Pelecehan di Rumah Tuhan

February 18, 2010
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Sekali lagi, saya tidak ingin membahas secara khusus kasus yang terjadi di Sekolah Bibelvrouw Laguboti  yang diliput oleh televisi dan membuat semua warga  jemaat maupun pelayan HKBP risih dan miris. Saya percaya Pimpinan gereja HKBP dan Rapat Pendeta HKBP se Distrik Toba akan mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan benar dan adil. Sebab itu kita tunggu dan doakan saja.

Namun di pihak lain, sebagaimana posting sebelumnya, saya juga tidak ingin hanya sekadar merasa malu, marah-marah dan mencak-mencak atas kasus pelecehan yang terjadi di awal tahun ini apalagi di waktu-waktu sebelumnya. Saya ingin kita melakukan sesuatu yang konkret untuk meminimalisasi atau mencegah sekuat tenaga pelecehan apalagi pemerkosaan dimana saja termasuk di rumah Tuhan ini. Tanpa bermaksud merendahkan penderitaan korban, meringankan masalah apalagi memberi pengampunan murah meriah, saya harus mengatakan bahwa pelecehan seksual  sesungguhnya bukanlah baru kali ini terjadi di likungan komunitas keagamaan. Berita media cetak maupun elektronik telah sering mengungkapkan kasus-kasus serupa di gereja dan agama lain bahkan yang lebih parah dibanding yang terjadi di sekolah HKBP kemarin.  Artinya semua manusia (beragama) memang pada dasarnya tidak kebal dari  penyimpangan juga penyalahgunaan wewenang demi pemuasan hasrat seksual.

Gereja HKBP (baca:Huria Kristen Batak Protestan) terkenal sangat menjunjung hukum Tuhan yang ketujuh: Jangan berzinah. Pelanggaran hukum ketujuh secara spesifik menikah di luar ketentuan gereja  atau hamil di luar pernikahan yang sah dihukum seberat-beratnya dengan pengucilan atau ekskomunikasi. Bahasa Bataknya: dipabali sian huria (dikeluarkan dari keangotaan gereja). Alasannya untuk memberi efek jera.  Lantas banyak warga gereja terutama orangtua sangat takut anaknya menikah tanpa sepengetahuan gereja apalagi hamil di luar menikah. Selain menasihatinya dengan keras agar tidak terjadi ada juga orangtua yang menyiasati kerasnya hukum gereja ini dengan diam-diam  memindahkan anaknya yang sudah hamil ke gereja lain, sehingga jauh dari jangkauan HKBP.

Sejalan dengan di atas, untuk mencegah penyimpangan seksual ini di banyak gereja HKBP sampai pertengahan tahun delapan puluhan masih dilakukan segregasi atau pemisahan ruang laki-laki dan perempuan. Walaupun tak sampai dibatasi tabir, namun tempat duduk laki-laki dan perempuan terpisah. Dan sampai sekarang kaum wanita dan kaum lelaki yang sudah menikah pun memiliki perkumpulan yang berbeda dan jarang sekali mengadakan kegiatan bersama. Kotbah-kotbah di HKBP juga dari dulu sampai sekarang acapkali menyoroti sikap kekudusan pernikahan dan seksualitas ini (tentunya sambil tak lupa menganggap perempuan sebagai biang keladi kemorosotan moral).  Banyak pendeta dan sintua  sampai sekarang selalu tampil “jaim” (jaga image), menjaga jarak saat berbicara dengan perempuan, merasa pantang berkendaraan berdua apalagi berboncengan dengan perempuan yang bukan muhrim atau pasangan hidupnya. Menonton film berdua? Oh itu namanya cari petaka.

Namun apakah HKBP lantas bebas dari kasus penyimpangan seksual? Apakah dengan bersikap jaim, membuat segregasi berdasar jenis kelamin, mengkotbahkan bahaya pakaian wanita yang ketat dan minim, telah menjamin gereja HKBP bebas dari pelecehan seksual? Tidak juga. Berita televisi kemarin dan heboh-heboh di tahun silam adalah buktinya. Bahkan berdasarkan penelitian saya saat menyusun thesis magister etika tahun 2000 awal saya berani menyimpulkan bahwa gereja HKBP justru cukup potensial mendorong terjadinya penyimpangan seksual yang salah satunya adalah pelecehan itu. Bagaimana mungkin? Mari saya jelaskan. Manghatai ma hita! :-)

Pertama: bahaya tabu seksual.

Sama seperti banyak budaya timur lainnya,  budaya Batak memandang seks sebagai tabu. Artinya: pantang atau tidak boleh dibicarakan secara terbuka dan formal. Walaupun seks itu sebenarnya dilakukan sehari-hari oleh orang-orang Batak dewasa dan menikah, namun tetap tidak boleh dibicarakan dalam forum resmi. Seks hanya boleh dibicarakan secara sembunyi-sembunyi, dalam lingkungan terbatas sesama jenis kelamin dan sederajad atau diantara teman sebaya. Tabu ini dipegang teguh pada jaman dahulu dan sebagian masih terasa sampai sekarang. Penelitian saya sewaktu menyusun thesis S2 tahun 2000 awal sebagian besar pendeta HKBP di Jakarta masih menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu. Contohnya: menyebutkan kata “pelacuran” dan “seks”  saja banyak pendeta HKBP yang masih sungkan sehingga selalu menggantinya dengan istilah lain yang  samar, misalnya “na masa-masa i” (yang sedang terjadi), ataupun Apalagi menyebutkan organ-organ tubuh alat reproduksi.

Menurut saya faktor tabu ini dapat menjadi salah satu pendorong yang sangat kuat bagi pelecehan termasuk dalam gereja. Berhubung tabu atau tidak pernah dibicarakan secara terbuka dan formal, maka banyak warga dan pelayan gereja Batak sesungguhnya tidak memiliki pemahaman dan penghayatan yang mendalam dan benar  tentang seks.

Itulah sebabnya salah satu rekomendasi dalam thesis yang saya susun agar lembaga-lembaga pendidikan teologi HKBP memasukkan etika seksual dalam kurikulumnya, sebagai langkah awal memberikan pendidikan seks yang baik dan benar kepada warga jemaat HKBP. Namun agar itu dapat dilakukan maka yang pertama-tama harus kita hapuskan adalah perasaan tabu itu sendiri. Seks boleh dan harus dibicarakan di forum-forum gereja kita. Hanya dengan demikianlah gereja dapat memberikan panduan dan pedoman kepada warganya dan juga pelayannya untuk memahami dan menghayati seks secara benar dan sehat.

Kedua: bahaya budaya patrinial yang sangat kental.

Suka tak suka gereja HKBP hidup di tengah-tengah masyarakat Batak yang sampai saat ini masih menganut sistem patrinial yang sangat kuat. Walaupun acap disanggah oleh para tokoh Batak, menurut saya  sulit dibantah bahwa budaya Batak memang sangat bersifat patrinial atau dominasi laki-laki. Perempuan dalam budaya Batak masih tetap saja diposisikan lebih rendah. Budaya maskulin ini jelas-jelas sangat potensial mendorong pelecehan baik secara tindakan apalagi menggunakan kata-kata khususnya terhadap perempuan.

Di suatu budaya yang cenderung menganggap perempuan hanya sebagai objek dan properti serta alat milik laki-laki, maka pelecehan terbuka seluas-luasnya. Dan berhubung korban (perempuan) dibungkam dan tidak diijinkan bicara ataupun kalau diijinkan berbicara namun kata-katanya tidak dipercaya dan disimak maka kasus-kasus pelecehan banyak sekali yang tidak terungkap ke permukaan apalagi terselesaikan.

Sebab itu menurut saya salah satu pekerjaan rumah (PR) HKBP  menjelang jubileum 150 tahun ini adalah membenahi hubungan laki-laki dan perempuan dikomunitas Kristen Batak agar lebih adil, setara dan seimbang. Secara sederhana saya hendak mengatakan: bahwa jika kita serius mencegah pelecehan maka kita harus mendorong perempuan berbicara dan tidak bisa hanya diam saja.

Dari para ahli psikologi kita tahu bahwa banyak korban pelecehan memilih untuk diam dan menyembunyikan erat-erat pelecehan apalagi pemerkosaan yang dialaminya sebab pelecehan itu dianggap aib atau noda bagi dirinya. Orang yang dilecehkan apalagi diperkosa dianggap dan menganggap dirinya aib, kotor dan hina sebab itu merasa sangat malu. Inilah yang harus kita benahi. Gereja harus tegas dan berulang-ulang mengatakan kepada anak-anak perempuan kita bahwa dia tidak perlu merasa malu jika dilecehkan termasuk jika yang melakukannya orang dekat, tokoh panutan atau pelayan gereja sekalipun. Korban pelecehan dan pemerkosaan sama sekali tidak kotor. Yang kotor dan jahat, merasa salah dan malu itu bukanlah korban melainkan pelakunya. Hanya dengan keberanian berbicara kaum perempuanlah kita dapat memperkecil tindak pelecehan ini termasuk pelecehan dengan kata-kata.

Ketiga: bahaya pemisahan tubuh dan jiwa.

Entah bagaimana asal-muasalnya, ada pemahaman teologi yang dianut di kalangan warga jemaat (dan juga pelayan) yang memisahkan secara ekstrim urusan tubuh (jasmani, kedagingan, pardagingon) dengan jiwa (rohani, kerohanian, partondian). Tubuh dianggap berasal dari dunia sementara jiwa dianggap berasal dari sorga dan keduanya dianggap tidak berhubungan atau tidak saling berkait.

Seks dianggap adalah urusan tubuh atau ragawi semata karena itu nilainya rendah. Bahkan hasrat seks cenderung dipahami sebagai dosa, berdekatan dengan dosa, atau dampak dari kejatuhan dalam dosa. Urusan seks itu tak ada hubungannya dengan iman atau Tuhan. Apa akibatnya? Banyak orang menganggap aktifitasnya menyangkut seks tidak perlu diterangi oleh firman Tuhan dan tidak perlu dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Tuhan, apalagi dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Menurut saya teologi pemisahan tubuh dan jiwa ini ikut menyumbang bagi penyimpangan seks termasuk pelecehan. Berhubung seks itu dipandang rendah apalagi hanya sekadar hasrat memuaskan raga maka tidak ada tuntutan untuk mengkritisi pemahaman dan penghayatan seks itu dalam terang firman Tuhan.

Bila kita membaca Alkitab dengan jernih dan seksama, para nabi dan Yesus sama sekali tidak memisahkan tubuh dan jiwa. Tuhan Allah menciptakan manusia bertubuh sekaligus berjiwa. Tak ada jiwa tanpa tubuh. Tak ada tubuh tanpa jiwa. Sejak awal Tuhan Allah menciptakan manusia berjenis kelamin dan berhasrat seksual. Seks manusia adalah ciptaan Tuhan dan bukan produk kejatuhan ke dalam dosa. Berhubung seks buah pikiran dan ciptaan Tuhan itu artinya seks itu baik dan indah. (Catatan: tidak ada yang jahat dan kotor di pikiran Tuhan). Selanjutnya karena seks itu baik dan indah maka kita harus menghayatinya dan menjaganya tetap baik dan indah juga, sesuai dengan maksud Tuhan. Disinilah kita memahami bahwa pelecehan dan pemerkosaan (secara halus atau kasar) tidak termasuk dalam seks yang dikehendaki Tuhan.

Namun Alkitab juga menyaksikan bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Artinya manusia potensial dan berbakat juga melakukan kejahatan, kesalahan dan kekeliruan termasuk dibidang seks. Pada dasarnya seks itu baik dan indah. Namun berhubung  semua manusia berdosa maka dia tidak sepenuhnya murni, sempurna dan kudus lagi termasuk dibidang seks. Dengan kata lain: dia juga bisa keliru, salah atau bahkan jahat secara seksual. Pemahaman ini mengajarkan kita bersikap kritis  termasuk dibidang seks kepada diri kita sendiri dan juga orang lain. Setiap orang karena itu perlu dibantu dan diteguhkan agar tidak melakukan penyimpangan seks. Salah satu cara membantu itu agar tidak terjadi penyimpangan itu misalnya dengan membuat semua ruang gereja terbuka dan dapat diamati dari luar. Hal lain: mengkritisi  praktek-praktek ibadah, meditasi, doa yang  bisa potensial melahirkan penyimpangan seksual.

Satu hal yang harus kita catat Alkitab  secara tegas menolak seks sebagai sarana mendekati Tuhan atau beribadah. Seks memang berasal dari Tuhan namun seks bukan jalan menuju Tuhan. Sebab itu jika ada praktek pengajaran, ibadah, meditasi atau doa yang memakai hasrat dan fantasi seksual harus diwaspadai dan segera dilaporkan kepada Majelis Gereja untuk dipelototi.

Keempat: bahaya kemutlakan otoritas pelayan rohani. Adagium lama dari Lord Acton mengatakan: power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Artinya: kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan, dan kekuasaan yang absolut mutlak akan disalahgunakan.  Itu juga berlaku di kalangan keagamaan termasuk gereja termasuk HKBP. Penyalahgunaaan kekuasaan itu bisa terjadi bukan hanya dalam hal keuangan melainkan juga seks.

Sebab itu dengan segala hormat kepada tahbisan gerejawi (tohonan) kita juga terpanggil untuk mengkritisi kekuasaan dan wewenang para pelayan gereja. Sebaik apapun pelayan gereja (pendeta, penatua, guru SM, pembina pemuda dll) dia tidak boleh memiliki wewenang yang terlalu besar atau hampir absolut. Jika kekuasaan dan wewenangnya terlalu besar, bebas dari pengawasan, kritik dan pertanggungjawaban maka itu sama saja memberinya keleluasaan untuk berbuat jahat termasuk dibidang seksualitas. Menurut saya sebagian kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pelayan gereja disebabkan oleh faktor ini.

Kita tahu para pendeta (di tempat lain dinamakan gembala sidang) dan pembimbing rohani (termasuk pemimpin persekutuan kampus) sangat dihormati dan cenderung dipandang sebagai hamba Tuhan dan orang kudus yang sangat jauh dari tindak tercela, dijadikan panutan dan acuan dan bahkan sumber moralitas. Para pelayan Tuhan ini bahkan acap dipercaya mutlak dimana kata-katanya ditelan tanpa lebih dulu dicerna apalagi diuji. Menurut saya inilah sumber petaka itu. Banyak orang lupa para pelayan Tuhan ini adalah manusia berdosa yang juga memiliki kecenderungan menyalahgunakan kekuasaannya apalagi ketika kekuasaan sungguh luar biasa besarnya.

Lantas bagaimana? Mari membatasi wewenang para pendeta, gembala sidang, penginjil, pemimpin rohani kampus dengan hukum, sistem organisasi, dan aturan. Jangan biarkan mereka menjadi  sumber dan penentu segala-segalanya. Jika tidak, siap-siaplah kecewa.

Kelima: bahaya melunturnya makna jabatan gerejawi.

Kependetaan bagi kita bukanlah profesi biasa namun suatu jabatan gerejawi atau dalam bahasa Batak disebut tohonan. Iman kita mengatakan jabatan gerejawi itu diterima dari Tuhan sebab itu kita pandang sangat mulia dan berharga. Lebih jauh kita percaya Tuhan sendirilah yang memanggil dan menetapkan orang-orang tertentu sebagai hamba-hamba dan pelayan-pelayan di gerejaNya untuk melakukan tugas-tugas yang kudus dan mulia itu.

Penghayatan akan betapa berharga dan mulianya jabatan gerejawi antara lain kependetaan itu membuat yang bersangkutan sangat berhati-hati dan menjaga dirinya agar tidak jatuh ke dalam dosa juga dibidang seksual.  Sebaliknya jabatan gerejawi itu tidak lagi dipandang berharga namun hanya sekadar alat cari nafkah dan lebih buruk pelarian, maka yang bersangkutan akan bertindak semberono atau semena-mena. Sang pendeta atau penatua tidak lagi merasa wajib menjaga tutur katanya, sikap hidup dan perilakunya sehari-hari, dan interaksinya dengan orang banyak. Alih-alih menjadi gembala yang menjaga domba-domba yang dipercayakan kepadanya maka bisa saja si pelayan gereja diam-diam atau terang-terangan menjadi serigala pemangsa.

Tantangan terbesar bagi gereja-gereja termasuk HKBP adalah mengembalikan makna jabatan gerejawi ini sebagai tahbisan, tugas suruhan, amanat yang dipercayakan oleh Tuhan yang mesti dijunjung dan dijaga sebaik-baiknya bukan hanya saat ibadah berlangsung melainkan juga sesudahnya atau dalam kehidupan sehari-hari. Para pendeta harus terus-menerus menyegarkan komitmennya bahwa dia dipanggil Tuhan menjadi gembala, pelayan, dan pemimpin. Sungguh suatu dosa besar jika dia malah menjadi perusak bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Sungguh suatu kejahatan yang keji dan mengundang kemurkaan Tuhan jika dia mengkhianati kepercayaan yang begitu tinggi yang diberikan jemaat, apalagi anak-anak dan remaja, kepadanya.

Saya sadar masih banyak lagi faktor-faktor yang mendorong terjadinya penyimpangan seksual termasuk pelecehan dalam gereja atau rumah Tuhan. Antara lain: lemahnya organisasi dan tumpulnya code of cunduct. Juga ketidakjelasan ajaran. Atau mungkin juga faktor sakit jiwa. Yang jelas Tuhan memanggil kita semua agar tetap siuman dan mencegah berbagai penyimpangan termasuk pelecehan di rumahNya dan di semua tempat.

Horas HKBP! Selamat ber-Tahun Penatalayanan. Selamat menyongsong Jubileum.

Serpong, Februari 2010

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman  depan:

Share on Facebook

26 Responses to Pelecehan di Rumah Tuhan

  1. Mula Harahap on February 16, 2010 at 1:57 am

    Minggu ini di media massa kita bisa membaca tentang seorang tokoh “olah-spiritual” lintas agama (Anand Krishna) yang juga sedang diadukan ke polisi atas tuduhan yang hampir sama dengan yang dialami oleh pendeta yang mengajar di sekolah Bibelvrow itu.Tapi sementara hal tersebut sedang ditangani oleh polisi, saya mau mengajak kita semua untuk melihat persoalan ini dari aspek yang lain.

    Saya melihat bahwa akhir-akhir ini ada gejala bahwa orang (terutama di perkotaan) pergi berbondong-bondong mengikuti kelas-kelas meditasi, yang kadang-kadang bukan saja diselenggarakan oleh otoritas agamanya, tapi juga diselenggarakan oleh otoritas agama lain, atau mereka yang menamakan dirinya sebagai “otoritas lintas agama”. Bahkan dalam banyak kasus, untuk mengikuti kelas meditasi yang tujuannya “membuat kita mengalami perjumpaan yang lebih intens dengan tuhan” itu, orang harus mengeluarkan uang yang sangat mahal.

    Ada kekosongan spiritual yang rupanya tak bisa dipenuhi oleh praktek dan ritus keagamaan yang biasa itu. Tata ibadah gereja kita itu rupanya kurang mampu untuk memberi dosis pengalaman spiritual yang dibutuhkan. Karena itu pergilah orang-orang yang “haus” itu mencari teknik-teknik dan guru yang lebih tepat. Walhasil terjadilah ekses sebagaimana yang dialami oleh mereka yang pergi belajar meditasi di ashram di Bali dan sekolah di Laguboti itu.

    Sementara itu, saya melihat di gereja-gereja kita mulai pula diperkenalkan ritus-ritus atau olah-spiritual yang baru, dan yang selama ini tak pernah kita kenal, misalnya meditasi komunitas Taize. Bahkan menjelang Paskah ini di banyak gereja saya juga melihat mulai dipraktekan upacara menyambut “Rabu Abu”, “Kamis Putih”. Dan semua itu sering membuat saya jadi bertanya, apakah ini memang sudah menjadi ajaran resmi gereja (HKBP, GPIB, GKI dsb) atau hanya merupakan eksperimen dari beberapa pendeta yang “progresif”. Kasus “belajar meditasi” di sekolah Bibelvrow itu pun sama saja halnya. Apakah itu memang sudah merupakan praktek atau ritus yang resmi diakui oleh HKBP. Ataukah itu hanya–lagi-lagi–masih merupakan eksperimen si pendeta yang juga adalah dosen itu?

    Saya pikir, sudah saatnya gereja-gereja Protestan kita yang “mainsteram” itu memikirkan kebutuhan orang modern perkotaan akan dosis pengalaman spiritual yang lebih intens tersebut, menemukan cara-cara pemenuhannya yang sesuai dengan teologi dan ajaran gereja, dan membakukannya menjadi sebuah ptaktek atau ritus yang resmi.

    Kalau gereja tidak memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mengalami banyak sekali kekacauan dalam kehidupan sipiritual jemaat, disamping ekses pelecehan seksual (terlepas dari apakah itu memang benar, atau hanya kesalah-pengertian dari mereka yang mengikuti meditasi) sebagaimana yang diuraikan di atas.

  2. Mula Harahap on February 16, 2010 at 2:06 am

    Saya tahu ada sebuah perusahaan besar di Jakarta ini yang mengeluarkan anggaran sampai ratusan juta rupiah demi mengirim para direksi, manajer dan karyawannya (tanpa memandang apa agama mereka masing-masing) untuk mengikuti kelas peningkatan “kecerdasan spiritual” yang sekarang memang sedang trend dan merupakan bisnis yang menarik di kota-kota besar Indonesia.

    Tapi saya juga melihat setelah para direksi, manajer dan karyawan itu mengikuti pelatihan tersebut, mereka tokh tidak menjadi lebih baik, lebih jujur, lebih berdisiplin, lebih kerja keras dsb. Mereka menangis dan bertobat (karena merasa sudah berjumpa dengan Tuhan) hanya pada saat sessi “olah-spiritual” itu saja. Selanjutnya yang terjadi tetap saja “business as usual”.

    Hal ini juga perlu menjadi perhatian gereja.

  3. JH Sinamo on February 16, 2010 at 6:21 am

    Ketika eros dan etika bertentangan secara superfisial, maka eros akan selalu menang.

    Tatanan etika dan hukum, tanpa eros, akan runtuh berkeping-keping. Kegagalan etika terjadi karena eros tidak menjiwainya, tidak menjadi rohnya. Tegasnya, etika yang tidak berakar teguh pada eros ilahi akan runtuh dan hancur berkeping-keping, karena bagaimanapun, bagaikan satelit yang secara abadi berada di bawah pengaruh gravitasi Bumi, jiwa manusia pun selalu merindu sangat berat pada eros, selamanya.

    Namun, jika etika kita dalami secara serius sampai ke hakikatnya, maka kita akan bertemu dengan eros yang menyala-nyala dan selanjutnya akan berfungsi menjadi energi dalam penghayatan dan ekspresi etika itu sendiri. Pada saat inilah etika menjadi etos. Etika tidak lagi hanya sekumpulan norma tertulis tetapi sudah menjadi praktik nyata dan alami. Etika tak lagi sekadar huruf-huruf yang tertulis di atas kertas, tetapi tertulis di hati kita. Pada saat itu pula etos menjadi ekspresi erotik dari diri ilahi kita. Maka agar etika bisa dahsyat dan berwibawa, ia harus merupakan pengejawantahan erotik dari diri ilahi kita, bukan berkontradiksi.

    Etika akan mati tanpa eros dan eros tidak bisa hidup tanpa etika. Karena kerinduan eros yang sejati sesungguhnya tertuju pada Tuhan maka kerinduan erotik adalah juga hasrat pada etika.

    Tuntutan Tuhan yang primer adalah perilaku etis, dan pada saat yang sama, ekspresi eros terpenting ialah belas kasihan dan kasih sayang terhadap orang lain, khususnya orang lemah, para miskin, janda-janda, dan anak yatim piatu.

    Jadi tujuan akhirnya adalah integrasi. Yang erotik dan yang etis harus menyatu-padu sebagai ekspresi total kemanusiaan. Eros harus diekspansikan ke wilayah etika bahkan ke seluruh wilayah kehidupan kita. Dengan demikian, kita dimungkinkan membangun suatu masyarakat yang dicirikan oleh keadilan yang erotik, kebenaran yang erotik, dan kebajikan yang erotik.

  4. Bonagres on February 16, 2010 at 7:23 am

    Intinya :
    Saya tidak ingin membicarakan keyakinan Agama lain.
    Saya hanya berpedoman kepada Kristus dan yang harus saya renungkan dan pikirkan dan bicarakan adalah jalan Kristus.
    Ketidak focusan terhadap Isi Alkitab yaitu dengan menerawang dan mengira – mengira isi Alkitab tanpa mau mempelajari secara arif dan bijaksana dapat berakibat lari dari isi Alkitab. Karena ALLAH dalam berfiran selalu dalam bentuk perumpamaan.
    Dan menurut saya, hal tersebutlah (meraba2 isi Alkitab atau menafsir-nafsir isi Alkitab sesuai dengan kebutuhan Jasmani) berakibat munculnya sifat – sifat egoisme manusia, baik itu secara emosional (tidak dapat mengendalikan diri, amarah, sirik, dengki, jinah, dan sebagainya).
    Dan sebagaimana budaya kita batak (similar dengan yang di sampaikan oleh amang Pdt DTA Harahap), bahwa hingga saat ini sangat condong menganggap wanita sebagai hanya pelengkap bagaikan hiasan semata, hal ini karena beberapa faktor :
    1. Otoriter (Ingkon hatangku) yang ditanamkan oleh raja-raja batak terdahulu masih tertanam dalam di sifat orang kita batak
    2. Menanggap bahwa Wanita yang di ciptakan dari tulang rusuk adalah hanya sebagian kecil dari apa yang ada di dalam tubuh. Dan tidak berfikir, bahwa tulang rusuk yang di ambil adalah pelindung jantung (coba di lihat di pelajaran anatomi).
    3. Tidak berfokus kepada ajaran Kristus yang senantiasa menghormati wanita dan menghargai wanita. Coba kita ingat ketika Tuhan Yesus menyembuhkan seorang wanita yang sakit pendarahan (sementara orang lain dan termasuk muridnya, tidak suka pada wanita tersebut).
    4. Terlalu tabu membicarakan hal – hal berbau sex di rumah tangga atau juga tabu membicarakan ketika anak – anak menceritakan teman wanita atau prianya.
    5. Terakhir. Manusia lupa dan tidak sadar bahwa waktunya sudah dekat dan kita berada di tengah – tengah serigala, yang justru membuat manusia itu berusaha keras menjadi serigala dan bukan Domba (yang selalu mengandalkan mujizad TUHAN).
    Semoga dengan adanya tahun penata layanan ini, umat Kristen L Khususnya Jemaat HKBP dapat lebih menyadari dan mengutamakan Mujizad ALLAH dan bukan mengandalkan pemikiran – pemikiran sendiri, dan lebih rindu untuk memberitakan Firman ALLAH dengan sebenar – benarnya (bukan meraba-raba/ menafsir secara sembarangan). Amin

  5. Andy Harahap on February 16, 2010 at 8:40 am

    Wueh.. pagi2 berat juga materinya niyy… :-) mantaps..!! karena belum punya kemampuan untuk menyumbang pikiran, jadi saya hanya bisa membuka hati dan pikiran untuk siap diisi.. lanjut..

  6. joviel on February 16, 2010 at 9:05 am

    Ketika terjadi hal-hal pelecehan seperti itu, memang salah satu kuncinya kembali kepada niat dan kesempatan. Sekitar 16 tahun yang lalu, saya dipercaya perusahaan sebagai HRD khusus untuk rekruitmen dimana perusahaan membutuhkan karyawan perempuan yang fresh cukup banyak sebagai pengganti adanya turn over yang tinggi dikarenakan jumlah karyawawati yang bekerja sampai ribuan orang. Usia calon karyawati maskimal 22 tahun artinya lebih diutamakan yang baru tamat SMA 18-19 tahun dan harus berpenampilan menarik. Enam bulan pertama saya masih kuat tidak tergoda dengan godaan setan yang menyesatkan.Tetapi di bulan berikutnya akhirnya tergoda juga untuk melakukan hal-hal yang memalukan itu..

    Setelah beberapa lama Tuhan menyadarkan saya kembali. Akhirnya saya minta posisi saya dimutasi untuk menghindari yang seperti ini. Kenapa saya bisa tergoda melakukan seperti itu? Karena ruangan saya dengan staf saya yang lain tertutup, disamping juga sebagian calon karyawati ada yang sengaja mengumbar (artinya memberi kesempatan). Hal ini menjadi pergumulan saya pada waktu itu. Saya merasa pada waktu itu ada dua kepribadian . Ketika di luar saya sadar, tetapi ketika ada menggoda dan kesempatan akan terjadi lagi. Akhirnya saya berusaha untuk lepas dan ternyata Tuhan membukakan jalan melalui pengajuan saya untuk mutasi ke bagian lain yang disetujui Pimpinan.

    Ada beberapa hal yang saya lihat dalam kejadian-kejadian seperti ini yaitu :
    1. Godaan setan pasti ada maka kuatkan benteng jangan biarkan ada kesempatan, kita ingat dengan mengikuti naluri seks kita akan merendahkan martabat maka gunakan Rasio.
    2. Kalau pernah terjatuh segeralah bertobat sebelum di permalukan oleh kelakuan kita , saya yakin kalau oknum pdt. tsb hanya melakukan kepada 10 orang atau mungkin hanya 18 orang dan bertobat atau minta pindah tidak akan terjadi seperti ini, atau bisa juga sampai melakukan yang ke 19 mungkin tidak ada rasa penyesalan..
    3. inteligensi, jabatan, bahkan nama baik belum tentu bisa jadi benteng malah bisa jadi alat untuk memudahkan melakukan hal yang kurang baik.
    4. Jangan terlalu lama seorang dalam pelayanannya segera mutasi sehingga tidak sempat ada kejenuhan yang justru menimbulkan ide ide yang nyeleneh.. jadi program mutasi di usahakan berjalan dengan baik, uangkapan yang mengatakan “Kebersamaan menimbulkan Cinta” baik itu cinta eros atau filia itu benar.

  7. A.K.P. Panggabean on February 16, 2010 at 11:49 am

    Unang ma hita sarombang dohot portibion……..

  8. hutapea on February 16, 2010 at 1:19 pm

    Sai anggiatma boi hita padengganton angka parohaonnta be asa gabe sitiruon hita tu keluarga jala tu nasa jumpangta.

  9. suprama Abdin Siburian on February 16, 2010 at 1:47 pm

    Inilah suatu Cambuk kepada orang Kristen Khususnya jadi untuk itu mari kita tingkatkan kwalitas Iman kita masing -masing dan saling menasihati satu sama lain.Adat batak sangatlah baik di pertahankan tarlumobi angka namariboto tarlumobi namarbao.onma dasarna untuk saling manjauh kan diri dari lawan jenis . memang sekarang karang ini terlalu gambang dan cepat mengitukti perkembangan zaman sehingga gampang pula terjerumus.

  10. Meb Situmorang on February 16, 2010 at 4:11 pm

    artikel yang berat ni…., ada yang bilang manusia itu dilahirkan dengan sikap-sikap kelangitan (yang baek2), tapi (anehnya) kita bertumbuh dengan kondisi/keadaan eksternal dimana sikap yg ga baek jg bertumbuh. untuk itula perlunya hukum, batasan-batasan prilaku (code of conduct) dan penegakan yang tegas kala terjadi pelanggaran, minimal orang mikir 2 x utk melakukan pelanggaran. terkait dengan pelecehan seksual barangkali harus dibagi dalam kelompok yang jelas dulu, minimal strata sosial dari pelaku, stuju skali perlunya pengenal seks dini kepada para ABG, biar mereka ga coba cari tau sendiri :) , tapi kalau pelakunya orang2 yang harusnya menjadi panutan masyarakat, simpel itu, di hukum!
    Horas7x!

  11. Nainggolan Prabu on February 16, 2010 at 4:56 pm

    Ungkapan klise namun perlu selalu direnungkan, bahwa kita hanya dan harus dapat mengambil hikmah dari kasus yg terjadi. Menyimak pemaparan Amang Pendeta, semakin jelas bahwa Para pemangku Jabatan Gerejawi di HKBP hrs lebih berkeringat lagi dalam Tahun Penatalayanan ini. Masih banyak ternyata yg hrs direformasi di dalam organisasi Gereja HKBP. Sebagai jemaat kami berharap sangat banyak terhadap para pelayan gereja, dan didik jugalah kami-kami agar juga bisa berharap secara wajar.

    Meminjam ungkapan para pemilik kompetensi, dan berkaca pada beberapa kasus seperti Cicak Vs Buaya, maka kitapun harus menjadikan kasus tsb sebagai momentum untuk secara serius/konsisten mengurai segala kekusutan dan menetapkan alternatif yg mujarab sebagai solusi yg operasional. Halodepun takkan mau usop (nyungsep) dalam lobang yg sama utk keduakali, kalau hal serupa masih terjadi lagi, maka Halode setingkat diatas “kita”.

    Dalam budaya maupun juga Adat Istiadat Batak, Perempuan selalu mendapat tempat yg terhormat, Boruni Raja. Tidak ada satu kalimatpun dalam bahasa Batak yg melecehkan Perempuan. Dan bukan kebiasaan sorang Batak yg tahu adat lalu melecehkan kaum perempuan. Semua lelaki Batak secara khusus dan umumnya Lelaki sedunia hrs tau diri, kita dilahirkan dari rahim seorang perempuan yg kita sebut, Ibu. Melecehkan perempuan adalah termasuk pelecehan kepada Ibunda kita, maka jika anda tidak menempatkan perempuan ditempat yg sangat terhormat, dan doyan melecehkan perempuan, nerakalah tempat anda.

    “Teriakan” Pdt dari Ruma Memet ini seharusnya di dengarkan oleh semua manusia HKBP dan hrs kita lakukan sesuatu sekecil apapun itu untuk mendukung perbaikan-perbaikan yg dipaparkan dan semuanya hal yg dipaparkan adalah yg kita harapkan. Tanpa kesadaran semua utk ikut serta berpartispasi, maka semua adalah pepesan kosong.

    Telinga Halode dan manusia berfungsi dan berjumlah sama, namun hati nurani dan budi pekerti yg mem Back Up telinga tersebut sungguh beda dan bentuk telinganyapun memang beda. Saya sangat yakin bahwa telinga para Pimpinan HKBP di Pearaja yg sangat saya hormati adalah telinga yg masih berfungsi, bisa mendengar dan memahami aspirasi jemaatnya lalu “berbuat” , bukan telinga yg “nengel” atau “Tukkihon”. Tks.

  12. Friska pardede on February 17, 2010 at 7:42 am

    Sejak 2 thn yl para pejabat di kantorku mengikuti pelatihan ESQ seperti cerita amang Mula dgn biaya yg sangat besar lalu akhirnya sampai juga kepara staff dan bulan yg lalu teman2 di bidang saya hampir semua ikut (yg ini khusus satu agama) semua membicarakannya bahwa mereka merasa sangat berdosa, sangat kecil dll krn sdh bertemu dgn Tuhan sampai2 tangisnya berdera derai saat itu, sebulan sdh berlalu malah kawan2 ini tetap saja ganas, begitu juga dgn para pejabatnya, lalu dalam hati bertanya apa gunanya….mending biasa2 biasa sajalah, yg penting jangan lupa selalu mampir ke ruma ini :)

    Andaikan semua pendeta HKBP membaca postingan amang pendeta ini dan banyak jemaat juga membacanya maka terciptalah greja yg benar2 greja dgn jemaat yg cerdas, masalahnya apakah akan saya kopi lagi topik ini dan saya bagikan di grejaku ya…!
    Sebab ada juga cerita2 di grejaku bw ada hubungan khusus antara br anu dgn amang anu ( peserta kor krn pulang latihan selalu berdua saja) begitu juga di greja lain ada cerita2 seperti ini

    Kadang2 memang suatu waktu kita pernah mengalami hal2 yg agak mengundang mis: ketika harus satu mobil dgn lawan jenis dan berdua saja, perjalanan agak jauh dan hujan pulak),sedang bertengkar pula dgn pasangan, atau harus tugas ke suatu daerah berhari2, utk menghandarinya langsung ingat wajah anak2 pasti sadar lagi.
    Dan sebelum memulai aktifitas kita usahakan berdoa dulu cukup dalam hati dan ringkas saja jamin…godaan sedahsyat apapun akan bisa kita hindari.

  13. JH Sinamo on February 17, 2010 at 8:40 am

    Jika pengalaman mengikuti ESQ, retret, atau partangiangan tak mampu menjinakkan ‘sibolis inside of us’ lantas adakah cara lain yang bisa jitu?

    Daniel Harahap:
    Ada. Lakukanlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Habiskan seluruh waktu, tenaga, dana untuk melakukan yang baik atau dikhendaki Tuhan, sehingga tak ada kesempatan sedikitpun bagi si iblis. :-)

  14. joviel on February 17, 2010 at 9:23 am

    Ya..kata kuncinya lakukan sebanyak-banyaknya kebaikan dan habiskan tenaga, waktu , dan dana untuk melakukan yang baik dan dikehendaki Tuhan. betul sekali amang DTA… khusus bagi yang sudah menikah jika kita sudah capek di kantor, habis tenaga untuk mengurus anak- anak, dan pekerjaan lain yang positif apakah ada kesempatan untuk hal negatif? untuk hal yang positif aja seperti ( melayani suami atau istri ) kadang kita harus mengatakan ” maaf lagi capek sekali nanti aja ya” karena energi manusia terbatas dalam satu hari tetap harus perlu istirahat untuk recharge.

    Sebaliknya sebelum berangkat ke luar rumah diharapkan segala sesuatu kebutuhan yang seharusnya di dapatkan di rumah harus di penuhi dulu sebab kelaparan bisa menimbulkan dosa jika suami , istri sudah kenyang dari rumah baik jiwa dan raganya mudah-mudahan tidak akan mencari makanan lain lagi di luar.

    Bagaimana dengan jika suami dan istri harus dipisah oleh jarak karena tugas, mari kita jaga kekudusan pernikahan kita masing-masing, kita habiskan energi kita ke hal-hal positif.

  15. florasilaban on February 17, 2010 at 1:51 pm

    Ampunilah kami ,seperti kami mengampuni kesalahan orang lain, semoga dengan kejadian ini ,kita saling mendoakan agar hal tersebut tidak terjadi lagi bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri.

  16. mebs on February 18, 2010 at 8:27 am

    kalau dalam tradisi china justru dikenal yin dan yang, energi positif dan negatif, dan dipercaya kita akan mendapatkan kehidupan yang baik bila bisa menyeimbangkan ke dua energi tersebut, barangkali bukan bagaimana agar sibolis inside us tidak keluar, tetapi bagaimana menyeimbangkan sibolis inside us dengan angel side.

  17. Juanto Sitorus on February 18, 2010 at 10:33 am

    Horas ma di hita saluhutna,

    Amang Pendeta dan semua pengunjung serta “ruas” Ruma Metmet, kasus pelecehan yang terjadi di Rumah Tuhan oleh pelayan Tuhan atau Pendeta adalah sedikit dari puncak gunung es masalah yang di hadapi oleh para pelayan atau namartohonan di lingkungan Gereja. Kalau dilihat lebih jauh kedalam gunung es masalah yang ada, kemungkinan ada banyak masalah yang di hadapi dan pernah di lakukan oleh para pelayan di Gereja, misalnya (sumber ini di ambil secara bebas dari website hasil pencarian dengan kata kunci “pelecehan oleh pendeta atau kasus pendeta atau kasus pelayan Tuhan”)
    1. Menipu Jemaat dengan mengumpulkan uang untuk kepentingan pribadi
    2. Mengatasnamakan Gereja untuk mengumpulkan sumbangan dari pihak luar
    3. Menikah ke dua kali dengan sesama pelayan (padahal sudah punya pasangan)
    4. Pelecahan seksual
    5. Melakukan hubungan sejenis (Homo, Lesbian)
    6. Melakukan kekerasan baik kepada sesama pelayan maupun kepada jemaat
    7. Menipu rekan bisnis (karena ternyata ada juga pendeta atau pelayan nyambi jadi pelaku bisnis)
    8. Memakai uang Gereja untuk kepentingan pribadi
    9. dan banyak lagi…… (silahkan terus di cari lewat search engine)

    Menurut saya masalah diatas bukan lagi masalah tetapi sudah menjadi dampak dari banyak akar masalah, sehingga kita harus berani melihat akar masalahnya di dalam system, untuk memberikan usulan perbaikan.

    Saya menduga ada system yang perlu di benahi di dalam:
    1. Rekrutmen calon pelayan atau calon pendeta, termasuk syarat masuk atau jadi Mahasiswa STT (Pendidikan, prestasi di sekolah sebelumnya, perilaku yang didapat dari hasil psikotest, TPA, test masuk lainnya untuk menjaring calon pelayan/pendeta)
    2. System dan kurikulum pendidikan di Sekolah calon pelayan/pendeta, harus sejalan dengan AP HKBP, misalnya jadi uluan atau semisal jadi Manager/manager Cabang/CEO, harus ada pendidikan dasar manajemen keuangan, manajemen konflik, manajemen kepemimpinan, manajemen strategic dan seterusnya
    3. Pedoman perilaku pelayan Tuhan atau semacam kode etik dan sanksinya
    4. Aturan Penempatan para pelayan Tuhan yang detail
    5. Pendidikan atau Pelatihan berkelanjutan untuk pengembangan kemampuan para pelayan Tuhan/Pendeta (bukan hanya sekolah formal seperti Doktor Theologi atau Master Theologi)
    6. Membuat system yang baku untuk perencanaan atau sasaran dan target yang harus di laksanakan oleh para pelayan Tuhan/Pendeta terutama Uluan serta Melakukan penilaian secara berkala terhadap hasil hasil yang dicapai, dan menerapkan system Reward and Punishment ala Pelayan Tuhan.

    Jika kita tidak memperbaiki hal hal dasar yang menjadi akar masalah maka niscaya kita akan selalu mendapati dan mendengar kasus yang sama akan terulang lagi, manang songon bahasa batak na mandok “molo sega dasor sega ma luhutan” kalau Pondasi rusak maka akan merusak seluruh bangunan diatasnya, atau seperti kata ayat Alkitab yang pernah saya dengar (Maaf saya ndak tahu tertulis dimana) …. Seperti mendirikan bangunan diatas pasir……

    Molo adong hata na sala jumolo iba marsantabi jala mangido maaf

    Mauliate

    Juanto Sitorus

  18. horas nababan on February 18, 2010 at 10:35 am

    Horas amang Pdt DTAH.
    Saya termasuk yang “beruntung” tidak sempat menyaksikan berita ttg kejadian di Sek Bvr.
    Adakah tim atau biro di Ktr Pusat HKBP yg “mendapat tugas” menampung dan merumuskan pemikiran yang dimunculkan orang yang perduli dengan masa depan HKBP. Supaya HKBP jangan seperti Protestan di Eropah Barat, gedung gereja hanya menjadi tujuan wisata.
    Pasti banyak tulisan-tesis program master/doktoral sekolah Alkitab yang bermanfaat untuk masa depan kemanusiaan/gereja dari sisi iman maupun keorganisasian gereja.

  19. Nainggolan Prabu on February 18, 2010 at 11:56 am

    Sebagai Jemaat HKBP hampir setiap hari minggu ikut ESQ dalam bentuk Khotbah oleh Pendeta, terkadang dari Guru Huria, disebuah Gereja yg berbentuk Sopo-sopo ditengah kebon karet desa dan setiap hari di Ruma Metmet. Dan baca firman Tuhan sekalipun sikit-sikit.

    Mungkin agak diluar Tema, dan agak Rarat, ada yg ngin saya ungkapkan. Saya ungkapkan di sini karena dalam Tema sebelumnya ttg persyaratan yg 14 dari Rasul Timotius, kesan ini belum terasa.

    Ada satu kesan yg membuat hati sedikit agak sedih, terkait tema minggu kemaren (tgl 14 -02-2010), tentang sosok yg ideal Pelayan dan Pemangku Jabatan Gerejawi. Malam sebelumnyapun (mlm Jumat) saya ikut partangiangan Wik, tema itu juga menjadi renungan yg disampaikan Sintua.

    Seorang teman Jemaat yg juga ikut dalam partangiangan tsb keberulan kegiatan sehari-harinya adalah pengusaha Lapo dan rajin beribadah minggu. Dalam lapo sudah pasti ada Tuak dgn segala pasangannya yg tak terpisahkan itu . Dalam Bibel memang disebutkan selayaknya seorang Sintua idealnya bukan si “Sobur Tuak”. Makna kata si Sobur Tuak dalam ayat itu bisa jadi dimaknai bhw Tuak disobur secara tak terkendali dan ujungnya pasti tenggen. Kenyataan dilapangan (Lapo Tuak) tidak selamanya seperti itu.

    Minggu tgl 14 -pebruari 2010 kawan itu tidak datang kebaktiandan yg saya sedihkan adalah (hanya menduga) mungkinkah kawan jemaat itu mengalami deraan dlm pergulatan batin?. Mudah2an tidak.

    Saya yg kebetulan sangat ngefans dg Tuak, dan bukan utk pembelaan diri, saya memahami “ayat” tsb, bhw tak salah minum Tuak asalkan jangan sampai Tuahon (Tenggen= Telerrr), apalagi sampai Martugarang di balatuk ni jabu ditingki namulak sian Lapo. Sekalipun “agak takut” ingin mengatakan bahwa mungkin tidak salah kalau ada jemaat HKBP yg Pengusaha Lapo Tuak, karena disatu sisi ada yg ngefans , sisi satunya lagi, tuak adalah minuman tradisional khas Batak Toba, lain dari yg berlain-lain, dan konon bisa juga dijadikan obat.(?)

    Untuk sekedar membantu mengurangi kemungkinan ada semacam deraan dalam pergulatan batin, mungkin ada baiknya setiap Pengusaha Lapo Tuak yg kebetulan Jemaat HKBP, meniru cara perusahaan rokok yg menuliskan peringatan pada bungkus rokok produknya. Karena Tuak ini belum dijual massal dalam kemasan, maka peringatan bisa dituliskan di dalam Lapo Tuak, mis. “Minum Tuak baik bagi kesehatan, Asalkan jangan sampai telerr”. kalau ingin ikut bertarung dalam era globalisasi ini, ada baiknya minuman Tuak dalam kemasan perlu dipikirkan dan yakin pasti sangat mendatangkan profit yg lumayan, selanjutnya sudah tentu ada lapangan kerja baru. Tks.

  20. A.K.P. Panggabean on February 18, 2010 at 4:58 pm

    Janganlah kamu serupa dengan dunia ini.

    @ Nainggolan Prabu: Yg dibutuhkan adalah tindakan nyata, bukan slogan semata. Kalau dimulut kita menghargai wanita, di tindakan nyata kita pun harus menghargai wanita. Jadi, bukti nyata yang perlu, bukan slogan semata.

    Daniel Harahap:
    Saya pikir kesatuan kata dan tindak itu berlaku untuk semua: Lae Karta, Lae Nainggolan juga saya.

  21. Meb Situmorang on February 19, 2010 at 11:20 am

    tuak dalam kemasan?? hmmmm… :)

  22. pargoccy on February 21, 2010 at 12:50 pm

    Iya,iya. Hari ini kita masih bicara sex minus.Padahal kejadiannya sejak taman Eden. Selama ini apa saja yang kita bicarakan dinamargurumalua, dipartangiangan, , disermon sittua,di lingkungan kampus Nomensen, diseminar sinode?.
    Ini pertanda bahwa kita tidak mengerti tentang sex positif, yang adalah pemberian Allah. Tak seorangpun kebal terhadap ketertarikan kepada lawan jenis. Tulang rusuk yang satu itu spt ingin kembali keasalnya.
    Mari kendalikan ketertarikan itu, sesuai ajaran Allah. Dia ingin kita (laki2) sempurana, tidak sendirian sesuai penciptaannya di taman Eden.

  23. Daniel on February 28, 2010 at 2:18 am

    Saya tertarik dengan pernyataan Amang:
    “Pelanggaran hukum ketujuh secara spesifik menikah di luar ketentuan gereja atau hamil di luar pernikahan yang sah dihukum seberat-beratnya dengan pengucilan atau ekskomunikasi. Bahasa Bataknya: dipabali sian huria (dikeluarkan dari keangotaan gereja). Alasannya untuk memberi efek jera.”

    Pertanyaan saya adalah bagaimana mereka yang terkena sanksi ini dapat berdamai kembali dengan Gereja? Tindakan disipliner keras semacam ini, menurut saya harusnya juga memiliki efek penyembuhan (mendorong keras mereka yang terkena sanksi agar bertobat), dan artikelnya belum menyinggung soal ini. Mungkin ini penting diperhatikan karena berkaitan dengan penangan pastoral bagi mereka yang melakukan pelecehan dan menjadi korbannya dan yang terkena sanksi gerejani (apa mereka dibiarkan di luar jemaat begitu saja?).

  24. anry on April 19, 2010 at 7:45 pm

    Bangkit HKBP ku..mari kita suarakan suara kebenaran…..Karena Allah dipihak kita….Stop penindasan pada kaum perempuan….Kita bergandeng tangan membangun tubuh Kristus yang bersih…

  25. Nova Hutahaean on June 11, 2011 at 8:00 pm

    JANGAN MENYERAH…
    TTp yaKiN & PERCyA Z,,,

  26. Nova Hutahaean on June 11, 2011 at 8:05 pm

    TuhaN PAsTi sanggup,,,
    HKBP sanggup..
    amien. . . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*