Hutang Pemberitaan Injil

October 19, 2009
By

Almanak Senin 19 Oktober 2009:

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.  (1 Korintus 9:16)

Rasul Paulus memahami dan menghayati tugasnya sebagai pemberita Injil merupakan perintah Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Artinya: keharusan atau kewajiban yang mutlak harus dilaksanakan. Atau seperti hutang, yang bagaimanapun juga harus dibayar. Dia merasa dirinya dan seluruh hidupnya akan celaka (arti hurufiah: nihil, hampa) jika tidak melakukan tugas pekabaran Injil itu.

Disini kita disadarkan betapa pekabaran Injil bukanlah sesuatu tugas tempelan apalagi soal selera bagi kita. Gereja ada karena pemberitaan Injil. Gereja akan tetap eksis juga karena pemberitaan Injil. Tanpa pemberitaan Injil gereja kehilangan makna dan hakikat hidupnya.

Namun mari kita lihat jemaat-jemaat lokal kita. Apa sajakah yang telah dan sedang kita lakukan dengan pemberitaan Injil ini? Berapakah waktu, tenaga dan pemikiran yang kita kerahkan untuk mendukungnya? Berapakah anggaran yang kita sediakan untuk  pelaksanaan tugas panggilan tersebut? Siapa sajakah yang terlibat dalamnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin membuat kita tertunduk malu. Betapa kita masih sangat kurang serius melakukan pemberitaan Injil ini.  Baiklah kita akui gereja-gereja kita masih sangat terarah ke dalam, memikirkan hanya diri sendiri, dan sibuk dengan urusan-urusan internal atau bahkan hal-hal tidak perlu.

Namun tak guna hanya mengeluh atau menyalahkan keadaan atau orang lain entah siapa. Mari memandang ke luar dan melakukan sesuatu di sana untuk membayar hutang kita kepada Injil.

Doa:

Ya Tuhan, kami berhutang kepada Injil. Desaklah kami untuk membayarnya. Demi kemuliaan Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

5 Responses to Hutang Pemberitaan Injil

  1. Agus Karta Parulian Panggabean on October 19, 2009 at 11:05 am

    Namun akhir-akhir ini ada kecenderungan di gereja kita bahwa seseorang ingin jadi sintua hanya karena ingin dihormati orang lain. Hal ini didasari oleh salah satu cita-cita orang Batak dalam menjalani hidupnya, yakni Hasangapon.

  2. Kimseng Manurung on October 19, 2009 at 12:38 pm

    Bagai manakah kita harus memberitakan Injil..? apakah harus pergi kesuatu daerah/tempat dan mengajak semua orang untuk percaya sama Tuhan Yesus ? ataukah dengan melakukan hal-hal yang diinginkan Tuhan disetiap hidup kita dimanapun kita berada ?.. terimakasih amang atas pecerahannya, Shalom…!

  3. Nainggolan Prabu on October 19, 2009 at 5:45 pm

    Menurut saya salah satu contoh pemberitaan Injil yang terbang keseluruh jagad adalah yang dilakukan oleh Ruma Metmet. Sangat bermakna.

    Dalam hidup dan kehidupan sehari-hari saya memberitakan Injil lewat perilaku kristiani sekalipun harus bergumul karena sangat tidak mudah menjalani hidup seperti dihendaki Kristus. Do More and Talk Less mungkin bisa diterapkan bagi orang seperti saya. Perbuatan yang terbaik lebih bermakna dari pada hanya berbicara. Biarlah perbuatan yg terbaik itu yg berbicara. Amen Syalom

  4. Friska pardede on October 19, 2009 at 8:34 pm

    Kita mulai saja dulu dari rumah kita, pernahkah kita menyediakan waktu dgn sangat baik menjawab pertanyaan2 polos dari anak2 kita, tentang ke Tuhanan , kekristenan dan dgn adat2 yg tidak melanggar nilai2 agama, atau memancing anak2 agar bertanya tentang hal2 tersebut? Duduk dgn santai berbincang2 sambil sesekali menyentuh mereka dgn penuh kasih.

    Jangan seperti kenalan saya….memberitakan injil sampai kepelosok pedalaman berhari2 bahkan berbulan2 akhirnya anak2nya berantakan, hamil diluar nikah dgn terpaksa pindah agama, lalu tiba2 punya cucu padahal tdk punya parumaen,dan anak yg lainnya narkobaon , ada lagi bekas pejabat dikantorku, begitu kuat keinginannya jadi pengkotbah sampai meninggalkan kepegawaiannya, tetapi setelah beberapa thn kemudian dia mengemis2 dikantor saya krn dia tdk punya lagi penghasilan, rasanya Tuhan juga marah kepada mereka2 ini

  5. warman on October 20, 2009 at 1:49 pm

    Horas amang, sudah lama saya tidak mengunjungi ruma metmet ini, ada satu hal yang sangat menakjubkan sekaligus memprihatinkan dalam pemberitaan injil baru2 ini terjadi digereja kami.

    Peristiwa ini terjadi sejak bulan agustus 2009 yang lalu, dimana pada waktu itu Pendeta Resort kami dipindahkan ke Resort Pasar Rebo, sejak itu sampai sekarang Gereja kami tidak punya Uluan dan Praeses distrik XIX Jakarta II sebagai Plt, tapi karena kesibukannya beliau hanya kalau ad waktu baru mengunjungi Gereja kami, selama ini pendeta-pendeta dari jemaat lain distrik bergantian melayani kami. Kalau dibandingkan masih lebih sering sintua yang melayani pada hari Minggu serta pada waktu sermon ama dan parompuan.

    Kami dengar informasi bahwa seorang pendeta dari salah satu resort sudah mendapat SK penempatan di Gereja kami utk melayani dan akan tiba pada akhir september 2009. dan kami sudah mempersiapkan akomodasi untuk penyambutan beliau.
    Tunggu punya tunggu sampai sekarang Tgl 20 Oktober 2009, ternyata beliau tidak datang2 juga, dan kami dengar informasi bahwa beliau tidak bersedia ditempatkan digereja kami dan “menolak” SK tersebut, setelah beliau menanyakan kondisi gereja kami ke mantan Pendeta Gereja kami, bahwa ruas Gereja kami hanya -/+ 50 KK.

    Jadi amang kami sekarang ini seperti ayam kehilangan induk tidak ada uluan sudah mau 3 bulan, pertanyaan kami ke amang DTA adalah..bolehkah seorang Pendeta meolak SK penempatan yang telah dikeluarkan Kantor pusat HKBP ? dan hebatnya kami dengar juga HKPB na Bolon itu mengaminkan penolakan tsb..dimana wibawa HKBP? Tolong juga di ultopkan ini di seminar HKBP serpong yg dilaksanakan di Hotel Borobudur kalau bisa…..horas ma…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*