Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Sinode Godang HKBP secara tradisional selalu dilakukan di Seminarium Sipoholon, kurang-lebih 10 km dari Tarutung (250 km dari Medan). Memang Sinode pernah beberapa kali dilakukan di aula FKIP Pematang Siantar, namun jauh lebih sering dilakukan di kampus “parsamean” (persemaian) Sekolah Guru Huria/ Sekolah Pendeta HKBP di Sipoholon.
Di Seminarium Sipoholon itu HKBP memiliki sebuah gedung auditorium, yang dibangun menyambut Jubileum 125 Tahun HKBP, dengan daya tampung 800 orang dengan kursi ala kuliah (jika semua peserta sinode harus menggunakan meja maka daya tampungnya tentu tidak lebih dari 300-400 orang saja). Fasilitas lain di Seminarium Sipoholon adalah ruang makan sumbangan dari Kel Jenderal Luhut Panjaitan yang dapat menampung kurang-lebih 250 orang. Lantas dimana sebagian besar peserta Sinode yang 1300 orang itu makan selama Sinode? Jawabnya: di tenda-tenda yang dipasang di halaman. Makan di tenda tentu tidak terlalu masalah, kecuali jika turun hujan deras. Namun biasanya para peserta SG sudah diingatkan agar membawa payung.
Salah satu masalah terbesar justru terletak pada pemondokan. Selama ini peserta sinode diinapkan di barak-barak asrama mahasiswa Sekolah Guru Huria/ Sekolah Pendeta Sipoholon. Itu artinya jika ada Sinode maka mahasiswa SGH/SP harus diliburkan sehingga kamar-kamarnya bisa ditempati peserta Sinode. Berhubung jumlah kamar dan tempat tidur terbatas maka untuk alas tidur peserta pun cukup digelar kasur-kasur (minus seprai dan bantal). Namun itu pun belum cukup. Rumah-rumah pendeta yang menjadi dosen di Seminarium Sipoholon pun dipakai untuk menampung para utusan. Namun itupun belum cukup, maka mess Distrik Silindung dan rumah-rumah staff Kantor Pusat di Tarutung yang berjarak sepuluh kilometer dari lokasi sidang pun dimanfaatkan. Konsekuensi panitia harus menyediakan transportasi bagi peserta SG yang tidak punya / membawa kendaraan pribadi. Sebagian peserta memilih mencari dan mengurus sendiri penginapan di rumah teman atau kerabatnya yang ada di Sipoholon dan Tarutung sehingga mengurangi beban Panitia.
Berkaitan dengan masalah pemondokan ini adalah masalah air. Kita tahu di Seminarium Sipoholon sejak dulu sampai sekarang air sangat sulit. Kondisi toilet juga sangat memprihatinkan. Maaf, saya baru menemukan toilet sinode bersih dan tak berbau saat Sinode 2008 lalu. Terima kasih kepada Panitia.
Tidur bersusun bagai “dengke robus” (ikan rebus) di kasur yang digelar di lantai, makan antri panjang, dan duduk dari pagi sampai malam berdesak-desakan, menurut saya sangat mempengaruhi kondisi fisik dan psikis peserta Sinode Godang untuk bersidang secara serius dan disiplin. Dari satu segi keadaan ini mungkin menyenangkan. Yaitu: reuni keluarga dan menghayati suasana kekeluargaan, kedesaan dan kedesaan. Namun bukan untuk membantu keseriusan dan disiplin bersidang!
Para peserta Sinode Godang dari kota-kota besar di luar Tapanuli, yang kemungkinan besar memiliki penghasilan bulanan dan uang saku lebih besar dari jemaatnya dan bisa meminjam atau mengusahakan mobil pribadi selama di Sinode, akhirnya banyak yang memilih tinggal di hotel-hotel sekitar Tarutung dengan membayar sendiri. Tentu saja ini pemasukan yang lumayan bagi hotel-hotel (di Tarutung belum ada hotel berbintang) yang ada di Tarutung. Bagi para utusan SG asal kota besar, sintua dan pendeta, tentu lebih nyaman tinggal di hotel apalagi dengan bayaran yang menurut ukuran kota tidaklah mahal. Namun akibatnya semakin dalam saja kesenjangan psikologis dan emosional antara utusan Sinode Godang asal kota-kota besar dengan desa-desa kecil. Tanpa direncanakan kondisi fisik sinode ini memelihara dan mengkristalkan “kecemburuan” diantara sesama peserta sinode.
Berhubung peserta sinode menginap terpencar-pencar dengan jarak lebih sepuluh kilometer (bahkan ada yang menginap di Siborong-borong dan Balige yang jaraknya lebih 25 kilometer dari Tarutung) wajar saja sidang-sidang sinode sulit fokus dan disiplin. Bagi para peserta yang membawa mobil sangat kuat godaan untuk sarapan pagi di kedai-kedai cina di Tarutung. Sementara para peserta yang tidak punya kendaraan harus sabar menunggu jemputan bus panitia yang terbatas. Namun untuk mengkonsentrasikan 1300 (seribu tiga ratus) orang utusan Sinode Godang di Seminarium pada kondisi sekarang ini tidak mungkin. Ruang-ruang yang bisa digunakan untuk penginapan sangat terbatas baik dari segi jumlah maupun sarana prasarananya. Membangun penginapan agar semua peserta dapat ditampung? Itu perlu belasan milyard rupiah. HKBP tidak punya dana.Dan kalaupun punya, apakah efisien membangun gedung milyardan rupiah yang hanya difungsikan katakanlah seminggu dalam setahun? (Mustahil mengharapkan organisasi dari Medan membayar gedung di Sipoholon untuk rapat)
Saya mencoba menggambarkan keadaan di atas untuk membuka mata dan hati kita. Menurut saya sebaik-baiknya pribadi seorang utusan Sinode Godang dia tetap kesulitan untuk disiplin dan fokus mengikuti Sinode Godang. Kondisi ruang dan sarana sama sekali tidak mendukung terciptanya disiplin dan fokus itu. Lantas bagaimana?
Menurut saya hanya ada dua solusi. Pertama: mengurangi peserta Sinode secara signifikan, katakanlah maksimal 300 atau 400 orang peserta. Kedua: merenovasi dan merevitalisasi fasilitas penginapan dan persidangan Seminarium Sipoholon, dan kemudian menginstruksikan semua peserta wajib tinggal di dalam lokasi sinode. Selain mengembalikan semangat kebersamaan dan persaudaraan sesama peserta Sinode Godang, kedua hal ini akan sangat memudahkan HKBP menciptakan Sinode yang benar-benar tertib, khidmat, dan berbobot. Satu lagi: minim intrik apalagi “money politics”.
(bersambung)
Share on Facebook
Bah….yg seperti itunya rupanya HKBP nabolon i bersinode???
Bagian pertama dan kedua dari kejadian ini saja sdh sangat membuktikan…pantasan HKBP yg amat besar itu dikelola seperti saat ini.
Satu hal yg ingin sy sampaikan :dipahatop ma mambangun gedung/sopo marpingkir yg pernah di tulis amang beberapa minggu yl di blog ini agar tdk terjadi lagi hal2 seperti ini , disana akan berkumpul insan2 yg cerdas yg siap mewujudkan semuanya dgn rapih.
tulisan ini semakin membuka mata, hati dan pikiran kita, masih sangat banyak yang perlu dibenahi di gereja kita, baik dari ‘akar’nya (kantor pusat/sinode godang) maupun dahan dan rantingnya. keberanian mengungkap permasalahan di ‘rumah’ sendiri, namun dengan usulan solusi, patut diapresiasi. banyak orang mungkin ga masalah dengan kondisi ini, tapi mudah2an, banyak karya besar dan rohani yang bisa kita hasilkan menjelang jubileum 150 tahun hkbp, tidak sekedar urusan seremonial saja. tetapi amang, ada satu yang menggelitik dan mengganjal, jangankan sinode godang, persiapan di bilut parhobasan (konsistori) bahkan menjelang khotbah/ibadah, juga banyak yang ga rohani, dari mulai ketepatan waktu, kematangan persiapan ibadah, dll yang bermuara pada a.l. disiplin dan fokus peribadatan. Bisakah kita mulai dari yang kecil ini? Tuhan memberkati
Pak Pendeta, Terima kasih kita perlu kita sampaikan kepada keluarga Bapak Luhut Panjaitan kiranya Tuhan senantiasa menyertai beliau dalam pengabdiannya kepada HKBP.
Problem yang Bapak sampaikan kiranya itu di internalisasikan oleh seluruh Pendeta dan jemaat HKBP bahwa kita punya musuh besama yakni keburukan infra struktur “good governance” di HKBP. So, jangan lagi ada konflik . Konflik di HKBP selama ini telah membangkrutkan HKBP.Molo naeng marbada langsung ma diingot bahwa “ndang adong siguluton di HKBP on tumagonma ni padenggan”. Dame na sumurung sian saluhutna roha ima mangarajai angka ate-ate dohot pingkiran ni angka Pandita, Parhalado dohot sude ruas ni HKBP. Horas.
Bagaimana kalau SG ditiadakan.
Daniel Harahap:
Kalau Sinode Godang ditiadakan: bagaimana HKBP memutuskan rencana induk, memilih pimpinan, dan hal-hal yang menyangkut seluruh warga HKBP?
Opsi pertama lebih rasional: batasi peserta sinode dengan meningkatkan kriterianya.
Dengan magnitude yang berbeda sinode gereja Pakpak (GKPPD) pun begitu. Dugaan saya: semua gereja Batak begitu juga.
Yang saya ingin tanyakan :
Yang pantas di tiru para pengembala dan penyampai Firman ALLAH siapakah? Apakah tata kehidupan para pembesar yang bila seminar tinggal di gedung mewah? Apakah tata kehidupan para penginjil yang terdahulu atau para rasul yang tidak terlalu mementingkan besarnya bangunan ketika mengadakan pertemuan dengan para jemaat?
Intinya, telah banyak kemunafikan dari para pengembala saat ini yang justru melahirkan banyaknya Serigala Berbulu Domba.
Seharusnya HKBP melihat, apakah kehidupan rohani Jemaat telah baik saat ini?
Janganlah hanya mengharapkan dari jemaat, uang jaminan hari tua, gaji pensiun pendeta, setoran ke pusat, setoran ke resort. Sebab bila HKBP hanya mengutamakan secara dominan gedung fisik dan pusat, tidak ada bedanya dengan KFC (Kentucky Fried Chicken) yaitu setiap cabang adalah membeli merek dari Pusat KFC.
Ingatlah, utamakan meningkatkan pelayanan dan kerohanian Jemaat. Mungkin di Nats Renungan Hari Ini Rabu, 15 Apr 2010 yang terdapat di Almanak sangatlah tepat, haruslah menjadi rohani seorang anak – anak TUHAN yang tulus dan polos.
AMIN
Forum SG HKBP yg sangat dibutuhkan menghasilkan putusan-putusan yg berkualitas utk kebangunan rohani melalui pelayanan gereja, sangat setujulah bila pelaksanaan SG pada tempat yg situasi & kondisinya nyaman, tenteram dan tertib. Agar bisa tercapai pelaksanaan SG yg menyesuaikan dgn situasi & kondisi Sipoholon saat ini, sangat setujulah peserta SG dibatasi, namun materi yg akan dibicarakan/diputuskan di SG sebaiknya ada pembahasan di tingkat Distrik sebelumnya, sehingga apa yg menjadi putusan SG yg diikuti peserta yg berkurang dari sebelumnya, namun pembahasan sebelum di putuskan sdh melibatkan banyak pemikir dan pembicara. Asa taruli sude Ruas ,parhalado manolopi haputusan SG na ummuli jala mungkin lobi efisien biaya. Horas 3x
Membatasi jumlah peserta SG pilihan yang tepat, dimana peserta yang dikirim benar-benar berkualitas dibanding lainnya.
Beberapa point:
1. Setuju SG tetap perlu ada.
2. Setuju jumlah peserta dibatasi (misalnya hanya 300 orang).
3. Setuju agenda meeting dibatasi (ada tim penyaringnya, hanya yang perlu saja yang dibahas) dan sudah dibagikan minimal 1 bulan sebelum SG sehingga bisa dibaca dan dipelajari agar hemat waktu.
Makanya…kita jangan terlalu bangga dengan kebesaran HKBP secara kuantitas. Makin besar jumlah gereja yang bernaung di bawah HKBP, makin besar pula persoalan yang dihadapi oleh HKBP. Dalam bahasa Batak ada peribahasa untuk itu, cuma saya lupa.
Dari persoalan akomodasi selama SG saja sudah kelihatan bahwa HKBP belum siap menjadi gereja terbesar di Asia Tenggara. Padahal masalah akomodasi adalah masalah kecil di gereja sebesar HKBP.
Makanya…kita jangan terlalu bangga dengan kebesaran HKBP!
Benar, makin besar HKBP, makin banyak pula permasalahan yg harus diselesaikan, tapi bagi saya Bangga dengan kebesaran HKBP adalah sebuah kebanggaan tersendiri, justru berbagai permasalahan itu yg harus kita carikan jalan keluarnya, mengurus 1300 org bukan pekerjaan mudah apalagi dengan keterbatasan di sekitar lokasi sinode khususnya dan di sekitar tarutung umumnya.
Jalan keluar yg paling rasional adalah seperti yang diusulkan amang DTA. Hidup HKBP. Mauliate ma di amang DTA yg menyoroti hal ini dari sisi yg patut dibenahi. Horas 7 hali.
Kenyataan yang ditulis Pak Pdt Daniel sangat menarik.
Jumlah peserta Sinode Godang HKBP yang mencapai 1.300 orang memang perlu dipikirkan kembali.
Sedangkan DPR RI yang merepresentasikan 231 juta rakyat Indonesia, yang sangat majemuk, hanya beranggotakan 550 orang.
Bayangkanlah: HKBP yang jumlah warga jemaatnya tidak mencapai 10% dari jumlah rakyat Indonesia dan relatif sangat homogen (dibandingkan dengan kemajemukan rakyat Indonesia), memiliki wakil lebih dari 235% (hampir dua setengah kali lipat) jumlah wakil rakyat Indonesia.
Sinode godang cukup diikuti oleh para Praeses, dimana sebelum sinode godang terlebih dahulu diadakan sinode distrik yang diikuti oleh para Pendeta Ressort.
Dari awal saya konsisten berpendapat agar pemilihan Ephorus cs nantinya hanya dipilih oleh para praeses Sinode Godang)….tentu harapan kita para praeses yang berkualitas.
Segera buat UUD HKBP yang menetapkan peserta SG cukup Pendeta Resort (Uluan/gembala ni Huria) saja. Kita ruas, berdoa dan berdoa saja. Bosan lihat ruas2 yang karena jabatan dan paradongan di masyarakat, juga mau mengatur huria bahkan pendeta. Secara tidak langsung, kehadiran non-pendeta2 ini yang membuat suasana tak jauh dari duniawi politis, dan para pendeta juga telah terkontaminasi. Secara nasionalpun, sejarah HKPB membuktikan itu, nggak usah sebut nama. Mauliate