Ingatlah Pemimpin dan Pendahulumu

October 23, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Jumat 23 Oktober 2009:

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. (Ibrani 13:7)

Kita adalah anak dan cucu dan keturunan dari seseorang. Kita bukanlah orang pertama di dunia ini dan tidak lahir dengan sendirinya. Kita punya ayah dan ibu, juga kakek dan nenek. Kita punya leluhur. Ibarat arak-arakan kita bukanlah orang pertama yang berjalan paling depan. Ibarat tanaman kita punya akar yang begitu dalam dan panjang. Kita generasi terkemudian walaupun di belakang kita masih ada lagi generasi selanjutnya.

Kita semua memiliki pemimpin dan atasan. Kita bukanlah orang tertinggi di dunia yang berkuasa mutlak dan tidak lagi bertanggungjawab kepada siapapun. Kita juga memiliki guru yang mengajar dan mendidik kita. Apa yang kita ketahui dan pahami serta kuasai adalah hasil didikan dan pengajaran mereka.

Hari ini kita diingatkan agar menghormati para pemimpin dan pendahulu juga guru-guru kita di dunia. Juga pemimpin dan guru kita dibidang keimanan atau kerohanian. Baiklah kita bersyukur kepada Allah atas kehadiran mereka dan semua yang telah mereka abdikan dan ajarkan. Baiklah kita menghormati mereka walaupun mereka sudah lanjut usia atau mungkin tiada. Baiklah kita selalu mencontoh, menghayati dan memberlakukan apa yang baik dan benar yang mereka lakukan demi Tuhan.

Doa:

Ya Allah, terima kasih kepadaMu atas orangtua, guru dan pemimpin kami. Hari ini kami mengingat semua pengabdian dan kasih mereka kepada kami. Kuatkanlah hati kami untuk melakukan semua yang baik dan benar yang mereka tunjukkan dan ajarkan. Biarlah kami tetap menghormati dan mengasihi mereka dalam takut kepada Tuhan. Demi Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

16 Responses to Ingatlah Pemimpin dan Pendahulumu

  1. Ninggor Pardede on October 23, 2009 at 7:07 am

    Ajari ma ahu tutu Tuhan.

  2. tornagodang on October 23, 2009 at 7:34 am

    Membaca Almanak pagi hari ini, saya menjadi ingat program dana pensiun HKBP yang diluncurkan beberapa tahun yang lalu. Mudah-mudahan program tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga para Pendeta, Guru Huria, dan pelayan lain yang telah purna bhakti (pensiun) dapat menerima tunjangan pensiun yang memadai dan menjalani sisa-sisa hidup mereka dengan tenang.

  3. Marolop Siregar on October 23, 2009 at 7:47 am

    Ya, hari ini kembali kita diingatkan akan pemimpin-pemimpin, yang telah, sedang dan akan menyampaikan firman Allah kepada kita semua.
    Untuk memudahkan kita akan hal ini, saya selalu mengingat-ingat “Jemari Tangan” kita yang terdiri dari : Ibujari, Telunjuk, Tengah/Tinggi, Manis dan Kelingking.
    Inilah yang memberi contoh akan iman dan rohani kita
    1. Ibu jari / Orang Tua : yang selalu hidup ditengah-tengah kita
    2. Telunjuk / Pemimpin keimanan : sebagai pemberi petunjuk Arah hidup
    3. Tinggi / Pemimpin pemerintah : sebagai Pengatur Kemasyarakatan
    4. Manis / Saudara, teman terkasih : sebagai Pendukung sesama umat
    5. Kelingking / Kecil, lemah : sebagai Pengingat bagi kita yang lebih kuat. (yang pada akhirnya juga kita nanti akan melemah dan semakin kecil)
    Mari, kita saling menghormati sama seperti jemari tangan kita yang saling mendukung dan menghormati .

  4. tanobato on October 23, 2009 at 8:40 am

    Angka na uli ma na niingot sian angka na jumolo. Nang pe adong na roa pambahenanna uju i, sai ingkon adong do tong hadenggananna. Jala ingkon niangkuan do na hot do adong lapatan na binahenna.

    Tarida do parbue ni na sinuan ni angka na parjolo. I ma binahen na di tingki dakdanak jotjot do begeon hata manang binereng di parngoluon di tingki i: “asing do anak ni guru dohot anak ni pandita/sintua sian anak ni halak “na somal”. Jala asing do anak ni guru/pandita/sintua na burju (ala hasea do …) dohot anak guru/pandita/sintua na so burju mula-ulaon (ala godangan na so hasea do gellengna …).

    Horas jala gabe! Taingot ma angka na denggan na binahen ni na manjoloi hitabe.

  5. Nainggolan Prabu on October 23, 2009 at 10:02 am

    Sejenak khayalku menyapa satu persatu Wajah -Wajah orang yang disebut Amang Pendeta. Mereka Orang yg sangat berjasa. Saat pertama mendaftar sebagai murid kelas Satu Esde (umur 6 th) di Pulo Samosir ( Sekolah Dasar Negeri Lumban Suhi-Suhi), Oppung Dolikulah yang mengantar untuk Mendaftar. Semua pertanyaan Kepala Sekolah yang menerima pendaftaran itu, sampai sekarang masih tertanam dalam memori.

    Pertanyaannya antara lain: Ise goarni Bapam, aha margani Inongmu. Piga Horbo diparmahanho. Pertanyaan yang gampang jawabannya. Satu yang paling sulit, Ise goar ni Oppung Dolim?. Bah… kasar kali Guru ini pikirku kala itu. Padahal Guru ini juga menjadi Parhanger di Gereja HKBP di kampung kami. Tradisi kampung kami, menyebut nama orangtua kandung sangat tidak sopan(dang maradat), apalagi sebut nama Oppung Doliku, parahnya lagi Oppung Doliku pas bersamaku. Karena takut “Dosa” dan supaya “aman” maka kujawab tegas: “Dang huboto Guru”. Puas rasanya telah “dilantik” sebagai murid kelas I SD. Tanpa Uang Gedung Tanpa Uang Pendaftaran. Bebas pungutan.

    Guru yang terhormat patut dihormati. Karena ruangan kelas SD hanya ada 4, maka murid kelas I dan kls II harus belajar di ruangan Gereja HKBP. Setiap pagi sebelum memulai belajar, kami berdiri disamping Bangku (desk) dan berteriak Horas 3x kepada Pak Guru begitu juga sesusai belajar Horas 3x. Saat itu belum ada buku Paket dan buku tulis, kami pake Batu Tulis sebagai penganti buku tulis. Semua pelajaran yang diterangkan guru harus direkam dalam otak. Tidak ada PR, yang penting besok pagi Horas 3X kepada Guru. Syalom.

  6. John Pasaribu on October 23, 2009 at 10:41 am

    Saya bersyukur karena Tuhan menempatkan Mereka menjadi bagian dalam hidupku, Saya bersuka atas kehadiran dan dukungan mereka dalam segala kondisiku dan Aku ingin membalas sedikit dari segala hal yang sudah Mereka berikan, sungguh,..Aku ingin membuat Mereka bahagia..dan Nama2 itu akan senantiasa terlukis dalam hati ini, sampai kapanpun, selama Aku diberi waktu.

  7. Friska pardede on October 23, 2009 at 10:45 am

    Senyum2 aku membaca kommennya pak Nainggolan diatas, aku sih waktu SD kls 2 bayar uang sekolahnya masih pakai beras yg dibuatkan ompung boruku seperti tandok kecil, kalau menulis sudah pakai pinsil kalau penghapusnya sudah habis, bu guru membantunya dgn malilitkan karet gelang diujungnya pinsil supaya kita bisa menghapus kesalahan nulis walaupun jadinya menghitam.

    Kalau melakukan kesalahan biasanya kaki dilincing/dilibas pakai rotan, yg paling galak guru berhitung sedikit saja ada kesalahan jari2 kita digetok pakai penghapus
    Kalau dibandingkan dgn jaman sekarang sdh pasti gurunya diadukan kePolisi, yang paling tidak enak karena mamak kami juga guru diSD itu kami anak2nya harus unggul dibandingkan dgn anak yg lain, ketika aku kls 5 mamakku ini yg menjadi guruku, sungguh tidak enak krn selalu harus yg terbaik di kelas.

    Dengan nats diatas mari kita siapka diri kita juga agar dikenang oleh anak cucu kita tentang nilai2 yang baik, seperti kita hari ini mengenang pendahulu2 kita yg mewariskan hal2 yg baik terhadap kita

  8. JP Manalu on October 23, 2009 at 11:42 am

    Setelah membaca renungan amang Pdt dan reply dari pembaca, saya juga teringat masa kecil saya di Doloksanggul. Ketika SD di kampung, sejak kelas 1 (tanpa melalui Taman Kanak-kanak), saya harus berjalan kaki ke sekolah dengan jarak sekitar 5 km, tidak pernah diantar orang tua ke sekolah; orang tua juga tidak pernah dipanggil ke sekolah. Tidak pernah juga ditanya orangtua apakah ada PR atau tidak!

    Dengan kondisi sedemikian, belakangan saya baru menyadari bagaimana mungkin orang-orang kampung dapat bersaing dengan orang2 kota?. Tetapi karena guru yang mengajar saya saat itu sangat berkualitas, sehingga ketika saya melanjutkan sekolah di kota besar Medan, saya juga tidak terlalu ketinggalan dengan anak-anak yang lahir dan besar di kota Medan. Selama SD, saya diajari guru alumni sekolah Zending, setelah saya tamat SD, adek-adek kelas saya diajari alumni SPG. Dan kelihatannya, setelah diajari alumni SPG, terdapat kecenderungan penurunan kualitas SD tempat saya bersekolah.

    Membaca renungan amang ini, satu persatu wajah guru-guru saya (sebagian besar sudah almarhum) terlintas, saya sangat menghargai jasa-jasa mereka dalam mendidik saya.
    Walaupun jika kita gunakan ukuran “kemodern-an” saat ini untuk mengukur tingkat “kegalakan” alumni guru-guru Zending tersebut, barangkali sebagian besar dari guru jaman dulu itu sudah berurusan dengan “komplain” dari orangtua dan atau bahkan berurusan dengan polisi. Satu hal yang saya sangat rasakan dari guru-guru Zending itu, walaupun mereka cukup keras dalam mendidik, tapi dilakukan dengan penuh kasih, dan jikalaupun “terpaksa” marah, dalam pandangan saya masih tetap terukur. Hal itulah dalam pandangan saya yang mengakibatkan, sebagian besar rekan sebaya saya waktu SD bisa hidup secara wajar dengan latar belakang profesi yang sangat beragam. Bisakah, kita (HKBP) mengembalikan kualitas guru-guru yang akan mampu mencetak anak-anak yang berkualitas saat ini?

    Salam hormat kepada semua orang yang berprofesi sebagai guru. Horas 3 hali.

  9. Februando Simanungkalit on October 23, 2009 at 1:25 pm

    Mauliate ma amang, direnungan sadarion, gabe tarsingot iba ditingki sihamenehon niba. damang nang dainangi do naparjolo mangajari iba mankatai, marroha, nang hatani Tuhan i marhite angka ende. Dung lam umbalga iba, tamba ma pangajari ima Guru Sikola Minggu/Pandita dohot guru di Sikkola formal. Sai ni ingot do sude na binahen nasida i, Jala sahat tu tingkion molo mulak iba tu huta sai ni usahahon do pantun marpangkuling tu nasida. Marhite hata ni Tuhanta di tingkion dipaingot hita taingotma angka nadenggan na binahen nasidai, jala tatiruma nadenggani.

  10. mebs tumorang on October 23, 2009 at 1:28 pm

    jangan2 Bung Karno dengan slogannya yang terkenal itu “Jas Merah” terinspirasi dari ayat renungan hari ini..,
    membaca komen dari amang Nainggolan dan yg lain, jadi lebih ngerti kenapa orang Batak itu sangat keras mendidik anak, terutama di bidang pendidikan, ada unsur balas dendam ni kayanya,hehe :)
    horas7x

  11. florasilaban on October 23, 2009 at 2:38 pm

    Alangkah indahnya apabila kita mendoakan Pemimpin kita agar mereka menjadi Pemimpin yang dapat memberi contoh yang baik, sehingga kita dapat menjalankan apa yang mereka katakan.

  12. Agus Karta Parulian Panggabean on October 23, 2009 at 4:13 pm

    Ingatlah akan Munson dan Lyman!
    Ingatlah akan Heine, Klammer, Betz dan Van Asselt! Jangan cuma Nommensen.
    Ingatlah akan P.H. Johansen dan Mohri! Jangan cuma Nommensen, karena mereka berdua adalah kawan sekerja Nommensen. P.H. Johansen menginjil di Pansurnapitu, sedangkan Mohri menginjil di Sipoholon.

  13. sibuea rh on October 23, 2009 at 4:53 pm

    mengingat kebelakang melihat tauladan dan menatap masa depan melihat pengharapan…..

    kita pun akan dikenang orang karena keteladanan kita maka tataplah pengharapan itu dan raihlah…karena dengan demikian maka kita menjadi tauladan…

  14. Jansen Sinamo on October 23, 2009 at 11:35 pm

    Hutang emas dapat dibayar hutang budi dibawa mati. Betapa besarnya hutang kita kpd Kristus, para rasul, para misionaris, para guru, para leluhur dan orangtua, serta para pemimpin dan pembimbing kita.

    Rasa berhutang ini selain membuat kita rendah hati dan bersyukur patut juga menjadi motivasi/semangat untuk menjadi seperti para insan mulia itu terhadap generasi muda.

    Demikianlah tugas kemanusian ini kita teruskan secara estafet dengan (molo boi) mutu yang lebih baik.

    Tuhan kiranya menguatkan kita.

  15. Parlindungan Sihotang on October 25, 2009 at 7:27 am

    Saya sangat diberkati dengan membaca renungan di atas, merasa terhibur dan terkenang kembali pada mereka-mereka yang berjasa besar membesarkan saya serta menguatkan iman percaya saya sebagai seorang Kristen. Komentar para pembaca budiman yang lain juga memotivasi saya untuk kembali mengucapkan syukur karena saya juga memiliki perjalanan hidup yang diwarnai oleh bimbingan dan didikan dari orang tua, terutama mamak yang tak pernah absen pergi ke gereja dan juga mewajibkan kami mengucapkan patik palimahon tiap mau pergi ke sekolah sebelum menerima uang saku, guru di sekolah di SD HKBP 2 Sidorame Medan (sampai sekarang saya masih bingung, bagaimana guru2 tercinta kala itu mengajar kami sampai bisa menyanyikan tanpa teks lagu-lagu dari Buku Ende, yang kalau saya hitung lebih dari 50 lagu BE bisa saya nyanyikan hingga kini padahal kami di Medan tak biasa berbahasa Batak, hebat kali lah guru2 saya itu), guru Sekolah Minggu (di HKBP Sidorame Medan), para pendeta, sintua, biblevrouw, Guru Huria, dan siapa saja pada masa lalu saya. Tiap pulang ke Medan tak lupa saya menyerahkan hamauliateon kepada gereja itu sebagai aksi syukur saya demi kelangsungan pelayanan yang lebih nyata kepada kaum muda selanjutnya. Semoga saya bisa dikenang baik juga oleh angkatan selanjutnya demi kemuliaan nama Tuhan.

  16. Nainggolan Prabu on October 26, 2009 at 12:38 pm

    @mebs tumorang Says
    —————————-
    Terimakasih kpd mebs Tumorang. Sebagai orangtua yang mengenyam pendidikan “Jadul” saat ini saya hanya bisa mengucap syukur. Zaman peceklik itu memberi “banyak” kepada saya dalam menjalani hidup n kehidupan ni. Saya dan mungkin banyak orang tua eks pendidikan “Jadul” sangat berharap kepada generasi penerus (C.q generasi Batak HKBP)yg dalam menjalani pendidikan di “Zaman berkelimpahan” ini agar benar-benar serius dalam belajar karena negara walaupun belum merata telah menyediakan fasilitas pendidikan yang terbilang memadai.

    Dendam ?. ya.. memang, tapi dendam kepada masa lalu yang “narsis” itu, maka saya berusaha maksimal agar anak-anak saya menjadi orang yg memiliki Kompetensi dalam bidangnya lewat jalur Pendidikan bukan lewat “arisan” dan “Pesta Bona Taon”, dan berharap semoga menjadi Ruas yg bermanfaat di tengah jemaat HKBP.

    Saya akui dan Mebs benar, sy termasuk yg keras tapi penuh sayang, kepada anak terkait ” bersekolah” ini. Maka kalo saya lihat generasi sekarang diperbudak oleh “keinginan”, Hedonis, “lembek” dalam mengahadpi tantangan, saya miris dan sedih. Saya kadang bisa memahami, memang .. Anak Batak kelahiran setelah tahun 70 han, setelah umur beberapa bulan harus di “Imunisasi”, beda dg Zaman saya lahir, bukan “diimunisasi” melainkan di “Amunisi” dg panas api Unggun dekat “Tataring ” di Dapur dan jadinya sangat kebal dan kuat dalam segala medan tempur.

    Dalam Buku ” Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ” Susunan Cindy Adams, saat dipejara Oleh Belanda di Bandung Soekarno juga membaca Alkitab yg diberikan seorang Pendeta. “Saya juga sering berdoa seperti Doa Bapa kami “, Kata Soekarno. Apakah Jas Merah itu terinpirasi dari Nats diatas, saya tidaktahu.Terimakasih Syaloom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*