Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Minggu kemarin 7 Februari 2010, di gereja HKBP Martoba Pematang Siantar, Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Bonar Napitupulu secara resmi mencanangkan Tahun 2010 sebagai Tahun Penatalayanan (Taon Hajuarabagason) HKBP, yang sebelumnya sempat direncanakan sebagai Tahun Sekretariat. Saya sendiri, karena harus melayani sakramen baptisan kudus di Serpong, hanya bisa hadir pada acara pembinaan di hari Sabtunya di tempat yang sama. Tema Tahun Penatalayanan ini adalah Menuju Gereja Yang Rapi Tersusun (Efesus 4:16) dan subtema: HKBP menyambut Jubileum 150 Tahun dengan menata diri menjadi gereja yang sungguh-sungguh bersih, teratur, transparan, partisipatif dan akuntabel.
Menurut saya, pesan Tahun Penatalayanan (bahasa Bataknya: Taon Hajuarabagason) ini agar lebih mudah kita pahami dan lakukan kita sederhanakan saja: mari menyapu dan mengepel HKBP. Ya, sekali lagi: mari membersihkan, membereskan dan menata ulang HKBP. Agar kita tidak terjebak hanya dalam retorika, atau “holan hata” saja, mari kita artikan pesan itu secara hurufiah: ayo menyapu dan mengepel gereja kita. Sebab bagaimana mungkin kita sanggup membersihkan hati anggota jemaat jika ruang ibadah kita saja saban minggu, apalagi halaman dan toiletnya begitu jorok? Jika sampah yang kelihatan saja tidak bisa kita bereskan apalagi kotoran dan pikiran dan hati.
Bila kita baca subtema Tahun Penatalayanan maka salah satu tekad kita adalah menjadikan HKBP sebagai gereja yang sungguh-sungguh bersih. Dengan kalimat negasi: jauh dari kesan jorok atau kotor. Sebab itu menurut saya keberhasilan atau kegagalan Tahun Penatalayanan ini sangat mudah dibuktikan kelak. Jika di akhir tahun 2010 gereja HKBP masih jorok (ruang ibadah, konsistori, gedung pertemuan, ruang SM, halaman apalagi toiletnya) itu artinya Tahun Penatalayanan ini gagal. Sebaliknya jika bisa bersih dan sungguh-sungguh bersih maka itu artinya kita berhasil dan bisa berharap banyak.
Itulah sebabnya sebelum keluar teguran dari Praeses atau Pimpinan Pusat, saya buru-buru meminta Parhalado Parartaon kami membeli banyak-banyak tempat sampah (rupanya harganya lumayan mahal) dan meletakkannya di halaman. Alasan saya: supaya kelak tidak ada orang yang bisa berdalih membuang sampah sembarangan karena tempatnya tidak ada. Namun saya sadar, meletakkan tempat sampah saja tidak cukup. Jangan-jangan nanti kotak sampah itu tetap bersih sementara di sekitarnya justru penuh sampah. Sebab itu mungkin kami harus membuat stiker penyadaran. Jagalah Kebersihan? Ah itu sudah terlalu biasa. Saya terpikir kalimatnya mungkin harus sedikit provokatif dan kalau perlu dalam bahasa Batak untuk menyentuh langsung sanubari jemaat: Pasomal-somal ma marhaiason. Paias garejam paias dirim paias roham. Haiason tanda haporseaon. Tinggalhon ma bilut on dibagasan haiason!
Sebagai seorang pendeta yang hobi memotret, saya sebenarnya sudah agak hapal jenis sampah di gereja HKBP. Yang paling banyak adalah: sisa kertas acara dan warta jemaat. Entah kenapa anggota banyak jemaat HKBP ini sampai sekarang enggan membawa pulang kertas acara, warta jemaat dan laporan keuangan itu ke rumahnya. Menganggapnya tidak berguna? Entahlah. Sampah lain yang banyak adalah bungkus plastik makanan kemasan (permen, jenis-jenis makanan anak-anak, aqua gelas) dan puntung rokok. Bila kebetulan ada pertemuan atau rapat: bungkus lepat (lampet) dan tumpahan kopi. Urusan Tahun Penatalayanan ini tidak usah dibuat rumit: pertama dan terutama bereskan dulu sampah-sampah gereja itu.
Tidak menyombong, sebenarnya gereja kami di Serpong sudah cukup bersih. Kalau tidak percaya, datang dan lihatlah sendiri. Apalagi sejak kami memutuskan bahwa gedung gereja dan sekolah minggu tidak boleh dipakai untuk kegiatan besar pada sabtu malam. Namun kebersihan itu masih bisa ditingkatkan lagi. Sebab itulah Panitia Pembangunan kami menetapkan merenovasi toilet gereja sebagai prioritas pertama di tahun penatalayanan ini. Saya bermimpi dua bulan lagi kami sudah memiliki toilet yang benar-benar nyaman dan sekelas dengan toilet hotel bintang
Dan saya yakin banyak anggota jemaat dengan sukacita akan mendukungnya. Pokoknya toilet itu harus bisa selalu tersedia dalam keadaan bersih, segar dan sehat. Air dan udara harus mengalir dan cahaya matahari harus bisa masuk. Bagaimana caranya itu urusan ahlinya. Terus terang, saya tidak mau suatu saat ada yang mengatakan kepada pendeta HKBP: toilet gereja saja tidak mampu kalian benahi apalagi iman jemaat!
Jika kita sudah berhasil menciptakan kebersihan fisik gereja sebagai keharusan, budaya dan nilai, dan sebagian dari iman, marilah kita membersihkan bagian-bagian lain dari gereja HKBP itu, misalnya keuangan dan program. Tentang hal ini besoklah saya ceritakan.
Terakhir saya mau mengatakan: HKBP ini tidak bisa dibersihkan hanya dengan kata-kata, apalagi dengan recok-recok. Ayo ambil sapu dan kain pel. Bersihkan gereja Anda sekarang juga. Dan pastikan besok dan lusa dan kapan saja gereja Saudara selalu terdapat dalam keadaan bersih. Dan itulah bukti Saudara dan saya memang benar pelayan Tuhan.
Selamat menyambut Tahun Rahmat Tuhan!
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Senyum2 saya membaca tulisan amang ini sambil membayangkan toilet minimal yg ada di hotel bintang empat itu bisa2 jemaat yg kebelet buru2 datang kegereja utk membuang hajatnya di toilet yg sangat nyaman itu
Ingin juga saya menyuarakannya di greja kami, masih saya pikir2 bagaimana caranya (bersih2 dlm arti yg sesungguhnya) kalau bersih2 bagian lainnya tentu saya ga ada haklah.
Almarhum ompung boruku sering mengatakan pada kami keturunannya kalau dia menemukan kamar mandi dan dapur yg agak kotor : berbedak tapi tak cebok (hebat ya ompungku bisa menemukan kalimat tsb) .
Perumpamaan tsb cocok juga dikatakan apabila jemaat HKBP setiap ibadah Minggiu necis2 dan keren2 tapi toiletnya amburadul.
Daniel Harahap:
HKBP berbedak tapi tak cebok? Hahahahahaha.
Mari membangun budaya bersih dan rapi sbg salah satu perwujudan iman. Dari atas dan dari bawah, sama2 membuka diri utk kebersihan.
Saya teringat dulu ketika msh menjadi GSM di gereja saya. Saya sangat tdk sepakat dgn pendapat bhw GSM hrs membersihkan (menyapu) ruang SM sebelum mengajar SM pd Minggu pagi. Ya ampun, kotornya bukan main, seperti tdk dibersihkan selama sebulan lebih. Saya tidak sepakat krn seharusnya seorang GSM hrs memusatkan pikiran dan tenaganya pd Minggu pagi itu utk mengajar bukan utk menyapu. Jiwa dan raganya hrs dia curahkan utk proses pengajaran.
Beberapa kali saya usulkan kepada parhalado huria lewat surat dan rapat spy ada manajemen pembersihan ruang kelas. Karena merasa tdk mendapat tanggapan yg berarti saya mengambil sikap dgn membayar orang utk pembersihan ruang. Dari mana uang utk membayarnya? Saya kumpulkan dari orangtua ASM yg saya kenal.
Kemudian saya ditegor oleh seorang pendeta setelah hal itu terungkap tdk lama kemudian. Beliau minta hal itu dihentikan krn huria hanya mengenal satu manajemen. O, begitu rupanya (?). Saya tdk boleh “mengutip” uang dari anggota.
Kemudian ruang tempat saya mengajar SM, sebuah ruang pertemuan yg tdk tepat sbg ruang kelas, lumayan bersih selama beberapa kali pertemuan. Sayangnya hanya ruang itu saja yg bersih, msh ada 3 ruang lainnya yg tetap kotor. Kemudian krn lupa atau apalah kembali ruang itu kotor. Manajemen apa pulak ini? O, HKBP-ku…
Saya ingat sejumlah standar kebersihan:
– Di kompleks Disneyland tak sepotong sampah pun boleh nongol. Kalau kebetulan jumpa, siapapun termasuk sang CEO, tak boleh merasa gengsi, melainkan harus segera bertindak: pungut sampah itu dan masukkan ke bak sampah!
– Ke kamar taruna AKABRI inspektur bisa sidak sewaktu-waktu. Sesudah menjilat ujung telunjuknya ia lalu ngelap daerah tertentu yang dicurigainya dengan ujung jari basah itu. Bila jarinya ternyata berdebu, si Taruna harus push-up!
– Etos Jepang (kata banyak orang adalah negeri paling bersih di dunia) mengerucut menjadi kebiasaan 5R (rapi, resik, rawat, ringkas, rajin) menjadi pelatihan dasar bagi semua karyawan perusahaan asal Jepang.
Alangkah jauhnya perjalanan yang hendak ditempuh HKBP mengingat gereja ini adalah pengemban utama ayat: Sebab itu hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.
Daniel Harahap:
Saya serius ingin mengusulkan tugas pendeta termasuk: mengecek apakah ruang ibadah dan toilet gereja baik untuk dewasa dan anak-anak selalu dalam keadaan bersih.
Banyak dari kita lupa bahwa gereja adalah Rumah Tuhan, sehingga banyak pula dari kita yg tidak risih melihat sampah yg rame di lingkungan Gereja. Saya kalau pas ngemil Bonbon (permen) di dalam gereja maka bungkusnya saya masukkan dalam kantong baju, dan buangnya di tong sampah di rumah begitu juga karcis Tol. Saya berusaha tidak tergoda dg orang lain tanpa malu melempar karcis di gerbang Tol. Saya selalu berusaha sekuat tenaga pake 3M, utamanya “Mulai” dari hal yg kecil, karena langkah kecil yg sukses akan menuntun untuk meraih sukses dalam langkah yg agak besar.
Kalaupun hrs dibuat tulisan, maka sebaiknya pakai bahasa Indonesia agar anak-anak sekolah minggu juga bisa memahaminya. Cara lain yg tak kalah penting adalah bahwa semua yg diungkapkan Pendeta tersebut hrs juga dikumandangkan dari Langgatan. Kalau perlu dengan cara yang “TULLOM”.
Penting untuk kita sadari adalah bahwa kita membersihkan Gereja, bukan karena akan ada penilaian dari struktur yg lebih tinggi, melainkan kita hrs menjadikannya sebagai bagian dari kesadaran dan sukur bisa menjadi tradisi kita. Ini titik yg paling sulit, tapi bukan tidak bisa.
Suksesnya “proyek” Pendeta ini akan sangat tergantung dengan sikap dan gaya kepemimpinan yg ada di dalam gereja. Sebagai contoh, Para Pendeta perokok berat, usahakanlah agar tidak merokok dilingkungan Gereja saat ada anak2 sekolah minggu dan remaja.
Daniel Harahap:
Ya pendeta janganlah jadi perokok apalagi perokok berat.
“Tertib, berbudaya dan ceria.”
Jadi ingat ende kita dahulu mula pertama jadi warga cilik HKBP: Metmet ahu on, baen ias rohangkon; Sasada ho Jesus donganku tongtong:
– ias rohanta, pikkiranta
– ias pamatangta, paheanta
– ias bagasta songoni nang joronta
– ias artanta, halal pansamontanta, ndang margulu korupsi
– ias data, informasi, laporan, ro di buku parhuriaonta
Molo nunga songoni: mekkel suping ma akka pardisurgo
Di gareja, jotjotan do ahu mambahen longang otik angka jolma jala sipata gabe si parengkelan, i ma ala jotjotan do hupapungu angka galas naung sae dipangke (di tingki parsermonan), galas palastik aek siinumon, harotas panuratan, nang langkat ni lampet manang siallangan na asing. “Eee … loja nai hamu amang, ai adong do kosterta”, ninna deba. Suang songon i molo pamatehon lampu dohot AC dung sae marrapot, jotjotan adong na mandok, “Amang, sadia ma na boi ni hemat listerik i. Angka pengeluaran na asing ma pingkiri hamu asa boi lam tu dengganna hurianta on”. Toho do deba na didok ni angka dongan i, alai ahu marpingkir: sian na gelleng dohot sian na otik do asa boi mulaon angka na godang dohot na balga.
Nunga husangkapi naeng manumbang manang na piga tong sampah. Na hot ditanom di tano, asa unang ditangko halak (songon sidalian ni angka dongan laho manundati patupahon tong sampah: “Molo denggan bahenon, gabe ditangko halak do, amang …”). Jala sadanari na mar-roda asa boi diboan koster manghaliangi gareja.
Denggan do ias jala uli pargodungan, ala bagas ni Debata do i. Dumengganan do muse molo dohot roha nang pingkiran ias. Jala dimulai ma sian angka uluan nang pargomgom, asa adong si tiruon ni angka dongan ruas.
Horas jala gabe! Tapadenggan jala tapaias ma dirinta be, jala tatangiangkon angka panggomgom asa dohot ias roha nang pingkiran nasida pe!
Uluan dan Parhalado memberi contoh kpd Jemaat, a.l.
Jangan membuang sampah sembarangan
Jangan merokok di dalam gereja,
Jangan minum kopi/makan di dalam gereja dll.
Apabila ada jemaat yg kedapatan membuang sampah, merokok dll di dalam gereja….agar dgn sopan dihimbau untuk tdk mengulanginya lagi.
Pada dasarnya org Indonesia masih gampang diatur,
buktinya setiap penumpang Indonesia yg mendarat di Changi Airport, baik yg transit maupun berkunjung ke Singapura, begitu sopannya….tdk ada yg merokok dan buang sampah sembarangan.
Semoga di Gereja juga demikian..
Sungguh aku terkesima dan salut atas tulisan amang Pendeta ini, suatu gagasan yg cukup baik untuk mewujudkan tahun Penatalayanan huria, memang benar tanpa disadari jemaat kurang menghargai rumah Tuhan yg maha kudus itu, dimana rumah kita sendiri dibersihkan sebersih mungkin namun untuk kebersihan rumah Tuhan kadang kita tidak memperdulikannya. saya akan memulai dari diri saya sendiri untuk ikut andil dalam kebersihan rumah Tuhan meskipun itu dari sikap sederhana memungut kertas2/sampah diruang gerja maupun halaman karena kebersihan itu adalah bagian dari ibadah, Tuhan memberkati kita.
Kata Pdt. Baner Siburian, MTh pada Minggu, 7 Februari 2010 saat berkotbah, beliau mengutip pernyataan Eporus Justin Sihombing, “Molo rambaon gareja, na ramba on do ruas ni i”.
Saatnya para parhalado mendapat training 5R
Sebenarnya kebersihan gereja dan lainnya harus diprioritaskan oleh majelis ,misalnya gaji pembersih gereja dll ditingkatkan sehingga mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Yang ikut membuat kotor adalah jemaat yang sering seenaknya saja membuang sampah di gereja, mungkin hal ini bisa terjadi karena kita tidak menganggap bahwa gereja adalah bait Allah.
BTW, saya baca di Media Indonesia ada 2 gereja HKBP di Bekasi yang ditutup karena belum ada izin, mohon dido’akan agar jemaat dan majelis disana diberi kekuatan menghadapi tantangan ini.Amin
Saya sependapat dengan yang dikatakan Amang DTA, kami jadi ingat saat kami tugas sebagai satuan kerja audit internal satu bank nasional beberapa tahun lampau, boss saya yang orang asing, salah satu instruksinya ke tim jika mau periksa cabang, cek dan amati dulu kamar mandi/toilet cabang tersebut. Menurut beliau, jika itu bersih dan tertata rapi seperti standar hotel bintang ****, maka indikasi pertama bahwa si pimpinan cabang adalah orang yang menjalankan tugasnya dengan rapi, teratur, karena hal2 yang jarang terlihat saja dan biasa baunya tidak enak sudah rapi dan bersih, tentunya hal2 luar yang dapat terlihat akan dengan sendirinya lebih rapi dan tertata. Dan memang dari pengalama kami bertugas, itu ada benarnya. Jadi kalau itu mau dijadikan salah satu SOP untuk menilai uluan gereja HKBP, menurut kami boleh juga. Tentunya itu salah satunya disamping yang lain.
Karena jika segi internal sudah beres maka akan berpengaruh ke external akan menjadi baik. Jadi kalau HKBP bertahun hajuarabagason saat ini, itu artinya pembenahan internal secara total (bersih2), dan mengenai sampah, saran kami sudah waktunya setiap Majelis gereja harus berani membuat tanda larangan digereja : DILARANG MEROKOK DAN MEMBUANG SAMPAH DI DALAM & HALAMAN GEREJA, nanti hasilnya/parbuena (external) pasti akan baik. SELAMAT, SEMOGA HKBP MENJADI RUMAH TUHAN YANG BERSIH DAN MENJADI KESUKAAN BANYAK ORANG, AMIN
tulisan amang pendeta ini merupakan sesuatu yang membukakan kesadaran kita semua bahwa memang ini sudah menjadi satu ‘penyakit’ akut yang harus kita sembuhkan dan kita perbaiki. Ini juga bukan satu pekerjaaan sekali jadi, sehingga perlu terus-menerus disuarakan (tidak sekedar dituliskan) di warta jemaat atau digemakan dari mimbar khotbah.
saya juga usul, kalo boleh setiap gereja juga perlu menyampaikan program-program konkrit seperti yang dilakukan serpong, dan pada tahap-tahap awal perlu mendapat apresiasi dari pimpinan hkbp. saya teringat dengan omongan istri saya, kalo kita memiliki hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan, kita tidak akan berani atau segan buang sampah sembarangan. Saya kira banyak juga jemaat yang berharap agar hal-hal praktis dan membumi seperti ini (mengenai kebersihan hati, kebersihan lingkungan, kebersihan tempat tinggal, kebersihan rumah Tuhan) perlu dikhotbahkan di gereja dan bila perlu mengambil referensi dari firman Tuhan. Selama ini banyak jemaat merasakan bahwa khotbah pendeta kita banyak yang ga nyambung dengan kehidupan atau keseharian jemaat.
benar dengan salah satu comment di atas, masih sangat panjang perjalanan gereja hkbp kita ini, tetapi bagaimanapun, perjalanan panjang dimulai dari langkah kecil. Tuhan memberkati.
“ibadah sebagai spritual training”, demikian pernah saya dengar dari seorang pengkhotbah di radio sambil merayap di tengah kemacetan jakarta. menurut uraian pengkhotbah itu, dari khotbah dan ibadah ibdah gereja kita bisa mendapatkan pelatihan tentang banyak hal, terutama untuk meneruskan kebiasaan baik, mengubah perilaku yang buruk, atau membentuk perilaku baru tidak sekedar dibandingkan dengan ukuran duniawi, tetapi dengan firman Tuhan. Kita melihat bahwa latihan tidak hanya diperlukan oleh seorang olahragawan untuk jadi juara dunia, tetapi untuk menjaga tingkat kolesterol juga perlu training (secara fisik) secara teratur. Dalam konteks ini, apa yang disampaikan oleh pak pendeta sangat relevan kita perhatikan, membersihkan gereja.
tetapi kalau boleh saran, apa harus kita yang melakukan, apa tidak bisa dilakukan dengan cara lain dengan mempekerjakan orang yang secara khusus untuk bidang ini. Yang perlu kita sebagai jemaat adalah ‘menjaga’ kebersihan agar tidak membuang sampah sembarangan atau menambah kotor gereja dengan kecuekan kita. Dan untuk mewaujudkan ini perlu ada training dan perlu ada trainer. itulah sebabnya khotbah atau warta jemaat merupakan ‘media’ untuk menyampaikan metode training yang paling tepat untuk membersihkan gereja, dan tentu untuk trainer, tidak orang yang paling tepat kecuali pendeta dan para sintua. o ya aamang, saya juga pingin tau, kalo sintua ada ga trainingnya dalam menjalankan ‘hasintuaon’nya. Mohon maaf, banyak jemaat komen dan sebagian cuek dengan cara sintua memimpin ibadah, seperti di salah satu ibadah yang saya ikuti, dan ini tidak kejadian sekali dua kali, kelihatan sekali tidak ada persiapan sintua itu maragenda, bengong, gagap mencari-cari halaman yang mau dibaca, suara dan penampilan yang ragu2 (bahasa dunianya ga pede), pas habis ibadah, pas salaman di pintu gereja, ga ada manis-manis atau senyumnya. percaya atau tidak, untuk senyum juga perlu latihan, dan tentu lebih mudah kalau muncul dari hati yang ‘didiami’ firman Tuhan sebagai makanan sehari-hari para pelayan Tuhan.
Kita berdoa dan punya harapan besar terutama bagi para pelayan Tuhan sebagai gembala membawa para domba-dombanya lebih dekat lgi dengan Gembala yang Agung, dengan memanfaatkan momentum Jubileum 150 tahun HKBP. Satu capaian usia yang sungguh luar biasa.
Tuhan memerikati kita semua.
amang….tulisannya gak bisa di share k fb atw twitter atw link lain?? siapa tau klo di share orang bisa lebih byk yang baca atau melakukannya.
Daniel Harahap:
Semua tulisan di Ruma Metmet ini otomatis di-link ke Facebook. Namun saya tidak tahu menggunakan Twitter.
Lucu juga melihat ada orang menyapu dan mengepel gereja, tapi dasi dan jasnya tetap di pakai. Hal ini yg biasanya menjadi hambatan, uluan huria jarang mau memposisikan diri sebagai pelayan tapi lebih menikmati sebagai bosss. Lantas siapa yg harus ditiru oleh jemaatnya.
Daniel Harahap:
Ada beberapa pilihan. Pertama: si uluan tetap berjas dan berdasi namun meningkatkan kemampuannya mengorganisir dan memanage urusan kebersihan. Kedua: si uluan membuka jas dan dasinya lantas mengambil sapu dan kain pel. Ketiga: si uluan tetap berjas lantas menyapu sebagai simbol bahwa menyapu sambil berjas atau berdasi bukanlah dosa.
@mhtambunan
Saya setuju dengan amang, karena menurut hemat kami juga, contoh atau keteladanan adalah training atau kotbah yang paling jitu dan paling gampang ditiru atau diikuti. Maksud saya, parhalado memberi contoh, penatua2 memberi contoh, pemuka2 gereja yang sering dianggap sisuan bulu (tokoh2 gereja tsb) memberi contoh atau keteladanan (dalam hal menjaga kebersihan rumah Tuhan/Gereja) maka jemat atau naposo atau anak2 sekolah minggu akan meniru dan mengikutinya. Dengan demikian jika ada soso2 atau himbauan dari parhalado/penatua/tokoh2 gereja maka akan didengar dan dilaksanakan para jemaat. Karena masyarakat kita umumnya dan orang batak khususnya, masih bersifat paternalistik.
Daniel Harahap:
Mari kita dorong para parhalado menjadikan dirinya sontoh yang baik dalam hal menghormati kebersihan.
Dulu waktu SMA saya pernah ikut LSM pelestari lingkungan, kami membuat program ke sekolah-sekolah mulai dari SD – SMA tentang bagaimana mencintai lingkungan khususnya “Hutan Hujan Tropis” tapi yang paling saya ingat adalah bagaimana kami menyelipkan ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan even hanya bungkus permen atau tisue dengan cara menyimpannya dulu di dalam kantong atau tas sampai kita menemukan tempat sampah.
Mungkin saran saya, amang bisa usulkan ke sekolah minggu buat satu program mungkin 1 bulan sekali atau 2 bulan sekali, misalnya program bersih2 kyk sekolah SD-ku dulu, tiap hari senin selesai upacara kami munguti sampah terlebih dahulu sebelum masuk kelas tapi buat semenarik mungkin supaya anak2 tidak merasa terbeban atau kesal atau tidak rela hati supaya “kesadaran” akan kebersihan yang sedang kita bangun dan tanamkan itu dapat berhasil dengan baik, tinggal dan melekat seumur hidup.
Di gereja saya ada saldo kas yang jumlahnya ratusan juta, tapi kamar mandi (toilet) kotor, lapangan (alaman) berlobang-lobang, kaca jendela retak bahkan pecah, yang jelas gedung dan areanya kurang terurus. Kalau dikasi masukan ke parhalado jawab mereka “hamu ruas holan namangkeritik do doboto hamu coba hamu jadi pangurus manang parhaldo di garejaon”?
Kawan-kawan kumpulan koor. Kebersihan gedung gereja (terutama di HKBP) seharusnya tanggungjawab kita semua, karena itu mari kita kerjasama dengan Parhalado. Di HKBP umumnya banyak kumpulan koor, ada koor Ina, Ama, Mannen dan Naposobulung. sebaiknya kita bergiliran membersihkan gereja, jadwal tokh bisa diatur. Kasihan juga kalau soal kebersihan dibebankan pada Parhalado saja. Sekedar saran Amang
@paraekhorsik : ada juga betulnya parhalado itu amang. Kadang dan malah sering, jemaat menganggap parhalado itu “hatoban” jemaat. Semuanya di timpakan ke parhalado.
Kenapa ga jemaat turun langsung aja ikut berperan aktif bahu membahu dengan parhalado?
Sering kubaca ini : Kebersihan adalah bagian drpd iman.
Jangan banyak alasan, lakukan apa yang kita bisa agar iman nambah dikit.
Bahkan di kamar hotel sekalipun kita wajar mempraktekkan kebersihan. So, who am I ?
Sebenarnya boleh koq amang, apalagi kalau ada undang-undang, contoh di dalam MRT Spore dan LRT KL, yang buang sampah/merokok/makan dan minum didenda 500SGD/RM 500…. Gereja di KL pernah mengusir salah satu parhalado kami merokok di lingkungan gereja, dan akhirnya sekarang semua orang batak yang merokok, merokok di luar pagar gereja, tidak boleh di lingkungan gereja…. Mungkin boleh dicoba tuh amang, merokok di luar pagar gereja. Tp mungkin sintua2 tu stress kali ya kalau nanti marapot gak ada rokok? he he he
hkbp.. tole ta sapu, ala marorbuk angka dorpi na dohot ma i ni lap..ee nga burbur on, lante marmer na on pe nga tasik an dang boi ias nang pe di pel pakke super pel.. didok rohangku ta renovasi ma on.. boha sara na : serahkan sama ahlinya, sian dia biaya na.. tupa doi bahenon ni Tuhan i.. anggo sian au kompor ma..
“Seandainya Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya itu perokok, maka Ia akan menciptakan lubang hidungnya mengarah ke atas seperti cerobong pabrik” (anonim). Usul: dalam tahun penatalayanan ini mari kita hapuskan rokok dari gereja dan warga gereja, terutama para pelayan. Bagaimana mungkin uang persembahan jemaat itu dibelanjakan untuk rokok yang merusak kesehatan pelayan yang dihormati dan dikasihi oleh jemaat; puntungnya mengotori gereja pula. Merokok adalah salah satu tanda ketidakmauan dan ketidakmampuan kita sebagai penatalan/ juarabagas yang bertanggungjawab
mari kita tanamkan dalam diri setiap pelayan untuk cinta lingkungan dan cinta diri sendiri dengan tidak merokok. Dengan merokok maka kita mengalami dua kerugian sekaligus, pertama dari sudut ekonomi dan kedua dari sudut kesehatan.
Dari beberapa komentar diatas tentang merokok, bagaimana kalau di Sinode Amandemen yang akan datang, diusulkan satu aturan baru, yakni parhobas/parhalado hkbp (pendeta dan sintua) untuk kedepan disyaratkan orang yang tidak merokok. Karena orang yang tidak merokok, paling tidak dia sudah menunjukkan bahwa dia bisa menjaga tubuh/dirinya dari asap atau hal yang merusak dirinya. Maka parhalado yang demikian tentu bisa jadi contoh dan teladan bagi orang lain/jemaat, paling tidak dalam hal ini dulu. Tapiiiiiiiiiiiii, ini saran.
Karena kalau kita lihat teman kita katolik, pastor tidak merokok bahkan tidak berrumahtangga.
Demikian juga teman kita dari Gereja Advent, bahkan semua Parhalodo dan Jemaat tidak merokok. HKBP nabolon i, kenapa tidak?
Pekerjaan menyapu dan mengepel gereja ini sudah dilakukan isteri dan kakak saya 3 thn lalu. Waktu itu mereka tidak tahan lagi melihat kondisi gereja yg kotor, dinding diatas podium kotor/ hitam2, paku2 bekas menempel sesuatu masih bercokol, kipas angin penuh debu. Toilet kotor, ember & gayung sangat kotor bahkan. Mereka bawa 2 org tukang dan juga peralatan seperti sapu, kain pel, dll. Dan juga mengganti ember & gayung di kamar mandi. Waktu itu hari Sabtu, kegiatan di gereja tidak ada (sebelumnya mereka sudah tanya penjaga gereja apakah ada kegiatan hari itu). Waktu mereka kerja, ada 1 org sintua dan 1 org pendeta yg datang. Yg sintua bilang, bah gabe hamu ate paiashon gereja on,
Sdh 3 th berlalu, sekarang kondisi gereja sdh sangat kotor. Kusen Toilet sdh lapuk, ember * gayung sdh hitam, kusen pintu dan jendela gereja sudah lapuk, tp belum bisa diperbaiki. Uang gereja banyak hamir 1m (hanya kurang 20 jt an dari 1m). Pantia Pembangunan sdh lama dibentuk tapi belum bisa kerja. Pertanyaannya : kenapa bisa spt itu? Karena tidak ada kesatuan hati para Pendeta Resot dengan Sintua & Ruas. Bahkan rapat huria utk menetapkan program kerja th 2010 sdh 2 x gagal. Minggu besok tg. 14 pebr 10 akan diulang lagi utk ke 3 kali. Yg diundang rapat, selain semua parhalado, semua pengurus dewan dan Seksi juga semua ruas.
Sebenarnya keadaan ketidak kompakan ini sdh lama terjadi. Pendeta Resot kami paling 2x sebulan berkhotbah selainnya tidak tau kemana. Sedangkan di gereja pagaran tidak pernah sama sekali, karena gereja pagaran sdh mencekal dia (tidak membolehkannya) berkhotbah disana. Jadi yg paling penting sebenarnya adalah membersihkan hati para parhalado dan juga ruas ketimbang membersihkan gedung gereja.
Daniel Harahap:
Selamat bersih-bersih.
Saldo 1 M tapi tak mampu beli kain pel dan sapu? Wow. Komentar saya pendek. Kalau kalian eh kita berhasil membersihkan gereja itu secara fisik, akan lebih mudah membersihkan psikisnya.
Tahun ini tepatnya sekitar awal bulan May 2010, gereja kami HKBP Bandarsetia akan di tabalkan sebagai Huria Penuh (Huria Na Gok), sebab selama ini gereja kami masih status Parmingguan. Dan system penatalayanan yang terdapat di Resort kami Medan Timur sudah semakin membaik, yang mana 2 X Seminggu, Pendeta mau berkunjung ke tempat kami dan terkadang penatua Resort. Puji syukur pada Tuhan dengan adanya peningkatan Pelayanan dan perhatian Resort kepada Jemaat kami.
Tetapi proses pentabalan/ pengesahan tersebut nantinya, belum di barengi dengan kelengkapan yang memadai dari sisi infrastruktur Gereja. Yang mana, Daun Pintu dan daun Jendela kami masih belum dapat kami lengkapi dan demikian juga dengan Lantai (masih status tanah : untuk ruangan maupun langgatan/ altar) serta dinding yang masih batu bata yang belum di plester.
Dan kami mohon bantuan dari bapak Pendeta DTA Harahap dan saudara – saudara se Iman di dalam Yesus Kristus, untuk sudi kiranya mengulurkan bantuan kepada kami jemaat HKBP Bandar Setia, kami menerima dengan suka cita berapapun atau apapun (bahan bangunan) yang bapak ibu berikan. Agar Jemaat HKBP Bandar Setia dapat lebih bersuka cita adanya. (Note : Jemaat kami 65 KK dan dominan mana pencaharian supir).
Demikianlah peningkatan penatalayanan yang terdapat digereja kami dan permohonan bantuan yang dapat saya sampaikan.
Saya, Bonagres Siallagan dapat di hubungi di : 081 375 008 002. Konfirmasi dapat dilakukan ke pendeta ressort Bandar Setia: Bp. Pdt. Tamba (08126447860).
Ternyata permasalahan yang di hadapi setiap gereja HKBP hampir sama, saya secara pribadi sangat mendukung Tahun Penatalayanan HKBP tahun ini, karena sangat mengena dalam kehidupan kita sehari-hari, ini saatnya berbenah, Persoalan Membersihkan merapikan memperbaiki Gereja adalah masalah yang mungkin setiap Gereja HKBP Perlu membuat SOP, sekaligus menyusun PIC (Person In Charge), Schedule yang melibatkan jemaat, serta Check list tentang kebersihan.
Semalam kami rapat Huria, puji Tuhan berjalan dengan baik dan hampir disiplin dalam waktu, dalam dalam etika rapat telah berjalan dengan baik cuma gaung” Penatalayanan” ini yang ada sebagaian oknum penetua kurang meresponi dengan baik, padahal pendeta resort sudah menjelaskan di awal sebelum rapat. Hal ini terlihat dari situasi gereja kami salah satu HKBP di Sumsel yang sampai saat ini masih pinjam pakai dari tahun 2002 belum pernah di apa-apain , kondisi tidak ada plafon, tidak berkeramik, bangku berlobang-lobang , podium bolong-bolong dimakan rayap, diatas podium banyak bersarang burung, singkatnya memprihatinkan, sementara jumlah KK 300 lebih dan rata-rata potensial karena masih kebanyakan usia produktif, tetapi yang saya lihat bukan jemaatnya yang tidak mau bersih, tetapi ada beberapa oknum penetua yang maaf kata sok hebat, sok berkuasa, dan kebetulan menjadi ketua Parartaon . kemarin waktu rapat masing-masing dewan memaparkan programnya dan saya beberapa kali merespon dengan mengatakan kita sesuaikan dengan tahun Penatalayanan dengan memberikan Service Exelence kepada jemaat, dimulai dari memberihkan, merapikan, memperindah Gereja kita , biarpun tidak merubah bentuk, atau menambah tetapi kita bisa merubah suasana, merubah lebih baik dan membuat nyaman seluruh jemaat. Dalam tahun penatalayanan ini mungkin juga bisa di pakai jadi alat untuk mengedukasi seluruh jemaat tentang kebersihan ketertiban, dan kerapian yang keseharian orang batak sering “Gumarapus”, mungkin ini waktunya merubah paradigma caranya bagaimana kita mulai dari diri sendiri, rumah sendiri, Gereja sendiri dan seterusnya..
@victor tinambunan & partopitao : coba amang baca dulu syarat pelayan di 1 Timotius 3:1-7. Saya ga melihat tuh syarat pelayan gereja yg bukan perokok.
Kekmana pulak ini?
oya setelah saya membaca pada bait I dimana disana Bapak Pendeta Daniel Harahap lagi melayani Sakramen Baptisan Kudus. saya jadi teringat yang menimpa keluarga kami saat Baptitasn Kudus ini cerita rumit tapi kenataan.dimana kami hendak membabtis anak kami 2 orang dan memang kami adalah perantau. pertama kami datang harus menghadap Majelis setempat ( Sittua ) terdekat dan kami diminta masing -masing anak membayar harga 1 kaleng boras berarti 2 anak 2 kaleng boras itu kami tidak menolak,namun beberapa hari lagi dan sudah mendekati hari H nya kami diminta harus membayar dua kali lipat berarti 4 kaleng boras dengan alasan karena kami adalah perantau,nah yang menjadi pertanyaan kami apakah ini aturan resmi dari langsung dari pusat,Resot atau hanya di Jemaat tersebut saja atau mungkin hasil Keputusan Hasil Sidang Jemaat , kami minta jika itu banar aturan dari pusat mohon di ralat sebab tidak semua orang perantau itu orang yang banyak uang atau orang berhasil di tanah rantau dengan nama Bapa,Anak dan Roh Kudus kiranya ini masukan kami dari warga jemaat boleh bekenan sebagai saran yang baik demi pelayanan penuh kasih dari Tuhan Yesus Kritus.”Mauliate.Horas”
Daniel Harahap:
………. Kalau kalian eh kita berhasil membersihkan gereja itu secara fisik, akan lebih mudah membersihkan psikisnya……..
Menurut saya ini malah terbalik. seharusnya psikisnya dulu yang dibenarkan baru fisik. Kalau psikisnya baik, antara pendeta resort dengan sintua & ruas kompak, semuanya akan berjalan lancar. yang tadinya kekurangan bisa menjadi lebih. tetapi kalau tidak ada kekompakan, mengerjakan hal-hal sekecil apapun tidak akan bisa. Tidak ada yang peduli lagi dengan lingkungan gereja
Daniel Harahap:
Molo ndang porsea hamu, uji hamu ma.
@ Richard Hutahaean: Di samping membaca 1 Timotius 3:1-7, kita perlu juga (1) MEMBACA bagian firman Tuhan yang lain, Misalnya tentang keharusan dalam penguasaan diri (Gal 3:22-23) ‘tubuh kita dalah bait Allah’ dsb; (3) Kita perlu meminta bantuan dokter MEMBACA X-Ray torax. (3) Mohon juga MEMBACA artikel tentang ‘rokok’ di sini: http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/r-o-k-o-k.html
@ Richard Hutahaean : Mungkin perlu kita baca dan disimak ayat 2 berikut, hkususnya perkataan : DAPAT MENAHAN DIRI, juga CAKAP MENGAJAR ORANG.
1 Timotius 3:2
Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,
Hal tersebut dapat kita terjemahkan dengan kondisi zaman sekarang.
> Orang yang merokok/perokok menurut hemat kami bisa dikategorikan orang yang tidak DAPAT MENAHAN DIRI. karena dari segi keehatan saja sudah jelas2 ditulis dibungkus rokok tersebut bahwa itu dapat……… dst, tetapi masih dilakukan.
> Cakap mengajar orang dalam pengertian kami tidak hanya dengan berkata2 atau khotbah, tetapi ybs CAKAP MENGAJAR ORANG juga dengan perbuatannya atau tindakan. Jadi contoh yang baiklah.
Jadi………. kek gitunya maksudnya aku. Salam.
Persyaratan menjadi penilik jemaat adalah proses untuk dapat diwujudkan pada akhir perjalanan pelayanannya , kalau persyaratan tersebut harus seluruhnya terpenuhi sebelum menjadi penilik jemaat pasti tidak ada yang lulus untuk menjadi penilik jemaat/parhalado .
bagus juga untuk menjaga kebersihan rumah ibadat, biar ibadah orang yang didalamnya nyaman disamping memberi pengajaran supaya hidup sehat. dan dari segi kerohanian membersihkan dari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.
kalo soal mengotori gereja sayalah orangnya ….maklum banyak anak, makan permenlah, kuelah. kadang-kadang kumasukkan sampah itu ketas..tapi banyak tidaknya heheehehe Dimaklumi yachk
Daniel Harahap:
===Menyentuh skali kata2 itu ya mang..sehingga amang sampe terpingkal pingkal…Arti yg sebenarnya kah??????
HKBP berbedak tapi tak cebok? Hahahahahaha.
Daniel Harahap:
Husss!
Yang perlu dibersihkan adalah Pelayan/ pendeta yang kotor. Knapa hal-hal di atas terjadi? Apakah seperti kata pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari? Untuk apa rumah ibadah cantik tapi pelayan/pendeta banyak yang kotor? Tindak dan bersihkan dulu pendeta yg tidak becus baru bicara iman… Slamat bersih-bersih ……
saya sudah agak sering membaca tulisan amang tp aku nggak pernah bikin coment?
tp kalie ini saya senang membaca tulisan amang ini karena tersentuh jg aku, karena saya salah seorang yang sering meninggalkan bungkus perment di gerja. dan semoga setelah membaca tulisan ini aku nggak lupa lg membuang sampah pada tempatnya.