SERMON MINGGU INI
Dasar: Keluaran 23:6-9
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
1. Perhatian khusus kepada si miskin. (Kel 23:6) Bagaimanakah kita dapat memahami dan menghayati secara baik dan mendalam hukum-hukum Tuhan yang tertera dalam Perjanjian Lama khususnya kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) serta kitab para nabi? Bayangkanlah sebuah keluarga yang memiliki banyak anak. Sang ayah atau sang Ibu sangat mengasihi semua anak itu. Namun ada anak-anak itu tidak persis sama besar, kekuatan, kebutuhan, talenta dan juga perangainya. Prinsip pertama dalam aturan keluarga itu tentu adalah kasih. Semua anak mendapat kasih, perlindungan dan kepastian yang sama. Prinsip kedua: keadilan. Semua anak diperlakukan adil. Namun berhubung ada anak yang sangat kecil dan lemah dan membutuhkan perhatian khusus, maka dalam rangka kasih dan keadilan itu tentulah orangtua kadang mendahulukan anak yang kecil dan lemah untuk mendapatkan kepastian dan keadilan, tanpa mengabaikan hak-hak anak lainnya yang jauh lebih besar dan kuat. Seperti itulah Tuhan Allah disaksikan oleh Alkitab. Dia mengasihi semua umatNya dan memberikan keadilan kepada semua, namun dalam kasih dan keadilan kepada semua itu Dia sengaja memberikan perhatian khusus kepada umatNya yang miskin. Bukan karena mereka istimewa atau secara moral lebih baik dan benar, melainkan karena fakta menunjukkan mereka sangat lemah dan gampang sekali dikorbankan apalagi dalam perkara dan konflik.
Orang miskin harus mendapat makanannya dengan memberikan mereka hak memungut hasil tanah yang tidak diusahakan pada tahun ketujuh atau tahun sabat (Kel 23:11). Umat Tuhan dilarang menyapu bersih panen anggur dan memungut buah yang berjatuhan, begitu pula panen gandum, agar orang-orang miskin yang tidak punya kebun mendapat bagian. (Imamat 19:10, 23:22). Orang miskin yang datang memohon pertolongan tidak boleh dibiarkan pulang dengan tangan hampa (Ulangan 15:7, 15:11). Jangan menerima barang gadaian orang miskin (Ulangan 24:12). Jangan menunda membayar upah orang miskin lebih dari satu hari pun (Ulangan 24:15)
Di kitab-kitab para nabi pun kita menjumpai peringatan agar memperhatikan orang miskin ini. Tuhan memberikan makan orang-orang yang paling hina dari umatNya (Yes 14:30). Dia adalah tempat pengungsian bagi orang lemah dan orang miskin saat kesesakan (Yesaya 25:4) Tuhan memanggil umatNya agar senantiasa memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila melihat orang telanjang, supaya memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri! (Yesaya 58). Umat Tuhan juga agar mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. (Yeremia 22:16, Yeremia 5:28, Amos 5:12, Zakaria 7:10).
Kitab mazmur dan amsal pun penuh dengan ajakan agar memperhatikan orang miskin ini:orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan, dan dibuat-Nya kaum-kaum mereka seperti kawanan domba banyaknya. (Mazmur 107:41) Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkannya dari orang-orang yang menghukumnya. (Mazmur 109:31) Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin. (Mazmur 112:9a) TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin. (Mazmur 140:13) Huma orang miskin menghasilkan banyak makanan, tetapi ada yang lenyap karena tidak ada keadilan. (Amsal 13:23) Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Amsal 14:31, 17:5)
2. Jangan menghukum orang tak bersalah. (Keluaran 23:7) Umat Tuhan dalam PL diperingatkan agar tidak menghukum dengan sewenang-wenang. Pembalasan atas kerugian harus dibatasi dan benar-benar setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Hutang benda tidak boleh dibayar dengan hutang nyawa. Satu nyawa yang hilang tidak boleh dibalas dengan seratus nyawa. Disini kita melihat bahwa hukum pembalasan (mata ganti mata, gigi ganti gigi) pada dasarnya positif dan berniat baik, yaitu untuk menghindari amuk massa dan kesewenang-wenangan. Lebih lanjut hukum dalam PL ini juga mengendalikan agar pembalasan kesalahan tidak ditimpakan kepada yang tidak bersalah. Sebab itulah keledai musuh yang terperosok harus ditolong dan lembu milik musuh yang tersesat harus dikembalikan (Keluaran 23:4). Anak tidak boleh dihukum karena kesalahan ayahnya dan begitu juga sebaliknya (Yehezkiel 18:20).Orang benar tidak boleh dibunuh. (ayat 7)
Disini kita diajak agar sungguh-sungguh jujur, adil dan arif menimbang suatu permasalahan agar kita benar-benar dapat mengetahui duduk perkaranya dan mengambil keputusan yang seadil-adilnya. Lantas bagaimana jika terjadi keraguan dalam perkara? Lebih baik melepaskan orang yang bersalah daripada menghukum orang yang benar. Ini jugalah sebenarnya prinsip hukum moderen dan penolakan banyak orang terhadap hukuman mati. Jika pengadilan ternyata salah memutuskan maka nyawa orang benar yang sudah sempat dibunuh itu tidak dapat lagi dikembalikan.
3. Jangan menerima suap (ayat 8). Dalam Alkitab kita baca Tuhan sangat marah kepada para hakim, imam dan nabi serta petinggi yang menerima suap (Mika 3:11, Mika 7:3, Amos 5:12,Yehezkiel 22:12, Yesaya 1: 23,Yesaya 5:23). Uang suap sangat merusak hati (Pengkotbah 7:7) namun siapa membenci suap akan hidup (Amsal 15:27b). Orang yang tidak menerima suap melawan orang tak bersalah akan teguh selama-lamanya (Mazmur 15:5). Suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. (Ulangan 16:19). Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah. (Ulangan 27:25). Sebab itu salah satu syarat menjadi pemimpin di Israel: benci kepada suap (Keluaran 18:21).
Menarik sekali menjadi bahan permenungan, dalam Alkitab tidak ada disinggung hal memberi suap. Yang eksplisit dilarang hanyalah: menerima suap. Mengapa? Rupanya sudah menjadi sifat manusiawi jika seseorang terjepit, apalagi jika dia salah, maka dia cenderung akan menawarkan suap. Sebab itu yang harus diperingatkan secara khusus adalah melarang menerima suap yang ditawarkan ini.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Kembali ke halaman depan:
Apa yang terjadi saat ini (penindasan, suap ) sudah diingatkan kepada kita melalui nats diatas agar tidak dilakukan , akan tetapi hal tersebut masih terus dilakukan oleh umat Tuhan pada saat ini, ampuni kami Tuhan.Amin
Memberi uang kepada pak ogah supaya kita di dahulukan juga termasuk suap.
Karena bapaknya/ ibunya dulu org yg kurang menjalankan fungsinya sebagai orang tua ya ga usa diungkit2lah apabila anaknya berhasil, ai huboto do bapak ni nahinan parssandu do , kira2 begitu sering dibilang orang.
Kalau kita miskin ya tau dirilah…usaha yg keras, kami waktu miskin dulu ( bapakku masih sangat muda ketika Dipanggil pulang oleh Bapa Sorgawi), tdk pernah minta2 atau nyalah2in pemerintah atas kemiskinan kami, mamaku kerja keras dan kami anak2nya belajar yg keras juga kerja keras tentu berdoa tdk boleh lupa.
Memang kecil…dihina , terpinggirkanlah, tp semua berlalu hasil kerja keras kami itu puluhan tahun kemudian kami menjadi panutan.