Taati Hukum. Penuhi Hati Dengan Belas Kasihan.

September 30, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 30 September 2009:

Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. (Matius 12:7)

Suatu hari Sabat Yesus dan murid-muridNya berjalan melewati ladang. Untuk mengatasi lapar murid-muridnya memetik bulir-bulir gandum di ladang itu dan memakannya. Menurut Ulangan 23:25 apa yang dilakukan murid-murid Yesus itu tidak salah sebab dianggap bukan pencurian. Yang dipersoalkan ahli-ahli hukum agama  sebab itu dilakukan pada hari Sabat. Menurut orang-orang Farisi (kelompok penjaga kemurnian kejahudian) dan ahli-ahli Taurat itu memetik gandum pada hari Sabat adalah pelanggaran.

Bagi Yesus hukum agama  termasuk peraturan-peraturan Sabat dibuat untuk kepentingan manusia dan bukan sebaliknya. Hukum agama bukan untuk memberatkan kehidupan, menjadi beban, atau malah mematikan. Dan itulah yang tidak dilihat oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Bagi mereka tegaknya aturan-aturan Sabat yang sangat banyak dan detil itu lebih penting daripada kebutuhan murid-murid untuk makan.

Yesus tidak menolak aturan atau hukum agama. FirmanNya: bahwa kedatanganNya  bukan untuk merombak hukum agama namun menggenapinya. Namun Yesus mengajak  kita agar masuk ke inti atau dasar hukum agama itu sendiri, yaitu belas kasihan, keadilan dan kesetiaan. (Lihat Mat 23:23). Tanpa belas kasihan, keadilan dan kesetiaan hukum agama itu tak bermakna sama sekali.

Sebab itu apa yang mau kita lakukan hari ini? Junjunglah dan taatilah hukum-hukum Tuhan. Dan penuhilah hati dengan belas kasihan, keadilan dan kesetiaan.

Doa:

Ya Allah, penuhilah hati kami dengan belas kasihan, kesetiaan dan keadilan. Ajarlah kami memperhatikan dan menaati hukum-hukumMu. Dan jdikanlah kami berhikmat dalam Kristus, Tuhan kami. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

10 Responses to Taati Hukum. Penuhi Hati Dengan Belas Kasihan.

  1. Pdt. Aldemak on September 30, 2009 at 7:22 am

    Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22: 37-40)

  2. tanobato on September 30, 2009 at 8:19 am

    Ndang huboto na tangkas do mangonai tu turpukta manogot on. Alai hona do tong molo binereng sian asi ni roha. Ndang sadia leleng dope di jalo hurianami mulak muse sahalak ama (dohot keluargana) gabe ruas na gok dungkon hona ruhut-ruhut parmahanion/paminsangon (RPP) jala marsiajar muse di bagasan onom bulan. Saminggu dungkon i, monding ma amanta i.

    Marnida na masa i, sanga do ro tu rohangku: uli nai parmate ni nasida i. Tangkas do nihaporseaon ndang Gareja i na mamboan tu surgo, alai tong do hira naung “diririt” nasida do hamatean i …

    Horas jala gabe! Taparade ma dirinta binsan tingki parasian dope.

  3. Nainggolan Prabu on September 30, 2009 at 9:06 am

    Amen.
    @Tanpa belas kasihan, keadilan dan kesetiaan hukum agama itu tak bermakna sama sekali.

    Dalam ayat itu ada kata Persembahan, Amang Pendeta tidak menyinggungnya. Artinya peresembahan juga perlu. Sebab bagi banyak orang belas kasihan dimaknai hanya sebagai bersimpati. Eee… asima roha mida si Anu … nga pogos nguluna alai holan na marsahit… “. dan berhenti sampai disitu. Hanya simpati tanpa berbuat.

    Dan menurut saya makna persembahan bukan hanya yang kita ikhlaskan dalam kotak persembahan di Gereja, mungkin persembahan dalam bentuk lain yaitu hrs membantu secara nyata Ale-Ale dan Dongan yang sangat berkekurangan dan sangat membutuhkan bantuan materi dari kita yg mungkin mampu untuk berbuat.

    Dalam Injil juga ada tertulis :Iman tanpa perbuatan adalah mati. Mungkin yg dimintakan adalah semua umat manusia harus berbuat seperti untaian kata diatas.

    Dan dalam pemahaman saya yg awam dan manusia berdosa iman tidak hanya sekedar percaya akan Tuhan tetapi keyakinan yg teguh terhadap kebenaran Firman Tuhan lalu berbuat sesuai kehendakNYA.

  4. Mebs on September 30, 2009 at 9:38 am

    Teduh sekali renungan hari ini, mari kita sebarkan belas kasih dalam setiap hembusan napas kita, Amin

  5. Pdt. Sing Han on September 30, 2009 at 11:25 am

    Persembahan yang benar, jika didasari oleh kasih kepada Tuhan. Setiap orang yang hidup dari kasih Tuhan, maka dia hidup oleh belaskasihan Tuhan, maka sewajarnyalah orang percaya memiliki belaskasihan kepada sesamanya. Jadi yang terpenting menurut Yesus adalah hidup dari belaskasihan Tuhan dan sekaligus berbelaskasihan kepada semua orang atas dasar kasih Tuhan.

    Allah juga melalui Hosea mengatakan: ‘Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (6:6)

  6. florasilaban on September 30, 2009 at 2:26 pm

    Terima-kasih Amang atas renungannya, semoga saya dapat melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan .

  7. fe on September 30, 2009 at 6:09 pm

    Syalom Pdt. A. Simanjuntak….
    Idem jawaban nya boleh…..(maaf pdt) mana blok Pdt A. Simanjutak ???
    kok nggak ada…
    dari Perum Batu Onom Siantar.
    sy mau bagi-bagi pengalaman slm sakit….

  8. Friska pardede on September 30, 2009 at 8:10 pm

    Ada yang ingin saya tanyakan dijabuon begini:
    Beberapa bulann yl dongan sahuta nami marga X (ama2) mati bunuh diri krn penyakit kanker yg dideritanya cukup lama ga sembuh2, rmh pun akhirnya ngontrak dan anak2 tdk bisa sekolah, krn memikirkan ini semua amang ini mengambil jln pintas, jelas HKBP tdk mau memakamkannya akhirnya dimakamkan oleh greja mantan asal istrinya lah yg memakamkan( Adven).

    Lalu beberapa bln yg lalu anak dari sintua kami usia (25 thn, doli2) juga lompat dr lt 6 sebuah rs antara sadar dan tdk dia melakukan itu krn sdh 5 thn kena HIV, yg menguburkannya kharismatik krn jelas sebagai sintua HKBP bapaknya langsung membertitahukan ke greja.
    Kalau sdh begini apakah memang HKBP sangat tunduk kepada aturan agama atau apa, bukankah seharusnya kita melihat saja penderitaan yg amat sangat yg dirasakan keluarga yg ditinggalkan

  9. rumanap on October 1, 2009 at 6:56 am

    @Friska
    au par hkbp do, molo adong na mate bunuh diri tong do di kubur hami dohot denggan, marende do hami jala martangiang, alai memang dang di agenda i. Boasa dang di agenda i ? Mungkin ala jarang do kejadian on jadi dang di cetak dope agenda na.. hehehe

    Daniel Harahap:
    Ndang ala so adong di agenda. Alai ala diorai Ruhut Parmahanion Paminsangon pe. Nang pe songon i keluarga na tininggalhon na mate i tong do ingkon apulon.

  10. rumanap on October 1, 2009 at 11:41 am

    Daniel Harahap:
    Ndang ala so adong di agenda. Alai ala diorai Ruhut Parmahanion Paminsangon pe. Nang pe songon i keluarga na tininggalhon na mate i tong do ingkon apulon.
    ” Ise do na dipinsang/diparmahani, na maningkot i do ?.. memang dang adong hubereng jolma maningkot 2 hali, pintor jora do huroha dung hona rpp.. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*