Oleh: Daniel T.A. Harahap
Sebagai seorang pendeta HKBP, jujur, saya sangat sering menerima amplop berisi uang (silakan tanya apakah pendeta hkbp lain tidak mempunyai pengalaman yang sama).
Amplop itu kadang dititip lewat gereja (dan karena itu diwartakan, sehingga semua orang, termasuk istri saya tahu) dan kadang atau sering disalamkan diam-diam ke tangan saya sepulang suatu acara yang saya layani, karena itu orang banyak (apalagi istri saya) tidak tahu.
Sebenarnya apalagi di jaman akuntabilitas, transparansi dan sistemik ini saya agak risih menerima amplop itu walaupun dalam hati acap saya senang-senang saja menerimanya. Bela diri: emangnya siapa sih yang tak suka menerima uang? Apalagi secara hukum gereja (HKBP) pendeta tidak dilarang menerima pemberian jemaat yang suka diberinama “hamauliateon” atau “terima kasih” ini. Apalagi amplop itu juga tak pernah bisa bikin saya kaya-raya dan juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap pengambilan keputusan parhalado yang saya pimpin.
Namun walaupun saya bilang senang, bagi seorang pendeta seperti saya menerima amplop bukanlah tanpa beban. Jujur, kadang saya merasa kecil atau dikecilkan. Atau takut dicap hepengon, mata duitan, atau bisa dibeli. Sebab itu saya pernah mengusulkan kepada Parhalado agar gaji saya sebagai pendeta dinaikkan secara signifikan lantas gereja membuat peraturan melarang pendeta menerima amplop. Bagi saya itu jauh lebih baik. Saya dan keluarga tidak perlu merasa berhutang budi kepada siapa-siapa. Saya tidak perlu merasa sebagai orang yang dikasihani sebab itu senantiasa perlu dikasih amplop. Namun parhalado menolak. Alasannya: jemaat senang dapat memberi kepada pendetanya. Toh tidak ada paksaaan. Alasan lain: itu sudah adat atau kebiasaan. Saya pun mengalah. Saya ingat pameo batak: hansit mulak mangido hansitan mulak mangalehon (permintaan yang ditolak menyakitkan, namun pemberian yang ditolak lebih menyakitkan). Ya sudahlah. Jika adat memberi “hamauliateon” itu menyenangkan semua pihak dan tidak menyalahi aturan, prinsip apalagi kebenaran firman Tuhan mengapa harus dihapus? Saya pun menghitung-hitung lagi besaran amplop. Toh kadang persembahan dan pemberian saya lebih besar daripada yang saya terima. Lantas kenapa takut (menerima amplop)? Jika saya memang mau, toh saya bisa juga diam-diam meneruskannya (sebagian atau keseluruhan) kepada teman atau siapa saja yang membutuhkannya. Satu lagi: bukankah saya juga membutuhkannya? Lantas kenapa malu? Ya sudahlah diterima saja dengan ucapan syukur dan hormat dan ikhlas.
Namun, betapapun saya membutuhkannya, saya telah berjanji kepada diri saya sendiri: saya tidak akan pernah mau menerima amplop di pemakaman atau pekuburan. Apa pula maksudnya ini? Begini: orang batak anggota HKBP itu saking sukanya memberi amplop kepada pendetanya (atau karena si pendeta suka menerimanya?) dengan ikhlas juga akan memberikan semacam ucapan terima kasih dalam bentuk uang saat dilayani gereka dan pendeta dalam acara kedukaan. Tentu saja bukan keluarga inti yang kematian yang langsung memberikan amplop, namun sanak atau kerabatnya. (Tentang sumber dananya apakah dibebankan kepada keluarga yang berduka atau dari kantong yang bersangkutan saya tidak tahu).
Begitulah saban-saban habis melayani pemakaman dan hendak pamit, selalu saja ada salah seorang kerabat dekat keluarga yang berduka mendatangi saya dan menyalamkan amplop itu. Dan amplop selalu saya tolak dengan halus betapapun mereka mendesak dan memaksa saya menerimanya. Pada saat sukacitalah kasi kalian itu, kata saya. Saya tidak terlalu berpikir apakah mereka sakit hati. Saya punya sejumlah alasan menolak. Pertama: penolakan itu adalah tanda empati dan solidaritas saya (dan gereja yang saya pimpin) kepada keluarga yang berduka. Sebagai seorang pendeta saya merasa ikut berduka dan prihatin atas kedukaan itu. Dan keprihatinan itu ingin saya tunjukkan salah satu dengan tidak menjadikan diri saya sebagai beban tambahan. Sebab itu juga saya tidak pernah meminta dijemput atau diantar oleh keluarga yang berduka. Saya bisa mengurus diri saya sendiri. Jika perlu saya minta bantuan parhalado.
Kedua: saya ingin menyatakan kepada banyak orang bahwa pendeta dan terutama gereja HKBP bukan hanya pihak yang hanya tau menerima apalagi dalam peristiwa dukacita. Sebaliknya gereja adalah pihak yang lebih banyak memberi. Sudah cukuplah tudingan bahwa gereja HKBP hanya tahu meminta. Saya ingin membuktikan HKBP bisa memberi kepada jemaatnya. Sebab itulah dimana saya melayani, yang pertama-tama saya perjuangkan agar gereja mau memberikan santunan kepada anggota jemaatnya yang kemalangan. Hanya sekadar informasi: bila anggota jemaat kami meninggal, kecil atau besar, kami akan memberikan “tangis ni huria” (uang tangis gereja) sebesar dua juta. Di rapat depan kami sudah bertekad akan menaikkanya lagi. Itulah salah satu tanda gereja ikut merasakan beban yang sedang dipikul jemaatnya dan mau berbagi beban itu.
Ketiga: saya juga ingin mengatakan pelayanan gereja tidak boleh diukur uang. Ada saatnya gereja menerima namun ada saatnya gereja memberi. Menerima dan memberi (take and give), sisolisoli, tidak harus dilakukan pada saat yang sama. Jika pelayanan gereja harus dibayar, apa hebatnya? Jika semua kebaikan harus dibalas diganti seketika, apa lagi kelebihan gereja dengan perusahaan ambulans, peti jenazah atau pemakaman? Pada saat mana dan bagaimana gereja (termasuk pendeta) menyatakan dia ikut berduka dan mau berbagi dengan jemaat yang kematian kekasihnya? Hanya melalui kata-kata belaka?
Namun sebelum saya dituduh bohong, saya harus buru-buru mengakui ada beberapa kali saya dengan sukacita menerima amplop di kuburan. Yaitu dari keluarga orang-orang yang menurut adat Batak telah mati saurmatua (mati umur panjang, banyak turunan, dan kaya raya) sebab itu dipestakan. Entah kenapa pada saat itu saya sama sekali tak merasa bersalah.
Syalom Amang, cerita terseut diatas uda merupakan hal yang biasa, yang mungkin amang kalau menolaknya nagk enak atau apapun itu. Yang jelas kata orang uda bisa atau adat lah. Karena itu kalaupun amang risih menerimanya mungkin amang bisa mengembalikan “amplop Kuburan” tersebut dengan penjelasan dengan baik bisa juga. Yah kalau jemaat mau memberi hamauliateon ndah apalah amang.GBU
Syalom Amang Pendeta! Semoga banyak Pendeta HKBP membaca tulisan Amang Pendeta, sehingga mereka dapat membedakan di mana sepantasnya untuk mendapat Amplop. Kejadiannya begini, Ada anak anggota jemaat HKBP huria Pagaran meninggal, karena pada saat kejadian ada pergantian pendeta ( pendeta lama sudah berangkat dan pendeta baru belum datang). Sehingga Parhalado meminta bantuan ke Pendeta Resort yang kebetulan Pendeta Resort juga belum lama bertugas, Jadilah Pendeta Resort yang bertugas pada saat kejadian. Setelah selesai penguburan Pendeta Resort Pergi masuk ke mobilnya tetapi belum pergi, ditunggunya belum ada yang kasih amplop di panggilnya salah satu Parhalado untuk memberitahukan ke Hasuhuton bahwa Amplop untuk Pendeta belum di kasih. Setelah Amplop diterima Pendeta Resort baru pulang. Padahal Pendeta Resort telah melihat dan mendengar bagai mana kondisi Ekonomi yang kemalangan sangat memprihatinkan.
Daniel Harahap:
Bilang ke pendetanya: jika memang dibutuhkan dan belum dimasukkan dalam belanja bulanan, uang bensin dan tol lebih baik klaim kepada Bendahara Huria saja.
bagus kali ‘khotbah’ amang ini. berapalah gereja hkbp yang mau memberi ‘tangis ni huria’ itu? inilah bentuk kepedulian yang sesungguhnya harus di ‘paten’ kan di hkbp.tak apalah pulak kalau kalau pandita terima amplop dari keluarga yang mampu,tetapi kalau dari keluarga yang ekonominya pas2an ya dipulangi ajalah amplopnya. senangnya yang menerimanya itu kembali.ya amang? mauliate amang!
Daniel Harahap:
Pada jaman sekarang beban hidup itu begitu berat apalagi bagi warga jemaat yang secara ekonomi kekurangan. Adat kematian yang seharusnya meringankan beban kadang malah menambah beban. Jika gereja dan para pendeta ikut-ikutan menambah beban yang harus dipikul keluarga berduka, mau kemana mereka? Tudia nama hita on? Sebab itu saya mengajak semua mendorong gereja, termasuk HKBP, menjadi bagian dari solusi dan bukan masalah, yang kehadirannya membawa kelegaan dan sukacita bukannya kesesakan. Salah satu adalah dengan cara menyampaikan “tangis ni huria” dengan jumlah signifikan.
Memang mengubah apalagi menghentikan hasomalan/kebiasaan itu susah. Apalagi di kalangan orang batak. Setahu saya secara institusi gereja HKBP tidak pernah mewajibkan jemaatNya memberikan hamauliateon/ucapan syukur kepada hambaNya setelah memberikan pelayanan kepada jemaatNya.
Namun ada beberapa keluarga jemaat yang merasa tidak enak (terbeban) jika mereka tidak memberikan sesuatu pada hambaNya setelah mereka memberikan perjamuan kudus pada anggota keluarganya yang sedang sekarat, atau setelah upacara pemakaman selesai.
Sepanjang pemberian tsb iklas diberikan oleh keluarga, saya rasa tidak masalah. Cuma yang harus diingat oleh pelayan HKBP: tidak semua keluarga jemaat HKBP bisa melakukan hal yang sama, karena tingkat pendapatannya pun berbeda-beda. Jadi jika ada keluarga jemaat yang tidak bisa memberikan apa-apa, kami harap para pelayan HKBP jangan sakit hati. Berkat yang akan Tuhan berikan di kemudian hari akan jauh lebih besar dari jalangjalang yang jemaat berikan.
Sebagai pemusik, saya pun tidak pernah menyodorkan diri kepada keluarga yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang tuanya. Karena saya juga merasa sedih atas duka yang sedang mereka alami.
Tapi kepada keluarga yang akan menikahkan anaknya atau punguan yang mau berpesta bona taon, saya berani menyodorkan diri.
Jadi ingat waktu amang mertua saya meninggal, sebagai menantu tertua saya ditugaskan inang memberi amplop kepada parhalado yang bertugas. Selesai memberi 3 amplop kepada orang2 yang disebutkan inang (yang isi amplopnya inang bukan saya), saya pikir tugas sudah selesai. Eh ternyata belum karena ada sintua yang berbisik ke saya dan bilang “ai amang pandita pensiun (yang kebetulan ikut ke pemakaman) so dilehon hamu dope inang, unang patanda hu bahen hamu naung pensiun amang i”…..saking bingungnya saya cuma bisa jawab “oooooh”
Pagi Amang. Amang untuk renungan almanak bulan Juli kok gak ada amang. Saya tiap hari selalu baca almanak hkbp amang, kalau gak sempat, pasti baca dari website ini. Mohon untuk diteruskan amang. Terima kasih.
Daniel Harahap:
saya mohon maaf karena dua minggu ini mengalami ke-error-an. Ibu kami opname, anak2 libur, jadwal gereja dan piala dunia semu membuat saya tidak bisa duduk tenang. senin ini diharapkan semua sudah normal.
Ada cerita anekdot tentang penguburan.
Ketika ada yang ulaon saurmatua, pihak keluarga (X) mendatangi pendeta resort memberitahukan dan mengundang pendeta untuk kebaktian penguburan pada hari Kamis, tetapi pendeta berdalih ada rapat di distrik. Tu Guru Huria ma hamu lao, boi do waktuna ” kata pendeta”. Si X bertanya sambil siap siap mau pulang, Nunga sae sajuta leanon tu guru huria i amang?. Tiba tiba pendeta berkata: “Ehhh ….. pahundul hamu ma jolo,,,, asa hupatakkas jolo partikkian ku, oh…. ari jumat do hape hami marrapot……ro pe au…….
Jadi ingat waktu bapak meninggal..
Ceritanya karena kejauhan untuk dibawa ke gereja tempat kami ber-huria, akhirnya dibawa menumpang ke gereja dekat rumah duka dimana bapak disemayamkan.
Tapi belum lagi berangkat dari rumah duka kami sudah diwanti-wanti oleh parhalado “A” untuk memberikan kepada parhalado setempat “sekedar” uang terimakasih karena sudah menumpang disana.
)
Namanya sih sekedar, tapi kami sudah dipatok dengan nominal tertentu dan berapa jumlah orangnya, hehehehe..
Mohon maaf, saya bukannya tidak tau berterimakasih atau menyesal dalam memberi, akan tetapi yang saya herankan adalah kenapa kami harus diatur dalam memberi hamauliateon kami dimana kami seharusnya memberi dengan ikhlas jumlah yang kami ingin berikan.
Kalau memang begitu kenapa tidak dimasukkan saja dalam peraturan gereja mengenai besaran hamauliateon bagi parhalado dan pendeta pada saat kedukaan…
Herannya parhalado yang sama ini juga yang pernah protes dengan saya karena kami pernah memberikan hamauliateon kepada gereja dengan pembagian2nya, akan tetapi entah kenapa saya lupa menuliskan nama dan bagian untuk sintua berapa.
Setelah melihat ternyata di amplop tidak ada bagian untuk sintua, sang sintua protes kepada saya, “ai boasa dang dibahen hamu antong tu hami inang sian hamauliateon muna on..”
???!!!?? …..saya cuma bisa bengong..heheheheh..
Anyway, sudah berlalu..
Akan tetapi itulah gambaran HKBP yang saya tahu belakangan ini, setelah saya menikah.
Karena dulu semua diurus oleh bapak/mamak mungkin maka saya tidak mengerti… atau mungkin juga karena Gereja HKBP tempat saya berhuria pada waktu saya masih ikut bapak/mamak saya tidak seperti itu…
God Bless HKBP..!!!
Mengungkapkan suatu tindakan,sikap dan keyakinan yang berdasarkan suara Hati Nurani, pastilah suatu hal yang mulia dan sangat berterima dihati semua orang.
Ini adalah Introspeksi dan sekaligus langkah awal yang perlu diikuti oleh seluruh Hamba dan pelayan2 Tuhan di HKBP.Tak perlu dibahas secara berlebih, ta ulahon ma.
puji Tuhan prinsip ini masih konsisten saya pegang sampai sekarang, dan mudah-mudahan seterusnya……
Semoga pendeta-pendeta HKBP lainnya meniru langkah Amang DTA. dan smoga juga tetap konsisten seterusnya. Teringatlah kejadian yg dialami keluargaku. Ayahanda yg pensiunan pendeta resort di HKBP Kp.Pon Distrik Tebing Tinggi Deli dimakamkan di bonapasogit, Praeses dan beberapa pdt hadir ketika di semayamkan di HKBP Pangombusan. setelah usai acara penguburan di pemakaman. Dengan malu-malu kucing, seorang parhalado setempat membisikkan ke Abang saya, “amplop tu pdt asa mulak pdt”. Abangku lapor ke Ibu saya. Ibu saya berkata” Nunga donganna pandita na mateon, na ingkon adong do hepeng tu pandita i?”Kami tidak memberi sepeserpun. Menurutku, janganlah ada pdt atau guru huria atau parhalado (mungkin disuruh) untuk menagih ‘amplop’ dari keluarga yg berkemalangan. Kesannya jadi impolan di perak alias mata duitan. Karena, pelayanan pemakaman adalah juga bagian dari tugas parhalado/pdt. Terlebih pdt, sudah digaji untuk tugas itu, sungguh tak pantas untuk ‘menagih amplop’. Karena, bila ada keharusan memberi hamauliateon saat pemakaman, jangan-jangan ada keluarga (yg sangat berkekurangan misalnya) memohon agar tak usah pdt atau parhalado memakamkan keluarganya. Bagaimana kalau saurmatua atau maulibulung? Tetap topiknya na hamatean. Tiada seorangpun tertawa girang bila keluarganya meninggal walau dibungkus dengan istilah ‘dipestakan’.Sebab pesta tidak identik dengan kaya-raya atau banyak duit. Walaupun kita tahu keluarga yang ditinggalkan hartawan, namun sebagai gembala yang baik, sebaiknya mengarahkan keluarga agar ‘hamauliateon’ itu diberikan saja untuk membantu yg perlu dibantu, misalnya anak yatim-piatu di Elim, zending HKBP di Pulau Rupat, dlsb. Kuingatlah iklan tentang kematian di koran “PR”Bandung, tertulis di bagian pojok kiri advertensi itu, Note : semua sumbangan akan disalurkan ke yayasan sosial. Maukah para pendeta kita bila menerima ‘hamauliateon usai pemakaman’ menyalurkannya ke yayasan sosial??
sebenarnya hal ini harus didiskusikan di kalangan para pendeta dalam pertemuan formal dan informal, dan mengingatkan para pendeta untuk mengerti tugas kependetaanya. bukan hanya amplop di kuburan itu yang seharusnya tidak usah diterima, jika memang ada alasan kuat untuk tidak menerimanya, barangkali masih banyak hal yang harus kita luruskan berkaitan dengan amplop-amlop ini.
syalom, amg. mgaris bwhi kalimat amang : “apalagi di jaman akuntabilitas, transparansi dan sistemik ini”, di otak saya berputar-putar bbagai tanya n pnyataan agak emosi. apakah semua pendeta hkbp tmasuk petinggi n pe-tertinggi telah mengerti aplikasinya. ato hanya bbrp yang mengerti ato banyak yg pura-pura tdk mengerti dengan bbagai alasan ato nggak mau ngerti.
I’m a wife of a pendeta hkbp. dukungan penuh kuberikan pada suami dalam pelayanan, krn basic wkt naposo pun full of pelayanan. selagi jd pdt ressort di suatu grj, suami komit tuk aplikasi THN PENATALAYANAN 2010 yang sarat dengan ketiga istilah jaman yang amang sebutkan tadi. di gereja secara organisasi tentunya masalah klasik adalah pembenahan keuangan. banyak yg bkepentingan di situ.
tjdilah yang mengejutkan bagi kami (terutama saya sebagai org yg digandeng masuk dalam kependetaan). oknum sintua dipbaiki kelakuannya ttg uang grj tnyata bkait dg si suan bulu. bukti dan data sudah diserahkan pd pihak distrik dan dpt info bhw msl ini msl umum di distrik itu. olala…!! santai kali pernyataan itu.
majulah si suan bulu ke pihak distrik. alamak! entah bawa apa tuh si suan bulu, pihak distrik malah menyalahkan kami n mdukung penuh kondisi itu dengan alasan: nga gabe hasomalan bagi2 di kelompok sintua n g salah krn telah jd kesepakatan bersama antar sintua. di mana sistematik, akuntabel, n transparansi??? kpn diterapkan?? msh byk wkt tuk penyimpangan ya??
suami sarankan seluruh uang yg masuk melalui bentuk2 ibadah masuk dulu dalam pbukuan huria baru dibagi berdasrkan pos yg teratur. jwbnya: thn dpn lah itu. ktmu thn dpn, tenang-tenanglah dulu, itu jawab barunya.
krn suami g mau tenang2 aj dengan penyimpangan tsb, dr mulai oknum sintua, si suan bulu, n distrik sepakat mengadakan rapat2 gelap yg btujuan penggulingan. eh, lucunya hsl rapat mrk dikabulkan pusat lo. pdhal, dlm prosesnya, utusan ruas dah brgkt ke pusat n mengajukan pmohonan ttulis n lisan agar pdt ressort tdk digulingkan (pindah, red) tetapi dikirim tim verifikasi pusat untuk menyelesaikan masalah di gereja tsb. karena, ini adalah pdt ke2 yg digulingkan krn pbaikan keuangan di grj itu pdhal umur grj jd resort baru 2 thn n umur tugas 2 pdt ini pun msg2 krg dr setahun.
hebat, ya???
suami sy tmasuk yg s7 sikap amang tentang amplop n lbh umumnya UANG dalam pelayanan. tp, berapa orangkah kita seperti itu, amang?? bisakah kita mgalang dukungan pdpt agar jadi issue n jadi wacana kemudian pembahasan rapat n keputusan untuk reformasi hkbp??
sampai sekarang, pmohonan untuk turunkan tim verifikasi tdk mdpt tanggapan. tp kputusan spt menyatakan suami saya bersalah diwujudkan dengan mpmasalahkan gaji bulanan di tempat tugas yg baru. kok bisa?? organisator hkbp ngerti soal sistemik g sih??
terus terang, saya pribadi termasuk yang positif memandang istri2 pendeta berbisnis selain melayani. sedia payung sblm hujan. jika dpt bkat lbh, penuhi keinginan tuk memberi pd jemaat. bukankah mberi lebih baik daripada menerima??
mohon tanggapannya, amg. n bolehkah japri tuk masalah kami ini??
Daniel. Harahap:
Thx sharingnya. Hal2 lebih konkret bisa via japri saja.
syalom! mungkin sulit menemukan pendeta seperti amang yang penuh bijaksana, semoga prinsip kebaikan itu bisa dipertahankan dimanapun amang melayani dan menularkan yang baik itu kepada pendeta2 lain dan juga tentunya kepada parhalado. >>karena jangan heran amang sekarang ini ada 3 macam perpindahan pendeta daru satu gereja dimana pendeta itu melayani yati : ( 1) habis masa perioade (2) si pendeta jujur soal keuangan gereja sehingga ada parhalado yg tidak suka (3) si pendeta suka menggunakan (mengambil) uang gereja dan si parhalado tidak suka.
Amang, menurut saya adalah salah satu model pendeta yang patut di contoh pendeta lain sebab perpecahan di tubuh gereja itu adalah paling banyak soal uang……….Selamat melyani !!
Horas Amang Pendeta,
Jujur saya bukan warga HKBP, namun saya selalu membaca tulisan Amang. ” ” Pemberian Amplop di Pemakaman menjadi Pro dan Contra” tapi saya lebih tertarik dengan ide pemberian ” Tangis ni Huria ” dengan jumlah yang Signifikan, Semoga Gereja Gereja dapat mencontoh apa yang amang kemukakan ini, Horas..
Horas Amang,
Saya setuju dengan apa yang amang tuliskan.Semoga bisa diteladani para pelayan di HKBP.Dulu di HKBP jl Sudirman medan ada kasus,ketika Bapauda saya membabtiskan anak,saat amplop diberi ke parhalado huria,amplop ressebut dibukan dan sang parhalado mengatakan uang yg dimplop tidak cukup/masih kurang,maka Bapauda saya terpaksa harus menambahkan lagi.Mudah2an hal2 yang merendahkan dan memalukan seperti ini tidak terjadi lagi di HKBP.Salam.
Suatu teladan yang perlu di tiru oleh para pendeta-pendeta yang masih belum mencapai tingkat pencerahan seperti amang ini. Dan “Tangis Ni Huria” itu perlu di terapkan di tiap-tiap Gereja HKBP. Kiranya semakin banyaklah orang-orang yang punya jiwa & hati seperti amang.Tuhan Yesus memberkati.
sebenarnya kalau pendeta sampai mau menerima amplop di kuburan perlu dipertanyakan dimanakah kasih yang selalu disebut-sebut dalam kotbahnya. Karena mereka sedang berduka yang tentu saja membutuhkan banyak biaya (baca adat batak) masihkah sampai hati menerimanya??? Diberikan mungkin keterpaksaan atau ada yang menyuruh. Jika disebut hansit mulak mangalean itu hanya membenarkan diri untuk menerimanya Kami ruas akan sangat menghormati dan menghargai serta kagum apabila umpama itu seperti ini denggan mangalean dengganando molo mulak manjalo. Bukankah tugas pendeta sampai ke parbandaan?? Bukankah seorang pendeta di kota difasilitasi gereja????
Sai dipargogoi Tuhan ta ma hamu Amang DTA, mangula di huria i. On ma sada sitiruon ni sude hita asa taboto mameakhon aha pe di ingananna. Ba nga marsiaonon, toho ma tutu ikhon dohot ma huria tumatangis, unang gabe patamba sipikkiran. Mauliate ma Amang nabasa…