Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Kebetulan atau betul-betul di Hari Bumi. Tiga potongan raksasa kusen gereja kami diganti dengan yang baru. Mengapa? Karena kusen yang lama sudah habis dimakan rayap. Benar-benar habis. Memakai bahasa pendeta di pemakaman: telah kembali menjadi tanah secara hurufiah.
Sambil memandang tukang-tukang memasang kusen baru yang diberi cat merah, katanya anti rayap, saya memandang ke sekeliling. Menurut cerita kawan-kawan sepuluh tahun lalu Serpong masih hutan karet. Dimana-mana pepohonan hijau menyegarkan. Kini Serpong telah berubah menjadi hutan beton alias bangunan. Dimana-mana perumahan. Pantas saja rayap-rayap semakin menjadi-jadi, kata saya dalam hati. Dulu ketika Serpong masih hutan mereka punya banyak makanan, yaitu kayu-kayu dan dedaunan membusuk. Kini yang ada hanyalah beton, alumunium dan kaca. Kalaupun ada kayu, sudah dilumuri bahan kimia. Lantas kemana mereka pergi selain ke gereja kami yang kayu-kayunya lebih lembut dan gurih? Untung saja mereka belum sampai harus melalap jas dan kebaya brokart jemaat!
Sebagai pendeta yang telah mencoba berdamai dengan lingkungan, saya tidak mau memaki-maki si rayap kecil yang bila dipandang lama-lama apalagi dari jarak dekat bikin geli merinding ini. Saya tahu rayap ini tidak jahat. Mereka kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan asali, yaitu dedaunan dan kayu yang membusuk. Mereka menjadikan gereja kami sebagai pengungsian dan pelarian. Lantas bagaimana?
Saya memeriksa altar gereja kami yang terbuat dari mahoni. Kayaknya masih aman. Tidak ada tanda-tanda si rayap telah memakannya. Saya juga memeriksa kursi-kursi gereja. Kayaknya juga masih mulus dan tak ada tanda-tanda sudah digerogoti. Dulu memang ada dua kursi yang dimakan, namun sudah diganti. Bagaimana dengan lemari penyimpan tutup altar? Semoga baik-baik saja harap saya.
Menurut penjaga gereja kami, Hendro, kayu di atas plafon gereja juga sudah mulai dimakan rayap. Dan terus terang walaupun saya tak menyalahkan rayap namun hati ini tetap waswas juga. Ini soal keselamatan. Saya sendiri tak berani naik ke atas memeriksanya, namun saya berencana akan terus mengkomunikasikannya dengan parhalado parartaon dan pembangunan gereja kami agar semua alert dengan bahaya yang bisa saja tiba-tiba datang tanpa diundang.
Sembari memandangi tukang bekerja memasang kusen (rupanya sulit juga dan harus punya teknik sendiri) saya melamun. Ya saya melamun tentang gereja yang ramah lingkungan. Dalam beberapa segi gereja kami di Serpong memang sudah hijau dan asri. Kami sudah menanam belasan pohon tanjung. Belum bisa jadi peneduh memang sekarang namun sudah bisa diharap. Seperti beberapa kali telah saya sampaikan, halaman gereja kami sebenarnya lumayan dengan pohon rambutan, jambu bol, dan ketapang. Namun mengingat keganasan iklim sekarang, semua itu menurut saya belum cukup. Sebab itu saya mengusulkan agar shelter di halaman gereja kami dijalari dengan tanaman merambat agar jemaat semakin nyaman duduk di bawahnya siang-siang. Juga mengusulkan agar menanam pohon bambu di pinggiran tembok gereja atau tanaman merambat apa sajalah yang bisa menurunkan suhu di siang hari. Pokoknya tanam sebanyak-banyaknya pohon di setiap ruang yang memungkinkan. Bahkan dalam hati saya, jika ada peluang saya ingin menyarankan agar pelataran parkir kami yang batu susun gersang kalau perlu diubah menjadi rumput saja. Dan jika parhalado dan jemaat setuju, saya rindu gereja yang bisa tetap sejuk tanpa mesin penyejuk udara alias AC. Bagaimana caranya serahkan ahlinya.
Pegawai gereja tiba-tiba memanggil saya sebab ada tamu. Lamunan saya buyar. Namun sambil berjalan kembali ke ruang kerja saya sadar gereja kami juga belum punya sumur resapan. Lantas apa yang bisa kami sumbangkan sebagai gereja Tuhan di perayaan Hari Bumi ini? Entahlah. Mungkin hari ini belum, namun besok harus ada.
Share on Facebook
Biasanya itu Amang. Hidup ini memang harus saling memakan.
Siapa memakan siapa.
. Dalam kasus ini, rayap memakan kayu kusen.Soal sumur resapan, sudah ada koq. Perhatikanlah tanah yg menjorok ke dalam di antara gedung sekolah minggu dan rumah Hendro. Itu sumur resapan kan.
Daniel Harahap:
Itu bukan sumur resapan. Itu bekas pemboran sumur yang lupa ditimbun.
Hebat kali perhatian Amang pandita ini terhadap kehadiran gereja dalam konteks MDGs,Hari Bumi dan penantian terhadap perlunya hidup yang lebih nyaman di bumi ini.Untuk gereja kita dewasa ini mulai di trend kan “Gareja BerAc”. Adakah yang salah? Ya ada,yakni kita sudah menjadikan gereja sebagai tempat yang secara fisik sebagai “objek” pembangunan, mengesampingkan pembangunan rohani jemaat. Akhirnya kita tdk terlalu mau berfikir keras untuk mau semakin berperan aktip “mendinginkan” bumi dengan mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan berupa kebijakan dan kebajikan menjaga bumi kita demi masa depan anak cucu manusia. Ayolah, hijaukan bumi kita! horas!
Walaupun bumi ini telah berusia milyaran tahun tetapi ulang tahunnya baru30 thn, dan diulang tahunnya saat ini kurang terdengar gaungnya di tv2 andaikan bumi ini bisa bicara kira2 apa ya yg dikatakannya yg jelas pasti menangis kasakitan, krn ulah kita.
Jadi mari kita mulai dari hal2 kecil saja di rumah kita masing2 menjaga kelestarian bumi kita tercinta ini.
Tentang si rayap yg agak menjijikkan ini (gambar yg diatas itu), tadinya tdk terpikirkan oleh sy , ternyata mereka adalah makluk yg terpaksa menghancurkan kayu2 dirumah kita krn habitatnya tersingkir.
Jadi selamat Hari bumi utk bumi kita dan Selamat hari Kartini utk semua wanita Indonesia.
Wah wah, memang amang pdt yang satu ini selalu selangkah lebih maju dari pdt senior lain yang ku kenal.
Kalau aku belum sampai berpikir seperti uraian tulisan di atas, minimalnya tulisan tersebut bisa membekas di ingatan ku.
Selamat hari Bumi dan selamat hari Kartini juga.
Btw, selamat hari kartono ada nggak seh..? hehehehe………
Kalau kayu sudah dimakan rayap, akan sulit membasminya ,biasanya sudah menjalar sampai kedalam beton lainnya, sebelum bahan bangunan tsb dipasang sebaiknya seluruh bahan bangunan yang terbuat dari kayu harus ada jaminan dari pemasok bahwa kayu yang dipakai sudah bebas dari rayap.