Kristus Kehidupan & Bukan Kematian Kita.

November 26, 2009
By

KOTBAH MINGGU INI

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Bahan: Yohanes 11:25-26

1. Kematian bagi kita adalah suatu dunia yang sangat asing dan gelap serta menakutkan. Kita tidak tahu tentang apa dan bagaimana sesudah manusia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan tubuhnya membujur kaku dan kemudian membusuk. Alkitab sendiri berbicara sangat sedikit dan samar-samar tentang kematian. Alih-alih menjelaskan secara terang-benderang tentang kematian para penulis Alkitab malah mendorong kita semakin bertanya-tanya tentang kematian itu. Simaklah ayat-ayat Mazmur di bawah ini: Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati? (Mazmur 6:6). Apakah untungnya ….kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu? (Mazmur 30:10). Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu? Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan? Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa? (Mazmur 88:10-12). Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke tempat sunyi (Mazmur 115:17)

2. Sang Pengkotbah juga menyebutkan hal yang lebih suram tentang kematian itu: Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari. (Pengkotbah 9:5-6) Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengkotbah 9:10) anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. (Pengkotbah 9:4).

Raja Hizkia juga mengatakan hal yang sama: Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaan-Mu. (Yesaya 38:18)

3. Namun di tengah kegelapan dan kengerian akan kematian itu kita juga mendengar dalam Perjanjian Lama pernyataan iman Ayub dari puing-puing kehancuran hidupnya: Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah. (Ayub 19:25-26). Hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Mazmur 16:9-11).

4. Perjanjian Baru memang tidak menceritakan kematian dengan panjang lebar dan gamblang. Namun Perjanjian Baru dengan tegas menyaksikan bahwa sengat atau kuasa kematian itu telah dikalahkan dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kematian tidak lagi sesuatu yang sungguh menakutkan sebab Yesus telah mati dan kemudian bangkit dari antara orang mati itu sebagai Pemenang. Sebab itulah Paulus meneriakkan kemenangan itu: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55). Sebab itu gereja pun bermazmur bersama-sama Daud: sekalipun aku harus berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut. Maksudnya: sekalipun orang-orang percaya harus mati dan masuk ke dalam kematian itu kita tidak akan takut lagi sebab Kristus menemani kita melewati kematian yang gelap itu. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. (Roma 14:8-9). Baik hidup atau mati tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:38-39). Lebih dalam dari itu Rasul Paulus mengatakan: Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. (Filipi 1:20-22).

Ini tidak berarti orang yang percaya sama sekali tidak mengalami kematian. Kecuali beberapa orang (Henokh dan Elia) semua orang bagaimanapun harus mengalami kematian. Namun bagi orang-orang kita kematian itu tidak lagi mengerikan, sebab Kristus telah menaklukkannya. Kematian tidak bisa lagi dijadikan alat untuk menakut-nakuti orang beriman. Dia juga ada dibalik kematian yang gelap dan asing itu. Begitu kita masuk ke dalam maut itu maka kita percaya Kristus sudah duluan ada di sana menjaga dan melindungi serta membahagiakan kita. Dia lebih besar, lebih perkasa dan lebih mulia daripada segala-galanya.

5. Tema Injil Yohanes adalah hidup kekal atau hidup sejati yang dikaruniakan kepada semua orang yang percaya kepada Kristus. Yang dimaksudkan disini bukanlah sekadar hidup yang berdurasi sangat panjang atau tidak pernah berakhir dari segi waktu, melainkan hidup Allah yang kekal atau hidup sebagaimana dihayati dan dijalani oleh Allah sendiri. Dalam Dia ada hidup (Yoh 1:4). Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16, 3:36). Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yoh 6:36). Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal (Yoh 6:54). Barangsiapa mengikut Aku, ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8:12). Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh 10:10). Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6).

6. Dalam perikop ini Yesus mengatakan Dialah kebangkitan dan hidup. Pertama: Yesus mengatakan hanya dalam dan melalui Dia sajalah kita memperoleh kehidupan yang sesungguhnya atau kehidupan yang sejati atau kehidupan kekal, yaitu kehidupan Allah sendiri Bahkan Yesus mengatakan Dia sendirilah hidup yang sesungguhnya atau hidup sejati itu (Yohanes 14:16).

Hidup kekal yang dijanjikan Yesus bagi semua orang yang mempersatukan diri denganNya disini bukanlah sekadari hidup yang berdurasi panjang atau tidak berkesudahan dari segi waktu. Namun hidup Allah sendiri. Yaitu hidupNya yang penuh pengharapan, kasih dan iman, sukacita, kebahagiaan dan damai sejahtera yang abadi. Bukan hanya secara rohani melainkan juga jasmani. Dengan kata lain hidup yang sungguh-sungguh berkualitas dan lengkap serta abadi.

Kedua: Hidup kekal atau hidup Allah yang ditawarkan Yesus itu sudah boleh dirasakan dan dialami oleh orang-orang beriman sejak sekarang di dunia ini. Kita tidak perlu menunggunya sesudah mati atau sekian ribu apalagi jutaan tahun lagi. Mulai dari sekarang dan di tempat ini juga dan sampai selama-lamanya kita sudah boleh merasakan sebagian hidup kekal atau hidup Allah itu. Memang nanti pada saat kedatanganNya kembali Dia akan menggenapi atau menyempurnakan hidup kekal itu. Namun sekarang juga dan di dunia ini kita sudah boleh merasakan hidup dalam dan bersama Allah yang kekal itu. Kita tidak harus menunggu mati dulu agar dapat berjumpa dan bersekutu dengan Allah. Dalam hidup kita sehari-hari kini pun kita sudah ada dalam Allah itu.

Ketiga: Tuhan memanggil kita agar memanfaatkan waktu kehidupan kita di dunia sebaik-baiknya dan sekaligus mempersiapkan diri kita hidup dalam kekekalan kelak. Hidup di dunia ini, walaupun pendek, bukanlah kesia-siaan atau tanpa makna. Tuhan menempatkan kita di dunia agar kita mengambil bagian dalam pekerjaanNya berbuat baik dan benar serta berkarya kasih. Kita dipanggil untuk membangun dan menanam dunia ini menjadi lebih baik. Kita disuruh merancang masa depan kita dan bertanggungjawab atas hidup kita.

Namun iman kita mengatakan hidup kita di dunia ini belum final. Dibalik kematian yang gelap dan tidak terperikan itu pun kita yakini masih ada kehidupan bersama Tuhan. Kematian bukan akhir dari segala-galanya. Sebab itu kita juga tidak mau larut dalam kenikmatan atau sebaliknya kesusahan dunia ini. Kita percaya dan berharap juga kepada hidup kekal bersama Allah di sorgaNya yang mulia dimana segala air mata dan duka tidak ada lagi. AMIN.

*) dikotbahkan pada hari Minggu Peringatan Orang Meninggal di HKBP Serpong Minggu 22 November 2009

Share on Facebook

4 Responses to Kristus Kehidupan & Bukan Kematian Kita.

  1. Jansen Sinamo on November 27, 2009 at 8:10 am

    Dengan kata lain kematian kita di dunia ini (dan para terkasih yang telah mendahului kita) adalah momen transformasi menunggu saat Kritus datang lagi kedua kali.

    Saya sebut ‘momen’ karena dari segi pengalaman berwaktu, durasi kematian itu, sama dengan nol, bagai bermimpi saja rasanya. Saya kira itu sebabnya kita di HKBP ini selalu menyebut kuburan sebagai ‘inganan parsatongkinan’

    Jutaan tahun mati dan kematian menjadi misteri bahkan tirani yang mengerikan bagi umat manusia sampai Kristus kemudian menaklukkannya dengan bangkit dari dalamnya sehingga kita pun dengan bergetar ikut menyanyikan: nunga talu hamatean dibahen Tuhan Jesus i …

    Dan saya kira, residu ketakutan dan kengerian akan kematian itu belum sepenuhnya sirna dan pupus dari orang Kristen, masyarakat yang bertuhankan Yesus Kristus, sang penakluk kematian itu.

    Tapi hidup kita di dunia ini juga sangat luar biasa: pengalaman ber’space-time’ (pengalaman menyejarah dan bersejarah); coba merasakan pengalaman Kristus ‘natal-berkarya-melayani-passion-mati-bangkit-naik’ secara siklis setiap tahun; pengalaman yang makin intensif hidup di dalam dan bersama Kristus dalam kesejarahan kontemporer kita.

    Buat saya inilah hidup yang sehidup-hidupnya: in Christ we live to the fullest and conscious to the deepest, with Christ we walk to the farthest and work to the highest, through Christ we endeavor to the perfect and love to the best.

  2. Friska pardede on November 27, 2009 at 8:04 pm

    Alinea keempat : Begitu kita masuk ke dalam maut itu maka kita percaya Kristus sudah duluan ada di sana menjaga dan melindungi serta membahagiakan kita. Dia lebih besar, lebih perkasa dan lebih mulia daripada segala-galanya.

    Terima kasih amang atas pencerahan ini dan ketika anak2ku bertanya tentang kematian orang kristen inilah jawaban yg akan kuberikan sebab jujur aku sendiri masih takut mati :) .
    Setiap melayat warga HKBP yg meninggal kita pasti menyanyikan lagu tentang kematian misalnya :Nasa jolma ingkon mate, Loas au asa lao, Sai masipaidaan, dll, semua kata dalam nyanyian tsb juga nada2nya membuat kita merasakan kesedihan yg amat dalam

    Lalu dikuburan ketika pemakaman lagu wajibnya adalah : Sonangma modom dan Hehe do muse pamatangkon yang meyakinkan kita bahwa Tuhan kita akan membawa kita kesisinya yang maha kudus dalam kebahagiaan yg abadi selama lamanya sesuai dgn penjelasan amang di alinea ke enam.

    Saat mengetik ini putraku sedang latihan untuk pelayanan ibadag Minggu siang dan saya tadi sore ikut mengantar kepemakaman warga greja kami yg meninggal dua hari yl meminta kepada putraku untuk memainkan kedua lagu diatas dan akupun membuka buku ende dan ikut menyanyi.

    Sonang ma modom ho namartuai, namaradian sian ulaon i
    naniulamu dihajolmaon, jala namangihut ho tu surgo
    dstnya, putraku bilang ini adalah “requiem” nya HKBP
    Kedua lagu ini tidak ada persamaannya di buku ende jadi hanya dinyanyikan di pemakaman saja, merinding sekali ketika putraku memainkannya dgn orgen klasik sepenuh hati, walaupun dia tidak tau kata2nya tapi dia bilang bisa merasakan makna dari lagu tsb membuat dia bangga menjadi warga HKBP

    Dengan penjelasan amang pendeta dan pendapat amang Sinamo membuatku tidak akan takut lagi apabila kapanpun Tuhan memanggilku :)

  3. Parlindungan Sihotang on November 28, 2009 at 3:24 am

    Saya menyesal tidak pergi ke gereja pas Minggu Taringot tu Ajal ni Jolma lalu, biasanya tahun-tahun lalu saya tak lupa berdoa dalam kebaktian minggu ini tentang keikhlasan saya akan rencana Tuhan di balik kematian orang-orang yang saya kasihi dan bagaimana seharusnya sikap saya akan akhir hidup saya sendiri. Khotbah Minggu ini selalu suka saya baca tiap tahun.

  4. Arsa on November 29, 2009 at 5:41 pm

    Abang DTA yang baik (begitulah keyakinanku), mohon ijin untuk menggunakan materi ini di gereja kami (GKJ Semarang). Boleh ya…terimakasih…sebelumnya.

    Daniel Harahap:
    Silakan. Silakan. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*