Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Akhir-akhir ini saya melihat ada fenomena baru di HKBP, yang mansai jarang atau tak pernah terjadi di HKBP. Yaitu: pendeta hobi menyanyi dari atas mimbar saat berkotbah. Bukan saya cemburu karena tidak dikaruniai Tuhan hamaloon marende atau kemampuan bernyanyi, namun menurut saya kayaknya ada yang tidak pas di sana.
Pertama: saat belajar homiletika atau ilmu berkotbah di kampus teologi dulu, saya tidak pernah diajarkan untuk bernyanyi saat kotbah. Tugas pendeta adalah menyampaikan refleksi firman Tuhan dan kehidupan jemaat, bukan mempertunjukkan kebolehannya bernyanyi dengan merdu. Dalam liturgi kotbah ya kotbah. Nyanyian ya nyanyian. Kotbah mengungkapkan suara Tuhan menyapa umat sementara nyanyian mengungkapkan suara jemaat kepada Tuhan. Di HKBP orang bernyanyi di bangku jemaat dan bukan di altar, menunjukkan bahwa nyanyian lebih ditujukan kepada Tuhan dan bukan jemaat jemaat. Atau nyanyian lebih mirip doa daripada kotbah. Lantas kenapa dicampur-aduk?
Kedua: menyelipkan nyanyian di kotbah apalagi banyak dan berulang, menurut saya adalah korupsi kemuliaan Tuhan. Sadar atau tak sadar si pendeta telah menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian jemaat dan bukan lagi salib besar yang ada di atas altar. Jemaat sedikit-banyak “dipaksa” melihat kepada dirinya dan memberi pujian kepada dirinya. Padahal kemuliaan sepenuhnya milik Tuhan. Si pendeta tidak boleh meniru para seleb, penyanyi-penyanyi pop yang sebagian suka kawin-cerai itu, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dan pemujaan. Selain itu pendeta jangan menganggap mimbar kotbah itu miliknya yang bisa digunakan suka-suka atau sesuai selera.
Ketiga: banyak di antara jemaat memiliki kemampuan bernyanyi jauh lebih baik daripada si pendeta atau pengkotbah. Namun mereka tidak punya kesempatan bernyanyi solo di gereja apalagi di mimbar tinggi. Kalau memang perlu lagu solo untuk membangun ibadah (bukan untuk memuaskan nafsu sendiri atau sekadar membangun ego) kenapa tidak meminta orang yang benar2 pintar bernyanyi saja? Namun itupun masih masalah. Semua atau hampir semua anggota HKBP merasa sangat hebat bernyanyi. Lantas kalau semua minta nyanyi solo di depan bagaimana pulak? Apalagi di HKBP nyanyi itu mirip jambar atau hak jemaat. Dan hanya itulah jambar atau haknya. Lantas kenapa kita pendeta harus mengambilnya pulak lagi?
Keempat: kesan saya pendeta yang suka bernyanyi di mimbar itu seringkali menutupi kelemahannya mempersiapkan kotbah yang benar-benar reflektif dan meditatif. Untuk menutupi teologi-nya bernyanyilah dia dengan bergaya (yang lain membuat humor terlalu banyak atau malah marah2)
Jadi saran saya, daripada bernyanyi mending bikin persiapan kotbah lebih baik.
Kelima: silakan tambah sendiri.
Pokoknya, dohot jempek saran saya kepada para pendeta muda HKBP: baik-baiklah kotbah. Kalau mau nyanyi di rumah sajalah bersama istri/suami dan anak-anak sendiri.
Horas HKBP!
Share on Facebook
Terkadang jemaat sangat menyukai hal-hal semacam itu dan bisa membekas dihati dengan mengingat syair nyanyian yang tertuang dalam BE misalnya.
DTA : Kotbah mengungkapkan suara Tuhan menyapa umat sementara nyanyian mengungkapkan suara jemaat kepada Tuhan.
Pertanyaan : Apakah Tuhan Yesus tidak pernah bernyanyi? Bila jawabnya tidak, saya sungguh menyangsikannya.
Horas Amang. Benar da sangat setuju saran Amang. Mungkinkah perubahan perubahan Kotbah sambil bernyani dari Mimbar kita sampaikan ke Pinpinan HKBP agar ada semacam Parmahanion?. Kadang memang kita jadi tergangu atas nyanian tersebut. Thanks.
Bah,,,gawat,,yg gawat bukan yg kotbah sambil nyanyi..tapi amang DTA yg tidak setuju sama sekali pdt yg suka nyanyi..saya setuju dgn komment Bpk mangara dan bpk richatd. n jujur saya tidak suka komment bpk waspada marbun dgn alasan yg sangat byk……we tahe
Jujur aja,sbg jemaat saya juga pernah merasakan momen itu.Pada saat Sang Pdt mengajak jemaat bernyanyi atau lebih tepatnya merespon Firman Tuhan yang telah dibagikan,misalnya dengan menyanyikan lagu Laskar Kristen maju atau Bersinar,bersinar…..It’s really touching dan Inspiring.Saya sukacita,tetapi apakah pada saat yg sama sang pendeta mencuri kemuliaan Tuhan?.Sungguh tidak terpikiran.
Horas… Salam kenal Amang!!!
Pertama :Bagus juga pendeta bernyanyi pada saat berkhotbah.. Karena dengan nyanyian ini jemaat tidak terlalu serius dan menjadi tidak ngantuk
. Saya sebagai jemat tidak tahu mengenai homiletika, tetapi landasan kita adalah Firman Tuhan.. Sepanjang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan… Why not…?
Kedua :Korupsi kemuliaan Tuhan…??? Ha..ha..ha.. Tidak lah amang pandita..!! Dia juga bernyanyi untuk kemuliaan Tuhan…
Ketiga :Saya pikir bernyanyi untuk Tuhan bukan harus pintar bernyanyi.. Tuhan melihat hati..
Jadi buat amang pendeta tidak usah takut untuk bernyanyi saat khotbah!!!
Keempat : Dari Kesan yang diambil amang pandita, kesan saya amang pandita berkesimpulan dg prasangka kurang baik terhadap pendeta penyanyi tersebut.. Biarlah mereka dengan gaya mereka.. Tidak usah pusing.. Jemaat aja tidak pusing.. dan saya yakin Tuhan tidak keberatan..
Daniel Harahap:
Berkotbah itu harus mengikuti kaidah. Dalam kaidah kotbah tidak ada bernyanyi. Dan tujuan berkotbah bukan untuk menyenangkan hati jemaat melainkan menyampaikan kebenaran.
Berkotbah adalah salah satu bentuk komunikasi, dalam hal ini mengkomunikasikan Firman Tuhan. Tujuan komunikasi adalah agar para audience bisa menangkap pesan/message apa yang hendak disampaikan narasumber/pewarta.Menurut hemat saya, pendeta tak berdosa jika bernyanyi sambil berkhotbah; yang paling penting pesan yang hendak dituju si pengkotbah dapat diserap oleh jemaat. Saya amati, sangat sering terjadi, penguatan makna dibangun juga oleh syair (note: bukan merdu atau tidaknya) sang pengkhotbah. Cuma kita harus catat, sebaiknya ‘nyanyian non rohani’ janganlah dinyanyikan di atas mimbar cukup dilafalkan syairnya, kalau lagu rohani Kristen go ahead. Kita mesti bijak untuk memanfaatkan segala sarana dan prasarana termasuk talenta (misalnya bernyanyi) untuk mengabarkan Firman Tuhan. Humor rohani juga bisa diselipkan saat berkhotbah, kadang dimaksudkan agar tidak monoton, jangan mengantuk, ‘menyindir secara halus’ (jadi ingat khotbah Ompui Pdt Napitupulu tentang “Nengel” yang membuat jemaat kami tertawa). Apakah humor juga diajarkan dalam ilmu berkhotbah?
Sejatinya saya perhatikan, bila seorang pendeta bernyanyi saat khotbah, jemaat bukan menilai suara sang pendeta, tapi kata-kata dan makna yang terkandung dalam nyanyian itu. Beberapa jemaat kami pernah curhat ke saya, “Amang, saya tertegun dan merasa dikuatkan sekali, bahkan saat hening saya ikut menyanyikannya, waktu pendeta Anu menyanyikan lagu ‘Nang gumalunsang’, ” tutur seorang Ina.Yang lain berkata “Amang boleh ndak saya dapat syair lagu yang tadi dinyanyikan saat khotbah? Inspiratif sekali laagu itu”.
Jadi ndak usahlah kita teoritis sekali. Kita bisa tiba di kota Roma dengan berbagai macam moda transportasi. Salam
menurut saya itu sah2 ajah. dan itu salah satu cara pendeta biar orang yang kegereja pas khotbah nggak ngantuk..atau membangunkan yang pada tidur…. tapi klu nyaninya berkelebihan itu yang nggak boleh menurutku?
maaf pak DTA, sebaiknya sesama supir bus kota yang membawa jemaat jangan saling nyalib. Masalahnya bagaimana para penumpang senang dalam perjalanan sampai di tujuan dengan selamat, caranya masing masing mungkin tidak sama, dan memang Tuhan juga menciptakan manusia tidak seragam, sesuai dengan bentuk , karakteristik, dan bahkan cuaca selama dalam perjalanan , demikian juga harus di sesuaikan dengan , sikon dari penumpang itu sendiri. Mari kita tidak memaksakan kehendak, dan pengetahuan kita, dan jangan sampai kita membuat contoh saling menghakimi.
Daniel Harahap:
saya tidak menghakimi. Saya hanya mengatakan bernyanyi dari mimbar kotbah tidak sesuai dengan kaidah berkotbah yang benar sesuai dengan homiletika. Satu lagi: tujuan pendeta berkotbah untuk menyenangkan hati jemaat.
Bagi saya itu bagian dari cara pengkotbah utk menyampaikan sari kotbahnya,alangkah baiknya kalau doa,nyanyian dan kotbah kita lihat dalam satu kesatuan memuliakan Tuhan jangan dipenggal penggal.Jadi,kalo Pendeta nyanyi dari mimbar sah sah saja,apalagi jemaatnya diajak bareng nyanyi.
Daniel Harahap:
Dalam ibadah HKBP nyanyian jemaat sdh diatur ada tujuh buah mengikuti irama liturgi. Jadi pendeta tdk usah nambah2 lagi menurut selera.
kalau saya menjadi par-orgen terkadang tidak menyukai pendeta yang suka bernyanyi di mimbar.
karna mau tidak mau sang pendeta pasti menginginkan ‘jasa’ kita untuk mengiringi lagu nya itu .
tapi secara tidak langsung sang pendeta pun membuat malu sang par-orgen . karena tidak smua organis dapat mengiringi lagu secara dadakan (contoh amat nyata adalah saya) terkadang kalu sudah seperti itu . timbul rasa degki di hati karena berhasil lah si organis malu di hadapan jemaat karena menolak ajakan pendeta untuk mengiringi lagu . lalu datang lah sentilan2 para inang2 yg tajam yg menCAP “kalo gak bisa bermain organ tak usah lah menjadi organis”
wah ! makin lengkap rasa sakit hati itu pasti ya ?
haha
Berkotbah diselingi menyanyi memang fenomena baru. Aneh? Menarik? Memperkaya? Kurang pas?
Saya sendiri termasuk penggemar kotbah. Koleksi saya lumayan bervariasi: yang Katolik, Karismatik, Pentakostal, Protestan, lengkaplah.
Kaset kotbah koleksi saya seratusan, mulai dari Billy Graham, Paus Yohannes Paulus II, Martin Lloyd Jones, John Stott, Francis Shaefer, Moris Cerullo, Petrus Octavianus, dsb. Belum lagi sesudah Youtube dan TBN Channel ada. Makin banyak saja.
Saya juga membaca banyak kotbah (tertulis) Charles Spurgeon, pengkotbah terbesar abad ke-19, yang digelari sebagai ‘Prince of Preachers’.
Sangat nyata, tak ada satu pun pengkotbah itu yang merangkap penyanyi di mimbar! Jadi tegas, kotbah memang terpisah dari kidung.
Kotbah yang kuat, penuh kuasa, di hati ini terasa memukau bahkan mencekam, bukan menghibur dalam artian entertaining. Jadi, kita memang harus bisa membedakan antara ‘amusement yang entertaining’ seperti yang ditawarkan dunia hiburan dan ‘solace yang comforting’ yang ditawarkan oleh Injil. Jelas, pengkotbah adalah ‘speaker of the Gospel’ dan bukan ‘actor of entertainment’.
Pendeta-pendeta kita memang harus terus didorong, dikritik, dilengkapi, didukung, dan didoakan agar semakin mampu berkotbah dengan penuh kuasa, agar kotbah-kotbah mereka diurapi sehingga mampu mengubah hati jemaat.
Di tengah keterpurukan citra orang Batak dewasa ini, hal ini tegas merupakan masukan bagi para pendeta Batak: di masa lalu kotbah-kotbah di gereja kita banyak yang tak mampu mengubah hati dan perilaku warga gereja sehingga (1) muncul lawakan bhw sopir Metromini lebih mampu membuat orang berdoa pada Tuhan daripada kotbah pendeta yang bikin ngantuk jemaat, serta (2) tenarnya warga gereja kita di media massa sbg bagian dari mafia hukum, makelar kasus, mafia pajak, dsb.
Kotbah Yehuda di depan Yusuf, raja muda Mesir itu, meluluhkan benteng hati Yusuf lalu memeluk saudara-saudaranya yang jahat di masa lalu itu.
Kotbah Petrus pada hari Pentakosta menobatkan hati ribuan orang dan memberi diri mereka dibaptis.
Kita rindu pada kotbah-kotbah yang demikian.
Setuju banget dgn commentnya sintua Sinamo guru besar Etos Indonesia
Pendeta kami saat ini, begitu selesai baca nats langsung minta bernyanyi lalu kotbah 10 menit bernyanyi lagi dstnya sampai kadang2 5 lagu, kalau ibadah yg biasa saja mungkin ga apa2 tetapi kalau ada yg tardidi, atau pesta2 greja lainnya lalu mandurung tu jolo pulak….bah sdh pasti semua bersungut2 apalagi bayi2, sangat merepotkan lah.
Sepertinya pelajaran di STT apa tdk belajar tentang Buku ende soalnya pendeta kami ini tdk mengetahui bw nomor yg ada di buku ende dan Buku logu sangatlah beda, seringkali dia katakan merende ma hita sian BE no sekian padahal si organis hanya membawa Buku Logu, lalu siorganis yg sdh lahir di Metropolitan ini tentu mikir sebentar utk menterjemahkannya dlm bhs Indonesia lalu mencocokkannya dgn Buku Logu, kan makan waktu jadinya dan utk organis yg sdh berpengalaman tentu ga ada masalah tp kalau organis pemula jadilah cerita seperti Ruth diatas.
Minggu kemarin greja kami sdh menghapus hanya musik doang ketika habis baga2, ketika sy tanya kepd pendeta yg melayani dia bilang itu memang mengada2 selama ini mengikuti trend, jadi tdk theologis…apalagi kalau pendewta bernyanyi di mimbar tentu lebih tdk theologis lagi.
Sesekali beribadahlah di webnya GPIB dan katolik, jangankan pendeta ajak bernyanyi,alat musik pengiring ibadahnya saja hanya pipe orgen, piano hanya utk mengiringi koor, krn pekemnya memang sdh seperti itu sejak ratusan thn yl, jadi janganlah dirubah hanya dgn alasan ngantuklah, monotonlah…andaikan anda jemaat HKBP yg aktif dan baik, pasti anda setuju dgn amang pendeta ini.
Beribadah di HKBP dan keturunannya memang sudah ada kaidah2nya, bila anda merasa tdk terpanggil imannya iya beribadalah di tempat yg anda rasakan cocok, utk kami sekeluarga terdiri dari suami,saya dan tiga anak kami berusia 23,20 dan hampir 17 merasa sangat nyaman beribadah dgn cara HKBP selama ini
@ Friska Medi Pardede:
Sudah pernah ke GPIB Filadelfia di Bintaro Jaya? Tim musik mereka terkuat di GPIB sekarang…mau tau siapa leadersnya? Dua pakar musik Indonesia terkenal yang adalah ex HKBP namun sekarang “membangun” pelayanan musik orchestra di sana, jadi mereka tidak “cuma” pake organ pipa. Di sana mereka berkembang dengan dukungan Pdt Rufy Waney alumni STT Jakarta juga, yang sesekali kalau lagi khotbah mau juga spontan masukkan satu dua lirik lagu….tapi khotbah serialnya (biasanya 4 minggu berturut-turut) paling ditunggu-tunggu jemaat. Saya pun tak pernah melewatkan itu, karena selalu diingatkan oleh anak saya. Begitu banyak yang kita pelajari dan dapat dari pengajaran Pdt Rufy akan Firman Tuhan. Sbg info saja…organizer khotbah serial itu juga orang-orang pintar ex HKBP yg sekarang sudah resmi melayani di sana.
Daniel Harahap:
Di Bintaro tidak ada HKBP. Satu-satunya HKBP ada di BSD (Bintaro Sonoan Dikit) Dan itu dianggap kejauhan oleh banyak orang HKBP. Hahahaha. Bercanda.
Saya tidak begitu tahu apa yg terjadi (trend) di HKBP saat ini. Tp dari cerita Bu Friska ada pendeta HKBP yg minta diiringi nyanyi saat dia berkotbah, bahkan beberapa lagu..wah, nampaknya tidak tepat.
Tapi ketika seorang pendeta sedang berkotbah dan dia perlu melantunkan lagu sedikit (tanpa mengganggu parpoti) supaya refleksi kotbahnya lebih mengena, saya pikir hal itu tidak masalah. Hal itu mungkin merupakan pengembangan dari teknik penyampaian kotbah. Tapi kemudian menjadi masalah juga kalau kebanyakan.
Saya pikir nyanyian/lagu paduan suara juga bisa membawa pesan, tidak selamanya pujian kepada Allah. Contoh: “Ahu do manumpak dohot na paluaahon” ninna Jahowa Zebaot… (karya: Doloksaribu?) dan RUT (karya Simanungkalit)…Nyanyian Rut dengan suara keluh..tak rela berpisah dengan Naomi mertuanya…dst.. Banyak juga nyanyian yg isinya pesan dan cerita..
Iringan musik yg tepat, pas, dan secukupnya pada saat yg tepat (tidak sepanjang kotbah) juga dapat meningkatkan intensitas ketersampaian refleksi kotbah pada jemaat. Namun, pendeta yg berkotbah dan pengiring sudah berkomunikasi sebelumnya (bukan mendadak).
@ Tety…GPIB yg anda maksud ya kejauhanlah dari rmh saya, yg saya maksutkan disini GPIB Immanuel dan Katedral.
Bicara tentang musik greja memang sejarahnya dalam perkembangan kemudia setelah reformasinya Marthin Luther tim musiknya yg paling top saat itu adalah Johan Sebastian Bah dll (organiyg pertama kalau tdk salah) dan lagu2nya di aranseman utk orgen utk manyimpelka orcestra ( hanya orgen yg bisa memiliki semua yg ada di orchestra), hanya saja orcestra kan sangat mahal dan tentunya terlalu ribut utk greja kecil jadi dibuatlah pipe orgen kemudia saat ini di sederhanakan lagi dgn orgen2 yg kita pakai, tetapi jelas suaranya tdk sebening pipe orgen (paling tdk sy suka dengarkan di You tube), atau di GPIB Immanuel( warisan dari pakar musik Van Doop/H.Pandopo) , dilanjutkan lagi oleh Christin Mandaang dan kalau di Kathedral Sutanto yg ga ada apa2nya dibandingkan dgn tim2 musik saat ini , satahu sy lho….salam
Jamita do ende huria, ende huria do jamita
Daniel Harahap:
Ise do na mangajarhon i tu hamu. Na sintong: jamita do jamita. ende do ende. jamita ima hata ni Debata tu jolma. Ende ima hata ni jolma tu Debata. Na boha do?
Bernyanyi bisa mengusir “mondok-ondok”, tetapi untuk tidak “mondok-ondok” tidak harus dengan bernyanyi. Mengikuti kotbah Pdt. Dr. S.A.E. Nababan dan Pdt. Dr. Einar Sitompul, tanpa bernyanyi bisa tak mondok-ondok. Bila Kotbah sambil marende bertentangan dengan homiletika, ya jangan lakukan lagi.
Mungkin tidak perlu atau kurang perlu dibahas “baik atau tidak baik” bernyanyi atau menyanyikan lagu saat khotbah, tapi bagaimana inti dari kotbah bisa sampai kepada pendengar yaitu jemaat.
Soal cara itu tergantung dari pembawaan yang berkotbah, bisa menarik atau tidak…setidaknya semua pengkotbah memiliki prinsip yaitu nama Tuhan ditinggikandan semua orang menerima Firman Tuhan. Itu saja yang perlu ditegaskan. Terimakasih.
Songon na marragam do nuaeng cara marjamita di HKBP, ahu pe geok do huhilala. Nunga godang jamita kreatif (sotung gabe jamita alternatif), hape panghorhon ni jamita i tu perubahan perilaku ni na umbegese ndang pola hea serius dihatai. Molo ndang sala, taringot tu poda parjamitaon ndada di rapot pandita tahe dihatai ? Serius ma jo hita taringot tu si, ala nunga mulai habegean nuaeng istilah “pandita populer di HKBP”, manat hita.
Daripada menyanyi saat khotbah, lebih baik menyanyikan bacaan yang akan dikhotbahkan (membaca Alkitab dengan menyanyi adalah tradisi yang lebih umum dan universal di semua kalangan Kristen daripada menyanyi waktu khotbah).
Daniel Harahap:
Kurasapun. Tapi jangan-jangan nanti ada yang bilang: ah mendaras itu sudah kuna.
Kalau Pendeta bernyanyi pada saat kotbah hampir selesai dan bernyanyi bersama jemaat saya tidak merasa ada sesuatu yang melanggar aturan, akan tetapi seperti yang disampaikan Ibu Friska sampai 5 lagu, hal ini sangat mengganggu konsentrasi.
Jamita dari atas mimbar adalah pesan Firman Tuhan. Pesan Firman Tuhan bisa datang dari mana saja. Pesan bisa datang dari kotbah, bisa dari lagu/nyanyian, bisa dari kejadian di sekitar kita, bisa dari tingkah laku atau kehidupan seseorang, dll.. Jamita hanyalah salah satu cara yg sdh diatur oleh gereja. Buat semua pendeta HKBP: marjamita lah dengan baik.
Syaloom bagi kita semua.
bagi saya Berkotbah diselingi bernyanyi Sah-sah saja jika itu lagu Pujian untuk Tuhan dan jangan menyanikan lagu Rock,Dangdut Dll yang bersifat duniawai. sebab jika Pelayan Firman itu diselingi dengan lagu rohani kan bagus juga biar jemaat tidak mengantuk Alias Mondok-hondok.
Jadi Para Pelayan Firman baik Pendeta maupun majelis jangan bekecil hati bila ada sauadara/I kita yang tidak setuju berkotbah di selingi lagu ini adalah bunga-bunga pelayanan yang harus kita hadapi semua Pelayanan Firman .Tuhan memberkati kita semua.
Maaf Bpk Pdt Daniel jika ini terjadi prokontra tentang tata cara Pelayan Firman
aku suka sekali membaca komentar amang jansen sinamo.
sekarang aku jadi tahu bahwa (dari info amang sinamo) diantara koleksinya yang beragam kotbah2 yang kuat, penuh kuasa dan mencekam ternyata tak ada satupun pengkotbahnya memakai nyanyian dalam menyampaikan kotbah.
rupanya seorang pengkotbah/pendeta harusnya mampu menyampaikan kotbah yang kuat tanpa harus menyanyi.
jemaat (termasuk aku juga sih) memang sering menuntut pendeta untuk memberi kotbah yang menarik, lucu, ringan, mudah dicerna supaya tidak mengantuk. ini memang kedengaran egois, jadi seperti menyenangkan diri sendiri ketimbang mendengarkan kebenaran firman.
terkadang memang ada kotbah2 yang bobotnya berat dan karenanya jemaat harus rela menaruh konsentrasi untuk mencernanya, sama seperti mengikuti mata kuliah yang berat.
Suprama Simatupang :
.
sebab jika Pelayan Firman itu diselingi dengan lagu rohani kan bagus juga biar jemaat tidak mengantuk Alias Mondok-hondok.
JP Manalu,
Jadi ingat “cerita kawan” hari Jumat yang lalu, ceritanya ada satu keluarga “halak hita” (sebut saja namanya Marhasil S.) karena belum ada gereja asal Sumatera Utara di “panombangannya” akhirnya dia beribadah dan aktif di salah satu gereja yang cenderung “meriah” dalam melaksanakan ibadah. Dan dia menjadi agak fanatik juga dia di sana. Belakangan, mengikuti pola perantauan halak hita, didirikanlah pos pelayanan gereja asal sumatera utara di sana. Setelah munculnya pos pelayanan ini berdiri, serta merta Marhasilpun dengan semangat ikut di Pospel tersebut. Keikutsertaan Marhasil ini tentunya menimbulkan pertanyaan bagi halak hita di sana, sehingga salah seorang bertanya : “Ai boasa pintor pinda gareja hamu lae, ai ndang naung gabe pangurus hamu tahe di garejamuna?” (Kenapa langsung ikut pindah gereja, bukannya anda sudah ikut jadi pengurus di gereja anda sebelumnya?). Kemudian di jawab Marhasil : “Ah belakangan on, songon na targanggu do ahu bah, alani do umbahen pindah” (Ah belakangan ini saya jadi agak terganggu, makanya saya pindah), kemudian dilanjut yang menanya “Targanggu boha maksudmu?” (terganggu bagaimana). Marhasil menjawab : “Laos so boi be iba modom di gareja alani akka lagu dohot musiknai” (Saya jadi nggak bisa tidur di gereja karena nyanyian dan musiknya). Namanya juga joke……
Untuk lae Simatupang, menurut hemat saya, tergantung niat kita, apa yang menjadi tujuan kita untuk datang ke gereja?. Pengalaman saya pribadi ini lae, waktu saya baru tiba di Jakarta, saya diajak menonton opera “Hamlet” yang dipentaskan oleh almarhum WS Rendra dan teater Bengkel-nya yang cukup kesohor itu, sekalipun didukung oleh kelompok teater dan iringan musik yang sangat baik, karena saya tidak bisa menikmati saat itu dan juga motivasi saya untuk ikut nonton hanya untuk menghargai teman saya itu, akhirnya saya hanya bisa melek selama 10 menit pertama, saya baru terbangun setelah teman saya mengajak pulang
Horas.
JP Manalu :
mauliate lae manalu molo menurut cerita muna i .pindah Aliran (Gereja ) alana targanggu modom di Gereja memang itu salah . Gereja bukan tempat tidur.alai molo mambege Jamita inkkon do di hayati dgn seksama asa betul2betul aha nani Jamitahon ni Pelayan Firman alai adong do sipata Pelayan Firman marjamita monoton suarana ibarat marende not 3(mi) dari awal 3(mi ) juga sampai akhir. nah jadi ido namambahen ro sibolis i papodopphon Jemaat. jadi molo menurut au sandiri lae dang salah molo Pelayan Firman i menyanyikan lagu rohani di Langgatan ( Mimbar ) jadi molo adong pe jemaat i Pindah Gereja silahkan asalma unang menghakimi/menjelek-jelekkan gereja dimana asalnya, molo menurut au lae Gereja diumpamakan ibarat Rumah Makan dirumah makan manapun kita mau makan yang kita cari adalah tetap Nasi dan air minum dan terkadang ada yang sesuai dengan selera dan ada juga tidak pas di roha nah begitu juga Gereja dimanapun kita beribadah tetap Tuhan Yesus yang kita sembah hanya saja tata cara Ibadahnya saja yg berbeda dan Pelayan Firman juga begitu ada yang bertalenta lebih dan ada juga bertalenta pas-pasan jadi Gereja itu hanyalah sebuah organisasi untuk memuji dan yang terpenting tujuan kita untuk memuliakan Tuhan Yesus.
Lae kami mulai dari oppung masih HKBP sampai sekarang hanya saja di Tempat kami merantau (Papua)tidak ada HKBP tapi masih satu azaz dengan HKBP baik tata cara Ibadah maupun yg lain-lain.
Mauliate Lae JP Manalu saya sangat senang jikalau ada teman saya sharing tentang Pelayanan.Kiranya Tuhan Yesus menyertai kita .Horas.
Daniel Harahap:
Gereja ibarat restoran artinya tanpa ikatan, tanggungjawab dan komitmen. Bebas datang dan pergi. Gereja macam apa pulak itu?
g…….apa2lah yg penting ada hub dengan KHOTBAH yg di sampaikan,dan jg biar ada variasi dlm berkhotbah
@DTA nyanyian jg menyampaikan kebenaran amang…..seperti ada lagu di BE no lupa aku, yg isinya aha ma pakheanku loho mangadopi TUHANKI,hias dohot serep ni roha i do pakheanku mangadophi TUHANKI, klw g salah y amang..JADI sah2 ajalah pengkhotbha nyanyi di atas mimbar,yg penting tidk lari dari JAMITA…………amin
“Pendeta bernyanyi saat berkotbah” baiknya tidak kita dekati ‘hitam-putih’. Artinya, kurang bijaksana kalau kita langsung emvonis bahwa menyanyi saat kotbah itu tidak boleh, salah atau sesat. Jika alasannya karena tidak diajarkan di STT, itu juga tidak berarti bahwa bernyanyi di kotbah itu sesat. Bisa saja STT tidak (sempat) mengajarkan secara lengkap. Fakta bahwa sejak sepanjang sejarah gereja tidak pernah hal itu dilakukan (walaupun masih perlu penelitian lebih mendalam) juga belum bisa sebagai alasan mengharamkannya. Yang paling penting ada dua (1) Motivasi. Mengapa pengkotbah bernyanyi? Kalau memang ia ‘sok penyanyi’ seperti judul artikel Amang DTA, jelas salah. kalau ia hanya supaya tampil beda, juga suatu motivasi terkontaminasi. Tetapi, jika benar-benar sipengkotbah percaya itu adalah gerakan Roh, bernyanyi saat kotbah sah. (2) Tujuan. Kotbah dan nyanyian adalah sama-sama alat. Bukan tujuan. Seorang pengkotbah yang baik selalu harus merumuskaan ‘tujuan’ kotbah, yaitu: Apa yang Tuhan harapkan terjadi pada pendengar kotbah pada saat dan setelah mendengar kotbah. Jika menyanyi saat kotbah merupakan bagian pendukung untuk tujuan dimaksud, apa salahnya? Jadi, biarlah hati nurani pengkotbah yang berbicara untuk memutusan nyanyi atau tidak saat kotbah; dan biarlah hati nurani jemaat juga yg bekerja saat mendengar kotbah. (Ctt: saya belum pernah memang bernyanyi saat berkotbah
)
Ah…amang Tinambunan bila suatu saat saya ada kesempatan menyaksikan amang berkotbah jangan sambil bernyanyilah, saya yakin pasti amang mampu membuat kotbah jadi menarik sama seperti profil2 amang di FB
Seperti pertanyaan singkat saya diatas “Apakah Tuhan Yesus pernah bernyanyi?”, saya justru melihat alur diskusi mengarah pada membuat “ngantuk” atau tidaknya suatu khotbah. Perlu kita ketahui juga, bahwa orang sebesar Paulus pun tidak jago-jago amat dalam berkhotbah. Pernah juga di kisahkan ketika Paulus berkhotbah para pendengar justru mengantuk dan tertidur. Jadi, selama berkebaktian tolok ukur yang utama dan terutama adalah apakah Roh Allah bekerja baik bagi pendengar maupun pengkhotbah.
DTH:ia karena Gereja hanyalah Organisasi tetapi Firman Tuhan tidak di ikat dengan Organisani dan tdk memandang Gereja manapun juga Firman Tuhan Netral artinya tidak masuk dalam ikatan .siapa saja yang percaya dan mengimani bahwa Tuhan Yesus adalah Utusan Allah yang tunggal dari gereja manapun dia yang berhak menilai dan yang menentukan siapa yang benar dan salah hanyalah Tuhan Allah itu sendiri. maaf di dalam Alkitab belum pernah saya jumpai Gereja A,B,C D dll tapi itu pun tidak salah yang terpenting tidak saling menghakimi satu sama lain .salah satu perikop dari Korintus “banyak anggota tapi satu tubuh ” artinya banyak organisasi gereja tapi satu Tuhan yaitu Tuhan Yesus Kristus .
Daniel Harahap:
Di HKBP kotbah harus terikat kepada pengakuan iman HKBP. Dan harus sesuai dengan kaidah homiletika.
TDA:okeylah Bapak Pendeta ma baku atur disi boha caramuna mamberitahon hatani Tuhani napetting tuhami Jemaat asalma
baritani Tuhani di jalo hami sian hamu selaku Hamba2 Tuhan mauliate ma .alai songon naso heado hubege nian Apa itu pengakuan iman HKBP nahea hubege pengakuan Iman Rasuli do maaf ate amang molo terlalu berani au bersharing tu hamu.
Daniel Harahap:
Sungkun hamu ma tu panditanta aha do na ginoaran Panindangion Haporseaon ni HKBP (Konfessi HKBP). Nunga dua hali diharuarhon HKBP Panindangion Haporseaonna, udut ni panindangion haporseaon apostel i (pengakuan iman rasuli) ima Panindangon Haporseaon HKBP taon 1951 dohot Panindangion Haporseaon ni HKBP tahun 1996. Ido na gabe sitiopan ni angka parjamita. Na so jadi parjamita di HKBP manimbil sian panindangion haporseaon i.
@DTA biar agak nyambung amang apa yg di maksud:HOMILETIKA,soalnya jawaban g jauh dri itu.patorang amang ma jo….mauliate
Daniel Harahap:
Homiletika adalah ilmu cabang teologi tentang apa dan bagaimana berkotbah. Dengan kata lain, berkotbah di gereja harus dilakukan menurut ilmu berkotbah, tidak bisa suka-suka atau hanya demi kepuasan jemaat. Masalahnya: sekarang banyak anggota jemaat merasa tahu segala-galanya tentang kotbah dan menganggap teologi apalagi ilmu berkotbah itu tak ada atau tak perlu. Ya repot. Apalagi kalau dikatakan: ya gitu aja kok repot. Ya sudah.
@DTA he…..he…mauliate amang,jd waktu sekolah STTh dulu semua pendeta sdh mengetahui,mempelajari tentang ilmu tersebut….! nah yg jdi pertanyaan sy:knp tdk ada keseragaman dlm berkhotbah dan knp tdk ada aturan yg melarang bernyanyi waktu berkhotbah di mimbar.jd siapa yg salah dlm hal ini SEKOLAH atw PENDETANYA..? Berarti masalah selera dong AMANG,jangan2 PENDETA yg membaca tulisan AMANG ini ada yg kecewa,terutama yg seleranya bernyanyi watu berkhotbha.
Tapi, khotbah diseling nyanyi gak dosa kan Amang ?
Saya pernah mendengar khotbah diselingi lagu buku ende oleh sang pendeta. Lagu yang dinyanyikan terasa asing sebelumnya bagi saya, tapi berhubung pendetanya menyanyikannya sepertinya penuh dengan perasaan, membuat rasa penasaran saya akan lagu tsb bangkit. Lagu itu, Ndada Au Guru di Au, kemudian jadi salah satu lagu buku ende yg dapat saya hafal liriknya, lagu favorit.
DTA@
Mauliate ma amang Pandita nami di haotorangan muna i .massai las si tutu do rohangku dung jaha hatorangan muna saianggiat ma di ramoti Tuhan i Website muna on asa lamu godang jolma on gabe tu malona jala adong keseragaman di hita angka naporsea tu Tuhan Yesus.
mauliatema.
Maaf…
Saya bukan dari HKBP tp GKPS.
Saya setuju aja jika ada pendeta bernyanyi di mimbar pada saat khotbah karena ada beberapa pendeta di GKPS yg melakukan hal seperti itu. Bahkan diakhir khotbahnya pendeta mengajak jemaat bernyanyi bersama (tentu lagunya dikenal oleh jemaat). Tp jika waktu yg diperlukan oleh si pendeta untuk bernyanyi lebih lama daripada untuk menyampaikan firman, saya tidak setuju. Sepanjang nyanyian yg dilakukan/dinaikkan oleh si pendeta untuk “menegaskan” dan berhubungan dengan firman yg disampaikan…, masih oke menurut saya.
Daniel Harahap:
Anda sudah menanyakan kepada para pendeta GKPS apakah kotbah sambil nyanyi2 itu baik dan benar menurut kaidah homiletika (ilmu berkotbah)?
Pdt.DTA@
Saya kira hal ini tidak perlu diperdebatkan secara terus menerus. kalau boleh di selesaikan secara Interen saja, kan bisa di buat rapat Pendeta ataupun rapat Majelis kan karena yg melakukan bernyani di Mimbar HKBP pasti juga Pendeta dari HKBP juga kan. ada rapat Interen dan saling memengang rahasia Jabatan Mari kita saling membahu kecuali tidak bisa diselesaikan baru di publikasikan .Mauliate.
Daniel Harahap:
Ini jaman keterbukaan. Boleh atau tak boleh menyanyi di mimbar bukan rahasia jabatan sebab itu tidak masalah jika dibicarakan terbuka. Soal itu perlu dibicarakan di rapat pendeta tentu saja. Nanti akan saya lakukan. Satu lagi HKBP sudah terbiasa terbuka dan berbeda pendapat, namun tetap satu juga memuliakan Tuhan.
Toho doi amang alai bolo boi nian. jika ada seorang Pendeta atau Pelayan Firman na melakukan kekeliruan pada saat Marjamita unang ma nian pittor di Publikasikan jolo di jou jo denggan ,dihatai,baru di gumuli bersama maksudnya unang pola mar sipailaan do Amang sesama Pelayan Firman.
Apakah yang membedakan John F Kennedy dengan Presiden Amerika lainnya. Atau Rev Marthin Luther King & Billy Graham dengan Pendeta lainnya. Atau Benny Hin atau Stephen Thong dengan (Ephorus)Dr Napitupulu. Menurut saya pelajaran khotbah di STT atau Ekonomics di Fakultas ekonomi hanyalah sebuah dasar atau referensi. Pada akhirnya adalah apakah khalayak yang mendengar anda tertarik,menyimak,memahami dan menginternalisasi apa yang anda sampaikan atau komunikasikan sebagai hasil dari apa yang anda pelajari.
Ada memang Pendeta yang membumbui khotbahnya dengan lagu. Karena khotbah sama lagunya adalah pas jadi mantab juga. Tapi ada juga Pengkhotbah kebablasan bahkan porsi lagu dalam khotbahnya nyaris 40% (tentu ini menjijikkan).
So where are you?. Ida-ida i nabosur jora-jora i na male. Pepatah ini juga berlaku untuk makanan rohani. Tanpa lagu juga fine asal mantab dan orang akan mencari anda. Jika tidak anda juga akan jadi buah bibir yang mencibir setiap anda berkhotbah karena tidak mengena. Istilah kata orang betawi kagak nendang. Horas.
Baen ma amang..na penting bohama hamu akka Pandita i …boi melayani dengan sepenuh hati tu hami akka ruas on..Boi manang so boi marende di Mimbar menurut homiletika..dang pola soal di hami on i amang. na penting Boi do hamu mangalean roha muna tu hami ruas on..manang Ida-ida akka nabosur jala jora2 tu akka na male dope?nion do na penting suarahonon muna dang na teory2 teology na dibutuhon hami.
Daniel Harahap:
Rap manghobasi Tuhan i do hita Amang. Anggo ruas naung toras haporseaonna ndada na manuntut asa dihobasi alai na rade do dohot manghobasi Tuhan i. Sada nari olo mangguruhon hasintongan ndada holan mangharingkothon na tabo tu sipareon
Ya Amang saya sependapat jika nyanyiannya tidak ada kaitannya dengan nats yang dikotbahkan atau cendrung mangararati (memperlemah) impolanya, tetapi jika itu menguatkan pemahaman jemaat atas kotbahnya misalnya diambil dari buku ende/kj atau lagu pujian yang lain, saya rasa amang sah-sah saja, sebab menurut saya itu salah satu metode untuk menyampaikan kotbah yang efektif. Tks. Amang
justru pendeta atau para peng-khotbah harus kreatif di saaat menyampaikan firman Tuhan dari mimbar, bagaimana jemaat yang mendengar bisa tertarik dan serius mendengar Firman Tuhan, disitulah Pendeta harus mencari cara agar jemaat tidak merasa bosan apalagi ngantuk. tetapi jauh lebih penting bagaimana jemaat dapat memahami setiap firman yg disampaikan lalu di laksanakan dalam kehidupannya. soal Pendeta bernyanyi dan membuat humor saya pikir tidak terlalu mengganggu dalam penyampaian Firman itu sendiri. jangan heran jika di hkbp banyak yg tertidur ketika pendeta berkhotbah, apa sebab? mungkin karena monoton, mendatar, tidak ada ilustrasi sebab kalau menjelaskan ayat2 yg dibacakan sebagai nats khotbah itu saja tanpa ilustrasi maka jemaat akan mengatakan kami juga hafal itu semua. karena jemaat lebih suka jika khotbah selalu dikaitkan dengan kehidupan manusia apalagi didalam menghadapi realita kehidupan sehari-hari. so silahkan saja pendeta kalau mau bernyani toh juga tidak mungkin bernyanyi panjang2 dan sudah pasti syair lagu ada hubungannya dengan judul khotbah, begitu pada umumnya. bravo hkbp.
Harapan dan doa saya:
1. Semoga pendeta dan/atau pelayan firman (yg bukan pendeta) ke depannya, jika ingin menyanyi di mimbar bukan utk menutupi kekurangannya dlm mempersiapkan diri utk menyampaikan Firman Tuhan.
2. Pendeta dan/atau Pelayan Firman, jangan terjebak kepada situasi sekarang ini, dimana jemaat hanya ingin mendengarkan apa yg menyenangkan telinga saja (nyanyian atau humor2 atau deskripsi2) sehingga tidak sedikit orang yg tdk pergi ke gereja jika dia tdk menyukai pengkhotbah.
Sampaikanlah Firman Tuhan utk kemuliaan Tuhan, utk membawa jemaat memuji kebesaran Tuhan, menyadari keberdosaan kita dan kebutuhan kita utk selalu dengar2an denganNYA.
Selamat melayani, Tuhan memberkati, amin.
g ad salahnya seorang pendeta bernyanyi di mimbar jika nyanyian nya tersebut nyambung dengan ap yg dikhotbahkannya,…anda terlalu melebihlebihkan masalah tersebut!
Menurut saya tidak ada salahnya jika dalam khotbah jemaat diajak bernyanyi asalkan 1 atau 2 lagu saja, tp lagunya harus sinkron dengan nats kotbah dan sebelum kebaktian harus diinformasikan kepada organist agar pada saat bernyanyi organist dapat mengiringi dengan baik. Pada umumnya khotbah di HKBP sedikit mononton. Kami jemaat sangat merindukan ibadah yang penuh hikmat dan jemaat mendapat motivasi yg kuat setelah beribadah di gereja. Pak Pendeta jangan berdebat masalah ini di forum umum, cukup dirapat2 pendeta aj. Kami jemaat kurang respect atas pernyataan2 Pdt
masa gitu ajah langsung di kritik gimana sich amang inang jangan terulang lah masalah masalah yang bikin pecah hkbp kita sudah susah lho Tuhan dohot opu nomensen mendirikan jemaat batak protestan yang sudah cukup terpublikasi diselruh dunia , semua bisa di ungkapkan dengan baik baik pak buk
kejam banget sich ini , sedang gereja lain aja ada yang nyanyi sambil melompat lompat itu malah bagus saya rasa biar hidup kebangunan rohani kita bosss,,,,!!!
apakah “lelucon” / bercanda di atas mimbar yg sering dilakukan Pdt HKBP juga sesuai dengan teology altar..?? “lelucon” itu kn hanya bunga2 khotbah agar jemaat semangat mendengarkan firman dan tidak ngantuk sembari pendeta menyampaikan inti dari firman.
selagi nyanyian pendeta itu di mimbar memiliki tujuan yg baik kenapa harus dipersalahkan?
gak usah terlalu kaku lah dengan pola teology mimbar,,bukannya HKBP menuju gereja yg inklusif..?
kenapa HKBP harus membesar besarkan hal sepele sementara hal yg lebih dari sepele justru diabaikan..?
Pendeta yg baik adalah Pdt yg menjalankan tugas tanggungjawabnya dengan baik TAPI merasa dirinya bukanlah seorang Pendeta namun sejajar dengan jemaat,,sebagai contoh ditempat saya dulu ada seorang Pendeta marga Siahaan, setiap ada kesempatan beliau nongkrong bersama beberapa jemaat di kedai kopi, ada org islam, ada org budha, ada jemaat kharismatik, ada jemaat HKBP, Pendeta itu nongkrong di kedai kopi dengan pakaian kaos oblong, celana pendek dan topi, beliau bergaul dengan semua orang dengan baik,,TAPI eh malah sebagian sintua digereja menganggap itu sesuatu hal yg tabu dan mencari cari kesalahan Pdt itu karena nongkrong do kedai kopi,,,,what’s the hell..??
dibeberapa gereja HKBP yg pernah saya kunjungi, termasuk Gereja HKBP Yogyakarta disana sekarang ibadah pemudanya malah sesekali menggunakan alat2 musik yg biasanya digunakan oleh org kharismatik, sebagian natua2 menolak itu, tapi saya pribadi merasa itu hal yg bagus, sebab banyak generasi pemuda HKBP “lari” ke gereja lain sebab merasa Tata ibadah HKBP kaku/monoton. selain itu disana kn banyak pemuda HKBP memiliki talenta musik terutama yg kuliah di ISI (Institut seni indo) yg bagus sekalilah jika gereja menjadi wadah penyalur bagi bakat2 generasi muda HKBP..
HORAS HKBP…!!!