Cintailah Tuhan. Cintailah Pohon.

March 25, 2010
By Daniel T.A. Harahap

hkbp-sagala-samosir.jpg 

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Kali ini saya terpaksa mengalah. Pohon kupu-kupu yang saya tanam di tengah halaman HKBP Serpong dan telah mencapai tinggi empat meter  harus dipindahkan karena dianggap mengganggu mobilitas kendaraan (baca: mobil). Maklumlah lahan parkir gereja kami yang luas sudah terasa sangat sempit, karena sering tidak mampu lagi menampung seluruh kekayaan mobil milik anggota jemaat. Namun saya berkali-kali memberi wanti-wanti (singot-singot) kepada tukang yang membetulkan pelataran parkir agar pohon kupu-kupu itu jangan sampai mati. Namun melihat caranya memindahkan pohon itu (karena keterbatasan waktu) saya pikir hanya doa sajalah yang dapat menyelamatkan pohon kupu-kupu malang itu. Ya semoga pohon itu mendapat belas kasihan Tuhan, doa saya.

Namun terus terang,  sebelum dan juga nanti sesudahnya, sebagai pendeta, saya tidak semudah itu mengalah untuk urusan pohon. Ketika Panitia Pembangunan hendak membuat tangga-tangga semen di depan gedung Sekolah Minggu saya berpesan keras (dan berulang-ulang) agar tidak ada satu pohon palem apalagi pohon salam yang ditebang.  Puji Tuhan! Tangga-tanggu batu pun jadi dan pohon-pohon yang membuat kantor kami terasa teduh selamat sentosa. Kini Panitia Pembangunan merencanakan menambah bangunan gereja untuk konsistori lagi-lagi pesan saya agar pohon alpukat yang dibelakang gereja bagaimanapun harus diselamatkan. Dan saya siap ngotot untuk membela pohon alpukat itu. Apalagi kami sudah menambah 300 meter lahan di belakang gereja yang bisa menjadi tempat penampungan pohon alpukat remaja itu.

Di pagaran kami HKBP Gunung Sindur saya juga acap bersoal tentang keberadaan pohon. Pesan saya kepada Parhalado dan Panitia disana: silakan bangun gereja namun jangan ada pohon yang ditebang. Bagaimana caranya? Ya pikir saja baik-baik.  Gereja pun dibangun dan semua pohon selamat termasuk rambutan tua persis depan gereja. Kini mereka tergoda lagi hendak menebangnya dengan alasan mengganggu tangga yang hendak dibangun. Dengan singkat namun tegas saya katakan: kalau perlu belokkan tangganya. Jangan korbankan pohon tak berdosa itu. :-)

Saya bersyukur saat datang ke HKBP Serpong halaman gereja kami telah penuh dengan pepohonan. Ada rambutan yang selalu berbuah, mangga dan durian (belum berbuah) , dan juga jambu bol (yang sedang belajar berbuah). Terima kasih untuk semua  pendeta dan jemaat sebelumnya yang telah cape-cape menanamnya. Tugas saya dan kami kini hanyalah merawatnya. Dan tentu saja menanam lebih banyak lagi pohon. Untuk itu kami juga telah menanam petai, pala dan belasan pohon tanjung. Saya bayangkan tiga tahun lagi halaman gereja kami akan makin teduh dan asri serta menggiurkan saja.

Saya tak punya tanah milik sendiri. Seandainya punya tentulah saya menanam sebanyak-banyaknya pohon di tanah milik saya. Namun  andaikan tidak punya, dan memang kenyataan tidak punya, bukan berarti saya tidak bisa menanam pohon. Dimana saya ditempatkan sebagai pendeta akan saya tanam pohon. Dulu saat di Palembang saya menanam dua pohon beringin. Namun yang satu sudah mati dibunuh Parhalado dengan dakwaan merusak bangunan. Bahkan di halaman rumah dinas kami (kontrakan)  sekarang sudah saya tanam dua batang pohon petai. Tingginya kini tiga meter. Mungkin tahun depan saat berbuah kami tidak lagi tinggal di rumah ini dan saya (istri dan anak-anak entah kenapa benci petai)  tidak dapat menikmatinya. Tapi tak apa. Saya sudah sangat senang dapat menanamnya. Kalau suatu saat pemilik rumah tak suka pohon itu dan ingin membuhnya, ya tak apa juga. Saya percaya hidup pohon itu telah bermakna walau singkat.

***

Beberapa hari lalu saya membaca kegalauan dan kepedihan hati kawan-kawan di Facebook tentang kehancuran hutan kemenyan di Tapanuli yang diakibatkan oleh perusahaan pulp raksasa. Jujur, walaupun saya lahir dan besar di Medan, saban kali menyaksikan ada pohon dan hutan ditebang sewenang-wenang di Tapanuli dan dimana saja hati saya ikut galau dan gundah. Hati saya selalu teduh saban kali menyaksikan pohon rimbun apalagi hutan. Dan saya tahu betul pohon sangat berguna, bukan saja memberi buah, daun atau kayunya melainkan juga membuat air selalu tersedia di tanah, udara selalu segar dan hidup sejahtera.  Pohon, apalagi kalau sudah dihuni burung dan bunglon dan kadal, bahkan adalah salah satu sumber inspirasi saya. Dalam ibadah atau PA sering saya melukiskan hidup saya sebagai pohon yang secara perlahan berakar, bertumbuh, dan berbuah. Sebab itu tak pernah masuk ke akal saya menyaksikan ada orang yang bisa tega menebang pohon apalagi ribuan pohon tanpa perasaan. Namun siapa sanggup melawan raksasa? Bukan saya. Kalau begitu apakah dibiarkan saja?  Tidak juga. Lantas?

Berdemonstrasi menentang pabrik pulp? Baik-baik dan sah-sah saja sebagai media mencari perhatian. Memaki-maki pemegang saham dan manajemen perusahaan perusak hutan di facebook? Ya bolehlah sebagai proses katarsis atau penyaluran kemarahan hati agar tak sakit jiwa. Membuat lagu dan puisi ratapan? Baik juga. Namun ada pameo: daripada mengutuki kegelapan mending mulai menyalakan sebatang lilin. Arti yang sama: lebih baik menanam sebatang pohon dan berjanji menjaga serta merawatnya daripada hanya meratapi hutan yang hilang. Sebab itu saya mau mengatakan kepada kita semua yang merasa sangat gundah dan galau atas hancurnya hutan-hutan di Tapanuli: marilah menanam sebatang pohon di halaman rumah kita sebagai tanda doa dan janji kita atas keutuhan ciptaan.  Saban kita menyiram dan memupuk pohon itu baiklah kita naikkan doa kita semoga lebih banyak lagi pohon yang tumbuh di bumi ini. Dan saban kita memandang pohon yang kita tanam dan rawat itu mari kuatkan janji kita untuk menjadi pengurus (juara bagas) yang baik dari alam ciptaan Tuhan. Percayalah suatu ketika doa-doa kecil itu akan menyatu dan menggelinding menjadi gerakan besar pemulihan alam.  Dan pada saat itulah mimpi saya bahwa punggung Samosir akan kembali dihiasi pita-pita putih *) menjadi kenyataan.

Pdt Daniel T.A. Harahap

*) sewaktu  kecil saat melintas di jalan raya Parapat saya selalu melihat dari kejauhan  punggung Samosir selalu berhias pita-pita putih yaitu jeram-jeram kecil. Kini sebagian besar aliran air itu telah mati sebab hutan-hutan di atasnya telah gundul.

Share on Facebook

14 Responses to Cintailah Tuhan. Cintailah Pohon.

  1. Gaya Hutasoit on March 25, 2010 at 12:17 pm

    Mauliate ma amang pandita di motivasi nabinahenmuna on. Semua kerinduan amang menjadi kerinduan saya juga dan menjadi kerinduan semua orang yang cinta terhadap tanaman.

  2. Kimseng Manurung on March 25, 2010 at 12:45 pm

    Setuju amang, mencintai pohon adalah suatu ajakan yang inspiratif karena mencintai pohon sama dengan mencintai kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. horas jalagabe mari kita lestarikan lingkungan hidup kita dgn menanam pohon.

  3. christian rahardi on March 25, 2010 at 1:32 pm

    Pak Daniel, salah satu sesepuh Wanadri, Bpk Iwan alias Abah Iwan pernah bilang, satu pohon yan sudah dewasa hanya mempunyai kapasitas maksimum produksi oksigen untuk 2 orang saja, jadi kalau semakin banyak kita dan generasi kita menebang pohon itu sama dengan kita sedang mencekik anak cucu kita.
    salam

  4. Mangara Pakpahan on March 25, 2010 at 1:49 pm

    Sangat setuju dengan uraian di atas.
    Intinya, cintailah alam.
    Tumbuh-tumbuhan juga karya ciptaan Tuhan.

  5. florasilaban on March 25, 2010 at 2:10 pm

    Selamat atas perluasan bangunan Gereja dlsbnya, semoga jemaat dapat menikmati hasil dari tanaman yang telah berbuah, ada pertanyaan tentang pohon durian, apakah pada saat berbuah tidak menciderai jemaat yang mungkin berteduh dibawah pohon durian .

  6. tanobato on March 25, 2010 at 5:50 pm

    Antar maol do molo ruas ni deba-deba gareja niarahon asa mansuan angka suanon di humaliang pargodungan. Sai na adong ma hata-hata nasida. Hape molo dung denggan, sai marsigulut ma mandok na ibana do manuan angka suan-suanon i sude …

    Sai martamba ma angka parhalado na marholong ni roha laho paulihon bagas joro ni Debata i. Horas! Horas! Horas!

  7. Jansen Sinamo on March 25, 2010 at 8:26 pm

    Biarpun besok dunia kiamat, hari ini tetap kutanam sebatang pohon, kata Martin Luther sekitar 500 tahun lalu, seperti dikutip Midian Sirait (82thn), pendiri Yayasan Pencinta Danau Toba.

    Aneh, kenapa orang Batak yang dilahirkan dari rahim alam Tefra Toba bisa ganas dan telengas terhadap pepohonan, sesungaian, dan Danau Toba sembari melantunkan lagu Nahum: O Tao Toba Nauli?

    Apakah kita telah ikut tejerembab ke dalam ketidakseimbangan batiniah-emosional seperti ditangiskan Fritjof Capra berikut ini:

    … Kita telah terlalu saintifik dan kurang intuitif
    … Kita telah terlalu matematis dan kurang artistik
    … Kita telah terlalu rasional dan kurang imajinatif
    … Kita telah terlalu deduktif dan kurang induktif
    … Kita telah terlalu analitis dan kurang sintesis
    … Kita telah terlalu diferensial dan kurang integral
    … Kita telah terlalu spesialistik dan kurang holistik
    … Kita telah terlalu deskriptif dan kurang puitis
    … Kita telah terlalu linier dan kurang kreatif
    … Kita telah terlalu banal dan kurang artistik
    … Kita telah terlalu maskulin dan kurang feminin
    … Kita telah terlalu material dan kurang spiritual

    Eksploitasi alam, sub-ordinasi perempuan, pelecehan kelompok minoritas, pemujaan materi, kekerasan (violence), dan korupsi adalah akibat lanjutan dari ketimpangan batiniah ini.

    Semoga HKBP bisa ikut berperan menyembuhkan derita Bumi dan kemanusiaan ini.

  8. Friska pardede on March 25, 2010 at 9:37 pm

    Pertanyaan pertama yg timbul di hati saya tentang gambar itu dan semakin diperbesar samakin aku heran….greja itu masih ada jemaatnya apa tidak ya ?? kok ada kerbau tertambat atau tidak?? bingung aku….
    Lalu yg kedua bukit yg dibelakangnya kok tandus sekali ,kemana pohon2nya apa ditebangi oleh…..penjahat2 yg berkedok demi kemajuan masyarakat Batak???

    Tgl 22 April nanti seluruh dunia akan merayakan hari bumi yg diprakarsai oleh pecinta bumi Senator AS pd thn 1970 kalau sy tdk salah.
    Lalu apa yg sdh kita perbuat masing2 pribadi utk menghargai pemberian Bapa Tuhan kita yg serba gratis ini, krn bumi perlu nutrisi dan perawatan yg baik dari siapa…..ya dari kita masing2lah, kita mulai dari rumah masing2, ajar anak2 kita utk tidak membuang sampah sembarangan, mematikan lampu,komputer,kran air.

    Kurangi pemakaian kantung plastik,di tas saya ( di laci kantor) selalu sy siapkan tas berbahan kain, sewaktu2 saya belanja sy tdk membutuhkan kantong plastik yg biasa disediakan di tpt belanja, ketika sy dan anak2 bw bekal makan siang selalu pakai tempat yg bisa dipakai berulang2, mengurangi pemakaian kertas dan plastik ( kita tau dong…plastik bisa hancur dlm 300-400 thn) bayangkan…

    Saya gregetan banget ketika membaca berita pemda2 apalagi pemda DKI menyediakan anggaran yg sangat besar utk mengeruk sampah dari kali supaya mengurangi banjir, padahal pekerjaan membuang sampah ini ( Kita kan tinggal ngumpulin dirumah masing2, sdh ada petugas yg akan mengambilnya, mrk ini yg mengerjakannya dgn susah payah) gampang sekali dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun lha kok iya kita ga bisa lalukan .

    Eh aku mangararati ya amang….tapi kan sama tujuannya dgn topik ini sama2 melindungi bumi kita, krn aku punya halaman kecil cuma bisa menanam satu pohon belimbing yg buahnya selalu berulat dan pohon mannga yg tdk pernah berbuah ga tau kenapa :) kalau bunga2 kecil di pot adalah walau ga bisa banyak. jadi mari kita lakukan apa yg bisa kita lakukan utk melindungi bumi kita yg makin panas ini krn pemanasan globalnya dan musibah akibat dari rusaknya bumi kita.

  9. Sumurung Lumbantobing-Bgr on March 26, 2010 at 9:02 am

    Cintailah pohon karena akarnya kuat mencengkeram bumi sehingga tidak terjadi banjir dan longsor

    Cintailah pohon, dengan berhemat memakai kertas karena kertas dibuat dari serat kayu. Terutama dengan kertas putih, karena kertas putih dibuat dengan mencampur bubur kayu dengan “pemutih” yang limbahnya sangat berbahaya bagi lingkungan dan mengganggu penciuman-pernafasan

    Cintailah pohon dengan tidak menebangnya. Menebang pohon berarti mempercepat meningkatnya pemanasan global.

  10. Sampe Sitorus on March 26, 2010 at 9:41 am

    Gerakan Sejuta Pohon bahkan lebih akan terwujud jika setiap keluarga menanam pohon di lingkungan sekitarnya.
    5 tahun lalu, karena tidak punya tanah kosong (maklum rumah kecil) saya berinisiatip tanam pohon mangga di tanah pinggir jalan depan rumah. Oleh teman2 dan tetangga “agak di tertawakan” karena dianggap sia-sia akan mati di makan kambing, toh nanti buahnya akan diambil orang.

    Dgn sedikit investasi kawat ram dan besi saya pagar keliling dan akhirnya pohon mangga aman bertumbuh dan berbuah. Yang pasti saya merasa rumah teduh dan debu yg berterbangan kerumah berkurang. Belakangan teman-teman dan tetangga “kecipratan” buahnya juga dan menyusul tanam pohon di pinggir jalan depan rumahnya. Nah saya yakin banyak juga diantara kita yang telah melakukan hal ini. Semoga apa yg sdh kita lakukan ini menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

  11. richard hutahaean on March 26, 2010 at 10:30 pm

    Coba lah simak Lagu yg di nyanyikan Evie ini. Lagu ini sudah saya dengar sejak saya masih kecil. Syair nya sungguh menggambarkan kita sebagai pohon :
    I saw a tree by the riverside one day as I walked along.
    Straight as an arrow and pointing to the sky growing tall and strong.
    “How do you grow so tall and strong?” I said to the riverside tree.
    This is the song my tree friend sang to me:

    I’ve got roots growing down to the water,
    I’ve got leaves growing up to the sunshine,
    and the fruit that I bear is a sign of the life in me.

    I am shade from the hot summer sundown.
    I am nest for the birds of the heavens.
    I’m becoming what the Lord of trees has meant me to be:
    A strong young tree

  12. Joice Hutabarat on April 15, 2010 at 2:59 pm

    Cintailah Tuhan…Cintailah Pohon…

    Tadi sempat bingung dengan “pita2 putih di punggung Samosir…saya mungkin dari generasi yang tidak sempat menimati itu…
    Bulan lalu saya melintasi Ciwidey terus ke pelabuhan di jawa barat *lupa namanya*
    Dan saya takjub ada sekitar 10 pita putih seperti yang amang sebutkan di punggung2 gunung sepanjang jalan itu..luar biasa ciptaan Tuhan.

    Kalau Tuhan berkenan awal Juli saya dan keluarga akan menanam pohon di Humbang…semoga turut menyumbang lahirnya kembali pita2 putih itu :)
    Mohon doanya…

    Daniel Harahap:
    Selamat menanam pohon Joice. Menanam sebatang pohon lebih berarti daripada hanya meratapi sejuta pohon yang tumbang.

  13. Jinglesh Pasaribu on February 11, 2012 at 4:40 pm

    Horasma di hita saluhutna! Au pe heado songon na sogo rohangku memereng sahalak tetanggaku, ditaba hau naung husuan 6 taon na salpu di jolo ni kantor nami, apala pas au di Jakarta, ditaba….
    Didok rohangku ma, memang dang sude cinta mamereng Hau ….alai dang sadia leleng martumbur ma muse hau i, lasi sian ma rohangku…
    Songonima… mauliate…

  14. Rohevansius Manik on March 29, 2012 at 1:09 pm

    SHALOM..
    Saya sangat setuju dan suka dengan artikel ini.
    Jujur saja… saya prihatin dgn budaya BATAK dan kelestarian alam di TOBASA. Malah warga negara asing lebih peduli dan sedih akan kelestarian alam TOBASA dibanding kita-kita PUTERA BATAK ASLI TOBASA. Dan kita malah berlomba-lomba membangun HOTEL dan VILA pribadi di TOBASA. KEINDAHAN DANAU TOBA IBARAT “TABURAN BERLIAN” YANG DIBERIKAN TUHAN KEPADA KITA. KESEJUKAN ALAM TOBASA IBARAT “KEDAMAIAN” YANG DIKARUNIAKAN TUHAN KEPADA KITA. APAKAH KITA MENGANGGAP TUHAN ITU TIDAK ADA…? APAKAH KITA TIDAK MENGHARGAINYA…? ATAU KITA MERASA LEBIH BERKUASA DARI DIA….?
    TEKNOLOGI ITU TIDAK PUNYA HATI, PADA UMUMNYA MERUSAK HABITAT. DAN HIDUP INDAH ITU TIDAK BISA DIBELI, SEKALI TERCEMARI… PUNAHLAH UNTUK SELAMANYA.
    JANGAN SAMPAI TERLAMBAT….!!!
    TERIMAKASIH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*