Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Kita bernatal dan bertahun baru di jaman teknologi ponsel dan jaman internet. Itu adalah berkat. Minimal lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Sebab itu mari mensyukuri dan memanfaatkan teknologi ponsel dan internet ini memeriahkan dan menguatkan hari natal dan tahun baru kita.
Jika dahulu kita harus menunggu berhari-hari (atau mungkin lebih) kartu ucapan natal kita tiba di tangan kekasih atau saudara, maka dengan SMS atau pesan pendek ponsel ucapan natal kita bisa tiba hanya dalam beberapa detik saja kepada kekasih atau saudara yang tinggal di luar kota atau bahkan luar negeri sana. Atau kalau mau lebih cepat pakai internet saja. Tuliskan perasaan saudara di hari natal ini di facebook maka ratusan teman saudara segera membacanya dan bisa meresponnya. Bukankah ini anugerah? Ya dan tidak.
Teknologi ponsel dan internet memang amat sangat membantu kita mengirimkan pesan natal dan tahun baru kita dari segi kecepatan dan kemudahan juga biaya. Dengan sekali pencet tombol ponsel kita bisa mengirim satu pesan natal kepada puluhan atau ratusan nama yang ada di ponsel kita. Kita tidak perlu capek-capek lagi menuliskan ucapan dan menandatanganinya lantas menempelkan perangko ke amplopnya. Dengan satu kali pencet keyboard komputer kita bisa mengirimkan ucapan selamat natal atau tahun baru kepada ratusan atau ribuan orang yang tersebar di seantero dunia. Kita tidak perlu menunggu berhari-hari agar pesan itu sampai lantas direspon kemudian dikirim balik lantas sampai lagi kepada kita.
Namun apakah yang terjadi? SMS natal tanpa nama. Kartu natal elektronik massal, fabrikasi dan tanpa rasa. Pesan natal cetakan yang bisa dipakai dan dipakai ulang untuk siapa saja. Dan saya pikir itulah yang sedang terjadi. Bahkan karena terlalu cepat dan banyak mengirim SMS yang bersangkutan sampai lupa dan mengirimkan lagi pesan natal cetakan itu kepada kita. Kalau ada bunyi sebuah SMS dianggap menarik atau unik maka tanpa rasa bersalah orang bisa membajaknya dan meneruskannya kepada orang lain lagi dan orang lain lagi. Jadilah SMS natal berantai yang tidak lagi menyapa apalagi menyentuh hati. Mual? Hapus saja dan tidak perlu dibalas apalagi dengan cara yang sama.
Lihatlah lagi pesan-pesan pendek selamat natal yang masuk ke ponsel Anda. Berapakah yang menyebutkan nama Anda? Berapakah yang benar-benar spesifik ditujukan kepada Anda pribadi? Saya berani bertaruh mungkin tidak ada sepuluh persen pesan itu yang menyapa Anda pribadi. Lantas untuk apa semua itu?
Lihatlah facebook Anda atau email Anda. Periksalah ulang jika Anda belum menghapusnya. Berapakah kartu natal elektronik yang menyebut nama Anda pribadi? Berapakah kartu natal yang spesifik ditujukan kepada Anda secara personal?
Teknologi ponsel dan internet memang anugerah dan bisa kita manfaatkan menguatkan suasana natal dan tahun baru kita. Namun jika kita tidak kritis, teknologi itu bisa menghasilkan pesan-pesan natal cetakan tak berjiwa, karena memang tidak lagi dikirimkan dengan menggunakan perasaan. Lantas berapakah Anda memberi nilai atau harga sebuah salam tanpa perasaan semacam itu? Lebih dalam: berapakah harga Anda dalam sebuah salam massal tanpa nama itu?
Karena itulah dengan setengah bercanda saya menuliskan di facebook saya: mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat saya tidak menerima kartu natal elektronik tanpa nama. Saya lebih bersukacita jika ucapan selamat natal dikirimkan dalam bentuk teks sederhana namun jelas menyebut nama saya dan ditujukan kepada saya sebagai pribadi yang berharga.
Selamat bernatal di jaman ponsel dan internet. Namun mari tetap memakai perasaan. Dan kembali menjadi manusia.
Share on Facebook
Benar jg apa yg disampaikan amang,hampir semua sms selamat Natal yg saya terima tidak menyebutkan nama saya,kecuali beberapa sms balasan yg saya terima.Akan tetapi,saya pikir tidak terlalu masalah juga, yg penting niat pengirimnya ikhlas dan tulus. Selamat Tahun Baru buat Amang DTA Harahap dan keluarga…
Daniel Harahap:
Selamat natal juga Lae Supardi. Kalau niatnya tulus tentu si pengirim akan mengetik nama Lae.
Memang betul amang,semakin terasa hambar saja ucapan selamat natal itu, habis jaman sekarang sudah semakin banyak saja orang mau gampangnya saja, ya gitulah! Selamat Natal dan Tahun Baru Amang.
Ah, syukurlah amang ucapan tahun baruku untuk amang sekeluarga tadi malam itu menuliskan dgn jelas nama amang
Betul sekali yang amang tuliskan ini bahkan kadang2 sms2 itu tak kubalas krn rasa2nya org yb mengirimnya jelas2 tidak ada bakat menuliskan kalimat2 yg indah2 seperti yg dikirimkan kepada saya.
Untuk mertuaku yg berusia 80 thn dan tak mengerti hp masih saya kirimi kartu natal dgn kata2 yg santun dan sepucuk surat, dan ketika aku tlp subuh tadi dia bilang terharu menerima kartu natalku satu2nya, aku jadi senang
Saya juga banyak menerima ucapan natal tanpa perasaan itu. Tadinya saya sempat berencana membalas/forward ucapan tersebut dengan cara yang sama setelah memilih mana yang terbaik. Tapi saya pikir itu tindakan tak bernilai. Biarlah saya hanya menulis sedikit ucapan natal dan membalas sms yang saya terima hanya dengan kalimat sederhana tapi dengan hati yang tulus.
Tadi malam saya juga berniat menelepon langsung pemilik rumametmet ini untuk mengucapkan selamat tahun baru, tapi saya urungkan karena takut merepotkan , saya pikir pasti banyak anggota jemaat yang lain atau kolega yang harus dia terima/layani, dan seandainya dia jawab telepon saya disaat seperti ini, paling juga dia akan menjawab tanpa perasaan…
Jadi molo songoni do pangalaho na : ” Selamat taon baru ma Amang Pandita, sai sahat ma angka na pinarsinta ni roha ni Amang di taon 2010 on” Horas.
Daniel Harahap:
hahahaha. selamat taon baru ma di hamu sekeluarga. Asi ma roha ni Tuhan. Sai ditangihon ma angka na pinarsinta ni rohanta di taon parasinirohaon on.
Sai huhirim do teleponmuna nabodari na mandok: “nunga hutongos pe sapiring katupet, panditanami, las ma rohamuna”.
Sampeyan ini sebenernya cocok untuk menjadi “pengembang software” saja. Dari posting ini, sebenarnya tersimpul ide : Mengapa tidak di buat (dan tentunya dijual) teknologi Greeting Card yang secara langsung “mengambil” nama yang di kirim di Ponsel ke Greeting Card nya??? Sehingga, nama yang di kirimi Greeting Card tidak perlu di ketik ulang satu persatu. Hhhmmm….ide baru nih bos…
Daniel Harahap:
Ya bagus sekali. Apalagi kalau software itu bisa mengenali nama tersebut harus disapa dengan sebutan Tulang/ Nantulang, ito, lae/eda, opung, bere, inangbao/amangbao dll.
Ima efek pudi ni globalisasi: komoditisasi segala hal, termasuk relasi antarmanusia, yang justru kehilangan rohnya manakala tak ada lagi keunikan, keintiman, dan kecintaan.
Setuju dengan kritik Amang DTA. Dan marilah kita memperkaya relasi-relasi yang kita dengan mengingat bahwa apa yang kita tuliskan sesungguhnya adalah kita sendiri. “You are the message”, kata pakar komunikasi David Ellis. Sebaliknya juga benar, “My message is me.”
Jadi, SMS kodian itu — karena bukan pribadi si pengirim — boleh dibilang bagaikan lalat yang mengganggu kita saat kumpul-kumpul dengan dongan di lapo tuak
Daniel Harahap:
Bahasa Bataknya lalat adalah: lanok.
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010 kepada amang sekeluarga. Semoga sehat sejahtera selalu dan rumametmet ini di tahun 2010 semakin jaya dan menjadi saluran berkat bagi sesama sejagad raya. Bgmn persiapan SG khusus 2010 ini ? Semoga gagasan2 baik u/ kemajuan HKBP dpt tersalurkan –dari keluarga leonard m.h. hutapea
hmmm….
begicthu yachhhh…..
slamet menjadi manusia kembali…..
setelah membaca tulisan ini……