Adat Mendahulukan Perempuan

April 21, 2010
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Sebagai gereja yang beranggotakan mayoritas Batak mau tak mau banyak kebiasaan di gereja kami HKBP sedikit-banyak pengaruh dari budaya Batak. Salah satu contoh kecil misalnya: kebiasaan atau adat mempersilakan para bapak (baca: laki-laki beristri, beranak dan apalagi bercucu, atau punya kedudukan tinggi) untuk duluan mengambil makanan.

Dalam acara-acara gereja termasuk partangiangan wijk, jika ada acara bersantap, maka biasanya ibu-ibu Batak ini secara sukacita mengambil posisi sebagai “parhobas” atau pelayan, atau minimal duduk tenang membiarkan seluruh deretan para lelaki mengambil makanan duluan. Barulah mereka makan. Jika makanan disajikan dalam kotak maka para ibu-ibu HKBP yang Batak tulen ini pun dengan sukacita mengoper atau menggeser lagi kotak makanan yang sudah diberikan kepadanya kepada para lelaki yang belum kebagian. (dan biasanya si lelaki tanpa wajah bersalah menerimanya. oala). :-)

Saya adalah seorang lelaki, menikah dan punya anak. Selain itu saya seorang pendeta Batak. Kalau mau ditambah: pendeta ressort. Jadilah saya selalu mendapat prioritas pertama atau privilese dalam upacara makan. Para sintua dan anggota jemaat akan mempersilakan saya, sering dengan setengah mendesak, agar duluan mengambil makanan. Setelah saya barulah mereka ikut.

Perasaan saya sendiri selalu campur aduk. Di satu sisi, jujur, saya senang juga dihormati, diistimewakan dan diutamakan. Emangnya siapa yang tak suka dihormati? Namun di sisi lain saya suka kikuk atau rikuh, apalagi bila di ruangan itu ada anggota jemaat atau sintua, lelaki apalagi perempuan, yang dari segi umur jauh lebih tua dari saya. Sebab itu saya selalu mempersilakan mereka duluan mengambil makanan atau minimal bersama-sama dengan saya. Namun pengalaman saya itu hanya bisa berhasil dengan sedikit memaksa. Saya selalu katakan: antri mengambil makanan harus menurut umur atau kebutuhan (artinya siapa yang paling lapar dialah yang diberi kesempatan pertama). Tentu saja semua tertawa.

Namun selain umur, hati saya terdalam sulit menerima kenyataan bahwa perempuan harus belakangan makan. Sebab itu, boleh tanya banyak orang, saya tidak berani datang ke meja makan tanpa mempersilakan para ibu duluan. Namun biasanya biasanya mereka selalu menolak. Walaupun saya sudah berkali-kali mengatakan: di gereja perempuan dan laki-laki sama. Sebab itu kita bikin aturan gantian saja. Jika saat ini laki-laki yang duluan mengambil makanan maka kebaktian berikutnya perempuan. Namun lagi-lagi saya gagal. Para ibu Batak ini tetap saja sungkan bergerak duluan dan lagi-lagi mendahulukan lelaki. Alasannya: adat. Ya apa boleh buat kata saya tak terlalu happy.

Namun saya tetap tidak nyaman saban kali duluan mengambil makanan. Emangnya saya kelaparan atau rakus? Dalam banyak hal saya sebagai pendeta sudah didahulukan, dihormati dan diistimewakan oleh jemaat. Masa dalam hal makan juga harus diutamakan, pergumulan saya dalam hati.

Puji Tuhan! Kebetulan kami di gereja HKBP juga punya adat atau ruhut (aturan) atau kebiasaan: yang memimpin doa makan itulah yang duluan mengambil makanan. Saya melihat adat atau ruhut ini peluang melepaskan diri dari keharusan duluan mengambil makanan, sekaligus kesempatan membiasakan gereja lebih egaliter dan demokratis. Sederhananya: tidak terlalu pendeta-sentris. :-)

Tadi di kebaktian wijk kebetulan yang memimpin doa makan adalah sintua kami seorang perempuan. Selesai berdoa beliau langsung duduk lagi dan mempersilakan saya mengambil makanan. Saya bergeming. Duduk tenang. Menurut adat atau ruhut: siapa yang berdoa makan itulah yang duluan, kata saya dalam bahasa Batak berwibawa. Semua tertawa. Saya membuat wajah serius. Kita tidak boleh merubah adat setiap saat, kata saya lagi. Saya tahu betul orang Batak biasanya akan takluk kalau sudah disebut sebagai adat, ruhut atau kebiasaan. Dan adat atau ruhut itu juga yang mengharuskan kami malam ini mendahulukan perempuan.

Melaksanakan adat atau ruhut: sang Ibu akhirnya bangkit menuju meja makan. Dan saya pun dengan sukacita mengikut beliau dari belakang. :-)

Selamat Hari Kartini, Inang! Tongtong ma taingot Hata ni Tuhanta: ndang mardiaimbar baoa dohot parompuan! :-)

Share on Facebook

8 Responses to Adat Mendahulukan Perempuan

  1. richard hutahaean on April 21, 2010 at 11:57 pm

    Bah…mar Hari Kartini do hamu tahe? :( Bagaimana amang bisa dengan cepat menyebar ide amang diatas bila kaum perempuan itu meniru Kartini? :)

    Daniel Harahap:
    Bagi saya inti peringatan hari kartini selain mengingat surat2nya adalah belajar dari kegagalannya untuk konsisten dengan kesetaraan perempuan dan laki2. :-)

  2. Jansen Sinamo on April 22, 2010 at 6:43 am

    Saya kira adat mentang-mentang yang harus diubah. Mentang-mentang laki-laki harus duluan makan, bah! Mentang-mentang perempuan harus duluan makan, bah! Mentang-mentang pendeta, bah! Pendeta laki-laki pula, bah, bah, bah!

    Akan ada saatnya anak-anak yang kita dahulukan. Saat lain: orang sakit, orang baru, tamu-tamu, sintua, naposo, parguru malua. Saat lain tentu: amanta pandita ma!

    Masalahnya, karena manusia adalah mahluk berkebiasaan (habitual creature) sehingga tanpa sadar kita sudah masuk ke dalam pola ‘aha namasa ima niula’ padahal semua itu sudah norak bin jadul :)

    Kuncinya: kita harus selalu sadar supaya terbebas dari jebakan kebiasaan tengik (adat naung lapuk, ruhut naung buruk) dan pada saat yang sama selalu sadar pula untuk bisa menerapkan nilai-nilai kristiani-bataki yang kita anggap luhur-modern-berkebajikan dalam berbagai setting dan situasi serta acara.

    Horas ma di hita. Selamat hari Kartini ma tu akka parompuan dohot akka amanta na makkaholongi parompuanna :)

  3. Meb Situmorang on April 22, 2010 at 11:36 am

    yang terpenting justru menciptakan suasana saling menghargai, jadi suasana kekeluargaan yang hangat dapat dirasakan… :)

  4. Friska pardede on April 22, 2010 at 8:39 pm

    Seperti biasanya kalau menceritakan sesuatu paling bisalah amang ini….lucu dan mengena.

    Entah bagaimana memang wanita2 Batak ini walaupun di kota besar seperti Jakarta tetap saja merasa harus marhobas dimanapun berada dan para lelaki yg dipersilahkan para wanita ini utk makan duludn tidak pernah merasa berdosa malah sepertinya memang sdh seharusnya begitu.

    Kebiasaan di rumah2 halak hita biasanya anak2nya yg disuruh mengambil makanan duluan tetapi kenapa kalau di acara2 yg agak besar org Batak ini selalu mengatakan: anak2 belakangan aja, sepertinya para org tua ini kurang wibawanya kalau di dahului anak2.

    Mungkin awalnya ini terjadi dari kebiasaan2 yg berkelanjutan hingga kini, ketika sy masih kecil ompung boruku sering memanggang ayam utuh buat ompung doli dan tanpa merasa berdosa si ompung doli ini menghabiskannya seorang diri dan tulang2nyalah yg dimakan ompung boruku dan yg lainnya, pada hal mereka berdua sama2 bekerja keras disawah.

    Ketika itu aku berpikir kok iya bodohnya ompung boruku ini dan betapa egoisnya ompung doliku , saat sy punya anak sendiri ya sayapun sengaja mengalahkan diri utk memakan tulang2 ayam ini , anak2 dan suami makan dagingnya, begitu juga kalau makan ikan selalu sayalah yg memakan kepala dan ekornya….krn sayang kan dibuang o…tahe ,ba walaupun terlambat sehari selamat Hari Kartini ma di hita sudena :)

  5. loren situmorang on April 29, 2010 at 9:13 pm

    Terlalu jauh kita membahas atw komentar mslh ini,krna ini sdh Berlaku dri JADUL amang….dan klwpun mau di rbh kebiasan ini,ya…..di keluarga kita dulu lah(keluarga besar) jng di pesta,partamiangan dan bpk2 orng batak masih toleransi tinggi ketika istri marpese2 pasti istri di suruh diluan ciak(mkan).. Yg berbobot yg amang tampilkan untk di komentari (: (: gbu

  6. Agus Rumapea on May 1, 2010 at 9:08 am

    :)
    Menurut saya amang, tulisan ini perlu lebih jauh diperluas.
    Karena kalau kita telisik lebih jauh, terlebih untuk orang-orang batak yang di Bona Pasogit, “Mental Tuan” ini pada pria Batak tidak sekedar di acara makan saja, juga kehidupan sehari-hari. Yang ke sawah/ladang, nyuci kain, nyuci piring, nyapu rumah, marorot, maronan, mamele pinahan bahkan marmahan semua perempuan. Yang laki-laki dimana? Kongkow di Kode Tuak! Tidak heran ada pria batak merantau ke Jakarta dan tinggal di rumah itonya tetap merasa “Bos” sampai-sampai yang cucikan bajunya sendirpun harus itonya tadi. Amang tahe…

  7. Lukman Tobing on May 3, 2010 at 12:07 am

    Horas amang, dohot sude nahinalongan!
    Sangat setuju do ahu di “adat nimbaru” mendahulukan perempuan on,
    karena adat lama di hita batak (lumobi na tinggal di rura silindung tano hagodaganki) amanta marende dilapo (loguna lissoi-lisso dorgug ma tuakmi ninna) hape inantana mangula di hauma.
    Namun dikeluarga kecil kami saya tidak selalu minta dilayani, kadang saya pun melayani, sering memang istri yang masak namun terkadang saya yg masak dia saya minta duduk dan menikmati hasil masakanku (hal ini kucontoh dari bapak kami yang menurutku sangat romantis terhadap keluarganya)
    Ternyata sangat asyik dan hasilnya menggembirakan bila kita saling berbagi mulai dari hal yang biasa sampai “yang luar biasa”
    Botima tabema….

  8. jhonson panjaitan on August 20, 2010 at 11:43 am

    Horas Amang DTA,
    Sungkun2 bohado tahe Amang molo marulaon Nabadia di Gereja, boido margiliran? Boi do Naposo parjolo? Somalna sai parjolo do Ama dung pe i asa Ina dohot naposo ?

    Daniel Harahap:
    Boasa ndang boi? Ndang adong aturan na ingkon parpudi naposo manjalo roti dohot anggur. Molo iba do na manghobasi ulaon na badia, somalna angka na hundul di duru manang di pudi sahali do na parjolo jinou. Jala parhalado parpudi ma. parpudi sahali: pandita. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*