Membangun Gereja (Batak) Di Tengah Masyarakat Pluralistik dan Demokratis (2)

May 12, 2010
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

(sambungan dari postingan sebelumnya)

gereja-hkbp-serpong-masa-depan-3.jpg

3. Penghargaan kepada sejarah dan proses pertumbuhan

Menarik sekali menjadi bahan kajian dan renungan, gereja HKBP yang tersebar di seantero Indonesia setelah era kemerdekaan, hampir semua  dibangun dengan kekuatan dan semangat jemaat lokal atau huria. Boleh dikatakan tidak ada satu pun gereja HKBP yang dibangun oleh Kantor Pusat. Masing-masing jemaat, dengan swakarsa (kehendak sendiri), swadana (dana sendiri) dan sebagian besar swakelola (mengerjakan sendiri) membangun gerejanya. Bukan hanya dana yang tidak ada dari Pusat, petunjuk atau mannual untuk membangun gereja pun tidak ada.

Berhubung secara konsepsional dan finansial serta organisasi jemaat lokal (huria) sangat terbatas, dan tiadanya panduan, maka boleh dikatakan hampir tidak ada gereja HKBP yang dibangun dengan perencanaan yang sempurna, utuh dan menyeluruh, dan langsung jadi. Umumnya gereja HKBP bertumbuh setahap demi setahap, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan jemaat setempat. Itu jugalah yang terjadi di Serpong.  Jemaat HKBP Serpong juga bertumbuh dari bawah melalui proses jatuh-bangun dan pergumulan panjang. Kini memang HKBP Serpong  memiliki 4100  meter persegi tanah dan dengan anggota jemaat 450 kepala keluarga dengan pemasukan hampir dua puluh juta rupiah per minggu. Namun semua itu tidak terjadi seketika atau sekejap. Lahan HKBP Serpong diperluas setahap demi setahap, sepetak demi sepetak, dengan susah payah dan melibatkan partisipasi banyak orang.  Dengan kata lain tidak ada lahan gereja HKBP yang jatuh dari langit tiba-tiba.

Menurut saya dalam membangun gereja Batak, termasuk di Serpong, kita harus memberikan penghargaan atau respek kepada sejarah jemaat dan proses pertumbuhan ini. Salah satu adalah dengan mempertahankan bangunan eksisting atau yang sudah ada. Minimal strukturnya. Dengan cara itulah kita mau mengingatkan diri kita dan anak-anak kita akan sejarah jemaat yaitu sejarah kehidupan kita sendiri. Penghayatan akan sejarah itu akan membuat kita sungguh berakar dan berdiri kuat.

Saya bersyukur dalam pertemuan parhalado dan anggota jemaat kemarin di HKBP Serpong kami dapat sepakat dalam hal penghargaan kepada sejarah dan proses pertumbuhan ini.  Saya dan kami semua sadar bahwa gedung Sekolah Minggu kami dibangun miring atau tidak simetris dengan jalan. Juga rumah pendeta yang sekarang berubah jadi kantor dibangun tidak simetris dengan gedung SM. Dari segi fungsi penggunaaan lahan tentu saja itu bisa dianggap kurang efisien. Namun baiklah kita sadar hidup ini tidak semata-mata soal efisiensi dan ekonomi, melainkan juga soal rasa dan nilai. Dengan mempertahankan gedung yang letaknya miring itu jemaat HKBP Serpong mau diajak mengakui masa lalunya yang sulit dan minim sekaligus penuh sukacita dan semangat itu. Tentu kita tidak harus naif. Jaman berubah. Kebutuhan bertambah. Kita tidak harus menafsirkan hal ini sebagai sikap anti perubahan. Namun kita mau mengatakan ada bagian-bagian yang memang sengaja kita pertahankan sebagai ingatan atau tonggak perjalanan ke masa depan.

bersambung:

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

7 Responses to Membangun Gereja (Batak) Di Tengah Masyarakat Pluralistik dan Demokratis (2)

  1. JP Manalu on May 12, 2010 at 1:49 pm

    Amang Pdt,
    Satu hal yang saya amati dari rangkaian proses pertumbuhan dari gedung gereja dan pengembangannya adalah pembangunan gereja HKBP (terutama di perkotaan), hampir sama dengan pembangunan keluarga-keluarga jemaatnya. Dalam arti “sulit” untuk merancang dalam jangka panjang. Seperti di Solo misalnya, kadang jemaatnya banyak (karena banyak jemaat yang dimutasi ke kota Solo) dan kadang berkurang karena banyak jemaat yang dimutasi dari Solo; akibatnya, kadang gedung tidak mampu “menampung” jemaat dan kadang juga hanya sebagian gedung yang terisi. Beberapa jemaat terdidik memberikan masukan kepada kami parhalado agar membuat “master plan” untuk 5 tahun, 10 sampai 15 tahun ke depan…. terutama dalam membangun dan melakukan pengadaan inventaris, namun dengan jumlah jemaat yang “fluktuatif” seperti ini, kami menjadi agak kesulitan juga. Dalam rapat huria 2 tahun yang lalu, ketika ada wacana untuk memperbesar gedung gereja, saya termasuk yang kurang sependapat. Karena dalam pandangan saya dan sebagian rekan, urgensinya belum mendesak. Karena dalam pandangan saya dan rekans yang lebih muda, selain karena jumlah jemaat yang fluktuatif, kami melihat “utilisasi” penggunaan gedung belum maksimal. Jika jumlah jemaat meningkat secara signifikan-pun, menurut pandangan kami, masih bisa “disiasati” dengan menambah frekuensi ibadah minggu di gereja. Akhirnya pihak yang mengusulkan renovasi untuk memperbesar gedung gereja tersebut bisa memaklumi, dan kami berencana mengalihkan pembangunan phisik ke pos pelayanan.
    Tapi ngomongs amang, bagaimana pandangan amang terhadap “proses” yang dilakukan oleh gereja-gereja kita dalam membangun gedung? Yang saya amati, kalau proses yang dilakukan seperti sekarang ini, dengan hanya mengandalkan huria, tanpa “paniroion” dan “pangurupion” langsung dari resort (bagi gereja pagaran) dan dari distrik; menurut amang apakah masih terus kita lanjutkan “kondisi” ini? Dalam pandangan saya, kalau semuanya kita “bergerak” sendiri-sendiri di tingkat huria, memungkinkan terjadinya “inefisiensi”, karena saya amati, dalam rangka pengumpulan dana untuk membangun gereja, membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga. Saya kadang bertanya juga, apakah “wujud” bantuan dari distrik cukup menghadirkan “praeses” pada waktu acara pengumpulan dana pembangunan gereja itu? Apakah di “job description” praeses tidak termaktub tugas “mengkoordinir” perluasan, pembangunan, pengembangan pelayanan (phisik dan non phisik) di wilayah “pelayanannya?”.
    Horas….

  2. Jansen Sinamo on May 13, 2010 at 2:30 pm

    Penting sekali lah (gereja) yang kelihatan, namun lebih penting kiranya (gereja) yang tidak kelihatan, seperti kata Paulus dalam 2 Kor 4: 18.

    Gereja yang kompatibel dengan masyarakat yang demokratik dan pluralistik, atau boleh juga: gereja yang tetap sebagai garam yang berkualitas dan terang yang benderang di dalam masyarakat pluralistik dan demokraktik, adalah hal yang tidak kelihatan. Ia bersifat mental dan bukan finansial, bersifat spiritual dan bukan material, serta bersifat behavioral dan bukan arsitektural.

    Boha ma i?

  3. Hodner L on May 14, 2010 at 10:53 am

    Sangat setuju dengan Amang JP Manalu, bahwa sejalan dengan penatalayanan HKBP, sepertinya kita harus lebih mengutamakan pembangunan “jiwa” daripada “Pisik” gereja itu sendiri. Masalah daya tampung, ada baiknya frekwensi Ibadah yang diperbanyak (jika perlu 5 kali ibadah pada hari Minggu, daripada memperbesar Gedung Gereja)
    Yang kedua, sangat dibutuhkan partisipasi dari Pucuk Pimpinan (minimal Praeses, Pdt Resort) untuk maniroi dan mengkoordinir pembangunan sebuah gereja (sering kita alami, dalam panitia pembangunan nama yang paling atas adalah praeses, namun hampir tidak ada peran mulai dari perencanaan hingga selesainya proses pembangunan)
    Mudah-mudahan tulisan ini membuka kesempatan dan menyadarkan semua pihak agar proses pembangunan gereja terhindar dari “inefisiensi”.
    Horass.

  4. LISTON SITANGGANG on May 17, 2010 at 1:34 pm

    Syalom

    Kebetulan pada Malam Minggu yang lalu, dalam suatu lokakarya saya mendengar Pdt. Nelson F. Siregar (Kabid. Diakonia) menyampaikan bahwa konsep gereja HKBP dulunya adalah Pargodungan. Selain bangunan gereja sebagai inti, terdapat juga fasilitas/area pertanian, perikanan, kesehatan, pendidikan. Dengan demikian gereja menjadi pusat aktifitas, bukan hanya pada hari Minggu saja, namun bisa setiap hari. Bukan hanya untuk yang tergabung dalam koor saja, namun juga bisa mengakomodir pengembangan talenta jemaat diluar anggota koor. Tinggal menyesuaikan dengan kondisi setempat.

    Sepakat dengan memaksimalkan penggunaan gereja dan area di sekitarnya disetiap hari. Sepakat juga dengan perencanaan jangka panjang. Sepakat pula untuk mengindari inefisiensi, mis: boleh mendirikan gereja jika ada sekian KK, jarak dari gereja terdekat sekian KM, dsb

    Sebagai masukan mungkin perlu diperhatikan regenerasi mengantisipasi akan berkurangnya parminggu marbahasa batak dimasa mendatang.

    Salam

    Liston Sitanggang

  5. JP Manalu on May 19, 2010 at 10:03 am

    Sebagai “bukti” adanya inefisiensi dalam pembangunan gereja, tadi malam saya ikut membantu menyusun laporan keuangan panitia pembangunan pospel di resort Yogya, dari sana saya lihat betapa inefisiennya “halak hita” ini membangun gereja. Total penerimaan acara sebesar Rp130 jutaan, sedangkan biaya perhelatan sekitar Rp48 jutaan…..
    Coba kalau dilakukan dengan cara lain, barangkali Rp48 jutaan itu sudah cukup untuk melunasi utang kepada jemaat sebesar Rp32 juta untuk pembelian gereja di salah satu pos pelayanan gereja di tempat kami beribadah yang sudah lebih dari 2 tahun belum bisa kami kembalikan……

    Daniel Harahap:
    Serba sulit juga Lae. Mungkin tanpa biaya 48 juta itu tidak akan pernah bisa didapat 130 juta. Apalagi kalau prinsipnya: marpesta huhut manumpahi. :-) Tanpa pesta jangan2 yang dapat cuma 10 juta. Semoga saya salah.

  6. Hitler P. Sigalingging on May 19, 2010 at 5:24 pm

    Menarik apa yang sudah disampaikan Amang pendeta serta beberapa tanggapannya.
    Seiring kemajuan jaman dengan tak ada jarak dan “tak ada dusta di antara kita” maka berimbas pada berbagai strategi HKBP dalam rangka pembangunan sebuah rumah ibadah bagi Tuhan. Namun dari sekian banyak pembangunan yang saya amati adalah masih belum komprehensifnya arah tujuan pendirian gereja dengan pemberdayaan masyarakat sekitar (cmiiw). Padahal seperti kita ketahui kehidupan bergereja kita di tengah-tengah mayoritas yg berbeda iman sangat dibutuhkan kedekatan dari hati ke hati. Sudah selayaknya ke depan, arah tujuan pembangunan sudah memikirkan, merencanakan, dan mengikutsertakan pemberdayaan masyarakat sekitar dan tidak melulu pada internal jemaat kita.
    Contoh sederhananya adalah apakah di setiap pembangunan gereja sudah direncanakan membangun poliklinik atau lingkup kecilnya ruang P3K? yang dapat diakses juga oleh masyarakat sekitar? Berikut, apakah ada kegiatan2 dalam pembangunan yang dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar misalnya sewaktu akan dibangunnya gedung, juga tidak lupa memperbaiki jalan-jalan di sekitar dan menuju ke dalam gereja.
    Demikian sedikit partisipasi dari saya selaku seorang jemaat HKBP yang rindu ada perubahan di tengah2 kehidupan gerejaNya.

  7. JP Manalu on May 20, 2010 at 6:10 pm

    Amang Pdt, bisa juga benar apa yang amang kemukakan di atas. Namun sebagai contoh; di Solo; belakangan ini sudah mulai ada suara-suara yang berbeda dari sebagian jemaat, mereka mulai bertanya “masa iya sih kita harus setiap tahun berpesta? Biaya pestanya-pun jika dibandingkan dengan penerimaan kadang-kadang hampir sama… atau minimal kurang sebandinglah dengan upaya yang dilakukan panitia”. Ada beberapa jemaat yang menyuarakan hal sedemikian, dan saya lihat setelah jemaat tsb mengutarakan hal itu, ybs meningkatkan jumlah “pelean bulanan” dan fonds sosialnya, dan kalau diminta untuk membantu pembangunan gereja lumayan rajin juga ybs memberikan. Semoga semakin banyak jemaat HKBP yang seperti itu, sehingga acara-acara pesta dapat diminimalkan dalam pembangunan phisik di HKBP. Dan menurut hemat saya, akan lebih baik lagi kalau pembangunan gereja dikoordinir di tingkat distrik dengan cara melakukan fungsi koordinasi dengan pendeta resort, pendeta huria, kalau perlu seperti yang amang tulis di laman lain, arisan pembangunan gedung gereja tingkat distrik :)
    Horas.

    Daniel Harahap:
    Saya sangat setuju Lae. Sebenarnya kalau seluruh (sebagian besar) jemaat menyampaikan persembahannya dengan baik dan benar yaitu sepantasnya apalagi menyampaikan persembahan bulanannya/ persepuluhannya secara teratur (dan semua dikelola secara transparan dan akuntabel) kita dapat membangun gedung gereja, rumah sakit dan sekolah tanpa harus pesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*