SERMON MINGGU INI
Dasar : Kisah Rasul 15 : 6-18
Penyaji: Pdt Daniel T.A. Harahap
1. Untuk pertama kalinya para rasul dan penatua mengadakan sinode (sidang bersama) di Yerusalem. Yang menjadi pokok perdebatan adalah apakah orang-orang Kristen yang berasal dari bukan Yahudi masih harus disunat. Rupanya ada beberapa orang dari Yudea datang secara khusus ke Antiokhia (di Turki sekarang) mengajarkan bahwa jika orang Kristen non Yahudi tidak disunat maka mereka tidak diselamatkan. Para pengajar ini berasal dari gereja di Yudea, namun agaknya tidak diutus resmi oleh pimpinan gereja induk Yerusalem. Mereka sendiri pada dasarnya adalah juga orang Kristen dan mengaku keselamatan, pengampunan dosa dan kehidupan baru dalam Yesus. Namun keyakinan mereka mengatakan semua itu diterima oleh orang beriman melalui sunat yang diamanatkan Musa. Hal itu tentu saja dilawan sangat keras oleh Paulus dan Barnabas. Sebagaimana kita baca dalam suratnya kepada jemaat Galatia Rasul Paulus dengan tegas menolak sunat yang disyaratkan agama Yahudi sebagai sarana keselamatan (Gal 5:11, Gal 5:15, bdk Roma 2:28-29). Lantas Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain pergi ke Yerusalem menghadap pimpinan gereja Yerusalem yaitu para rasul yang berasal dari murid langsung Tuhan Yesus untuk mengutarakan permasalahan itu.
2. Pada awalnya mereka disambut hangat oleh para rasul dan penatua di gereja induk Yerusalem. Paulus dan Barnabas pun menceritakan segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka. Yaitu bahwa mereka pun dipakai oleh Allah menyatakan keselamatan dalam Kristus bagi semua orang beriman yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Namun rupanya beberapa orang tokoh gereja Yerusalem, yang berasal dari golongan Farisi (kaum terpelajar dan saleh Yahudi) juga datang ke gereja induk Yerusalem itu dan menyatakan tegas pendapat mereka bahwa orang-orang bukan Yahudi memang harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. Bila kita perhatikan surat-suratnya baik Roma, Galatia dan Filipi Paulus pastilah menentang hal itu mati-matian sebab itu sama saja dengan menghancurkan pokok pemberitaan Injilnya yaitu keselamatan hanya berdasarkan anugerah dan diterima oleh iman.
3. Rasul-rasul dan para penatua pun bersidang bersama. Dari sinilah muncul istilah sinode (sunhodos, sun = bersama-sama, hodos = melangkah). Sidang itu sebagaimana disaksikan penulis Kisah Rasul (sama dengan penulis Injil Lukas) sangat alot. Masing-masing pihak mempertahankan pendirian dan keyakinannya. Lantas Rasul Petrus sebagai pimpinan gereja berbicara dan menyatakan pendapatnya bahwa Allah juga menyatakan keselamatan dalam Yesus dan mengaruniakan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa lain, sebab itu tidak baik jika gereja membebankan orang-orang yang bukan Yahudi sesuatu yang bukan beban mereka (baca: adat Yahudi). Paulus mengatakan: oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita, baik orang Yahudi dan orang non Yahudi yang beriman, beroleh keselamatan. Sidang menerima pendapat Petrus dan menerima pendirian Paulus dan Barnabas. Lantas kedua orang ini pun menceritakan perbuatan-perbuatan Allah melalui mereka kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.
4. Namun Rasul Yakobus, yang tampaknya sangat berpengaruh dalam gereja itu menyatakan pendapat agak berbeda. Dia setuju keselamatan dalam Yesus hanya oleh anugerah dan bersifat universal sebab itu dia tidak memaksakan agar orang Kristen bukan Yahudi disunat. Namun Rasul Yakobus tetap menganggap agar gereja menghargai ketentuan agama dan adat yang digariskan hukum Musa antara lain: menjauhkan makanan yang sudah sempat dipersembahkan di kuil berhala (lihat 1 Kor 8 dan 10), percabulan, daging binatang yang mati dicekik (Imamat 17:12,13), dan dari darah (Kej 9:4, Im 3:4, Im 17:11-14). Kita tahu hal-hal ini adalah hal-hal yang sangat menjijikkan bagi orang yang berlatar belakang Yahudi. Maka sidang para Rasul dan penatua itupun memutuskan untuk mengutus dua orang terpandang yaitu Yudas Barsabas dan Silas untuk membawa surat penggembalaan dari sinode Yerusalem tersebut. (Dari surat ini juga kita tahu bahwa memaksakan sunat kepada orang Kristen non Yahudi rupanya bukan kebijakan resmi gereja induk di Yerusalem). Isi surat itu mengatakan sunat tidak dipaksakan, namun orang-orang Kristen non Yahudi tetap harus menjauhkan diri dari hal-hal yang dikemukakan oleh Rasul Yakobus itu.
5. Konflik antara orang Kristen Yahudi dan non Yahudi ini terjadi di banyak gereja yang dirintis Paulus. Itu bisa kita baca dengan jelas dalam surat Roma dan Galatia. Juga surat Filipi. Pendirian Paulus dalam hal ini juga sangat jelas dan tegas. Dia beranggapan bahwa kejahudian tidak lagi memiliki pengaruh bagi keselamatan. (lihat Filipi 3:4-6) Sebab keselamatan hanya ada dalam Yesus, oleh anugerah dan diterima dengan iman. Bersunat tak bersunat menjadi tak penting. Tak ada lagi makanan yang najis sebab semuanya telah dimurnikan oleh darah Kristus dan boleh dimakan dengan dengan ucapan syukur. Bagi yang ingin makan segala-galanya dipersilakan namun bagi yang ingin tetap memelihara pantangan silakan juga. Namun Rasul Paulus mengingatkan agar orang Kristen Yahudi agar jangan memaksakan kehendak dan jangan menghakimi yang bukan Yahudi. Sebaliknya orang Yunani jangan menghina orang Yahudi.
6. Sinode pertama Yerusalem ini memberi kita pelajaran sangat berharga. Pertama: perbedaan dan keragaman rupanya adalah kenyataan dalam gereja sejak awal. Perbedaan tafsir kekristenan bukan hanya ada pada jaman modern dan akhir-akhir ini saja melainkan sudah terjadi sejak awal. Perbedaan pendapat dan bahkan konflik sudah pernah terjadi di masa awal berdirinya gereja. Gereja sudah hetrogen sejak berdirinya sebab itu tidak perlu dipaksakan menjadi homogen. Sinode Yerusalem menginspirasi dan memotivasi kita sekarang menyikapi keragaman dan perbedaan pendapat di kalangan kita. Jika dulu pokok perdebatan dan pertengkarannya adalah sunat maka pada jaman sekarang bisa jadi soal bahasa, liturgi, konstitusi atau organisasi. Jika itu terjadi kita tidak perlu terkejut dan panik, melainkan harus bersikap tenang dan bijak.
7. Kedua: walaupun berbeda-beda dalam beberapa atau banyak hal, namun tentang satu hal kita harus bersatu, yaitu: keselamatan hanyalah anugerah Kristus dan diterima hanya oleh iman. Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Kita semua dipanggilnya untuk saling mengasihi dan menjauhkan diri segala kejahatan. Dalam hal mendasar dan menentukan ini gereja kita tidak mengenal perbedaan. Sebab itu tidak ada kompromi di sana. Namun soal-soal lain yang lebih dangkal dan sepele kita silakan saja berbeda-beda.
8. Ketiga: keragaman dan perbedaan pendapat harus disikapi dengan dialog atau percakapan. Bukan pemisahan dan pengasingan diri. Rasul Paulus berbeda pendapat dengan kalangan Yahudi sebab itu mereka mengadakan percakapan dan bahkan perdebatan. Sinode Yerusalem menginspirasi kita diskusi dan debat adalah bagian sah dari kekristenan sejak awal, sebab itu tidak perlu ditakutkan atau diharamkan. Percakapan dan perdebatan, yang dilakukan dengan jujur dan berani serta, dengan argument yang kuat dan dengan tekad mencari kehendak Tuhan, sangat membantu kita menemukan kebenaran sejati. Yang tidak boleh dilakukan oleh gereja adalah berkelahi dan melakukan kekerasan untuk memaksakan pendapat.
9. Keempat: keputusan sidang adalah mengikat. Kita boleh saja berbeda-beda pendapat namun sekali suatu keputusan diambil maka semua harus tunduk dan menaatinya. Sebab itu sebelum keputusan diambil ada baiknya semua orang memberanikan diri untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya. Jangan hanya diam lantas bersungut-sungut dan lari dari tanggungjawab sesudah keputusan diambil. Pelajaran apa lagi yang bisa kita petik dari Sinode Yerusalem ini?
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Terimakasih Amang DTA atas tulisan ini. Kisah sinode itu dan butir-butir pelajaran itu sangat berharga sudah. Jika itu saja kita terapkan betapa lebih bagusnya gereja kita.
Sebagai pencinta bahasa, bunyi ‘sunhodos’ itu menyentuh urat semantik primordial saya (makna awal sebuah kata terletak pada bunyinya): maka yang kontan muncul adalah pengertian ‘sun holong dos ni roha’
Kan itu pula yang kita rindukan dari sebuah sinode, bukan sungut-sungut, pembangkangan, atau perpecahan.