Almanak Rabu 21 Juli 2010:
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. (Amsal 30:8-9)
Ini adalah salah satu doa yang paling indah yang tercatat dalam Alkitab. Sang penulis amsal hanya meminta dua hal permohonan kepada Tuhan namun dengan sangat. Pertama: agar dia memiliki integritas, yaitu jauh dari kebohongan dan kecurangan. Bukan harta atau uang yang pertama-tama dimohonkannya, melainkan hati dan karakter yang baik. Itulah sesungguhnya yang terpenting. Jika hati kita baik maka segalanya akan menjadi baik.
Kedua: sang penulis amsal memohon agar dimampukan merasa cukup. Jauh dari kelebihan yang bisa membuatnya congkak dan menyangkal Allah namun juga jauh dari kekurangan yang bisa menggodanya mencuri. Karena itu dia memohon agar dapat menikmati apa yang menjadi bagiannya. Doa ini sama dengan doa yang diajarkan Yesus, yaitu: berilah kami pada hari ini makanan kami secukupnya. Ya, kita tidak perlu berlebihan makanan, uang, kesenangan, kesehatan sehingga lupa diri. Namun kita juga tidak harus kekurangan sehingga tergoda mengambil apa yang bukan hak kita.
Doa sang penulis amsal ini sangat menginspirasi dan memotivasi kita yang hidup justru di jaman yang cenderung sangat serakah, ingin menguras dan memiliki segalanya, dan tidak mengenal batas dan tidak tahu merasa cukup. Pada masa kini kita justru sangat perlu meminta pertolongan Tuhan agar dapat hidup penuh integritas dan kejujuran. Selanjutnya memohon bantuan Tuhan untuk merasa cukup dan bahagia untuk berbuat baik, mengasihi dan melayani.
Doa:
Ya Allah, kami memohon dua hal padaMu. Pertama: berilah kami hati yang jujur, tulus, dan setia. Kedua: berilah kami kecukupan dalam hidup ini yang membuat kami senantiasa gembira dan bahagia. Ajarlah kami bersikap benar dan baik seperti Kristus Tuhan kami. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Aku hanya ingat ajaran bapak dulu kepada kami anak2nya “untuk hidup dengan hati jujur, tulus, ikhlas, sederhana dan setia”, masalahnya adalah aku tidak ingat bagaimana caranya dia mengajarkan dan menanamkan nilai2 itu kepada kami sampai kami mengerti dan menjadikannya pegangan hidup.
Semoga dengan posisi sekarang menjadi orang tua, kami juga dimampukan dan mempunyai waktu yang cukup untuk memberi pengajaran ini kepada anak2 yang telah dipercayakan buat kami.
Ungkapan lain tentang sikap “cukup”: Banyak harta tidak kelebihan dan sedikit harta tidak kekurangan.
Bekerja keras dan melakukan yang terbaik dalam perspektif Tuhanlah Sang Majikan dan Boss kita.
Mari rayakan hidup dan kehidupan yang di anugerahkanNYA.
Di tengah kekurangan kami ini, ajarlah kami pula ya Tuhan untuk selalu mensyukuri apa yang Tuhan telah berikan kepada kami. Amin
Syukur bagi Tuhan.
Terima kasih atas renungannya Amang. Seringkali kita memohon berkat materi dan melupakan berkat karakter. Semoga dengan Firman Tuhan dan Renungan hari ini memotivasi kita (saya) untuk mendahulukan pembentukan karakter.
Ya Tuhan ku, sertailah senantiasa aku dalam hidup ini untuk melakukan yang sesuai dengan kehendakMu. Cukupkanlah aku dalm kebutuhanku dan Imanku. amin.
Sekalipun salah satu doa yang sangat indah tercatat dalam Alkitab, sangat yakin 1000% selain penulis amsal tidak ada lagi manusia yang mangucapkan doa seperti itu di bumi pasca Perahu Nabi Nuh tersangkut diperbukitan Ararat , apalagi di bumi nusantara yang gemah ripah loh jinawi negeriku yg kian amburadul.
Di negeriku tumbuhan tumbuh sangat subur tak terkecuali cabe merah kriting dan yg tidak kriting juga rawit, namun bejibun masalahpun ikut dibiarkan tumbuh subur, rakyatnya dibiarkan terbisa dengan musibah terpanggang ledakan kompor dan tabung gas gratisan. Merekapun masih tegahati menyalahkan manusia yang telah kehilangan nyawa akibat ledakan, dan sebelum kokok ayam yang pertama, “mereka teriak” dengan menyebutnya sebagai Takdir.
Dinegeriku banyak manusia yg merasa pintar, merasa benar, dan karena hanya merasa pintar dan benar, mereka tidak mampu mengatasi masalah yg makin bejibun, karena mereka memang bukan orang yang pintar dan benar. Dinegeriku tidak semua “kapling” meyisakan sedikit tempat bagi orang yang masih memili’i Integritas dan mengedepanpan kejujuran dalam setiap perkara. Karena jumlahnya teramat sedikit dan terbatas, maka jenis ini menjadi terlihat aneh ditengah hingar bingar orang yang selalu membicarakan Integritas dan kejujuran namun nihil dalam kenyataan.
Anehnya mayoritas rakyat negeriku merasa sudah seperti masuk sorga jika telah mengidolakan manusia yang hanya “mirip” seperti manusia pintar dan benar.
terima kasih amang…
Indah sekali ayat ini ya amang!
juga uraian yg sangat baik untuk menyadarkan kita pengunjung ruma ini , paling tidak kita mulai dari sendiri memberikan teladan buat anak2 kita dan kemungkinan melebar kesekeliling kita.
Banyak doa’a yang telah kupanjatkan kepada Tuhan dan memohon Tuhan mau mengampuni kesalahanku,akan tetapi kesalahan yang sama masih sering saya lakukan, maafkan aku Tuhan.