Gereja Yang (Tak) Mengutamakan Keselamatan?

April 9, 2010
By

outdoor-ac-gereja-kami.jpg

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Jangan langsung bantah, dengan bertanya: emangnya ada gereja yang tidak mengutamakan keselamatan? Bukankah tugas pokok gereja adalah mewartakan keselamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus Kristus? Bukankah pesta paskah kemarin adalah perayaan keselamatan manusia, yaitu: pengampunan dosa, pendamaian dengan Allah dan hidup baru blablabla? Setuju dengan semua itu. Namun kali ini saya hendak membahas keselamatan dalam arti paling sederhana, dangkal dan nyata. Yaitu: keselamatan fisik (walaupun pasti berdampak kepada jiwa). Apa pasal?

Rabu sore kemarin outdoor AC gereja kami jatuh. Tak ada hujan tak ada angin apalagi gempa. Kotak seberat hampir empat puluh kilogram yang selama ini dilengketkan di kusen jendela gereja terjun bebas. Untunglah saat gereja lagi tak ada aktifitas. Tak bisa saya bayangkan seandainya itu terjadi saat pesta Paskah kemarin. Bagi saya, malunya pasti sangat besar apalagi sakitnya. Ya untunglah. Lebih tepat: ya syukurlah.

Begitu mendengar telepon Hendro, pegawi gereja kami, melaporkan ikhwal jatuhnya outdoor AC itu saya pun segera meluncur ke TKP (Tempat Kejadian Perkara). Oala. Outdoor itu masih tergantung-gantung beberapa puluh senti meter dari lantai, disangga kabel tembaga. Di lantai saya melihat kabel soundsystem terburai. Klik. Klik. Naluri fotografer saya membuat kamera ponsel BB saya segera beraksi mengabadikan kejadian tak lucu itu. Tapi itu bukan penyelesaian. Lantas saya pun mengirim sms kepada pihak-pihak berkepentingan di gereja, kawan-kawan parhalado parartaon dan panitia pembangunan, agar segera mengambil langkah segera pada kesempatan pertama.

Sebenarnya kejatuhan outdoor AC itu sudah terduga sebelumnya. Hanya hari dan jamnya saja yang tidak bisa diprediksi. Saya dan kami tahu bahwa kusen jendela gereja kami sudah dimakan rayap. Dan AC serta outdoor itu bertumpu pada kusen itu. Namun bodoknya, maaf saya menyalahkan diri sendiri, kami membiarkannya saja berlama-lama di sana. Saya tak punya cukup kekuatan atau pengaruh membuatnya pindah atau berubah. Syukurlah Tuhan masih baik kepada saya. Bagaimana kalau outdoor itu jatuh dan menimpa jemaat? Itu bisa menjadi mimpi buruk sepanjang hidup kependetaan saya.

Syukur Parhalado parartaon segera bertindak. Tukang AC pun dipanggil memindahkan outdoor itu ke bawah. Saya meminta kusen segera diganti, tanpa harus menunggu rapat. Sementara bisa diharap aman, kata saya. Namun tiba-tiba saya berpikir lagi: bagaimana kalau nanti anak-anak sekolah minggu mencucukkan jarinya atau kayu lewat kisi-kisi outdoor itu untuk bermain sensasi getar dan bunyi? Oh tidak. (Namun saya bertanya sendiri: mana yang lebih efektif menjauhkan pisau atau melarang anak-anak bermain pisau. Saya tahu jawabnya tapi kenapa saya melakukan yang bukan solusi.)

Sambil memandangi tukang AC bekerja dari kejauhan, dibawah shelter gereja kami yang kemarin sebagian atap plastiknya diterbangkan angin, saya merenung tentang keselamatan jemaat khususnya fisiknya. Tentang keselamatan jiwa tak ada keraguan: Kristus yang bangkit. Kemarin saat malam passion lampu gereja padam, dan saya baru sadar gereja kami tidak punya genset dan bahkan tidak punya emergency lamp. Saya tahu betul yang terakhir itu tidak mahal, namun entah kenapa kami tak kunjung jadi membelinya. Ganti lampu lilin-lilin pun dihidupkan. Tiba-tiba saya teringat lagi kami belum jadi membeli alat pemadam api. Sekarang, karena keterbatasan lahan, pelataran dekat gereja penuh sesak dengan mobil. Kalau (semoga tidak) tiba-tiba ada kebakaran, gempa, atau kerusuhan, kemana jemaat dievakuasi? Cukupkah berdoa dan menyerah kepada nasib?

Pikiran saya terus menerawang. Saya penasaran ingin tahu bagaimanakah kayu-kayu di balik plafon gereja kami? Jangan-jangan sudah dimakan rayap juga. Maklumlah jumlah rayap di gereja kami ribuan kali jumlah jemaat. Dan rayap-rayap itu benar-benar ganas. Lantas? Sambil gelisah saya berdoa dalam hati: Ya Tuhan, Kau sudah memberi kami akal budi. Ajarlah kami menggunakannya dengan berani dan tulus hati.

Share on Facebook

12 Responses to Gereja Yang (Tak) Mengutamakan Keselamatan?

  1. Petrus Harianja on April 9, 2010 at 11:32 am

    Rabu sore kemarin outdoor AC gereja kami jatuh. … … … dan … …
    Saya meminta kusen segera diganti, tanpa harus menunggu rapat.

    Maaf. Secara umum, Gereja HKBP (dominan berisikan kita bangsa batak) di Indonesia bersikap begini. Setelah rusak baru diperbaiki dan ternyata biayanya juga lebih mahal. Sebenarnya hal tersebut adalah tugas Parartaon dan di dukung oleh seluruh pengurus gereja yang melaporkan kepada Parartaon bilamana ada hal – hal yang sudah selayaknya perlu diperbaiki atau diganti.
    Di Gereja HKBP yang saya pernah saya kunjungi, lantai kamar mandi atau tembok gereja yang berlumut pun di biarkan, yang intinya : “sayang uang”. Saya katakan : “Terlalu Penuh Kemunafikan”.

    Sementara, dari berita media massa, akan diadakan pesta Jubleum 150 tahun HKBP yang memakan dana 50 Milliard lebih. Tindakan apa ini? Gereja yang berlumut saja tidak bisa di bersihkan, dana Jaminan Kesehatan Pendeta saja harus di kutip dari jemaat, gaji pensiun Pendeta saja di kutip dari Gereja, tetapi di lain sisi menghamburkan uang hingga ber-puluh Milliart.
    Setidak – tidak nya dengan adanya wacana yang disampaikan oleh Bp. Pdt. DTH ini, dapat mengingatkan seluruh pengurus gereja, bahwa banyak gereja yang perlu di bangun, dan diperbaiki dan memerlukan dana yang banyak. Sehingga seluruh komponen gereja HKBP dapat bersatu padu untuk saling menolong dan membantu dan bukan omong kosong belaka dan hanya berkhotbah di depan Altar. AMIN

    Daniel Harahap:
    Terima kasih Amang. Namun informasi: sebenarnya 55 milyard itu bukan untuk pesta jubileum, melainkan untuk merevitalisasi Rumah Sakit HKBP di Balige dan Kantor Pusat HKBP di Tarutung serta membangun kantor perwakilan di Jakarta dalam rangka jubileum.

  2. Sampe Sitorus on April 9, 2010 at 12:03 pm

    Belajar dari kejadian di HKBP Serpong, maka nampaknya gereja yg lain termasuk HKBP Serpong sebaiknya melakukan “risk assesment”.

    Saya yakin banyak jemaat HKBP yg “parbinotoan” nya cukup mumpuni dalam hal risk assesment.
    Setelah hal tsb dilakukan maka perlu diambil langkah2 untuk mengeliminir setiap potensi bahaya.

    Menurut Teori Rasio Kecelakaan (Frank Bird), kecelakaan pada prinsipnya memiliki pola dimana semua jenis kecelakaan diawali dari near miss.
    Near miss adalah kondisi atau situasi dimana kecelakaan hampir terjadi(berpotensi mengakibatkan kecelakaan).
    Berdasarkan hasil penelitiannya, Bird menyatakan bahwa dalam setiap 600 buah kasus near miss akan terdapat 30 kasus kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan peralatan, 10 kasus kecelakaan yang mengakibatkan cidera ringan, hingga 1 buah kasus kematian atau cidera serius akibat kecelakaan.

    Dengan demkian kita harus identifikasi dan solve near miss sebanyak-banyaknya.

    Terima kasih untuk tulisan amang yg menginspirasi pembaca untuk mengambil tindakan agar kejadian yang sama/serupa tidak terjadi di gereja lain (atau jangan2 dirumah kita).

  3. Petrus Harianja on April 9, 2010 at 12:42 pm

    “Sebenarnya 55 milyard itu bukan untuk pesta jubileum, melainkan untuk merevitalisasi Rumah Sakit HKBP di Balige dan Kantor Pusat HKBP di Tarutung serta membangun kantor perwakilan di Jakarta dalam rangka jubileum.”
    Maaf amang, sedikit menyela dan bertukar pikiran.

    Bukankah kita (HKBP) telah di bagi dalam beberapa Distrik? Membangun kantor perwakilan apa maksudnya dalah hal ini?
    Mengapa tidak di manfaatkan saja kantor Distrik?

    Revitalisasi Kantor Pusat HKBP di Tarutung?
    Saya rasa, kondisi kantor pusat tersebut masih layak dipergunakan, dan paling hanya perlu di tambahkan sedikit kondisi yang fresh (segar) khususnya fentilisasi udara dan warna cat.

    Revitalisasi RS HKBP Balige?
    Sara saya, sebagai RS Kabupaten, masih layak. Dan hingga saat ini, apakah telah ada aturan dan peraturan bahwa bilamana jemaat HKBP yang rawat inap untuk pengobatan di RS tersebut dapat discount? Please.

    55 Milliard? Wow … uang yang sangat banyak tentunya. Dapat membangun gereja dimanapun dengan total hampir 50 Gereja.
    Jika hanya RS, Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan yang di banggun, hanya orang -orang itu saja yang mengetahui bahwa YESUS itu benar adalah TUHAN. Tetapi jika kita membangun gereja di Irian, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Bali dan sebagainya. WOW … nama TUHAN semakin di permuliakan.AMIN

    Daniel Harahap:
    DI Jakarta HKBP belum punya kantor distrik apalagi yang representatif!
    Tentang RS HKBP Balige, saya yakin Amang belum pernah kesana. :-) Cobalah cek ke sana dan lihat baik-baik pasti kesimpulanya berubah (jangan2 mengsulkan agar lima puluh milyard dicari hanya untuk RS Balige)
    Tentang Kantor Pusat HKBP bukan hanya warna cat, melainkan juga penataan ulang ruang dan bangunan.

  4. Andy Harahap on April 9, 2010 at 1:50 pm

    Amang, sharing soal public safety di kantor kami; Public Safety memang salah satu prioritas utama, selain perlu membeli banyak alat2 safety yang sebagian sudah Amang sebutkan, mungkin juga perlu dibuat plang2 untuk alat2 tersebut agar terlihat dari jauh sekalipun dan aman dari jangkauan anak2. Juga sosialisasi terhadap alat-alat tersebut.

    Sedikit contoh dari kantor kami untuk kasus kebakaran;

    Kami memiliki emergency tim kebakaran yang akan in-charge pada setiap kejadian emergency dalam hal ini kebakaran. Jadi klo ada kebakaran tim ini akan membantu proses evakuasi dengan cara menunjukkan route evakuasi, akan mengontak pemadam, akan membantu proses awal pemadaman api, dan selanjutnya tim akan membantu pihak pemadam kebakaran dalam memadamkan kebakaran.

    Tim tentunya juga sudah dilatih untuk memakai apar (alat pemadam api ringan) dan member tim perlu diganti-ganti secara priodik agar lebih banyak orang mengerti untuk proses emergency kebakaran.

    Mungkin baru segitu sharingnya amang, ntar klo ada tambahan saya tambahin lagi. :-)


    Daniel Harahap:
    Saya percaya kantor Amang memiliki dan melakukan semua itu. Pertanyaan saya: apakah gereja tempat Amang juga telah melakukan hal yang sama? :-)

  5. Andy Harahap on April 9, 2010 at 2:02 pm

    Pertanyaan saya: apakah gereja tempat Amang juga telah melakukan hal yang sama? :-)

    Jawab: GKI Denpasar sudah punya alat2nya tapi timnya belum ada :-) Terima kasih sudah mengingatkan Amang, nanti saya akan tulis pesan ke Majelis GKI Denpasar soal ini.

    Saya juga baru “ngeh” soal ini sesudah baca tulisan Amang.. :-)

  6. Sakti on April 9, 2010 at 10:54 pm

    Syukurlah tdk ada korban. Unsur keamanan fisik memang harus dikelola dgn baik oleh orang yg tepat (baca: orang yg tepat). Begitu juga utk pembangunan fisik.

    Saya teringat kejadian di HKBP kami dulu: sebuah tower penampung air dibangun di belakang gereja atas perintah seorang penatua yg tdk punya latar belakang konstruksi. Demi penghematan (?) tdk melibatkan anggota jemaatnya yg lebih dr 1000 orang yg sedikitnya 20 orang punya pendidikan teknik sipil dan konstruksi.

    Walhasil, di suatu hari Minggu, ketika jemaat sedang kebaktian, terdengar suara menggelegarrrrr, tower itu ambruk dan air membanjiri belakang gereja yg biasa digunakan utk memasak air dan mencuci piring. Untung tdk ada korban!

    Msh ada cerita lain ttg pengelolaan di gerejaku yg tdk dilakukan oleh orang yg kompeten di bidangnya, bukan krn tdk ada orang yg mampu. Krn birokrasi, egois? I don’t have any idea.

  7. Joviel on April 10, 2010 at 9:24 am

    “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” selama ini memang banyak hanya memperhatikan pelayanan kerohanian saja, dan kurang memperdulikan pelayanan tubuh, fisik, dan perlengkapan lainnya termasuk gereja. jadi tidak heran , orang batak jika di bandingkan dengan suku modern lainnya kita boleh di bilang ketinggalan dan sudah ketinggalan juga norak, demikian juga halnya dengan tempat peribadatan banyak hanya mengutamakan luasnya , besarnya, bukan kenyamanannya, bukan keteduhannya. Dan ini berdampak pada kesegaran jiwa , dan keteduhan jiwa.

    Memang masing-masing kita punya standart kenyamanan yang berbeda, bagaimana hal ini bisa di pahami oleh Pimpinan jemaat masing-masing gereja untuk membuat suatu standart safety yang benar di dalam gereja masing-masing, sebab bisa kita lihat banyak Gereja yang selalu dibiarkan berdebu kotor , padahal sudah di kota, dan anggota jemaatnya sdh ratusan KK, uang kas sudah ratusan juta tapi tidak ada niat untuk memperbaiki, “maintanance & Repairs” kurang. dan hal ini bisa di pengaruhi pepatah orang batak ” hotang di bebe hotang di pulos , unang mandele godang tudos tudos” dan yang di buat selalu tudos adalah yang lebih buruk dari kita ini merusak , kenapa kita tidak buat tudos-tudos gereja yang bagus yaman, aman, Kenapa tempat Publik lainnya lengkap dengan Standart safety yang baik dan berusaha memuaskan memberikan kenyamanan kepada konsumennya, bukankah Gereja punya konsumen yaitu jemaatnya? bukankah gereja itu juga termasuk bagunan publik?

    Kejadian yang di gereja pak DTA sangat baik di angkat kiranya menggugah parhalado parartaon. Jika diperlukan setiap pemangku jabatan Parhalado harus uji kepatutan dulu, layak tidak apakah sesuai Visi Misi dengan Program HKBP, juga dengan Program Kerja Jemaat? sebab seorang mau lurah saja sekarang sudah harus uji kepatutan. Jadi dalam rangka Tahun penatalayanan ini perlu seluruh Penetua Parartaon di bina , kalo tidak di ganti saja agar tidak menghambat proses pembangunan jemaat terutama dalam hal fisik.

  8. Yusuf on April 10, 2010 at 9:46 am

    Pak DTA, saya melihat tulisan amang selalu mengena dengan kondisi dan kehidupan kita sehari-hari khususnya Gereja HKBP seperti beberapa waktu yang lalu Masalah Akustik Gereja/ tata suara, sekarang masalah Safety hal ini sangat perlu di ketahui setiap warga HKBP maka tolong seluruh artikel yang bagus-bagus seperti ini bisa di terbitkan juga sekaligus di website HKBP, karena bagaimanapun pembaca seluruh HKBP, seluruh Pendeta HKBP seharusnya mengetahui masalah-masalah seperti ini.

    Gereja HKBP banyak yang sudah bagus , maju modern, tapi lebih banyak yang masih ketinggalan sehingga ini mempengaruhi minat beribadah ibadah warga jemaat, misalnya di kota warga masing-masing sudah memiliki rumah yang nyaman, bersih, dan sudah terbiasa disiplin, tetapi ketika masuk ke gereja, yang nota bene adalah rumah kudus , banyak yang tidak sesuai misalnya berebutan tempat duduk, ruangan panas, berisik, apakah bisa nyaman mendengan Kothbah seperti ini? apakah bisa jemaat di legakan di puaskan dalam ibadah seperti ini? belum lagi gaya bahasa yang cenderung kasar, sebenarnya masyarakat batak Manyoritas Cinta HKBP karena merupakan Identitas diri, tetapi setiap orang ingin yang nyaman / comford, dan suasana yang menyejukkan hati sehingga selesai ibadah seakan kita baru selesai di pompa energi dan semangat yang baru.

  9. Nainggolan Prabu on April 12, 2010 at 9:56 am

    Hari kemarin adalah pengalaman. Dan pengalaman adalah guru yg terbaik.
    Hari ini adalah kenyataan, kenyataan yg mungkin sarat dg kendala ataupun masalah, hrs dihadapi bukan dihindari.
    Hari esok adala harapan, harapan yg berbalut Doa dan upaya.

    Fakta mesin AC Gereja HKBP Serpong (yg gaung-gaung) secara tidak langsung bercerita banyak bagi kita tentang profile para parhalado pada umumnya di seluruh HKBP. Masih banyak parhalado belum memahami arti sesungguhnya melayani. Selain senyum pun sangat pelit, pengaruh strata sosial yg melekat dg Sintua ( Mungkin orang kaya, Kontraktor Kaya, Pejabat) membentu prilaku tersendiri sehingga arti melayani yg sesungguhnya dipahami sebagai sesuatu yg merendahkan Strata yg dimiliki.

    Gambaran lain dari mesin AC yg gaung-gayung tsb adalah, kita sering menyepelekan masalah terkecil yg sejak dini telah diketahui, berharap masalah akan selesai dengan sendirinya, mungkin juga tertindih dengan pemikiran yg lebih parah, Gereja adalah Rumah Tuhan maka pasti segala sesuatu akan beres. Selanjutnyapun kita berpendapat bahwa sekalipun terjadi celaka maka itu dianggap hanya sebagai cobaan dari Tuhan. Semuanya hanya jargon tak bermakna, hanya mencari alasan untuk mengalingi nihilnya tanggung jawab.

    Jangan pula kita menyalahkan rayap, dan saya yakin kusen plafon, Kusen Atap dan mungkin sebagian Kuda-Kuda Gereja Serpong sudah Kopong, dan yakin juga bahwa fragmen AC yg gaung-gaung itu adalah pesan dari Yesus, pesan untuk keselamatan fisik jemaatNya. Sebab Kalau Kusen serta Kuda-Kuda Gereja ambruk pada saat kebaktian, maka paku-paku akan menancap tubuh para Jemaat. Maka Waspadalah.

    Di Gereja tempat saya numpang ikut kebaktian, kejadian serupa tidak akan terjadi sekalipun Lalo dg kekuatan 15 SR. Bukan karena rancangan yg sangat bagus, tapi karena memang tidak pakai AC. Memang belum layak disebut Gereja karena belum ada Ijin, layaknya hanya seperti tempat berteduh dikala hujan atau terik , ada atap tapi tak ada dinding.

    Kalau sudah ada Gereja namun tak terpelihara, saya memberanikan diri mengatakan bahwa para pengurusnya adalah orang yg lupa bersyukur.

  10. Friska pardede on April 12, 2010 at 10:01 pm

    Kisah ini bisa juga disamakan dgn… banyaknya jemaat yg saat ini kehilangan nilai2, sehingga banyak manusia yg sangat rapuh/tdk beccus,

    Mis:Asalma kawin, ketika menikah bikin pesta besar… krn rapuh 2 th kemudian bubar, asalma sarjana….begitu lulus terus saja menganggur
    Terima saja suap…urusan belakangan
    Bagaimanakah greja (HKBP) menyikapi hal2 seperti ini??

  11. halomoan t. on April 13, 2010 at 6:20 pm

    kita beruntung dan bersyukur melalui media ini banyak hal-hal yang langsung bersentuhan dengan kehidupan kita bergereja, berjemaat, dan berorganisasi dapat dibahas, bahkan untuk hal-hal yang kelihatannya sederhana. isu-isu yang diangkat sekaligus juga membuka mata dan membuka hati kita semua. pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan kepada amang akan satu hal yang mengganjal hati saya.

    Kita mengetahui banyak pendeta dan hamba Tuhan yang memiliki kualitas bagus di hkbp, baik dalam berkotbah ataupun tugas pelayanan lainnya. Namun, terus terang, secara ‘kedagingan’ banyak juga kecewa melihat ‘kemampuan’ pendeta yang ketika berkhotbah betul-betul tidak mempersiapkan diri (dan mungkin hati). Selama berkhobtah, mohon maaf, kebanyakan membaca, sehingga kita/jemaat kehilangan fokus. yang paling ‘parah’, sudah membaca, banyak salahnya. Belum lagi bicara substansi/contentnya, tidak relevan. jujur saya katakan, saya ‘melatih diri’ untuk fokus, tapi kebanyakan jemaat ngobrol, ngantuk (padahal kebaktian pagi jam 06), sms, atau mandang-mandang yang lain, yg jelas tidak ke khotbah.

    Beberapa teman suka menanyakan, kok bisa begitu ya, padahal pendeta tersebut baru pensiun (artinya pengalaman dan jam terbang sudah sangat banyak). Untuk pendeta yang lebih mudah juga sering juga demikian. Seorang teman, menanyakan apa ada yang salah di kurikulum atau ketika setelah lulus ga ada kemauan atau ‘keharusan’ untuk menyampaikan firman dengan sepenuh hati. Kira-kira kalau dibuat kuesioner ke jemaat, apa acara dalam kebaktian yang paling disukai atau dirindukan, kira-kira banyak ga ya yang memilih ‘khotbah’. jangan-jangan jemaat ke gereja hanya untuk ketemua teman, lihat tingting, atau sekedar kebiasaan. mohon pendapat dan pencerahan amang. terimakasih, Tuhan memberkati

  12. Hitler P. Sigalingging on April 19, 2010 at 3:51 pm

    Coba saja lakukan penilaian risiko (risk assessment) menyeluruh pada semua area/ruang/gedung gereja.
    Dari sana akan mudah dilakukan kontrol dan pemeliharaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*