Almanak Jumat 13 November 2009:
Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. (Ibrani 13:16)
Allah adalah pemilik langit dan bumi ini serta segala isinya. (Mazmur 24:1, 50:10, 89:12) Dia maha kaya. Jika Tuhan Allah lapar atau haus tidak perlu meminta kepada kita. Aktifitas Tuhan Allah tidak tergantung kepada kemurahan atau belas kasihan kita. Sebaliknya, kitalah yang membutuhkan pertolongan Allah dan menggantungkan hidup kepada belas kasihanNya. Sebab itu apakah yang dapat kita beri kepada Allah? Bukankah segala yang ada pada kita berasal dari Dia?
Dengan pemahaman iman di atas maka hanya pujian dan syukur sajalah sesungguhnya yang dapat kita sampaikan kepada Allah (Mazmur 50:14). Atau doa (Mazmur 141:2). Atau pengakuan dosa (Mazmur 51:19).
Namun ada lagi korban atau persembahan yang dikenan Allah, yaitu: berbuat baik dan memberi bantuan kepada sesama sebagaimana dikatakan ayat hari ini. Kebaikan atau bantuan kepada sesama manusia yang membutuhkan dianggap Allah sebagai korban persembahan kepadaNya. Disini kita mendapat pemahaman yang sangat dalam: kebaikan kepada sesama adalah ibadah kita kepada Allah. Bantuan kepada orang kekurangan adalah persembahan kita kepada Tuhan. Etika dan ibadah menyatu. Doa dan kasih sejalan. Hubungan dengan Allah tercermin dalam hubungan dengan sesama.
Pertanyaan kini: apakah yang akan kita lakukan hari ini sebagai kebaikan dan bantuan kepada sesama sekaligus menjadi korban persembahan kita kepada Allah?
Doa:
Ya Allah, Engkau baik. Engkau telah menganugerahkan AnakMu yang tunggal untuk keselamatan kami. Engkau memberikan RohMu diam dalam hati kami. Dan Engkau tidak menuntut apa-apa dari kami, kecuali berbuat baik, setia, adil dan rendah hati. Ya Allah, demi namaMu sendiri, biarlah kami membalaskan semua kebaikanMu kepada sesama kami khususnya mereka yang sangat membutuhkan bantuan kami. DalamKristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Terima kasih amang atas renungang hari ini. Mangulahon i nama ra na ummaol
Ucapan terakhir ini sering kami lontarkan di parsermonan. Ada kearifan lokal di kalangan orang Jawa yang menyatakan : “Pagar mangkok lebih kokoh dari pagar tembok”, setelah saya coba lebih dalam lagi mempelajari kearifan lokal tersebut, wujud nyata yang paling sederhana adalah bahwa apabila kita memperoleh rejeki, berbagi kepada tetangga akan mendatangkan “keamanan” untuk bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dibandingkan dengan kita bangun tembok dengan pengamanan super maksimum, untuk mengamankan raga, dan harta milik kita. Tetapi Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa : dalam hidup, kita harus berbuat baik dan memberikan pertolongan kepada orang lain.
Manusia adalah gambar dan teladan Allah. Di dalam kita dan di antara kita Dia berkenan tinggal.
Tak heran Allah selalu mengidentifikasikan diriNya dengan umatNya, khususnya dengan para miskin, janda, dan piatu nan yatim; pokoknya para marjinal, tertinggal, dan terpinggir. Kawan-kawan Katolik menyebut mereka kaum 4D: destitute, deprived, dislocate, denigrate.
Mengatasi problem 4D ini adalah soal besar dalam kebernegaraan, kemanusiaan, dan keberagamaan.
Kemajuan beragama (khususnya hakristenon) mestilah ditandai dengan kemajuan kita dalam hal mengentaskan sesama dari ketertinggalan dan keterpinggiran.
Berbuat baik dan memberi bantuan memerlukan keberanian, kepatuhan, dan latihan. Sebagai pelayan, baik di gereja maupun di berbagai pekerjaan lain, mestinya terus belajar dan berusaha meningkatkan pelayanan masing-masing. (Terlalu normatif kan amang?). Kini di kotaku Pekanbaru dan berbagai kabupaten di Riau yang menurutku menjadi hutanya “halak hita = kristen) ada banyak jemaat yang haus pendidikan hakristenon, tapi apa yang terjadi? Kami (gereja) belum mau dan berani untuk meningkatkan pelayanan terhadap mereka terlebih jemaat marjinal. Kini jemaat asyik membangun “TUGU GEREJA” tanpa berdiakoni pendidikan. Tak berlebihan: untuk menemukan gereja adalah hal gampang. Sayang untuk mencari PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA yang pemiliknya Gereja, kita harus sampai hosa-hosa. Tak aneh anak-anak TK dan SD lebih mampu berdoa dalam bahasa “Arab” daripada dalam nama Yesus.
Benar sekali amang, dengan berbuat baik dan memberi bantuan kepada sesama terutama bagi mereka yang “sedang” berkekurangan sama halnya dengan berinteraksi dengan Tuhan. Saat berinteraksi tersebut akan muncul sukacita dan kedamaian. Hal ini yang senantiasa diinginkan oleh manusia dan sepertinya sulit sekali menemukan sukacita dan kedamaian dalam hidupnya. Sehingga manusia cenderung salah arah untuk menemukan sukacitanya, seperti pergi ke tempat2 hedon (bar, tempat dugem, dst)
Padahal sukacita dan kedamaian bisa kita temukan dalam diri orang lain disekitar kita, tentu dengan melakukan ntas hari ini yaitu berbuat baik dan memberi bantuan kepada sesama. Mauliate..:)
Namun kalau ada maunya dibalik berbuat baik, apakah itu juga berkenan kepada Allah? Sekarang ini banyak orang yang pura-pura baik, namun ada maksud-maksud tertentu dibalik “kebaikannya” itu.
“@Bantuan kepada orang kekurangan adalah persembahan kita kepada Tuhan. Etika dan ibadah menyatu. Doa dan kasih sejalan. Hubungan dengan Allah tercermin dalam hubungan dengan sesama”.
——————————————————————-
Menurut pemahaman saya ungkapan amang Pendeta diatas, adalah Resep yg utama untuk menciptakan perdamaian di Bumi. Kini Perdamaian itu masih menyerupai Fatamorgana ditengah terik mentari ditengah gurun yg sangat tandus. Faktanya jangankan untuk bertindak, untuk memahaminyapun masih bergumul sampai berkeringat, dan setelah memahamipun tak sudi berbuat.
“@Pertanyaan kini:”..
Jawab: Seperti Perikop lagu dankdut “Termiskin di Dunia” hal itu tidak menghalangi saya untuk berbagi dgn sesama walau harus sepiring berdua jika perlu. Berbagi dan iklas dg sesama walapun berkekurangan sangat menyenangkan hati Tuhan, apalagi hati sesama. Formulanya belum berobah: 3M; Mulai dari hal yg kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari detik ini. Tks