Jalan Mengasihi

Almanak Rabu 26 Agustus 2009:

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:20)

Allah tidak dapat dilihat dan diraba. Kita hanya dapat merasakan dan mengalami kehadiranNya melalui ciptaanNya, kasih dan karyaNya dan terutama firmanNya dalam Yesus Kristus AnakNya. Lantas bagaimana kita dapat mengasihi Dia?

Pertama-tama: dengan memberikan hati untuk mendengarkan firmanNya dan menuruti perintahNya setiap hari. Dan bersyukur. Itulah wujud kasih kita kepada Allah. Dia berfirman kepada kita melalui Alkitab dan kita dapat membaca Alkitab itu setiap hari. Bukan hanya membaca dan tahu namun melakukan apa yang diperintahkan, diamanatkan dan dipesankan Allah melalui Alkitab itu.

Kedua: dengan mengasihi Yesus. Allah menyatakan diriNya sepenuhNya kepada kita melalui AnakNya. Dalam Kristuslah kita berjumpa dengan Allah yang tidak terhampiri itu. Sebab itu kasih kepada Yesus adalah wujud kasih kita kepada Allah itu. Bagaimana mengasihi Yesus? Hiduplah menurut teladan dan ajaranNya. Tinggallah dalam Dia.

Ketiga: dengan mengasihi sesama kita. Inilah yang dipesankan Rasul Yohanes. Allah tidak dapat dilihat. Kita tidak dapat memberi langsung kepadaNya. Namun Allah menghadirkan menempatkan sejumlah orang dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah memberikan kita sesama untuk kita kasihi. Dengan mengasihi orang-orang yang dihadirkan Allah dalam hidup inilah kita menyatakan kasih kita kepada Allah itu.

Doa:
Ya Allah, Engkau sungguh mengasihi kami. Engkau memberikan AnakMu yang tunggal agar kami hidup kekal. Engkau memberkati kami setiap hari. Apakah yang dapat kami berikan kepadaMu, ya Tuhan, sebagai jawaban kami? Terimalah ucapan syukur kami. Ajarlah kami mendengarkan dan mentaati firmanMu setiap hari. Dan mampukanlah kami mengasihi sesama kami sebagai ungkapan kasih kami kepadaMu. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

16 Responses to “Jalan Mengasihi”

  1. Meb Says:

    barangkali dunia akan punya wajah yang berbeda kala cinta kasih terwujud dalam kehidupan manusia…. wajah yang damai…damai… dan damai akan tersebar ke pelosok dunia.
    horas 7x

  2. Lala Says:

    Mampukan aku menjalankan firmanMu hari ini ya Tuhan..ku mau lebih mengasihi lagi..amin.

  3. Agus Karta Parulian Panggabean Says:

    Saya rasa ayat seperti ini hanya ada di Alkitab saja. Karena itu berbahagialah kita sebagai pemilik dan pembaca Alkitab, sebab kita diberi peringatan akan pentingnya mengasihi sesama manusia jika kita benar-benar mengasihi Allah yang tidak kelihatan itu.

    Ada satu lagi yang lebih penting dari sekedar berbahagia, yakni BERBUATLAH. Jika ayat tsb mengajak kita untuk mengasihi sesama selain mengasihi Allah, maka kita harus melakukan perbuatan-perbuatan mengasihi sesama.

  4. Id's Says:

    Ya,sbg maanusia adakalanya kt jatuh atau terperangkap dlm persoalan salah pengertian atau sulit menerima dan memaafkan kesalahan org lain apalagi saudara sekandung.Falsafah Batak juga mengingatkan “manat mardongan tubu”.Dan jk terjadi salah2 kata, persoalan menjadi berlarut-larut shg timbul benci bahkan dendam.Falsafah itu sukses mengingatkan tp bukan solusi.Sbg Batak Kristen kt diingatkan untuk tdk membiarkan kebencian yg mungkin terjadi tsb berelarut-larut.Tetapi dgn Kasih Kristus kt dimampukan mengatasi rasa benci itu,bahkan terhindar dr hal2 yg kontra produktif itu.Melalui Kasih Kristus kt mampu mengasihi saudara dan sesama.

  5. Slamet Nainggolan Says:

    Nats 1 Yohanes 4:20 sudah merupakan Nats yang tidak asing lagi di telinga. Setiap tahun Nats ini pasti ada di Kebaktian (Gereja dan Partangiangan2). Dan ini adalah dasar dari segala sesuatu untuk kita manusia untuk lebih mengenal ALLAH dan sifatnya. Siapakah Sesamaku Manusia? Baca Lukas 10:29-37 Epistel Minggu Yang Lalu 23.08.09

    Dan hal ini sering sekali di lupakan, khususnya halak hita batak. Sering terjadi pertengkaran/ perselisihan karena ingin di akui sebagai siangkangan (di dalam adat), ribut karena jambar na sapeltek, ribut karena tidak dapat ulos, perebutan harta hingga terjadi pertumpahan darah, bertengkar karena perebutan kekuasaan di dalam rumah tangga, lingkungan bahkan GEREJA
    Jelas sekali, dari sifat-sifat demikian sangat tidaklah mungkin sifat yang mengenal ALLAH, karena di dalam hati hanya terbersik hati yang kotor dan penuh dosa?
    Ingat dan Jangan Lupa :
    1 Yoh 2:3-4 : Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
    1 Yoh 4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

  6. Jansen H. Sinamo Says:

    Biarlah Engkau semakin nyata dalam hidupku: hatiku, pikiranku, dan tubuhku seanteronya beserta sepak terjangnya agar dengan demikian aku sungguh bisa mengasihi Engkau dan sesamaku seperti yang Engkau maksudkan.

    Amin

  7. Tom Sihombing Says:

    Selamat panjang umur amang pdt DTA! Smga terus dimampukan-Nya mjd saluran berkat bagi “stakeholders”. To God be the glory
    PS: weekend @plembang nih?

  8. Robert Sibarani Says:

    Kasih Allah begitu Agung..yang telah memberikan AnakNya menjadi penyelamat dunia ini, Ya Yesus Tuhan kami ajarkan lah kami menjadi anak- anakMU yang sungguh sungguh mengerti akan rencana Mu dan mampu berjalan di jalanMu. Slamatkan lahkami dari keangkuhan dan kegelapan dunia ini. Tunutnlah lidah kami hanya mengaku dan meanggil namaMu saja ketika kami dalam kesesakan dan pencobaan dunia ini. Supaya karenanya NamaMu saja yang dimuliakan selamanya amen.

  9. Friska pardede Says:

    Senin yl aku jadi saksi di pengadilan pertikaian antar keluarga…..
    Kesaksianku pastilah menguntungkan buat yg lain disisi lain merugikan buat yg lainnya, aku memeng mencoba tidak membenci tersangka sepupuku ini tetapi hanya membenci perilakunya….tapi sulit sekali

  10. florasilaban Says:

    Pada saat kita tidak dihargai dan dilecehkan kebencian selalu datang dan dalam do’a aku meminta pertolongan kepada Tuhan agar aku tidak membenci orang yang telah melecehkanku.

  11. Andi Sianipar Says:

    Horas Pak Pendeta, Maaf kalau mungkin pertanyaan ini salah alamat atau melenceng dari blog ini. Tapi setidaknya saya bisa dapat jawaban dari Bapak. Singkat saja dulu pak Pendeta. Sebenarnya bagaimana mekanisme sanksi “RPP” ? (Ruhut-ruhut ni Parhuriaon) di organisasi HKBP ?. Saya ada tau seorang anggota jemaat HKBP (terdaftar resmi) yg sudah terikat perkawinan dgn istrinya (kristen), tapi pernah mengawini seorang wanita Moslem (nikah siri) di suatu kota, dan punya anak 2 orang. Saat ini baik istri pertama, maupun istri kedua sdh meninggal.

    Daniel Harahap:
    Menurut RPP pada dasarnya yang bersangkutan harus dikenakan sanksi. Sebelum menjatuhkan sanksi Parhalado harus menjumpai dan menanyakan kepada yang bersangkutan dan mencari bukti2nya. Jika benar maka Rapat Parhadolah yang memutuskan. Namun pertanyaan saya mengapa lama sekali dibiarkan sampai istri pertama dan kedua telah meninggal?

  12. Andi Sianipar Says:

    Terimakasih atas jawabannya pak pendeta. Jadi ceritanya begini : Sekitar 1 bulan yg lalu seorang anak muda, katakanlah XYZ (pria) bertemu dgn seorang berinitial AB (wanita). Ternyata mereka satu marga. Si XYZ bercerita bahwa dia sudah yatim piatu, dan tidak mengenal seorangpun dari keluarga dari Bapaknya. Singkat cerita XYZ lalu menunjukkan foto ayahnya, yang ternyata foto Bapa Uda kandung AB yg selalu dibawa-bawa XYZ di dalam dompetnya. Kaget setengah mati, AB mengorek keterangan dari XYZ. XYZ menceritakan bhw dia tdk pernah mengenal bapaknya. Mendiang ibunya selalu mengatakan bahwa ayahnya (GHI) sudah lama meninggal di kota B. NS lalu mengatakan bahwa Bapaknya (yg difoto itu masih hidup dan tinggal di C)

    Setelah ibunya LMN meninggal tahun 2005, XYZ akhirnya tinggal dgn Pamannya (RS) dan dari RS inilah akhirnya semua cerita itu terungkap, ……

    XYZ lahir sekitar thn 1980-an di kota B, ada akte lahirnya. Menurut keterangan XYZ, sewaktu masih kecil dia pernah suatu waktu mengantar ayahnya GHI ke bandara dibawa oleh ibunya DEF. Hingga berumur kelas 1 SD, ANS masih sering ke kota E utk melihat anaknya si XYZ, dan selalu menggendong-gendongnya.

    Sekitar tahun 1986, LMN dengan terpaksa dinikahkan dgn GHI karena LMN sudah hamil. Padahal LMN sudah tahu bahwa GHI sudah terikat perkawian yg sah dengan DEF. Pernikahan diadakan di kota J dan dilakukan secara Islam dengan memanggil Ustadz. Hal ini dilakukan karena LMN adalah seorang Moslem. Sebagai wali dari LMN pada saat itu adalah ibotonya sendiri, yaitu RS.

    Kehidupan terus berjalan, bau tidak mungkin ditutupi. Istri pertama GHI yaitu DEF meninggal tahun 2002. Kemudian istri keduanya (LMN) juga meninggal tahun 2005, karena kanker otak. RS sempat menelepon ke rumah GHI utk mengabarkan ini, tapi yg menerima telepon (mungkin GHI sendiri) berbohong dengan mengatakan bahwa GHI juga sudah meninggal. Ternyata Tuhan itu tidak menutup mata. Sebulan yg lalu Tuhan mempertemukan GHI dgn AB.

    Setelah semua informasi diperoleh AB akhirnya menelepon GHI dan menceritakan semuanya. Pertama-tama GHI mengingkarinya, tapi AB memberikan teleponnya kepada XYZ, dan XYZ memanggilnya “papa”. Akhirnya GHI dgn pesawat pertama berangkat ke kota T utk bertemu dgn XYZ. Suasana haru pun terjadi, GHI memeluk erat anaknya XYZ di bandara Polonia. Tapi hanya sampai di situ saja.

    GHI pernah mengajak anaknya XYZ ke kotanya tp XYZ tidak setuju karena GHI pernah mengatakan bahwa dia akan diakui sebagai anak yatim piatu yang diambil dari panti. Perlu Bapak Pendeta ketahui bahwa ibunya XYZ yaitu LMN dan ayahnya yaitu GHI adalah satu marga. . Dan hingga cerita ini saya tuliskan, GHI masih tercatat sebagai anggota aktif di sebuah gereja Batak.

    Kira-kira segini dulu ceritanya pak pendeta…. sy tunggu tanggapn pak pendeta. Horas mauliate.

  13. Friska pardede Says:

    Cerita Andi diatas membuat saya merenung amat lama, kok bisa2nya bapak GHI ini aktif di greja tatapi muncul lagi dalam piliran saya bukankah Yesus datang untug orang2 berdosa?

    Menurut saya yang harus dilakukan bapak GHI ini mengakui semua perbuatannya yg dilakukannya dgn kesadaran penuh dimasa lalu, sengaja menyakiti almarhum istri dan anak2nya,menyakiti orang2 terdekatnya (orangtua dan saudara2 bapak inipun saya yakin mengharamkan perbuatannya ) yang sudah pasti yang kelihatan saja dia tidak hormati apalagi Tuhan yang tidak kelihatan.

    Anaknya tidak berdosa yang berdosa adalah bapaknya, makanya si GHI ini harus bertanggung jawab penuh, dia harus mengakuinya dihadapan semua saudara2nya juga pendeta dan grejanya dan dengan penyesalan yang sungguh2 bahwa akibat pilihan yang salah itu dia siap memperbaiki semuanya ,kalau sudah begini urusan yang lain adalah urusan dia dgn
    Tuhan.

    Maaf kalau saya sok tau menanggapinya
    Para bapak2 yang terhormat(juga ibu2), lihatlah krn kitidak mampuan mengatur diri jadilah cerita pilu yang amat menyengsarakan korban2 dikemudian hari bahkan sampai sepanjang hidupnya, cobalah berpikir panjang untuk melakukan hal2 yang seperti diatas, sebab pernah saya tau juga diarisan margaku,marga suamiku dan di kantorku ada cerita2 seperti ini, o…portibi nalao tudia nama ho…..

  14. Andi Sianipar Says:

    Terimakasih atas tanggapan Ibu Friska Pardede. Memang inilah kesaksian saya, TUHAN TIDAK PERNAH BERHENTI BEKERJA.

    Sejak masih di bangku kuliah dan sampai saat ini, dari sisi ekonomi, Tuhan tetap memberikan rejeki yang berkelimpahan kepada GHI. Semua anak GHI yg sudah berkeluarga dan yg belum berkeluarga masih tetap dibantu biaya hidupnya oleh GHI, hingga saat ini.

    Semua saudara keluarga GHI benar - benar heran dan pusing melihat kelakuan si GHI ini yg sedikitpun tidak menyesali semua perbuatannya dulu. Padahal umur sudah setengah 6 sore. Malahan GHI secara arogan dengan pengacaranya akan menyeret semua saudara kandungnya ke pengadilan karena persoalan surat wasiat dan warisan dari Bapak mereka sendiri. Ini case lain lagi ya ….

    Benar bahwa XYZ tidak bersalah, dan semua keluarga besar GHI dapat menerima kehadiran XYZ dan bahkan ada saudaranya yang berebut supaya XYZ tinggal di rumahnya. Begitulah dulu Ibu Friska Pardede…. kita lanjut lagi besok.

  15. Friska pardede Says:

    Katakan saja pada si GHI ini, emangnya bila sakratul maut sudah dekat…bisa berbuat apa para pengacara dan uang yg banyak itu hanya sepasang jas dan peti mati.

    Kira2 bila waktunya tiba gimana ya pembacaan riwayat hidup orang ini…pernahkah dia memikirkannya

  16. Andi Sianipar Says:

    Terimakasih atas tanggapannya Ibu friska.

    Memang suatu saat, hari itu akan datang dan barangkali tidak akan ada anggota keluarga besarnya yang akan datang kalau melihat sengitnya perselisihan diantara mereka sesama saudara kandung. Dan perselisihan itupun sudah sampai di tingkat anak. Firman Tuhan yg mana yg cocok utk mereka ? Apakah salah bila ada tindakan “pembiaran” pada persoalan ini ?

    Sewaktu Natal tahun yg lalu (saat itu persoalan mereka baru 3-4 bulan dimulai), ada saudaranya yang mengirim sms dgn ucapan selamat hari natal kepada GHI, tapi apa jawabannya ????? ” Sakkui ma selamat hari Natal mi, ndada holan na sa ama sa ina na bersaudara, ido didokkon Tuhan i …. “

Leave a Reply