Saat Mujur Gembiralah. Saat Malang Tenanglah!

October 2, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Jumat 02 Oktober 2009:

Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya. (Pengkotbah 7:14)

Buku Pengkotbah adalah hasil permenungan yang sangat dalam seorang raja di hari tuanya tentang apakah sebenarnya makna hidup ini. Dia pernah memiliki kekayaan dan kekuasaan yang sedemikian besar, pengetahuan yang banyak, dan mengalami berbagai kesenangan. Namun pada akhirnya semua itu dirasakannya tidak dapat memberi kebahagiaan dan kepuasan batinnya. Dalam perjalanan hidupnya dia juga telah melihat berbagai kesusahan dan kemalangan.  Semua itu mendorong dia berkesimpulan pada akhirnya manusia hanya bisa berserah kepada Allah saja.

Salah satu hasil permenungan raja tua itu adalah pada saat-saat keberhasilan atau kemenangan bersukacitalah. Dengan bahasa lain: rayakanlah dan nikmatilah kehidupan. Segala sesuatu ada masanya, katanya. Pada saat-saat suka mari kita bersuka. Di tempat pesta mari kita gembira. Hasil kerja keras dan buah jerih payah kita silakan dinikmati dan disyukuri. Kita tidak harus bermurung sepanjang hari dan di segala keadaan.  Sungguh suatu nasihat yang sangat praktis.

Namun sang raja mengatakan tetaplah menguasai diri. Hidup tidak selamanya mudah dan menyenangkan. Ada saat-saat sukar dan susah. Ada juga hari-hari duka. Kita juga bisa mengalami kekalahan, kerugian atau malah kecelakaan. Tetaplah tenang dan percaya kepada Tuhan. Itu pun harus diterima sebagai bagian dari kehidupan yang diciptakan Allah. Permenungan sang pengkotbah hari-hari malang itupun ada gunanya bagi kita manusia. Yaitu agar kita tetap sepenuhnya menyerah dan bergantung kepada Allah saja. Sekali lagi: bukan supaya kita berputus-asa atau mati rasa, melainkan supaya kita hanya bergantung kepada Allah saja.

Doa:

Ya Allah, dalam suka maupun duka, sehat atau sakit, miskin atau kaya, kami tetap bersyukur kepadaMu sebab kasihMu dan penyertaanMu abadi. Engkau telah menebus kami dari kuasa dosa dan maut dengan pengorbanan AnakMu Yesus. Dalam Engkau kami tetap aman, kuat dan senantiasa bersukacita. Ketika kami harus menghadapi saat-saat sulit, teguhkanlah iman kami. Jauhkan kami dari putus asa dan apatisme. Beri kami damaiMu. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

9 Responses to Saat Mujur Gembiralah. Saat Malang Tenanglah!

  1. Mebs on October 2, 2009 at 9:34 am

    Ada yang bilang Pasrah itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah mencapai titik tertinggi dalam hidup.
    Horas7x

  2. KIMSENG MANURUNG on October 2, 2009 at 12:28 pm

    Disaat kita Saat Mujur/berhasil, spontan kegembiraan itu akan datang pada diri kita, tapi disaat Malang melintang sungguh sulit rasanya untuk tenang, tapi renungan hari ini telah menjawabnya, Pengkotbah mengatakan semuanya itu ada saatnya; ada saat gembira, ada saat susah, ada saat menanam dan ada saat untuk panen. semuanya itu harus kita syukuri dalam hidup ini, Amin.

  3. Marlon Sitanggang on October 2, 2009 at 1:04 pm

    Horas Amang!
    Ada satu pertanyaan Amang: Dimanakah Tuhan pada saat gempa melanda Sumbar yang menyebabkan kemalangan???

    Daniel Harahap:
    Iman saya mengatakan Dia ikut tertimpa bangunan yang amburuk bersama para korban.

  4. ES Parapat on October 2, 2009 at 3:35 pm

    Saya mulai mengerti, terima kasih amang Pandita.

  5. MD Panjaitan on October 2, 2009 at 4:14 pm

    Terimakah Tuhan Yesus atas firman yg begitu meneguhkan hati ini kembali agar lebih dekat kepadaMU.

  6. jondi hutabarat on October 2, 2009 at 4:38 pm

    Syalom amang DTA, terima kasih atas siraman rohaninya, maaf amang almanak HKBP hari ini 2 Oktober 2009 bukankah dari Amsal 19:17, mauliate

    Daniel Harahap:
    Maaf, saya rupanya salah lihat. Yang benar: Matius 9:36 :-) Terima kasih.

  7. Nainggolan Prabu on October 2, 2009 at 4:47 pm

    Buat saya hidup ini sangat mudah “bersyukur dalam segala hal”.
    Senang maupun duka aku selalu mengucap syukur. Pagi hari aku memuji Dia, malam hari ku bersyukur padaNya atas segala berkat dan karuniaNya.
    Bagi saya, selama napas masih lekat dg tubuh ini, selama itulah aku hrs bersyukur. Mengeluh ??, No. and Never. Amen

  8. Jansen Sinamo on October 2, 2009 at 6:09 pm

    Hidup yang konstan (misalnya berkekayaan Rp 10 milyar selama-lamaya) adalah sesuatu hambar, tak berasa, tak menarik, tidak asyik.

    Karakter kehidupan adalah serba perubahan: menang-kalah, hitam-putih, siang-malam, mujur-malang, untung-rugi, sehat-sakit, bangun-jatuh, naik-turun — demikian silih berganti, serba tak tertebak, serba tak terpastikan.

    Hanya satu yang pasti: kasih Allah Bapa, anugerah Tuhan Yesus, dan persekutuan dgn Roh Kudus.

    Dan kepastian yang satu inilah yang membuat segalanya menjadi indah dan menarik.

  9. Friska pardede on October 3, 2009 at 10:55 am

    Entahlah…..bagaimana perasaan para korban di Sumatra akibat musibah yang maha dahsyat ini, andaikan bertemu dgn mereka mungkin saya hanya mampu mengatakan semoga tabah dan Dikuatkan menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*