Sermon 1 Timotius 6:17-19
Empat Pertanyaan Tentang Materi:
Sebagaimana telah kita bahas dalam sermon-sermon sebelumnya ada 4(empat) pertanyaan yang harus diajukan oleh orang-orang Kristen tentang harta milik atau meteri.
Pertama: darimanakah asalnya. Tuhan jelas-jelas melarang kita mendapatkan milik kita dengan cara melanggar hukum dan moral atau kehendak Tuhan. Perintah kedelapan dan kesepuluh dalam Dasa Titah secara nyata-nyata melarang kita mencuri dan memperdaya orang lain apalagi yang lemah untuk menguasai miliknya. Sejak awal umat Tuhan juga diperingatkan secara keras agar tidak merampas harta milik para janda dan anak-anak yatim. Semua ini menyadarkan kita bahwa harta milik, dalam jumlah kecil atau besar, haruslah diperoleh dengan cara yang benar atau dikehendaki Tuhan. Artinya: harta milik yang ada tidaklah otomatis merupakan berkat Tuhan. Harta milik atau kekayaan yang diperoleh dengan cara mencuri atau korupsi tentu saja tidak boleh dianggap berasal dari Tuhan dan karena itu merupakan berkat Tuhan.
Kedua: bagaimana menggunakannya. Selain asalnya harus benar dan baik maka menggunakan harta milik (kecil atau besar) haruslah dengan benar dan baik juga. Tuhan tidak mengijinkan kita bersikap sekehendak hati atau sesuka hati kita menggunakan harta milik kita (uang, properti, harta bergerak). Harta milik sebab itu harus digunakan untuk hal-hal yang baik, menyejahterakan kehidupan pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat.
Bila kita memahami bahwa harta milik kita adalah berasal dari Tuhan atau berkat Tuhan, maka kita tentu haruslah menggunakannya seturut dengan kehendak Tuhan memberikannya kepada kita. Masa kita menggunakan hadiah yang kita terima untuk menyakiti hati sahabat yang memberikan hadiah itu? Bagaimana mungkin kita menggunakan berkat Tuhan untuk melawan Tuhan atau melakukan kejahatan yang sangat ditentangNya?
Lebih dalam dari itu, harta milik adalah barang titipan yang dipercayakan kepada kita. Pada dasarnya segala milik kita, bahkan tubuh jiwa dan roh kita adalah milik Tuhan, yang dipinjamkan kepada kita untuk digunakan dan dikembangkan sebaik-baiknya sesuai keinginan Tuhan. Sebab itu tak ada alasan bagi kita menguasai harta milik kita secara mutlak. Sebaliknya kita wajib selalu bertanya dan meminta petunjuk Tuhan dalam menggunakan segala harta yang dipercayakanNya kepada kita tersebut agar harta itu sungguh-sungguh menjadi berkat bagi kita dan sesama kita.
Ketiga: apakah dampaknya? Harta atau pemilikan materi, kecil atau besar jumlahnya, dapat berdampak positiv atau sebaliknya negativ. Jika pemilikan harta milik itu membuat kita semakin beriman kepada Tuhan, semakin baik secara moral, dan semakin mengasihi sesama maka barulah harta milik itu benar-benar berkat bagi kita. Namun jika pemilikan harta itu justru membuat kita jauh atau menyimpang dari Tuhan, semakin buruk secara moral dan tidak mengasihi sesama, maka itu artinya kita harus mengkritisi diri sendiri dan melakukan perubahan serius dalam diri kita.
Bila harta milik atau materi itu bisa kita kuasai, atur dan peralat sesuai dengan kehendak Tuhan, maka itu bisa sangat berguna dan membangun kehidupan kita. Sebaliknya, jika kita gagal menguasainya, malah kita yang dikuasai dan diperhamba oleh harta itu maka kita akan disuruhnya melakukan kejahatan bahkan kekejaman. Sebab itulah Rasul Paulus mengatakan: akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Tim 6:10).
Keempat: siapa yang memilikinya? Orang baik cenderung akan menggunakan hartanya untuk hal-hal baik. Sebaliknya orang jahat akan menggunakan hartanya melakukan hal-hal jahat juga. Hal ini menyadarkan kita agar bukan saja hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang atau harta yang banyak melainkan terutama bagaimana menjadi orang yang baik, benar dan beriman.
Sebaliknya kita juga didorong sungguh-sungguh berdoa dan berusaha agar orang-orang baik semakin memiliki harta, dan sebaliknya orang-orang yang memiliki banyak harta semakin memiliki hati yang baik. Sebab alangkah berbahayanya jika uang apalagi dalam jumlah besar ada di tangan orang-orang jahat dan tidak mengenal Allah.
Pesan 1 Timotius 6:17-19:
1. Jangan tinggi hati (6:17a) Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius agar mengingatkan jemaat yang kaya (baca: memiliki banyak materi) agar tidak tinggi hati. Harta milik yang diperoleh dengan benar dan kerja keras tetaplah harus dihayati sebagai anugerah Tuhan yang bersifat sementara sebab itu tidak perlu disombongkan. Apalagi harta milik yang diperoleh dengan cara yang tidak benar alias mencuri. Namun peringatan jangan tinggi hati ini tentu bukan saja kepada orang kaya, tetapi juga kepada orang-orang miskin atau biasa-biasa.
2. Jangan berharap kepada kekayaan (6:17b). Kekayaan materi tidak abadi. Dunia dan jaman selalu berubah. Tidak seorang pun manusia yang dapat memiliki segala-galanya dan selama-lamanya. Materi (uang, tanah, harta bergerak) bertapapun permanen tetap tidak abadi. Apalagi kita manusia yang memiliki atau menguasainya. Umur kita di dunia ini juga terbatas. Masa hidup kita di dunia terbatas sebab itu kita disadarkan agar tidak menjadikan materi atau pemilikan materi sebagai tujuan akhir atau nilai tertinggi dalam kehidupan ini. Materi sungguh dibutuhkan sebagai alat, bekal dan modal, namun bukan sebagai tujuan satu-satunya atau akhir kehidupan.
3. Berharaplah kepada Allah yang memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati. Allah Bapa kita tahu kebutuhan kita dan mau mencukupkanya (Matius 6:32). Allah sangat mengasihi kita dan memberikan kepada kita lebih daripada yang kita minta (Ef 3:20). Namun bagaimanapun juga Allah tetap llebih berharga daripada berkat-berkatNya. Pengorbanan AnakNya yang menebus kita dari kematian dan Roh Kudus yang dicurahkan ke hati kita jauh lebih tinggi daripada segala karuniaNya yang lain. Hidup dalam Kristus sungguh mulia dan tiada bandingnya. Sebab itulah orang-orang beriman dapat sukacita sepanjang waktu. Sebab itulah kebahagiaan kita tidak tergantung situasi dan kondisi ekonomi kita.
4. Jadilah kaya dalam kebaikan. (6:18). Kekayaan selalu diartikan kaya secara materi. Namun Alkitab mengajak kita memahami kekayaan juga dalam bentuk lain, yaitu dalam hal kebajikan. Itu jugalah yang dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat Korintus (2 Kor 9:8). Kekayaan sebab itu jangan diartikan lagi secara sempit. Kita juga harus berusaha kaya dalam pengetahuan, pengalaman, karya dan prestasi, hubungan atau jaringan, dan terutama dalam kebajikan.
Disini makna kekayaan sekaligus menjadi relatif. Ada orang yang memiliki banyak materi namun selalu saja merasa sangat miskin dan kekurangan, sebab itu sangat sulit memberi. Sebaliknya ada orang yang memiliki materi lebih sedikit, namun merasa hidupnya sangat kaya sebab itu sangat suka memberi dan berbagi. Selanjutnya: ada juga orang yang selalu berbagi namun malah bertambah kaya namun ada yang menghemat secara luar biasa namun malah kekurangan. (Amsal 11:24).
Tuhan memberi kita berbagai berkat dan mengijinkan kita menikmatinya dengan syukur dan sukacita. Namun Tuhan juga memanggil kita menjadi berkat bagi kehidupan bersama. Dengan kata lain harta milik tidak boleh dimonopoli, hanya ditumpuk dan diakumlasi, sebab Tuhan juga menyuruh kita memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama.
5. Kebaikan adalah investasi (6:19). Dalam bagian Alkitab yang lain, terutama kotbah Tuhan Yesus di bukit, kepada kita diajarkan agar memberi dan berbagi tanpa pamrih. Kita haruslah belajar mengasihi dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan atau upah. (Matius 6:3).
Tanpa mengurangi rasa tulus dan ikhlas serta kejujuran kita dalam memberi dan berbagi, kita baik juga menyadari bahwa tidak ada ruginya berbuat baik. Kebaikan juga merupakan modal dan investasi masa depan. Orang yang menabur banyak kebaikan tentulah menuai banyak kebaikan juga. (2 Kor 9:6) Pameo Batak mengatakan: sisuan bulu do ahu umbahen na las, sisuan uhum do ahu umbahen na horas (aku menanam bambu sekeliling kampung agar hangat, aku menanam hukum agar sejahtera). Walaupun kita akui dalam dunia ini kadang kebaikan kita disalahgunakan atau malah dibalas dengan keburukan.
Lebih jauh lagi kita juga disuruh untuk mengumpulkan harta abadi di sorga dengan cara berbuat baik kepada sesama yang kecil dan lemah. (Matius 6:20). Yesus mengatakan rupanya kekayaan tidak hanya bisa dikumpulkan di dunia melainkan juga di sorga yang tak kelihatan. Bagaimana caranya? Setialah berbuat baik dan benar.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Mauliate amang atas renungan yang sangat berharga ini, renungan ini akan sangat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan ini menuju kearah yg lebih lebih baik lagi dalam kasih dan kebajikan kepada sesama.
Horas ma dihita dan Kemuliaan bagi Tuhan.
Parlin
Amang makasih ya atas renungan ini boleh menambah perbendaharaan dan pengertian saya. ”Kehormatan seseorang tidak terletak pada apa yang ia peroleh, melainkan pada dampak yang ia berikan”. JBU syalom