SERMON MINGGU INI
Dasar: 1 Timotius 3:1-7
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Pada awalnya perikop ini merupakan pedoman yang diberikan Rasul Paulus bagi Timotius untuk mengangkat para penilik jemaat. Walaupun begitu perikop ini tentu tidak hanya berlaku dan berguna bagi para calon penilik atau pelayan jemaat saja (pendeta dan sintua misalnya), namun bagi semua orang beriman termasuk warga jemaat. Jika demikian apakah yang bisa kita petik dari perikop ini?
1. Tuhan menghendaki kita menjadi pelayan yang berkualitas. Syarat-syarat yang diajukan Paulus menginspirasi kita bahwa sebagai pelayan jemaat kita dituntut agar benar-benar memiliki kepribadian yang baik dan kecakapan untuk melaksanakan tugas yang sangat mulia dan berharga itu. Lebih dari itu seorang pelayan juga dituntut memiliki reputasi yang baik di tengah-tengah masyarakat.
Jika kita perhatikan paling sedikit ada 14 (empat belas) syarat yang dituntut dari seorang pelayan:
1.Tidak bercacat atau bercela
2. Memiliki satu istri atau suami
3. Dapat menahan diri
4. Bijaksana
5. Sopan
6. Suka memberi tumpangan
7. Cakap mengajar
8. Bukan peminum
9. Bukan pemarah melainkan peramah
10.Pendamai
11.Bukan hamba uang
12.Kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.
13.Bukan baru bertobat
14.Mempunyai nama baik di luar jemaat
Baiklah kita memakai syarat-syarat di atas pertama-tama dan terutama untuk diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki kualitas di atas? Manakah dari syarat-syarat di atas yang belum kita penuhi? Rasul Paulus mengajukan syarat-syarat di atas bukan sekadar untuk menjadi wacana apalagi untuk menghakimi orang lain. Sebab itu pertanyaan yang harus kita ajukan apa dan bagaimana upaya yang harus kita lakukan mencapai kualitas yang diharapkan itu. Disini kita disadarkan minimal ada 3(tiga) hal. Pertama: kesungguhan (intensitas) menjadi pelayan. Hanya dengan kesungguhanlah kita dapat terus membangun dan mengembangkan kepribadian dan kecakapan kita sebagai pelayan. Kesungguhan itu terkait erat dengan komitmen (janji, tekad). Apakah kita benar-benar kommit dengan tugas pelayanan ini atau melakukannya hanya berdasarkan minat dan selera, mood sesaat, atau situasi. Komitmen itu sendiri sama dengan hutang yang harus dibayar, kewajiban yang harus dilaksanakan dan janji yang harus ditepati. Kedua: usaha atau treatment. Tak ada seorangpun yang dapat menjadi pelayan yang baik dan cakap tanpa upaya atau treatment. Kepribadian dan kecakapan bukan sesuatu yang otomatis atau given (diberikan dalam bentuk jadi), namun harus dibentuk dan dilatih. Disini kita disadarkan bahwa kita harus senantiasa belajar atau berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi pelayan. Tak ada pelayan yang boleh merasa diri sudah mapan dan sempurna sehingga tidak perlu lagi berubah dan dibaharui. Tak ada kata tammat atau final untuk belajar. Ketiga: kerjasama. Tuhan memanggil kita melayani bukanlah seorang diri melainkan bersama banyak orang. Sebab itu kita diajak memahami pelayanan sebagai panggilan bersama. Itu artinya kita harus bekerjasama dan bersinergi agar dapat menghasilkan pelayanan yang terbaik. Dan kita juga harus membangun organisasi yang benar-benar efisien dan efektif mewujudkan pelayanan itu.
2. Tuhan menyuruh kita membangun lingkungan, iklim, budaya, organisasi dan system, serta persekutuan, yang mendorong pelayan-pelayan menjadi baik. Sebagai orang-orang yang dikaruniai Tuhan akal budi kita memahami bahwa keberhasilan pelayanan tidak hanya tergantung kepada kualitas individu pelayan, melainkan juga kepada lingkungan, iklim, budaya, organisasi dan system serta persekutuan yang melingkupi para pelayan itu. Seorang pelayan yang baik bisa gagal melakukan yang baik di lingkungan yang buruk. Bahkan seorang pelayan yang baik pun bisa tergoda menjadi jahat jika budaya, organisasi dan sistem disekelilingnya buruk. Sebaliknya lingkungan yang baik bisa membuat orang jahat menjadi baik dan orang baik lebih baik lagi.
Pertanyaan: apa dan bagaimanakah lingkungan dan iklim yang kondusif (= subur) mendorong para pelayan menjadi baik? Model berjemaat dan berorganisasi bagaimanakah yang bisa mempengaruhi kita tumbuh dan berkembang menjadi pelayan yang baik dan cakap?
Menurut kami banyak sekali, namun pada kesempatan ini mari kita pahami minimal ada 3(tiga). Pertama: keterbukaan atau transparansi. Dalam lingkungan yang terbuka dan transparan banyak orang didorong untuk menjadi baik dan tetap baik. Sebaliknya lingkungan yang tertutup dan tersembunyi cenderung membuat orang tergoda melakukan yang tidak baik. Kedua: penerimaan, penghargaan dan partisipasi. Banyak orang akan didorong melakukan yang baik jika diterima, dihargai dan diajak berpartisipasi. Sebaliknya menjadi pasif jika ditolak, dilecehkan dan dihina. Tantangan disini adalah bagaimana membuat program dan menciptakan suasana sehingga para pelayan yang beragam (dan kadang berbeda pendapat) itu merasa diterima dan dihargai sehingga pelayanan gereja secara umum lebih baik lagi. Ketiga: penghargaan kepada kerja keras dan tanggungjawab. Rasul Paulus meminta jemaat Tesalonika menghormati pelayan-pelayan yang bekerja keras dan bertanggungjawab. (1 Tes 5:12). Ini akan membuat pelayan yang bekerja keras dan bertanggungjawab semakin baik lagi. Sebaliknya memacu pelayan yang kurang rajin dan kurang bertanggungjawab untuk berubah.
3. Tuhan mendorong kita menjadi contoh, sampel atau teladan bagi yang lain. Orang bijak mengatakan yang paling mudah adalah mengubah diri sendiri, selanjutnya mengubah lingkungan. Namun yang paling sulit adalah mengubah orang lain. Apalagi dalam jemaat dimana banyak sanksi tidak dapat diberikan secara tegas dan keras. Namun sebagai pelayan kita dapat mengubah orang lain melalui keteladanan dan kharisma atau wibawa. Disinilah pentingnya 14(empat belas) persyaratan yang diajukan Paulus di atas agar ada dalam diri kita. Alih-alih menuntut orang lain memilikinya, mending kita berusaha sendiri mendapatkannya, dan itulah yang menjadi sumber kekuatan kita utama mempengaruhi orang lain yang dipercayakan kepada kita. Kepada Timotius sendiri Rasul Paulus meminta dia agar menjadi teladan minimal dalam 5 (lima) hal: (1) perkataan (2) tingkah laku (3) kasih, (4) kesetiaan, (5) kesucian. Pertanyaan apakah kita juga dapat menjadi teladan dan sampel dalam kelima hal itu? Jika ya, puji Tuhan. Jika tidak, kita harus berusaha agar bisa. Sebab tanpa keteladanan itu kita tidak akan dapat melayani apalagi mempengaruhi orang lain menjadi baik.
Diskusi dan Renungan:
1. Berapakah harga kependetaan atau kepenatuaan Saudara? Cobalah nilai sendiri dan sebutkan dengan jujur.
2. Apa dan bagaimanakah usaha Saudara pribadi meningkatkan kepribadian dan kecakapan sebagai pelayan?
3. Apakah kualitas lain yang dibutuhkan dari seorang pelayanang belum disebutkan Rasul Paulus? Mengapa Saudara menganggapnya penting? Apakah Saudara memiliki apa yang saudara sebutkan itu?
Serpong, Selasa 09 Februari 2010
Pdt Daniel T.A. Harahap
Dari ke 14 syarat itu, tidak ada syarat bukan perokok kan Amang?
Kita memang sudah perlu mempunyai manual pelayanan, sekurang-kurangnya berisi:
– Kualitas pribadi seorang pelayan
– Etos dan kompetensi seorang pelayan
– Standar pelayanan yang wajib dipenuhi
– Prinsip, proses, prosedur, teknik, dan kiat melayani dengan memuaskan
Dalam hal ini gereja tak ada salahnya melakukan studi banding dengan organisasi bisnis yang tersohor dalam pelayanan seperti airlines, hotel, atau rumah sakit — kalau tak ada di Indonesia — ke Singapore pun jadi
Aduhh, persyaratan yang sangat sulit. Karena sulit maka manusianyapun pasti sangt langka. Saya hormat dan salut kepada Para pendeta utamanya Pendeta di HKBP juga hormat dan simpati kepada para Sintua. Kiranya Tuhan melihat kesetiaan, dan kesabaran para penggembala tersebut. Apalagi melayani jemat HKBP yang masih banyak yang “Marjogal”, mereka itu pasti sangat lelah.
Saya jadi ikut merenung, kalau dilihat dari persyaratan itu, seharusnya diantara “kita” tidak akan pernah terjadi yang sejenis dengan pertengkaran. Tapi yah… Perjalanan “kita” masih panjang, betawi bilang Belande masing jaoh, artinya belum terlambat untuk lebih berbenah lagi.
Menurut saya persyaratan yg ditetapkan Rasul Paulus sudah cukuplah, itu saja udah sangat berat masak mau ditambah lagi. Tks.
3.Kualitas.
Kualitas itu sendiri sudah ada ditengah jemaat, terlebih jika terbentuk dari kemajemukan yang tentu punya selera sendiri-sendiri tentang ke-kualitas-an yang disatukan oleh iman. Nah, jika ada kualitas pelayanan tentu ada pertumbuhan pada apa yang dilayani dan yang melayani. Biasanya terukur dari pertumbuhan 3 fungsi gereja dari waktu ke waktu.
#pengorbanan# belum disebut. Agar yang dilayani lebih “tinggi” dari yang melayani, bukan sebaliknya. Aku belon punya Amang, sebab sulit….
Semenjak saya memutuskan cukup memiliki 3 orang anak ( pastilah karena seijin Bapa disorga) saya berkeinginan sangat kuat untuk mencetak mereka sebagai pelayan di brejaku tercinta HKBP dan atas seijin Bapa pula kini mereka bertiga sudah menjadi pelayan sebagai oraganis gereja yg bermutu sangat baik, mereka mendapatkannya dgn kerja keras melalui kursus secara privat dan latihan setiap hari sejak kls 2 SD selama antara 6-10 thn tentu dgn kerja keras kami kedua ortunya (terutama saya mengatur uang belanja yg pas pasan ).
Pertimbangan saya jika mereka melayani sejak muda tentu mereka akan berusaha menjadi panutan buat teman2 seusianya krn mereka dikenal banyak orang/menjadi sorotan, jadi harus bertingkah laku yg baik ( cara berpakaian dan berbicara) dan itu terbukti.
Kerja keras saya sebagai ibunya utk mendidik mereka agar cinta dgn grejanya sangatlah kuat sejak mrk balita saya dampingi terus sekolah minggu hingga kini diusia anakku yg terkecil 16 thn dgn pertimbangan saya tidak jago dibidang agama dan tidak akan sempat membuat acara yg di lakukan banyak rumah tangga yaitu kebaktian pagi ( saya ibu yg bekerja dan tak punya pembantu tetapi semua kami hrs sarapan nasi setiap pagi dan membawa bekal makan siang, manalah kami bisa beribadah pagi) jadi caranya ya…mendampingi mereka bergreja sama2 mendengar firman Tuhan kemudian dlm perjalanan pulang atau dimeja makan kami bembahas firman tadi.
————————————
Dari 14 poin diatas yg manakah point yg saya miliki dan dimiliki ketiga anakku krn tiada batas yg menghalangi pelayanan mereka ( tdk ada batas umur dan tdk ada kata pensiun), jadi mari para orangtua berkomitmen dulu terhadap diri kita masing2 lalu berkomitmenlah kepada anak2 kita utk cinta kepada HKBP dgn segala kekurangan dan kelebihannya
Untuk Inang Friska Pardede!
Salut untuk Inang. Semoga Inang sehat dan panjang umur agar menjadi contoh,teladan bagi Ibu-Ibu yang senang nonton barang sama anak-anaknya yaitu nonton sitron.. eh..sinetron yang tidak mendidik itu.
Mengenai butir I.11 harus ditambahi dengan bukan hamba jabatan. Sebab saat ini banyak sintua yang hanya ingin meduduki jabatan-jabatan strategis di gereja, seperti: menjadi parhalado resort, parhalado distrik, bahkan parhalado pusat. Akibatnya terjadilah persaingan tidak sehat di kalangan sintua, seperti kudeta, memfitnah, dll.
mau belajar dan mau Diajari tentunya by God firstly
Terimakasih buat amang Safir Samosir atas kommennya buat saya.
Saya memang agak prihatin melihat betapa sibuknya para ortu masa kini dgn arisan2 keluarga yg sangat banyak itu lalu undangan2 pernikahan, sehingga pada saat anak punya waktu di rumah misalnya hari Sabtu dan Minggu eh…ortunya tidak pernah ada dirumah, lalu kapan ada lomunikasi dgn anak?
Sangat jarang orangtua mendampingi anaknya ke greja terutama setelah lepas Sekolah Minggu padahal diusia inilah seorang anak sangat sangat perlu perhatian dibandingkan dimasa kanak2nya krn seusia inilah pencarian jati dirinya.
Setiap ibadah sore (kebanyakan remaja dan naposo) di greja kami saya perhatikan dgn seksama , grombolan2 remaja ini ngobrol2 saja apalagi saat pembacaan warta jemaat jamin…tak satupun remaja itu mendengarnya,lalu saat kotbah….ya ampun hampir semua berface book ria, manalah orangtuanya tau itu yg penting sudah mencereweti anaknya supaya ke greja itu saja.
Kalaupun siremaja ini ikut ibadah yg berbahasa Batak jamin…mereka pasti tidak mengerti krn duduk bersama teman2nya tdk dgn ortunya, entah apa yg ada dipikiran para ortu ini.
Lalu banyak sekali orang tua masa kini membiarkan saja anaknya beribadah ditempat lain krn katanya iman anaknya lebih bertumbuh di tempat itu ya iyalah….orang dia tidak pernah menemani anaknya beribadah yg berbahasa Indonesia, kalaupun tdk ada yg berbahasa Indonesia ya duduklah bersama2 dan terjemahkanlah.
Hasil yg saya dapatkan selau mendampingi anak2 saya beribadah (paling sering ibadah sore/bhs Indonesia) walau mereka sdh melayani di kebaktian pagi dan siang bahwa mereka pasti memilih duduk di depan,tidak pernah membawa hp dan berpakaiannya selayaknya ke greja( bukan kaos dan jeans), tak perlu lagi saya repot2 bertengkar soal beginian, begitu tiba di greja tidak lagi ngobrol (paling2 berbisik) dan begitu ibadah dimuali tidak ada lagi pembicaraan.
Begitulah amang memang memiliki anak itu sangat repot dari sisi negatif tetapi kita kan sdh menhadrkannya di dunia ini ya,,,,mari kita jalankan peran kita sebagai orangtua dgn sebaik2nya , kelak dipengadilan akhir Tuhan tidak perlu lagi mananyakan apa yg telah kita perbuat utk anak yg dititipkanNya itu krn Dia sdh menyaksikannya setiap saat. Horas
Horas Amang Panditanami,memang naboratan tupoksi ni pelayan Tuhan,alai ingkon memang adong do pelayan,artina unang mabiar hamu angka pelayan di garejantai.jolma na mardosa do hita saluhutna,basa do Tuhani.pokokna adong keinginan baik setiap melakukan sesuatu.horas ma!
Horas amang Pdt. Di gereja menurut pdt kami idealnya 1 sintua dapat melayani 10 jemaat. dengan 1300 kk memerlukan … sintua. tetapi disaat diadakan mangaririt cst tersebut waduh amang cukup sulit. memang rata2 menyatakan dengan pertimbangan karena merasa belum bisa jadi cerminan seperti yang ada tertera pada 14 faktor tadi.