Membangun Negeri

August 31, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Senin 31 Agustus 2009:

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29:7)

Bangsa Israel dibuang ke Babel. Mereka sangat menderita di negeri buangan itu: kalah secara politis dan ekonomis, kehilangan simbol keagamaan dan kebangsaan, dan jauh dari kota suci Yerusalem. Mereka meratap dan terus menanti-nanti kapankah mereka dapat kembali ke tanah airnya.

Tuhan Allah melalui nabi Yeremia menyampaikan pesan apa yang harus dilakukan bangsa Israel selama di pembuangan. Alih-alih hanya meratap dan mengeluh mereka malah disuruh membangun negeri dimana mereka dibuang itu. Mereka disuruh membuka kebun, membangun rumah, menikah dan berumah tangga di sana dan mengusahakan kesejahteraan kota dimana Tuhan membuang mereka.

Kita hidup di negeri kita sendiri. Jika umat Israel saja harus membangun negeri yang bukan milik mereka sendiri apalagi kita. Indonesia adalah tumpah darah kita. Di negeri ini kita bukan penumpang atau warga kelas dua, tetapi pewaris sah dan warga negara terhormat. Sebab itu tentu kita harus lebih serius membangun negeri ini. Kritik kepada orang kristen adalah: kita dianggap egoistis dan hanya memperdulikan pembangunan gedung gereja kita. Kita selama ini tidak serius ikut membangun ekonomi, sosial, budaya dan politik negeri ini. Namun hari ini kita dipanggil oleh Tuhan untuk membangun negeri dimana Tuhan menempatkan kita. Mari kita jadikan Indonesia sejahtera, adil makmur dan damai.

Doa:

Ya Allah, berilah kami hati dan kekuatan agar kami ikut membangun negeri dimana Kautempatkan kami. Berkatilah peran dan kedudukan kami orang-orang Kristen di negeri majemuk dan miskin ini.  Biarlah kami memakai semua talenta dan karunia yang Kauberikan untuk menyejahterakan Indonesia. Mulialah namaMu melalui sumbangsih kami kepada bangsa dan negara ini. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

15 Responses to Membangun Negeri

  1. Jansen H. Sinamo on August 31, 2009 at 8:52 am

    Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
    Hidup adalah untuk mengolah hidup
    Bekerja membalik tanah
    Memasuki rahasia langit dan samodra
    Serta mencipta dan mengukir dunia
    –WS Rendra

    Homo faber kita ini menurut istilah para antropolog, yakni orang yang bekerja dengan perkakas — dan mengubah dunia.

    Sejak bab pertama di Kejadian hingga perikop terakhhir di Wahyu, kita menemukan TUHAN sedang bekerja dan terus bekerja.

    Kita adalah kawan sekerja Allah menata dunia, Indonesia, Tao Toba, bona pasogit, serta rumah tangga kita masing-masing: sekaligus dan serentak.

  2. Mangara Pakpahan on August 31, 2009 at 9:23 am

    Menjadi saluran berkat bagi sekitar

  3. Friska pardede on August 31, 2009 at 10:50 am

    Kita Diberi kaki, tangan dan pikiran jangan mengharapkan uluran tangan orang lain, ayo kita bekerja keras, jangan mengeluh dan jangan cengeng, jangan tunda bersama kita bisa……kita bisa bersama2

  4. Darpan A. Pandjaitan on August 31, 2009 at 11:13 am

    Mari kita jawab kritik terhadap org kristen (HKBP) dgn ikut berkiprah dalam pembangunan negeri ini baik ekonomi, sosial, budaya,n politik secara strategis diawali dengan keberadaan kantor pusat HKBP di Jakarta.

  5. Slamet Nainggolan on August 31, 2009 at 12:50 pm

    Untuk Bp. Darpan A. Pandjaitan
    Benar, bahwa Kristen bukanlah meng-agungkan budaya, tempat/ lokasi, dan benda mati.
    Tetapi ada kalanya kita perlu memberikan penghargaan, mempertahankan yang sudah ada sebagaimana lokasi/ posisi kantor pusat HKBP sudah sangat tepat berada di Tarutung (Pearaja).

    Contoh singkat.
    Misalkan Ulos Batak di Claim oleh bangsa Inggris, bagaimanakah menurut P. Darpan?
    Bila Ulos Batak sudah di Clai oleh Bangsa Inggris bukan lagi ulos batak namanya, melainkan ulos Inggris. Dan demikian juga dengan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), yang men-cirikhaskan terpusatnya di Tanah Batak. Oleh sebab itu, sangat diperlukan kita menampilkan Jati Diri dan ciri khas kita sebagai seorang Batak :) Tetapi, ini adalah merupakan komentar dari saya, dan saya tidak mengetahui bagaimana tanggapan komentar personal lainnya.
    Dipersilahkan

  6. PARIS SITORUS on August 31, 2009 at 1:30 pm

    syaloom pak pendeta: tolong saya dibantu meng hotbahkan dari almanak tgl 1 sept 2009. dari 3 yohanes 1:5. bahan untuk saat teduh. termakasih.Gbu

  7. Darpan A. Pandjaitan on August 31, 2009 at 3:21 pm

    Hmm..sebaiknya ulos itu dipatentkan Lae Slamet…jadi kejadian batik dan tari pendet tdk terulang. Mungkin HKBP bisa ambil peran pengajuan hak patent ini ke pemerintah.

    O iya ulos batak baik di asia, eropa dan amerika tetaplah ulos batak, begitu juga HKBP maupun di asia, eropa, amerika dan dimanapun tetap HKBP yang dikenal sebagai gereja yg lahir di tanah batak.

    Jadi pilih mana mempertahankan “ciri khas” yg Lae Slamet maksud atau menjadi lebih berperan (garam dan terang) di republik tercinta ini?

  8. Slamet Nainggolan on August 31, 2009 at 3:52 pm

    Horas Lae Darpan :)
    Seorang Kristen sebagai pengikut Kristus Yesus harus memiliki Jati Diri dan Chiri Khas yaitu menjadi Garam dan Terang Dunia. Dan tidak ada lagi tawar menawar.
    Dengan kita mempertahankan dan membudidayakan chirikhas kita sebagai batak yang universal dan secara khusus yang memiliki Iman kepada Kristus Yesus adalah perlu dilakukan dan dipertahankan.
    Contoh dekat saja, Silsilah kita sebagai bangsa yang ber-marga, misalnya saya seorang yang bermarga Nainggolan, of course saya sangat bijaksana bila saya mempertahankan marga saya seorang Nainggolan agar lingkungan mengetahui bahwa ada seseorang yang pernah terlahir di tanah Nainggolan.
    Dan kita juga dapat mengambil contoh lain dalam marga bila berpindah ke suatu daerah dulunya, misalnya : Marga Silalahi berasal dari Tapanuli dan setelah generasi selanjutnya berpindah dan merantau ke Tanah Karo maka berubah menjadi Sembiring.

  9. Slamet Nainggolan on August 31, 2009 at 3:54 pm

    Horas Amang Pandita nami
    Na hona aha do komentar hi na parjolo.
    Songon na so di Publish hamuna.
    Horas.

    Daniel Harahap:
    Paganjanghu jala manimbil sian impola ni panghataion. :-)

  10. Slamet Nainggolan on August 31, 2009 at 4:49 pm

    Untuk Saudaraku Bp. Paris Sitorus:
    Melalui Nats tersebut Kita selaku Jemaat/ Umat Kristen di tegur keras atas kecongkakan kita yang secara dominan banyak mengutamakan kepentingan diri sendiri di dalam praktek sebagai seorang Kristen, mengambil keuntungan di dalam setiap pelayanan kehidupan Kristen (misalnya : Mambunga-bungahon Hepeng).
    Dengan melalui Nats tersebut, Kita umat Kristen di tuntut untuk lebih pro-aktif di dalam ke-Imanan kepada Kristus Yesus, dengan meningkatkan pelayanan di tengah-tengah keluarga, perkumpulan, lingkungan masyarakat dan negara.

  11. UP Tampubolon on August 31, 2009 at 4:53 pm

    Terima Kasih Pak Pdt Harahap.
    Terlebih untuk halak kita para Pengacara di Jakarta,
    Janganlah demi keuntungan Peribadi, bukannya membela keadilan tapi
    justru sebaliknya.
    juga kita dari Etnis Batak yang baik baik jadi kena ikut getahnya.
    Alangkah bagusnya kita Orang kristen Batak menjadi Pembela
    Pembela Keadilan dan bersih dari KKN di Front terdepan demi
    Kemajuan Indonesia tercinta, seperti Orang Kristen di Korsel.

  12. kenzo bogor on August 31, 2009 at 5:05 pm

    Syalom, makasi amang atas hal diatas. kita umat kristen senantiasa turut membangun negara kita dari dulu, telebih dipemerintahan umat kristen selalu berperan. tapi mungkin ada pihakpiak yd megabaikan. tapi kita tetaplah berjiwa besar. gbu

  13. Bergman Silitonga on August 31, 2009 at 7:25 pm

    Apa urgensi nya kantor pusat HKBP dipindah ke Jakarta? Demi efisiensi? Demi strategis? Jaman teknologi, komunikasi dan transportasi sekarang, dimanapun bisa kantor pusat. Jadi nggak perlu dipindah ke jakarta. Mari pertahankan sejarah HKBP dan Pearaja sebagai awal perjalanan misi Nommensen. Mauliate

  14. rumanap on September 1, 2009 at 1:25 am

    Ayat ini menasehati orang yang terbuang.. DTA membandingkannya dengan kita yang hidup di negeri sendiri.
    Sebagai orang Kristen, saya sangat setuju dengan ayat ini dan kenyataannya memang bila kita membangun kota dimana kita berada, kita akan disukai oleh kota tersebut. Apakah relevan bila saya ingin membandingkannya dengan ketika saya jadi karyawan (swasta)..: Bos saya bilang : Saya menempatkanmu ke… bangunlah perusahaan ini disana..

  15. Hedmon Tampubolon on September 1, 2009 at 3:27 pm

    Saya sih agak kurang setuju kalau org kristen hanya fokus pada pembangunan gereja saja…terlalu ekstrim pernyataan diatas.
    kalau tidak begitu, bagaimana mungkin gereja bisa berdiri sampai saat ini.Sebagai contoh, kehidupan ditengah kematian.

    Contoh lain: orang Kristen diarahkan utk bayar pajak, itu sudah bagian dari mensejahterakan negeri ini, walau mungkin tidak semua org Kristen. Sudah banyak kok orang Kristen yang terlibat dalam politik, ekonomi, hukum dan budaya. Kalau masih sedikit justru akibat ‘tekanan” terhadap kaum minoritas.

    Doa : Tuhan mampukan kami berjuang utk membangun negeri ini walau dgn hal kecil. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*