Jangan Ambil Semua

November 11, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 11 November 2009:

Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.  (Imamat 23:22)

Ini adalah salah satu hukum Tuhan yang sangat mengetarkan dan mengharukan dalam Perjanjian Lama: jangan serakah jangan ambil semua. Tinggalkan atau sisakan bagian orang-orang miskin. Mereka juga adalah umat dan keluarga Tuhan. Mereka harus juga hidup dan mendapat bagian dalam berkat Tuhan.

Kita pada jaman sekarang tidak perlu menterjemahkan hukum-hukum dalam PL ini secara hurufiah. Namun kita harus mengambil semangat atau roh yang ada dalam hukum itu, yaitu: perlindungan orang-orang kecil, miskin dan lemah. Tuhan melarang kita membiarkan orang mati kelaparan atau mati karena tak ada biaya pengobatan, atau mati karena tidak ada uang bersekolah. Sebagai gereja, masyarakat dan bangsa kita harus bertanggungjawab atas kelangsungan hidup fisik dan psikis saudara-saudara yang kecil, miskin dan lemah ini.  Bagaimana caranya? Selalu menyisihkan sebagian dari milik kita secara sengaja dan teratur untuk keperluan mereka yang tidak beruntung. Itu bisa melalui dana sosial, pajak atau persembahan.

Namun bagaimana jika kita sendiri merasa masih kekurangan atau miskin, kecil dan lemah? Haruskah kita juga menyisihkan sebagian dari berkat dan milik kita kepada orang lain? Jawablah sendiri.

Doa:

Ya Allah, berilah kami hati yang ikhlas dan suka memberi. Penuhilah jiwa kami dengan kasih dan kemurahan. Ajarlah kami selalu menyisihkan sebagian dari berkatMu untuk keperluan saudara-saudara kami yang sangat kekurangan. Mulialah nama Tuhan melalui buah-buah hidup kami. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

8 Responses to Jangan Ambil Semua

  1. Efrael T. Sitohang on November 11, 2009 at 8:56 am

    “Selalu menyisihkan sebagian dari milik kita secara sengaja dan teratur untuk keperluan mereka yang tidak beruntung”. Sepertinya belum pernah masuk dalam konsep hidupku, tapi harus segera dimulai. Bukti bahwa semakin banyak memberi, semakin banyak yang diterima dan tidak akan kekurangan sebenarnya sudah sering dialami. Tp yaitulah, iman mungkin msh belum tebal shg kekuatiran akan kekurangan yang sering direspon.

  2. Singhan Pardede, Pdt on November 11, 2009 at 9:27 am

    Nas ini mengajari para pembaca renungan ini utk menahan diri agar tdk mengambil habis/tuntas hasil jerih payahnya, namun dgn sengaja membiarkannya bagi yang membutuhkannya.

    Hal ini bertolak belakang dgn apa yg kita baca di media cetak dan elektronik. Jgnkan utk meninggalkan dlm arti menyisihkan, malah mengambil yg bukan haknya dan itupun kemungkinan diambil tuntas tanpa sisa, tembok hukum sekalipun akan dihantamnya.

    Spt yg dikatakan amang Pdt. DTA, yg perlu kita perhatikan adalah Roh dari hukum Tuhan ini, yaitu meninggalkan dalam arti menyisihkan dgn sengaja utk dapat dinikmati orang kecil, miskin dan lainnya, agar mrk jg dpt bertahan hdp.

    Horas…

  3. mebs on November 11, 2009 at 10:28 am

    ada pertanyaan tambahan amang… pernahkah kita manusia merasa berkecukupan? :)
    korelasi renungan hari ini berkesinambungan dengan renungan kemarin

  4. Jansen Sinamo on November 11, 2009 at 10:34 am

    Jangan petik semua, sisakan untuk orang miskin
    Jangan sedot habis, sisakan untuk makhluk lain
    Jangan peras tandas, sisakan untuk esok lusa

    Tuhan menentang orang/kaum/company/bangsa yang eksploitatif, berhati buas, pemangsa dan predator; sioncop sasude, sibondut saluhut…

    Kasih reserve, beri kelonggaran, tempo untuk bernafas, waktu buat alam memulihkan dirinya.

    Marilah menjadi insan yang ramah, berhati gemah ripah, berjiwa murah penuh anugerah, sama seperti Bapa kita di sorga yang juga demikian.

  5. Nainggolan Prabu on November 11, 2009 at 11:27 am

    Amen. Hukum Tuhan yang menggetarkan, dan yang lebih menggetarkan lagi adalah Renungan Amang Pendeta. Renungan yg berakar dari kenyataan di depan mata. Sangat terasa namun terasa sulit untuk berkata-kata.

    Di zaman sekarang ini sangat sulit menentukan kriteria orang miskin. Menjelang pendataan utk memperoleh jatah BLT, jumlah orang miskin meningkat sangat pesat. Tapi info menjelang pemilu, jumlah orang miskin menurun drastis dibanding ” seabad yg lalu”.

    Karena saya tinggal dekat/papasan dg Desa, saya sering perhatikan pinggang para petani (Pinggang Bpk Petani) kecil di desa, sebelah Kiri terselip Golok/Sabit, sebelah kanan terselip Handpone. Karena dg Handpone mereka bisa pantau harga Pupuk bersubsidi, pakan ternak dll bahkan SMS ke Pak Presiden. Kalau tidak salah Badan PBB menetapkan kategori orang miskin adalah yg penghasilannya di bawan 1 Dolar /hari. Pada tataran Nasional Keraguan yg sangat besar adalah apakah Jatah yg “disihkan” untuk mereka, oleh bangsa ini, benar-benar diterima utuh oleh mereka yg kita sebut miskin?.

    Di Tahun ini beberapa Bulan lalu kita menyaksikan penyerahan BLT(Bantuan Langsung Tunai) namun dilapangan T nya selain Tunai bisa diartikan Terinjak-Injak bahkan Tewas karena banyak yg terinjak dan ada yg tewas saat antri. Sebagian kecil dari mereka memang yg sudah ujur dan lemah. Namun yg bikin kaget, Parkiran Motor di tempat pembagian BLT penuh, dan itu motor orang miskin versi BLT. Lalu orang berteriak BLT tidak tepat sasaran. Lalu bgmana agar tepat sasaran?. Kasih kailnya bukan ikannya. Katanya.

    Dalam Gereja dan sebagai pengikut Kristus saharusnya tidak ada yg kita maksudkan sebagai orang miskin, Karena Yesus mengatakan; Mintalah maka kau akan diberi. Tapi apakah dan bagaimanakah kita agar layak diberi?. Jawabannya ada dalam Alkitab yg “di depan Mata Kita” . Dan tindakan untuk menyisihkan itu bukan hanya domainnya kaum yang kita sebut kaya. Karena untuk memberi/menyisihkan tidak harus menunggu harta kita sampai luber. Biarlah kita berbagi dalam keadaan berkekurangan, sangat nikmat rasanya, cobalah pasti terasa.

    Kalau di negara kita ini masih banyak orang miskin maka sebagai Bangsa kita harus memili’i pola Pikir bagaimana mengatasi/menggusur kemiskinan itu, bukan menggusur ataupun” ngakali”(eksploitasi) orang miskin. Bangsa Jepang msk dalam kelompok negara Maju, bukan tanpa perjuangan. Rakyatnya bermandikan keringat dalam bekerja. Beda dg kita, kita model mandor Kawat, kerja kendor makan kuat. “Lapatanna ” Jepang Berkeringat saat Bekerja, dan kita Bangsa Indonesia berkeringat hanya saat makan. Tks.

  6. t.m.sihombing on November 11, 2009 at 1:23 pm

    Dari penghasilan yang kita dapat itulah yang harus kita sisihkan untuk orang lain, apakah melalui durung-durung, bantu Gereja, bantu pendeta susah , bantu keluarga yang susah atau program diakoinialah. Hanya sering mengalami kesulitan kalau suatu Huria dalam pelaksanaan programnya menentukan bantuan dengan meminta jumlah tertentu dari Jemaat dan para jemaat sangat sulit untuk memberikannya, padahal jemaat sudah mengusulkan ke Huria supaya membuat program pembinaan jemaat secara teratur dan terus menerus. Tetapi pada prinsipnya hati kita harus dengan hati tulus memberikan bantuan kepada orang yang susah dan mengucap syukur kepada Tuhan apa yang sudah kita dapat. Hamauliatean yang diumumkan di Warta Gereja sering mencantumkan nama atau NN, yang penting jangan ada kesombongan diri supaya semua ruas tau bahwa kita sudah menyumbang. Kalau type seperti ini lebih baik tidak memberi, karena yang bersangkutan belum sadar bahwa yang diberikannya sebenarnya adalah untuk Tuhan, bukan supaya orang tau. horas

  7. JP Manalu on November 11, 2009 at 3:31 pm

    Membaca renungan ini, saya jadi ingat potongan syair dan syair refrain lagu Festival Paduan Suara se Distrik Jabartengdiy bulan lalu :
    Gabe Parasiroha

    Ref. :
    Ai halak na marasiroha, ingkon tangkas adong pambahenanna,
    Ingkon tangkas do adong nang parbuena, jala taruli halak di parbue i.
    Ai molo parasirohaon, ingkon do i gabe hadirionta, mian di roha mian di ateate, jala tongtong mian nang di tondinta i…..

    potongan syair lain :

    Gabe parasi roha………………..
    Songon Ama muna parasiroha i.
    Sebuah syair yang sangat mengena bagi kita semua untuk melaksanakan tugas diakonia dalam kehidupan kita sehari-hari.
    Terima kasih untuk renungan hari ini amang, semoga semakin membangkitkan saya dan pembaca semua untuk memiliki jiwa dan semangat berdiakonia.
    Horas.

  8. Friska pardede on November 11, 2009 at 7:53 pm

    Tadinya saya memisahkan sampah yg biasa diambil pemulung setelah saya amati misalnya : botol air mineral kosong, bekas botol shampo dll dan setelah banyak saya berikan kepemulung yg lewat didepan rumah, tetapi kemudian ada tayangan di TV bahwa barang2 bekas itu dipalsukan dan dijual kembali, sejak itu setiap suatu produk habis, seblm saya buang, saya rusak dulu masak odol, shampo bayi ,bedak bayi dan masih banyak lagi bisa dipalsukan, apalagi untuk obat sisa, sebelum saya buang saya hancurkan dulu, terbayang yg memakannya adalah masyarakat yg amat miskin, yg hanya mampu beli obat diwarung.
    Tindakan seperti ini termasuk kan amang dalam pengertian nats diatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*