Jam di kamar tamu yang biasa dipakai untuk urusan berangkat ke sekolah telah menunjuk pukul 00.00. Namun jam di kamar tidur masih pukul 23.45. Wili, mungkin karena tak sabar lagi mengusulkan agar memakai jam kamar tamu saja. Yang lain keberatan sebab semua tahu jam itu sengaja dicepatkan. Itu artinya ini belum tahun baru. Kertas acara ibadah yang dibagikan tadi di gereja disetting untuk kebaktian tahun baru. “Ah sama saja” kata Wili.
Udara kamar kami terasa gerah. Kami sepakat pindah ke kamar Kika dan Nina. Semua lantas duduk di kasur. Sebagian lebih tinggi dan sebagian lebih rendah. Tak apalah. Semua memegang kertas acara yang sudah ditandai oleh Nina. Ya sejak pukul sepuluh malam anak ini sudah sibuk mencoret-coret kertas acara ibadah. Entah kenapa saya dan Marta menurut saja. Kepemimpinan ibadah yang di banyak keluarga adalah sang ayah oleh Nina diambil-alih tanpa permisi lantas dibagi-bagi adil sesama mereka: Kika, Nina dan Wili. Persis seperti membagi kue. Merata. Saya dan Martha disuruh cukup menjadi anggota saja. Oala. Dalam hati saya sempat mau protes. Bagaimanapun saya ini pemimpin, imam dalam keluarga ini, pikir saya. Namun saya mengurungkan niat. Ah ini sudah jaman reformasi dan demokrasi. Tak ada salahnya jika anak-anak yang memimpin ibadah. Apalagi anak-anak ini sangat bersemangat berperan. Ya sudah kata saya ikhlas.
Sebelum ibadah sempat ada diskusi mengenai persembahan. Nina mengusulkan agar uang persembahan dibagikan sebelumnya kepada mereka nanti diserahkan lagi. Saya menganggap itu agak main-main. Biar bapak dan mama saja yang memberikannya kepada gereja.
Jam di ponsel Mama tepat pukul 00.00. Kata Mama itu diset oleh providernya. Jadi katanya pasti tepat. Okelah. Kami pun duduk berkeliling mengenakan pakaian rumahan dan memulai ibadah dengan semangat. Suara anak-anak ini terutama si bungsu Willy sangat bening. Saya benar-benar merasa terpimpin beribadah di tengah malam ini.
Dalam kertas acara ada kata sambutan dan bermaaf-maafan mulai dari anggota yang terkecil. “Bagaimana kalau yang ini kita lewatkan saja?” usul Kika tiba-tiba. “Tidak bisa” kata saya. Si bungsu pun mulai bicara: “Wili minta maaf atas semua kesalahan Wili di tahun 2009″ katanya. Semua entah kenapa tertawa. Nina mengatakan hal yang sama: “Nina minta maaf atas semua kesalahan Nina. Tahun 2009 Nina suka memukul dan mencubit.” Semua tersenyum. Kika menutup mukanya dengan bantal. Semua mendesak agar si kakak juga mengaku dosa. Ya Kika juga minta maaf. “Aneh, kok kita ini minta maaf sambil tertawa-tawa” kata Kika. “Ya kita kan keluarga baik-baik.” “Ayo sekarang giliran Mama”. Si Mama pun meminta maaf. Kini giliran saya: “Bapak juga minta maaf. Tahun 2009 kadang bapak marah-marah dan terlalu sibuk di gereja sampai lupa kalian.” Hihihi. Semua tertawa. Salam-salaman dan cium-ciumannya nanti saja kata Mama. Ibadah pun dilanjutkan. Tetap dipimpin oleh Kika, Nina dan Wili.
Suara mercon di luar hingar-bingar. Kami tak perduli. Kami terus semangat bernyanyi. Ya Yesus ku berjanji setia padaMu.Kupinta Kau selalu, dekat ya Tuanku. Di kancah pergumulan jalanku tak sesat. Karna Engkau temanku pemimpin terdekat.
Ibadah mengalir sampai ujung. Semua mengucapkan doa. Lagi-lagi dimulai oleh si Wili. Saya menitikkan air mata. Doanya begitu bening. Seperti air mengalir dari gunung. Wili meminta Tuhan memberkati rencana dan janji kami. Oh betapa indahnya kata saya. Nina meneguhkan permintaan itu: Ya Tuhan kuatkanlah kami melakukan apa yang sudah kami janjikan. So sweet.
Dari mana anak-anak ini tahu meminta seperti itu tanya saya dalam hati. Saya teringat rapat keluarga kami sejam sebelumnya di kamar papa dan mama. Selain mensyukuri sejumlah berkat kami juga mentekadkan sejumlah sikap dan tindakan. Kika berdoa dengan nada yang sama. Doa Kika dilanjutkan oleh doa Mama yang mendoakan semua anak-anak dan semua saudara, khususnya Opung Cibinong yang sedang sakit dan juga Tulang Totok yang baru sembuh. Saya pun melanjutkan doa dengan mengucapkan syukur kami sekeluarga. Tahun 2009 kami menerima begitu banyak rahmat dan kebaikan Tuhan. Kami serumah lagi. Anak-anak dapat sekolah dan bisa belajar dengan baik. Mama tamat dan langsung dapat kerja. Bapak dapat kepercayaan melakukan sejumlah tugas di gereja. Kami dapat hadiah istimewa dari Opung Palembang. Dan seterusnya dan seterusnya lagi.
Saya juga membawa hasil evaluasi rapat kami ke dalam doa. Ada banyak kekurangan yang mesti diatasi dan diselesaikan. Selanjutnya saya memohon berkat di tahun baru ini bagi kami sekeluarga dan semua orang yang mengasihi dan dikasihi kami. Lantas kami pun bersama-sama mengucapkan doa Bapa Kami. Kayaknya terlalu cepat dilafalkan sehingga si kecil Wili agak kesulitan mengikutinya.
Ibadah selesai. Kini waktunya cium-ciuman. Sesudah itu apa? Silakan main kembang api. Ingat pesan bapak: boleh gembira tapi jangan mabok. Juga hati-hati jangan sampai tangan terbakar.
Selamat Tahun Baru 2010. Tahun rahmat Tuhan sudah datang!
Setelah berumur 32 tahun, dan sudah punya anak, dan semua sudah berumahtangga kecuali si bontot. Dan kami semua sudah tidak di rumah mama dan bapak. Aku jadi menyadari pentingnya acara kebaktian awal tahun baru keluarga ini. Dulu aku merasa terpaksa ikut kebaktian dan saling mandok hata yg membosankan ini disaat teman2ku pesta kembang api or check in diluar sana. Hanya kita orang batak punya tradisi kumpul & berdoa pukul 00.00 tgl 1 Januari tiap tahun. Saling mandok hata & memberi nasihat, berbagi visi & rencana, doa berantai dan saling memaafkan antar anggota keluarga. We should be proud of it. Karena tradisi ini membangun demokrasi, kebiasaan berbicara dan bonding dalam keluarga. Makin lengkap kalo ditutup dengan makan2 ditengah malam
Selamat taon baru ma bang pendeta, kak Martha, adik2ku Kika, Nina, Willy. Demi taon baru ini, aku rela meninggalkan Pantai Parai agar kumpul bersama keluarga
Selamat taon baru ma di sude keluarga ni panditanta huria Ruma Metmet, selamat taon baru ma nang tu sude ruasna, na ringgas markomentar dohot na ringgas holan manjaha. Puji Tuhan.
Daniel Harahap:
Selamat taon baru di hamu amang sintuanami. Horas tondi madingin pir tondi matogu.
Selamat taon baru ma nang sian hami sekeluarga khususnya buat amang pandita DTA sekeluarga juga kepada semua pecinta ruma metmet.
Cerita tentang ibadah akhir tahun di keluarga amang, begitu membumi sederhana. Demokrasi memang tidak di lakukan di tempat tempat plesiran. Andaikan semua orang Batak ( sepertinya memang hanya org Batak yg memiliki tradisi seperti ini) melakukannya dgn sungguh2 pastilah generasi2 orang2 Batak ini akan memiliki kepribadian yg sangat baik.
Selamat Tahun Baru buat kita semua.Utk Tahun Baru kali ini,tidak ada acara pergantian tahun di rumah.Saudara2 lebih memilih utk bergabung dgn keluarga yg lain,jd acara pergantian tahun dr rumah ke rumah deh,hehe…
Selamat taon baru ma amang Panditanami, pasahat halak amang ma Selamat Taon baru nami sekeluarga tu halak inang, maen dohot paraman i. (nang pe songon na lumambat saotik ate amang. PC di rumah lagi bermasalah, sehingga belakangan ini tidak pernah akses dari rumah).
Selamat taon baru ma di sude “ruas” ni rumametmet, sai anggiat ma taon 2010 on taon las niroha na sian Tuhanta, taon pasupasu dohot taon panghirimon di hita saluhutna.
Tradisi acara ibadah dan “evaluasi” jam 00.00 di tanggal 31 Desember, menurut hemat saya adalah suatu yang sangat baik, dan perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya. Menurut hemat saya, tradisi tersebut adalah salah satu “proses” yang dimiliki orang Batak sehingga bisa menghasilkan orang-orang yang terbiasa berpikir, berbicara dan bertindak secara “merdeka” (atau minimal memiliki otonomi yang lebih besar), karena dari kecil sudah terbiasa diciptakan “lingkungan” untuk mau dan mampu berbicara di depan umum, mau menerima/memberi kritik untuk perbaikan.
Harapan saya ke depannya, alangkah lebih baiknya lagi jika acara “malam refleksi” tersebut tidak “terkontaminasi” dengan kondisi kekinian, yang cenderung sudah mengarah pada : “kaya di ritual, miskin dalam buah!”.
Horas.
Maaf agak terlambat, Selamat Tahun Baru dari keluarga kami, H. Sinaga, MP. L. Tungkup, Nathanael Pratama, Nicholas Taruliasi, Nevan Cristian Edison untuk keluarga Amang Pdt. Daniel Taruliasi Harahap dan keluarga, juga kepada sluruh ruas Rumametmet, kami mohon ,maaf apabila dalam tahun 2009 ada perkataan dan perbuatan kami yang kurang berkenaan.
Horas.
Saya menangkap pesan yang akan disampaikan amang Pdt. DTA dalam foto di atas adalah : Memuliakan / menghadap Tuhan tidak tergantung pada tempat, pakaian, waktu, jumlah, dll. Semoga saya tidak salah.
Maaf sudah jauh terlambat Amang, Selamat Natal dan Tahun Baru Amang. Andy, Manik dan Nikita.
Berani ga amang bikin terobosan baru: Mengubah ibadah pergantian tahun di rumah menjadi ibadah Natal sekeluarga di rumah. Sebab yang merayakan pergantian tahun bukan hanya orang Kristen. Kaum ateis pun merayakannya.
Meskipun posting saya ini agak terlambat (11 Januari), Saya tetap ucapkan “Selamat Tahun Baru kepada semuanya, secara khusus buat Pak DTA”.