Membahagiakan Diri Sendiri Dengan Menolong Orang Lain
Almanak Senin 28 September 2009:
Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya. (Mazmur 41:2-3a)
Jika kita sungguh-sungguh menolong orang yang kecil dan lemah tentulah yang bersangkutan sangat gembira. Siapapun juga suka dan senang ditolong, dibantu dan diperhatikan apalagi orang yang miskin atau berkekurangan.
Namun hari ini kita diingatkan bahwa yang menolong orang miskin, kecil dan lemah juga akan gembira dan bahagia. Rasul Paulus mengutip ucapan Yesus: adalah lebih baik memberi daripada menerima. (Kis 20:35). Maksudnya menerima sudah pasti membahagiakan. Namun memberi jauh lebih membahagiakan lagi. Mengapa?
Kebahagiaan sejati terletak dalam kasih kepada sesama terlebih yang miskin, kecil dan lemah. Dengan kata lain kebahagiaan adalah buah kasih. Sebab itu dalam kasih kepada sesama itulah kita merasakan dan mengalami kegembiraan dan kebahagiaan tidak terperi itu.
Selanjutnya: Tuhan mengganjar orang-orang yang memperhatikan saudaraNya yang kecil, lemah dan miskin dengan kebahagiaan. Menarik jadi renungan: Orang-orang miskin yang menerima pertolongan dan perhatian kita, namun Tuhanlah yang membalaskannya kepada kita. Dia akan melindungi dan menjaga kita senantiasa serta meluputkan kita dari celaka. Alangkah senangnya.
Doa:
Ya Allah penuhilah hati kami dengan kasih. Ajarlah kami memperhatikan sesama dan saudara kami yang miskin, kecil dan lemah. Kuatkanlah kami agar tidak pernah bosan membantu mereka yang membutuhkannya. Dan biarlah kami melakukannya dengan ikhlas dan rendah hati. Terima kasih, sebab Engkau mengganjar semua orang yang memperhatikan saudara-saudaraMu dengan berkat dan kebahagiaan.Dalam Kristus, saudara si miskin. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
September 28th, 2009 at 7:15 am
Amin
September 28th, 2009 at 9:09 am
Saat menolong, memberi, dan mengasihi kita sesungguhnya sedang membelanjakan kemampuan terbaik kita (spending our ability) dan itulah salah satu pengalaman puncak kemanusiaan kita; dan itulah sebabnya memberi lebih membahagiakan daripada menerima. Begitulah keterangan Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving.
Jadi orang yang berpelit (mangholit) adalah orang yang menutup dirinya untuk diterobos oleh rasa bahagia.
September 28th, 2009 at 9:33 am
Ayat pendukung nas di atas: dari Mazmur
121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
121:3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
121:4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
121:5 TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
121:6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
121:7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
121:8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.
September 28th, 2009 at 1:18 pm
Amen. Teringat khotbah Yesus diatas Bukit ” Berbahagialah orang yg murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan ( Matius 5: 7).
Amang Pendeta, Kalau berkenan, sy ingin share sedikit pengalaman luput dari celaka.
Dilingkungan pondok kami di daerah Cileduk, sejak th 2002 pertama kali kami menetap disana, tetangga kiri kanan, muka belakang semua adalah Saudara kami orang Betawi, belakangan saya tahu dari isteri, bahwa semua mereka adalah saling berkaitan famili /bersaudara (masih ada hub.kel. ada yg Encang , Incing, ngkong, saudara nyak dll).
Saya tidak kaget karena sebelumnya kami telah alami kondisi yg sama selama 10 th jadi “Kontraktor” (Kontrak rumah di daerah Kota Bambu Tomang Jakbar).Tetangga kami juga semua adalah saudara kami betawi masih berkaitan famili. Tetangga adalah “Saudara yg terdekat” itulah prinsip bertetangga yg kami pegang teguh, dan sebagai “pangisolat ” diluat orang kami hrs tau diri.
Selama Kontraktor itu, adalah isteri yg mengawali memberi kue Natal kpd mereka tetangga kami radius 15m kiri dan kanan, depan tdk sampe 15m, hanya beberapa orang berbatas Gang, belakang tidak ada (Ada kali). Pada saat hari Natal isteri memesan Kue dan beli Jeruk (tempo-tempo Nasi Padang dalam Kotak) utk dibagikan kepada saudara yg terdekat itu. Awalnya saya pesimis dengan ide isteri. Bukan takut rugi atau pelit. Bagaimana kalau mereka menolak, atau diterima tapi dibuang? kan Sakit rasanya ( Hansit mulak manjalo, hansitan do namulak mangalehon).
Saya akui isteri memang memiliki nilai dan pengalaman rohani yg banyak plusnya di banding saya. Kalau berdoapun isteri lebih oke daripada saya. Dan lagi saya tidak lancar berdoa kalo pake bhs ind. (sy terus latihan sampe saat ini). Dugaan saya ternyata keliru. Saudara terdekat kami itu (muslim) begitu semangat menerimanya, mereka tertawa bahagia sebangun dg kebahagiaan kami, karena keberadaan kami diluat mereka diterima dg baik. Dan setiap hari lebaran kami tdk usah repot masak, karena ketupat sayur dan daging semur yg mengalir ke rumah cukup utk seminggu. Kebetulan pasar masih tutup saat seperti itu.
Dilokasi pondok kami sekarang tradisi kue/buah Natal masih berlangsung. Lebaran tetap dapat ketupat sayur dan daging semur yg ada jengkolnya dan dodol betawi… pokoknya enaklah. Namun setiap menjelang Takbiran, sedikit ada yg berbeda. Dekat pondok ada orangtua suami isteri yg sudah uzur tinggal berdua dg apa adanya, disamping rumahnya tinggal anak laki bungsu/isterinya serta 2 orang anak cucu laki kembar sekarang berumur 5 th. Anak2 saya memanggilnya Kakek dan Nenek.
Pak, Kakek dan Nenek. bisik isteri. Saya sudah paham. Semacam amploplah dan hrs 2 Satu tuk Kakek satu tuk Nenek, adatnya begitu disini… Ok… . Yah Puji Tuhan, yg kami beri hanya sikit memang, tapi .. indahnya berbagi dg sesama, apalagi mereka memang “Saudara Terdekat” dan sudah lemah secara fisik karena dah uzur. Dan besoknya seperti biasanya kami akan mendapat 2 bingkisan lebaran. Ini yg unik, yg pertama diantar adalah Ketupat dan sayurnya. daging semur tak lupa jengkolnya.. dan segumpal kue dodol ..itu dari Nenek. Jelang beberapa menit kemudian, datang buah jeruk dan Appel.. itu dari Kakek kata mantunya yg antar. tks.
Pada bulan Mei-2009 menjelang kebaktian Kenaikan Isa Almasih tg 21 Mei 2009 sy akan ke Jkt ingin bersama anak-anak dan isteri mengahdiri kebaktian tgl 21 Mei 2009. Tgl 20 Mei 2009 Jam 02.30 dini hari sendirian saya berangkat dari Prabu menuju Bandara Palembang karena saya akan ikut penerbangan I jam 06.00 ke Jakarta. Jam 05.00 pagi itu saya sampai di Kanwil kami, di Palembang (Jl.Rivai). Mobil saya titip di Kanwil. Seperti biasanya sy minta tolong pada teman Satpam utk ngantar ke Bandara dg pake motor biar lebih cepat, karena pagi itu belum ada Ojek.
Kali ini yg antar saya namanya Pak Santoso. Ternyata motornya motor butut, digaspun sudah ogah lari, hanya bisa sikit lebih cepat dari larinya entok. Motornya tidak punya pijakan kaki buat yg dibonceng, sudah lepas. dan beberapa sparepart sudah diikat karena “sompel”. Akhirnya kedua kaki saya gaung-gaunglah… krn tidak ada pijakan. aduh tersiksa. Tapi karena jalanan masih sepi, tak apalah. Mungkin ini hanya cobaan kecil.
Sepuluh menit sejak belok kanan arah Bandara, ada ” perkakas” motor yg jatuh, entah perkakas apa tidak jelas karena masih gelap. Biarin aja pak… jawab Satoso. saya bilang..Berentilah biar sy ambil. Entah kenapa Santoso tidak berhenti dan minggir sebelah kiri, tapi langsung memutar melingkar ketengah jalan, sementara banyak kendaraan menuju bandara dg kecepat tinggi. Saya mendengar bunyi rem Mobil yg mencoba menghindari kami.
Dalam situasi genting itu Saya kaget dan segera turun serasa ada tangan yg menarik kerah baju saya, dan repleks saya juga menarik motor yg oleng. Kalau motor tidak sy tarik dan saya tidak cepat turun, saya dan Santoso pasti sudah mati. Santoso tidak sempai kelindas mobil karena terjatuh dari motor ketika motor saya tarik, akhirnya hanya motor yg masuk kolong dan terlindas mobil. Motor hancur brantakan. Orang sudah banyak berkerumun, tapi sy harus jujur dan bilang kepada mereka, yang salah adalah motor.
Santoso hanya pusing karena kepalanya sempat benturan dg aspal, saya tidak terluka sedikitpun. Sekalipun bukan salahnya pengemudi Mobil, beliau seorang tionghoa(setir sendiri dan sendirian, konon sore balik ke Plmbang) dg senang hati mengganti keseluruhan perbaikan motor dan pengobatan Santoso. Beliau mengajak saya ikut mobilnya ke Bandara dan membayar Airport Tax saya. (saya masih simpan Kartu namanya= Presdir sebuah Perusahaan Perkebunan Klp Sawit di daerah Sekayu).
Sepanjang penerbangan ke Jkt saya terharu, saya berdoa mata saya memerah menahan airmata. Batapa besar karuniaMu yang sy perolah. Tuhan masih merelakan saya melanjutkan hidup, sekalipun saya orang yang banyak berbuat dosa. Tuhan ampunilah saya manusia yg amburadul dihadapanMU.
Usai perayaan Kenaikan Isa Almasih saya balik ke tempat kerja, ketemu dg Santoso di Kanwil. Kami berpelukan dan mengucap syukur. Pak… motor saya jadi bagus setelah ditabrak… kata Santoso sambil terkekeh. Kepada Bapak yg baik itu, saya menyampaikan terimakasih atas budi baiknya melalui sms dan dijawab dg kata yg sangat menyejukkan. Terimakasih Tuhan. Amen
September 28th, 2009 at 3:38 pm
Amen…firman Allah luar biasa…
September 28th, 2009 at 10:01 pm
Tiap lebaran keluarga kami juga selalu mendapat kiriman khas lebaran ketupat dan rombongannya cukup utk 4 hari dari 6 rumah tangga, walaupun saya sangat direpotkan untuk membalasnya diwaktu natal ga apa2lah krn senang rasanya tetangga saya mengatakan thn depan kirimin kami ikan mas arsik ya setelah thn ini saya kirimin daun singkong tumbuk dan ikan teri disambal pakai kacang.
Dan ketika saya dirawat dirumah sakit yg jauh dari tempat tinggal kami mrk datang membesuk saya menyewa satu metro mini, kalau mrk yg sakit saya akan usahakan ikut kadang2 menyewa mikrolet dan semua biayanya dari uang kas RT