Amandemen Konstitusi: Ujian Keseriusan HKBP Berorganisasi

December 7, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Tim Amandemen HKBP sedang rapat di Medan. Menurut rencana Sinode Godang HKBP amandemen Aturan akan dilaksanakan Juli 2010. Artinya: hanya tujuh bulan lagi. Namun sampai kini usulan amandemen yang masuk dari jemaat-jemaat (baca: lewat mekanisme keputusan rapat huria dan bukan pendapat perorangan) masihlah minim sekali. Apa artinya ini?

Pertama: ini bisa diartikan Aturan HKBP 2002 dianggap sudah sangat baik dan komplit atau sempurna dan karena itu tidak perlu diubah lagi sama sekali. Dan betapapun naifnya, sepertinya pemikiran itu ada baik di kalangan pendeta maupun warga jemaat. Namun pendapat itu bisa dikiritisi: jika memang sudah ideal kenapa Sinode Godang 2008 masih mengamanatkan untuk mengamandemennya? Selanjutnya, jika sudah ideal kenapa cukup banyak orang masih mempersoalkannya dan bahkan ada yang ingin kembali ke Aturan sebelumnya saja?

Kedua: bisa juga diartikan sebaliknya. Aturan 2002 dianggap sangat “parah” dan karena itu tidak cocok hanya diamandemen, melainkan harus direvisi total. Pikiran itu juga ada di kalangan sebagian warga dan pendeta.  Sementara Sinode Godang hanya mengijinkan amandemen dan bukan perubahan total. Sebab itu yang berpendapat semacam ini merasa tidak ada gunanya memberi pendapat. Tapi persoalannya: jika benar Aturan sangat lemah (baca: yang menetapkannya adalah Sinode Godang HKBP) lantas apa hendak dibiarkan saja? Apakah benar dan bijak mengharap mujizat terjadi yang dalam seketika mengubah segalanya di HKBP menjadi baik?

Ketiga: atau, bisa juga diartikan memang HKBP belum kunjung dewasa sebagai organisasi gereja. Banyak warga dan pendeta hanya sibuk dengan urusan siapa pimpinan dan bukan apa dan bagaimana organisasi gereja HKBP harus dibangun dan dijalankan. Atau tak perduli. Atau hanya berani marhata metmet (berbicara kecil) di belakang namun diam membisu jika sudah di depan forum. Atau, hanya mau bicara banyak tentang amandemen namun tidak mau capek-capek mewujudkannya menjadi usulan resmi melalui proses pengambilan keputusan jemaat. Atau kasarnya, maaf: holan hata.

Mana yang lebih benar? Silakan jawab sendiri. Namun yang jelas Tim Amandemen (saya salah seorang anggotanya) hanya bisa bekerja berdasarkan usulan yang masuk lewat mekanisme yang diatur dalam Aturan itu sendiri. Yaitu: melalui jemaat, resort dan distrik. Sebab itu jika memang warga dan pelayan HKBP berpendapat ada yang harus diamandemen dalam Aturannya maka segeralah adakan Rapat Huria dan sampaikanlah usulan amandemen itu lewat keputusan rapat huria itu. Jika tidak, ikhlaslah menerima Aturan 2002 apa adanya sesudah Sinode 2010. Jangan bersungut-sungut dan mengeluh. Bahasa Bataknya: unang marmungut-mungut manang morong-orong.

Terakhir, saya mau memakai gaya bahasa iklan: saya sudah membuka selanjutnya terserah Anda. :-)

Share on Facebook

30 Responses to Amandemen Konstitusi: Ujian Keseriusan HKBP Berorganisasi

  1. Friska pardede on December 3, 2009 at 8:07 pm

    Saya termasuk jemaat yg dimaksud itu amang hanya bersungut2, setelah membaca postingan amang kemarin barulah saya sibuk mencari aturan 2002 itu dan mungkin baru bisa saya dapatkan besok, jadi tak beranilah aku memberikan pendapat.

    Rapat dihuria kami sudah ditentukan orang2nya, mungkin orang2 pilihan,saya blm termasuk golongan orang2 pilihan itu makanya saya tdk pernah kebagian undangannya.
    Setlh saya baca aturan 2002 itu barulah nanti saya nompang kasih pendapat diruma ini saja,kan…..buka duapuluh empat jam sehari :)

  2. Februando Simanungkalit on December 3, 2009 at 9:20 pm

    Horas lagi amang,
    Minimnya usulan untuk amandemen AP 2002 melalui proses rapot huria terjadi karena tidak ada sosialisasi tentang hal itu dari parhalado yang ikut SG yang lalu. Mudah-mudahan untuk periode 2010 nanti bisa ditindaklanjuti di huria kami. Tapi kalau boleh menambah usul lagi amang, untuk tim amandemen yang lagi rapat sekarang di Medan, ada 3 hal amang.
    1. Ponggol Parjolo tentang aturan Bindu 1, no.13,14 dan 15 tentang resort dihapuskan saja. Resort itu memperpanjang jalur birokrasi dan menambah beban huria, untuk yang dipedesaan yang tidak dapat memenuhi perbelanjaan pelayan full timer, dibekas resort tersebut ditempatkan saja satu orang pelayan full timer, tapi bukan sebagai pendeta resort seperti selama ini, tapi sebagai koordinator yang melayani dan dibiayai beberapa huria bekas resort tersebut.
    2. Ponggol parjolo tentang peraturan, bindu 3 kalau bisa agar ditambahkan untuk menyediakan waktu dan tempat untuk conseling bagi ruas yang mengalami pergumulan di setiap huria.
    3. Ponggol parjolo tentang peraturan bindu 4 no.3
    Pandita huria sebagai uluan ni huria marsada sada, punya periode Maksimal 4 Thn, jika sudah ada SK perpindahan dari Pimpinan HKBP pendeta tersebut harus melaksanakannya. Dan sebelum ditempatkan menjadi uluan huria, terutama pendeta yang masih muda, agar dibekali terlebih dahulu, untuk memperlancar pendeta tersebut melaksanakan tugasnya sebagai pelayan full timer ditengah ruas yang begitu heterogen. Itu saja amang usulan saya, mohon maaf jika ada kata yang tak berkenan, terima kasih. Selamat mar-Advent.

  3. elumban on December 3, 2009 at 10:12 pm

    Di gereja kami ngak pernah disinggung-singguh mengenai ini, apalagi mendorong ruas utk memberikan sumbangan pikiran utk mengamandemen aturan tsb. Atau bahkan, jangan2 kami ngak ngerti apakah sudah menjalankan AP2002, atau belum?

  4. Jansen Sinamo on December 4, 2009 at 2:56 am

    Menarik untuk menemukan relasi simetris antara entitas berikut ini
    –Tri Tunggal Allah: Bapa, Anak, Roh Kudus; dengan…
    –Tri Berkat Utama: Kasih Bapa, Anugerah Kristus, Persekutuan RK; dgn…
    –Tri Pelayanan Gereja: Marturia, Koinonia, Diakonia; dengan…
    –Tri Tugas Pendeta: Presbiterial, Pastoral, Managerial; dengan…
    –Tri Kuasa Organisasi: Eksekutif, Legislatif, Yudikatif…

    Merumuskan AP (juga mengandemennya) adalah kegiatan legislasi. Dan saya melihat justru di titik inilah gereja-gereja Protestan (tidak hanya HKBP) kehilangan rigoritas koneksi yang serba tiga itu ke atas. Maksud saya, kekuasaan bisa menggumpal di titik pendeta atau malah buyar pada titik itu, lalu kacau dan hiruk pikuk, tergantung pada tipe dan kekuatan pribadi sang pendeta. Kita tahu soal Kerajaan Allah adalah soal kekuasaan

    Konjektur saya: bila hakikat dan makna keserbatigaan ini dibikin tegas, terang, dan jernih — dari hulu sampai ke hilir — maka banyak problema serta kerundutan bin kekusutan akan hilang dengan sendirinya dari tubuh jemaat.

    Konjektur saya yang lain: Keserbatigaan Kristiani di atas yang bergema pada/dengan keserbatigaan Batak (Debata Natolu, Dalihan Natolu, Banua Natolu, Triwarna merah-hitam-putih) jangan-jangan merupakan sumbu kosmos (mundi axis) pikiran kita selama ini.

    Jika konjektur-konjektur di atas benar maka yang kita perlukan adalah menata seluruh bangunan konsep AP menjadi serbatiga secara rigor yang niscaya membuahkan komprehensi, konsistensi, dan simetri.

    Pada aras berpikir, buat saya, begitu yang ideal

  5. Jansen Sinamo on December 4, 2009 at 3:39 am

    Seorang teman yang bekerja sebagai peneliti pada Setjen DPR RI mengatakan bahwa UUD 45 sudah diterjemahkan selama 64 tahun Indonesia merdeka menjadi lebih dari 2.000 Undang-Undang.

    Alamak! Menakjubkan…

    Tapi tak usah jadi ahli, warga awam saja tahu: makin banyak aturan makin tak ketulungan rasanya hidup di republik ini.

    Lagi-lagi konjektur saya: ribuan UU itu tidak memiliki komprehensi, konsistensi, dan simetri konseptual ke hulu, ke samping, dan ke hilir.

    Soal lain (mungkin ini lebih serius): logos, etos, patos kita tidak seimbang. UU atau AP adalah logos organisasi, sudah kita katakan tadi: tidak komprehensif/kosisten/simetris. Etos (karakter) pun sering lonjong/bengkok/peang alias tidak bulat/utuh/integral. Maka patos (semangat) pun bisa aneh ekspresinya: kalau tidak overly zealous, ya mintop (sinis, apatis, pesimis).

    Kata Yohannes, peristiwa Natal adalah momen sakral ketika Logos berkenan menjadi daging dan diam di antara kita. Semoga kita semua (khususnya Tim Amandemen yang sedang rapat di Medan) semakin jernih pikirannya, terang hatinya, dan benderang budinya saat merajut kata dan wacana untuk menjadi untaian AP yang lebih berkualitas.

  6. lmh.hut on December 4, 2009 at 7:08 am

    Tampaknya penyebab lambat masuk usulan amandemen itu kombinasi dari ketiga faktor di atas. Cuma yg mau saya tanya : 1. Apakah jadwal rapat tim amandemen tgl 2-4 Des sdh diketahui dan diedarkan ke semua wilayah? 2. Apakah waktu kompilasi usulan hanya saat tgl 2-4 Des saja atau masih ada waktu tambahan lain ? 3. Apakah saat sinode juli 2010 nanti masih bisa ditampung usulan tambahan (lewat perorangan atau gereja) ? Terimakasih amang.

    Daniel Harahap:
    Jadwal sudah dikirim ke jemaat-jemaat. Diharapkan usulan dari jemaat2 dan ressort2 masuk paling lambat akhir januari 2010. Tentu saja saat Sinode Godang tidak mungkin lagi ada usul tambahan. Usul perorangan agar disalurkan lewat jemaat. Artinya jika ada pribadi atau kelompok yang ingin menyumbang usul, sebaiknya dimasukkan lewat jemaat dan merupakan keputusan rapat huria.

  7. liberty on December 4, 2009 at 7:18 am

    hidup pak jansen sinamo..luar biasa..

  8. manna on December 4, 2009 at 8:29 am

    Jujur, sebagai warga gereja yang lumayan rajin mengikuti agendanya, rasanya topik masukan untuk amandemen belum menjadi bahan diskusi pada kesempatan manapun juga. Apalagi dalam rapat huria. Malah rasanya pertemuan pertemuan atau rapat huria pun belum diminati atau dirasakan perlu atau meruoakan bagian milik setiao warga grereja. Apa artinya? Mungkin itu terjadi juga pada diri saya. Rapat huria yang saya alami mendiskusikan hal lokal, anggaran, kegiatan kategorial dlsb. Mungkin hal yang harus diawali ialah bagaiman agar warga merasa “saya adalah gereja” Karena dengan demikian bila ada yang “saya” butuhkan, atau sempurnakan, atau tambahkan, atau malah diganti; maka timbul kesegeraan. Timbul kritisi. Timbul upaya. Dan, tidak hanya ungut-ungut. Dari saya pribadi, bila mungkin, adalah keseriusan seluruh parhalado termasuk penatua untuk membekali diri sesuai dengan panggilan masing-masing. Sebaiknya hal tersebut difasilitasi. Misalnya periodisasi, baik dalam arti waktu, tempat, jenjang/hirarki. Alangkah baiknya bila ada peta yang jelas, sehingga semua punya persiapan yang dibutuhkan. Salam kasih untuk seuruh peserta Rapat Amandemen, semoga sehat, dan berhasil membuat amandemen yang sesuai dengan warna gereja HKBP global

  9. Gaya Hutasoit on December 4, 2009 at 9:03 am

    “Jadwal sudah dikirim ke jemaat-jemaat. Diharapkan usulan dari jemaat2 dan ressort2 masuk paling lambat akhir januari 2010.”

    Terima kasih atas informasi ini. Saya akan usulkan diadakan pertemuan untuk menampung usulan amandemen ini di resort kami. Bukan bermaksud marungut-ungut. Ada tiga orang pendeta HKBP yang saya tanya tentang hal ini, (pertemuan di Medan, amandemen AP) mereka sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu. Para sintua yang tiap minggu marsermon, juga tak tahu boleh ada usulan amandemen dari ruas. Ya, sistem informasi yang patut kita benahi bersama.

    Daniel Harahap:
    Ya bagus sekali. Sebab proses amandemen Aturan ini harus dilakukan sesuai dengan Aturan juga. Jadi segeralah kita desak agar diadakan rapat huria untuk memutuskan usulan amandemen dari huria masing-masing. Hasilnya dikirimkan ke resort dan ditembuskan ke Tim Amandemen di Kantor Pusat. Jika ada masukan2 pribadi atau kelompok juga agar disalurkan melalui rapat huria.

  10. Gaya Hutasoit on December 4, 2009 at 9:10 am

    Pesan buat Pak Sintua Jansen Sinamo:
    Amang (mungkin) boleh memberi beberapa butir dalam AP yang harus diamandemen. Boleh jadi, tak semua bisa menangkap ide yang amang sampaikan. Saya dan warga HKBP yang awam juga, butuh pendalaman yang lebih rinci. Mauliate amang.

  11. tanobato on December 4, 2009 at 9:32 am

    Ah, na mansai porlu nuaeng di ruas ni HKBP i ma: boha asa sude panggomgomi (Eforus, Sekjen, Kadep, Ketua RPP, Praeses, Pandita Resort, Pandita Huria) sada rohana tu sude ulaon na denggan na manghobasi huria ni Tuhan i. Orientasi pada Kristus sang Kepala Gereja, fokus pada pelayanan jemaat, BUKAN KEPADA AMBISI PRIBADI (apalagi “keserakahan” pribadi …). Molo nunga boi songon i, gabe sitiruon ruas ma nasida saluhutna.

    Pandok ni halak na pistar, na so adong be “role model” nuaeng di hurianta na bolon on.

    Horas jala gabe! Tapagodang ma angka sitiruon na denggan di huriantabe.

    Daniel Harahap:
    Eforus, Sekjemnd, Kadep,Ketua RPP dohot angka na asing ndang panggomgomi (pamarenta) alai parhobas do huria i. Anggo panggomgomi holan sada do iman Tuhan Jesus Kristus.

  12. Banjarnahor on December 4, 2009 at 9:41 am

    Syalom Amang!
    Menurut saya masih kurang sosialisasi mengenai Amandemen Aturan dan Peraturan HKBP, Dimana Gereja kami salah satu pagaran Resort tidak pernah di singgung baik melalui warta jemaat ataupun melalui program kerja pendeta huria. Secara pribadi saya telah katakan ke Pendeta supaya tiga tahun yang lalu karena ada perbedaan persepsi mengenai Pimpinan Rapat Huria. Menurut saya Uluan ni Huria menjadi Pimpinan Rapat, Tetapi menurut Pendeta huria kami Pendeta Resort yang menjadi Pimpinan Rapat dan jadilah Pendeta Resort dan Parhalado Resort yang memimpin rapat Huria . Saya tidak ngotot, tetapi saya bilang tolong kita buka dan kita diskusikan Aturan Peraturan HKBP Thn 2002, tetapi sampai sekarang tidak pernah di tanggapi. Jadi menurut saya bahkan dari sebagian Pendeta muda apalagi pendeta Huria mungkin tidak pernah membaca ataupun tidak punya Aturan & Peraturan HKBP bagaimana untuk memberikan tanggapan ataupun mengajak Jemaat untuk mendiskusikan Aturan & peraturan tersebut?. Jadi menurut saya semua tenaga Full Timer HKBP satu pendapat dulu mengenai Aturan dan Peraturan baru melalui mereka bisa mensosialisasikan ke jemaaat masing masing. Terimakasih Amang Pendeta

  13. andar on December 4, 2009 at 2:06 pm

    Usul saya simpel saja: Kembali ke AP 1992 dan 1998. Kembali ke duo kepemimpinan HKBP: Ephorus dan Sekjend, dan memperkuat lembaga pengawasan seperti Parhalado Pusat dan/atau MPS.

    Daniel Harahap:
    Alamak. Masa kita harus kembali ke masa lalu? :-)

  14. rosabine simanjuntak on December 4, 2009 at 3:38 pm

    Luar biasa tanggapan dari Amang parhalado Jansen Sinamo, coba lebih di utarakan lagi dengan bahasa yang lebih ringan sehingga dapat dimengerti jemaat HKBP, saya percaya untuk mengartikan penuturan Amang tersebut diatas, belum tentu dimengerti maksud dan tujuannya..loja iba manjaha Amang..saya sendiri belum pernah membaca peraturan HKBP, namun Amang Pendeta lewat parhalado di gereja kami, selalu memberitahukan aturan HKBP bila ada keperluan jemaat., jadi bila diminta untuk memberikan masukan2…ba jolo ni jaha ma jolo Amang.. aturan2i asa binoto mangalusi! Mauliate…!

  15. JP Manalu on December 4, 2009 at 6:04 pm

    Kebetulan karena kesibukan yang tidak terelakkan belakangan ini, saya tidak rutin berkunjung ke ruma ini. Menarik dan menantang sekali forum ini, saya sangat berharap melalui ruma ini HKBP ke depan bisa “melakukan perubahan yang menyeluruh”, karena kalau tidak melakukan perubahan saya khawatir, semakin banyak saja warga jemaat yang terpinggirkan dan tidak mau tahu dengan perkembangan/kemajuan HKBP. Saya berharap, sepinya “masukan” untuk amandemen APP HKBP 2002 bukan disebabkan semakin apatisnya ruas tentang “pergerakan” HKBP. Berkaitan dengan itu saya mengusulkan hal-hal sebagai berikut :
    1. Sentralisasi keuangan gereja, kalau sulit dilaksanakan, minimal ada tanggung jawab sebuah gereja besar kepada gereja yang lebih kecil. (Sebagai pembanding; Di perusahaan-perusahaan besar saja saat ini sedang berkembang Corporate Social Responsibility).
    2. Periodisasi pelayan non fulltimer (Sintua); kalau yang fulltimer, sdh otomatis seiring dengan pemutasian pelayan penuh waktu.
    3. Revitalisasi badan penelitian dan pengembangan, tidak hanya untuk mengisi jabatan tetapi lebih pada aksi nyata apa yang harus dilakukan. Hal tersebut saya usulkan, mengingat pengamatan saya, bahwa seiring dengan pola mutasi (perantauan) permukiman orang Batak saat ini, di mana banyak wilayah di perbatasan Jateng – Jatim didiami orang Batak dalam waktu yang cukup lama, namun hingga saat ini mereka belum tersentuh oleh HKBP.
    4. Reorientasi peran dan fungsi praeses, karena hingga saat ini yang sebagian ruas lihat adalah bahwa fungsi praeses lebih pada fungsi seremonial, bukan sebagai “orang yang difungsikan sebagai pengambil keputusan/perencana dan pengorganisir (dlm arti luas) ” Kantor Pusat HKBP di wilayah-wilayahnya.

    Horas.

  16. Jansen Sinamo on December 4, 2009 at 6:51 pm

    Pro Amang Gaya Hutasoit,

    Saya memilih memberi komentar dan masukan pada tataran prinsip yang sangat umum karena:

    (1) Saya bukan anggota formal HKBP melainkan GKPPD (adik bungsu HKBP do nian :) ), padahal usulan yang dihitung adalah suara yang formal dan dari jalur yang formal pula.

    (2) Karena ruma metmet ini pun bukan ruang formal — terkait dengan soal AP ruang ini lebih pas berfungsi sebagai ruang iur gagasan dan godok pendapat — para pengunjung saat kembali ke jemaat masing-masing kiranya dapat lebih bernas memberi usulannya.

    (3) Andaipun komentar saya konkret dan formal bisa masuk, ruang ini toh terlalu sempit mengomentari banyak pasal dan ayat. Jadi, saya pikir lebih berguna menyampaikan prinsip besar yang bisa memperkaya dan menjernihkan seluruh pasal dan ayat via provokasi pikiran (for better lho:)) seluruh pembaca blog ini.

    (4) Seperti implisit dalam komentarsaya, diskusi soal AP dan sejenisnya ini pada jenis organisasi apa pun, menurut amatan saya cenderung bersibuk pada soal ‘pohon dan ranting’ lalu kehilangan hutan besarnya; hanyut dalam detail lalu kehilangan paradigmanya. Saya selalu ingat nasihat Stephen Covey, dalam bahasa saya sekarang: kalau mau perbaikan kecil-kecil tanganilah hal-hal detail, tapi kalau mau perbaikan besar tanganilah soal paradigma. Sinode Godang (atau yang sejenisnya) menurut hemat saya seyogianya lebih banyak membicarakan soal-soal bolon, soal-soal paradigmatik, yaitu rumusan-rumusan yang besar namun fundamental.

    Begitu Amang Hutasoit. Semoga berkenan…

  17. Gaya Hutasoit on December 4, 2009 at 11:56 pm

    Ha ha ha masalah haruason. Ya amang, segan juga memang. Annon didok manortori naso gondang na. (tapi ini hanya bagi orang yang belum kenal amang Sintua JS). Terima kasih amang

  18. richard hutahaean on December 5, 2009 at 9:46 am

    Usul Amang Pandita nami :

    1. Periodeisasi Sintua. Sintua harus di periodeisasi. Hampir semua masalah di HKBP bermula dari ruang konsistori. Kalau ada masalah yg rumit, maka masalah itu akan terselesaikan maksimal 4 tahun (sesuai periode sintua)

    2. Hapus distrik yg tidak perlu di HKBP. Cukup hanya 5 distrik saja berdasarkan pulau-pulau besar di Indonesia.

    Khusus untuk poin 1, saya sangat ingin diwujudkan. Biar gerak HKBP lebih progressif dan selalu fresh.

    Demikian amang. Perjuangkan ya usulan saya ini..

    Mauliate

  19. Donny Padang on December 5, 2009 at 5:50 pm

    adong do nuaeng di hatai taringot tu aturan kepegawaian disi???? Nunga nian diputushon di rapot Pandita na salpu angka usulan tu Sinode amandemen i, alai dihatai do nuaeng i? Ai molo nipamanat angka dongan na marrapot i hira na mardosa do dianggap hami na marbagas sesama partohonan. Molo tung pe so adg be panatapan tu si, berarti termasuk aturan ni hurianta ma na so paloashon hami laho mangula di HKBP. Hape nian holan na gabe ulaula na metmet on do na boi huulahon hami. Pos do roha molo tung be so mamereng HKBP, anggo Debata ndang mapitung Ibana. Pangidoannami tu abang ml tung boi tung hatahon abang ma i, anggo hami jangankan menyuarakan di Sinode i, tiket laho masuk pe ndang adong.

    Daniel Harahap:
    Boasa iba? Sosoi hamu huria i asa dipatupa Rapot Huria taringot tu amandemen aturan i. Tongos ma usul-usul amandemen naung ditotophon di rapot huria i tu ressort alai bahen ma “tembusanna” (tombukna?) tu Tim Amandemen AP di Kantor Pusat. Ingkon masiurupan do hita dison.

  20. andar on December 6, 2009 at 6:04 pm

    Daniel Harahap:
    Alamak. Masa kita harus kembali ke masa lalu? :-)

    Karena ternyata masa depan yang didengung-dengungkan itu tidak lebih baik dari masa lalu yang pernah kita alami bersama.

  21. Elman P Nainggolan (wiyk 6 hkbp palembang) on December 7, 2009 at 3:44 pm

    Pak DTA, waahh….., bagaimana pula ini….., gereja kami yang besar begini sajapun belum ada rapat huria tentang hal ini (maaf…., mungkin saya saja yang tidak tahu. Tapi rasa-rasanya belum ada rapat tentang hal ini). Dalam waktu dekat rasanya tidak mungkin lagi diselenggarakan, karena repot dengan urusan natal dan membuat laporan akhir tahun.
    Maksud saya begini, bila gereja kami yang besar, ….. yang sebagai ressort punya banyak pagaran, ….. yang sebagai sekaligus pusat distrik belum menyelenggarakan rapat hal ini, ….. yang sering dikunjungi Eforus/Sekjen, …. bagaimana pula dengan gereja lainnya…. ???.

    Pak DTA, bila ada gereja yang sampai saat ini atau sampai kelak nanti akhirnya belum atau tidak menyelenggarakan rapat huria dimaksud, bagaimana pula ini. Jangan-jangan yang disalahkan jemaatnya pula.

    Kepada Tim Amendemen AP, saya kira jangan hanya menunggu bahan saja, tolong dong dicek gereja mana saja yang belum menyelenggarakan rapat dimaksud dan tanyakan sebabnya mengapa, dan ingatkan mumpung masih ada sedikit lagi waktu

    Daniel Harahap:
    Batas akhir usulan dari tingkat jemaat dan ressort adalah akhir Januari 2010. Makanya segeralah mendesak diadakan rapat huria membahas amandemen. Usulan yang tidak lewat rapat huria, bagaimanapun bagusnya, tidak bisa dipakai Tim Amandemen sebagai bahan kompilasi.

  22. JP Manalu on December 8, 2009 at 7:37 am

    Daniel Harahap:
    Batas akhir usulan dari tingkat jemaat dan ressort adalah akhir Januari 2010. Makanya segeralah mendesak diadakan rapat huria membahas amandemen. Usulan yang tidak lewat rapat huria, bagaimanapun bagusnya, tidak bisa dipakai Tim Amandemen sebagai bahan kompilasi.

    JP Manalu:
    Bah…. seperti itu nya amang pendeta? Lha, untuk apa kita menulis di blognya amang ini?.
    Pengalaman kami soal rapat huria untuk amandemen ini, sejak sebulan yang lalu sudah diwartakan di WJ di gereja tempat kami beribadah, yang meminta agar jemaat memberikan masukan secara lisan dan atau tertulis untuk amandemen AP, tapi hingga hari Minggu kemarin, tidak satupun masukan yang diberikan dari ruas untuk amandemen. Ketika dicoba menanya kepada beberapa ruas ada yang menjawab : “Ba tole ma amang, hamu angka parhalado i ma manghatai i, pos do roha di hamu denggan-denggan ma bahen hamu patotahon huria i”. Jika seandainya banyak ruas yang memiliki sikap seperti itu, maka kemungkinan besar partisipasi jemaat melalui “jalur formal” (rapat huria), menurut hemat saya tidak akan maksimal.
    Pertanyaan untuk amang Pdt DTA, apakah memang sudah “harga mati” bahwa usulan yang tidak melalui rapat huria bagaimanapun bagusnya tidak bisa dipakai Tim Amandemen sebagai bahan kompilasi? Bagaimana jika seandainya ada ide dari pihak “pemerhati dan yang perduli” HKBP; idenya cukup baik dan bisa diimplementasikan, apakah hanya karena syarat formal itu tidak bisa diakomodasikan?. Apakah syarat tersebut dibangun di atas pemikiran : “HKBP adalah HKBP?”.

    Daniel Harahap:
    Prosedur amandemen yang saya sebut itu apa boleh buat harga mati. Usulan tetap harus melewati rapat huria. Jadi kalau memang mau mengamandemen aturan ya seriuslah dan lakukanlah rapat huria.

  23. A.K.P Panggabean on December 8, 2009 at 10:13 am

    Bingung do iba mangalehon komentar tu amandemen Aturan Peraturan ni HKBP taon 2002. Alana ndang dipatorang halak amang angka aha ma na naeng siubahononhon di Sinode Godang 2010. Ima bingung na parjolo.

    Bingung na paduahon ima mangida hamuna angka pandita peserta ni Sinode Godang taon 2002. Ndang dipingkirhon hamu matang-matang aha ma akibat-akibat na boi tubu dung dipadalan Aturan-Peraturan taon 2002 i. Jala boi do aturan peraturan i dipadalan di sude huria, mulai sian desa pedalaman sahat tu kota-kota.

    Daniel Harahap:
    Parjolo hasonangkan hamu ma jolo kebingungan i. :-) Santabi, margait.
    Parjolo: ndang Tim Amandemen na manontuhon aha siamandemen sian Aturan 2002 alai huria i. Ala nii jaha hamu ma tangkas aturan i huhut diparungkilhon dungi bereng hamu ma kenyataan na adong, mangihut bahen hamu ma usul molo adong sipadengganan disi. Molo so adong ndang pola boha.
    Paduahon: ndang holan pandita na di sinode alai 50% sintua ima utusan resort do. Aturan 2002 i pe tubu sian proses do. Jadi ndang adong na boi salahononhon asing sian diri sandiri.
    Botima. Arop roha moru kebingunanmuna. Molo ndang dope, marsitiopan ma hamu gomos. :-)

  24. Zekson Pangaribuan on December 8, 2009 at 1:12 pm

    Daniel Harahap:
    Eforus, Sekjend, Kadep,Ketua RPP dohot angka na asing ndang panggomgomi (pamarenta) alai parhobas do huria i. Anggo panggomgomi holan sada do ima Tuhan Jesus Kristus. (Komentar amang DTA utk tanobato)

    Amang, molo boi usul, asa “uluan” untuk eforus, praeses, pandita resort asa dihilangkan/diganti alana Tuhan Jesus do nagabe uluan ni HKBP. (Eforus, praeses, pandita resort) parhobas do nasida di HKBP.

    Mauliate, horas ma di hita saluhutna, selamat bertugas ma di anggota tim amandemen, sai diparbisuki Tuhan ma anggota tim laho mengamandemen AP 2002.

  25. Leo J Manurung on December 11, 2009 at 2:03 am

    Horas, jala hahipason na sian Tuhanta i ma na mandongani hita Amang, terutama di Team Amandemen. Molo ni rimangan Amang keberadaan ni AP-2002 masih terlalu dini untuk di Amandemen, manang, ndang tingkina dope, biar ma jolo mardalan Aturan Peraturan i, sesuai tujuan naung ditontuhon, molo pe adong Amandemen na hita boto songon tu UUD-1945, alana naung mardalan do i selama 55 tahunan lebih, jadi sesuai tu perkembangan kehidupan berbangsa dohot bernegara, normal do i adong Amandemen, jadi ndang boi patudoson na masa tu UUD-1945 dohot tu AP-HKBP 2002, menurut pendapat nami, molo nunga hita mulai mentradisikan Amandemen on, olo do wacana-wacana sisongon on menjadi adat manang tradisi tu joloan ni ari di HKBP, gabe mura-mura mengubah naung di Sinodehon. Jadi, hati-hati hita Amang menganut suatu cara berpikir dan berbuat, tarlumobi ma molo tu hal-hal naung di Keputusan Sinode, alai molo dung 20 manang 30 taon, ala perkembangan jaman manang kemajuan kehidupan, boi ma antong hita eahi perubahan manang Amandemen. Disiala haradeon muna mendengar aspirasi nami, jumolo hudok hami mauliate godang, semoga HKBP bertumbuh dan berkembang sesuai keinginan bersama songon parjongjong ni huria na parjolo di Antiokia.

    Daniel Harahap:
    Amandemen Aturan adalah amanat Sinode Godang 2008!

  26. Tasito, Sitorus on December 11, 2009 at 4:35 pm

    Horas ma di hita saluhut na, tarlobi di Amang Pdt DTA na mambahen rumametmet on gabe adong pangalualuan. Ponjot do roha molo adong sidohonon hape ndang adong na olo mambege. Parjolo,sahat tu sadarion ndang adong dope boa-boa na mandok adong rencana amandemen AP 2002 jadi ndang adong dope dipatupa rapot huria laho tu si. Paduahon, di tingki sosialisasi AP 2002 didok amang Praeses di tingki i songon on: “Ia hami manejer do, ndang pelayan be.” Mansai songgot do roha mambege, alai molo ni jaha di AP 2002 i, gabe sintong do nasida, ai jelas do disi gabe uluan nasida, artina mamarenta na ma ulaon na. Jala ndang leleng dung i dipaojak ma pandita di resort i, na botul-botul holan guru dokna. molo adong pe rapot huria, ndang hea olo mambege suara ni ruas, sai pintor didok do, ahu do uluan, nunga hu tandatangani ai ahu na mar hak mamutushon, songon i ma alusna. Alani i do apala arop roha di amandemen i asa adong muse guru huria na mangkoordinir sintua asa gabe sada “lembaga” songon na jolo, asa mardalan check and balance jala adong pangalualuan ni ruas i. Mauliate

  27. Leo J Manurung on December 12, 2009 at 11:07 pm

    Mauliate godang ma Amang Pandita nami. Molo memang Amanat Sinode Godang-2008 do, ingkon hita eahi jala taulahon do memang Amanat i. Adong na janggal Amang di AP-2002 i, i ma taringot tu Uluan di Ressort, ala maringanan di Huria Sabungan i do Pandita Ressort i, gabe laos Uluan ni Huria i. Molo ni bereng di lapangan, ulaon i godang jala borat, maksudna oleh Pendeta Ressort i, ala laos Uluan ni Huria i, alai anggaran na ndang adong disertakan, atau ndang menjadi tanggungan ni Huria i, jadi, holan sekedar lojana do di Uluan i, alai ndang adong kewajiban ni Huria i laho meringankan beban dana ni Uluan i, pada hal ulaon siulahononton i, kegiatan na di Huria Sabungan i do, alana Huria i beranggapan, Pandita i na ditanggung secara Ressort do, jadi Huria na di Sabungan i ndang olo pakaluarhon tu keperluan halojaon ni Uluan i, pada hal Kas Ressort selalu minim, jala lebih berkemampuan do Kas ni Huria na di Sabungan i, sian Kas Ressort, alai jot-jot do Huria i ndang olo menanggung dana , na manungkun hami Amang, boasa dibahen Aturan sebagai Uluan i, alai ndang dohot diatur tehnis Anggaranna, manang naringkot tusi, mauliate godang, botima. Semoga HKBP jaya terus.

  28. tanobato on December 14, 2009 at 9:02 am

    Manguduti alus ni Amang DTA tu pandapothu na uju i – jala dibuat Amang Zekson Pangaribuan muse – ima na mandok: “Eforus, Sekjend, Kadep, Ketua RPP, Praeses, dohot angka na asing ndang panggomgomi (pamarenta) alai parhobas do huria i. Anggo panggomgomi holan sada do ima Tuhan Jesus Kristus.” (Komentar amang DTA utk tanobato), on ma alushu muse: Toho do (ingkon) parhobas do nasida sude, alai na songon panggomgomi i do pambahenan nasida nuaeng jotjotan. Tarlumobi ma di parpudian ni ari on. Tarida do i di pangidoan nasida (na manganggap dirina) angka parhobas ni Debata i molo ru tu sada-sada huria marhite “konseling pastoral”, pesta huria, MBO, konvent, dohot lan na asing. Piga-piga ruas ni HKBP na gabe Panitia, mandok: sipata ndang binoto be dia hasurungan ni nasida sian halak pamarenta, nang legislator ni negaranta on …

    Maol nai nuaeng mangalului Uluan ni Huria (Eforus, Sekjen, Kadep, Ketua RPP, Praeses dohot angka na asing) na boi gabe si tiruon. Horas jala gabe! Tatangiangkonma asa lam tu dengganna angka panggomgom, eh … parhobas ni hakabepe!

  29. Elman P Nainggolan (wiyk 6 hkbp palembang) on January 11, 2010 at 2:44 pm

    Laporan Pak DTA : Gereja kami telah melaksanakan sebagaimana yang diinginkan, karena saya pernah sampaikan di media ini (7 Des 2009) bahwa gereja kami belum melaksanakan sebagaimana mestinya.

  30. Salngam on January 24, 2010 at 4:58 pm

    Bapak DTA, Dari pessimisme Bapak tentang Reformasi HKBP., atau kalau boleh saya kurangi sedikit “Management improvement” berbasis hasil dan kesinambungan HKBP, Bapa sebagai utusan seolah-olah sudah menyimpulkan ” AP 2002 taken for granted”,saya juga jadi terpancing mengatakan “WHO CARES”. Selamat membahas AP HKBP.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak pesismis dan juga tidak pernah menyimpulkan Aturan 2002 taken for granted. Saya pribadi justru berpendapat Aturan 2002 mungkin harus diubah total. Namun saya tidak menginginkan perubahan itu di tahun 2010 sebab hanya akan menimbulkan kegoncangan dan masalah besar. Saya ingin Sinode 2010 menugaskan MPS membentuk Komisi Aturan, yang selanjutnya bekerja (dengan bantuan konsultan ahli) membentuk prakonsep Aturan Baru untuk dibahas di jemaat-jemaat dan disahkan di Sinode 2012.

    Kalau ada warga HKBP tidak perduli dan mengatakan “who cares” terhadap problem gerejanya ya silakan saja. Namun saya yakin banyak warga HKBP tidak seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*