Almanak Selasa 08 Desember 2009:
Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat. (Yesaya 40:26)
Apakah langit masih bercerita tentang kemuliaan Tuhan? Apakah bintang-bintang di langit masih menggetarkan hati kita dan mengajak kita menyembah Dia? Apakah laut, sungai, danau dan hutan masih mau bersuara kepada kita tentang Tuhan Sang Pencipta yang mulia dan pengasih? Ataukah kita hanya melihat semua itu sebagai objek yang sedang atau suatu saat bisa dieksploitir untuk kepentingan kita? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang langsung muncul di benak saya saat membaca ayat hari ini.
Namun tiba-tiba saya teringat lagi perjalanan dengan pesawat beberapa hari lalu dari Medan. Sepanjang perjalanan cuaca mendung dan berawan pekat. Hari masih sore namun dari jendela pesawat yang kelihatan hanyalah gumpalan hitam. Suasana sangat sunyi. Tak ada yang bersuara sama sekali. Sepertinya para penumpang larut dalam lamunan atau mungkin lebih tepat ketakutan masing-masing. Tiba-tiba saya merasa begitu kecil dan mengaku Tuhan sungguh besar. Dan saya yakin banyak orang sepesawat mengalami perasaan semacam itu.
Sebetulnya sangat disayangkan jika kita hanya pada saat-saat tertentu saja, terutama di saat badai, tsunami, gempa dan petir menyambar merasakan kehadiran Allah yang penuh kuasa. Kemuliaan Allah yang telah mengutus PutraNya sebagai penyelamat itu sesungguhnya tercermin dalam seluruh ciptaanNya: semut kecil, buih ombak, tarian kupu-kupu, urat daun atau bunga rumput. Namun pertanyaan: mata yang bagaimanakah yang masih mampu melihat kemuliaan Tuhan itu? Hati yang bagaimanakah yang masih sanggup merasakan kasih dan kemuliaan Tuhan di alam? Jawab saya: mata dan hati manusia. Lantas siapakah saya jika saya tak mampu lagi melihatnya?
Doa:
Ya Allah, bukalah mata dan hati kami menyaksikan kemuliaanMu dalam seluruh ciptaanMu dan juga dalam sejarah hidup kami. Terutama mampukanlah kami melihat kasihMu dalam diri anak-anakMu yang kecil dan miskin. Demi Kristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Kembali ke halaman depan:
Segala Kemuliaan dan Pujian hanya bagi Tuhan Sang Maha Pencipta. Begitu Besar dan Ajaib karya-Nya. Manusia, seperti saya ini jg, yang kecil dan tak berarti apa2 acap kali sombong dan meragukan kebesaran-Nya, namun Dia yang Maha Pengasih tetap sabar menanti pertobatan si manusia yang kecil ini. Ajaib benar anugerah-Nya, bahkan merelakan Anak-Nya lahir, disiksa dan disalibkan demi kasihn-Nya kepadaku.
Acap kali mata ini kabur, tidak mau dan tidak mampu melihat keagungan Tuhan. Melirik saja enggan. Ya, Tuhan mampukanlah kami melihat, merasakan dan menikmati segala ciptaanmu. Gerakkan hati kami untuk mampu memaknai segalanya dengan penuh rasa syukur.
Kalaulah mata kita tertuju akan apa yang di ciptakan Tuhan itu indah dan tidak kita exploitasi besarbesaran mungkin indahnya perbukitan yang saat ini gundul akan terlihat lebih indah lagi. Tapi apa daya kerausan manusia menyebabkan tidak indahnya pemandangan tsbt, karena gundul. terjadilah penomena alam yang tidak kita duga.
Kekuasaan Tuhan tak terbantahkan, terbukti dari banyaknya misteri dan rahasia alam yang tidak dapat terjangkau oleh daya Nalar manusia, dan menunjukkan kefanaan, keterbatasan yang hakiki di dalam diri manusia sendiri..
Horas
Langit masih merupakan salah satu media bagi Allah untuk selalu mengingatkan manusia akan Kuasa dan kemulianNya. Pelangi sebagai simbol perjanjian Allah dengan Nabi Nuh, dimana Allah tidak akan pernah lagi menurunkan musibah Air Bah di bumi. Saat pelagi terbentang di langit saat itu Allah mengingat akan perjanjian itu.
Kehadiran Allah dengan segala kuasanya selalu hadir dalam alam dan hidup manusia. Getaran itu akan terasa pada saat saya mengaku dosa dan mohon ampun kehadiratNya. Pada posisi itu saya harus belajar mentaati dan mengakui kuasa dan kemulianNya, tanpa itu aku tidak akan menjadi dan berarti apapun. Dan kesadaran itu sangat terasa pada saat saya mengucap syukur atas segala kehendakNya.
Sudah menjadi sifat yg hampir alami, kita akan berteriak dan ingat akan Allah pada saat terjadi musibah, dan lupa bersyukur pada saat kita “sonang sohariboan”, yg saya tahu didua titik itu Allah berperan dan hadir. Sebangun dengan kebiasaan yang saya alami di Kampungku, dulu tapi. Saya melihat, ikut dan mendengar doa yang khusuk pada saat akan makan JUHUT, tidak pada saat makan nasi Warna dg gulamo kepala batu (Nasi Warna: jagung yang telah ditumbuk dan dicampur beras, dimasak dengan perbandingan 1:3 =1 muk beras,3 muk jagung). Padahal trend makan juhut hanya pada saat Natal dan Tahun Baru, selebihnya kembali ke Nasi Warna plus Gulamo Kepala Batu dan terkadang dg sayur (yg kami sebut Hatumbor) rasanya mirip bayam yg tumbuh sendiri diladang pada saat musim hujan..
Ketika melihat kebesaran Allah atas ciptaannya
pasti kita terkagum-kagum
dan menggeleng-gelengkan kepala
seraya mengatakan ‘Sungguh besar Kau Allahku’ – Amazing
Mari kita puji Tuhan dalam kebesaranNya:
Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!” (KJ.64)
Manusia berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi pikiran maupun perasaannya tetapi kemuliaan dan keindahan ciptaan Tuhan selalu tetap tersedia untuk kita bisa lihat.
Melaluinya,kita mengetahui bahwa betapa maha kuasa dan maha kuatnya Allah kita.
Yesus sendiri yang mensinyalir adanya orang-orang yang bertelinga tapi tak mendengar, bermata tapi tak melihat.
Ada 3 jenis simalolong: mata daging, mata pikiran, dan mata hati. Dengan mata pikiran (yang terdidik dengan baik) maka kita bisa melihat elektron, proton, dan atom; melihat molekul DNA, celah sinaptik, dan sel otak; melihat tatasurya, galaksi, dan kosmos; walaupun semua itu tak terlihat dengan mata daging.
Dengan budi yang terdidik, mata hati kita pun bisa melihat berkat di balik kerugian, anugerah di balik kehancuran, atau rahmat di dalam kemiskinan.
Dalam konteks inilah kita memerlukan mata pembelajar, roha sisean, dan pikiran yang selalu ingin mengerti segala sesuatu, seperti Einstein yang terkenal dengan tekadnya: I want to understand the mind of God.
Tak heran jika Einstein pula yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah keajaiban (miracle). Berarti, mestinya, tiap hari kita bisa takjub, heran, dan tak putus bersyukur. Jadi, amazing grace-lah kidung kita hari lepas hari.
Saya suka ayat ini. Paling mudah menyadari kemahakuasaan Allah bila kita menengok sebentar saja ke langit.
Ketika aku bersenda gurau dgn anak2ku disana kulihat betapa mahakuasanya Tuhan itu, ketika aku melahirkannya selalu merasa takzim, kok bisa ya mereka sesempurna itu, lalu ketika membesarkan anak2 ini tidak terasa setiap saat disana ada keajaiban yg maha dahsyat dari sang pemilik kehidupan.
Sungguh nats yang menggetarkan jiwa dan raga.