Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Pesta Paskah atau kebangkitan Yesus baru saja usai. Saya sangat bahagia, walau tak sempurna, kami di HKBP Serpong berhasil menjadikan Pesta Paskah kali ini lebih besar dan bermakna dibanding tahun sebelumnya. Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras kawan-kawan Panitia. Diawali dengan minggu palmarum atau palem, dilanjutkan empat malam permenungan passion atau sengsara Tuhan, peringatan Jumat Agung dan Perjamuan Kudus, serta “ulaon na hohom” atau ibadah hening mengingat tujuh sabda Yesus di kayu salib, dan pada puncaknya perayaan Paskah yang diakhiri dengan makan bersama seluruh jemaat. Pada yang terakhir itu, gereja HKBP Serpong sengaja kami hiasi mare-mare atau untaian daun kelapa menunjukkan kebesaran peristiwa itu. Altar gereja kami sendiri berhiaskan bunga lily Paskah dan ulos Batak ragiidup yang berpadu anggun menggetarkan hati yang melihatnya. Kita tahu bunga lily atau bakung adalah simbol paskah, sebab umbi bunga itu harus dikubur dan ditanam dulu agar tumbuh dan berbunga. Begitulah Kristus. Begitu jugalah kita. Sementara itu ulos ragiidup adalah jenis ulos tertinggi dalam kebatakan. Biasanya ulos ini dipakai untuk manampin atau menyambut tulang-belulang leluhur yang mati, namun kini justru dipakai menyambut Tuhan yang hidup.
Kami mengakui, perayaan Paskah HKBP Serpong tahun ini belumlah sebesar Natal apalagi melampauinya, walaupun saya pribadi bercita-cita sedemikian. Paskah bagaimanapun inti iman kekristenan. Bahkan Paskah dianggap sama dengan penciptaan langit dan bumi baru, sehingga dengan demikian bapa-bapa gereja secara berani menggeser ibadah dari hari Sabtu menjadi Minggu. Mengapa? Karena Tuhan bangkit di hari Minggu. Tanpa kebangkitan sia-sialah iman Kristen, kata Paulus. Namun fakta selama ini ibadah Minggu Paskah “biasa-biasa” saja. Kecuali anak-anak dan pemuda boleh dibilang tak ada kesibukan yang berarti di jemaat. Bahkan di Minggu Paskah sebagian gereja lengang karena banyak jemaat lebih suka merayakan paskah di kuburan subuh-subuh.
Keadaan ini bukannya tak disadari. Saban natal atau jelang natal kita selalu mendengar keluhan betapa natal telah menggeser bahkan cenderung “mematikan” perayaan gerejawi lainnya. Namun keluhan tinggal keluhan. Sesudah natal berlalu banyak orang (baca: pendeta dan penatua) lupa lagi. Tiba-tiba Paskah sudah diambang pintu dan gereja tidak sempat melakukan apa-apa. Jadilah perayaan Paskah tak ubah minggu biasa yang cenderung tak memberi inspirasi dan motivasi apa-apa. Mungkin Jumat Agung sedikit memberi makna. Biasanya pada peringatan wafatnya Tuhan gereja-gereja penuh. Namun makna apa yang hendak disampaikan selain dari keharuan?
Tak sampai empat puluh hari lagi, gereja-gereja akan tiba pada peringatan hari kenaikan Tuhan Yesus. Ini adalah satu lagi perayaan yang terlupakan. Apalagi jatuhnya selalu hari kamis. Padahal peristiwa kenaikan sungguh sangat teologis dan penting. Kenaikan bukanlah soal perpindahan lokasi yesus, dari bumi pindah ke sorga. Kenaikan adalah perayaan pelantikan atau penobatan Yesus sebagai Tuhan dan kepala. Pertanyaan: mengapa kita bisa mengabaikan peringatan peninggian atau pemuliaan Tuhan itu? Bukankah seharusnya banyak sekali pesan teologis yang bisa disampaikan kepada jemaat melalui perayaan tersebut.
Sepuluh hari sesudah Kenaikan Yesus, kita akan merayakan Turunnya Roh Kudus. Apalagi di HKBP, perayaan yang satu ini dianaktirikan. Mungkin satu-satunya penanda Pentakosta di gereja HKBP adalah tutup altar berwarna merah. Itupun tak semua ingat. Di kota-kota tandanya pertukaran mimbar. Masa cuma itu? Yang benar sajalah. Dengan ikhlas kita mengaku bahwa memang HKBP kurang memberi perhatian kepada aspek ketiga Tritunggal yaitu Roh Kudus. Namun Aturan HKBP menyebutkan Turunnya Roh Kudus atau Pentakosta harus dirayakan bahkan dua kali. Menurut saya ini sebenarnya momentum yang sangat berharga. Gereja kita HKBP harus memuliakan Roh Kudus. Salah satu cara dengan merayakan kedatanganNya dengan penuh hormat dan sukacita. Dan menemukan makna yang sangat sarat dalam perayaan itu.
Di sermon kemarin kami telah menunjuk Panitia Perayaan Kenaikan Yesus dan Turunnya Roh Kudus untuk mengkoordinir kegiatan jemaat HKBP Serpong merayakan kedua peristiwa itu. Kiranya Tuhan memberkati panitia dan semua jemaat serta parhalado Serpong semakin menemukan kebenaran dan kasih Tuhan melalui kedua pesta gerejawi yang selama ini dipandang “sebelah mata” itu.
Share on Facebook
Setuju!!!
Seperti yang dikatakan seorang pendeta dulu, Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus ibarat perayaan Kemenangan dan Pengangkatan Raja. Bukan Raja sembarang raja tetapi Raja di atas segala raja.
Tentunya pengangkatan Raja di atas raja lebih hebat kan daripada raja dunia biasa.
Kami sangat bersyukur yang hidup didaerah Papua, Libur khusus pada hari seninnya sebagai PASKAH II yang ditetapkan oleh daerah setempat memperpanjang perayaan Paskah di Papua.
Sebelum saya lahir sampai sekarang anak saya lahir di Papua, perayaan PASKAH di Papua paling meriah, aktivitas dihalaman gereja dimulai dari hari kamis sore anak2 sekolah minggu mengadakan camping yang diisi dengan kegiatan2 dan lomba2 mulai dari mewarnai, lomba menyanyi, lomba membaca indah Alkitab sampai Cerdas Tangkas Alkitab, hari jumat agung diisi dengan peneguhan Sidi diikuti malamnya Perjamuan kudus, keesokan harinya sabtu malam diadakan malam puji-pujian sampai menunggu Fajar Paskah kemudian sekitar jam 03.00 pagi kami melakukan Pawai Obor dengan bernyanyi sepanjang jalan dari halaman gereja untuk mengajak semua jemaat untuk mengadakan Ibadah Fajar Paskah yang diadakan dihalaman gereja ibadah Fajar Paskah diakhiri dengan pencarian telur paskah. Hari seninnya masih diadakan PASKAH II biasanya ibadah paskah ke 2 diisi dengan PEMBAPTISAN KUDUS.
Terimakasih atas perhatian Amang atas kerja keras Panitia Paskah HKBP Serpong tahun ini. Sungguhpun masih penuh kekurangan sana-sini, yang tentu dapat dimaklumi. Tetapi, saya selalu teringat akan pepatah tua : kecil itu indah, sederhana itu cantik dan yg kurang itu menyenangkan.
.
Sekadar usul :
1. Agar di Rapat Huria untuk tahun anggaran 2011, ada porsi yg layak anggaran Huria untuk Panitia Paskah (yg seharusnya lebih besar dari Panitia Natal)
2. Agar menjadikan peristiwa besar ini menjadi momentum perbaikan ibadah di HKBP. Usul saya yg pertama adalah : mendorong Altar maju ke depan dan Paragenda berada di belakang Altar sesuai liturgi Lutheran. Tidak ada lagi alasan membiarkan Paragenda membelakangi Altar karena jas Paragenda yang bagus toh sudah terlapisi oleh jubah
3. Terus menerus menyebarkan “virus” ini di berbagai media, baik maya maupun nyata.
Daniel Harahap:
1. Masipaingotan ma hita di rapot huria na ro.
2. Nauli do i alai ninna rohangku jolo tapauli ma garejanta dohor langgatan na baru.
3. Ndang virus na tapararat on alai hadengganan do.
Hari Sabtu yang lalu saya dapat sms dari teman saya ketika SD di Doloksanggul; yang mengundang kehadiran saya untuk menyaksikan parade musik tiup yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 4 April mulai pukul 04.00. Mereka melakukan “aksi” musik tiup sambil berjalan kaki dari HKBP Doloksanggul ke HKBP Sirisirisi (kurang lebih 4 km)…. Walaupun untuk saat ini saya belum bisa menghadiri undangan tersebut, tapi saya cukup senang… sudah mulai ada perubahan dalam memandang perayaan paska. Dalam komunikasi kami, saya mengusulkan agar tahun-tahun yang akan datang dicoba diinformasikan ke media, karena sesuatu yang unik, mungkin saja media tertarik untuk meliput dan menyiarkannya. Dan teman saya itu setuju dengan ide; untuk pelaksanaan tahun depan!.
Semoga semakin banyak orang yang lebih memaknai hari raya paska sebagai sumber sukacita, dan menghasilkan buah-buah dalam kehidupan.
Horas.
Rangkaian peingatan peristiwa mulai pra kematian (passion), Jumat Agung dan Paskah terus berulang setiap tahun. Setiap tahun pula menu acaranya begitu-begitu saja.
Malam-malam kebaktian passion meniadakan partangiangan wiyk. Passion kadarnya seperti partangiangan wiyk, bedanya partangingan wiyk diadakan di rumah jemaat, sedangkan passion diadakan di gereja. Namun bila dihitung kepesertaannnya, total jemaat yang hadir di partangiangan dari seluruh wiyk lebih banyak dari kebaktian passion. Mungkin tahun yang akan datang kebaktian passion diadakan saja di wiyk.
Demikian juga saat paskah, tidak lebih dari kebaktian minggu biasa, bedanya ada lembar acara yang dibagikan saat kebaktian. Tok itu saja. Selebihnya tidak ada apa-apanya. Meskipun saya hadir di gereja pada hari Minggu paskah, tetapi rasanya saya sedang tidak merayakan paskah, perasaan saya seperti kebaktian minggu saja. Mana perayaan paskahnya …… ??. Perayaan paskah hari ke 2, sama saja suasannya seperti kebaktian passion.
Suasana di tempat saya mungkin tidak jauh berbeda dari kebanyakan HKBP di tempat lain. Artinya diperlukan semacam gerakan massal dan panduan oleh kantor pusat. Namun demikian sambil menunggu sesuatunya dari kantor pusat, ada baiknya masing-masing gereja berbuat sebagaimana halnya di Serpong
Hari besar umat Krieten bisa di ibaratkan dengan membangun sebuah gedung pencakar langit, dimana:
1. PESTA NATAL itu mirip dengan acara peletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pekerjaan pembangunan. KelahiranNya pun juga merupakan peletakkan batu pertama dimana kelahiranNya merupakan tahap awal karya keselamatan yang dari Allah.
2. JUMAT AGUNG itu mirip dengan pembangunan gedung yang sedang berlangsung, dimana Tuhan Yesus sedang melakukan karya penebusan yang Ia jalani di kayu salib.
3. PESTA PASKAH itu mirip dengan berakhirnya proses pembangunan gedung tadi (yang kita kenal dengan nama Finishing). Karya penebusan dari Tuhan Yesus telah berakhir dengan bangkitnya Dia dari kubur mengalahkan maut. Ini adalah puncak dari karya keselamatan yang Ia lakukan untuk kita.
4. PENTAKOSTA itu mirip dengan peresmian pemakaian gedung pencakar langit (soft/grand opening). Setelah Ia kembali kepada BapaNya, Allah mencurahkan RohNya pada anak-anakNya.
Jadi berhubung tidak ada acara peresmian gedung dalam peletakkan batu pertama, maka sudah saatnya kita mengubah kemeriahan pesta Natal menjadi pesta Paskah.
Karena dengan bangkitnya Tuhan Yesus dari kubur, berarti dosa-dosa kita sudah resmi terhapus. Sementara pada saat Yesus lahir, karya penebusan dosa belum dimulai, karena Yesus masih berupa seorang bayi.
Jadi, pesta Paskah-lah yang harus dirayakan semeriah-meriahnya. Karena dosa kita sudah dihapus olehNya dan Dia sudah bangkit kembali dari kuburanNya.
Pesta Paskah belum selesai, sampai Pentakosta nanti kita masih merayakan Paskah dengan meriah (berbeda dengan Natal yang perayaannya cuma sampai Epifani).