Saat Berdaya Atau Malah Lemah
Almanak Selasa 29 September 2009:
Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! (Ayub 26:2)
Sejak hari Minggu kemarin kita diingatkan agar tidak egoistis, namun sungguh-sungguh memperhatikan sesama yang lemah dan kekurangan. Ya, kita diajak agar bermurah hati, berbagi dan berkorban, dan bahkan jika mampu menebus atau membayar demi saudara yang tidak berdaya. Sebagaimana ayat hari ini, itu adalah baik di mata Tuhan dan juga manusia. Ada catatan: jangan anggap kelemahan dan kemiskinan semata-mata akibat dosa. Sebab itu jangan pandang rendah orang yang lemah apalagi jika kita telah membantunya. Namun baik juga kita bertanya: bagaimana seandainya kita justru orang yang tidak berdaya itu?
Pertama-tama tentu kita diajak percaya kepada Tuhan bahwa Dia sanggup memelihara dan melindungi kita. Kepercayaan kepada Tuhan inilah yang mendorong kita tetap tegak, bekerja keras dan berjuang menyejahterakan hidup kita. Tuhan tidak suka jika kita hanya diam dan menunggu (kecuali secara fisik memang kita tidak lagi memungkinkan bergerak!), apalagi sambil mengeluh dan bersungut.
Selanjutnya, kita diajak agar memberdayakan diri kita sendiri dan sesama yang lemah.Ya, panggilan pemberdayaan harus diartikan juga kepada diri sendiri. Bagaimana kita bisa menopang hidup orang lain jika jiwa kita sendiri lemah? Bagaimana seorang ayah dan ibu bisa membela dan menanggung anak-anaknya jika dia sendiri lemah dan mudah putus asa? Sebab itu alih-alih diam dan pasrah mari kita berdoa memohon penguatan atau pemberdayaan dari Tuhan.
Doa:
Ya Allah, kuatkanlah tubuh dan terutama jiwa kami. Kuatkanlah karakter kami. Kukuhkanlah dan teguhkanlah hati kami melakukan yang benar dan baik, berjuang membangun kehidupan kami. Saat kami kuat, doronglah kami menolong yang lemah. Namun jauhkanlah dari kami kecongkakan dan tinggi hati. Namun saat kami lemah, doronglah kami tetap percaya kepadaMu dan berjuang keras. Jauhkanlah dari kami keluh dan sungut-sungut juga keputusasaan. Sebaliknya penuhi hati kami dengan kegembiraan dan semangat, dan kerendahan hati. Demi Kristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
September 29th, 2009 at 7:40 am
Ai gari bunga di ladang i, dohot pidong na martonga langit i disarihon do sude
September 29th, 2009 at 8:26 am
benar sekali firman Tuhan bagaimana kita saling membantu..dan penjelasan yang bagus dari pak DTA jangan anggap kelemahan dan kemiskinan itu semata-mata karena dosa,….juga sebaliknya kita jangan memandang kekayaan orang-orang kaya,dan kekuatan orang-orang kuat bersumber dari tipu daya, dosa..sekarang bagaimana kita memandang orang lain itu dari sudut pandang yang benar sehingga kita tidak saling menghakimi..
September 29th, 2009 at 8:58 am
Ise do na margogo, jala ise do na gale? Olo du duansa adong di hita marsasahalak: ala di ugasan na asing gale, alai na asing nai margogo. Hola Debata do na boi mangalehon gogo, di hagaleanta sandiri, nang pe di na laho mangurupi halak na asing na gale …
Horas jala gabe! Taurupi ma na gale: halak, nang pe dirinta be …
September 29th, 2009 at 9:38 am
Amen. “Mengeluh dan bersungut”. Sering sy memperhatikan para kerabat saya yg secara tidak sadar menambah sendiri penderitaannya dg laku hanya mengeluh dan ujung2nya putus asa, sebagai akibat kehilangan arah dlm melakoni hidup dan kehidupan. Mereka menihilkan peran Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Para lelaki yg suka mengeluh adalah orang yg tak mampu merobah tantangan menjadi kesempatan.
Dan saya perhatikan juga khususnya dalam keluarga Batak yg dominan bersungut-sungt itu adalah para Nyonya. Sudahpun berkebaya dan bersanggul serta bergincu tak sadar masih juga suka bersungut. Padahal tidak ada masalah yg dapat teratasi hanya dengan mengeluh dan bersungut.
September 29th, 2009 at 10:37 am
Ada pepatah orang bijak/motivator… tantangan/hambatan bagi orang lemah/pemalas akan menjadi keluhan dan sungut-sungut, dan sebaliknya tantangan/hambatan bagi orang ulet/sabar dan pekerja keras akan menjadi peluang. Selamat bekerja dan jangan lupa berdoa, alana satonga ni ulaon dihorhon tangiang.
September 29th, 2009 at 11:34 am
Memang sebenarnya kita atau manusia dari dirinya sendiri tidaklah kuat, tidak berdaya. Sama kita semua, sama-sama tidak memiliki kekuatan dan kemampuan bila diukur dari sisi diri kita.
Orang percayapun; atau orang beriman sekalipun, sebenarnya tidak kuat dari dirinya sendiri. Oleh sebab itu, status kita sama, sama-sama membuthkan bantuan, sama-sama mengharapkan orang lain memperhatikan kita, membantu kita memberi pertolongan kepada kita.
Tetapi, bagi sebagian orang, dia merasa posisinya hanya membentu atau dibutuhkan orang lain. Tidak menyadari ia pun sebenarnya mengharapkan bantuan orang lain. Sehingga cenderung egoistis dan sedikit congkak dan sombong, merasa diri lebih penting dari orang lain.
Tapi jangan pula kita berpura-pura membutuhkan bantuan orang lain, pada hal sebenarnya kita harus memberi bantuan.
Sekali lagi, dari diri kita, kita tidaklah kuat dan mampu, untuk itu kita harus saling membantu, harus saling memperhatikan.
Karena ada saatnya kita berada pada kondisi yang tidak kuat; ada saatnya kita berada pada situasi yang tidak berdaya.
Bila firman hari ini mengatakan: ‘Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! (Ayub 26:2).
Sebenarnya yang ingin dikatakan adalah bahwa setiap orang yang percaya dan beriman kepada Kristus adalah orang-orang yang kuat, karena kekuatannya ada dalam Tuhan; bersumber dari Tuhan; bukan dari dirinya sendiri.
Orang percaya adalah orang-orang yang kuat karena imannya kepada kekuatan Kristus dan Kuasa Allah yang dasyat. Untuk itu kita harus memakainya untuk membantu mereka yang tidak kuat dan tidak berdaya.
September 29th, 2009 at 2:09 pm
Hakekatnya, manusia adalah makhluk sosial yg saling membutuhkan. Namun dlm berusaha, sikap orang beriman pasti tdk menanti-nanti atau tdk bersandar pd pertolongan org lain. Disisi lain, seseorg bisa memberi bantuan atau pertolongan pada org yg membutuhkan adalah berkat dan belas kasihan Tuhan. Dua hal ini sebaiknya berjalan scr alami, shg indah dan tdk ternoda oleh fitnah dan dendam.
September 29th, 2009 at 7:50 pm
Lagu anakkonhi do hamoraon di au adalah prinsip yg sangat teguh buat kebanyakan wanita Batak, walau aku tidak punya mas dan berlian,mobil juga jam tangan seperti kawan2ku aku tidak perduli tapi anak2ku tidak boleh tertinggal dari kawan2nya bila perlu jauh lebih unggul dari teman sebayanya….lagu yg membakar semangat untuk membesarkan anak2 oleh wanita Batak,meskipun dia ditinggal mati suaminya atau malah para suami hanya nongkrong2 di lapo tuak, tetapi bila anaknya hebat dia adalah anak ni amanta……sedangkan kalau rusak ….dang diboto boru anui i mandidik anakkonna, jadi siapakah yg lemah ??? para bapak atau wanita orang Batak???