Almanak Kamis 12 Agustus 2010:
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)
Orang banyak umumnya bertanya: siapakah sahabat saya? Siapakah teman yang mau memahami kebutuhan dan kesusahan saya, dan mau membantu saya? Pertanyaan itu baik dan sah. Semua manusia membutuhkan teman dan sahabat khususnya dalam masa-masa sukar. Kehadiran teman meringankan beban dan penderitaan. Sebaliknya kesendirian justru membuat kesusahan semakin menyesakkan.
Namun Yesus membalik pertanyaan umum itu. Yesus menantang kita justru bertanya: siapakah sahabat dan saudara dari orang yang sedang menderita yang kita jumpai di kehidupan ini? Jika kita tahu si A atau si B atau si C sedang berduka, jatuh sakit, dirundung masalah berat, baiklah kita bertanya: siapakah sahabat si A, si B atau si C itu? Di hati mereka siapakah yang sesungguhnya pantas disebut sahabat? Apakah saya dirasakan dan dianggap orang-orang susah itu sebagai sahabat? Dengan kata lain, bukan kita sendiri yang mengklaim, melainkan orang-orang yang menderita itulah yang berhak menentukan apakah kita pantas disebut sahabat atau tidak.
Dalam pemahaman itulah kita hendak mengartikan amsal hari ini. Sahabat sejati menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesusahan. Apakah kita juga telah dan sedang belajar mengasihi setiap waktu (tidak hanya sekali, sekejap atau sebentar)? Apakah kita telah dan sedang menjadi saudara bagi orang-orang yang mengalami kesukaran?
Pertanyaan-pertanyaan di atas menuntun kita untuk menghadirkan diri kita secara sadar dan sengaja sebagai sahabat dan saudara sejati sebagaimana dilakukan oleh Yesus Tuhan kita. Jadilah sahabat abadi dan jadilah saudara dalam kesukaran orang lain.
Doa:
Ya Yesus, Engkaulah Sahabat sejati kami. Engkau setia. Engkau rela berkorban demi kami. Ajarlah kami juga setia dan mengasihi sesama kami. Ajarlah kami menjadi sahabat dan saudara sejati. Mulialah nama Allah melalui persahabatan dan persaudaraan kami khususnya di saat-saat sukar kehidupan kami. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Jika oleh pencobaan kacau balau hidupmu,
jangan kau berputus asa pada Tuhan berseru!
Yesus kawan yang setia, tidak ada taraNya.
Ia tahu kelemahanmu, naikkan doa padaNya..
KJ no 453 : 2 Lagu : charlesrozat Converse 1868.
Membaca nats ini saya di ingatkan apakah ada memang kawan yg sejati ini, saya merasa tdk ada yg menjadikan saya teman sejatinya, aku punya teman namanya Ida, wanita berjilbab ini sejak muda sakit2an punya anak 2 lelaki, mula2 kakinya suka pegal2 lama2 jalannya susah karenanya setiap kekantor dia sy jemput agar naik taksi berempat dgn teman lainnya, jadi patungan yg rata2 10 rb/org.
Makin lama keadaannya makin parah sehingga suatu pagi dia tdk ada di tempat ketika sy jemput, seseorang mengatakan barusan bu Ida jatuh dan dibawa ke rumah sakit, kami besuk dia menangis mengenalkan sy kesuami dan kedua anaknya yg masih SD sambil mengatakan ibu ini menghadap pipinan supaya sy pindah ke lantai satu di kantor krn utk jalan saja dia susah apalagi naik2 ( ketika itu sy pikir kok mata yg berwenang buta melihat keadaan temanku ini yg walau pakai tongkat di kiri kanan tetap saja susahnya minta ampun).
Sepertinya dia menganggap saya sahabat terbaiknya hingga kini sdh 6 bulan sakitnya lama2 saya sdh mulai males menghubunginya krn sementara dia di cutikan ternyata kedua pangkal pahanya patah.
Ya ampun dgn nats hari ini akan saya usahakan menengok dia kerumahnya krn terakhir saya tlp 2 bln yl bahkab dia blm bisa memiringkan tubuhnya memang sulit sembuhnya krn dia sdh lama menderita kekurangan kalium dan ginjalnya rembes.
Dia sdh pasrah andai dia sdh di poligami suaminya ( krn dlm agamaya membolehkan) asal suaminya jujur mengatakannya dan saya bilang itu lebih baik.
Persahabatan, dalam kehidupan sehari-hari mudah dilakukan namun sulit dilanggengkan. Mengajak sesama tertawa jauh lebih mudah daripada mengajaknya menangis bersama, artinya saat ada kesukaran, sangat sulit mengharapkan kebersamaan utk mengatasi suatu permasalahan, terutama di perkotaan.
Tidak dikomunitas kami. Sebagai orang Batak c.q HKBP saya sangat bangga dan bersyukur karena komunitas ini sangat intens dengan yg namanya interaksi sesama, saling sapa dan saling kasih mengasihi lintas kelas. Tentu semuanya ini adalah buah kerja keras para Pendeta, para Sintua dan karena kasihNya. Terimakasih untuk para Sintua yang menurut beberapa teman di beberapa tempat (HKBP) dan di Gereja kami, sudah banyak Sintua yang tersenyum menyambut para jemaat yg haus mendengar akan Berita Kasih Yesus yg menggema disetiap kebaktian minggu, pun pada saat pulang, jemaat sangat antusias bahagia menyalami pendetanya. Maka jadilah Gereja sosok yg menghibur dan menyenangkan. Bukan yg “menyilaukan” mata jemaat berkekurangan.
Kalaupun Jamita yg disampaikan mungkin membosankan bagi sebagian, setidaknya senyum para Sintua yg tulus akan menjadi kenangan menjelang Senyuman ( The next nice smile) di hari minggu berikutnya.
Hari ini kita masih menyaksikan selaksa tragedi menggulung orang miskin negeri ini. Bunuh diri menjadi pilihan terakhir bagi mereka. Mereka tidak melihat ada ” Mata, Tangan dan Niat ” sejenak terjulur, sekedar menyelamatkan mereka dari kondisi yg menyesakkan itu. Mungkin pribadi lepas pribadi “Anak Kristus” negeri ini telah banyak yg berbuat untuk kaum yg lemah ini, alangkah baiknya jika Gereja dan Pendeta secara aktif bergerak dan menggerakkan kami jemaat ini untuk ikut dalam membantu persoalan yg sangat menyedihkan ini. Bahkan mungkin hal serupa juga telah banyak menimpa jemaat Gereja, saudaranya Kristus di negeri ini.
Kami para Jemaat memang bukan orang yg berkelebihan, namum banyak dari kami yang ingin menolong sesasama yg berkekurangan seperti kami, dengan demikian kiranya kami memperoleh dan merasakan berkelimpahan secara bersama. Oleh sebab itu, mungkin Para Sintua yg sudah banyak tersenyum, diharapkan juga banyak membaca lingkungan Wijk, kita hrs perkenalkan dan hadirkan sosok yg penuh kasih kita sebagai Kristen, dan lambat laun “mereka” akan sadar bahwa kita memang bukan “ancaman” bagi mereka. Tks Syaloom.