Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Ketika Praeses Lukman Panjaitan menunjuk saya (bersama lima orang lain) dari Distrik Jakarta Tiga menghadiri Ibadah Syukur HKBP atas penyelamatan Tuhan kepada Eforus HKBP Ompu i Pdt Bonar Napitupulu dan keluarga, entah kenapa saya langsung saja mengatakan: siap. Padahal saya tahu betul tidak ada anggaran gereja untuk mengongkosi ke Medan dan keuangan saya pribadi pun dalam posisi tidak memungkinkan untuk itu. Namun saya yakin pasti ada jalan. Dan jalan itu memang disediakan Tuhan. Saya teringat seorang kawan sintua yang beberapa kali menawarkan tiket pesawat dan belum pernah satu kali pun saya terima. Saya pun menghubungi beliau menanyakan apakah bersedia mengongkosi saya ke Medan untuk mengikuti ibadah syukur HKBP atas pertolongan Tuhan kepada eforus dan keluarga. Puji Tuhan. Beliau menyambut. Tiket pulang-pergi sudah oke. Berangkat pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 22.30 dengan pesawat yang sama.
Kini tinggal urusan mengantar ke Bandara. Tenang saja. Ada Martha. Namun bagaimana dengan anak-anak? Pembantu masih mudik. Usul Martha anak-anak ikut saja mengantar langsung dari tempat tidur ke bandara pukul empat pagi. Bagi Martha sangat riskan meninggalkan anak-anak masih tidur di rumah subuh-subuh. Apalagi kalau tiba-tiba ada orang jahat tiba-tiba datang. Namun tentu anak-anak malamnya harus dikondisikan dulu agar tidak rewel dibangunkan subuh-subuh. Beres.
Saya tiba di bandara pukul lima pagi. Kamis 24 September. Pesan Martha: sms jika sudah boarding. Pesan saya: beritahu kalau sudah sampai rumah. Pas antri melapor ke meja, seorang lelaki berjas memanggil saya dari dekat meja counter. Wajahnya sangat saya kenal betul. Namun kantuk pagi ini membuat saya harus berpikir sejenak: Edison Manurung. Rupanya beliau bersama istri juga hendak mengikuti acara ibadah syukur HKBP. Kami pun ngobrol sambil menunggu petugas mengutak-atik komputernya. Saya mau maju ke pemilihan Bupati Tobasa tahun depan, katanya. Saya senyum dan mengangguk. Edison Manurung meminta boarding pass saya dan membayarkan airport tax. Puji Tuhan. Berkat Tuhan pagi-pagi sudah mengalir rupanya.:-)
Di ruang tunggu saya ketemu dengan Pdt HJ Napitupulu dari Kebayoran Lama, Praeses Mori Sihombing, Pdt Belman Hutahaean dan beberapa pendeta lain. Suasana pun langsung ramai. Pesawat tepat waktu. Panggilan boarding terdengar. Saya pun menelpon Martha. Rupanya mereka juga baru sampai di rumah.
Di pesawat saya berpikir: bagaimana nanti ke rumah Eforus di Tanjung Sari? Gampanglah itu, pikir saya. Taksi bandara banyak. Namun sesampai di Polonia Praeses Mori menawarkan bersama-sama dia. Rupanya dia sudah meminjam mobil saudaranya untuk keperluan ke sana namun kami mampir ke Jalan Turi dulu. Tuna rumah menawarkan sarapan: pangsit atau kwetiau? Saya pilih yang terakhir. Aha. Memang berkat tidak pernah berkesudahan.
Bertiga dengan Praeses dan Ny Praeses kami pun menuju Simpang Selayang Tanjung Sari. Orang sudah sangat ramai. Praeses masuk ke dalam rumah. Saya tahu diri memilih duduk di luar di bawah tenda depan televisi. Melalui televisi itu saya melihat Ompu i Eforus dan Inang br Sitanggang duduk tenang. Tak begitu jelas, namun penglihatan saya tak ada yang berubah. Syukurlah. Keempat unsur pimpinan HKBP sudah datang. Perkiraan saya tamu ada dua ratus orang. Ibadah pun dimulai tepat waktu dipimpin oleh Sekjen Pdt Ramlan Hutahaean. Saya baca di buku acara: pengkotbah Kadep Koinonia Pdt Jamilin Sirait.
Selama ibadah tamu-tamu terus berdatangan. Tamu-tamu terhormat diajak masuk ke dalam. Panitia berjas dan berkebaya hilir-mudik. Petugas-petugas catering dengan kaos bermerek tak henti-henti membawa makanan ke dalam. Saya mencoba fokus kepada ibadah yang mensyukuri campur tangan Tuhan saat peristiwa kecelakaan terjadi. Bagi yang belum tahu: tanggal 16 Agustus lalu eforus HKBP Ompu i Pdt Bonar Napitupulu, Inang br Sitanggang dan kedua putri asuh mereka, masuk ke jurang Sipintu-pintu. Menurut pengalaman hampir tak ada yang selamat jika mobil jatuh ke jurang itu. Namun Tuhan baik dan menunjukkan kuasanya. Hamba-hambaNya dan keluarganya selamat dari maut walaupun mengalami patah tulang dan luka. Itulah dasar ibadah syukur dan puji-pujian HKBP hari ini.
Mantan Sekjen SM Siahaan datang hampir bersamaan dengan Bupati Samosir. Nantilah saya salam sesudah ibadah, kata saya dalam hati. Pemandu lagu ikut-ikutan membaca liturgi. Oala. Ya sudahlah. Di belakang saya terdengar beberapa orang ngobrol. Saya tak yakin mereka anggota jemaat. Kemungkinan besar: pendeta.
Ibadah selesai dilanjutkan dengan acara keluarga. Keempat pimpinan HKBP menyampaikan “tudu-tudu sipanganon” kepada Eforus. Apa pulak dasar teologinya ini, tanya saya dalam hati. Lantas dilanjutkan dengan acara penyerahan ikan dan ulos oleh hula-hula Eforus Napitupulu yaitu pihak marga Sitanggang.
Acara pun dilanjutkan lagi dengan kata-kata sambutan. Pertama: dari Ketua Panitia yaitu Sekretaris Jenderal HKBP. Selanjutnya mewakili anggota jemaat, yaitu: St Waspada Marbun dari HKBP Resort Serang. Lantas dari unsur pemerintah, diminta disampaikan oleh Bupati Samosir M Simbolon namun diserahkan kepada Bupati Tapteng. Lantas Pdt Jamilin Sirait menyampaikan sambutan pendek atas nama Pimpinan HKBP.
Eforus dan keluarga pun mangampu atau menyampaikan kata-kata penerimaan. Diawali dengan putri Eforus Esther yang menyampaikan ucapan terima kasihnya dengan tutur kata yang sangat jernih dan rapih. “Selama ini Tuhan baik kepada ayah dan ibu kami” kesaksiannya. “Namun melalui peristiwa ini kami merasakan ternyata Tuhan jauh lebih baik dari apa yang kami pikir”. Saya mengangguk dan merasakannya sebagai suatu kesaksian yang sangat tulus dan penuh rasa syukur. Lantas Inang br Sitanggang pun menggarisbawahi ucapan terimakasih yang telah disampaikan putrinya. Disinilah saya baru tahu apa peran satu regu satpol yang berseragam yang duduk di depan saya. Rupanya merekalah yang langsung turun ke jurang itu membawa Eforus dan keluarga keluar. Inang br. Sitanggang menyebut beberapa nama, antara lain Pdt Martin Manullang yang melihat pertama kali kejadian dan bertindak cepat mengkoordinasikan dengan Pimpinan HKBP. Juga Keluarga Jenderal Luhut Panjaitan yang membiayai seluruh pengobatan ke Singapura. Juga para tim dokter dan nama-nama lain. Saya menyimak dan merasa ikut berterima kasih dan bersukacita juga.
Eforus pun menyampaikan ucapan terima kasih pendek diawali dengan permintaan maaf karena atas perintah dokter tidak diperkenankan menerima banyak pembesuk. Saya mengangguk maklum. Bagaimanapun kepentingan pasien untuk sembuh memang harus lebih diutamakan daripada keinginan pengunjung. Jangan dibalik. Lantas Eforus mengaminkan dan menggaris bawahi kotbah Pdt Jamilin Sirait: di tengah jurang kematian Tuhan menyatakan kehidupan. Amin.
Doa makan dipimpin oleh Pdt Binsar Nainggolan. Mik mati. Suara tidak terdengar ke luar. Saya diam. Tiba-tiba di luar terdengar teriakan amen. Orang-orang bergegas hendak mengambil makanan. Saya beranjak masuk ke dalam rumah hendak menyalam pimpinan dan praeses. Eforus dan Inang rupanya dibawa ke kamar untuk istirahat sejenak. Tak disangka saya ketemu dengan Pdt Rumanja Purba, Sekjen GKPS, duduk di sebelah Ketua Rapat Pendeta WTP Simarmata. Sudah puluhan tahun kami tidak bertemu. Senang juga.
Saya makan sedikit lantas duduk di teras bersama Praeses Lukman Panjaitan dan kawan-kawan dari Distrik Jakarta Tiga. Eforus dan Inang sudah keluar dari kamar. Eforus sudah bisa berjalan dibantu tongkat. Syukurlah. Dalam beberapa bulan lagi semoga semua pulih. (Sabtu 14 November HKBP Serpong mengadakan Seminar di Hotel Borobudur dan Eforus sudah mengiyakan menjadi keynote speaker. Doa saya dan kami semua Eforus disana sudah bisa hadir).
Para tamu yang hendak menyalam Eforus dan Inang bagaikan arus. Saya dan kawan-kawan Distrik 21 menunggu sepi. Terakhir kali barulah kami menyalam. Eforus dan Inang duduk didampingi keluarga dan kerabat. Abang beliau dan Inang br Simatupang dulu adalah tetangga saya saat di Pulomas dan bagi saya ini sekaligus reuni. Giliran menyalam, saya hanya mengangguk hormat dan mengucapkan salam pendek: horas ma di ompu i. Beliau tersenyum. Begitu juga Inang br. Sitanggang.
Saya pun bergegas ke luar. Ketemu dengan eks Naposo Bandung Boydo Panjaitan, rupanya dia sudah di Medan. Saya pun menumpang mobil Praeses Mori Sihombing ke bandara. Jadwal pesawat saya pukul 22.30. Itu artinya tiba di Jakarta pukul 00.30 dan tiba di rumah pukul 02.00. Siapa mau? Saya pun buru-buru ke counter Lion mengubah jadwal. Puji Tuhan. Menambah 159 ribu (di kertas tertulis 154 ribu) saya dapat jadwal pesawat 18.35. Saya pun menelpon Boydo minta dijemput lagi ke bandara untuk minum kopi sama-sama. Tak lama dia datang bersama temannya Malona. Kami pun minum kopi di “starbuck” lokal: Kok Tong Kopi di Plaza Sun. Enak. Murah. Dan ketemu banyak teman.
Pukul 20.45 pesawat mendarat di Cengkareng. Saya dijemput Martha, Kika, Nina dan Wili. Anak-anak tampak sangat gembira. Apalagi saya.
Pujilah Tuhan hai HKBP-ku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya.
Share on Facebook
Keempat pimpinan HKBP yang memberikan “tudu-tudu sipanganon” disetarakan dengan “dongan tubu”. Dekke dari hula-hula Sitanggang. Itulah Dalihan Natolu.
Pintar kali amang menyusun ceritanya,,,, enak membacanya…..Selamatlah buat ompu i eporus.. semoga cepat pulih.
Dari cerita amang DTA seolah2 sayapun berada disana merasakan kebahagiaan semua yg hadir bahwa pucuk pimpinan kita sudah hampir pulih kembali. Ada yg harus kita perhatikan memang dari cerita amang ini bahwa kalau sudah niat yg tulus pasti Tuhan memberikan jalan seperti yg dialami amang, lalu soal kepentingan sisakit, bagi yg ingin besuk kita usahakanlah ketika sisakit sdh agak lumayan keadaannya, kalau dia operasi mungkin kita bisa mengunjunginya 3-4 hari kemudian, krn bagi si sakit sangat menyebalkan apabila dikunjungi ketika sangat kesakitan apalagi bila yg besuk sok tau ngajar2i, coba obat anu….kenapa sampai dioperasi…dll yg membuat kita ingin mengusirnya.
Ada lagi buah tangan yg berupa buah2an sampai kadang2 kita buang saking banyaknya,blm tentu juga pasien diijinkan memakan makanan dari luar rumah sakit , sebaiknya berikan saja uang lebih berarti daripada yg lainnya, dan biarkanlah si pasien yg bercerita si pembesuk cukup pendengar yg baik saja.Ini pengalaman pribadi ketika saya sakit dan ketika menunggu anakku sakit.
Yang terakhir selamat buat ompui Eforus dan ompu boru juga kepada keluarga yg menyertai mereka dalam kecelakan itu dan terimakasih buat amang DTA yg sudah menceritakan di rumah ini
Mauliate, adong do dapothu tona sian barita ni amang on. Boha do HKBP (jaha: angka uluan ni huria na bolon i) mangadopi na masa tu Eforus dohot keluarga on?
I ma atehe huaso ni Tondi Porbadia i mangondihon naposoNa asa malua sian mara. Sada panindangion do on tu hita na umboto manang na umbege barita na madabu motor ni Ompu i tu rura si Pintu-pintu. Parniahapan ni jolma na madabu di si, siap do; alai Ompu i dohot uduranna hipas do di ramoti Tondi i. Mauliate ma di Tuhanta, ai pos do rohangku na hatop hipas nasida saluhutna, ai ndang hea humurang pangurupionNa, singkop do huhut di tingkina. Tuntas dan tidak pernah terlambat. Amen
Horas, Puji Tuhan kondisi Ompui Ephorus sudah membaik. Berapa banyak utusan HKBP dari luar Sumatera Utara yang datang dan pulang pada hari itu amang? Kalau baca di harian terbitan Medan setiap Distrik mengirimkan utusan ya? Btw untuk banjir bandang di Mandailing Natal apakah sudah ada bantuan dari HKBP amang? Seharusnya kotbah tentang lingkungan makin diintensifkan agar kejadian seperti itu tak terulang lagi di Sumatera Utara maupun ditempat lain…
Puji Tuhan. Melalui dan di dalam segala peristiwa Tuhan menunjukkan kasih-Nya kpd kita, yang kecil atau besar, yang biasa atau dahsyat.
Ditengah jurang kematian, Tuhan memberi kehidupan. Indah sekali, horas
Satu kalimat amang :
“Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambaNya”
“Selama ini Tuhan baik kepada ayah dan ibu kami”. “Namun melalui peristiwa ini kami merasakan ternyata Tuhan jauh lebih baik dari apa yang kami pikir”.
Bagus sekali kesaksian Esther ini, dan bagus sekali Amang mem-posting kesaksian ini. Terimakasih, semoga Ompu i lekas sembuh dan Tuhan selalu menyertai keluarga Ompu i.
Juga kepada semua pihak yang menolong yang amang sebutkan di atas, semoga Tuhan memberkati. Buat tim Satpol, semoga karirnya meningkat.
Sedikit koreksi amang: Pdt HJ Napitupulu bukan di Kebayoran Lama lagi tp sdh di Kebayoran Selatan, bertukar tempat dengan Pdt. Panjaitan (dari Keb. Selatan ke keb. Lama).
Daniel Harahap:
Terima kasih atas koreksinya.
O begitu to.
Terpujilah Tuhan yang senantiasa menyertai hambaNya, ompui Ephorus Pdt. B. Napitipulu dan inang br. Sitanggang.
Firman Tuhan: ‘Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. (Yer. 31:3)
kami dari keluarga Pdt. Singhan Pardede br. Pasaribu mengucapkan ‘Semoga Ompung Ephorus dan inang cepat sembuh’
Sadari do amang pdt di medan, alai boi do ganjang ceritana. tingki rapot pandita bulan nasalpu di tarutung piga-piga ari, alai dang adong ceritana. di surat sian ktr pusat hkbp na dijaha di gereja nami, disi didok diboan do di tangiang pangondianon (doa syafaat) asa jadi terbentuk propinsi Tapanuli. Jadi hupingkir, ala ni i ma ra gabe dang olo amang Pdt on bercerita na terjadi tingki rapot pandita i. Dang apala binoto aha alasanna ingkon pola ditangiangkon asa jadi propinsi tapanuli i. Pasti do sian angka pandita na ro i, godang do na so setuju pembentukan ni propinsi i. Iba sendiri pe dang setuju disi. Bisa jadi do tingki na martangiang i, sebagian pandita i mandok unang pajadi Tuhan. Boasa Pandita gabe terlibat politik praktis?
Puji TUHAN, opung ephorus dan opung boru sudah semakin sehat. Ceritanya enak dibaca. Salut buat amang. Amang DTA memang pintar menulis pengalamannya. GBU