Belanja Yang Benar

July 20, 2010
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Selasa 20 Juli 2010:

Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yesaya 55:2)

Nabi Yesaya mengecam umat Allah yang rupanya lebih banyak menghabiskan uang dan apa yang ada padanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Mereka menghabiskan waktu, enerji, dan tenaga serta dananya untuk menyembah ilah-ilah yang bukan saja tidak dapat menolong mereka namun  malah membuat semakin susah dan menderita di pembuangan Babel.

Yesaya menganjurkan umat Allah agar datang kepada Allah. Dia justru memberikan kehidupan dan keselamatan dengan cuma-cuma tanpa bayaran (Yes 55:1).  Allah tidak menuntut bayaran atas pertolongan dan berkatNya. Allah menawarkan kehidupanNya sendiri yang penuh makna dan kebahagiaan kepada semua orang yang berseru kepadaNya.

Sebab itu daripada menghabiskan waktu, tenaga dan dana serta perasaan untuk hal-hal yang tidak berguna dan tidak bermakna, marilah kita mendatangi Allah saja dan memohonkan belas kasihNya.  Dia mau mengenyangkan kita dengan segala kebajikan dan melimpahi kita dengan rahmatNya. Dialah sumber kehidupan dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Doa:

Ya Allah, Engkaulah sumber kehidupan dan pokok keselamatan kami.  KepadaMulah kami datang memohon: ajarilah kami. Kenyangkanlah dan bahagiakanlah kami dengan firmanMu. Dan ajarlah kami menggunakan seluruh berkatMu dengan baik dan benar.  Demi Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

2 Responses to Belanja Yang Benar

  1. Friska Medi pardede on July 20, 2010 at 9:47 pm

    Minggu kemarin tgl 18 Juli boru siampudan kami Nina manghatindangkon haporseannya (lepas sidi), ketika dia dan dua saudaranya di babtis kami tdk buatkan acara, tetapi utk lepas sidi ini Setiap anak kami adakan syukuran.

    Anak pertama sd ketiga ini kami mengundang anggota arisan yg kami ikuti yaitu marga bapaknya, margaku (sama dgn ibu mertua) dan marga ibuku langsung terpenuhi adat kecil sekaligus kami kebagian narik arisannya.

    Pengalaman dari anak pertama 6 thn yl masih mengingat dgn jelas hampis semua nasihat yg diberikan oleh kerabat yg mengasihinya maka dpt saya katakan dia ini makin Batak saja, begitu juga dgn anak kedua mudah2an anak ketiga ini juga demikian.
    Bangga dgn ulos pertama yg dia dapatkan, bangga dgn hari istimewanya dan bangga menjadi warga HKBP sekaligus bangga dgn ke Batakannya terlihat dari kemanggaannya yg diperlihatkan ke pd teman2 satu sekolah yg diundangnya.

    Dgn gejolak harga2 kebutuhan pokok saat ini memang rasanya belagu melakukan acar2 demikian tetapi menurutke akan sebanding dgn apa yg didapatkan oleh sianak dan krn 3 arisan keluarga kami gabung jadi kembali modalnya dan hampir semua yg datang menyalamkan amplop kepd putriku/aku jadinya untung :) deh

  2. Nainggolan Prabu on July 21, 2010 at 11:51 am

    Zaman edan tidak ikut edan takkan pernah kebagian, adalah semboyan orang Hedonis dan matree. Kita sekarang ini hidup dan berinteraksi ditengah orang yang mayoritas sudah edan, dan jika kita punya integriti malah menjadi eneh bagi banyak mereka yang edan.

    Ruas HKBP pun kalau kita perhatikan sudah banyak yang tertular virus edan tersebut. Dalam kejadian sehari-hari coba perhatikan apa sebenarnya yang menjadikan banyak orang menjadi edan? adalah mereka tidak dapat membedakan makna antara kebutuhan dengan Keinginan. dan sering lupa bersyukur. Seperti orang yang Tuahon (mabuk berat) yang tidak mampu lagi membedakan antara Matahari dengan Bulan.

    Akibat patal dari memanjakan keinginan tersebut adalah manusia menjadi , gensi, irihati, tak puas dengan apa yang dimiliki, selalu membawa meteran kemana-mana ( Lihat -lihat dan ukur-ukur barang orang lain) dan membanding-bandingkan miliknya dg milik orang lain dan pada akhirnya menjadi rakus. Ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak mampu untuk membelinya, memaksakan diri dan lalu berhutang. jalan pintas lain adalah mencuri.

    Gengsi menjadikan manusia menjadi rakus, menusia yang penuh gengsi biasanya punya sifat iri hati dosis tinggi, dan irihati pasti membuat manusia tidak pernah merasakan bahagia dan manusia jenis inilah yang selalu terjebak dalam belanja yang tidak benar itu dalam kehidupan sehari-hari. Alkitab memaparkan begitu banyak tentang siapa sebenarnya orang yang disebut berbahgia itu. Dan untuk tidak terjebak dalam berbelanja yg tidak benar itu kita perlu renungkan ” Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.( Flippi 4:11), dan bersyukur dalam segala hal bukan dimaksudkan anti kemajuan atau perkembangan. Dan salah satu bentuk belanja yang benar menurut saya adalah memberikan perpuluhan dan berbagi kasih dengan memberi secara ikhlas. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*