Adat Kematian: Meringankan atau Memberatkan?

July 15, 2010
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Saya sangat percaya adat Batak di sekitar peristiwa kematian pada dasarnya (awalnya) dibuat untuk menolong sesama yang sedang berduka. Orang yang kematian kekasih (ayah atau ibu, pasangan hidup, atau anak, atau saudara) sangatlah bersedih dan rapuh, sebab itu tidak boleh dibiarkan sendiri. Maka adat Batak (seperti adat-adat lainnya) mewajibkan kita  hadir dalam peristiwa kematian, mendampingi dan mengelilingi sanak yang sedang berduka itu, agar tidak merasa sendirian menghadapi kematian yang menyakitkan itu.  Semakin banyak yang hadir semakin terhiburlah hati keluarga yang berduka itu. Sebab itulah kehadiran dalam peristiwa perkabungan dirasakan jauh lebih penting dan bermakna daripada kehadiran dalam pesta. Sebaliknya ketidakhadiran seseorang, apalagi yang diharapkan, pastilah menimbulkan kesedihan, kekecewaan dan luka mendalam.

Berhubung  HKBP beranggotakan mayoritas Batak,  dan bagi orang Batak peristiwa kematian itu adalah  amat sangat penting atau bahkan terpenting (melampaui kehidupan?),  maka gereja HKBP pun harus memberikan perhatian serius kepada peristiwa kematian anggotanya. Seingat saya di HKBP hanya ibadah minggu, sakramen dan pemberkatan nikah saja yang menyaingi pentingnya upacara kematian.  Satu lagi: sinode godang atau Rapat Pendeta. Jika Sinode atau Rapat Pendeta sedang berlangsung di Sipoholon, maka ikhlaslah jemaat jika yang memimpin upacara bukan pendeta. Namun itupun kalau sudah tak ada lagi pendeta pensiun atau pendeta gereja tetangga yang bisa dipinjam. :-) Segala jadwal gereja yang lain boleh dan harus digeser demi kebaktian perkabungan. Segala kegiatan lain pendeta di luar yang disebutkan di atas wajib didelay atau dicancel demi upacara permakaman. Jika tidak, maka jemaat bukan saja sangat kecewa namun bisa marah dan bikin gejolak.

Sebab itulah sebagai seorang pendeta HKBP saya sangat sadar  bahwa kehadiran saya benar-benar ditunggu  oleh keluarga yang berduka bahkan oleh seluruh anggota jemaat  HKBP yang hadir dalam upacara perkabungan itu. Dan saya pikir tuntutan jemaat itu wajar-wajar dan sah-sah saja. Sebagai seorang pendeta apalagi pimpinan jemaat sangat pantas saya hadir dan sungguh-sungguh hadir dalam peristiwa kematian yang dipandang sakral dan agung ini.

Jauh di lubuk hati, jujur, saya tidak suka menjadi pusat perhatian orang banyak, namun  sebagai pendeta apa boleh buat saya selalu merasa menjadi sorotan dan pusat perhatian di rumah duka, tentunya selain yang berduka itu sendiri dan orang-orang terkemuka yang datang melayat. Sebab itulah saya selalu mengingatkan diri saya agar bersikap  tenang dan takzim di rumah duka maupun di tempat pemakaman agar tidak melakukan kesalahan  memalukan atau malah fatal.

Saya beruntung sehari-hari sangat menyukai pakaian warna gelap dan jas konservatif, sebab itu seingat saya dalam hampir dua puluh tahun menjadi pendeta saya hanya satu kali saja “salah kostum” ke rumah duka (mengenakan pakaian terang berbunga). Itupun karena tidak sempat ke rumah. Saya juga bersyukur karena sikap tepat waktu sudah menjadi bagian darah dan daging saya sehingga sampai sejauh ini saya belum pernah satu kali pun terlambat datang ke acara penutupan peti jenazah dan pemakaman. Yang lebih sering malah datang terlalu awal, karena biasanya anggota jemaat dan sintua HKBP sangat senang dan berlomba-lomba mengingatkan pendetanya agar tidak terlambat memimpin acara (bahwa acara adat yang nanti berkepanjangan dan lewat waktu kesepakatan itu lain hal). :-) Saya juga beruntung dikaruniai Tuhan wajah tiris penuh bulu, sehingga “mecing” dengan suasana duka.  Hanya satu hal yang kadang (sayangnya sering terlambat) saya sesali: karena merasa sangat dekat dengan anggota jemaat kadang saya suka lupa diri sehingga ikut larut dalam canda tawa para pelayat yang pada dasarnya budiman (namun bosan menunggu) di bawah tenda depan rumah duka. Seandainya dilihat dan didengar (karena terekam kamera apalagi video) oleh keluarga tentunya itu tak pantas. Ya sudahlah. Moga-moga itu masih bisa diperbaiki. :-)

Saya lebih bahagia lagi karena gereja kami HKBP Serpong (sebelumnya HKBP Jatiwaringin dan Rawamangun) tidak lagi datang ke rumah duka dengan tangan kosong.  Gereja wajib memberikan sejumlah uang senilai dua juta rupiah sebagai “singkat ni batang” (ganti peti) atau “tangis ni huria” (air mata gereja) kepada keluarga anggota jemaat yang meninggal tanpa memandang tua-muda, besar-kecil atau baru-lama. Pokoknya jika ada anggota jemaat meninggal maka gereja segera mengeluarkan dua juta rupiah. Jika yang meninggal orangtua jemaat (yang bukan anggota HKBP Serpong) kami memberikan uang duka Rp 300 ribu (sebagai ganti krans bunga). Saya dan kawan2 sudah bertekad di rapat jemaat yang akan datang jumlah uang duka ini harus dinaikkan. Sebab dengan naiknya tarif dasar listrik (TDL) dan tarif tol dan harga-harga (termasuk kopi dan cabai)  maka pastilah beban jemaat yang berduka semakin besar. Tiga juta rupiah? Sementara bolehlah. Nanti jika keuangan gereja lebih membaik jumlah itu bisa dinaikkan lagi.

Namun sebaliknya, hadir dalam acara kedukaan  bagi saya tidak seluruhnya menyenangkan. Salah satu yang acap saya keluhkan dan pusingkan adalah bertele-telenya acara. Sebagaimana kita sama-sama tahu dan lakukan, dalam peristiwa kematian Batak, orang-orang datang ke rumah duka tidak hanya sekadar menyalam, melihat dan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, namun juga melakukan serial acara menyampaikan kata-kata penghiburan per kelompok. Sebagaimana saya singgung di atas, menurut saya pada dasarnya ini adalah adat yang baik. Orang yang berduka memang harus dilawat, dikelilingi dan disapa agar kuat. Namun masalahnya yang terjadi sekarang kata-kata yang dinamakan penghiburan itu seringkali sudah terlalu banyak dan klise namun tetap  dijejalkan ke telinga yang berduka sampai tengah malam. Akibatnya tentu sangat melelahkan bagi keluarga yang berduka (walaupun biasanya mereka hanya diam  dan merunduk saja dekat jenazah dengan wajah kosong).  Dan celakanya para pelayat tidak tahu atau tidak mau tahu dengan kelelahan, kedukaan dan kerapuhan keluarga yang berduka. Alih-alih fokus kepada perasaan yang berduka dan karena itu  memadatkan kata-katanya, banyak pelayat malah semakin bergaya dan banyak bicara. Lantas selesai gilirannya, meninggalkan yang berduka, pulang ke rumah atau pergi dulu mampir makan bakmi. Sementara itu kelompok lain sudah menggantikan memidatoi dan menggurui yang kematian itu.

Kematian  memang sangat menguras air mata, perasaan, tenaga dan juga dana keluarga. Dan hal ini agaknya disadari penuh oleh nenek moyang orang Batak. Karena itulah selain melalui kehadiran dan ratapan (andung-andung) keikutsertaan berduka juga harus ditunjukkan melalui sokongan dana dan beras. Pada dasarnya tidak ada orang yang boleh datang ke rumah duka “melenggang kangkung” atau tanpa membawa apa-apa. Jika tidak uang ya beras. Atau tenaga. Semuanya itu tentu dengan maksud meringankan beban yang berduka. Sebab itu jugalah dapat kita pahami mengapa adat Batak melarang upacara besar dan megah dalam peristiwa kematian anak-anak, pemuda atau orang-orang setengah baya yang belum purna melakukan tanggungjawabnya.  Anak-anak dan orang muda harus dikubur cepat-cepat tentu salah satu maksudnya adalah untuk menghemat biaya selain tenaga. Namun apa yang terjadi sekarang?

Bukan hanya kehidupan, melainkan kematian pun telah menjadi beban berat.  Banyak orang Batak masa kini bukan hanya harus berpikir keras untuk hidup namun juga untuk mati. Kehadiran banyak orang dalam peristiwa kematian masa kini, khususnya di kota-kota besar, kadang hanya sekadar memberi kebanggaan semu kepada keluarga yang berduka bahwa yang mati atau sanaknya adalah orang baik, bergaul dan terhormat) sebab itu dilayat banyak orang. (Satu lagi kebanggaan semu itu: jumlah krans bunga atau bunga papan imitasi!). Ada pertanyaan: apakah yang  diberikan orang banyak itu (termasuk gereja) kepada keluarga yang berduka? Atau, apakah yang harus diberikan keluarga yang berduka itu kepada orang banyak itu (termasuk gereja)?

Kita bersyukur bahwa sampai sekarang, persekutuan-persekutuan adat dan sosial setempat masih banyak yang berperan aktif dalam peristiwa kematian membantu keluarga yang berduka. Jika kita perhatikan di acara-acara kedukaan  para pengurus marga atau parsahutaon masih tampak sibuk mengedarkan buku tulis berisi daftar sumbangan, walaupun banyak urusan konsumsi, penyediaan peti dan ambulans sudah diserahkan kepada yayasan atau lembaga profesional.  Semua itu tentu melegakan hati kita di jaman yang sangat kompleks, super sibuk, penuh pamrih, dan individualistis ini. Namun tetap  ada pertanyaan:  Kita tahu di kota-kota besar hampir semua hal (termasuk dalam kematian) mesti dibayar dan sering mahal: ambulans, tanah makam, konsumsi, tenda, organ tunggal, bunga, peti jenazah dan bunga, pendeta (?), ulos dari hula-hula (?) dan lain-lain.  Apakah dana yang dikumpulkan kelompok-kelompok itu ditambah sumbangan lain (termasuk dari gereja) cukup signifikan menutupi biaya kematian yang sangat besar di perkotaan? Apakah masih ada sisanya yang bisa digunakan keluarga atau justru keluarga masih harus menggadaikan barang atau menghutang?

Melalui tulisan ini saya mau mengajak semua pihak yang berkepentingan agar serius memikirkan ulang adat dan upacara kematian Batak Kristen kita ini.  Sudah waktunya kita harus kembali ke rel atau khittah awal adat kematian diwariskan leluhur kita dan sesuai dengan iman kita: adat kematian itu diciptakan untuk menolong dan bukan menyusahkan, untuk meringankan beban dan bukan untuk memberatkan, untuk menguatkan dan bukan malah melemahkan. Dengan bahasa lain: adat kematian itu adalah ungkapan kasih dan hormat kita kepada yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan, bukan sarana peninggian, pementingan dan penyenangan diri sendiri.

***

Agar tidak sekadar wacana atau holan hata, mari kita lakukan tindak nyata. Bagi orang Batak Kristen ada dua pihak yang dipandang sangat terhormat dan karena itulah kita harapkan menjadi pelopor dari pembaharuan adat kematian ini. Pertama: hula-hula. Pihak hula-hula selalu didengarkan oleh keluarga besar yang berduka. Sebab itu jika Saudara dan saya sedang berada dalam posisi hula-hula lakukanlah sesuatu yang nyata untuk menjadikan adat kematian itu tidak memberatkan namun sebaliknya meringankan dan melegakan. Bagaimana caranya? Banyak sekali: antara lain, laranglah keluarga memotong babi untuk menghormati hula-hula saat mangarapot (hurufiah: mengikat dan melem peti jenazah) malam hari, apalagi bila yang meninggal bukan dalam keadaan saur matua. Berikanlah ulos tujung dan ulos saput dengan ikhlas (tanpa harus diganti dengan uang). Janganlah tuntut keluarga memotong sapi atau kerbau jika secara ekonomi mereka pas-pasan (walaupun semua anaknya sudah menikah dan subur).  Satu lagi: tidak usahlah suruh keluarga yang berduka berdiri menyambut Saudara. Mereka sudah terlalu letih raga dan jiwa.

Kedua: pendeta dan penatua. Hadirlah lebih awal dalam peristiwa kematian. Lihatlah apa keadaan sesungguhnya keluarga. Organisirlah unit-unit gereja untuk memberikan bantuan tenaga. Ajarlah anggota jemaat dalam acara perkabungan  hemat bicara namun banyak berderma. Anggarkanlah biaya kematian anggota jemaat dalam anggaran gereja, termasuk uang duka dalam jumlah siginifikan. Masukkan dalam anggaran gereja ongkos dan bensin serta tol untuk upacara penguburan. Jangan minta dan jangan terima uang apapun dari anggota jemaat yang kematian. Kecuali yang mati saur matua, kaya raya, dan titik kikir, bolehlah terima jika diberi, itupun jangan pernah diminta secara halus atau kasar.

Apa lagi?  Jaga kesehatan, stop merokok dan berdoalah agar panjang umur. Sebab kehidupan lebih penting daripada kematian. Horas. :-)

_______________

Komen-komen di Facebook Daniel Taruli Asi Harahap (Satu) terhadap topik di atas:

Ana Sitompul:
Mauliate ito,tapi memang sedih kalo kita tdk mengikuti adat tapi biaya yg harus kita sediakan puluhan juta apakah kita hrs berhutang?

Yandes Sihombing:
Kalaulah digunakan dengan adat kita yang murni, pasti lebih meringankan. Kondisi sekarang ini lebih banyak muatannya karena lebih merasa ada yg dipentingkan, dibenarkan, dihormati. jauh dari ikhlas dan tulus, menjadikannya kegiatan rutinitas saja.

Ana Sitompul:
Betul ito semua merasa penting sehingga yg kemalangan kebingungan cari dana dan kalo tdk bisa katanya tdk beradat.


Novel Sihombing:

Amang kemarin bapak ku hampir ngga jadi pakai adat saur matua karena ada beberapa pihak yang tidak setuju dikarenakan saya ngga punya ito alias hula-hula.. :)
untungnya ito-ito ku (walaupun mereka bukan ito kandung) bisa “menghalau” mereka dan tetap melaksanakan adat saur matua untuk bapak..

Miris saya mendengarnya amang.. nasib jadi anak tunggal yang harus mengalami semuanya sendirian, termasuk kepahitan tidak mempunyai hula-hula kandung alias ito kandung..

Laura Hutabarat:
Setuju :) Keluarga dekat saya sendiri pernah mengalami, saat mereka berduka, malah “dibicarakan sekelompok orang” saat jumlah uang ganti ulos tujung dan ulos saput dianggap tidak cukup banyak. Patut disesalkan masih ada pandangan “uang ganti” seperti itu dalam kehidupan saat ini. Terimakasih amang buat ulasannya. To God be the glory.

Yandes Sihombing:
‎@Laura Hutabarat : Kalau aku itu To, ku pakai ilmu terminal….ku usir semuamya yg coba2 mengganggu situasi dan kondisi duka…hehehe…

Risma Peggy Tobing:
Yang terpenting dan menjadi esensi di acara kedukaan sesungguhnya adalah untuk menghibur dan membantu pihak keluarga yang sedang amat sangat berduka.
Apabila kemudian adat kematian justru memberatkan pihak keluarga yang berduka baik dari segi biaya, waktu, upacara (ditambah rasa sakit hati karena pernyataan2 yg menyinggung dan menyudutkan dari kerabat berkaitan dgn uang dan jumlah ulos yg harus diberikanmaupun posisi almarhum pada saat meninggal) , maka akhirnya pihak keluarga yang berduka memang tidak merasakan penghiburan maupun wujud holong ni roha dari kerabat yang hadir, malah semakin sedih dan terbeban…….

Imelda PM Sitorus:
Betul betul betulll… tdk hny keuangan, tp bgm dgn posisi boru (spt pengalaman Novel Nababan), cucu perempuan (panggoaran), sptnya posisinya tdk di anggap

Fritz Siahaan:
HKBP Pondok Bambu juga sudah melakukan pelayanan berupa pemberian bantuan kepada keluarga yang berduka, dengan cara pembelian peti jenazah.

Hulman Pardede:
, M E R I N G A N K A N. Hendaknya jangan ada yang berpikiran, didoakan trus kubur. Wallahualam kata org seberang.

Berlin Simarmata Satu:
Bagi sebahagian kecil,Orang Tua yg Mauli Bulung,mungkin Pesta Adat Kematian,tidak memberatkan,malah sebagai Ucapan Terima Kasih kepada Semua Pihak,Dalihan Natolu yg terkait dan Gereja,namun secara umum,Pesta Adat Kematian memberatkan,mulai dari Saur Matua,Sari Matua,dll. Semoga ada terobosan baru.

Mula Harahap:
Saya mau menambahkan 1 nasehat lagi: Kalau yang berfungsi sebagai hula-hula itu adalah fihak kita, tapi kita tak bisa hadir dalam rangkaian acara tersebut, dan yang hadir hanyalah abang kita yang paling tua, maka agar abang itu jangan “ngarap” uang pengganti ulos dan piso-piso dari raja parboruan, maka hendaklah kita selalu peka untuk membantu keuangan abang kita. Pengeluaran seorang hula-hula untuk 2 hari acara kematian (ulos, ikan mas, bensin, tol, rokok dsb) bisa sampai mencapai Rp 1 juta. Dan kalau ada 4 acara kematian yang dihadapinya dalam sebulan, maka dia bisa “tumpur”. Ha-ha-ha-ha-ha!

Freddy R Manoeroeng:
Yesus Kristus mengatakan biarlah orang mati menguburkan orangnya yang mati…artinya yang yg hidup ini yang berusahalah agar Rohaninya tidak mati tanpa melupakan jasmaniahnya…demikian Bible instruksikan..

Alfon Limbong:
Aspirasi saya untuk Amang DTH : tulisan yang bagus, suarakan dan perjuangkanlah hal ini di dalam Sinode Godang HKBP, agar gereja juga bisa menambah perannya meluruskan dan memperbaharui penafsiran atau pun pelaksanaan adat batak. HOras…
Bagaimana pula kalau seorang Pdt yg melayani wkt penguburan lantas mengharapkan uang transport dari keluarga yg berduka,ini lebih tdk manusiawi lagi.

Ama ni Makjes Ritonga:

Karena Inang pangintubu sewaktu meninggal beberapa tahun lalu diadakan dengan acara memotong kerbau maka katanya jika Amang parsinuan nanti pergi menghadap Tuhan maka kelak acara penguburannya harus memotong kerbau juga tanpa menakar kemampuan keturunannya secara ekonomi…Semoga kami anak-anaknya dapat melaksanakannya…Gog help us !

Sepanjang seluruh anggota keluarga inti yang kemalangan turut serta bahu-membahu dalam menanggulangi ‘biaya’ adat kematian itu dengan suka rela, maka tidak akan terasa memberatkan. Masalahnya adalah kalau yang terjadi sebaliknya, sementara adat harus tetap dijalankan, maka akan ada anggota keluarga yg merasa diberatkan.

Suhunan Situmorang:
Sependapat dng kritik dan pesan tulisan ini. Saya akan copy, print, dan bagikan pd kerabat-kekarabat saya di lingkungan pengurus punguan Situmorang Sipitu Ama Jabodetabek. Mauliate.

Adat Kematian perlu tetap takzim, bermakna secara kultural dan berbobot secara spiritual, serta jangan sampai memberatkan dan merepotkan semua pihak. Diskusi ini kiranya mencerahkan kita. Dan sudah pasti tak ada jawaban yang gampang.

Jansen Sinamo:

Re comment Amang Nelson Siregar, berikut ada geok dari kampung kita: Sidikalang.

PENDETA itu baru dua bulan ini bertugas pada sebuah jemaat di Sidikalang. Dia belum mengenal dengan baik satu per satu anggota jemaatnya. Sekali peristiwa meninggallah seorang ibu tua yang tinggal bersama putra bungsunya yang sudah berkeluarga. Kehidupan satu-satunya putra si ibu yang berumah di kota itu amat sederhana. Sembilan putra-putrinya yang lain bermukim di Medan dan Jakarta. Mereka tergolong keluarga kelas menengah yang cukup berada.
Pada hari kedua ibu itu meninggal, seluruh anak dan cucunya sudah berada di Sidikalang. Mereka sepakat menguburkan jenazah sang ibu pada hari keempat. Si sulung kebagian tugas melaporkan kepada pendeta kapan ibu mereka dimakamkan.
Setiba di rumah pendeta, ia memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangannya.
“Pak Pendeta, saya mau mengasih tahu bahwa penguburan ibu kami rencanakan lusa, hari Kamis.”
Setelah menyadari bahwa anggota jemaatnya yang kehilangan ibu itu datang dari keluarga amat sederhana, sang pendeta mengarang alasan.
“Maaflah dulu, pas hari itu saya sudah punya acara,” kata pendeta itu.“Begini saja, Bapak langsung ke rumah vorhanger dan katakan saya berhalangan. Biarlah beliau yang memimpin upacara pemakaman.”
“Pak Pendeta, bolehkah saya tahu kira-kira satu juta sudah cukup sebagai ucapan terima kasih kami kepada vorhanger?”
Mendengar angka menggiurkan itu, sang pendeta tersentak. “Tunggu dulu,” katanya sambil mencari buku agendanya. “Hari apa sebetulnya ibu kita dimakamkan?”
“Kamis, Pak Pendeta.”
“Ah, saya kira Jumat tadi. Kalau Kamis, saya bisa!”

Singal Sihombing:
Saya sungguh berterimakasih atas tulisan ini, saya juga akan membicarakan masukan ini pada rapat pengurus Parsadaan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumban Toruan Sejabodetabek.
Manat unang tartuktuk, lambat unang tarrobung. Adat Batak memang luar biasa hebat dan baiknya. Hal ini dapat dirasakan sebagian besar(?) orang batak di rantau ini (di parserahan on). Benar! upacara adat terutama perkabungan sering bertele-tele dan kadang sungguh tidak masuk diakal, tonggo raja mulai pukul 8 malam karena menunggu hula-hula, lalu mompo …dll..dll. praktis kita pulang pkl…(ini mungkin karena kondisi jakarta yang macet). Anehnya?! para yang bersangkutan (Raja adat terkait) tetap menjalankannya upacara adat tersebut dengan baik, meski kita tahu persis, orang yang berkabung capeknya luar biasa.

Eliap Lumbantoruan:

Saya mau share pengalaman saya ketika ayah saya meninggal dunia tahun 2000 yang lalu. Belia meninggal di Bogor dan kami bawa utk di kuburkan di Bona Pasogit. Hebatnya Bapa kami ini, sangat sadar betul bahwa tdk ada satupun dr anak2nya yg ngerti adat. Jadi dia sudah buat wasiat konsep paradaton yg harus kami kerjakan kalau dia meninggal. Termasuk tempat pemakamannya dan juga perintah utk memindahkan kerangka ibu kami bersama2 dgn dia ke tambak keluarga di Lintong ni huta. Wasiat tersebut sangat detail, sampe pada siapa2 saja sijalo jambar dalam adat na gok kematiannya. Pada waktu tonggo raja, kami hanya menyampaikan wasiat tersebut dan semua peserta parrapoton langsung menyetujui. Pada tahun 2000, sdh menjadi kebiasaan di kampung kami bahwa utk yg meninggal saur matua dan sari matua harus bunyi musik. Sebenarnya, kami cuma berdasarkan pengenalan kami atas idealisme Bapa kami ttg adat yg begitu kuat dan kebetulan adalah Guru koor dan Guru Parsarune di Gereja kami. Sering kali semasa hidupnya beliau complain ttg musik2 yg dipakai pada acara2 adat batak mulai dr perkawinan sampe pada acara kematian. Dengan alasan ini, ketika parrapot meminta konfirmasi ke kami ttg musik, saya jawab: Saya akan pesan musik dalam kematian ayah saya dengan syarat hanya dibunyikan utk lagu gereja, kalau para peserta parrapoton bs menjamin lagu poco2 atau lagu2 yg gak juntrungan lainnya tdk bunyi selama acara kematian ayah saya, maka sekarang juga saya akan pesan musik utk bunyi di rumah kami. Salah satu peserta rapot mengatakan, sulit utk menjamin hal itu. Lalu saya bertanya; apakah kalau musik tdk bunyi mengiringi semua acara pemberkatan ayah saya, maka “hatuaon” ayah saya akan berkurang?, mereka jawab, tidak. Maka, dengan hormat saya permisi bahwa musik tdk akan bunyi dalam acara pemberkatan terakhir dr ayah saya. Banyak para pelayat di kampung kami itu yg bisik2 mengatakan: “ah na holit ma anak ni guru on”. Akan tetapi pada acara maralaman, dgn tanpa musik, semua prosesi adat dapat berjalan dgn baik, singkat dan padat, dan yg paling penting adalah hemat. Karena konon, pada acara manggora hula2, kalau musik bunyi, kita harus menyambut rombongan hula2 dan memberikan uang ke tiap2 tangan rombongan hula2 yg manortor itu. Celakanya, dalam acara seperti itu, sudah menjadi kebiasaan yg bukan hula2 pun jadi ikutan manortor. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak biaya yg harus dikeluarkan utk itu. Setelah acara itu, ibu2 yg bisik2 mengatakan kami pelit akhirnya berkata “ah sitiruon do hape songon na binaen muna on, ture sude dan martele-tele ala ni musik2an naso porlu i”.
Saya ingin mengulang lagi ujar2 orang batak yg mengatakan “na bisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan”. Janganlah menjadi korban adat batak krn anda sok cuek thdp adat batak yang kadang pada kondisi tertentu anda tdk bs mengelak untuk menjalankannya.

‎@Daniel T H
Benar dan setuju….. kritik yang membangun dari amang pendeta seperti kalimat: “Sudah waktunya kita harus kembali ke rel atau khittah awal adat kematian diwariskan leluhur kita dan sesuai dengan iman kita: adat kematian itu diciptakan untuk menolong dan bukan menyusahkan, untuk meringankan beban dan bukan untuk memberatkan, untuk menguatkan dan bukan malah melemahkan.”….
@Jansen
(??) dari bapak juga jadi masukan buat pendeta kita juga hehehhehe

Olop Iya Olop:
saya br 1 bln ini berduka (kehilangan mama tercinta).Saya pribadi lebih merasa terhibur dan terbantu ketika pelayat yg dtg lebih mengeluarkan tenaga utk mengatur sesuatu yg dibutuhkan ketimbang terlalu bnyk yg membuat aara penghiburan itupun antri,padahal intinya sama.Cukup disalam dan didoakan.Dan sy jg setuju ttg ulos tujung dan saput.Akan lebih bijak kl pemberian ulos itu tanpa diganti uang,krn yg terjadi (berdasarkan pengalaman) justru kr ingin mengganti dgn uang utk ulos tujung dan saput, namboru dan bapatu sy bertengkar kecil.Bijak rasanya utk itu diberikan dgn iklas.

 

 

 

Olivia Esrana Simanjuntak:

 

Sesuai dgn topik diskusi Adat Kematian: Meringankan Atau Memberatkan? menurut saya jelas memberatkan walaupun dalam bahasan amg diatas sebaiknya/sepantasnya untuk meringankan/menghibur yang berduka para pelayat membawa sesuatu. Walaupun itu ada tapi bila dibanding dgn tahapan dan kegiatan sebelum penguburan sungguh tidak bermakna khususnya untuk See Morekematian sarimatua dan saurmatua. Mungkin keluarga sudah banyak keluar biaya selama sakit baik selama di RS maupun obat2-an di rumah sebelum meninggal, lalu masih harus terbeban lagi dengan biaya adat setelah meninggal yang memang banyak ditambah2in yang tidak seharusnya sesuai dengan kebiasaan domisili suatu tempat dan lamanya penguburan dilakukan, akan menambah biaya. Saya pikir bila tak ada yg ditunggu tidak perlu berlama2, tapi tahapan/kegiatan adat yang seharusnya dapat dilaksanakan dgn baik, disamping mengirit biaya juga agar keluarga tidak terlalu lelah leklekan setiap malam, istilahnya agar keluarga minta hikmat dari Tuhan.
Pengalaman saya baru2 ini (utk sharing) ibuku meninggal di Medan, dimana kebiasaan disana setiap hula2 yang datang dgn rombongannya setelah memberi ulos harus disawer dgn uang tdk sprt di Jkt, lalu sy bertanya pd sdr ku yg berdomisili disana koq pake sawer2? itu katanya sdh kebiasaan di medan, sehingga kita yg datng mengikuti saja walau menurutku “aneh”. Karena katanya kalau tdk begitu akan dikatain “pelit”. Untuk mengantisipasi hal2 tersebut, sebelum ibuku meninggal, kami sdh mengadakan pendekatan pada hula2 supaya acara dapat berjalan lancar dan parrapotan dpt dilaksanakan secepatnya dan negosiasi tidak semua keturunannya mendapat ulos dari semua hula2, cukup ke boru dan helanya langsung dan perwakilan2, sehingga sedikit menghemat biaya “ulos” dan percepatan hari menghemat biaya “makan”. Kemudian dilanjutkan lagi dengan mangokal holi ayahanda, buka hombung, lalu dibawa ke peristirahatan sementara di Samosir, disana sifatnya hanya partangiangan dan kembali ke Medan pd hari yg sama.Semua rangkaian adat diatas adalah bicara dana yg tidak sedikit, dan yang paling besar komponennya adalah makan, sawer dan juhud/boan. Lalu bagaimana kalo tak punya doku? berutang??. atau mau disebut tak beradat? ha..ha..ha..berat memang amg, bak makan buah simala kama.Harapan kita, kiranya pemuka2 adat juga bisa dan mau menerima masukan2 dari diskusi seperti ini, karena kadang2 mereka yg membuat adat itu jadi diada2kan supaya kelihatan heboh. Tk

Jansen Sinamo:
‎@Eliap: salut bah tu natua-tua i — pantas putra2nya juga hebat.

Melva Suryanti:
Jujur saja Amang. Memberatkan. Acara adatnya lama banget. tidak melihat situasi orang yg berduka cita. Sudah gitu masih harus mendengarkan omongan yang menyakitkan hati. Masalah ulos, uang ganti ulos, makanan. Ada saja yg jadi masalah. Tidak perdulikah mereka pada orang yg sedang berduka? :(

Rikardo Siahaan:
ini kisah nyata,
Beberapa bulan lalu seorang sintua meninggal, kebetulan belum sari matua, batak Betawi dan miskin harta. Pendek cerita karena keadaan demikian kelompok marga yang meninggal ini sangat sedikit yang datang, tulangnya tidak diketahui dimana (mungkin jadi juga sintua ini tidak pernah mengunjungi tulangnya atau yang dianggap tulangnya. Karena parhataan adat sudah harus dilakukan karena jam sudah menunjukkan 21.00 WIB, namun dongan tubu yang meninggal ini masih kelihatan bingung. Kebetulan saya ada pada kelompok hula-hula (boru dari hula-hula) melihat gelagat ini, lalu saya sampaikan kepada “dongan tubu yangmeninggal” tesebut, nggak usah bingung-bingung karena peti mati dan ambulance serta perangkatnya sudah diselesaikan oleh HKBP setempat , kuburan dan catering sudah diselesaikan oleh pihak hula-hula. Lalu mereka menjawab ok..ok.ok. Namun tidak bergerak. Sekali lagi saya menegur, kalau tidak ada tulang boleh juga hula-hula merangkap tulang. Dijawab lagi ok..ok..ok. tapi masih juga ngongong. Akhirnya saya ngomong agak keras,kalau memang dongan tubu tersebut tidak siap,biar hula-hula pulang!?. Barulah serta-merta mereka jongjong dan mengambil posisi layaknya sebuah parhataan ria raja.
Dari pengamatan saya atas kejadian tersebut saya agak kecewa juga terhadap maraknya punguan marga yang kadang berantam untuk menjadi ketua punguan. Punguan marga kadang juga terlalu kaku dengan “siadapari gogo sisada tahi uhum”. Anda tidak mempraktekkan dalihan natolu anda juga jangan mengharap orang lain mempraktekkannya kepada anda. Pada hal, banyak sekali orang sekarang ini untuk mengantarkan tenaganya pun tidak punya ongkos.
Kiranya “Transfer Payments fund” dalam artian subsidi orang kaya kepada orang miskin dalam suatu punguan marga boleh terjadi tanpa ada yang dipermalukan, kalau perlu antar marga karena kita adalah dongan samudar dari si Raja Batak (We have blood ties) sai mangkuling be ma mudarta molo adong donganta halak Batak na hahurangan meninggal dunia., Horas tondi madingin.

Fritz Siahaan:
amang Daniel Harahap…………ada 1 lagi yang harus dipikirkan………..kenapa keluarga yang berduka harus menyiapkan makanan untuk ratusan orang yang melayat? Padahal besar kali dana yang harus dikeluarkan untuk membayar Cathering…….

Daniel Taruliasi Harahap – Satu:
Pro Fritz: soal makan siang dan malam di rumah duka ini memang dilematis terutama di kota2 besar. Jauhnya jarak dan kemacetan membuat banyak orang melayat langsung dari kantor dan makan. Jika tidak menjadi beban keluarga, namun tanggungjawab persekutuan adat atau gereja silakan saja menyediakan makan ala kadarnya.

Davi Yani Rumengan:

Ketika opung inggrid meninggal ada 2 hal yang mengingatkan saya baik sebelum meninggal maupun setelah meninggal;
1. Pada saat masa kritis kami BERDOA agar Tuhan jangan memanggilnya dulu. Doa tsb sebenarnya adalah ingin memohon kepada Tuhan, bahwa saat ini dana kami belum mencukupi.
2. Saat acara pemakaman agak kaget juga saya karena para boru pagi2 sudah kesalon untuk “mempercantik” diri dalam menyambut para “tamu”
mohon maaf dari kacamata orang luar bahwa kesan saya adalah seolah2 jenasah menjadi semacam “properti” guna mendukung acara adat. Hal ini menguatkan saya, karena dari 12 jam yang tersedia untuk seluruh acara pemakaman hanya kurang dari 1 jam untuk porsi gereja.
Karena saya juga merupakan bagian dari orang batak. maka saya mendukung suatu penyederhanaan upacara pemakaman adat batak. Mohon maaf kalo saya salah menilai.

Daniel Taruliasi Harahap – Satu:
Pro Davi: ke salon pagi2 sebelum pemakaman? Oala. Bangsongku! :)

Ruthie OK Dach:
adat itu gak pernah menyusahkan.. justru manusianya yang cari susah sendiri.. mo kecil mo gede.. tetep aja adat.. tetap orang batak “pada umumnya” seneng sama pujian yang berlebihan.

1. ngapain nyanggul ke salon, jaman opung2 kita dulu juga mereka gak nyalon kok.. yang penting rambut para inanta disisir rapi.. sukur2 bisa nyanggul sendiri.. *mungkin ini yg harus dipelajari wanita skrg*See More

2. siapa suruh ngasih makan mewah.. ini acara duka cita, oi.. so, makan ala kadarnya tetep oke kok.. saya pribadi merasa gak selera makan kalo lagi ngelayat..

3. kenapa mesti malu kalo gak sanggup bikin adat besar2an?? *tanya diri masing2* kalo punya simpanan banyak, ya silakan.. tapi kalo gak punya, ya jangan malu juga kalo bikin adat kecil..

4. apa gunanya dalihan na tolu kalo begitu? istilah akuntansi harus tetep substance over form.. jangan kebalik..

 

 

 

Ruth Vera:

 

amang buat saya sekeluarga sangat memberatkan karena papa saya almarhum itu dituakan diadat, saya sampe keluar maaf jumlahnya cukup buat kasih makan satu jakarta…gembiranya, orang pikir kami orang kaya sampe sekarang…hahahahj Gbu

 

 

 

Toni Sitompul:

 

‎@ Ruthie : Dua Jempol buat anda.
@ All : Saya sebagai Ketua Punguan Sitompul sangat tidak setuju kalau adat itu (Adat apaun itu) disebut memberatkan karena :
1. Semua yang dijalankan pada saat upacara adat itu adalah atas persetujuan ” SUHUT BOLON / Keluarga yang marulaon”…para pelaku adat tidak akan berani bertindak kalau itu bukan atas See Morepersetujuan Suhut Bolon.
2. Kalau mau perubahan mari kita mulai dari diri kita, kalau memang mau meringankan iya mari kita ngga usah makan atau minum kalau lagi melayat, tapi malah memberikan bantuan kepada keluarga yang berduka.
3. Saya setuju dengan Amang DTA…kalau posisi kita sebagai hula-hula janganlah mengharapkan AMPLOP piso-piso karena sebetulnya bahwa memberikan Ulos Tujung atau Ulos Saput atau ulos yang lain itu adalah kewajiban kita.
4. mari kita terapkan “sisoli-soli uhum, siadapari gogo”…rim ni tahi do gogona.

 

 

 

Daniel Taruli Asi Harahap – Satu:

 

pro toni: lae, poin no 3. sebenarnya pikiran saya mesti ditambahkan: mestinya dipikirkan sumber-sumber pendanaan ulos tujung dan ulos saput agar tidak memberatkan keluarga yang berduka maupun hula2 yang hidupnya pas-pasan. dana talangan persekutuan? pengurangan jumlah ulos holong yang tak perlu?

 

 

 

Ruthie OK Dach:

 

Ulos Tujung itu kan cuman satu.. jadi kayana gak memberatkan kalo dari SEKUMPULAN hula2 yg dateng patungan beli satu ulos tujung..

bout ulos holong.. dari namanya aja udah HOLONG.. jadi kalo hula2 mo ngasih ya silakan.. dan yang namanya HOLONG.. gak mengharapkan yang aneh2 donk..

@tony: liat fotonya kayana kenal.. hehehe.. salam ama mila ya..

 

 

 

Ruth Vera:

 

amang dan, aku setuju sama ruth, kita kita yang membuat adat jadi lebih ribet..pada dasarnya adat itu kan ciptaan manusia, seharusnya bisa juga berubah sesuai firman Tuhan dan sikon saat ini…misalnya, alangkah baiknya bila keluarga yang meninggal tidak mampu, kita saudara yang bergotong royong menolong mereka yang kemalangan..

Daniel Taruliasi Harahap – Satu:
pro ruth: itulah yang sedang kita bicarakan. saya mengusulkan (agar efektif) perubahan dilakukan saat kita menjadi hula2 atau sebagai parhalado. sebab biasanya keluarga yang berduka sulit sekali menampik permintaan atau tuntutan orang banyak yang aneh2, apalagi jika yang menuntut itu hula2 atau tulangnya sendiri.

Ruth Vera:
amang daniel, contohnya di keluarga saya di tahun 2004, kami mengeluarkan uang tumpak Rp21jt dan itu kami harus bayar sendiri, padahal yg mengusulkan orang lain…tapi kami tetap mengucap syukur karena akhirnya papa saya almarhum di kenang orang kasih tumpak ke hula hula cukup besar…hehehehe

Hengki Tampubolon:>
Aku sngt setuju dgn ide Amang di atas.Tp kl itu hny dibcrkn di dunia maya ini saja, aku rasa kurang besar pengaruhnya. Amang,aku membayangkan ada pertemuan yg dipelopori oleh Grj trtm oleh HKBP (mgkn jg bisa bekerjasama dgn HKI,KGPA,GKPS) dgn slrh perwakilan raja2 adat dari marga2 untuk membahas masalah2 paradaton ini,baik itu untuki merried, melahirkan, meninggal dan sbginya dibahas dan disepakati bersama untuk disederhanakan disitu.Apa mgkn itu Amang???Mgkn acara ini juga bisa digabung dgn acara Jubelium 150 tahun HKBP yang tema besarnya setahuku sesuai dengan permasalahan ini???Mauliate.

Labora Marbun:
setuju dengan pendapat Ruthe Ok Duch…
Bahwa orang batak (khususnya di perkotaan) telah menampilkan adat secara prestise….

Romasni Simanullang:
hmmm so nice..
masalah adat memberatkan atau tidak tergantung pihak keluarga yg berkabung itu saja.
saya sudah mengalaminya wkt bapak meninggal, susah utk diceritakan bagaimana suasana hati menghadapi adat dan tetek bengeknya waktu itu.
yg ingin saya tanggapi bukan adatnya Amang, tapi ttg bantuan dari Gereja, saya sgt setuju sekali dgn yg dilakukan di t4 Amang melayani. ayo Amang tularkan itu ke semua hkbp

Amang, tetapi kadang bukan karena uang.
Satu waktu saya bincang-bincang dengan teman, marga M…k. Dia bercerita bagaimana adat Batak, yang penuh diskriminasi itu membuat dia terhina. ceritanya begini: orangtuanya (ayah) meninggal, sebelum (ibunya) pun beberapa tahun sebelumnya meninggal. Ketika ayahnya meninggal, dari segi umur seharusnya dibuat adatnya “saurmatua.” Tetapi, pihak tulangnya tidak menerima itu, alasannya syaratnya belum bisa menerima adat “saurmatua” prosesi penghormatan bagi orangtua. Padahal, dari sisi materi “uang” mereka bisa membiayai. Mereka (saudara) teman ini sudah ingin mengelar “saurmatua.” Alasanya dari syarat itu adalah karena anak pertama belum menikah. Kadangkala disinilah benturan terhadap adat.

Eliap Lumbantoruan:
@Hojot M: Saur Matua atau Sari Matua memang bukan ditentukan oleh Umur.
Sejatinya, dalam acara saur matua berlaku bagi orang yg sudah paripurna melaksanakan kewajiban adat (ke semua dalihan na tolu). Karena masih ada utang adat yang ditanggung keluarga itu atas anak yang paling tua belum kawin.

(Memang ada beberapa pertanyaan yang belum bisa dijawab adat batak sampai saat ini, seandainya anak pertama tersebut memilih hidupnya sebagai pastor atau suster, apakah ulaon itu bisa diterima saur matua atau tidak……Amang DTA, ini bisa jadi topik yang menarik lagi nanti, “apakah bisa dianggap Saur Matua, kalau salah seorang dari anggota keluarga tersebut memilih hidup sebagai Pastor atau Suster)

@DTA dan Others: untuk kami yang di humbang, kami selalu menolak menerima ulos holong waktu kematian, terutama untuk Sari Matua.

Penyederhanaan adat?….menurut saya bukan, kembalikanlah kepada makna yang sebenarnya (kittah kata bang Mula dan Pdt DTA). Adat bukan media pertunjukan baik kekayaan (Hasuhuton) maupun kekuasaan (Dalihan na Tolu). Untuk Jabodetabek, menurut saya peranan Parsadaan-Parsadaan Marga sangat memegang peranan penting untuk melaksanakan adat sebagai mana mestinya dan penuh kasih, jangan menjadi malah menjadi malah sumber masalah – atau tidak punya hati

saya mengusulkan agar ada yang mensponsori pertemuan semua marga-marga Batak yang ada di Jabodetabek (kalau tidak bisa seluruh dunia) untuk merumuskan ruhut-ruhut paradaton yang akan dilakukan oleh semua marga-marga sebgai komponen dari Dalihan na tolu.  welcome to next topic…..

Rina Elprina Simanjuntak:
NICE note Amang,,
mau tanya lah, siapa n apa yang salah?
Adat na, orang na, atau?

Gerda Hutapea:
Adat for adat’s sake… menurutku itu yg sering mengganjal dlm melaksanakan ritual adat. Misalnya suatu keluarga tdk mampu melaksanakan suatu adat saur matua, apakah itu merupakan suatu aib? Lalu siapa yg rela membiayainya?Jangankan keluarga tak berpunya, banyak juga keluarga middle class merasa berat utk membiayai semua acara tsb. Mereka juga tak mau hrs berhutang gara2 itu.

Labora Marbun:
Sebenarnya si jolo-jolo tubu menggelar acara adat itu dengan suasana hohom,,,dan homi,,, kini batak kristen telah membuat acara adat batak itu menjadi glamour do tarboto-boto…

Leonardo Marbun:
Amang Pandita Daniel, mungkin pernah dengan Plesetan ADAT : “Adong DiIba Adong Tondong”, tidak hanya di kota juga di desa. Dan sangat berat, pihak yg berduka & tidak mampu secara materi bisa2 berutang. Luar biasa memang. Belum lagi para Raja Bius “merekayasa” di acara, menetapkan berbagai aturan yg justru tidak efektif dan efisien. Kalau pihak yg berduka tidak membrikan setimpal dengan pembrian Ulos hula-hula dibilang Pelit, dan tidak hormat.Sebetulnya bukan hanya pada acara duka/kematian yg perlu dan mendesak dirubah tetapi merekonstruksi secara total Adat Batak. Saya punya pengalaman ketika mertua laki-laki saya meninggal, betapa Raja Bius melebihi “kewenangan negara”, sampai makam mertuakupun sempat di gugat, karena pendatang/pangaranto, padahal sudah berpuluh tahun tinggal di desa itu, sudah anggota STM, sudah Marhuria di situ, sudah Ber KTP menetap. Tapi, karena harus tunduk dengan “adat yang berlaku di sana”, yang konon katanya kalau pendatang bila dikuburkan di tanah miliknya (disebut menjadi mamukka huta/buka kampung halaman) wajib memberikan pasinapuran ni Raja Bius, dan seharusnya katanya harus memotong si gagat duhut alias Horbo.Kami dan keluarga harus menghadap para Raja Bius dan jadilah “perdamaian”(yg tdk win-win solution). Padahal, kita sudah tinggal di NKRI, yg secara hukum tanah yg sudah dibeli & surat hak milik bukan lagi milik Raja bius (sipukka huta)?Saya berharap melalui gereja HKBP, ada pencerahan kepada jematnya agar kondisi ini bisa disikapi secara bijak, dan tdk ada lagi diskriminasi warga pangaranto di Bona Pasogit. Salam hormat saya pada Amang Pandita!

Daniel Harahap:
pro semua: mohon ijin memasukkan semua komen ke blog: ruma metmet.

Share on Facebook

14 Responses to Adat Kematian: Meringankan atau Memberatkan?

  1. A.K.P. Panggabean on July 15, 2010 at 3:48 pm

    Adat batak memberatkan??? Jawabannya: YA !!! Beratnya adat batak bukan hanya dirasakan oleh orang batak masa kini. Di zaman ompung saya dulu sudah terasa beratnya. Hal ini saya ketahui dari cerita namboru saya waktu beliau masih sekolah.

    Waktu saya masih SD, namboruku pernah cerita demikian: Dulu waktu beliau baru tamat SMP sudah ada acara perpisahan. Supaya beliau bisa ikut serta, beliau minta duit sama mamanya (yang adalah ompungku). Lalu apa jawab ompungku: “Ido. Maradat-adat hamu angka parsingkola i. Haru iba so boi manggarar adat. ”

    Maksud saya menceritakan pengalaman namboru bukan untuk menjelek-jelekkan ompungku. Tapi untuk membuktikan bahwa sejak zaman dahulu kala adat batak itu sudah terasa beratnya bagi orang-orang batak kala itu.

  2. Siregar on July 15, 2010 at 4:22 pm

    Untuk keluarga sederhana yang mengalami kematian terutama di Jakarta, saya pernah lihat, rumahnya di gang sempit, tidak ada lagi tempat orang yang datang utk melayat, sedangkan tetangga bukan orang Batak apalagi Kristen, dalam kejadian seperti ini apakah gedung Gereja bisa dipakai sebagai rumah duka darurat? Kalau mau kerumah duka jelas tidak sanggup membayar.

    Daniel Harahap:
    Saya pikir harus bisa. Sampai saat ini belum ada anggota jemaat yang meminta menyemayamkan jenazah keluarganya di gereja HKBP Serpong atau gedung SM. Jika itu terjadi, saya akan mintakan persetujuan Parhalado dan saya yakin tidak ada yang keberatan.

  3. Friska Medi pardede on July 15, 2010 at 8:45 pm

    Iya ya seperti pendapat Siregar, kenapa HKBP tidak memikirkannya, aula2 yg sdh ada hanya disiapkan utk acara2 gembira mis: marhusip dll.

    Greja kami juga sdh 4 thn ini megnagadakan tangis ni huria sebesar 2,5 juta dan kalau ada yg sakit Rp.250 rb.
    Sudah 3 topik yg diposting amang tentang adat ini dan semuanya menohok sanubari.
    Jangankan pendeta sebagai pelayat biasapun sungguh tak enak dilihat andaikan diputar di vidio kita terlihat ketawa ketiwi apalagi makan2 bakmi di restoran sebelah rumah org yg berduka.

    Kalau saya sebagai rombongannya hula2 atau tulang ( biasanya dapat uang pebgganti ulos) jadi tdk akan pernah ada edaran list, merasa tak enak tak memberikan apa2 selain ulos dan beras pasti saya masukkan amplop yg sdh sy siapkan dari rmh kedlm baskom yg biasanya disediakan keluarga utk pelayat umum krn biasanya rombongan ini kan terhormat dan pasti dilayani dgn spesial.

    Mohon ijin amang ketiga topik ini akan saya copy dan sy bagikan pd acara lepas sidi putri bungsuku hari Minggu ini utk para undangan kami, sebelumnya terimakasih

  4. gorbus napa on July 16, 2010 at 8:06 am

    Sebelum amang DTA melayani di HKBP Serpong, pernah terjadi seorang anak (balita) jemaat gereja kita yang meninggal disemayamkan di ruang konsistori HKBP Serpong. Hal itu terjadi, disebabkan kondisi lingkungan tempat tinggal keluarga ybs yang tidak kondusif. Jadi fungsi gereja bukan hanya bagi orang yang hidup, tapi juga bagi orang yang meninggal. Puji Tuhan.

  5. halomoan t. on July 16, 2010 at 1:29 pm

    Satu topik yg sungguh menarik, menyentuh dan juga menyentak untuk menyadarkan kita.
    Saran yg amang berikan, apa yg bisa kita perbuat ketika dalam posisi hula2 atau sbg hamba Tuhan, patut kita renungkan dan mulai kita lakukan, sekecil apapun harus kita mulai. Sekitar tahun 10 tahun lalu, ada saudara saya yg meninggal dan rumahnya di gang sempit, ‘profesinya’ supir mikrolet. Ketika baru diberitahu meninggal saya langsung melayat, dan ketika itu, saya tergerak untuk memberikan uang duka tanpa melihat saya sbg hula2 (besoknya ketika acara adat sy yg memberikan saput). Satu setengah tahun lalu, ketika ‘my angel mother” dipanggil Tuhan secara tiba-tiba, sehingga kami sangat berduka, ada sesuatu yang cukup menghibur, salah satu tulang kandung saya, yg dalam posisi hula2, selesai pemakaman, memberikan uang duka yg jumlahnya cukup besar. Saya yakin banyak melakukan hal yg jauh lebih baik, termasuk hamba Tuhan (pendeta, sintua, dll) yg walaupun diberikan ucapan terimakasih atas pelayanannya, khusus untuk acara duka, kalau bisa, tidak usahlah menerima, apalagi meminta. Bukankah salah satu fungsi firman Tuhan adalah untuk membuat kita berubah? Terimakasih atas pencerahan dari amang. Tuhan memberkati.

    Daniel Harahap:
    Setuju sekali lae. Adat Batak memang tidak harus diterapkan secara kaku. Seolah-olah hula2 tidak boleh (tidak perlu) memberikan bantuan secara finansial dan cukuplah selembar ulos saja dengan sejumlah kata-kata. Jika memang mampu, kenapa tidak? Pemberian dari hula2 pastilah sangat disyukuri dan dihargai oleh boru atau berenya.

  6. Anak rantau on July 16, 2010 at 4:52 pm

    Betul yang disampaikan amang itu. Kami merasakan sekali hal tersebut dimana 2 minggu yang lalu persis di bulan Juli orang tua saya (ayah) meninggal di Medan. Acara marria raja hari senin (5 Juli), acara adat hari Selasa (6 Juli) dan penguburan hari Rabu (dibonapasogit sekaligus tutup peti di gereja bonapasogit). Kami keluarga yang berduka sangat sedih melihat tetangga (parsahutaon), jemaat gereja tidak ada satu orang pun yang menemani kami dirumah (kami dari 5 anak, 1orang di Medan,4 orang merantau lebih dari 10 tahun) selama mulai hari pertama meninggal sampai selesai acara adat.Bisa dibayangkan kami sudah tidak tahu kemana kami harus mengurus segala hal yang berhubungan dengan pengurusan kematian ayah kami sepert pesan peti mati, catering, pencarian kendaraan ke bonapasogit, ambulance terus mendata siapa-siapa yang ikut ke bonapasogit,dll yang semuanya kami yang melakukannya yang semestinya kami sangat berduka yang dalam kami perlu ditemani agar kuat dan tabah. Padahal waktu marria raja dari parsahutaon dan jemaat mengatakan rade do hami disi (maksudnya kami akan membantu pihak keluarga untuk urusan tetek bengek pengurusan kematian). Sepertinya di Medan hal tersebut sudah susah dijumpai seperti yang diwariskan oleh leluhur kita) padahal Medan bisa dibilang masih bonapasogit bagi perantau. Belum lagi di bonapasogit kami merasa dikerjain juga seperti harus menyediakan ini itu seperti permintaan daging (babi) dalam jumlah yang banyak tetapi menurut perkiraan kami atas informasi dari bonapasogit yang bisa dipercayai tidak sampai sebanyak itu. Justru di perantauan (diluar Medan) parsahutaon itu kelihatan peranan mereka. Alhasil setelah semua selesai kami melakukan pendataan ulang biaya yang telah dikeluarkan kami harus nombok sana sini. Belum lagi ongkos pulang ke perantauan yang harga tiket melambung tinggi. Saya setuju perlu adanya revisi bagaimana yang efektif, tidak membebankan keluarga yang berduka. Kalau tidak salah sudah ada berdiri KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak), tolong dong hal ini diwacanakan sehingga keberadaan KERABAT benar-benar dirasakan ada manfaatnya.

  7. Nainggolan Prabu on July 16, 2010 at 5:56 pm

    Ternyata masih banyak yang harus kita reformasi baik sebagai Gereja beserta Fungsionarisnya, Sebagai jemaat maupun sebagai orang batak dengan segala pernik-pernik paradaton itu, dikaitkan dengan yang diuraikan Amang Pdt. Terimakasih atas paparan yang sangat mencerahkan.

  8. Nainggolan Prabu on July 20, 2010 at 9:15 am

    Membaca paparan Anak ratau, perasaan sangat miris menyesakkan dada. Sebagai perantau saya mencoba (kalau diperbolehkan) melihat pengalaman Anak rantau dari dua hal.

    Pertama; leluhur kita sudah sangat arif dan bijak dalam menata tatatan sosial Batak Toba terkait dalam hal ulaon Dok ni Roha. juga ulaon si Las niroha. Sebagai orang Batak Kita terikat dengan Dalihan Natolu, dimana posisi kita selalu dinamis dalam arti bahwa kita kadang menempati posisi Hula-Hula, kadang Boru kadang Dongan Tubu. Dalam posisi manapun, kita hrs fleksibel dan dituntut harus memiliki sifat aktif, komunikatif dan persuasif. Dalihan natolu bukan tembok pemisah seperti sejarah Tembok Berlin namun adalah suatu rajutan kasih dan sayang umat manusia yang dinamakan Batak Toba. Bukan untuk menghakimi, namum Kita perlu renungkan suatu hal, apa dan bagaimana kita terhadap sesama dalam kurun waktu sebelumnya. Sebab pada era sekarang ini kita sering melupakan bahwa keberadaan kita sebenarnya sangat dibutuhkan oleh orang lain, dalam situasi apapun dia. siapa dan apapun kita, kaya atau miskin. Kaitannya dengan dongan sahuta, kita orang batak utamanya dirantau sering menariknya pada pemahaman yg sangat sempit. Dongan Sahuta itu adalah orang Batak yang kristen. Padahal dongan Sahuta adalah semua kel. yang ada disebelah kiri kanan kita dalam radius tertentu melihat kondisi suatu lokasi. Tetangga adalah suadara kita yang terdekat.

    Kedua;
    Ada beberapa tuntunan Leluhur yang jika kita pahami,menurut saya sangat bermanfaat dalam dinamika berkehidupan sosial dan tuntunnan tsb senantiasa relevan dg segala ruang dan masa. antara lain; “Sinuan Tubu Niumpat melus”. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. orang yang “tak mananam” dipastikan “tidak akan menuai”. Kalau anda menanam pohon semangka dan berbuah pasti buahnya semangka, rasapun pasti rasa semangka, daunnya dipastikan daun semangka juga, bukan daun sirih. Kalau hal seperti itu terjadi dipastikan akan banyak orang “tertentu” melakukan ziarah dan mohon berkat ke pohon semangka berdaun sirih itu. Sebagaimana sebelumnya saya sampaikan, saya bukan bermaksud menuduh namun segala sesuatu yg terjadi biasanya dipengaruhi hukum sebab akibat.

    Pengalaman Anak rantau sangat sering kita jumpai, dan pengalaman itu harus kita jadikan koreksi thdp dirisendiri, juga sebagai pemicu sekaligus pemacu semangat kita untuk meningkatkan rasa peduli dg sesama . Dengan peduli, kita mampu memperbaiki sesuatu. Peduli dalam wujud seperti apa, terserah anda. HKBP ditengah jemaatnya sudah seperti kulit dengan daging dan tulang, seharusnya kita sebagai jemaat HKBP harus memili’i sifat panutan ditengah masyarakat dimanapun kita “terdampar”. Gerejapun diharapkan bukan hanya menonjolkan fisik yg megah, akan tetapi semboyah2 melayani, bukan dilayani, Kasih, Terang Kristus dsb harus nyata ditengah seluruh manusia. Aktivis yang diharapkan untuk itu yang pertama adalah Pendeta lalu Anda, Saya dan Kita. Pada momen penatalayan ini sangat baik dan mari kita menjadikan “GEREJA “sebagai Part Of Solution not Part Of Masalah. Semoga

  9. Marlon Sitanggang on July 21, 2010 at 12:05 pm

    Terima kasih buat Amang Pendeta atas Pencerahan ini.
    Membaca tulisan Amang dan diskusi dengan banyak pembaca, saya pun ingin berbagi pengalaman.

    Pada tahun 2007 yang lalu Ayah kami meninggal dunia, semasa hidupnya beliau sudah berpesan agar tidak menggunakan alat musik seperti pada umumnya pada acara adat kematiannya. Ketika kami tidak setuju untuk pakai musik banyak orang protes, termasuk pihak hula-hula. Banyak pernyataan yang tidak enak dari mereka, bahkan sampai ada yang bilang: “tor dok hamu ma, molo naso sanggup do hamu asa au mambayar musik i” . Ada juga dari pihak dongan tubu yang bilang “imada parsuma do naung marhoi-hoi Amang on pasikkolahon hamu hape nung adong be nasinarimuna naggo apala musik pe dang boi terbaen hamu” . Berulang kali kami memberi penjelasan dan bahkan Abang kami (anak terua) harus berdiri dan “disiuk” nya para hula-hula itu agar bisa terima bahwa itu adalah permintaan Ayah kami semasa hidup. (Amang dan pengunjung ruma metmet/pembaca tulisan ini tentunya bisa bayangkan bagaimana hebohnya saat itu).

    Pada masa hidupnya juga Ayah kami sangat menekankan agar semua orang yang melayatnya pada saat ulaon adat kematiannya bisa makan bersama seadanya. Sepertinya beliau sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga sudah disiapkannya sigagat duhut untuk dipotong dan cukup untuk makan bersama bagi masyarakat di kampung kami dan juga family yang datang.

    Masalah terjadi ketika mulai “mambagi jambar”, mulailah orang “marsigulut” untuk jambar ini dan jambar itu. Tentunya yang marsigulut tersebut adalah pihak hula-hula. Saat itu, ditengah kesedihan kami (saya) mau marah karena dalam situasi seperti itu mereka masih memikirkan manggulut jambar. Untungnya mertua saya bisa menengahinya, tetapi sudah membuang waktu, tenaga dan terutama menyiksa persaan.

    Akhirnya semuanya bisa berlalu dan selesai. Dan beberapa orang akhirnya memberikan pujian juga karena kami kompak untuk tidak pakai musik yang memang tidak ada manfaatnya selain anggar haboion dan juga semua orang yang datang bisa makan bersama.

    Dari tulisan Amang dan komentar dari para pembaca, kiranya kita semua mempunyai tanggung jawab moral untuk memperbaiki hal ini dengan memulai dari diri kita sendiri. Semoga Tuhan memberkati. Amin

  10. jeremy on August 15, 2010 at 11:28 pm

    wah amang on time… nih, pendeta ressort kami, kalau pernikahan, sidi, baptis dia yang melayani, kalau begini boro bisa, handphonenya terus non aktif… ada di kebun… he he he he

  11. Tupa on February 27, 2013 at 11:04 am

    Kalau tidak usah pakai acara adat, kenapa ya….?

  12. dewanto sinurat on March 17, 2013 at 5:50 pm

    ada satu lagi fihak hasuhuton yg berduka harus mangolopi hula hula saat hula hula datang , aku pernah mengalami saat mertua ninggal dalam keprihatinan ingin rasanya teriak ,adat apa ini ??

  13. dewanto sinurat on March 17, 2013 at 5:50 pm

    ada juga uang hamulateon ke pendeta yg datang , ada yg nerima ada yg tidak .

  14. dewanto sinurat on March 17, 2013 at 5:52 pm

    sulit untuk merubah adat apalgi msh banyak orang tua asli sian hitaan , tapi bagi orang muda yg befikir moderat dan penuh kasih mari kita konsep dari sekarang saatnya nanti kita tua juga dan berperan dalam adat bisalah kita berunding yg lebih elegen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*