Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Sejujurnya, perdebatan di dalam keluarga kami belum selesai apakah warna dominan pohon natal itu pink (jaman dulu disebut merah jambu) atau fanta. Menurut Martha dan dua anak-anak (Wili kayaknya tidak begitu perduli) adalah pink sementara saya bersikukuh mengatakannya merah fanta.
Sebagaimana tahun-tahun silam, pada awalnya kami berdiskusi (kadang sulit dibedakan dengan bertengkar) tentang tema natal di rumah kami tahun ini. Wili mengusulkan tema tahun ini adalah: belajar. Apa? Ya, belajar. Anak-anak sedang dan akan belajar. Saya langsung setuju. Di benak saya langsung tergambar sebuah pohon natal yang digantungi dengan hiasan-hiasan berupa pinsil, serutan, penghapus dan penggaris. Alangkah unik dan otentik. Nina dan Kika awalnya setuju. Namun mereka berpikir mau dikemanakan hiasan-hiasan natal itu sesudahnya atau bagaimana kalau tamu datang tertarik dan mengambilnya. Dalam perkembangan kedua anak gadis itu kayaknya berubah pikiran. Sebab ide pohon natal bertema belajar itu lantas lenyap.
Saya tidak tahu kenapa pohon natal kami tiba-tiba jadi merah fanta (menurut sebagian: pink). Kesibukan di gereja membuat saya absen dari banyak percakapan sekitar Natal. Lagi pula saya masih menghayati Adven dan belum menaruh perhatian kepada pesta Natal. Namun sebagai seseorang yang selalu tergelitik mencari alasan saya pun berusaha menyelidik motif dibalik pemilihan warna tematik ini. Terus terang, pilihan saya sebenarnya bukan fanta. Itu bukan warna favorit saya. Warna kesukaan saya adalah coklat dan biru. Kata Kika dan Nina alasannya karena kami belum pernah menjadikan pink (fanta kata saya) sebagai warna. Ah itu alasan kurang kuat. Kata Mama warna pink itu sangat bagus dan manis serta melambangkan sukacita. Saya tidak menyanggah. Memang kami sangat bersukacita tahun ini karena bisa hidup serumah lagi dan melakukan banyak aktifitas bersama-sama lagi dan juga lebih sering bertengkar lagi. Tapi apakah mesti pink eh fanta?
Sebagai sesama lelaki saya bisa memastikan Wili juga pasti kurang setuju dengan warna pohon natal fanta. Tapi jika dilakukan pemungutan suara kami berdua pasti kalah. Di rumah kami ada tiga perempuan (jika ditambah mbak Mini jadi empat) sementara lelaki cuma dua. Oh beginilah rupanya nasib kaum minoritas. Akhirnya saya pun pasrah menerima kehadiran pohon natal fanta atau pinky itu di rumah kami. Dalam hati saya toh tahun depan kami bisa memilih warna tematik lain.
Sebab itu saya pun akhirnya ikut-ikutan mendandani pohon natal itu. Namun bagi seorang lelaki setengah baya seperti saya mendandani pohon natal pinky ibarat mendandani boneka barbie. Ada sedikit perasaan geli dan risih.
***
Pagi ini saya sedang mengetik Ruma Metmet. Siang kemarin kebetulan saya ke gereja HKBP Menteng. Tiba-tiba saya mendapat inspirasi baru: pohon natal bertema coklat. Alangkah indahnya. Belum pernah terpikir oleh Natal dengan warna dominan coklat. Warna keagungan bumi! Warna kesukaan saya! Oh betapa bahagianya saya jika Natal ini warna pohon natal kami sinkron dengan kepribadian saya. Lamunan saya terus mengalir. Saya membayangkan hiasan-hiasan pohon natal coklat yang bisa dimakan yang menyatukan selera mata dan lidah. Saat saya sedang asyik-asyiknya melamun, Kika baru bangun tidur dan langsung duduk di pangkuan saya dan memeluk saya manja. Tiba-tiba saya sadar putri sulung kami ini sudah mulai menjadi gadis remaja. Tak terasa hampir sebelas tahun berlalu. Sambil membelai-belai rambut si gadis, mata saya menatap pohon natal fanta eh pinky itu. Hati saya terasa sangat teduh. Untuk dialah dan Nina rupanya kami persembahkan pohon natal ini. Juga untuk si Mama yang telah berhasil menamatkan studi lanjutannya. Saya ikhlas dan bahagia.
Lantas apa untuk Wili? Tenang saja, kami suatu saat akan pergi ke Tangkuban Parahu berdua!
Selamat menyambut Natal!
Baca juga: Pohon Natal Di Rumah Kami

Amang tahun depan coba thema coklat deh.. soalnya temenku udah ada yg pernah bikin, kayu manis diikat dengan pita merah, coklat dibungkus dgn kertas merah trus digantung di pohon terang.. hasilnya.. wangi pinus plus kayu manis plus coklat… setiap lewat ruangang.. idung maunya ngendus-ngendus meluluan, karena mencium bau-bauan yang harum dan natural
Wili..?? Kirim aja ke Bali Amang.. nanti saya ajak mancing di birunya laut di bawah perkasanya tebing Uluwatu..
Daniel Harahap:
Dikirim pake Tiki?
Bahagianya bisa menata pohon Natal bersama orang-orang terkasih! Tak terbayang sebesar apa kebahagiaan saya jika saya bisa seperti Amang, merangkai dan menata pohon Natal yang indah bersama-sama!
Yang sangat menarik buat saya dari cerita amang ini , bahwa amang adalah seorang bapak yg sangat baik buat anak2 dan suami yg baik juga buat inang Martha, tidak seperti kebanyakan bapak2 yg holan dokna do nasaut, kelak anak2 amang dewasa dan menjadi orang yg berhasil ketika dibuatkan biograpinya atau diwawancara media mereka akan selalu menceritakan betapa hebatnya bapaknya mendidik dan membimbing mereka dgn penuh kasih.
Minggu lalu ada tardidi di greja kami 15 bayi dari 12 rumah tangga, kotbah inang pendeta kami mengatakan: biasakanlah sejak kecil para ayah bunda untuk selalu memeluk putra putrinya dan jadikan itu rutinitas, kelak mereka besar tidak akan mencari pelukan dari orang lain, sampai mereka kelak menikah, kalu tiba2 setelah besar baru dipeluk jadinya risih.
Kebetulan hari ini ada seminar tentang keluarga dikantorku dan nara sumbernya adalah DR. Boyke yg terkenal itu mengatakan : kalau sdh remaja sebaiknya anak perempuan lebih dekat kepada ibunya dan anak lelaki lebih dekat dgn bapaknya krn sesama perempuanlah yg bisa memahami soal keperempuanan mis: masalah haid, sedangkan utk lelaki tentu lebih memahami tentang kelelakian mis : mimpi basah dll, bila ini dilakukan tentu mereka tidak memerlukan org lain utk bercurhat curhatan
Untuk keluarga amang, selamat berkumpul kembali bersama2 tentu lebih indah daripada berjauhan dan tentunya lebih irit
Saya yakin pengunjung ruma ini dapat memetik hikmah dari cerita1 seperti ini dan melakukannya pada keluarga masing2.
Menurut saya soal warna: Saya juga sepakat warna yang ada di foto pohon Natal itu adalah warna fanta, kalau pink masih lebih muda. Biasanya warna pink lebih disukai wanita muda/remaja. Beberapa hari yang lalu di halaman depan Kompas ada satu iklan.. “perlu dipertanyakan apakah anda benar-benar seorang lelaki kalau anda termasuk seorang penggemar warna pink” berarti kesimpulan saya : Amang adalah seorang laki-laki sejati. Cuman kenapa ya ahir-ahir ini kesimpulan yang saya berikan sering salah. hehehe.
Daniel Harahap:
Saya bisa memastikan dalam hal ini ini Lae pasti tidak salah.
saya kesulitan mencari lampu pohon natal yang berpendar seperti warna pelangi yang akan saya lingkarkan mulai dari pucuk hingga kebawah pohon natal saya.
daniel harahap:
konon pusat penjualan hiasan natal ada di jalan asemka jakarta kota.
Dalam spektrum warna pelangi, umum diketahui 7 warna: mejikuhibiniu. Karena saya memerlukan 8 warna untuk 8 etos kerja, maka saya tambah satu lagi: magenta!
Di mata saya, warna fanta par ruma metmet ini adalah magenta!
Ha-ha-ha: sotung martokkar hita ate…
saya rasa semua warna adalah sama indahnya…. saya terkagum melihat seorang penginjil menggunakan batiknya dengan warna pink ke ungu2an dan tetap kelihatan agung… sempat musim tahun lalu kaos pink utk anak cowok… so that’s okey… meskipun di rumah kami, suami membebaskan semua warna utk warna cat dinding rumah, juga keramik kecuali pink… saya mencoba mengikuti sebagai satu2nya wanita dan rasanya menyenangkan mengeksplore kekayaaan warna2 yang pas buat anak2 saya cowok, tapi anggun juga utk selera mamanya…sampai2 saya kumpul2 ide2 paduan warna2…
btw, saya pernah lihat ada pohon natal di hias dengan tema ayah, bayi, dapur…seru ya… tapi di rumah kami cuma ada 3 stok warna ; nuansa kaca/kristal, warnagold dan purple atau memadukan di antaranya… dan warna dan paduan mana yang dipakai, aku serahkan ke anak utk menentukannya….. belum perrnah terpikir mengganti warna ke warna di luar stock yang ada…
Dirumah kami ada 2 pohon natal yang dihiasi oleh keponakanku ,yang satu bernuansa merah dan satu bernuansa ungu ,semoga nuansa yang ada menjadikan kita semakin bersuka cita