Ketidakberesan Akustik HKBP: Ungkapan Ketidakperdulian kepada Firman?

March 23, 2010
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Senin konven atau rapat pendeta di salah satu gereja hkbp. Bangunannya hampir rampung: menjulang megah, dengan warna putih cerah, berlantai keramik mengkilap, bejendela kaca dan berplafon gipsum putih suci bersih.  Namun apakah yang terjadi?

Dalam gedung yang megah itu suara tak bisa terdengar dengan jelas. Suasananya sangat gaduh walaupun semua peserta konven tampak duduk tenang dan di depan yang berbicara hanya satu orang. Makin kuat suara si pembicara makin tak jelas apa yang dikatakannya. Makin dekat mulut si pembicara ke mik dan makin cepat berkata-kata makin sukar  audiens menangkap pesannya. Aneka suara bertabrakan di udara membuat semua lelah dan akhirnya putus asa.

Ini bukan pertama kali saya alami. Ini kali kesekian. Terus terang perasaan saya berkecamuk: jengkel, sedih, bingung, penasaran dan hampir putus asa. Ini pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja: konven pendeta. Namun saya lelah sekali menangkap kata-kata.

Saya mau mengatakan: Kayaknya ada yang kurang dalam pengetahuan kita pendeta, parhalado dan panitia pembangunan gereja.  Entah kenapa ada yang sangat penting dan bahkan menentukan yang sering dilupakan ketika kita membangun gereja. Apakah itu? Yaitu: sistem akustik atau penerimaan/ penyerapan suara dalam gereja. Walaupun sudah belajar Fisika sejak SD tentang bunyi dan suara begitu membangun gereja kita langsung lupa bahwa hukum-hukum fisika tentang perambatan bunyi dan pemantulan berlaku dalam gereja yang kita bangun itu. Sampai atau diterimanya kotbah  pendeta dalam ibadah minggu juga sangat tergantung kepada akustik atau tata penerimaan/ penyerapan suara dalam ruangan itu.  Dan itu bukan hanya soal soundsystem. Maaf, banyak pendeta dan parhalado juga panitia pembangunan suka “sok tahu”  beranggapan semua persoalan suara dalam gereja akan beres dengan mengganti soundsystem (dengan yang lebih mahal). Padahal masalahnya bukan pada soundsystem melainkan pada acoustic system.  Memakai bahasa sederhana: soundsystem adalah sistem  penyuaraan sementara acoustic system adalah sistem pendengaran. Selama ini entah kenapa kita lebih mementingkan soundsystem daripada acoustic system. Apakah ini akibat kita (baca: hkbp, batak kristen) lebih mementingkan mulut daripada telinga, lebih suka bicara daripada mendengar? Entahlah. Memang ada hukum komunikasi yang berkata: keinginan kita berbicara (berkotbah?) selalu lebih besar daripada keinginan kita dipahami.

Bagi saya persoalan yang dianggap oleh sebagian orang sepele ini sebetulnya sangat besar dan gawat. Kita tahu, memakai bahasa ekonomi, bisnis utama atau bahkan satu-satunya gereja HKBP adalah pemberitaan firman atau kotbah. Bahasa kasarnya itulah satu-satunya jualan kita. Namun aneh atau absurdnya justru kita tidak serius mengusahakan agar firman atau kotbah itu terdengar, terpahami dan terhayati dengan baik. Kita tidak perduli apakah kata-kata kita terdengar dengan jelas dan jernih, atau menjadi kacau karena berpantulan dan bertabrakan di udara akibat dinding keramik, lantai marmar, plafon gipsum dan jendela kaca. Gejala apa pulak ini?

Saya pikir menjelang jubileum 150 tahun hkbp mari kita berikan perhatian serius kepada tata akustik dan tata suara gereja kita. Saran saya sederhana kepada para pendeta, parhalado parartaon, panitia pembangunan dan aktifis gereja: mari kita serius membenahi akustik gereja kita masing-masing. Bagi gereja yang sudah terlanjur dibangun tanpa perencanaan sistem akustik, mari memberanikan dan mengikhlaskan diri melakukan pembenahan atau treatment. Apa boleh buat. Misalnya dengan melapis dinding atau plafon dengan akustik board. Bagi gereja yang sedang dibangun, sebelum terlambat mari panggil ahlinya. Jangan buru-buru membeli soundsystem mahal, sebab masalah seringkali lebih banyak di dinding, lantai dan plafon.  Terakhir saya mau mengatakan: jangan anggap remeh dengan penataan (pengeluaran dan penerimaan) suara kotbah dalam gereja. Itulah bisnis utama dan satu-satunya kita. Kecuali memang kita tak niat atau tak serius menyuarakan firman Tuhan. Selamat mempersiapkan jubileum. Selamat membenahi akustik gereja Anda.

Pdt Daniel T.a. Harahap

(bekas ketua panitia pembangunan hkbp rawamangun  yang melakukan treatment pembenahan sistem akustik gereja tersebut)  :-)

Share on Facebook

20 Responses to Ketidakberesan Akustik HKBP: Ungkapan Ketidakperdulian kepada Firman?

  1. bonagres on March 23, 2010 at 11:40 am

    Intinya begini amang. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
    Yaitu, akibat tidak adanya visi dan misi yang sama dari : Pendeta, Parhalado, Panitia Pembangunan dan Kepengurusan Lainnya di Gereja. Istilah “parhuta-hutanya” :
    (1) EgoCentris = mementingkan dan mempertahankan Ide dan Pemikiran Sendiri (Ide-ngku do na toho, pamotoanku do na umtimbo sian sudena, dohot ego na asing) :) .
    (2) Songon Pidong si Gurguak, Holan Gurdokna
    (3) Songon si Raja Saul, ndang olo manangi-nangi, alias holan hatana, holan manghataibr>
    Saran: Bila ada satu misi dan visi dan dirembukkan dengan hati dan kepala dingin serta bijaksana dan tidak menonjolkan egoisme, apapun bisa di bangun di HKBP apalagi masalah Gaung Suara di Dalam Gereja akibat penataan Soundsystem yang tidak benar Bila ingin bertanya perihal gaung suara di dalam ruangan, silahkan menghubungi saya yah amang. Saya dapat memberikan referensi. Horas. Mauliate

  2. richard hutahaean on March 23, 2010 at 12:01 pm

    Setelah menunggu sekian lama akan tulisan “sekuler” :) DTA, kini saat nya memberi pendapat walau sesungguhnya saya kurang mengerti sistem akustik. Tuhan telah memberi saya talenta pendengaran yg tiggil (peka) ;) . Saya teringat akan gedung colloseum di Roma, dimana dahulu di satu titik yg berukuran 1-1,5 meter persegi Kaisar berbicara. Sekarang, di tititk itu sering dipagelarkan opera tingkat dunia seperti Aida (Verdi). Di titik itu Kaisar berbicara dengan suara seadanya, dan para audiens dapat mendengar secara detail titah kaisar. Tentu, para insinyur yg mendesain Colloseum telah meriset dan mengukur secara detail gedung tersebut. Ide saya justru dan mungkin lebih ekstrem. Kenapa tidak ada (mungkin saya salah) Gereja HKBP yg tanpa mic tetapi, siapapun yg berbicara di langgatan dapat terdengar oleh jemaat?

    Daniel Harahap:
    Huss. Ini bukan tulisan sekuler tapi teologis! :-) Gereja-gereja tua HKBP di kampung termasuk HKBP Pearaja dirancang sedemikian agar kotbah dapat terdengar dengan baik (tanpa pengeras suara).

  3. manna on March 23, 2010 at 12:03 pm

    Amang Pdt. Ini lagi “salah satu” listing masalah di antara sekian masalah yang harus diselesaikan. Katakanlah ini masuk dalam perangkat keras. Namun selain itu penyampaian firman juga tergantung manusianya. Ini khusus penyampaian firman lho. Ada beberapa penyampai firman yang menganggap bahwa firman pasti sampai bila disuarakan dengan “teriak”. Dan, baru saja saya mengalami derita ini. Atau mungkin harus ditilik ulang kurikulum kependetaan mengenai cara menyampaikan firman? Yang saya maksud ok lah perangkat keras dibenahi. Usul Amang Pdt sangat cerdas. Mudah-mudahan dibaca semua petugas yang terkait, dan tidak hanya dibaca/know, mengerti juga know how, melakukan/show how. Jadi, tahun stewardship dan jubilium akan ada maknanya. Tapi saya skeptis, berapa persentile pencapaiannya? Atau kita bilang, Tuhan pasti mengerjakan untuk kita? Selamat berjuang, memasukkan upaya pembenahan secara institusional agar dipakai sebagai panduan, karena pasti banyak huria yang tidak atau belum mempunyai anggota/ruas HKBP yang berkompetensi.

  4. E.P. Nainggolan (Palembang) on March 23, 2010 at 1:23 pm

    Kayaknya ditempat kami di HKBP Palembang juga demikian. Sound-system yang ada tidak memuaskan, namun sudah lebih lumayanlah dari pada yang lama. Dan kayaknya pula sudah akan diganti lagi, karena sering ngadat. Lebih parah lagi di ruang serbaguna, sungguh amburadul. Bila sound-system di ruangan in sedang on, maka seluruh kompleks gereja akan keblinger, bahkan juga sampai ke tetangga.

    Sekarang sedang dikerjakan ruangan ibadah (permingguon) khusus untuk remaja. Semoga saja tentang penataan sound-system yang baik, ehh juga akustiknya seperti kata Pak DTA turut pula dipaketkan dengan pengerjaan ruangan.

    Daniel Harahap: saya tahu betul gereja pak nainggolan. Masalah di sana terutama di ruang serbaguna adalah akustik. Sudah lama suara berkelahi dan bertabrakan karena pintu kaca, plafon beton dan lantai keramik serta puluhan tiang. Solusi dilapis dengan acoustic board namun entah kenapa belasan tahun dipasombu. Menunggu mujizat? :)

  5. UTM. Nainggolan on March 23, 2010 at 1:28 pm

    Mungkin di HKBP perlu ada sebuah biro konsultasi pembangunan konstruksi fisik gereja yang boleh berperan dalam setiap pembangunan fisik gereja HKBP. Boleh juga biro itu mengeluarkan SK Ijin Prinsip Pembangunan Gereja (mis : Gambar bestek bangunan gereja harus di acc oleh biro tsb). Sehingga segala hal (bukan hanya masalah pengeras suara) menjadi pertimbangan dalam membangun gereja. Memang…misi Gereja pada hakikatnya adalah pembangunan rohani, namun bgmna bisa terbangun rohani kita, jika terganggu dengan hal-hal teknis, Para Pendeta juga seharusnya juga dibekali dengan dasar pengetahuan teknik konstruksi bukan hanya teologi. Sehingga bisa memberi saran-saran kepada Panitia Pembangunan, atau minimal dengan pengetahuan teknik tsb, Pendeta bisa melakukan sendiri renovasi-renovasi kecil di dalam gereja (disela-sela waktu senggangnya)……..ya…sekalian olahraga begitu…hahaha

  6. Jansen Sinamo on March 23, 2010 at 4:00 pm

    Tuani ma pola frustasi panditanta soal na sasada on. Anggiat ma orong-orong on marsaringar tu sude gareja HKBP di portibi on. Somalna, songon on do mula ni perubahan: ketidakpuasan adalah awal perubahan!

    Taringot au uju naposo (1984) gabe anggota panitia kebangunan rohani niuluhon ni Pdt. DR. Stephen Tong. Sehari sebelum acara dia turun ke lapangan memeriksa sendiri sound and accoustic system gedung Granada (sekarang Plaza Semanggi). Dia berdiri pada puluhan titik strategis di semua penjuru aula besar itu untuk merasakan sendiri dampak bunyi dari panggung, lalu memberikan masukan pada sound engineer yang menyertainya dan kami semua.

    Pdt Stephen Tong memang satu dari sedikit pengkotbah yang juga pemimpin paduan suara yang berkelas dan berselera tinggi soal musik.

    Menurutnya, kualitas suara tata bunyi dalam gereja yang didengar seseorang akan menentukan suasana batinnya, dan membantu dia untuk memutuskan bertobat atau tidak. Seperti diketahui, setiap kotbah Pdt Stephen selalu diakhiri dengan acara pertobatan: mengangkat tangan, maju ke depan panggung, lalu sama-sama mengucapkan doa pertobatan dan komitmen baru yang dipimpinnya sendiri.

    Kini adalah zaman multimedia: di banyak ruang seminar, training, terlebih di gedung gereja modern, suasana telah di-engineer sedemikian rupa sehingga 4 dari 5 pancaindera umat diperhatikan dengan seksama: lighting (visual), sound (verbal), temperatur dan ruang duduk (nyaman dan empuk), serta aroma (segar) berkonvergensi secara serasi dengan tema dan tujuan pertemuan.

    Gereja favorit saya adalah Lakewood Church, di Texas, yang digembalakan oleh Pdt Joel Osteen (penulis buku best seller Your Best Life Now), sebuah bekas stadion yang dibeli dan dirombak menjadi gereja akbar berkapasitas 30.000 tempat duduk, dengan state-of-the-art technology, konon berbiaya sekitar Rp1 trilyun.

    Bisa kita rasakan sample kotbahnya di http://www.youtube.com/watch?v=kgfSPVivjAU.

    Gereja-gereja kita rasanya terpisah sejauh satu tahun cahaya: OMG!

  7. Banjarnahor on March 23, 2010 at 4:22 pm

    Saya sependapat dengan Bapak UTM Nainggolan, perlu di kantor Pusat suatu biro perencanaan HKBP terutama untuk merencanakan bangunan bangunan seluruh HKBP, Baik Gereja, Gedung serba Guna dan bangunan bangunan lainnya. Sehingga di harapakan di kemudian hari seluruh bangunan Gereja HKBP tampak seragam. Kenyataan yang kita lihat sekarang ini Hanya namanya Gereja HKBP tetapi Bangunan Gerejanya sudah beraneka ragam sesuai dengan kehendak panitia pembangunan. saran saya untuk kemudian hari seluruh bangunan HKBP harus mempunyai ciri khas tersendiri (jangan hanya nama sama tetapi bangunannya beraneka ragam) yang akan di keluarkan oleh Biro Perencanaan HKBP yang dapat bekerja sama dengan Universitas Nomensen ataupun Universitas lainnya. Huria yang akan membangun Gereja tidak perlu repot repot untuk mencari Konsultan dan membayarnya mahal mahal Cukup konsultasi dengan biro Perencanaan pusat. Paling tidak ada pedoman dari kantor pusat bagaimana bentuk dan ciri khas bangunan HKBP di kemudian hari.

  8. Tohap HS on March 23, 2010 at 7:26 pm

    Syalom,
    Saya sangat tertarik membaca tentang Penataan Suara dalam Gereja. Kami HKBP Simpang Padang Duri, Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis sedang melaksanakan Pembangunan Gereja.kebetulan saya adalah Sekretaris Pembangunan Gereja dan Rumaah dinas HKBP Simp. Padang. Jadi Kepada Bapak, Ibu yg tahu tentang penataan tata suara dalam Gereja mohon bantuan penjelasan Berikut ini :
    1. Bagimana caranya Merancang Tata Suara dalam gereja biar enak didengar dan tdk ribut.
    2. Minta Tolong pada Bonagres, untuk dapat kiranya memberikan referensi tentang gaung suara…?

    Kalau boleh bisa kirim responnya ke email saya tohap_s@yahoo.com. Tuhan memberkati

  9. Daniel T.A. Harahap on March 23, 2010 at 7:40 pm

    Mendirikan Biro Perencanaan Pembangunan di Kantor Pusat adalah baik-baik saja. Namun langkah awal saya pikir adalah mengundang para teolog dan arsitek hkbp untuk bertemu dan menyusun semacam pedoman atau guideline pembangunan gereja. Bukan untuk penyeragaman dan sentralisasi melainkan memberi arahan agar tidak ngawur.

    Tentang foto2 gereja hkbp termasuk yang ngawur bisa dilihat di galeri ruma metmet ini.

  10. Friska pardede on March 23, 2010 at 9:20 pm

    Mimpi saya dan ketiga annakku bw suatu saat ada HKBP mempunyai pipe orgen ( sdh ada yg mampu membuatnya di Semarang) walau tdk akan semegah yg ada di greja2 peninggalan Belanda tidak akan pernah terwujud krn soal akuistik ini sebab rata2 soal akuistknya tdk pernah menjadi prioritas rata2 bangunannya yg penting mentereng ( ukurannya sekeliling greja di lapisi marmer yg sangat mahal)

    Untuk orgen pipa ( seperti di greaja yg memilikinya) separuh bangunan yg di dalam terbuat dari kayu, kebetulan Minggu lalu saya ibadah di GPIB Immanuel Gambir, bangunan yg sdh berusia 176 thn ini dgn orgel pipanya yg sangat besar dan kuno tetapi suaranya sangat terasa lembut demikian juga ketika pendetanya berkotbah.

    Mudah2an banyak umat yg membaca keprihatinan amang dan kita semua agar kedepannya hal ini diperhatikan, coba anda dengar di FB saya ( dari You tube sih) Ende no 232 ” Sian sude parulian ” diiringi pipe orgen.

  11. Sakti on March 24, 2010 at 7:31 am

    Persoalan akustik gereja kita bukanlah hal baru. Sebaiknya Pak Pdt. menyampaikan soal akustik ini (penunjang “bisnis satu2nya” HKBP?) dalam rapat/pertemuan pusat. Saya juga berharap agar gereja mau menemukan anggotanya yg berkompeten di bidang ini (saya yakin ada) dan menghargai (mendengar) kehadiran/keahlian mereka walau mereka bukan penatua.

    Lakewood Church di utara Houston, TX (seperti yg disampaikan oleh Pak Jansen Sinamo) memang mempunyai ruang dgn penataan suara yg baik sekali. Ruangnya besar dan di manapun kita duduk kita dapat menangkap suara dgn baik dan nyaman. Paduan suaranya ditempatkan sedemikian rupa sehingga kita dapat mendengar dinamika lagu dengan baik. Kapan ya HKBP punya penataan suara seperti itu? Separuhnya saja???

    Demikian juga dgn Pipe Organ yg dirindukan oleh Bu Friska dan juga banyak yg lain, alangkah indahnya jika bisa dimiliki sebuah gereja. Tapi memang akustik harus dibenahi dulu.

  12. Hotman Silalahi on March 24, 2010 at 8:13 am

    Masalah akustik ini hanya salah satu dari sekian banyak masalah di HKBP yang menunjukkan kurangnya minat para pendeta HKBP untuk melibatkan kalangan ruas professional.
    Kebanyakan para pendeta pejabat HKBP cenderung hanya mengandalkan para ‘bintang’ dan ‘pejabat’. Mudah-mudahan amang Pdt Daniel bisa melihat persoalan ini dan mencari solusinya (tentu untuk HKBP Serpong dulu).

    Daniel Harahap:
    HKBP Serpong (selama saya disini) tanggungjawab saya. Namun bukan baru kali saya riibut soal akustik. Silakan tanya: siapa yang mengerjakan treatment akustik HKBP Rawamangun (melapis gereja tersebut dengan kayu lapis berlubang yang diisi rockwool) sehingga sekarang suara kotbah di sana terdengar sangat bening? Kalau mereka tak lupa pasti nama saya salah satu disebut walau paling belakangan dan suara pelan. :-)

  13. Maria on March 24, 2010 at 8:15 am

    Semoga parhalado gereja yg Amang maksud membaca tulisan ini. Sebenarnya kami jemaat di gereja tsb sudah banyak yg mengajukan complain dan usulan mengenai masalah ini, tp kayaknya tdk mendapat tanggapan :-( Rasanya sia-sia marminggu krn khotbah yg disampaikan tdk pernah jelas terdengar…

    Daniel Harahap:
    :-)

  14. Ellys L Panjaitan on March 24, 2010 at 8:30 am

    Material soundproof ada bbrp macam di antaranya styrofoam, rockwool dan glasswool. Ada juga yang sistem pemasangannya disemprot (spray).Biasanya material soundproof jg berfungsi sebagai peredam panas. Lebih jelasnya bisa dicari di google kali ya. Pemasangan material soundproof adalah di dinding dan ceiling (selain menggunakan acoustic ceiling bisa juga dengan gypsum atau tripleks biasa yang dilapisi dengan insulasi). Kalau menggunakan jasa konsultan untuk tata suara gedung umumnya mereka juga akan mendesign insulasi untuk soundproofnya. Semoga bermanfaat.

  15. JP Manalu on March 24, 2010 at 3:25 pm

    Ah tahe dao na i hape “disparitas” (perbedaan) kebutuhan di akka gareja-gareja HKBP on ate…. mulai sian naung lobian anggaran (alana nunga sahat tu akustik dohot angka na hombar tu si di hatai fuang) sahat tu na naung 3 taon marminggu di pos pelayanan na maisolat di alaman (dohot emper) ni sahalak ina namabalu tong adong. Alai marsipasangapan hita di”keanekaragaman” i. Boha bahenon, i dope na boi tarbahen, jala na masa di huria i. Marsipasabarsabaran be ma hita, huhut sai lam tapasada be ma tangiangta.

    Daniel Harahap: akustik itu kebutuhan primer gereja sejak jaman purba. Bagaimanapun sederhananya gereja dan dimanapun letaknya kotbah harus dapat didengar dengan jernih dan bening. Masalahnya banyak gereja tidak perduli apakah kotbah terdengar jelas atau tidak. Padahal itulah satu2nya yang ditawarkan gereja.

  16. florasilaban on March 25, 2010 at 2:34 pm

    Pada Tahun 1985 saya pernah nonton pertandingan paduan suara di TIM Jakarta, menurut saya akustik di TIM sangat baik sehingga suara PS dapat didengar dengan baik ( mungkin ruangannya memang tidak terlalu besar).
    Semoga dengan membaca tulisan ini , dapat memberi masukan kepada pengurus gereja didalam memilih Sound System dan alat bantu lainnya agar apa yang dikotbahkan di Gereja dapat didengar dengan baik ,sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  17. Salngam on March 28, 2010 at 2:25 pm

    Pak Pendeta, Sayang pak pendeta tidakmenyebut nama gerejanya. Entah apa yang amang takutkan untuk tidak menyebut nama gerejanya.Mngkin ada saja pembaca situs bapak ini yang mau bermurah hati membantu gereja yang bersangkutan. Saya menjadi bingung khir-akhir ini. Biasanya orang Batak adalah berbudaya egalitarian. Mengkritikmembangun kayaknya sudah menjadi barang mahal.Atau orang Bataksudah begitu bebalnya tidak mau lagimendengarkan hal-hal baik walaupun tidak sesuai dengan keinginannnya. Sound engineering dan akustic engineering bukan lagi pekerjaan mahald an susah sekarang ini. Peace.

    Daniel Harahap:
    Setahu saya ada sejumlah gereja HKBP di Jabodetabek yang sangat parah akustiknya:
    1. Cengkareng
    2. Tangerang Kota
    4. Perumnas Tangerang
    5. Pulo Mas
    6. Mampang (?)
    7. Slipi (?)
    :-)

  18. Daoni JP Hutapea on March 29, 2010 at 9:33 am

    Untuk seluruh teman teman HKBP seluruh Indonesia…..
    Klo ada waktu saya coba meluangkan berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang PRO Audio.
    Ijinkan saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, karena ada pepatah “tak kenal maka tak sayang…?” Karena saya ingin disayangi maka saya memperkenalakan diri saya hehehehe….
    Tulisan saya mengenai Basic Pro Audio akan saya tuangkan disetiap kesempatan ditengah tengah kesibukan saya bekerja.
    Nama : Daoni JP Hutapea,SE
    Pendidikan akhir : SI STIE PERBANAS, Sekolah Audio LPDK (Lembaga Pendidikan David Klein)
    Pekerjaan : Product Specialist PT Bahanna (Distributor Pro Audio Equipment)

    Karena saya bekerja pada sebuah distributor, maka doakan saya agar saya tidak berjualan di web ini.Terimakasih.

    Dasar dasar yang harus diketahuoi tentang Basic Audio
    1. Frekuensi = Jumlah getaran yang terjadi dalam suatu satuan waktu tertentu.

    Contoh :
    20 Hertz = 20 getaran yang terjadi dalam 1 detik
    20.000Hertz/20kHz = 20.000 getaran yang terjadi dalam 1 detik.

    Ini bener bener harus dipahami oleh kita semua…..nanti semuanya akan ketemu, karena ini dasar banget….

    Lanjuuuut…..

    Aplikasi…. Speaker bergetar maju mundur 20 kali, ini berarti speaker tersebuat menghasilkan 20Hz
    bergetar 350 kali berarti mengeluarkan frekuensi 350Hz

    pada akhirnya getaran yang dihasilkan oleh speaker itu akan bereaksi di udara……atau menimbulkan reaksi….
    maka getaran yang bereaksi tersebut akan masuk ke gendang telinga manusia/kita….. hasilnya adalah…??????

    GENDANG TELINGA kita bergetar sesuai dengan jumlah getaran yang terjadi diudara…….
    Misal, mulut kita mengeluarkan frekuensi 440Hz maka gendang telinga kita akan bergetar sebanyak 440 kali, kemudian….. akan diproses oleh Otak manusia untuk direspon menjadi bunyi yang kita ketahui. misal salah satunya frekuensi 440Hz itu identik dengan bunyi nada A…..

    Mudah mudahan temen temen ngerti yah…. tolong nanti diprint aja dan dirangkum lagi okehhh…

    Nah trus ada istilah Harmonic Frekuensi, apaan tuh?
    Harmonic frekuensi adalah getaran yang mengikuti frekuensi dominant
    mis frek 440Hz tadi.

    Maka Harmonic frekuensi tadi akan membedakan antara Suara Saya dengan suara amang Pdt Daniel..
    atau contoh yang lain adalah……. Suara Nada A pada gitar Yamaha dengan Ibanez, yakin pasti beda.. atau yang lain lagi bunyi nada A pada terompet dan Gitar Piano pasti beda banget padahal sama sama mengasilkan Nada A..!!!

    Hal ini terjadi karena ada frekuensi yang mengikuti frekuensi dominat yang sudah terjadi.

    Demikian dahulu yang dapat saya sampaikan….

    Saya berharap teman teman ada yang membaca dan memberikan pertanyaan seputar frekuensi agar kita dapat lanjut lagi ke perkara yang lainnya….

    GET A BETTER SOUND…. Moto sekolah saya

    BETTER SOUND for HKBP….. nama FB yang akan saya / teman teman buat untuk membahas seputar Audio di Gereja HKBP, maupun pengalaman senior senior kita di bidang Pro Audio.

    Terimakasih, Tuhan memberkati.

    I.

  19. Daoni JP Hutapea on March 29, 2010 at 9:57 am

    Lanjut lagiiiii…..

    Saya banyak membaca tanggapan teman teman, saya ingin coba meluruskan sebelum dilanjutkan lagi dan ada kerjaan dari bos di kantor ini hehehehe… curi curi waktu untuk kebaikan dosa nggak yah hehehe….

    banyak teman teman yang membahas tentang accoustic.
    Saya akan coba menjabarkan syarat syarat accoustic yang baik

    1. Ruang tidak simetris
    2. tidak memiliki banyak reflector
    3. mempunyai absorber untuk mengurangi jumlah pantulan/reverb, mengurangi graound noaise dari luar maupun sebaliknya mengurangi SPL (sound presure Level)/ kekerasan suara dari dalam gereja keluar gereja. Alias tidak mengganggu masyarakat disekitarnya.

    Disamping itu masih banyak lagi syaratnya, misal :
    1.Placing/penempatan speaker yang tepat.
    2.Tuning Frekuensi yang flat, tentunya menggunakan analyzer supaya tepat alias tidak tebaktebakan
    3.penempatan control room(ruang operator) yang tepat sehingga operator dapatmenilai kualiatas suara yang didengarkan oleh jemaat dan dapat memantau kondisi mimbar disekitarnya dari kejauhan (biasanya di titik Hotspot/ titik paling baik untuk mendengarkan Audio. atau biasanya digunakan untuk tempat duduk 1, hanya 1 (satu) tamu VVIP.
    Jadi yang namanya Hotspot hanya untuk satu orang saja.
    Lantas banyak saya perhatikan banyak titik hotspot justru dibuang alis dikosongkan hahaha…..
    4. Ketrampilan enggineer dalam mengontrol dan mengatur kebutuhan frekuensi maupun tingkat kekerasan (SPL)
    5. barulah perangkat yang tepat, mau menggunakan speaker system 70volt (speaker kecil yang disebar) atau Loudspeaker gak banyak spekaer tapi tepat meletak-kannya.

    Thanks GOD

  20. Daoni JP Hutapea on March 31, 2010 at 9:27 am

    dB (Decibel).

    Sama dengan tingkat kekerasan/level/volume suara. Telinga Manusia yang normal dapat merespon tingkat kekerasan hingga 120dB. Kalau gak percaya kita bisa ketemuan dan saya kasih bunyi bunyian sebesar 120dB. Tentunya setelah diukur dengan sebuah alat yang namanya Analyzer.
    Idealnya manusia mampu mendengarkan 90dB sinyal yang konstan kurang lebih 8 jam, kalau ditambahkan kekerasannya sebesar 3dB (93dB) maka kemampuan mendengar telinga manusia normal akan berkurang 1/2nya menjadi 4jam saja.
    Begitu juga dengan penambahan kekuatan system. Jika kekuatan system di gereja kita 5000watt, maka kekerasan hanya akan bertambah sebesar 3dB apabila kekuatan system ditambah 5000watt lagi.

    Tenang duluuu….. santai saja… memang agak membingungkan.

    Misal ada speaker spl-nya 100dB dengan konsumsi daya 500watt
    Maka jika speaker tersebut ada 2, maka pertambahan kekerasanya hanya 3dB, alias dari 100dB menjadi 103dB
    nah klo gereja kita mau nambahin systemnya supaya lebih keras, maka berapa speaker lagi yang harus disiapkan…??
    Jawabnya adalah 2 buah speaker dengan spesifikasi yang sama lagi. Baru kekerasanya bertambah 3dB lagi menjadi 106dB

    3dB rules (hukum 3dB)
    ►Setiap kelipatan 2 kali power, maka kekerasan hanya akan bertambah 3dB.

    Selain hukum 3dB maka ada lagi hukum yang lain yaitu,

    6dB rules (hukum 2 dB)
    Setiap kelipatan 2 kali jarak, maka kekerasan akan berkurang sebesar 6dB.

    Jika Jemaat yang duduk 1 meter dari speaker mendengarkan kekerasan sebesar 110dB, maka jemaat yang berada pada jarak 2meter hanya akan mendengar sebesar 104dB.
    Pertanyaannya, pada area berapa meterkah jemaat mendengarkan kekerasan sebesar 98dB…??

    Jawabnya : “retem tapme”

    Udah sekian dulu.

    Intinya mudah mudahan kita tau cara meletakan speaker yang baik hingga mempunyai pengaruh pada waktu dan kemampuan mendengar jemaat, hingga Pesan yang disampaikan dari mimbar dapat disampaikan dengan baik kepada jemaat.

    Daniel Harahap:
    Terima kasih, terima kasih. kami mendapat pencerahan yang sangat berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*