Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Memang belum sampai dua puluh kali. Namun saya catat sudah belasan kali saya mengatakan kalimat di atas sejak September lalu kepada orang yang meminta saya berkotbah di perayaan natal kantor, perusahaan, rumah sakit, punguan marga dan keluarganya Desember nanti. Berhubung semua perayaan itu dilakukan sebelum tanggal 24 Desember malam atau menurut kalender gereja masih di masa Adven, saya (dengan kemauan dan kerelaan sendiri, tanpa paksaan siapapun) menolaknya. Berusaha santun, hanya inilah kata-kata yang bisa saya ucapkan: Maaf, saya tidak merayakan natal di masa Adven. Saya merasa terhormat, terima kasih atas undangannya.
Bagi saya merayakan Natal di masa Adven (penantian) sama saja dengan memetik buah sebelum matang, berpesta sebelum hari ulang tahun, atau maaf ibarat melakukan hubungan seks sebelum pernikahan. Bagi saudara-saudara Muslim itu sama dengan berhalal bilhalal di bulan Ramadan. Itu jelas salah apapun alasannya. Lantas mengapa harus dilakukan?
Tahun silam, saya menulis surat terbuka kepada Ketua Rapat Pendeta HKBP agar mengagendakan pelarangan Natal di minggu-minggu Adven dalam rapat pendeta. Namun rupanya suara saya belum cukup kuat, sehingga hal itu bukan saja tidak dibahas melainkan juga tidak disinggung. Ya tidak apalah. Betapa pun benarnya suatu pendapat, kita tidak boleh memaksakannya kepada banyak orang.
Yang penting dalam diri saya pribadi masalah ini sudah jelas. Clear. Jika saya dalam posisi dapat memilih maka saya sudah janji akan memaksa diri saya menunda perayaan Natal sampai 24 Desember malam. Saya akan berusaha setia mengikuti kalender gereja sebagaimana diatur dalam Almanak HKBP dan Agenda Ibadah. Di sana disebutkan sebelum masuk dalam perayaan Natal maka saya harus sabar mengikuti empat minggu penantian atau Adven. Minggu permenungan, pertobatan serta pengharapan. Dengan begitulah saya dapat sungguh-sungguh mengenangkan dan menghayati penantian umat Perjanjian Lama yang begitu panjang akan kedatangan Messias dan sekaligus penantian gereja sekarang akan kedatangan Kristus kembali. Dan dengan itu jugalah saya menyatukan perasaan saya dengan semua jemaat yang begitu perih menanti-nanti, apakah itu kesembuhan dari sakit, kelahiran anaknya, atau pemulihan ekonomi dan lain-lain.
Namun saya sadar bahwa saya tidak sepenuhnya juga bebas. Bagaimanapun saya pendeta yang terikat kepada suatu organisasi bernama HKBP. Dan sebagaimana pernah saya katakan, selama HKBP belum atau tidak melarang perayaan Natal di masa Adven, maka suka tak suka saya akan melayankan Natal di masa Adven jika itu diperintahkan oleh atasan atau merupakan kewajiban saya sebagai pendeta ressort. (Syukur, sepertinya tahun ini saya hanya melawan “hati nurani” saya satu kali saja. Guru-guru Sekolah Minggu HKBP Serpong telah meminta saya berkotbah di Natal Sekolah Minggu 6 Desember nanti dan telah saya iyakan dengan senang hati. Naposo sejak tahun lalu telah sepakat Natal sesudah tanggal 25 Desember!)
Amang, bisakah memimpin Natal di perusahaan kami tanggal 19 Desember nanti? Bunyi suara lembut di telpon saya sore ini. Beberapa detik saya tidak menjawab. Saya menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengatakan dengan lirih: Maaf, saya tidak merayakan natal di masa Adven. Saya merasa terhormat, terima kasih telah mengundang saya. Terima kasih juga, Amang, saya mengerti. GBU. Telepon pun putus lagi. Saya menarik nafas panjang dan memandang sekeliling. Yang ada hanyalah sunyi.
Share on Facebook
memang lucu juga ya amang merayakan natal sebelum tanggal 24 malam atau yang kita kenal dengan malam natal. Kadang aku heran, protestan kok tidak terlalu mempermasalahkan itu, baik HKBP, GKPI, HKI tidak seperti Katholik. Tapi tidak apa-apalah hitung-hitung menyambut ulang tahun Tuhan Yesus walaupun terlihat aneh kalau menurutku.
Daniel Harahap:
kalau sudah tahu aneh ya jangan diteruskan.
Salah satu pengaruh pergaulan saya dgn ruma ini adalah berhenti dulu dari keanggotaan koor yg selama ini kuikuti, natalannya diadakan minggu pertama Desember, dan ketika baru terbentuk akan melayani secara gantian minggu ini ibadag pagi , minggu depan ibadah siang dan minggu depannya lagi ibadah sore.
Lama kelamaan menyanyinya hanya di ibadah pagi dan siang sedangkan sore tidak pernah lagi, alasannya macam2, arisanlah dan lucunya lagi banyak yg tidak punya kidung jemaat apalagi kalau pengakuan iman rasuli ya banyak yg tidak bisa padahal ibadah sore yg berbahasa Indonesia ini sudah 10 thn diadakan.
Pada acara2 besar natal dan paskah ngotot mengisi ( Kalau begini bukan pelayanan lagi dong namanya)
di ibadah siang yg sudah di patenkan kor nhkbp,ina,ama dan gabungan ini tidak bisa diganggu gugat lagi hehehe
Saya salah satu pendukung amanglah, tapi ngomong2 rejeki di tolak ya mang.
Di gereja HKBP Sukajadi Pekanbaru bukan mar-Natal namanya. Mar-Adven do. Tapi, tata ibadah dan perayaannya sama saja. Ya cuma ganti nama. Pargabus do i ate, amang? Di sekolah anakku, natalan dirayakan tanggal 16 Januari 2010, rasanya tak enak juga, bah!
Daniel Harahap:
Ada lagi yang aneh sekarang: perayaan Adven-Natal. Mirip pecel atau gado2.
Sudahlah amang,jangan terlalu kaku begitu. Di kampung kami di Balige tak ada HKBP mar gareja sore ari minggu. Molo botari partangiangan nama digoari i. Alai di Jakarta 4 hali par garejaan di sada gareja di ari Minggu (four session…). Molo di angka donganta na di karismatik di Mall-mall nama mar gareja… bohamusema i???
Daniel Harahap:
Kebaktian Minggu sore tidak menyalahi kaidah liturgi.
Janganlah dipermasalahkan. Yang jelas kelahiran Yesus yang sesungguhnya sudah terjadi. Yang kita rayakan setiap tahun ini merupakan peringatan dan perenungan akan kelahiran Yesus serta makna dan tujuan dari kelahiran-Nya. Soal dirayakan sebelum atau sesudah tanggal 24, menurut Saya hnya soal jdwal yg dilakukan krn bnyknya kgiatan lain sesudah tanggal itu.
Daniel Harahap:
Supaya lebih syur (bahasa Medan: soor) kenapa tidak sekalian saja merayakan Pentakosta, Kenaikan Yesus ke Sorga dan kematianNya di bulan Desember?
Saya setuju dengan amang Pandita, Advent adalah rangkaian awal agar kedatangan Yesus yg ke dua kalinya bisa lebih kita hayati, dari pada sekedar mengenang kedatanganNya yg 2000 tahun lalu, kita sudah hidup di jaman Roh Kudus, jadi selayaknya Natal itu adalah gambaran akan kedatanganNya dlm kemuliaan sejati, so, agar lebih mantap, maka kita butuh pekan2 Advent supaya Natal bisa kita masuki dgn iman yg lbh maju, gak sekedar pristiwa Bethlehem saja….andai saja gereja (jemaat) kita bisa konsisten, alangkah indahnya pekan2 Advent kita jalani…
@ Salngam : Siapa bilang di Balige tidak ada Minggu Sore, mungkin itu zaman dulu. Kalau sekarang sudah ada kok, buktinya di HKBP Balige Ressort Balige. Jika belum yakin, tanya saja langsung ke parhalado setempat.
@ Amang Pdt DTA : Seandainya semua Pdt HKBP berpikiran seperti Amang, pasti nggak akan dilanjutkan model perayaan yang mirip “pecel atau gado2″ gitu… hehehe….
Sekedar info yg ku peroleh di web HKBP, bahwa perayaan Natal Kantor Pusat, Lembaga dan yayasan HKBP akan diselenggarakan pada tgl.18 Des 2009 di Auditorium HKBP / Seminarium Sipoholon. Bagaimana tanggapan Amang terhadap hal ini? TQ b4
Daniel Harahap:
fGY$%hir4^(^bj3%nxx ….
Salam kenal Amang Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, Komentar amang luar biasa…saya baru liat situs rumametmet amang dan memang mengejutkan saya setiap tema yang dimunculkan. Dari tema amang yang sekarang ini juga luar biasa, saya baca sedikit dari tulisan amang memang benar kalo kita lihat secara logika atau cara pandang seorang manusia. Kalo hal itu memang benar yg amang sampaikan :
1. Apakah ada bukti – bukti pendukung lainnya yg menguatkan pandang amang tentang merayakan natal di Minggu Adven.
2. Seberapa besar amang ingin mempertahankan dan ingin meyakinkan kepada semua jemaat HKBP pada khusus agar dapat menyadari akan hal tersebut.
3. Kalo memang yang amang tulis itu benar, kalo kita mau runut kebelakang kenapa baru sekarang ini muncul tulisan itu dan sudah berapa lam HKBP tertidur / tidak mengetahui akan hal yang amang tulis.
sebelum dan sesudahnya mauliate godang amanami Pdt Daniel Taruli Asi Harahap.
Daniel Harahap:
Raymond, di blog ini ada beberapa tulisan bagus dari pendeta lain tentang hal itu. Silakan dibaca.
Entah kapan mulainya, bernatal di masa adven bagai kekuatan air bah “aha namasa ima niula”, tiba-tiba saya ikut menyadari bulan Desember plus Januari telah berubah menjadi dwibulan natal. Sejak muda berulang kali pula saya menjadi anggota panitia natal.
Pagi ini saya tersentak dengan pernyataan posisi Amang DTA, namun di akhir argumentasinya, saya setuju dengannya karena posisi itu memang tepat serta bertanggungjawab baik dipandang secara teologis, liturgis, dan psikologis pun. Dan yang terakhir ini adalah mula kegelisahan saya.
Sejak mahasiswa di Bandung saya telah kerap diminta membawakan renungan natal di berbagai kelompok mahasiswa. Ketika kelak saya ‘makin terkenal’ sebagai pembicara di Jakarta undangan membawakan renungan natal makin banyak saja, belum lagi ‘kewajiban hadir’ pada acara natal primordial: parsahutaon, parsakomplekson, parsamargaon, parsaalumnion; di samping natal kategorial: pemuda, ina, ama, sikkola minggu.
Makin lama terasa Desember adalah bulan repot, bulan berat. Repot karena padatnya acara yang repetitif itu di Jakarta yang makin macet (beban psikologis), dan berat karena harus menghadapi belasan proposal natal yang nyaris ‘tak mungkin ditolak’ (bebab finansial).
Saya senang repot dan saya tak menolak beban (malah saya sering jadi inisiator kerepotan), tapi saya lalu bertanya: apakah natal-natal ini adalah kerepotan yang benar dan bernilai, serta, apakah beban-beban ini patut dan sah. Jujur, sudah bertahun-tahun saya merasakan ai godangan lojana dohot beona do na mar natal on.
Jadi saya lega pagi ini mendapat pijakan pikiran yang mantap, untuk mana saya haturkan terimakasih kepada amanta par ruma metmet on.
Pikiran kritis pagi ini niscaya akan bergaung ke seantero HKBP cs, dan ruma metmet ini akan semakin meriah dan hiruk pikuk pula.
Buat saya ini adalah bagian dari pergulatan tentang bagaimana kita berproses semakin kristiani-modern-bataki.
Selamat berdiskusi secara asih-asah-asuh…
Pabaranihu do Amang menyamakan merayakan natal sebelum hari Natal ibarat melakukan hubungan seks sebelum menikah.. karena menurutku yang pertama bukan dosa.. sedang yang kedua adalah dosa.. atau barangkali amang menganggap dua-duanya dosa? atau dua-duanya bukan dosa.
Daniel Harahap:
Merayakan Natal di masa Adven adalah melakukan sesuatu sebelum waktunya. Ya mirip-miriplah dengan melakukan hubungan seks sebelum menikah, memetik buah sebelum matang, mencuri start waktu pertandingan, atau memakai baju renang di pesta adat.
kalo di pikir secara logika, mungkin yang dikatakan amang Pdt. benar adanya. Memang tidak baik memulai sesuatu yang belum saatnya untuk dimulai. Tapi lebih TIDAK BAIK lagi melakukan sesuatu yang ITDAK SEHARUSNYA dilakukan.
Begini maksud saya amang, tolong di komentari dan diberi penjelasan.
Pernah ada seorang guru agama saya dulu berpendapat bahwa natal tidak seharusnya dilaksanakan atau dirayakan. Alasan beliau adalah karena perayaan natal itu TIDAK PERNAH ada dalam Alkitab (tidak alkitabiah). Ternyata, setelah saya baca2 perjanjian baru, MEMANG TIDAK PERNAH ada kisah perayaan natal. Maka, sampai sekarang beliau menolak undangan khotbah perayaan natal (baik sebelum atau sesudah tanggal 24 desember) karena alasan NATAL TIDAK ALKITABIAH.
Menurut amang (dan mungkin juga responden yang lainnya) apakah masih perlu kita merayakan natal??
Daniel Harahap:
Natal (=kelahiran) Yesus tentu saja Alkitabiah sebab memang disaksikan Alkiktab. Yang tidak ada di Alkitab adalah tanggal 25 Desember, dan semua orang Kristen tahu bahwa itu adalah kesepakatan gereja untuk merayakan hari lahir Yesus (yang persisnya tidak kita tahu). Dalam sejarah gereja sendiri Natal baru dirayakan abad ke empat. Sebelum itu yang duluan dirayakan adalah kebangkitan Yesus. Jika ditanya saya apakah masih perlu merayakan natal jawab saya: perlu.
Berarti kita selama ini salah atau keliru merayakan Natal tidak pada waktunya, yang saat ini semakin bertambah banyak macam ragam natal
al : Natal Ama, Natal Ina Natal S Minggu, Natal Naposo, Natal Okumene, Natal Umum, Natal Punguan.
Mungkin lebih baik jangan Natal dibuat namanya sehingga jangan salah persepsi, tapi perlu juga kita lihat kebelakang awalnya kenapa bisa hal ini terjadi
Semoga ada yang mendengar pemikiran Amang, tapi anti klimaksnya ditempat Amang melayani Gereja HKBP Serpong, Amang juga tidak bisa berbuat apa – apa juga tuh kelihatannya !
Daniel Harahap:
Apa yang saya kerjakan di HKBP Serpong (sebelumnya di Rawamangun, Jatiwaringin, Palembang) biarlah diuji dan dinilai orang lain dan oleh waktu kelak.
Untuk perayaan Natal Asa Arga jala Humi(bermakna) kembalikan ke tgl 25 Desember tiap tahunya.Kita mulai dari diri/perkumpulan atau gereja sendiri dengan demikian mungkin yang lain “Manut/Katut” Mengikuti(magihuthon Hasomalon na denggan).
Amang,…..rasa2nya, dalam penantian (masa adven), itu masa perenungan,…penghayatan, saya rasa kalau dibarengi dengan masa puasa semakin bagus kan ?? Jadi kita diajak menahan diri juga. Kenapa HKBP nggak pernah ngajak untuk berpuasa ya ??? Saya pribadi sudah melakukan ini walaupun puasanua masih bisa minum air putih saja. Tapi ini hanya sekedar saran aja amang,……bukan “pamer”.
kita semua adalah hamba (Luk 17. 7-10) Tuhan’lah kiranya yang menguji pekerjaan kita bukan manusia atau waktu … I love you my oldfriend Daniel..
in the name of Lord Jesus Christ…
Buat amang Sinamo dan yang lainnya postingan hampir sama sudah pernah dimuat ruma metmet kalau tidak salah ahkir November tahun lalu dan Desember thn yg sama juga pernah saya tanyakan kepada ompui eforus pada satu kesempatan dan jawaban beliau sudah menjadi tradisi orang Batak (HKBP) sejak lama makanya mungkin perayaan natal dikantor pusat masih suka2
Menurut saya boleh dilakukan acara “Pesta Penyambutan Natal”, yang berisikan ibadah, renungan bertema penyambutan, lilin dinyalakan sesuai jumlah advent keberapa tanpa acara penyalaan lilin. Bisa dibuatkan drama : tentang Bangsa Israel yang menunggu-nunggu kedatanganNya, atau tentang kisah-kisah hidup yang inspiratif. Nyanyian “Malam Kudus” tidak dinyanyikan tetapi “Putri Sion”. Sonang ni Bornginnai diganti dengan Las Be ma Rohamuna. Tema pesta ini ditujukan untuk semakin membangkitkan semangat menyambut datangnya Natal. Datangnya Natal = Yesus datang dan tinggal di dalam hati kita. Ada baiknya para pendeta memberikan solusi sehingga pesta tetap dilakukan, terutama bagi kita kaum perantau, merayakan dulu penyambutan bersama sesama perantau di perantauan, sebelum puncaknya merayakan di kampung halaman masing-masing.
Daniel Harahap:
Ninna dongan ndang sabas molo ndang diendehon sonang ni bornginnai di parningotan adven (ndang pesta adven) i. Pinomat ayat duana i pe taho. Asal ma disi endena i. (deba nari mandok, rugina i iba marsalon dohot marjas hape ndang mangendehon sonang ni bornginna i. na marhua do?
Saya kira perayaan natal sebelum dan sesudah 24-25 dec tidak perlu di ributkan. Ini setiap tahun di rayakan. Toh juga sudah lahir, ini kan cuma hanya perayaan natal semata, untuk mengikatkan kembali pd masa kelahiran Yesus Kristus yang ada maknanya bagi semua manusia di dunia yang percaya pada Dia. Mohon di koreksi kalo ada yang salah. Trimakasih.
Daniel Harahap:
Salahnya sih cuma satu: perayaan itu dilakukan tidak pada waktunya.
halo..
GKJ juga jangan dikira melupakan advent ya..
meski bagi segelintir orang (baca: sebagian besar)
ada yang menganggap “tidak masalah”,
tapi masih ada juga kog yang bener2
“berproses dalam penantian akan Tuhan”
bahkan ada ibadah hening bertema “advent yang (tak) hilang”,
itu sekedar salah satu ajakan dengan cara yang berbeda aja..
terimakasih…
salam hangat dari Yogyakarta
regards,
-andin-
Daniel Harahap:
Hidup GKJ! Hidup HKBP juga!
selamat terus menantikan Tuhan sampai kedatanganNya yang ke dua, Pdt Daniel Harahap. .
=)
iya… hidup!
kapan-kapan saya ingin sekali datang ke rumah metmet
setelah melalui beberapa kali rapat panitia, akhirnya saya sebagai ketua panitia berhasil meyakinkan teman-teman sekantor bersepakat merayakan Natal tingkat perusahaan pada bulan Januari 2010 nanti.
panorangion na disurathon amang marhite blog on taringot tu minggu adven nang natal pe hu bahen hami songon dasor ni usul hu.
di mulani panghataion nami godang do angka dongan na tarsonggot umbege hatorangon na sisongoni, alai ujungna rap marsada roha do hami laho mangulahon pesta natal i di minggu patoluhon Januari 2010.
toho do na ni dok ni buku na badia i (Bibel), marparbue do angka hata dohot pangalohon na unduk to pangajarion na sian Debata. mauliate ma amang pandita nami.
Daniel Harahap:
Sai pinuji ma Tuhan i.
Salam kenal Amang. Memang nungnga maol Amang patigorhon naung bengkok porlu waktu mensosialisasihon. digareja nami HKBP clg nungnga dilaksanahon hami marnatal tanggal 24 malam 2008 sebelumna dang boi alana hari penantian paias diri memang lebih hikmat dohot berkesan jala pola manetek ilu ditingki napagalag lilin, sude listrik benar-benar di pamate jala sude jemaat maniop lilin jala galak diangkat, sada keberhasilan doi hudok sian bimbingan ni amang pendeta muda TPS. torus maju amang demi suatu kebenaran
dalam Aturan Peraturan HKBP, karena saya adalah anggota HKBP, Fasal 5,8 disebut :”Hari-hari Besar gerejawi sebagai peringatan adalah :
8.1. Hari peringatan Kelahiran Tuhan Yesus pertama dan kedua.
8.2. Hari peringatan Kematian Tuhan Yesus.
8.3. Hari peringatan kebangkitan Tuhan Yesus, pertama dan kedua.
8.4. Hari peringatan Kenaikan Tuhan Yesus
8.5. Hari peringatan kedatangan Roh Kudus, pertama dan kedua.”
Sejak tahun 1988 (kalau sy tdk lupa) muncullah perbedaan pendapat ttg boleh tidaknya merayakan Natal sebelum 24 Desember di hkbp, lalu bersamaan dengan itu ada saran agar jika ada perayaan kristiani, yg berhubungan dengan kelahiran Yesus pada bulan itu, tapi sebelum 24 Desember, maka perayaan itu disebut sebagai perayaan advent. lalu, di mana tempat perayaan advent di gereja hkbp sesuai aturan di atas, pada hal minggu advent dalam kalender gerejawi tdk tergolong pd “hari-hari besar gerejawi” yg setara dgn kelima pesta di atas ?. kan, perayaan natal Yesus yg diselenggerakan oleh gereja kita sebelum 24 Desember pd awalnya merupakan upaya para missionar memberi kesempatan kepada kelompok kategorial untuk merayakan natal itu pd kelompoknya sebelum merayakannya secara umum tgl. 24 dan 25 des. itu. lalu kenapa kita setuju merayakan malam natal (christmas eve) pd tgl 24 Desember ? bukankan itu tdk menimbulkan anggapan bhw tgl kelahiran Yesus menjadi dua (24 dan 25) jika christmas eve itu kita rayakan sebelum pkl. 00.00 ?. lalu, kenapa kartu ucapan selamat hari natal dicetak dan dikirimkan sebelum tgl 24 Des dan jika tiba di alamat yg dituju sesudah tgl 25 Des dianggap terlambat ? kemudian, kenapa jika sebelum 24 Des tdk bisa sedangkan sesudahnya bisa ? ambil saja contoh pd kalender tahun 2009. menurut almanak hkbp, tgl 27 des disebut ‘minggu sesudah perayaan kelahiran Yesus” dan bukan “minggu sesudah Yesus lahir”. sesuai nama minggu itu kan sebenarnya sdh tdk bisa lagi merayakan perayaan natal. lalu, kenapa ada lagi org kristen merayaan perayaan natal bulan januari ? pada hal tgl 1 januari itu kan adalah hari ke delapan sesudah perayaan natal yg berarti bhw 1 januari itu adalah hari peringatan akan penyunatan dan pemberian nama bagi Yesus ? (Luk. 2, 21 dst), dan minggu-minggu sesudahnya disebut minggu epiphanias (penyataan), bukan hari natal lagi ?
saya sebenarnya hanya ingin memberikan sesuatu utk dipertimbangkan agar kita jangan terlalu jauh mengatakan ini boleh, dan ini tidak boleh apalagi menganalogikan perayaan natal sebelum 24 Des itu dengan suatu perilaku dosa. memang ada perbedaan suasana bagi setiap org kristen di seluruh dunia jika memasuki bulan desember setiap tahun karena mereka merasa sdh memasuki bulan natal. berbeda dengan jika kita memasuki bulan maret, april atau mei, pada bulan mana kita merayakan passion, paskah dan pentakosta.
Daniel Harahap:
Di seluruh dunia (kecuali HKBP) Adven kayaknya tidak pernah dipestakan atau dianggap pesta. Adven adalah masa permenungan. Selanjutnya Almanak HKBP justru yang mengatur ada empat minggu adven sebelum Natal. Lho kalau Almanak mengatakan masih Adven kok sudah bernatal? Kenapa tidak sekalian saja merayakan Pentakosta dan Jumat Agung di bulan Desember? Satu lagi: perayaan natal di awal desember bukan ulah eh karya misionaris tetapi baru terjadi tahun tujuhpuluhan.
maaf !. maksudni laetta SKM clg. dang 24 des 2008 alai tanggal 25 desember 2008 jala untuk tahun 2009 juga sudah genjar mensosialisasikan. mauliate
@ daniel : “baru terjadi tahun tujuhpuluhan”
sy sejak thn 1957 sdh merayakan natal seb 25 Des di gereja hkbp, kakak-kakak sy juga sdh melakukannya pd tahun-tahun sebelumnya, demikian juga org tua sy, sesuai kisahnya, puluhan thn sebelumnya.
jika utk menghindarkan perayaan natal sebelum 25 Des ada perusahaan merencanakn utk merayakannya pd bln januari 2010, apakah itu dianggap sebagai perayaan natal 2009 walaupun pelaksanaannya tahun 2010 ? jika itu perayaan natal 2010 maka semakin dinilah perayaan itu.
Daniel Harahap:
Ibu saya yang kini berumur 82 tahun bersaksi bahwa saat remaja di Laguboti pada tanggal 24 Desember mereka masih ke sawah namun setengah hari karena malamnya akan ke gereja untuk acara “manutung lilin”. Namun belum pakai baju bagus, sebab besoknyalah tanggal 25 baru pakai baju bagus. Pohon natal juga baru dipasang di gereja tanggal 24 Desember itu.
Natal bulan Januari karena tahun gerejawi masa raya natal 25 Desember s/d 6 Januari. Alai ujungna di hita do, molo lomo rohanta naeng mamestahon natal dohot hananaek dohot hasasaor ni Tondi di bulan Oktober manang November lomonta. Hata Medanna: lantaklah.
Saya sebenarnya setuju dgn pendapat Amang Pdt, tp saya jg mengerti knp diadakan perayaan natal sblm tgl 24.
Salah satu alasannya adalah krn ada begitu banyak perayaan natal yg akan diadakan di bln Des & Jan. Sehingga bbrp punguan lbh memilih untuk mengadakan perayaan natal sblm tgl 24 Des, dgn harapan bs mengikuti perayaan natal di tmpt lain.
Klo dilihat, pd umumnya perayaan natal diadakan pd hr sabtu atau hr minggu, bkn pd hr kerja (senin-jumat). Klo natal (yg sehrsnya) dirayakan stlh tgl 24 Des, berarti perayaan natal thn ini kita hny mempunyai kesempatan utk merayakan natal bersama punguan lain dlm 12 hr (termasuk tgl 26 Des yg jatuh di hr sabtu) sampai akhir bln Jan 2010. Apakah cukup? Sementara ada punguan ama, ina, naposo, sekolah minggu, parsahutaon, kantor, arisan sa-ompu, dll, yg jg akan mengadakan perayaan natal.
Klo hal ini berlaku untuk gerejawi, kemungkinan besar masih bisa. Tp klo hal ini untuk semua, termasuk punguan diluar gerejawi, sptnya msh agak sulit, krn punguan diluar gerejawi hny bs menyesuaikan dgn jadwal gereja masing2.
Setuju! Selama saya melayani di HKBP sampai saat ini, sebisa saya tidak merayakan natal di masa advent. Sebagai gantinya, seksi Pekabaran Injil kami menerbitkAN BUKU IBADAH DAN REUNGAN ADVENT KELUARGA. Bahkan kalau bisa buy nothing at christmas!
Ellys:
Selamat Adven Amang!
Secara pribadi saya bisa menerima pengajaran dari Amang mengenai Adven dan mendukungnya (sesuai penjelasan Amang di kebaktian minggu 6 Desember 2009). Sewaktu mendengar dari mulut ke mulut (maksudnya gossip) mengenai penolakan Amang untuk merayakan Natal sebelum 25 Desember memang timbul beberapa pertanyaan menyangkut hal ini (yang pasti ada pro dan kontra fyi i ada yang ngomong lho “lomo2 na do”). Ra sude do hita setuju bahwa “tugas parhalado do menggembalakan jemaat”, jala “olo ma nian ruas diparmahan angka parhalo”. Alai molo parhalado sendiri masih beda pendapat mengenai hal ini , beha muse ma hira2 i Amang? Na asing be do ra guru muna na jolo ate?
Daniel Harahap:
Laho mangatasi parasingan pandapot i mura do i, mulak ma hita tu Aturanna ima Agenda dohot Almanak. Tabereng ma disi sadihari do Natal i.
Sungkun hamu ma tu na mandok i: ise do sasintongna na lomo-lomo (baca: suka-suka). Na marnatal mangihuthon partording ni Agenda dohot Almanak HKBP manang na mambahen Natal mangihuthon hagiot ni rohana?
Ellys:
Mungkin agak menyimpang dari topik ini, mau nanya Amang mengenai “pelean” yang dikumpulkan pada saat partangiangan di arisan. Saya mendapat pengajaran dari Bapak saya bahwa persembahan yang dikumpulkan pada kebaktian apapun namanya serahkanlah ke gereja. Di arisan parsahutaon kami sepakat “pelean” yang dikumpulkan diserahkan ke gereja tuan rumah yang dapat arisan. Alai adong do arisan na asing na mengelola dana i sebagai “dana kasih” (kami menyampaikan pengertian kami mengenai persembahan alai dang boi dope diterima punguan).
Daniel Harahap:
Ndang boi lomo-lomo taringot tu pelean. Molo pelean tu huria ma pinasahat ndada tu punguan marga manang parsahutaon.
Saya tidak tahu dasar teologis pelaksanaan merayakan natal sebelum atau sesudah 25 Desember, karena memang saya alami sendiri perayaan natalan pada sebelum dan sesudah 25 Desember. Di gereja kami pada Minggu I Advent, di samping altar telah tegak satu pohon natal besar dan disekeliling gereja banyak ornamen / hiasan natal dan ada tulisan “Merry Christmas” di beberapa sudut gereja. Pohon natal dan ornamennya tetap ada sampai bulan Januari kelak. Selain itu, adapula hiasan yang biasanya ada di gereja Katolik, bagaimana pula ini.
Bagi saya alangkah baiknya bila yang selama ini tetap berlangsung. Bagi saya pula, saya anggap perayaan dimulai pasda masa Advent dan puncaknya (klimaks) pada 25 Desember, tidak perlu dibalik dengan mendahulukan klimaks.
Jemaat mempunyai kesempatan selama 2 bulan (Desember dan Januari) untuk mengekspresikan rasa keimanannya. Bayangkan bila hanya bisa dirayakan hanya setelah 25 Desember, waktunya lebih singkat dan aneh juga rasanya natalan sampai di Pebruari.
Terlalu berlebihan rasanya bila menganggap perayaan natal sebelum 25 Desember disamakan dengan merayakan hari kenaikan disatukan dengan perayaan turunnya Roh Kudus. Di hati jemaat tidaklah sejauh itu. Bila memang bisa tegas, maka natalan hanya bisa dilaksanakan pada 25 Desember sampai 31 Desember saja atau 6 Januari saja, di luar itu tidak ada lagi pelayanan dan perayaan natal.
Daniel Harahap:
Memakai bahasa Medan: lantak kalianlah situ!
Pengalaman kami di gereja tempat kami beribadah mengenai topik ini.
1. Setelah tahap “sounding” tahun lalu, untuk tahun ini ada perkembangan yang cukup baik, natal gabungan seksi ama dan seksi parompuan akan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 2009. Penentuan tanggal 26 Desember 2009 ini dilalui setelah di forum rapat disampaikan hal-hal yang amang Pdt DTA sampaikan di atas, dan peserta rapat tidak melakukan “interupsi” seperti yang di Senayan itu
2. Pada acara sermon tanggal 4 Des yang lalu, kembali saya lakukan “sounding” di tingkat parhalado huria, ada diskusi yang cukup panjang tetapi tidak terlalu “keras”, karena kelihatannya baik yang pro maupun yang kontra terhadap topik ini tidak terlalu mempermasalahkan perayaan natal tsb. Malah salah seorang peserta sermon “mempertajam” diskusi ke arah tanggal kelahiran Yesus, yang bukan tanggal 25 Des. Saya coba memberi klarifikasi, bahwa yang menjadi soal bukan tanggal 25 Des-nya tapi lebih pada ketaatan terhadap kalender gerejawinya, dimana setiap ayat bacaan, nyanyian merupakan rangkaian ibadah yang disusun secara sistematis guna meningkatkan iman percaya jemaat yang mengikuti ibadah sesuai dengan nama minggu yang dijalani.
Menurut saya, perlu “penjemaatan” secara terus menerus tentang makna Natal dan Advent, supaya kemungkinan terjadinya suatu keadaan dalam perayaan Natal : “Eme na masak digagat ursa, i na masa ima ni ula”. Jika kita terjebak dengan kondisi tersebut, saya khawatir, perayaan natal menjadi garing; kehilangan makna. Yang menonjol malah “kepentingan” kapitalisme dan ikutannya!
Horas….
Loja ma hamu mamingkiri i perayaan natal i.., molo dipatupa denggan molo so dipatupa pe tong do denggan i. Angka halak andorang so masa ni Jesus bahkan angka sisean ni Jesus sandiri pe so hea merayakan natal songon si nuaeng on. Molo dipatupa pe natal andorang manang dung tgl 25 ndang gabe sundat angka na porsea i tu surgo……
Daniel Harahap:
So what?
Hari ini Rabu saya dijadwalkan untuk melayani Firman di sektor kami, dan tema ini yang akan saya sampaikan dan akan didiskusikan bersama jemaat gpib immanuel palembang… tema ini saya pakai karena ada sektor lain yang merayakan natal sebelum tanggal 25.
Untuk diketahui GPIB sudah mulai “ketat” dalam hal perayaan natal sebelum tanggal 25 hanya saja kadang2 tergantung amang pandetanya…. Tapi doktrin perayaan natal sebelum tanggal 25 di GPIB udah jalan.
songoni ma na so mangantusi. antusi hamu ma jolo fuang