Gunung Sindur: Kemewahan Yang Tersisa

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Jumat malam 20 November.  Dari halamannya yang penuh pepohonan Gereja HKBP Gunung Sindur tampak terang-benderang oleh cahaya neon. Saya memarkir mobil di bawah pohon rambutan. Belasan motor sudah nampak diparkir di halaman bawah. Beberapa sintua dan anggota jemaat tampak sibuk menggeser-geser kursi-kursi plastik gereja agar rapi dengan menimbulkan suara berderek-derek. Saya langsung masuk konsistori. Seorang sintua langsung menawarkan bandrek yang serta-merta saya jawab iya. Bandrek hangat pun datang disertai ketupat. Wow. Rasanya Tahun Baru makin dekat saja. Seperti biasa para sintua Gunung Sindur yang sebagian besar par-tambal  itu langsung terlibat dalam canda khas dan ledek-ledekan menggelitik.  Lewat jendela konsistori yang terbuka lebar saya tertegun melihat cahaya berpendar di empang (milik orang) di belakang gereja. Seandainya empang itu milik gereja alangkah indahnya! Tapi berhubung bukan atau belum, cukuplah saya menikmati keindahannya saja.

Tepat pukul delapan malam, sesuai warta jemaat, kami para parhalado berkumpul untuk berdoa, dan lantas masuk ke ruang ibadah. Hitungan saya sekilas ada kurang-lebih empat puluh jemaat yang hadir. Saya pun duduk di depan persis di samping jendela. Acara dimulai. Tiba-tiba saya merasa angin sejuk mengalir tidak henti dari jendela di belakang saya. Membuai damai. Menyapu lembut. Saya menarik nafas dalam-dalam menyambut keheningan yang datang. Tiba-tiba  saya sadar yang bernyanyi memuji Tuhan malam itu bukan hanya jemaat par-tambal ban ini melainkan juga para jangkrik dan kodok yang hidup di halaman gereja pinggiran ini. Saya pun membiarkan keheningan itu masuk lebih dalam. Dan saya disadarkan lagi jangkrik dan kodok yang bernyanyi malam itu rupanya sangat banyak. Itu bisa dikenali dari tinggi rendah, jenis dan asal suara yang berbeda. Terima kasih, Tuhan. Sungguh, sudah lama sekali saya tidak merasakan kemewahan dan privilese semacam ini. Namun sampai kapankah?

Tiba-tiba darah saya berdesir. Angin menghembus keras. Dan apa yang terjadi? Giliran dedaunan pohon rambutan dan sisa-sisa hujan di ujungnya bernyanyi memuliakan Tuhan yang pengasih.  Saya terpaku takzim. Liturgis lantas memandang saya seakan memberi isyarat. Sekarang giliran saya. Saya pun bangkit dari duduk dan berdiri setenang mungkin di altar sederhana gereja kami menyampaikan kotbah tentang kehidupan yang ditawarkan oleh Kristus kepada semua orang beriman.

Share on Facebook

7 Responses to “Gunung Sindur: Kemewahan Yang Tersisa”

  1. tarabatuh Says:

    darah berdesir?! itu bukan kuasa iblis itu adalah kuasa roh kudus yang menyadarkan bahwa semua yang dilihat(tumbuhan) dan didengar(suara kodok/jangkrik ciptaan Tuhan yang lebih dahulu dari manusia) akhirnya dirasakan, itu juga adalah khotbah yang berbentuk dan nyata serta kemudian khotbah amang pendeta sampaikan selanjutnya adalah khotbah yang harus dibentuk dan menjadi nyata oleh semua yang mendengar,Tuhan memberkati amang pendeta untuk tetap sehat dan sejahtera dalam melayani.

  2. John hutapea Says:

    Imada tabonai jala mansai denggan suasana i ate amang pdt Songon dihuta,Sejuk dan damai. Berbahagialah dongan par gunung sindur Bogor Menyambut Minggu Advent (setelah Taon baru gereja Minggu ini) Horasma.

  3. Jansen Sinamo Says:

    Satu kutipan dari Albert Einstein yang tambah tahun semakin berarti penting buat saya ialah, “There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

    Di Gunung Sindur mujizat itu ada, di Lapo Sendor ia pun ada, dari perut tambur ia juga datang bertalu-talu. Soalnya ialah: marbinege do hita, manonggor do hita? Dan lebih penting lagi — membahasakan secara lain mahafisikawan di atas — apakah indera, perasaan, dan kesadaran kita terstel atau terstem untuk bisa menangkapnya, memahaminya?

    “Dalam setetes air ini pun kita bisa melihat mujizat Tuhan,” kata cucu murid Einstein (Prof Pantur Silaban) suatu kali dalam percakapan Minggu petang di koridor kantornya di kampus ITB puluhan tahun silam sambil menunjuk butir-butir air yang bergelantungan pada dedaunan rumput gajah yang mengepung kantor itu usai hujan.

    Orang ber-ktp Kristen, bila tak mampu menangkap dan mengalami the wonder of life and the miracle of God akan merasakan kehidupan bergereja sebagai sangat membosankan, tidak menarik, bahkan penyia-nyiaan waktu belaka.

    Maka selarik doa yang perlu kita naikkan ialah: Anugerahkanlah padaku ya Tuhan seperangkat indera yang mampu menangkap keajaiban karyaMu, yang sanggup mengalami kedahsyatan anugerahMu, supaya aku tak putus-putus heran bersyukur serta memujiMu namaMu selalu.

    Pinuji ma Debata na songkal jala na badia.

  4. Friska pardede Says:

    Sekonyong2 aku bisa merasakan seperti keadaan di Gn. Sindur ketika masih kecil natalan sekolah minggu di bona pasogit nyanyian kami disambut para kodok dan jangkrik serta dibuai desahan angin yg meniup daun2 dari pohon2 besar yang ada di sekeliling greja dan biasanya disertai hujan. ketika itu belum ada listrik sehingga pulang dari greja mengandalkan senter dan lampu mobil yg sesekali lewat, oh… betapa indah dan semangatnya kami memuliakan Tuhan ketika itu.

    Ternyata untuk kita para perantau ini keadaan tersebut sangatlah mewah ditengah2 macet yg menjadi2 dan menimbulkan sesak napas krn asap dari knalpot juga saat ini Jakarta dibayang2i banjir membuatku ingin manikmati kemewahan ala gn. Sindur

  5. Darwin S. Nainggolan Says:

    Puji Tuhan! Horas amang Pandita, memang setiap datang hujan dan ada kegiatan di Gereja emang sangat sejuk dan indah dengan diiringi suara kodok dan jangkrik yang ikut bernyai, sampai sampai jadi tidak ingat pulang. Bisalah HKBP Gunung Sindur ini dibilang Luat si Mirna, dipasu pasu Tuhan do luat Gunung Sindur on, sai lam martamba tamba. Mauliate ma di Tuhan i.

  6. Connie Says:

    Salut buat amang pendeta,…….semuanya itu memang tergantung dari alam pikiran kita. Kalau piiran kita berkata indah,….pasti indah dan sebaliknya.
    Horas,……..

  7. Nina Ravier-Hutagalung Says:

    Ketika alam bermazmur memuji Tuhan, semua itu sangat indah. Saya tahu sekali apa yang disaksikan Bapak Pendeta, karena pernah mengalami hal yang sama ketika berumah di samping persawahan dan ladang.

    Terimakasih telah membagikannya dengan cara yang juga indah. Shalom.

Leave a Reply