SERMON MINGGU INI
Bahan: Kolose 3:18 – 4:4
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Teks Kolose 3:18-4:4 ini berbicara tentang tiga hubungan, yaitu hubungan laki-laki dengan perempuan, hubungan orangtua dan anak, dan hubungan tuan dan hamba. Yang terakhir ini sebenarnya secara formal tidak ada lagi di dunia kita sebab perbudakan atau perhambaan telah dihapuskan. Marilah kita lihat satu per satu:
Pertama: Hubungan laki-laki dan perempuan
Berbeda dengan manusia pada jaman lampau, manusia jaman kini telah sepakat bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dan sederajad, sama-sama citra Allah dan pribadi yang mulia. Perempuan bukanlah properti (harta milik) laki-laki yang dapat diperjual-belikan atau dijadikan transaksi, bukan subordinat atau perpanjangan tangan laki-laki, dan bukan juga objek yang bisa diperlakukan sekehendak hati laki-laki. Begitu juga sebaliknya. Perempuan dan laki-laki sebab itu adalah partner atau mitra yang sejajar.
Kesetaraan gender (jenis kelamin) ini merupakan prinsip yang mendasari kehidupan manusia moderen dan beradab, karena itu seharusnya juga menjadi prinsip kita semua termasuk jemaat HKBP yang berlatar belakang budaya Batak. (Kita akui pada jaman dahulu, entah apa alasannya, jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi lebih rendah daripada laki-laki). Suka atau tak suka, kesetaraan gender itu harus kita cerminkan dalam kehidupan kita sehari-hari baik sebagai pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat.
Alkitab sendiri pada dasarnya menyatakan kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama dan sederajad. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menurut citraNya (Kejadian 1:27). Dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan hakikat laki-laki dan perempuan (Galatia 3:28). Kewajiban laki-laki dan perempuan adalah bersifat timbal-balik. (1 Korintus 7:4). Yesus sungguh-sungguh menghargai perempuan dan menerimanya sebagai murid-muridNya.
Dalam terang prinsip kesetaraan gender itulah kita hendak memahami pesan Rasul Paulus kepada jemaat Kolose itu. Sebab itu bagi kita ayat 18 dan 19 harus dipandang sebagai suatu kesatuan. Kasih dan ketundukan pada dasarnya adalah sama. Kasih artinya menundukkan atau menyerahkan diri. Tunduk artinya mengasihi. Sebab itu dalam pemahaman iman kita baik laki-laki dan perempuan, suami dan istri, harus saling menundukkan diri dan saling mengasihi. Sikap tunduk dan kasih harus sama-sama dimiliki baik oleh laki-laki maupun perempuan. Sebaliknya sikap kasar juga harus dijauhi baik oleh suami maupun istri. Dengan demikian hubungan laki-laki dan perempuan ini jelas bersifat setara dan timbal-balik. Yang satu tidak boleh menyangkal atau meniadakan yang lain. Alih-alih saling menuntut maka keduanya justru harus saling memberi dan saling meneguhkan. Untuk mencapainya maka hanya ada satu cara: dialog atau percakapan yang juga dilakukan berdasarkan hormat dan kasih.
Hubungan berdasarkan kasih dan hormat ini bukan saja menghindarkan kita dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga (biasa disebut KDRT) tetapi juga dari berbagai tindakan penipuan, perendahan dan pelecehan, serta penolakan fisik maupun psikis, terang-terangan atau tersembunyi, kasar atau halus yang acapkali terjadi dalam hubungan suami-istri atau laki-laki-perempuan sehari-hari.
Kedua: Hubungan Orangtua dan Anak
Jaman sudah berubah. Kita sekarang hidup di era demokrasi, penghargaan kepada hak-hak pribadi dan kebebasan termasuk dalam rumah tangga dan keluarga. Berbeda dengan puluhan tahun silam, telah terjadi pergeseran dalam pola hubungan orangtua-anak. Pada jaman sekarang orangtua tidak lagi dianggap penguasa absolut yang berwewenang menentukan segala-galanya, penafsir tunggal kebenaran, dan bebas dari kemungkinan keliru dan salah. Banyak hal dalam keluarga dan rumah tangga sekarang tidak lagi keputusan absolut sang bapak yang tidak bisa diganggu-gugat melainkan hasil diskusi dan musyawarah alot yang terus-menerus dibaharui dan ditinjau ulang. Walaupun secara umum orangtua masih memegang peran dan kedudukan utama namun tidak lagi sebagai “dewa” atau “penguasa tunggal”. Anak-anak pada masa sekarang merasa dirinya juga berhak ikut menentukan hidupnya, berhak bicara dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan keluarga, dan bahkan sedikit-banyak berani menilai dan mengkoreksi orangtuanya.
Apakah dengan demikian hukum kelima “hormatilah ayah dan ibumu” sebagaimana pesan Paulus kepada jemaat Kolose tidak berlaku lagi? Kita menjawab tegas: masih berlaku. Pertama-tama: perintah menghormati orangtua itu kita pahami ditujukan justru kepada kita orang dewasa yang sudah otonom dan tidak lagi bergantung baik ekonomis maupun emosional kepada orangtua kita. Sebagaimana kata Martin Luther, kekurangan, kegagalan ataupun kerentaan orangtua kita tidaklah mengurangi kemuliaan mereka sebagai orangtua yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Selanjutnya kita memahami perintah itu dalam bentuk keteladanan. Sebagai orangtua kita tidak hanya menuntut hormat dan ketaatan dari anak-anak kita melainkan terutama memberikan keteladanan. Dengan menjadikan diri kita tetap yang terbaik maka sebenarnya kita secara otomatis sudah membangkitkan rasa hormat dan ketaatan dari anak-anak kita. Ketiga: kita juga menerima rasa hormat dari orang lain terutama anak-anak kita dengan tetap kritis kepada diri sendiri. Bahwa kita pada dasarnya adalah manusia yang memiliki kekurangan. Walaupun anak-anak kita karena umur dan pengalamannya mempunyai banyak kekurangan dan keterbatasan, namun kita juga mengakui ikhlas bahwa mereka juga memiliki beberapa kelebihan dan keistimewaan.
Dengan pemahaman di atas kita mengartikan Kolose 3:20-21 sebagai ajakan membangun hubungan yang benar dan baik antara orangtua dan anak. Itu terutama bisa terjadi bila kita orangtua lebih dulu memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.
Ketiga: hubungan atasan dan bawahan
Pada jaman ini kita tidak lagi mengenal hubungan tuan-hamba. Perbudakan sudah dihapuskan dan bahkan dilarang. Penghapusan dan pelarangan perbudakan itu kita anggap merupakan perintah Tuhan karena merupakan penodaan dan pelecehan terhadap manusia ciptaan Tuhan. Namun kita akui pada jaman dahulu perbudakan masih dianggap hal lumrah dan wajar. Paulus memang tidak berpikir merombak tatanan yang mengijinkan perbudakan namun dia menasihati baik tuan maupun budak jaman dahulu agar taat kepada Tuhan.
Lantas apa yang dapat kita ambil dari Kolose 3:22-4:1 ini untuk jaman sekarang. Pertama-tama baik sebagai atasan maupun bawahan, pemimpin maupun yang dipimpin, kita diajak agar bersikap taat kepada Tuhan. Dialah sesungguhnya Tuan atau Majikan kita. Dialah Pemilik diri kita. PerintahNya harus kita taati. Dan kita tahu semua perintah Tuhan itu adalah demi kebaikan dan kehidupan kita sendiri. Dia sangat mengasihi kita dan bahkan rela mati demi kita. Tak ada alasan sama sekali bagi kita mengabaikan Tuhan.
Kedudukan berganti dan peran bergilir. Namun kita semua diajak benar-benar rajin bekerja dan tidak melakukan kesalahan apalagi kejahatan dalam pekerjaan kita. Apapun posisi dan perannya semua harus bersikap adil dan jujur.
Diskusi dan Renungan:
1. Apa dan bagaimanakah kita membangun hubungan suami-istri yang benar? Jika pasangan hidup kita ditanya, apakah dia bahagia dan berarti di dekat kita? Sebaliknya, apakah kita juga merasa bahagia dan berarti bersamanya? Jika tidak atau kurang, apa sajakah yang harus kita ubah dalam diri dan hubungan kita itu? Sejauhmanakah kita menghormati/dihormati dan mengasihi/dikasihi pasangan hidup kita?
2. Apa dan bagaimanakah kita membangun hubungan orangtua dan anak yang benar? Apakah sikap hormat hanya ditujukan kepada orangtua dan tidak perlu diberlakukan kepada anak? Dalam hal apakah kita paling sering gagal mendidik anak-anak kita? Sebaliknya dalam hal apa anak-anak kita paling lemah? Bagaimanakah keluarga kita ditinjau dari pandangan Tuhan?
3. Apa dan bagaimana kita membangun hubungan sosial dan ekonomi serta politik yang benar? Bagaimanakah agar keadilan dan kejujuran juga kerja keras menjadi nilai-nilai bersama yang dijunjung tinggi dalam masyarakat kita?
Share on Facebook
Trmksh ya Amang atas penjelasan yang diberikan untuk bahan bacaan renungan sermon minggu ini. Kiranya kita semua dikuatkan oleh Tuhan untuk melakukannya dalam kehidupan rumah tangga kita dan juga di tempat kerja kita.
Oh ya Amang, bagaimana dengan kondisi kesehatan Amang saat ini??? Apa skrg sudah lebih baikan??? Sdh dibawa berobat ke dokter kmrn Amang??? Semoga cepat sembuh ya Amang & Tuhan terus memberkati pelayanan Amang dan seluruh keluarga Amang.
Relasi antarmanusia yang organik, fungsional, dan eksistensial, antara:
– Kita dan Keluarga
– Kita dan Tetangga/Jemaat
– Kita dan Konsistituen/Pelangggan
– Kita dan Sejawat/Profesi/Industri/Supplier
harus dijaga dengan baik: positif, konstruktif, dan sinergis — sebab secara praktis pada mereka, oleh mereka, dan karena merekalah kita hidup dengan baik.
Kita harus berguna bagi mereka, itu intinya!
butuh pemahaman memang amang yah….apalagi hub antar suami + istri saling pengertian yang sangat dalam, kasih sayang dan pengayoman agar pasangan kita merasa nyaman, damai apalagi klo dah ada momongan wah …….harus ada EXTRA nya…
Amang! ada berita di Metro TV tadi pagi memberitakan pdt Hutahaean yg melecehkan 19 org mahasiswinya, benarkah itu amang???? Amat sangat mengganggu jiwa saya , kebetulan kedua putri saya juga ikut mendengar? Apakah ini juga termasuk perbudakan dimaksud pada alinea ketiga tsb.
Daniel Harahap:
Ya kita sama-sama sangat prihatin dan gundah. Kebetulan saya barusan langsung meneelpon Sekjen menanyakan berita tersebut. Beliau mengatakan bahwa Pimpinan HKBP sudah bertindak dengan mengeluarkan yang bersangkutan dari Sekolah Bibelvrouw Laguboti. Lantas Pimpinan HKBP juga telah membentuk sebuah Tim yang diketuai langsung oleh Kadep Koinonia Pdt Jamilin Sirait untuk meneliti kasus tersebut dengan meminta keterangan dari semua pihak. (Saya pikir jika tim itu harus diketuai pimpinan HKBP menunjukkan masalah itu dianggap sangat serius). Mengenai tindakan “paminsangon” kepada yang
bersangkutan sesuai dengan Ruhut Parmahanion Paminsangon diserahkan kepada Rapat Pendeta Distrik Toba. Lembaga itulah yang berhak menjatuhkan sanksi menyangkut tohonan kepada yang bersangkutan. Harapan saya ada tindakan tegas sekaligus
sejumlah tindakan preventif dan preemptif agar kasus2 semacam ini tidak terulang lagi di masa depan. Tentang sudah disiarkan di televisi, ya apa boleh buat, kita tanggunglah malu bersama
Semoga kasus pelecehan itu diselesaikan dengan Benar! soalnya ada juga yang dselesaikan dengan tidak benar, dan merugikan si korban……
Trims amang buat bahasan sermon ini…..singkat, padat dan luar biasa.
Disaat HKBP ingin memperbaiki dan menunjukkan eksistensinya, ada juga hal yang membuat “corengan” diwajah sendiri.
Inilah terkadang yang membuat jemaat akhirnya tidak semangat dan tidak mendukung disebabkan “gembalanya” sendiri tidak mencerminkan gembala teladan.
Kami sebagai jemaat mohon agar masalah yg muncul tsb agar diselesaikan dengan Profesional dan benar olah pihak terkait. Tegakkan dan tunjukan kredibilitas HKBP melalui pemimpin jemaat yang benar! Sehingga nama Tuhan tidak dihujat…