Menerima Bahagia. Memberi Lebih Bahagia.

November 9, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Senin 09 November 09:

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.  (Kisah Rasul 10:35)

Siapa yang tidak bersukacita menerima hadiah? Siapa yang tidak bahagia mendapatkan berkat? Kita mungkin sepakat menerima sesuatu pemberian sangat menyenangkan. Apalagi jika pemberian itu berasal dari orang yang kita kasihi dan mengasihi kita, saat peristiwa penting hidup kita, dan hadiah itu sendiri  memang  berharga atau bernilai istimewa.

Namun hari ini kepada kita dikatakan memberi ternyata lebih membahagiakan. Ya, hati kita akan sangat berbahagia jika dapat memberikan sesuatu  kepada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, pada peristiwa-peristiwa penting hidupnya,dan sesuatu itu adalah yang berharga.

Pertanyaan: apakah kita juga berbahagia memberikan yang berharga kepada orang-orang miskin, susah dan menderita yang mungkin tidak terlalu dekat hubungan kekeluargaannya dengan kita?  Apakah kita juga berbahagia memberikan persembahan mendukung pelayanan gereja? Jika kita percaya dan menghayati hidup ini adalah pemberian Tuhan, dan segala yang baik dalam diri kita adalah anugerahNya, maka tentu juga kita akan sangat berbahagia jika dapat melakukannya.

Doa:

Ya Allah, kami berterima kasih dan berbahagia sebab telah menerima begitu banyak kemurahan dariMu. Engkau mengajarkan kami agar kami juga mau belajar memberi. Yakinkanlah kami bahwa kami akan sungguh-sungguh berbahagia jika kami dapat mencontoh Yesus memberi, berbagi dan berkorban. Jadikanlah kami murid-muridMu yang setia, pemurah dan rendah hati. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

6 Responses to Menerima Bahagia. Memberi Lebih Bahagia.

  1. tanobato on November 9, 2009 at 7:40 am

    Lam dipargogi Debata ma hita saluhutna laho mangalehon laho patupahon hadengganon ni ngolunta, nang di hurianta pe.

    Horas jala gabe! Sian las ni roha na bagas ma tapasahat silehon-lehon sian dirintabe.

  2. Koor Ama HKBP Pejuang on November 9, 2009 at 8:55 am

    “Dgn menghayati hidup ini adalah pemberian Tuhan, dan segala yang baik dalam diri kita adalah anugerahNya, maka kita akan lebih berbahagia memberi/berbagi sesuatu untuk orang yang membutuhkan.”… Ini yang susah, apalagi kalau ada pandangan dari orang2 terdekat yang mengatakan :”ah… makanya orang itu kaya…. karna pelitnya orang itu”.

  3. Jansen Sinamo on November 9, 2009 at 9:56 am

    Jadi teringat serangkaian paragraf buku The Art of Loving karya Erich Fromm. Dia menulis:

    Memberi adalah ekspresi tertinggi kemanusiaan kita. Dalam tindakan memberi sesungguhnya kita sedang mengalami kekuatan, kekayaan, dan kemampuan kita.

    Pengalaman puncak dan vitalitas tertinggi tersebut akan memenuhi seluruh ruang hati kita dengan sukacita dan rasa bahagia. Di situlah kita merasakan kelimpahan.

    Tatkala memberi, in spending our ability, kita mengalami kehidupan sehidup-hidupnya; di situ kita mengalami sukacita dan kebahagiaan yang otentik.

    Memberi lebih membahagiakan daripada menerima, bukan karena kita kekurangan, tetapi karena dalam tindakan memberi itulah terletak ekspresi kehidupan kita yang paling dinamis.

    Sambil menyanyikan pula dengan sepenuh iman: Nasa nanilehon-Mi … ro di saluhut artanghu; hupasahat i tu Ho; na so unsatonhu do.

  4. Mebs on November 9, 2009 at 9:59 am

    pertanyaan dalam artikel ini sangat inspiratif… umumnya kita dapat merasa berbahagia kala kita memberikan/berbagi sesuatu dengan tulus, iklas tanpa mengharapkan babu (balas budi) :) mari kita budayakan berbagi dengan sesama, tanpa melihat latar belakang, budaya, ras, agama dan lain2…

  5. Singhan Pardede, Pdt on November 9, 2009 at 10:35 am

    Kutipan dari renungan di atas: “Pertanyaan: apakah kita juga berbahagia memberikan yang berharga kepada orang-orang miskin, susah dan menderita yang mungkin tidak terlalu dekat hubungan kekeluargaannya dengan kita? Apakah kita juga berbahagia memberikan persembahan mendukung pelayanan gereja? Jika kita percaya dan menghayati hidup ini adalah pemberian Tuhan, dan segala yang baik dalam diri kita adalah anugerahNya, maka tentu juga kita akan sangat berbahagia jika dapat melakukannya.”

    Bila kita betul2 bahagia melakukan semuanya ini, maka inilah yg dikatakan Tuhan Allah berpuasa yg dikehendakiNya, yaitu melatih diri utk berbagi dgn sesama.

  6. Nainggolan Prabu on November 9, 2009 at 11:43 am

    Jika tangan kanan memberi, tangan kiri dak usalah tau. Jika dikasih tau, sesungguhnya orang yg memberi sudah mendapat upahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*