Roh Kemerdekaan

Almanak Sabtu 22 Agustus 2009:

Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaaan (2 Korintus 3:17)

Dalam hidup ini banyak sekali yang bisa mengikat dan membelenggu kita atau membuat kita tidak merasa bebas menjadi manusia yang sesungguhnya, berbuat baik dan benar, serta mewujudkan diri kita sebagai pribadi yang utuh, spesial dan mulia. Sebagian orang terpenjara oleh dosa-dosa masa lalunya. Dosa-dosa di masa lalu itu terus-menerus mengganggu dan menekannya. Sebagian orang lagi terpenjara oleh keinginan, ambisi dan obsesinya sendiri. Ada juga yang terpenjara oleh dendam dan kebenciannya. Begitu kuatnya kemarahan itu sehingga dia tidak mampu memaafkan dan berdamai dengan sesamanya. Ada juga orang yang terpenjara oleh perselingkuhan atau affairnya. Yang lain terpenjara oleh dukacitanya.

Hari ini Tuhan  mengajak kita lagi untuk merdeka dari berbagai penjara, kurungan atau borgol yang menghalangi kita menjadi manusia seutuhnya itu. Roh Kudus mau membebaskan atau memerdekakan kita dari semua itu bahkan juga dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2). Dimana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan (2 Kor 3:17). Dia ingin agar tubuh dan jiwa kita benar-benar merdeka termasuk untuk menyatakan yang benar, melakukan kasih dan kebajikan, dan menyembah Dia.

Mari kita terima anugerah kemerdekaan ini dengan syukur dan hormat. Jangan mau lagi diperbudak oleh apapun juga. Tuhan memanggil kita menjadi manusia bebas dan mulia.

Doa:

Ya Allah, utuslah RohMu ke dalam hati kami membebaskan kami dari berbagai belenggu  yang menghambat kami menjadi manusia seutuhnya, dan memerdekakan kami  melakukan kehendak kasihMu. Dalam Engkau kami menemukan diri kami sebagai pribadi yang bebas, mulia dan berharga. Ijinkanlah kami senantiasa tinggal dalam kasihMu. Dalam nama Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

6 Responses to “Roh Kemerdekaan”

  1. Slamet Nainggolan Says:

    Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaaan
    Firman ALLAH allah pada nats tersebut sangat tegas dan jelas.

    Saat ini memang benar Kristen di tanah Air bebas dalam beribadah, walaupun pada beberapa daerah terdapat beberapa konflik.
    Tetapi kita Kristen saat ini memang telah bebas secara external, tetapi secara internal. Dominan umat kristen sama sekali tidak merdeka.
    Contoh :
    Pada saat Sermon penatua yang dipimpin langsung oleh pendeta sering muncul perkataan yang emosional
    Masih menonjolkan daerah
    Masih menonjolkan lului di huriamuna di lului hami di hurianami
    Sermon dengan adanya jaminan uang menunggu setiap mengikuti sermon
    Minum-minuman ber-alkohol di dalam Gereja (umumnya saat pesta pembangunan)
    Merokok di kala sermon dan setelah kebaktian Minggu, di dalam Gereja.
    Dan banyak hal lainnya. Mari kita perbaiki agar kita umat Kristen dapat benar-benar Medekan secara Internal (Rohani).
    Bilamana Akar pohon tersebut rusak/ busuk bagaimanakah carang atau rantingnya? Tentu juga akan layu, mati dan membusuk.
    Rm. 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Kesimpulan :
    Marilah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus kepada ALLAH, agar ALLAH sudi hadir di hati kita sehingga dengan kehadirannya di hati kita, kita dapat MERDEKA
    AMIN

  2. Jansen H. Sinamo Says:

    Tinggal mengaminkan, mengafirmasikan, dan memproklamasikan kemerdekaan itu sebenarnya, maka niscaya kita merdeka.

    Yang jadi soal kalau seseorang malah betah terpenjara, senang terborgol, dan memilih terbelenggu.

    Merdeka…

  3. Sibuea, RH Says:

    Setuju amang Slamet Nainggolan……
    Perpecahan di Gereja terjadi karena “GEREJA TIDAK LAGI MERDEKA SECARA ROHANI KARENA PARA SINTUANYA MEMBUAT BLOK-BLOK”. Beruntunglah jemaat yang cuma aktif di hari minggu karena semua pelayanan itu terasa indah…tapi ketika kita turut ambil bagian dalam pelayanan suasana pro dan kontra amat terasa di kalangan sintua…kemana HOLONG yang terbesar itu? Apa yang mau mereka cari? Untuk siapa mereka melayani?

    Daniel Harahap:
    Ah tidak seseram itulah. :-)

  4. Friska pardede Says:

    Mungkin di gereja yang amang DTA pimpin tidak seseram itu, karena saya yakin seorang pimpinan yang baik (uluan) semuanya dimiliki oleh amang terlihat dari cerita2 di blog ini, kalau pimpinannya bisuk dan penuh tanggung jawab maka ke bawahnya akan sungkan tidak mengikuti perilaku yang d i contohkan sang uluan, tetapi kalau uluannya maburadul ya amburadul jugalah ke bawahnya.

    Pengalaman pribadi nih, saya termasuk jemaat yg selalu dilibatkan dalam pencarian dana ketika greja kami masih dalam tahap pembangunan, dan pertama kali melaksanakannya mungkin panitia terkesan dgn hasil pekerjaan saya jadi, hampir setiap ada tahapan pembangunan berikutnya pastilah saya ditunjuk entah itu jualan kupon atau mendatangi jemaat di wijk kami sampai ke daerah parserakan dll, dan bentuk penghargaan yang saya terima ketika greja kami MBPO (mameakhon batu ojahan) atau peletakan batu alas gereja sayalah yang menyelempangkan selempang selamat datang ke ompui phorus Pdt.DR.J.R Huttauruk dan betapa bangganya saya saat itu, yang sebelumnya saya sdh mandele menyaksikan pertikaian antara sintua dan panitia yg entah apa persoalannya sampai banting2 kursi dan keluar kata2 kotor di bilut parhobasan yg seharusnya sakral itu.

    Sejak saat itu saya putuskan tidak mau lagi terlalu terlibat dalam kepanitiaan apapun, sebab kemudian uluan yang ditempatkan di greja kami semakin tidak berkualitas( maaf kalau terlalu kasar), bahkan mantan uluan greja kami sdh sampai dibawa ke pengadilan krn menurut saya kurang menjalankan ke uluannya dgk sikap yang kristiani dan penggantinya yg baru berapa bln ini kurang lebih sama saja.

    Minggu lalu di ibadah siang ada acara yardidi utk 7 org bayi dari 6 keluarga, kebiasaan amang ini kalau kotbah selalu diiringi nyanyian dan minggu kemarin ada 6 nyayian ditambah baca alkitab lagi sebanyak 35 ayat di luar nats kotbah, sehingga total 1 jam waktu amang ini berkotbah ditambah persembahan ke depan dan koor nya ada 6 dan tak satu kalimatpun kotbah itu ditujukan ke pada orangtua yg membabtiskan anaknya, ketika pembabtisan di mulai semua bayi2 itu menangis krn mungkin kelamaan dan kepanasan, si pemain orgen kelabakan setiap pendeta meminta lagi merende ma hita sian buku ende no sekian padahal si par-orgen membuka Buku Logu yg sangat berbeda nomornya dgn Buku Ende o tahe….

    Daniel Harahap:
    Pendeta, sintua dan anggota jemaat biasa harus belajar hal-hal sederhana di bawah ini:
    (1) Berkotbah dengan catatan tertulis dan mendisiplinkan diri tidak keluar dari catatan
    (2) Berkomunikasi dengan santun termasuk saat lelah dan marah
    (3) Berdoa dengan ringkas
    (4) Bernyanyi koor paling banyak sekali dalam dua minggu, dan tidak bernyanyi di dua koor sekaligus pada saat yang sama
    (5) :-)

  5. Id's Says:

    Ya dan Amin, dmn Roh Allah hadir disitu ada kemeredekaan.Masalahnya,dmn dan bagi siapakah Roh Allah hadir?.Jawabannya: Pasti bagi org yg mengasihi Allah.Bukan mengasihi kemaren atau besok,tp yg mengasihi Allah saat itu .Posisi atau jabatan seseorg atau kelompok adl hal2 duniawi bukan represent asi iman atau rohaninya.Bukankah tiap org dicobai keinginanya msg2?.Mari kt dapatkan kemerdekaan kt msg2 melalui pertolongan dan kehadiran Roh Allah disetiap tempat dan waktu.

  6. mebs Says:

    Mantap…. Merdeka :)

Leave a Reply