KOTBAH: APA & BAGAIMANA

November 26, 2009
By

SERMON MINGGU INI

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

PENDAHULUAN
Seorang sintua acapkali diminta untuk berkotbah dalam kebaktian-kebaktian kategorial (pemuda dan dewasa), keluarga atau khusus. Sebaliknya sang sintua sangat kurang dibekali dan diperlengkapi untuk melakukan tugas berkotbah ini. Sebab itu banyak sintua merasa seperti disuruh berperang tanpa senjata dan pengetahuan srategi.

Agar hal seperti itu tidak terjadi maka ada baiknya para sintua juga benar-benar diperlengkapi dengan ilmu berkotbah (homiletika) baik secara teori maupun praktik. Namun ini sebenarnya bukan hal mudah sebab kotbah sebagai interaksi firman Tuhan dan kehidupan manusia memerlukan pemahaman yang memadai dalam teologia (minimal tafsir atau eksegese Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dogmatika dan etika, serta liturgi) dan juga ilmu-ilmu sosial (psikologi, sosiologi dan ilmu komunikasi). Sementara semua atau hampir semua latar belakang pendidikan para sintua bukanlah teologia dan tidak pernah belajar secara formal teologia.

Lantas bagaimana? Mengingat kurangnya jumlah pendeta, luasnya pelayanan dan kebutuhan warga jemaat yang sangat tinggi akan kotbah, para sintua tidak bisa tidak tetap harus juga diberikan tugas berkotbah. Sebab itu para sintua harus diperlengkapi dan dibekali betapapun terbatasnya waktu dan kesempatan.

Berdasarkan pengalaman berkotbah selama hampir dua puluh tahun menjadi pendeta (ditunjang pengetahuan teoritis selama belajar teologia di kampus dan bacaan buku-buku perpustakaan), saya dapat menyederhanakan kotbah dengan 4(empat) hal:

PERTAMA: PRIBADI PENGKOTBAH

Tuhan menggunakan perantaraan manusia untuk menyampaikan firmanNya. Memang sebagian dari firmanNya telah dituliskan dan dibukukan oleh para nabi dan para rasul jaman Perjanjian lama dan Perjanjian Baru. Namun firman yang telah dituliskan dalam Alkitab itu tetap membutuhkan manusia-manusia untuk menterjemahkan dan mengartikan ulang serta meneruskannya kepada umat Allah yang sekarang. Apalagi kita tahu bahwa Alkitab itu ditulis menggunakan banyak bahasa-bahasa dan simbol-simbol manusia masa lalu yang bagaimanapun harus dimaknakan ulang agar dapat dipahami dan dihayati jemaat masa sekarang. Firman Allah sendiri hidup dan tidak terbelenggu. Allah masih terus berfirman kepada umatNya di jaman baru ini. Untuk itulah diperlukan kehadiran seorang pengkotbah.

Namun pengkotbah itu, sebagaimana kita katakana di atas, adalah pribadi manusia. Pengkotbah bukanlah mesin perekam atau tape recorder, robot atau corong pengeras suara. Pengkotbah juga bukan pipa peralon yang meneruskan air secara langsung. Pengkotbah adalah manusia yang memiliki pikiran dan perasaan. Firman yang sampai kepada pengkotbah tidak otomatis masuk dan keluar, melainkan lebih dulu mengalami proses pemikiran, pergumulan dan permenungan dalam dirinya. Sebab itu kita harus sadar bahwa firman Tuhan yang keluar dari pengkotbah sedikit-banyak tercampur dengan pemikiran dan perasaan si pengkotbah itu sendiri.

Sebab itu sebagai pengkotbah kita harus senantiasa kritis dan rendah hati serta tidak menganggap semua yang kita kotbahkan mutlak adalah firman Tuhan dan karena itu harus diterima bulat-bulat tanpa reserve oleh anggota jemaat yang mendengarnya. Namun baiklah kita bersyukur bahwa Tuhan Allah mau memakai kita manusia yang lemah ini sebagai penyampai firmanNya. Dia mempercayakan harta yang mulia, yaitu firmanNya, untuk disimpan dan disalurkan melalui manusia yang hina dan rendah seperti kita.

Sebab itu yang pertama-tama dan terutama harus kita lakukan adalah menjadikan diri kita sendiri agar menjadi lahan yang subur (kondusif) bagi firman Tuhan. Bagaimana mungkin kita membagikan firman yang tidak ada dalam diri kita? Bagaimana mungkin kita menjelaskan firman yang samasekali tidak jelas bagi kita? Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain mempercayai apa yang tidak kita percaya?

Selanjutnya kita juga didorong untuk sungguh-sungguh mengenali dan menyadari diri kita secara mendalam. Sebagai pengkotbah kita harus senantiasa menyelidiki pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita terdalam (keinginan, ambisi, kemarahan, sakit hati, harapan, ketakutan dll). Dengan demikianlah kita bisa membersihkan dan menjernihkan kotbah dan tidak tergoda mencampur-adukkannya dengan masalah-masalah pribadi kita. Dalam hal pengenalan diri ini kita dapat dibantu oleh para ahli psikologi. Ada banyak sekali latihan pengenalan diri yang dapat kita lakukan.

Namun di atas semua itu kita didorong untuk menjadi pribadi yang baik, jujur, setia, dapat dipercaya atau memiliki integritas. Jemaat mendengar dan mengaminkan kotbah lebih sering bukan karena apa yang kita katakan melainkan karena siapa atau orang yang mengatakannya. Semakin baik dan benar serta dapat dipercaya pribadi si pengkotbah maka semakin kuat pulalah pengaruh kotbahnya. Tanpa volume suara yang keras dan lengkingan suara seorang pengkotbah yang baik dan benar dapat menggoncang hati para pendengarnya.

KEDUA: ALAMAT KOTBAH
Kotbah ditujukan untuk orang lain dan banyak. Agar kotbahnya sampai dengan baik maka si pengkotbah harus benar-benar mengenali pendengar kotbahnya. Sebab kita tahu dari ilmu komunikasi kemampuan seseorang menyerap informasi sangat dipengaruhi oleh latar belakang usia, minat, pendidikan, pekerjaan, budaya dan kebiasaan orang yang bersangkutan. Kita tidak guna berkotbah kepada jemaat sederhana dengan pendidikan rendah dengan istilah-istilah asing dan abstrak. Sebaliknya kotbah kita sulit diterima oleh jemaat berpendidikan tinggi jika kita membawakannya dengan gaya pasar atau terminal. Sebab itu berkotbah kepada anak-anak harus menggunakan bahasa anak-anak. Berkotbah kepada remaja memakai bahasa remaja. Berkotbah kepada orang Batak harus menggunakan idiom-idiom yang sangat dihayati oleh orang Batak.

Pengenalan jemaat bukanlah suatu usaha yang mudah dan sebentar. Kita membutuhkan usaha yang sengaja dan serius serta terus-menerus untuk mengenali pendengar kotbah kita: apakah kebutuhan-kebutuhannya yang mendasar, minat-minatnya yang dalam, keprihatinannya yang sangat dalam, dan obsesi-obsesinya? Hal ini dapat kita tangkap selalin melalui percakapan-percakapan informal juga melalui koran dan majalah, televisi dan internet serta buku. Sebab itu untuk menjadi pengkotbah yang baik kita juga harus menjadi pembaca, pendengar dan pengamat yang baik.

Namun kita tidak perlu putus asa. Seorang ahli mengatakan di dasar batinnya pada dasarnya semua manusia sama. (Hanya di permukaan atau di kulit luarlah manusia sangat berbeda-beda). Sebab itu untuk mengenali banyak orang pendengar kotbah itu kita cukup masuk dan mengenali hati kita sedalam-dalamnya. Biasanya apa yang ada di dasar batin kita itu adalah sama dengan apa yang ada di dasar batin orang lain.

KETIGA: ISI KOTBAH
Kini tibalah kita memahami apa sebenarnya yang hendak kita kotbahkan. Apakah itu kotbah? Kotbah adalah interaksi antara firman Tuhan dan kehidupan manusia. Dengan bahasa lebih sederhana kotbah adalah interkasi antara apa yang disampaikan Tuhan dengan yang dipergumulkan oleh manusia.

Sebab itu dalam menyusun kotbah secara sederhana ada beberapa langkah yang harus kita lakukan:

Berdoa
Langkah pertama menyusun kotbah adalah berdoa. Ya berdoa dalam ketenangan dan keheningan hati. Apa yang harus didoakan? Pertama-tama memohon agar Tuhan mengampuni dosa kita dan melayakkan kita menjadi pemberita firmanNya. Namun doa bukan sekadar kata-kata. Doa adalah penyerahan diri kepada Allah. Dengan berdoa si pengkotbah menyerahkan dirinya kepada Allah agar dipakai menjadi alatNya. Dan doa itu bukan baru dilakukan sejam apalagi beberapa menit sebelum kotbah melainkan berhari-hari sebelumnya. Disinilah kita disadarkan betapa pentingnya ketenangan dan keheningan hari Sabtu itu bagi pengkotbah Minggu! Selanjutnya si pengkotbah juga berdoa agar Tuhan berkenan membuka dan mencerahkan pikirannya dalam membaca Kitab Suci agar dia mengerti apa yang difirmankan Tuhan. Namun bukan hanya itu saja, si pengkotbah juga harus mendoakan agar Tuhan memberkati orang-orang yang bakal mendengar kotbahnya (termasuk orang-orang yang boleh jadi tidak disukainya atau masih menjadi sasaran sakit hatinya).

Membaca teks yang hendak dikotbahkan
Di gereja kita teks kotbah seringkali sudah ditentukan sebelumnya melalui Almanak. Tugas kita sebagai pengkotbah adalah membaca baik-baik teks kotbah tersebut. Namun kadang atau sering teks kotbah itu tidak bisa dipahami (apalagi dihayati) dengan sekali baca, sebab itu kita harus membacanya berulang-ulang dan lebih baik lagi membaca bagian sebelum dan sesudah teks yang dikotbahkan, dan membacanya dalam beberapa bahasa. Jika waktu kotbah itu ditentukan jauh hari maka baik sekali jika kita membaca teks kotbah itu sejak jauh hari juga agar teks itu mengendap atau mengalami proses inkubasi dulu dalam pemikiran kita. Baik juga jika teks Alkitab itu kita tuliskan ulang, sebab menulis seringkali justru membantu pemahaman.

Menafsir teks
Langkah ketiga yang biasanya paling sulit dilakukan oleh pengkotbah yang tidak pernah menempuh pendidikan formal teologia adalah menafsirkan teks (melakukan eksegese). Secara sederhana kita dapat mengartikan menafsir sebagai menggali atau menimba pesan dari teks. Persis seperti menimba air dari sumur atau menggali butiran emas dari lumpur. Alih-alih memasukkan pikiran kita sendiri ke dalam teks (seperti memasukkan potongan kayu atau minyak ke sumur) kita justru disuruh memasukkan makna teks ke dalam pikiran kita. Bagi para sintua yang tidak pernah menempuh pendidikan teologi secara formal dapat mencari bantuan melalui buku-buku tafsir yang tersedia (saya rekomendasikan terbitan BPK Gunung Mulia) atau menanyakannya kepada pendeta.

Untuk mengartikan teks juga dapat memakai alat bantu kata tanya: Apa (what), Siapa (who), Dimana (Where), Kapan (When), Bagaimana (How) dan Mengapa (Why). Dengan memakai kata tanya ini secara tekun, kritis dan kreatif kita akan mudah memahami teks Alkitab yang hendak dikotbahkan itu. Kita juga bisa memahami teks dengan mencari dan menemukan apa saja perintah atau larangan, ajakan atau ancaman, pujian atau kecaman, janji atau amanat yang ada dalam teks tersebut. Atau kita bisa juga mencoba mencari “kata-kata kunci” (keywords) atau kata-kata penting dalam teks dan mengeksplorasinya lebih dalam.

Merenungkan dan mengaplikasikan teks.
Langkah selanjutnya adalah merenungkan teks itu dan memperhadapkannya kepada jemaat yang bakal mendengar kotbah kita. Apakah pesan teks Alkitab ini kepada jemaat? Sebelumnya: apakah pesan teks ini kepada saya pribadi? Dengan bahasa lain: apakah yang hendak disampaikan Tuhan melalui teks kotbah ini kepada kami semua?

Jawaban-jawaban atas pertanyaan diataslah yang merupakan kotbah kita. Sebab itu kotbah tidak sama dengan ceramah, bahan kuliah, atau pidato atau kata sambutan dalam upacara adat. Kotbah adalah pesan Tuhan Allah yang hendakn menyentuh kehidupan jemaat. Kotbah adalah hasil pergumulan iman terhadap firman Tuhan. Kotbah tidak boleh dicampur atau diselipkan dengan pesan sponsor baik dari pemerintah, partai, perusahaan atau lembaga adat. Kotbah juga tidak boleh dijadikan alat untuk menyerang pribadi, menyanjung (untuk mendapatkan sesuatu) atau mempermalukan seseorang.

Agar pesan Tuhan kepada jemaat itu jelas maka kita sebaiknya merumuskannya dengan jelas juga. Sebab itulah saya menganjurkan agar permenungan terhadap firman Tuhan itu dirumuskan dalam bagan atau sistimatika yang sederhana dan jelas serta dengan bahasa yang lugas. Pada dasarnya kita dapat membagi kotbah itu dalam 3(tiga) bagian, yaitu: bagian pendahuluan, bagian batang tubuh dan bagian penutup. Namun baiklah kita catat bahwa kemampuan manusia mendengar hanyalah tiga puluh menit dan sepuluh menit pertama merupakan yang paling baik. Sebab itu jangan sia-siakan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu di pendahuluan.
Kita dapat belajar dari Tuhan Yesus berkotbah. Yesus berkotbah sangat menyentuh para pendengarNya sebab Dia menggunakan bahasa yang sangat dimengerti dan dihayati oleh para pendengarNya. Contoh-contoh atau perumpamaan yang diambil Yesus adalah berasal dari dunia dan kedalaman hati pendengarNya sebab itu para pendengarNya langsung merespons (baik setuju atau tidak). (Bersambung)

Share on Facebook

4 Responses to KOTBAH: APA & BAGAIMANA

  1. Jansen Sinamo on November 27, 2009 at 8:35 am

    Tu dongan sintua di huria Ruma Metmet on: rap ma hita pabagashon parsiajaron naung ditariashon panditanta na di ginjang ondeng.

    Tu dongan ruas na mulai manghilala penjouon gabe sintua: patibu hamu ma mangalusi jou-jou i, ai tung mansai lehet do na gabe sintua on, godang parsiajaran disi, jala omporlu sian sude: lam terkondisi hita gabe sang pelaku manang sang penghayat ni Firman Tuhan.

    Lumobi ma di Ruma Metmet on: lam Kristen hita, lam maju hita, huhut lam Batak muse.

  2. Friska pardede on November 27, 2009 at 8:42 pm

    Kira2 kalau saya copy keterangan amang ini dan membagikannya kepada pendeta kami yg tiga orang itu juga kepada para sintuanya, bagai mana cara yang santun? apakah ada yg bisa membantu saya, soalnya maaf nih amang greja kami belum pernah kebagian pendeta yang seperti keterangan amang ini, sepertinya para pendeta kami ini tidak pernah mempersiapkan dirinya dgn baik.

    Pendeta kami yang lal bahkan berkotbah di sore haripun tidak mau krn tidak pede berbahasa Indonesia yg kebanyakan remaja dan naposo lha kok bisa ditempatkan di Jakarta ya, penggantinya….beda2 tipis begitu selesai baca alkitab lalu buka ende dan mengajak jemaat bernyanyi sepanjang kotbahnya bisa 4-5 kali bernyanyi membuat si parorgen kelabakan, sepuluh menit pertama adalah menanyi , kira2 ada apa ya dgn amang ini?, Jangan tanya yg satu lagi…pernah jemaat kami yg kapal selam beribadah natal begitu amang ini kotbah langsung keluar nyari greja lain yg dekat krn merasa benar2 tidak dapat apa2 kalau amang ini yg kotbah.

    Daniel Harahap:
    Ingat hukum ke dua belas: jangan lebai. :-)

  3. Gaya Hutasoit on November 27, 2009 at 10:44 pm

    Dohot ma ahu pabagashon parsiajaran on. Bila orang muntah, yang keluar pasti apa yang dikonsumsi. Kami sebagai jemaat acap kali menduga sebagian pengkotbah tak mengkonsumsi apa-apa sehingga muntahannya tinggal darah. Bau ma, akhirnya jemaat pulang dari gereja atau partangiangan tak bawa hadiah apapun. Satu kali saya masuk ke rumah pelayan, eh.. koleksi bukunya amat memprihatinkan dan tak satu pun ada buku yang baru.

  4. Friska pardede on November 28, 2009 at 6:18 pm

    Memeng para organis pemula dan orangtuanya menjadi sangat lebai gara2 amang pendeta uluan kami ini, salah satu orang tua parorgen baru sudah pernah protes langsung ke amang ini tetapi tetap saja beliau tak perdulu pokoknya setengah dari kotbahnya adalah menyanyi.

    Timbul pertanyaan dihati kami yg sudah sangat lebai ini adakah pelajaran tentang lagu ( minimal para pendeta taulah bahwa nomor buku logu dan buku ende tidaklah sama), anak2 yg sudah senior saja masih perlu mikir ketika pendeta mengatakan marende ma hita sian buku ende nomor toluratus pitupulu opat misalnya si organis kan mesti terjemahkan dulu kebhs Indonesia baru cari di buku ende (kalau tersedia) utk mencari nomor buku logunya.

    si ibu yg protes tadi dengar sendiri jemaat bersungut2 gara2 anaknya si organis ini lama memainkan orgennya dan karena itu dia trauma, ketakutan apabila jadwalnya ketemu dgn amang pendeta ini, apakah itu baik amang??.

    Kami para orang tua organis tidak pernah suka2 mengijinkan anak2 kami utk melayani apabila si guru menagatakan sudah layak( Kursusnya antara 5-10 thn) barulah kami mendaftarkannya di greja beserta permohonan hanya 2 x 1 bln saja di ibadah sore ( tidak pernah komentar yg pedas krn jemaatnya remaja dan naposo) seperti di jemaat pagi dan siang krn kebanyakan orang tua yg nyinyir.

    Kami orang tua tidak pernah mendidik anak2 kami utk mengharapkan uang dari pelayanannya murni pelayanan, dan anak2 ini mati2an menjalani kursusnya ditengah2 tuntutan kursus yg lain yg harus mereka kejar agar dapat di sekolah/kuliah yg baik, dan ketika ada sintua yg punya hubungan kekerabatan dgn pemain musik asal2an sering kali ditampilkan pada acara ibadah khusus ( menurut saya sanggat tidak baik) untuk kehidupan bergreja, apabila anak2 pemula hendak melayani kita bayar guru ini 2x lipat ( utk 2 jam pelajaran) utk melatih lagu2 yg akan dimainkan besok lengkap diajarkan dimana intro dan register yg pas utk setiap lagu ( tidak boleh sama utk setiap lagu)

    Demikianlah amang kelebaian saya ini saya curahkan di rumah ini agar orang2 yg berkepentingan tentang musik ini memahaminya, soal pendeta kotbahnya tidak pernah menarik tidak akan membuat kami para orangtua organis dan otomatis anak2 kami akan lari ke sekte lain, organis adalah jaminan cinta yg amat besar kepada HKBP dgn kekurangan dan kelebihan yg ada, mauliate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*