dan kecaman tajam terutama dari warga jemaat. Sinode Godang HKBP dianggap sangat “duniawi”, “sekuler” atau “tidak rohani”. Pemilihan yang semacam itu dianggap hanya pantas dalam organisasi duniawi seperti partai politik atau organisasi kemasyarakatan, bukan gereja. Lantas warga jemaat yang kecewa pun menyampaikan usulan  agar HKBP mengubah sistem pemilihannya. Apalagi pemilihan demokratis semacam itu dianggap sangat potensial melahirkan sakit hati bagi yang kalah dan lantas mendorong perpecahan di kalangan HKBP. Lantas bagaimana? Warga pun mengusulkan sistem pemilihan yang sama sekali baru dan tidak pernah dikenal dalam gereja manapun di dunia ini. Apa itu? Pemilihan berdasarkan undian atau manjomput na sinurat (terjemahan hurufiah: mencabut nama yang tertulis).

Usulannya kira-kira begini: nama calon-calon Pimpinan dituliskan dalam secarik kertas, digulung, lantas dimasukkan ke kotak, dan setelahnya kotak pun dikocok. Kemudian Sinode Godang berdoa memohon agar Tuhan sendirilah yang memilihkan calon pimpinan HKBP. Selanjutnya seorang pendeta yang tertua atau siapa yang dianggap netral disuruh mencabut  satu kertas. Nama siapapun yang terambil itulah dianggap pilihan Tuhan. Sebab itu harus diterima dengan lapang dada.

Bagaimana kalau yang namanya terambil sama sekali belum berpengalaman memimpin, tidak punya wawasan dan tidak dikenal luas di HKBP dan dipandang sebagian besar sinodesten tidak pantas memimpin HKBP? Ya apa boleh buat. Kata para pengusul sistem undi: itu sudah kehendak Tuhan yang harus diterima dengan ikhlas. Dengan sistem pemilihan undian ini keputusan dianggap berasal dari Tuhan sebab itu mutlak.

Namun para pengusul rupanya berpikir ulang dan lantas mengajukan perbaikan usulan baru. Pada tahap awal pemilihan calon Pimpinan dilakukan tetap dengan sistem pemungutan suara sampai menemukan 5(lima) nama. Kemudian ke dalam kotak dimasukkanlah lima potong kertas bertuliskan:eforus, sekjen, kadep koinonia, kadep marturia dan kadep diakonia. Lantas sinode godang (tentu saja juga para calon) disuruh berdoa memohonkan agar Tuhan campur tangan memilihkan HKBP para pemimpin yang dikehendakiNya. Lantas secara bergilir masing-masing calon mencabut kertas dari kotak. Jika si A mendapat kertas bertuliskan Eforus maka resmilah dia eforus. Jika si B mendapat kertas bertuliskan sekjen jadilah dia sekjen. Begitulah. Namun bagaimana kalau menurut banyak orang si B sebenarnya lebih cocok jadi Eforus dan si A lebih cocok jadi sekjen? Atau si B sangat berpengalaman dibidang pekabaran Injil dan cocoknya jadi Kadep Marturia namun malah terpilih jadi Kadep Koinonia yang tugas utamanya justru persekutuan dan pengajaran? Ya jangan protes. Itu sudah kehendakNya (?).

Lantas bagaimana dengan pemilihan Praeses yang jumlahnya 26 (dua puluh enam). Apakah juga dengan pemilihan sistem undian?

Terus terang saya tidak setuju dengan sistem pemilihan undian ini. Bagi saya walaupun pernah ada (hanya satu kali) dalam Alkitab sistem pemilihan berdasarkan undian ini tidak dikenal dalam gereja. Ingat pemilihan Paus dalam konklaf juga bukan berdasarkan undian melainkan voting atau pemungutan suara. Namun dilakukan di ruang dan rumah tertutup dan secara rahasia.

Alasan saya menolak pemilihan undian (manjomput na sinurat) secara prinsipil ada dua. Pertama:pemilihan undian itu menolak tanggungjawab manusia. Tuhan memberi kita akal budi, hati nurani dan kebenaran. Dia memberi kita kemampuan memilih dan bertanggungjawab atas pilihan-pilihan kita termasuk pimpinan gereja kita. Lantas mengapa kita mengelak dari tanggungjawab itu? Kedua: pemilihan pimpinan gereja dengan cara mengundi kemudian mengklaimnya sebagai kehendak Tuhan berpotensial melahirkan pemimpin absolut dan otoriter. Pemimpin HKBP dapat menganggap dirinya mendapat penghunjukan langsung dari Tuhan karena itu tidak bisa diawasi, dikoreksi dan dimintai pertanggungjawaban. Alasan lain: pemilihan undian sangat spekulatif dan cenderung dapat dijadikan legitimasi judi. :-)

Walaupun saya menolak tegas pemilihan dengan cara undian, saya juga menolak sistem pemilihan HKBP yang sangat hiruk pikuk dan penuh  intrik dan manuver selama ini. Saya memang tidak setuju sistem pemilihan undian, namun saya dapat memahami kegundahan dan kekecewaan para pengusul sistem pemilihan undian itu terhadap sistem pemilihan HKBP yang cenderung menjadikan para pendeta dan sintua anggota Sinode Godang sangat “politis”.

Sebab itu saya mengusulkan beberapa solusi. Dua diantaranya yang saya usulkan di posting sebelumnya yang saya ulangi disini:

Pertama: mengurangi jumlah peserta Sinode Godang dari 1300 orang hingga menjadi 300 atau maksimal 400 orang saja. Selanjutnya agar utusan Sinode Godang itu agar dipilih di Sinode Distrik, dengan mempertimbangkan keseimbangan komposisi pendeta dan penatua. Dengan demikian kita mendapatkan utusan SG yang benar-benar selektif sehingga lebih berkualitas. Selanjutnya dengan mengubah perutusan Sinode Godang dari ressort  ke distrik, dari  keanggotaan otomatis karena kedudukan sebagai pendeta ressort  menjadi keanggotaan karena pemilihan di distrik, maka HKBP akan semakin demokratis dan partisipatif.

Kedua: merenovasi dan merevitalisasi kompleks Sinode Godang di Sipoholon. Pada masa mendatang seluruh anggota Sinode Godang harus diinstruksikan  tinggal di kompleks Sinode dan tidak boleh menginap di hotel dan rumah pribadi. (konsekuensinya tentu sarana dan parasarana SG harus jauh lebih representatif) Ini akan menciptakan kembali persaudaraan dan kekeluargaan sesama anggota SG, memperkecil jurang antara utusan dari kota besar dan desa kecil, pendeta berpenghasilan besar dengan pendeta berpenghasilan kecil. Kita sama-sama tahu jurang atau kesenjangan ini dengan mudah  dapat dimainkan oleh para elit yang ingin maju di pemilihan! Selanjutnya, Panitia juga dapat mensterilkan lokasi SG dengan melarang yang bukan peserta Sinode Godang untuk masuk ke areal Sinode pemilihan (termasuk para istri, lae/eda, kerabat dan tim sukses dll). Selama ini memang yang bukan peserta SG dilarang masuk ke ruang sidang, namun tetap saja bebas gentayangan di lokasi Sinode pagi, siang apalagi malam di pemondokan peserta dari desa-desa. :-)

Ketiga: saya berpendapat pemilihan pimpinan HKBP tetap harus dilakukan dengan voting. Bagi saya demokrasi, selemah apapun, tetap lebih dekat kepada Kristokrasi. Kebenaran lebih mudah ditemukan oleh banyak orang daripada satu orang. Kepentingan gereja harus dipikirkan masak dan diperdebatkan dengan dalam, bukan diselesaikan dengan undian.  Satu lagi: Tuhan memberi kita kemampuan memilih berdasarkan nurani, kebebasan dan akal budi serta pergumulan doa. Sebab itu tugas kita bukanlah mengganti sistem voting dengan undian melainkan membuat sistem voting itu berlangsung dalam suasana tenang, hening dan minus kampanye dan intrik. Caranya selain yang sudah dipaparkan di atas: melarang peserta Sinode Godang menggunakan alat komunikasi selama sinode berlangsung. Biarlah masing-masing sementara waktu  bergumul sendiri dengan hati nuraninya dan tidak perlu direcoki dan merecoki dirinya dengan sms atau percakapan telepon. Kita juga bisa menambahkan klausul di Tata Tertib Rapat di Aturan HKBP dan menjadikannya komitmen: setiap peserta wajib merahasiakan pilihannya menyangkut orang. Pilihan menyangkut orang dapat dianggap rahasia jabatan yang harus dipegang teguh sampai mati.

Keempat: kita juga dapat menambah kriteria calon pemimpin HKBP. Selama ini satu-satunya syarat menjadi pemimpin HKBP adalah waktu menerima tahbisan. Untuk eforus 20 tahun, sekjen dan kadep 15 tahun menerima jabatan kependataan. Disamping waktu kita harus berani menambah syarat lain, misalnya pernah menduduki jabatan praeses atau selevel dengannya (Ketua Rapat Pendeta, ketua STT, Ketua Badan Litbang, dll). Dengan demikian calon pemimpin HKBP mengerucut. Tidak terlalu banyak lagi orang yang merasa dirinya sangat pantas menjadi Eforus atau Sekjen atau Kadep. Juga Praeses. Para pendeta akan semakin rendah hati dan menghargai proses. HKBP akan mendapatkan Pimpinan yang benar-benar berakar, punya pengalaman dan wawasan, serta teruji dengan cara pemilihan yang sangat demokratis, santun dan terhormat, serta gerejawi.

Horas HKBP!

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook

23 Responses to Merohanikan Sinode Godang (bagian keempat – tammat)

  1. Jansen Sinamo on April 19, 2010 at 2:32 am

    Nunga tung mansai uli solusi on. Semoga berterima.

    Anh (ambal ni hata): nunga marfesbuk tahe sude sinodestan? Nunga member rumametmet tahe nasida? :)

  2. lmh.hut on April 19, 2010 at 7:57 am

    Berdemokrasi itu dengan segala konsekuensinya kadang mengasyikkan tapi kadang menjengkelkan. Tapi tentunya berdemokrasi ala gereja dengan ala parpol atau organisasi lainnya tentunya harus berbeda donk (itu maunya…!!). Usul amang 1+2+4 ok saya setuju dan usul 4 sulit di wujudkan. Cuma usul yang bagus (menurut kita) belum tentu bagus menurut orang lain. Lha.. terus… bagaimana amang dapat mewujudkan usul-usul di atas??
    SG tahun 2010 ini khan untuk bahas AP 2002. Gimana hasilnya amang?

  3. JP Manalu on April 19, 2010 at 8:06 am

    Setelah membaca secara utuh rangkaian tulisan amang ini, yang ada dalam benak saya adalah; dalam pelaksanaan sinode (termasuk pemilihan fungsionaris), sebagian utusan SG, sebagai bagian dari bangsa ini juga “terkontaminasi” dengan mekanisme, proses dari partai/ormas lainnya. Hal tersebut tercermin dari paparan amang di atas, “kelakuan” sebagian utusan SG tidak jauh beda dengan kelakuan partai/ormas lainnya, yang cenderung hingar bingar, penuh intrik termasuk (dugaan?) politik uang dlsb. Sedangkan untuk utusan SG yang tidak terlibat dengan hal-hal tsb di atas, dengan sistim yang berlaku saat ini mereka cenderung akan mengambil sikap “pragmatis”, dan kondisi itu, saya amati, tidak jauh berbeda dengan sikap sebagian besar politisi di negara ini yang sangat pragmatis dalam memilih/menentukan sikap dalam menghadapi segala sesuatu.
    Saya sependapat dengan empat tawaran solusi yang amang tulis di atas, dan jika itu bisa diterapkan, hemat saya, itulah salah satu “jati diri HKBP, yang dapat disumbangkan sebagai “role model” untuk orpol dan ormas di negara ini. Bukan malah HKBP menerima “imbas” dari kehidupan orpol dan ormas, dan larut pulak di dalamnya :)
    Semoga HKBP semakin baik ke depan.
    Btw, waktu rapat-rapat tim amandemen A&P kemarin, apakah buah pikir amang di atas dimasukkan sebagai materi amandemen?.
    Horas.

  4. Togar P M P Sidabutar on April 19, 2010 at 8:16 am

    Horas amang…
    Setuju tu usul ni amang, solusi na mansai denggan.
    Na porlu nuaeng tu sude hita angka ruas ni HKBP, boha ma asa usul ni amang on, boi gabe perhatian ni Tim Amandemen AP (Aturan & Peraturan) HKBP asa boi dipamasuk tu konsep amandemen AP, dohot tu sude Sinodestan asa disetujui di SG (Sinode Godang) na naeng ro

  5. hasiholan nainggolan on April 19, 2010 at 8:37 am

    Bagaimanakah Cara Memilih Pemimpin? Semuanya lupa, bagaimanakah YESUS terpilih menjadi penyelamat manusia? bagaimanakah para Nabi terpilih? :) saya hanya tersenyum melihat pertanyaan- pertanyaan tersebut di atas :)
    Ternyata para pendeta juga bisa melupakan/ lupa apa yang di jamitahonnya sendiri :)
    Mari kita ingat, bahwa sebelum para nabi menjadi nabi, ALLAH telah “Merencanakan” dan “Mempersiapkan” sedemikian hingga tidak ada yang sakit hati. Mengapa si anu bisa menjadi nabi? aku kok tidak? Tidak pernah ada pertanyaan demikian muncul

    Pada dasarnya bila tujuan dari pada pemilihan pengurus HKBP di SG adalah bertujuan untuk memuliakan ALLAH tidak perlu ada sakit hati. Kelihatan, bahwa sifat egoisme dan menonjolkan diri dari sisi kemampuan leader, pendidikan dan relasi di tonjolkan, dan bukan kemampuan berbicara dengan ALLAH yang di tonjolkan.:) :) Si bolis pe mengkel mamboto songon on.
    Jadi, setidaknya : Kembalilah Dalam Proses Pemilihan berdasarkan dan berajaskan Firman ALLAH dan bukan berajaskan politik untuk manghophop pansamotan (hepeng). :) :) Sebab ada tertulis : Takut Akan Tuhan adalah Permulaan Hikmat dan Pengetahuan.

    Daniel Harahap:
    Asa unang didok halak hamu holan hata, patorang damang ma jo beha do teknis manang kongkrit ni pamilliton na marojahan tu Hata ni Debata i? :-)

  6. hasiholan nainggolan on April 19, 2010 at 9:02 am

    Horas amang.
    Maulia situtu hu dok tu hamuna.
    Sian bungku ni si Musa dohot bungku raja-raja, teknis na paling menonjol di si, ima :
    (1). Periodisasi Terbatas (Saonari hurasa nga di teraphon, mansai uli situtu)
    (2). Angka na nga hea menjabat 2 periode, otomatis gugur sebagai calon.
    (3). Semasa penjabatan periode (hurasa 4 tahun do ate, sahali periode, maksimal 2 periode) di dingkir (ririt) piga – piga halak sian sude wilayah (Distrik) jala di kader ma jo angka na situtu jala ias marroha.
    (3.1) Parjolo ma sian angka Distrik di seleksion (1 tahun pertama periode)
    (3.2) Dipillit ma sian angka masing – masing distrik 3 halak (2 tahun pertama periode)
    (3.3.) Dipillit ma sian angka masing – masing ditrik 1 halak (3 tahun pertama periode)
    (3.4). Final : Di pillit ma sian saluhut na tarpillit sian masing – masing distrik na tepat tu posisi masing – masing di Pengurus HKBP
    Jadi, molo songon on di bahen (adong tabel Questioner Standard penyeleksian) di tamba dohot angka uji EQ (Emotional Qualification) dohot PR (Public Relation) ndang adong be na protes.
    :) Molo adong na protes, di lean ma tabel i, jala di isi nasida :) :)
    Botima sian ahu amang
    Alai ipe holan hatangku ma i Saluhutna keputusan di angka hamuna do napasahathon hata ni Debata Jala ndang mungkin hu ajari manuk marpira :)
    AMIN

    Daniel Harahap:
    Jempek dohononku: ndang hata ni Debata na disurathonmuna na di ginjang i, hatamuna sandiri do i.

  7. Hotman Silalahi on April 19, 2010 at 10:12 am

    Bila seorang calon Eforus menggunakan TS maka saat calon tersebut terpilih menjadi Eforus maka seluruh anggota TS akan menagih jasanya. Walaupun hal ini normal dalam organisasi, tapi ruaslah yang sering mengalami dampak negatifnya.

    Saatnyalah HKBP meniru cara yang dilakukan Katolik dalam memilih pemimpinnya. Tidak salah meniru contoh yang bagus dan ‘proven’.

  8. JP Manalu on April 19, 2010 at 10:35 am

    Memang kuperhatikan, hobby kali-pun halak hita ini “ber-rapat ria” dan cenderung lama-lama pulak :) Saya amati juga, masih cukup banyak halak hita dalam mengikuti acara rapat untuk “pasombu tagas” (aktualisasi diri); secara berlebihan; walaupun kadang apa yang diutarakan sudah tidak relevan dengan materi rapat.
    Eh tahe, andigan pe boi hita on boi maradat eh marrapot secara efektif dan efisien ate?.
    Hobby marrapot ini saya amati semakin berkembang belakangan ini, seiring dengan makin variatifnya acara; ada rapat pengadaan inventaris, ada konven parhalado na gok tingki, ada rapat pendeta distrik, ada rapat MPS dll. Kadang saya berpikir ekstrim juga, kelihatannya penggunaan alokasi waktu parhalado na gok tingki belakangan ini jadi lebih banyak di rapat tinimbang pelayanan ke jemaat.
    Boha na ma i? :)

  9. Hedmon Tampubolon on April 19, 2010 at 12:52 pm

    Konsep diatas sudah cukup bagus kalau itu bisa diterapkan. Namun jika memungkinkan calon fungsionaris hendaknya sudah disiapkan dari lapisan bawah dimasing2 resort kemudian diseleksi lagi dalam sinode distrik. Hasil seleksi itulah yang dibawa ke Sinode Godang.

    Itu merupakan saran atau masukan buat kelancaran SG.

    Salam,
    H. Tampubolon

  10. A.K.P. Panggabean on April 19, 2010 at 2:52 pm

    GEREJA TERBAIK (dan bukan terbesar)

    1. Menurut Alkitab di dalam Gereja terbaik hanya satu tuan, yakni Tuhan Debata. Karena jika sebuah Gereja memiliki dua tuan, maka Gereja tsb akan lebih mengasihi tuan B daripada tuan A.

    2. Menurut Alkitab di dalam Gereja terbaik tidak ada perselisihan di antara sesama pelayan. Demikian juga antara pelayan dan jemaat serta diantara sesama jemaat. “Kamulah garam dan terang dunia”, begitu kata Alkitab.

    3. Menurut Alkitab di dalam Gereja terbaik tidak ada pelayan dan jemaat yang diperbudak oleh jabatan-jabatan rohani dan non rohani. “Janganlah kamu gila hormat”, begitu kata Alkitab.

    4. Menurut Alkitab di dalam Gereja terbaik tidak ada pelayan atau jemaat yang memuliakan dirinya. Hanya TUHANlah yang patut dipermuliakan.

  11. Agus Rumapea on April 19, 2010 at 4:36 pm

    Syalom,

    Menurut saya Solusi yang amang tawarkan di atas sejauh ini sudah tepat.
    Langkah selanjutnya yang saya kira perlu dipikirkan adalah, bagaimana caranya agar tulisan, terutama Solusi diatas bisa sampai gaungnya ketingkat pengambil keputusan di HKBP, bukan hanya di area kita peminat blog ini :) .

    Horas & Mauliate.

  12. Hasiholan Nainggolan on April 19, 2010 at 5:12 pm

    Mauliate Amang Pandita.
    Au pe hupajempek ma amang : “Adong Barita Alai Ndang Di Tangihon, Adong pambegean alai ndang manangihon” :)

    Garis besarna : Sinode Godang Ndang Porlu di Rohanihon, alai manisia na manghihuthon Sinode Godang i do na porlu di Rohanihon asa lam mangantusi angka hata ni Debata na di pasahat nasida tu ruas, asa unang holan hata :)
    Horas. Mauliate.

  13. Ridyard Marbun on April 19, 2010 at 5:18 pm

    Saya pernah melakukan ini di organisasi yg pernah saya ikuti, dan mungkin masih tetap diterapkan (sekalian sebagai usulan saya):

    1. Prinsip dasar dari pemilihan pemimpin baru adalah ‘jawaban doa’

    2. Pada tahap awal, adalah pemimpin lama ditambah team yg dibentuk sebagai ‘panitia’ penjaringan pemimpin baru.

    3. Calon dipilih dari klasifikasi dan kualifikasi tertentu. Untuk HKBP mungkin dapat dibatasi dari usia (mis) 55-60 tahun dan pernah meduduki jabatan tertentu, disamping syarat moral yg tidak kalah penting.

    4. Pada periode waktu tertentu, Pemimpin lama + Team Pemilihan mengerucutkan calon dengan metode seleksi yang disepakati: menyangkut kualitas calon pemimpin baru.

    5. Setelah terseleksi menjadi beberapa calon, Pemimpin Lama + Team Pemilihan + Calon Terseleksi mendoakan dan meminta petunjuk Tuhan untuk pemilihan ini.

    5. Pada saat penentuan akhir, Pemimpin lama + Team Pemilihan + Calon terseleksi menyampaikan jawaban doa yang diterima masing2 untuk menjadi menetapkan Calon Terpilih menjadi Pemimpin Baru. Jika belum ditemukan satu orang yg terpilih, maka diteruskan pergumulan doanya sampai menemukan 1 orang yang dipilihNya.

    6. Untuk posisi lainnya (Sekjen, Kabid, dll) dapat dilakukan dengan cara:
    a. Pemimpin Baru memilih diantara calon yang ‘tidak jadi’
    b. Pemimpin Baru memilih secara bebas orang (dalam hal ini pendeta) yang bisa bekerjasama dengan Pemimpin Baru Tersebut.
    c. Kombinasi kedua cara diatas.

    7. Untuk Praeses, dipilih dengan metode yang mirip, dengan skop, kualifikasi dan klasifikasi yang lebih kecil dari pada Ephorus.

    Begitulah usul dari saya, semoga bermanfaat untuk kemajuan Gereja kita HKBP.

    Salam untuk para pengunjung Ruma Metmet, khususnya Amang Togar PMP Sidabutar, dari salah seorang Alumni Sipirok (mudah2an masih ingat)

    Ridyard Marbun
    ridyard@ilovejesus.net
    ulgbdug@yahoo.com

  14. Friska pardede on April 19, 2010 at 9:42 pm

    Topik yg berat sehingga tidak ada perempuan yg memberikan commentnya atau memang belum pantaskah seorang wanita menduduki jabatan2 tsb?.

  15. Nakita on April 20, 2010 at 11:08 am

    Tergelitik dengan comment Friska.

    Apakah boleh pendeta wanita yang memegang posisi yang tinggi seperti jabatan praeses atau selevel dengannya (Ketua Rapat Pendeta, ketua STT, Ketua Badan Litbang, dll). Apakah boleh pendeta wanita menjadi ephorus?

    Jawabna: Boleh

  16. Carl Tampubolon on April 20, 2010 at 5:17 pm

    Horas ma di hita…..
    Menarik sekali topik ini untuk dibahas. Saya sangat setuju dengan usul amang DTA di atas. Namun saya ingin menambahkan beberapa usulan :

    1. Ephorus
    Ephorus terakhir-terakhir ini dirasakan (paling tidak oleh saya sendiri) tidak mempunyai kharisma yang ‘menggetarkan hati’ jemaatnya…..tidak dirasakan sebagaimana umat Katolik dengan Paus, atau NU dengan Gus Dur. Bahkan kharisma mereka telah “menggetarkan hati” org yang bukan “umatnya”…mereka telah melewati “garis-garis batas pembeda”. Ephorus yang katanya pemimpin umat agama terbesar setelah NU dan Muhammadiyah belum sampai ke level itu….bahkan di PGI pun HKBP seolah-olah telah “kehilangan taringnya”. ..Ephorus bagi saya adalah pemimpin spritual jemaatnya yg bisa membawa umatnya kepada militansi yg positif……Menambahkan usul tsb di atas, maka utk Ephorus saya mengusulkan :
    a. Dipilih dari pendeta senior yg sudah tdk mempunyai tanggungan
    terhadap keluarganya lagi…dgn perkataan lain anak2nya sdh mandiri
    dan sudah bisa menghidupi keluarganya sendiri dengan layak.
    b. Pendeta senior itu adalah pendeta yg telah memasuki usia pensiun,
    dan sampai akhir hidupnya menjabat sebagai Ephorus HKBP…jika
    mangkat, dilakukan pemilihan Ephorus kembali
    c. Yang memilih Ephorus adalah para pendeta senior…mereka berkumpul
    disuatu tempat tertutup secara rahasia untuk melakukan pemilihan.

    2. Sekjen HKBP
    Untuk sekjen…saya berpendapat tidak harus pendeta (lebih ekstrim lagi tidak harus jemaat HKBP/ tidak harus Kristen). Namun dia dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan maupun pengalaman dalam memimpin organisasi atau perusahaan. Misalnya ahli dalam pengelolaan SDM dan pemeliharaan serta pengembangan asset. Masing-masing distrik mengusulkan calonnya serta mempresentasikan kemampuan dan prestasi calon tersebut & program kerja kedepan (dimana jika tidak tercapai sesuai dengan waktu yg direncanakan bersedia mundur dari sekjen). Peserta sinode godang yang sudah “disunat” tersebut memilih calon yg dianggapnya berpotensi. Konsekuensinya: HKBP harus berani membayar mahal gaji sekjen.

    3. Kepala Departemen tidak diperlukan, jika sekjen telah bekerja maksimal Kadep tidak perlu…..kalaupun diperlukan, kadep berada di bawah sekjen, jadi yang memilih adalah sekjen berdasarkan indikator yang jelas dan terukur serta terbuka.

    4. Praeses. Untuk praeses saya usulkan adalah merupakan jabatan karier saja….diatur persyaratan yang jelas & terukur & terbuka …dibuat semacam Daftar Urut Kepangkatan, pengalaman berhuria, pendidikan formal,…..maka sekjen memilih praeses.

  17. Hendro Lumbanraja on April 21, 2010 at 10:42 am

    Dta says: Satu lagi: Tuhan memberi kita kemampuan memilih berdasarkan nurani, kebebasan dan akal budi serta pergumulan doa. Sebab itu tugas kita bukanlah mengganti sistem voting dengan undian melainkan membuat sistem voting itu berlangsung dalam suasana tenang, hening dan minus kampanye dan intrik

    Saya setuju sekali dengan pendapat amang di atas. kalimat inti pandangan amang kalau saya tidak keliru adalah “Tuhan memberi kita kemampuan memilih berdasarkan nurani, kebebasan dan akal budi serta pergumulan doa”.

    Oleh karena itu menurut saya bagaimanapun kita atur sinode itu berdasarkan jumlah sinodestannya, tempat tinggallya, boleh atau tidaknya membawa alat komunikasi atau tidak, selama para sinodestannya belum mampu memilih berdasarkan nurani, kebebasan, akal budi serta pergumulan doa maka kecurangan dan kepentingan pribadi dan kelompok akan selalu mendapatkan tempatnya di sinode godang.

    Karena kemampuan memilih berdasarkan nurani, kebebasan, akal budi serta pergumulan doa bukanlah kemampuan yang langsung jadi tetapi merupakan bentukan proses yang panjang maka hal utama yang mendasar untuk dilakukan adalah pembinaan spiritualitas jemaat dan pelayan HKBP, terutama para pelayannya: pdt dan sintua.

    Saya sangat terkesan dengan pola bina pengerjanya GKI yang ditangani serius, terencana, berkelanjutan dan dimulai sejak para calon pendeta itu berniat mendaftarkan diri ke STT. Rekrutment bukan setelah lulus STh atau S.Si. Theol., tapi sejak belum lulus SMA. Disanalah pembinaan itu dimulai. Sekali lagi secara intensif, terencana dan berkelanjutan. Dengan demikian pola pengkaderan dan pengasuhan dapat menjanjikan hasil yang baik yaitu calon-calon sinodestan yang mampu memilih berdasarkan nurani, kebebasan

  18. pargodungan on April 21, 2010 at 10:43 am

    Yup, saya setuju, tolak model pemilihan “manjomput na sinurat”!

  19. Juanto Sitorus on April 21, 2010 at 10:18 pm

    Horas ma dihita saluhutna,

    Mendiskusikan usulan amang Pdt, saya ikut sumbang saran:
    1. Peserta Synode maksimal 100 orang saja, yaitu:
    a. Incumbent Ephorus, Sekjend, Kadep Marturia, Kadep Koinonia, Kadep Diakonia, Ketua rapat Pendeta, mereka-mereka ini adalah hasil pilihan para peserta synode atau rapat pendeta sebelumnya.
    b. 3 orang peserta dari setiap distrik yang terdiri dari Praeses, 1 orang Pendeta dan 1 orang sintua. Pendeta dan Sintua utusan Distrik dipilih berdasarkan hasil synode distrik. Biaya mengikuti Synode Godang untuk mereka bertiga ditanggung oleh Distrik. Jika ada 26 Distrik, berarti 3 x 26 = 78 orang
    c. 1 orang perwakilan lembaga pendidikan HKBP (STT, SMK, SMU, SMP, SD, TK, Sekolah Bibelvrouw dll)
    d. 1 orang perwakilan dari unit usaha HKBP (CU, Percetakan, perkebunan, dsb)
    e. 1 orang perwakilan lembaga pelayanan lainnya spt RS, Panti Asuhan, dll
    f. 1 orang perwakilan lembaga penginjilan HKBP
    Masing masing yang mewakili lembaganya dipilih berdasarkan rapat.
    Semua lembaga yang ada di HKBP terwakili dan jumlah peserta yang lebih sedikit, maka biaya akan berkurang, lebih tertib karena jumlah pesefrta berkurang, tingkat partisipasi para synodestan dalam rapat rapat synode akan semakin besar, sehingga qualitas hasil Synode juga akan semakin baik.

    2. System Pemilihan untuk Ephorus, Sekjend, dan Kadep dilakukan dengan cara voting tertutup, maksudnya pilihan dilakukan di bilik suara, sehingga hanya pemilih dan Tuhan saja yang tahu siapa yang dipilih.

    3. Syarat untuk calon Ephorus, Sekjend, dan Kadep dibuat lebih terukur bukan normatif, misalnya spt usulan amang Pdt (pernah jadi Praeses, dst) ditambah tidak pernah dan atau sedang tersangkut dalam perkara pidana.

    4. Jarak wwktu antara Synode Distrik, atau rapat setiap lembaga untuk menentukan wakilnya ke Synode Godang, minimal dua bulan, dan maksimal enam bulan. hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan setiap wakil yang di tunjuk untuk mempelajari agenda synode, dan mempersiapkan bahan bahan usulan ke synode, serta mendengarkan aspirasi ruas dan parhalado HKBP di distrik/lembaga yg diwakili.

    5. Panitia SG harus menetapkan tata tertib dan agenda-agenda rapat serta hal hal yang harus di ketahui peserta synode dan mengirimkan kepada para calon peserta SG yg telah dipilih oleh distrik atau perwakilan lembaga, minimal satu bulan sebelum SG.

    Mauliate

    Juanto Sitorus

    Daniel Harahap:
    Hanya komentar pendek: selama ini pun pemilihan di sinode hkbp dilakukan di bilik suara seperti nampak dalam foto. Hanya tidak ada larangan resmi bagi pemilih untuk memberitahu siapa pilihannya. :-)

  20. Ellys L Panjaitan on April 22, 2010 at 9:02 am

    Jika panitia sinode godang bisa memberikan yang lebih baik pastilah mereka akan memberikannya. Mau yang lebih baik? Siapa yang mau jadi panitia angkat tangan……..
    Mengurangi jumlah peserta sinode belum tentu akan diterima baik oleh semua pihak. Bagi hampir semua pangula huria menjadi peserta sinode godang adalah suatu impian (mungkin tidak semua).
    Saya ingat sewaktu bapak masih menjadi Guru Huria dan terpilih menjadi peserta Sinode Godang dia sangat bangga menyampaikannya kepada kami anak2nya. Apalagi sich yang bisa dibanggakan Pangula Huria?

  21. sibuea r.h on August 28, 2010 at 10:07 pm

    khusus yang 3 : sebelum voting sinode, sebaiknya calon ephorus diusulkan minimal 20 resort dan setiap resort melakukan Sinode Huria menentukan calonnya supaya jemaat merasa memiliki HKBP. Selama ini tak ada hubungan bathin antara jemaat dengan pimpinan HKBP, itu tidak baik! Walaupun ephorus merasa dia memegang amanat TUHAN.

  22. N.Nainggolan on September 16, 2010 at 3:48 pm

    satolop Amang…ikkon ma mulak tu panghobasion na tutu, tulus…

  23. kenzo hutapea on October 4, 2010 at 10:48 pm

    yang jelas pemilihan secara tertutup agar ti dak ada yang tahu si A pilih siapa. jangan di undi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*