Penatalayanan Gereja: Tubuh, Bangunan Atau Arak-arakan

October 19, 2009
By

REFLEKSI TEMA DAN SUBTEMA SINODE DISTRIK HKBP DISTRIK XXI JAKARTA TIGA 19-20 OKTOBER 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

TEMA: RAPI TERSUSUN DAN DIIKAT MENJADI SATU OLEH PELAYANAN SEMUA BAGIAN (Efesus 4:16)

SUBTEMA: HKBP Distrik XXI mensyukuri dan menyambut Jubileum 150 Tahun HKBP dengan membenahi diri menjadi gereja yang teratur, tertib, dan moderen dalam administrasi sehingga berdaya kuat dalam membangun Tubuh Kristus menghadapi perkembangan zaman.

A. MEMAHAMI ALASAN PEMILIHAN TEMA DAN SUBTEMA

Pertama-tama marilah kita mencoba mencari dan menemukan apa sebenarnya yang melatarbelakangi pilihan tema dan subtema Sinode Distrik kita tahun ini. Menurut kami ada beberapa:

1. Kelanjutan tema-tema tahunan HKBP. Kita tahu dalam beberapa waktu terakhir HKBP kembali menetapkan tema-tema tahunan yang diharapkan mewarnai atau menggarisbawahi kegiatan-kegiatan HKBP sepanjang kurun tahun tersebut. Tahun 2007 ditetapkan sebagai Tahun Koinonia, tahun 2008 sebagai Tahun Marturia dan tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia. Pada masing-masing tahun itu kita memberikan pemikiran khusus kepada tugas panggilan tertentu sesuai dengan penamaan tahun: koinonia, marturia dan diakonia. Sebagaimana kita dengar dari beberapa kali ceramah Ompu i Eforus bahwa tahun 2010 akan ditetapkan menjadi Tahun Penatalayanan (Kesekretariatan?) HKBP. Dengan mudah kita melihat hal ini sebagai suatu hal yang sangat logis. Sebab pelaksanaan tugas panggilan koinonia, marturia dan diakonia memerlukan penatalayanan (stewardship) yang sangat baik dan kuat. Dengan menjadikan Tahun 2010 sebagai Tahun Penatalayanan maka tentu HKBP di semua level dan unit bertekad  lebih sungguh-sungguh lagi membangun penatalayanan (mencakup administrasi dan organisasi, keuangan, personalia dan inventaris) demi pewujudan visi dan misi HKBP itu sendiri. Tanpa penatalayanan yang baik maka HKBP bukan saja dapat memboroskan begitu banyak enerji, waktu dan dana yang ada namun dapat juga gagal mencapai sasaran, visi dan misinya.

2. Amandemen Aturan 2002. Sinode Godang HKBP 2008 telah menetapkan untuk mengadakan Sinode Godang 2010 guna melakukan amandemen Aturan 2002. Amandemen itu dimaksudkan agar gereja HKBP yang sudah baik dan rapih tertata lebih baik dan rapih lagi. Kita sadar sepenuhnya gereja HKBP bukanlah organisasi legalistik. Aturan diciptakan untuk manusia dan bukan sebaliknya. Namun kita juga sdar bahwa sebagai gereja pun kita tetap membutuhkan aturan untuk membantu melaksanakan tugas-tugas panggilan yang kita terima, yaitu bersaksi, melayani dan bersekutu. Sebab itu dengan memilih tem dan subtema di atas kita hendak mengingatkan diri kita bahwa amandemen aturan haruslah membuat HKBP semakin tertata lebih rapih dan baik lagi dan bukan sebaliknya membuat keadaan makin runyam dan kacau.

3. Jubileum 150 Tahun HKBP. Pada tahun 2011 nanti HKBP akan merayakan Jubileum 150 Tahun. Ini adalah suatu momentum atau peluang emas bagi kita mereformasi dan mentransformasi diri kita untuk sungguh-sungguh menjadi gereja Tuhan yang beriman dan berkarya pelayanan. Selain mensyukuri berbagai kebajikan dan rahmat Tuhan, kita diundang melakukan introspeksi, meneliti dan memeriksa diri kita sedalam-dalamnya, mengkoreksi diri dan bertobat dari kesalahan (termasuk dibidang administrasi, keuangan, harta dan personalia).

4. Kemajuan jaman. Kita sadar hidup di tengah-tengah jaman yang sangat maju khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, lebih khusus lagi di bidang teknologi telekomunikasi dan informatika. Selnjutnya kita hidup dlam proses globalisasi yang telah dan sedang mengubah seluruh tatanan kehidupan. Sebagai gereja HKBP dipanggil merespons kemajuan jaman ini. Salah satu respons itu adalah melalui pembenahan gereja kita secara utuh dan menyeluruh (koinonia, marturia, diakonia dan juga penatalayanan).

B. MENEMUKAN DASAR-DASAR TEOLOGIS MEMBENAHI PENATALAYANAN GEREJA
Gereja adalah gereja. Gereja adalah umat milik Allah dan pewujudan tubuh Kristus di dunia. Gereja bukan organisasi dunia dan manusia belaka. Sebab itu menurut saya yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menemukan dasar-dasar teologis pengorganisasian gereja ini. Kita tahu ada pemikiran keliru yang berkembang di kalangan warga dan juga pelayan bahwa gereja seolah-olah tidak perlu dikelola dan ditata dengan baik dengan asumsi Roh Kuduslah yang akan membenahinya. Kita juga tahu ada pemikiran lain yang juga salah yaitu yang menganggap organisasi gereja yang sekarang telah final dan sempurna, dan merupakan penetapan Allah, sehingga tidak perlu sama sekali diubah lagi. Melalui tema dan subtema ini HKBP hendak menegaskan pertama-tama bahwa gereja harus ditata dan diorganisir sebaik-baiknya. Kedua: bahwa gereja terus bertumbuh dan berkembang sebab itu harus dikelola, ditata dan diorganisir secara terus-menerus.

Dari Perjanjian Lama kita mendapat inspirasi atau pencerahan yang sangat luar biasa untuk menyusun perencanaan dan pengorganisasian juga pengawasan. Yusuf mengajar kita membuat perencanaan yang sangat baik (lih. Kejadian 41). Yitro mengajar kita agar membuat pengorganisasian (Keluaran 18). Daud juga membuat perencanaan yang detil tentang Bait Allah (1 Tawarikh 28:11), Amsal mengajarkan kita agar menyusun rencan (Amsal 14:22, 15:22, 16:33, 20:18, 24:6). Alkitab jug mengajar kita agar membuat sistem pengawasan (1 Sam 2:11, 1 Sam 3:1, 2 Taw 23:18) termasuk dalam hal perbendaharaan (Nehemia 12:44, 13:4, 11:16).

Dalam rangka membangun pemahaman dan penghayatan akan pentingnya penatalayanan ini maka kita dapat menggunakan beberapa lukisan atau metafora yang sangat sering dipakai untuk menjelaskan tentang gereja.

1.Tubuh Kristus. Ini adalah salah satu gambaran yang paling disukai orang Kristen. Gereja digambarkan sebagai Tubuh. Kristus adalah Kepala dan anggota jemaat adalah anggota-anggotanya. Tubuh adalah lambang keteraturan yang sempurna. Gereja adalah Tubuh artinya gereja harus teratur, memiliki koordinasi dan kerjasama ideal dan sempurna. Sejak lahir, tanpa harus diajari atau dikomando lagi anggota-anggota tubuh sejak lahir terikat satu sama lain, menyatu dan bersinergi. (Kecuali jika yang bersangkutan sakit jiwa atau menderita kanker)

Gambaran gereja Tubuh Kristus ini sangat indah namun dalam prakteknya sejujurnya sangat sulit dihayati dan dipraktekkan. Mengapa? Sebab Tuhan menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi berjiwa yang bebas dan otonom, unik dan khas. Anggota jemaat bukanlah sepenggal kuping, jari jempol, mata atau kuku. Atau potongan-potongan daging dan tulang tidak bernyawa. Sebaliknya anggota jemaat adalah pribadi-pribadi yang memiliki hati dan pikiran yang unik, mampu berbeda atau bahkan bertentangan satu sama lain. Sebab itu kerjasama, kesatuan dan keteraturan dalam gereja sebagai Tubuh Kristus adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan diwujudkan sungguh-sungguh dan terus-menerus, dan bukan otomatis atau terjadi dengan sendirinya. Baiklah kita sadar bahwa gambaran tubuh ini sangat mudah disalahtafsirkan sebagai pembenaran status quo dan lebih berbahaya lagi: kasta. Mata tidak pernah berubah menjadi telinga. Kaki tidak pernah berganti menjadi mulut. Dalam tubuh tidak ada pergantian atau pergiliran peran dan kedudukan. Bagaimana dengan gereja? Padahal itu sangat diperlukan di semua organisasi termasuk gereja. (Ingat: lukisan tubuh dapat dijadikan legitimasi sistem parhalado atau guru sekolah minggu seumur hidup!)

2. Bangunan atau Rumah Allah. Gambaran lain yang sangat kita sukai tentang gereja adalah bangunan atau rumah Allah. Anggota jemaat bisa diartikn dua hal. Pertama: bahan atau unsur material yang digunakan untuk membangun. Kamu adalah bangunan Allah (1 Kor 3:9). Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. (1 Petrus 2:5). Hendaklah kamu dibangun di atas Dia. (Kol 2:7). Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. (Efesus 2:21).

Kedua: orang yang bertugas atau bertanggungjawab melakukan pembangunan. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. (1 Korintus 3:10). Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah (Ibrani 3:4). Hendaklah kamu berusaha untuk membangun Jemaat (1 Kor 14:12, 14:26).

Gambaran bangunan pertama-tama membntu kita memahami gereja juga membutuhkan fondasi atau dasar. Rasul Paulus mengatakan dasar itu tak lain tak bukan adalah Kristus. (1 Kor 3:11). Batu penjuru bangunan itu adalah Kristus. (Markus 12:10, Kis 4:11). Selanjutnya anggota jemaat adalah unsur di atasnya. Gambaran bangunan ini juga mengingatkan kita betapa gereja memerlukan struktur yang kukuh agar bangunannya tidak mudah rubuh juga ketika gempa datang. Disini baiklah kita menyadari bahw pengakuan iman, liturgi, dogmatika dan etika adalah struktur atau tiang-tiang gereja kita. Dengan mengubahnya setiap saat atau menabraknya itu sama saja artinya merobohkan gereja itu sendiri. Gereja adalah bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Itu artinya semua anggota jemat diundang untuk berperan dan berkontribusi. Namun masing-masing orang tidak bisa asal membangun menurut selera dan keinginannya pribadi. Kita membutuhkan cetak biru atau gambar kerja. Apakah cetak biru gereja? Pengakuan iman, konfessi, konstitusi, hukum penggembalaan, rencana induk dan program serta anggaran tahunan. Semua itu diperlukan agar gereja rapih, bukan saja agar tampak indaha melainkan agar tetap berdiri kuat.

Arak-arakan atau prosesi. Yitro menginspirasi kita memahami dan menghayati gereja bagai arak-arakan panjang dan besar. Bayangkanlah gereja HKBP sebagai dua juta orang yang sedang berjalan bersama-sama menuju tujuan akhir yaitu langit baru bumi baru. Bagaimanakah agar arak-arakan atau prosesi itu dapat berjalan dengan baik dan terutama sampai kepada tujuan. Jawabnya: perlu pengorganisasian. Gereja tidak boleh dibiarkan berkembang sendirinya, berjalan mengikuti arus, atau diam menunggu angin. Gereja HKBP harus diorganisir dengn baik bukan demi kebesaran gereja itu sendiri melainkan demi pelaksanaan tugas dari Tuhan.

C. MENEMUKAN KATA KUNCI DALAM ORGANISASI KEKRISTENAN, MODERNITAS DAN KEBATAKAN

Tuhan menempatkan HKBP bermula di Tanah Batak dan berkembang di Indonesia dan seluruh dunia. Tuhan memanggil kita melayani di gereja yang sebagian besar anggotanya berlatar belakang budaya Batak, berinteraksi dengan masyarakat Indonesia yang majemuk, dan hidup sebagai bagian masyarakat global yang modern.Sebab itu kita harus menemukan kata kunci yang bisa menghubungkan ketiga hal yang menjadi konteks HKBP tersebut, yaitu: kekristenan, kebatakan dan modernitas.

1.Partisipasi.Gereja HKBP adalah umat yang ditebus Tuhan, Tubuh Kristus, keluarga Allah. Setiap orang dalam gereja HKBP adalah pribadi yang berharga dan mulia serta dikasihi Allah dan diundang masuk ke dalam hidupNya. Sebab itu setiap orang dalam HKBP haruslah berpartisipasi atau mengambil bagian dalam kehidupan gereja, baik dalam ibadah, pengajaran, persekutuan, kesaksian dan pelayanan, dan juga penatalayanan serta pembangunannya. Partisipasi atau parsidohotan warga gereja ini juga sangat sesuai dengan kultur kebatakan anggota-anggota HKBP. Kita tahu kultur Batak sangat menghargai partisipasi. Jiwa Batak sangat ingin berperan dan terlibat dalam kehidupan gereja dan masyarakat termasuk proses-proses pengambilan keputusan. Dan yang menarik ternyata partisipasi ini juga merupakan kata kunci dalam peradaban modern termasuk demokrasi.

Dengan penjelasan di atas saya berpendapat maka pergumulan kita tentang pembenahan penatalayanan (termasuk administrasi, keuangan, personalia dan inventaris) gereja haruslah mengundang partisipasi seluas-luasnya warga ini.

2.Transparansi. Alkitab sangat menjunjung transparansi atau keterbukaan dan menolak kegelapan. Hiduplah sebagai anak-anak terang (Efesus 5:8). Singkapkanlah kegelapan (Efesus 5:11). Kehidupan gereja terbuka dan terang-benderang. Kekristenan bukanlah agama rahasia atau misteri. Allah justru datang dalam Kristus membuka atau menyingkapkan rahasia. Dalam gereja sebab itu tidak ada yang perlu dirahasiakan kecuali hal-hal yang menyangkut pribadi anggota jemaat. Keuangan jelas bukan rahasia. Juga proses-proses pemilihan dan penunjukan.

Transparansi ini ternyata juga sangat dijunjung oleh kultur kebatakan kita. Tedek do Batak i songon indahan di balanga bunyi pameo terkenal. Kata-kata yang menunjuk kepada terang atau keterbukaan bernada sangat positif di masyarakat Batak: torang, tiur, tangkas, patar, tedek, ungkap, andar, dll. Sebaliknya kata-kata yang menunjuk kepada kegelapan dan ketersembunyian dianggap negatif: semo, simo, buni, holip, holom dll.

Transparansi juga merupakan keniscayaan dalam masyarakat moderen. Proses-proses kehidupan berorganisasi, bermasyarakat dan bernegara harus dilakukan secara transparan. Organisasi yang bersifat tertutup cenderung ditinggalkan dan sulit berkembang. Hal ini semakin menyadarkan kita bahwa transparansi adalah keharusan dan keniscayaan bagi HKBP jika ingin eksis dan maju sebagai gereja Tuhan di era moderen.

Saya menyarankan agar Sinode Distrik ini mengambil keputusan menjadikan transparansi sebagai keputusan. Konkretnya: agar jemaat melakukan pelaporan keuangan (penerimaan dan pengeluaran) per minggu, resort per bulan dan distrik per trwiulan. Saya yakin jika ini berhasil kita lakukan adalah menjadi modal sangat kuat bagi kita bertumbuh dan berkembang. Banyak persoalan akan selesai dan enerji kita tidak lagi terbuang hanya untuk bertengkar atau saling curiga dibidang keuangan.

3. Reorganisasi. Gereja bukanlah mahluk atau benda mati melainkan organisme yang hidup. Salah satu kekuatan gereja dapat bertahan melewati ujian-ujian jaman adalah kemampuan gereja untuk selalu  mengubah dan membaharui dirinya agar selalu dapat melaksanakan panggilan Tuhannya. Bila HKBP menjadikan tahun 2010 sebagai Tahun Penatalayanan baiklah kita sadari bahwa sesungguhnya penatalayanan bukanlah tujuan gereja. Tujuan HKBP adalah bersaksi, melayani dan bersekutu. Penatalayanan bagaimanapun pentingnya adalah alat membantu tercapainya tujuan itu. Itu artinya seluruh kegiatan organisasi HKBP kita (administrasi, keuangan, personalia dan ketenagaan, inventaris) harus diarahkan kepada pelaksanaan tritugas panggilan gereja yaitu bersaksi, melayani dan bersekutu. Ini penting kita catat sebab ada kecenderungan kita menjadikan adminsitrasi, keuangan, personalia dan inventaris sebagai “hal yang terpenting” atau “segala-galanya” dalam HKBP. Kritik yang acap ditujukan kepada HKBP (sebaiknya kita terima dengan ikhlas dan berani) adalah HKBP terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurus organisasinya sehingga lupa akan tugas utamanya memberitakan Injil, melayani orang sakit dan miskin, serta beribadah dan mengajarkan firman Tuhan.

Pertanyaan sekarang: organisasi yang bagaimanakah yang kita perlukan agar HKBP dapat melaksanakan tugasnya sebagai gereja di abad moderen, di negeri majemuk dan miskin Indonesia, dan ditengah kebatakan dewasa ini? Apakah sistem organisasi termasuk administrasi dan keuangan kita sekarang menjadi faktor pendorong atau justru penghambat? Lantas apa yang mesti kita kerjakan.

Kita mengaku bahwa Alkitab ditulis dan kultur kebatakan dibangun ketika dunia masih hidup di jaman agraris sederhana dimana organisasi juga masih sangat sederhana. Sekarang kita hidup di dunia yang sangat maju dan kompleks. Kita hidup di era global dan di era internet. Hampir segalanya telah dan sedang berubah. Sebab itu kita HKBP pun harus berani berubah. Bukan sekadar pura-pura, ikut-ikutan, atau latah-latahan, tetapi sungguh-sungguh berubah. Untuk itulah saya mengusulkan kita harus dengan berani dan bijak serta ikhlas bukan sekadar menambal-sulam melainkan secara konsepsional gereja HKBP kita agar kita dapat melangkah lagi dengan tegap lima puluh tahun ke depan.

Horas,
Serpong, Oktober 2009

Pdt Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

6 Responses to Penatalayanan Gereja: Tubuh, Bangunan Atau Arak-arakan

  1. elumban on October 20, 2009 at 6:40 am

    Numpang tanya apa yah thema rapat yg baru-baru ini dihadiri ribuan pendeta di Pearaja? Sudah seperti apa yah tindak lanjut hasil rapat itu?

  2. JP Manalu on October 20, 2009 at 7:12 am

    Pro Lae Elumban,
    Yang saya baca melalui media Majalah Suara HKBP edisi September 2009, rapat pendeta kemarin Sarat dengan Kepentingan. Tapi setahu saya, tidak dijabarkan dalam ulasannya kepentingan apa atau kepentingan siapa. Yang jelas, dampak “pemberangkatan” pekerja fulltimer di gereja tempat kami beribadah dari aspek keuangan cukup signifikan, dari pelayanan : “nyaris tidak ada perubahan”!.

  3. Jansen Sinamo on October 20, 2009 at 8:54 am

    Sagat setuju dengan yang diuraikan Amang di atas: alkitabiah, komprehensif, dan up to date.

    Satu lagi, sesudah bagus secara konseptual, eksekusinya harus excellent di lapangan.

    Excelence of excecution: inilah yang akan membuat HKBP sbg organisasi sakral menjadi kota di atas bukit, benderang dan menjadi teladan bagi organisasi sekuler.

    Jala gabe sira ma HKBP.

  4. eric arac on October 20, 2009 at 10:00 am

    “Penatalayanan” sebagai kata kunci yang akan dipergunakan untuk membawa Gereja ke arah yang benar dan lebih baik, pengertiannya perlu dirumuskan lebih dahulu, supaya dapat di-sepaham-i oleh para pelaku penatalayanan itu. Jangan sampai pengertian dan pemahaman yang berbeda alias ditafsirkan masing-masing, bukan membawa Gereja kearah yang benar dan lebih baik, malah sebaliknya.

    Sebagai usulan, sebaiknya “Penatalayanan” itu diartikan secara menyeluruh dari pekerjaan semua organ/bagian yang ada di Gereja. Seperti bunyi Tema di atas -rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagian-
    Koinonia, Marturia, Diakonia bukan bagian terpisah, namun bagian yang saling mendukung dan mengambil bagian dalam setiap kegiatan Gereja, termasuk semua seski-seksi dan kepanitiaan. Tertip administrasi, tertip tata kelola keuangan, tertip pemilikan harta, tertip perawatan asset, jumlah personalia dan peningkatan SDM para pelayan secara berkala, adalah bagian dari “Penatalayanan” Gereja. Kelihatannya rumit, kompleks dan tidak mudah. Namun doa dan harapan kita, dengan pengertian dan pemahaman yang sama dan terarah, menjadi langkah awal yang sangat berarti dalam mengurai ‘benang kusut’ penatalayanan di Gereja kita. Mari kita bersama-sama mengupayakan Gereja kita ke depan tetap benar dan lebih baik. Syaloom.

  5. Friska pardede on October 20, 2009 at 9:54 pm

    Dengan tema tersebut diatas saya ingin memberikan pendapat dari sisi unit yg sangat kecil ditubuh greja naboloni, tetapi walaupun kecil keberadannya sangat penting disetiap ibadah yaitu tentang musik pengiring ibadah yang sering kurang diperhatikan

    Kita bisa rasakan betapa tidak lengkap rasanya bernyanyi apabila musik ini tidak ada, pendeta berkotbah kurang lebih setengah jam saja, paragenda hanya sampai di persembahan pertama sedangkan musik sepanjang ibadah, mulai mengucapkan selamat datang kepada jemaat , mengiringi jemaat saat ibadah teduh saat jemaat baru memasuki ibadah demikian juga sampai mengiringi kepergian jemaat kembali kerumah masing2.

    Pernah ada komentar di rumah ini mengatakan banyak jemaat yg diberikan talenta unk bermain musik itu betul, tetapi sebagai pemain orgen yg benar yg pastinya baik sdh semakin langka.
    Orgen adalah alat musik satu2nya yg pas untuk mengiringi ibadah, kita haris bedakan lagu rohani dgn nyanyian jemaat, nyanyian jemaat yg kita pakai adalahhbuku ende dan kidung jemaat yang bisa dinyanyikan oleh seluruh umat mulai dari anak kecil sampai nenek2/kakek2 , lelaki maupun perempuan yang diciptakan ratusan tahun yang lalu oleh komponis2 besar yg belum dapat ditandingi oleh komponis jaman kini yang diakui dunia kehebatannya sebut saja Mozart, Bach, Betvoven dll

    Nyanyian jemaat kita ini beraliran khoral memang hanya pantas diiringi orgen (krn bisa dimainkan dgn 4 suara sekaligus), tidak salah memang diiringi piano maupun keyboard, tetapi karena aliran khoral tadi, jadi pasnya memang hanya dgn orgen, musik tiup bisa 4 suara tetapi kalau grejaknya besar, kalau kecil ya…suara jemaat pasti tdk terdengar.

    Sesekali saya juga kegreja lain krn pernikahan saudara atau sengaja beribadah di sana rata2 orgen dipadu dgn piano, rasanya ya….suara pianonya agak mengganggu apalagi seperti di HKBP Rawa mangun ibadah sorenya full band, aih….betapa bisingnya, kekudusan lagu itu kehilangan rohnya.
    Untuk menjadi pemain orgen yg baik haruslah belajar cukup lama, dimulai dari organis satu, dan 2 ini saja butuh bertahun2 sebelum akhirnya sampai ke Buku Logu dan harmoninya Kidung jemaat, kalau pemain orgen sudah menjalani ini semua dia tidak akan pernah menjadi batu sandungan karena dia bermain tdk melenceng dari partitur dan biasanya hati dan pikiran pada pemain yg sudah menjalani ini sudah terbentuk karakter yang kuat bahwa permainannya bukan main2 tetapi semata2 untuk dipersembahkan untuk sang Raja yang Maha Agung jadi tidak pantas bermain setengah hati.

    Dan sebelum benar2 melayani di ibadah penuh biasanya siorganis ini sdh beramain satu dua lagu dicelah2 pemain orgen yg sdh senior, disekolah Minggu lalu di ibadah keluarga2., apa lagi kalau mendapatkan guru yang sangat berkualita…pasti dia kan dampingi saat2 awal pelayanan muridnya dan memberikan register yang pas untuk setiap lagu.

    Ketika acara2 greja yg dilayani si organis ini selesai misalnya pernikahan atau martumpol, tidak kebagian ucapan terimakasih dari yg mandok hata..he he toh tidak membuat mereka sakit hati, lalu seringkali tiba2 greja menelepon si organis ini meminta mengiringi ini dan itu…bagi siorganis yg sdh pandaipun memrlukan latihan dulu apalagi buat pemula …saran dari guru yg baik jangan terima daripada jadi batu sandungan. seringkali memang org tdk mengerti dikira lagu yg biasa dinyanyikan adalh gampang (ende namura2 do) begitu sering dikatakan padahal lagu yg jarang dinyanyikan mis: “O Tuhan sulingkit ma au ” adalah contoh lagu yg gampang untuk siorganis krn petama kali belajar Buku Logu lagu inilah yg dipelajari.

    Jadi tolonglah…. kepada para pelaku musik digreja kita masing2 mari perhatikan hal2 seperti ini krn yang saya perhatikan amat sangat kurangnya perhatian akan hal ini., bila anak2 kita ingin melayani ibadah di greja yg memakai KJ dan Bku ende kursus yang pas adalah kursus orgen klasik.
    Menurut cerita guru musiknya anak2ku waktu HKBP berulang tahun yg ke 100 thn yg diadakan dilapangan terbuka di bona pasogit diiringi 1000 terompet,..pasti hebat benar, karena memang pas dilapangan terbuka.

    Akhirnya mohon dimaafkan apabila kesannya saya sok tau ,saya berani berkomentar krn ketiga anakku adalah organis yg berkualitas amat baik., karena mereka menjalani les yg sangat lama , sehingga saya sering berdiskusi dgn guru musik yg rendah hati ini , walau dgn kebutaannya tetpi hatinya bersih untuk mengajari meridnya ( amang ini ternyata mengarasemen nyanyian jemaat katolik di buku Puji Syukur)
    ( br pardede, ibu dari 3 organis HKBP)

  6. Daniel on October 29, 2009 at 10:57 pm

    Amang Pandita gambaran gereja sebagai umat Allah (umat YHWH) juga sangat baik untuk diperkenalkan kepada jemaat. Gambaran ini paling populer di Perjanjian Lama dan mengingatkan kita akan jatuh bangun kerohanian umat tersebut, mereka sering menyimpang dan baru kembali jika diperingatkan dengan keras. Mereka juga suka menentang para nabi yang diutus Tuhan dan lebih suka dengan nabi-nabi palsu. Akhirnya kehancuran umat Lama sampai menjadi ‘sisa-sisa’ dan pembuangannya di diaspora juga baik untuk refleksi kita yang menjadi minoritas atau bagi jemaat-jemaat yang sedang tertekan dan mengalami kemunduran. Saya kira gambaran ini baik untuk menekankan sisi manusiawi Gereja: dipilih oleh Allah namun anggota-anggotanya susah diatur dan suka berontak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*