SERMON MINGGU INI
Dasar: 1 Sam 8 : 1 – 9
1. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Samuel di usia lanjutnya ini. Pertama: pergantian dan pergiliran peran. Pada masa lalu banyak jabatan termasuk hakim berlaku seumur hidup. Namun bagaimanapun juga manusia tetap memiliki keterbatasan umur dan kekuatan termasuk Samuel. Betapa pun baiknya dia tidak dapat selama-lamanya menjadi hakim atas Israel. Usianya menuntut dia harus menyerahkan tugas dan jabatan itu kepada orang lain, dalam hal ini anak-anaknya.
Kita hidup di suatu jaman yang menganggap pergantian atau pergiliran peran dan kedudukan sebagai kewajaran dan bahkan keharusan. Kalender konstitusi mengharuskan bangsa-bangsa melakukan pergantian kekuasaan secara teratur baik di pemerintahan maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan termasuk keagamaan. Gereja kita HKBP juga sejak lama melakukan periodesasi ini. Dasar pemikirannya adalah bahwa peran harus digilir, kekuasaan harus senantiasa disegarkan dan ditinjau ulang, dan pemangku jabatan (siapapun dia) memiliki kecenderungan menyalahgunakan wewenangnya sebab itu harus dicegah dengan melakukan pergantian secara rutin. Kecuali bagi beberapa negara yang menganut sistem kerajaan, secara umum kita menolak penerusan jabatan publik secara otomatis dari orangtua kepada anak. Alasannya adalah semua orang memiliki hak yang sama untuk dipilih menjadi pemimpin.
2. Kedua: pewarisan nilai. Samuel mengangkat anak-anaknya laki-laki (Yoel dan Abia) menjadi hakim untuk menggantikannya. Namun rupanya kedua anaknya ini tdak sama seperti ayahnya. Mereka justru mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Disini pameo “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” seakan tidak berlaku. Sikap anak-anak Samuel (juga anak-anak Eli) bertentangan dengan ayahnya.
Sebagai orang-orang moderen kita tidak perlu kembali kepada pola suksesi kekeluargaan semacam ini apalagi dalam kehidupan masyarakat, negara atau gereja. Namun kisah anak-anak Samuel ini mau menyadarkan kita betapa pentingnya sebagai generasi terkemudian, anak atau murid, atau penerus, kita mewarisi apa yang baik dari orangtua, guru atau pemimpin yang kita gantikan. Hubungan genetik rupanya tidak selalu mencerminkan kesamaan nilai dan sikap. Itu artinya kita memang harus berusaha dan berjuang keras mengambil hal-hal yang baik dari orangtua atau pemimpin kita menjadi milik kita juga. Jika tidak bisa lebih baik minimal sama atau paling sedikit jangan memalukan.
3. Ketiga: semua orang setara dan saudara. Tidak ada raja absolut kecuali Tuhan. Berbeda dengan banyak bangsa Timur Tengah lainnya, bangsa Israel lama diperintah oleh para hakim dan bukan oleh raja. Semua orang Israel dianggap setara dan saudara. Raja mereka hanyalah Tuhan. Sistem pemerintahan hakim ini sebenarnya sangat maju dan demokratis, namun pada waktu itu justru dianggap mereka terbelakang atau ketinggalan. Sebab itu saat Samuel tua mereka ingin meniru bangsa-bangsa lain yang memiliki raja. Bila kita baca ayat sesudahnya Samuel mengingatkan umat itu bahwa sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka minta. Meminta raja sama saja dengan menginginkan diri sendiri menjadi budak. Kelak apa yang dinubuatkan Samuel terjadi.
Kita sekarang hidup di era kemerdekaan dan republik. Kita memahami semua manusia setara dan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Hanya Tuhan sajalah Raja yang berkuasa mutlak. Namun bisa saja kita tergoda seperti bangsa Israel. Alih-alih mensyukuri dan menghayati kemerdekaan anugerah Allah kita malah tergoda ingin diperhamba atau menjadi hamba dengan menjadikan seseorang atau sesuatu menjadi raja kita. Bukannya berpikir maju malah mundur.
(Pdt Daniel T.A. Harahap)
Share on Facebook