Hari ini kita telah memasuki Minggu Adven kedua:
Marilah kita memakai masa penantian ini untuk
semakin membersihkan dan memurnikan hati.
Sambil terus menaikkan doa-doa Adven:
Ya Tuhan, datanglah dan sembuhkanlah kami.
Ya Tuhan, datanglah dan jawablah kerinduan kami.
Ya Tuhan, datanglah dan pulihkanlah hidup kami.
Ya Tuhan, datanglah dan bebaskanlah kami!
.
Ya Tuhan datang dan sembuhkanlah hati keluarga yg ditinggal untuk selama2nya seorang ina jemaat kami yg tiba2 Engkau panggil kesisiMu diusianya yg ke 59 thn tanpa melalui sakit dulu, sebagai teman biasa kami masih bertanya2….mengapa secepat itu? mengapa sekarang….? dan mengapa2 lainnya, apalagi ketiga anak2nya. Jangan biarkan ya Bapa pertanyaan2 itu melemahkan iman mereka pada masa Adven ini.
Ibu ini adalah ketua natal utk kumpulan ina Naomi(kumpulan wanita2 yg sdh mabalu) digreja kami , tengah mempersiapkan acara Natalan pd tgl 26 Desember sekaligus perayaan umum natal ke dua (sdh menjadi kebiasaan di greja kami punguan Naomi inilah yg menjadi tuan rumah setiap tgl 26 Desember).
O datanglah Immanuel, tebus umat yang berkeluh kesah. Kiranya terang kasihMU memancarkan pengharapan kekal.
Sedikit komentar utk gambar tersebut:
Altar yang anggun; disertai dengan bunga, lilin dan kain penutup altar ungu yang melambangkan kekudusan di Minggu advent ke 2. Masa penantian, masa pertobatan
Tentang permohonan kita, ada orang bijak yang berkata:
Kadang Tuhan menjawab YA, dan diberikanNya yang kita minta
Kadang Tuhan bilang TIDAK, dan diberikanNya yang lebih baik
Kadang Tuhan bilang TUNGGU, dan diberikanNya yang paling baik
Kepada semua saudaraku yang MENUNGGU, khususnya pada masa ADVENT ini, marilah kita memperteguh iman bahwa TUHAN sedang mengondisikan segala sesuatu demi yang PALING BAIK itu.
Manusia adalah insan yang berkebutuhan dan berkeinginan sekaligus. Sering dibedakan menjadi ‘needs’ dan ‘wants’. Tapi ciri khas manusia justru terletak pada keinginannya, tak hanya kebutuhannya.
Saya butuh pakaian namun saya juga ingin baju yang buatan Italia. Saya perlu kenderaan namun saya juga ingin mobil yang buatan Jerman. Kami butuh gedung gereja namun kami juga ingin gedung yang besar, megah, dan serba berkualitas perlengkapannya.
Sepanjang pengetahuan saya Alkitab tidak mempersoalkan keduanya. Ya kebutuhan ya keinginan dua-duanya diberikan Tuhan bagi umatNya yang meminta. Berbeda dengan kepercayaan lain yang dengan tegas mengatakan bahwa keinginan adalah sumber penderitaan (samsara).
Kebutuhan dan keinginan dua-duanya tak serta merta terwujud; perlu usaha, upaya, dan tentu saja waktu. Maka muncullah konsep dan pengalaman penantian: maima haroan, menunggu panen/gajian, painte masak indahan, dsb. Bahkan kita mengenal julukan ‘nai paima’ dan ‘ama ni si paima’ kepada pasangan yang baru menikah
Dan konsep besar penantian dalam sejarah gereja ialah ADVENTUS atau PAROUSIA yang kini sedang coba kita hayati. Adventus berujung pada teriakan Hosianna dan Haleluya sedangkan PAROUSIA berujung pada teriakan Maranata dan Haleluya.
Seluruh kesadaran sang penanti biasanya tertuju pada titik pemenuhan, momen perwujudan, atau big bang sukacita akhir itu. Hampir tak tersisa pada seluruh durasi penantian yang justru lebih panjang itu.
Saya rasa kita perlu lebih serius mengamati saat panjang penantian ini. Ini pokok yang sangat kurang dieksplorasi baik secara teologis maupun psikologis. Saya menduga inilah sebab utama orang tak sabaran lalu memetik buah sebelum matang, buka kado sebelum ultah, pesta natal sebelum 25 Des.
Dari bahasa Yunani kita punya dua konsep tentang waktu: KRONOS dan KAIROS. Ketika penantian dihayati sebagai kronos, alangkah panjangnya penatian itu, membosankan, dan meletihkan. Yang belum kita dalami ialah: mungkinkah menghayati adventus dan parousia secara kairos?
Mungkin di sini tersembunyi rahasia besar itu…