Bahan: Galatia 5:13-16
1. Kemerdekaan adalah karya dan anugerah Allah
Tuhan Allah memerdekakan umatNya dari perhambaan Mesir. Itulah pokok kepercayaan dan puji-pujian umat Israel sepanjang masa. Namun bukan hanya satu kali itu saja Tuhan memerdekakan umatNya. Beberapa abad setelah peristiwa keluaran (eksodus) dari Mesir itu Tuhan Allah kembali menunjukkan kuasaNya memerdekakan umatNya dari Babel dan membawa mereka pulang ke tanah airnya. Namun puncak karya Allah memerdekakan umatNya itu terwujud dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus: Allah membebaskan umatNya dari kuasa dosa dan kematian.
Rasul Paulus mengatakan: Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. (Roma 6:18). Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. (Roma 8:2). Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:17). Hal ini sama dengan apa yang disabdakan Yesus sendiri: kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.(Yohanes 8:32). Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. (Yohanes 8:36).
Dengan pemahaman di atas jelaslah bagi kita bahwa kemerdekaan atau pembebasan kita adalah anugerah Allah semata. Dengan kata lain: Allah-lah yang mengerjakan kemerdekaan itu dan menganugerahkannya kepada kita. Sebab itu Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Galatia: Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)
2. Kemerdekaan dari dan untuk apa?
Kemerdekaan biasanya dipahami sebagai merdeka dari atau bebas dari sesuatu yang membelenggu, menghalangi atau membatasi kita. Contoh: seorang bekas narapidana mengghayati kebebasannya dari empat tembok penjara, dari terali besi dan borgol yang sangat menghalangi atau membatasinya bergerak. Seorang anak mungkin menikmati kebebasan dari tugas-tugas sekolah saat libur. Bangsa kita sesaat lagi merayakan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda dan Jepang. Kita sering mendengar istilah-istilah: bebas dari penyakit, bebas dari gangguan keamanan, bebas dari kemiskinan, bebas dari kebodohan dan lain-lain. Disini penyakit, gangguan keamanan, kemiskinan dan kebodohan juga dianggap sebagai hal-hal yang menghambat hidup kita. Dalam Alkitab kita juga menemukan makna kebebasan dari belenggu atau penjara ini. Yaitu: bebas dari perhambaan Mesir atau bebas dari belenggu dosa.
Namun Alkitab mengatakan kemerdekaan “dari” semacam itu belumlah cukup sebab masih dangkal dan bersifat pastif. Rasul Paulus dalam Surat Galatia justru menantang kita menemukan makna kemerdekaan atau kebebasan yang lebih dalam, yaitu kebebasan untuk. Bebas dari penjajahan, kemiskinan, kebodohan dan penyakit adalah baik. Namun pertanyaan lebih penting: apa gunanya kebebasan atau kemerdekaan itu bagi kita? Untuk apakah kita gunakan kebebasan atau kemerdekaan itu?
Contoh: jaman sekarang kita bebas bergerak dan berpergian kemana saja dan kapan saja, tidak dikenai jam malam misalnya, tidak ditanya-tanya oleh polisi atau disyaratkan meminta ijin. Pertanyaan: kemanakah kita pergi? Untuk apakah kebebasan bergerak itu kita manfaatkan? Di negeri ini kita bebas memiliki uang. Pertanyaan: untuk apakah kita gunakan uang kita tersebut?
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Galatia agar tidak mengggunakan kemerdekaan yang sudah diperolehnya untuk melakukan dosa atau kejahatan. Itu juga yang dinasihatkan Rasul Petrus (1 Pet 2:5). Dengan perkataan lain Tuhan memanggil kita untuk merdeka bukan supaya kita menjadi jahat melainkan supaya kita menjadi baik dan melakukan kasih. Kita bebas atau merdeka bukan supaya bisa bertindak sekehendak hati kita namun justru supaya kita bisa bertindak benar dan baik bagi orang lain. Kebebasan atau kemerdekaan itu bukan untuk membuat kita egoistis dan individualistis melainkan justru penuh kasih.
Disini kita diingatkan nasihat Rasul Paulus: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. (1 Korintus 6:12). “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (1 Kor 10:23). Jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. (1 Kor 8:9). Contoh: kita bebas makan, minum dan berpakaian apa saja. Namun pertanyaan: untuk apakah semua kebebasan itu?
Pemahaman di atas mendorong kita memahami kaitan erat antara kebebasan dan tanggungjawab. Semakin bebas kita maka semakin besar pula tanggungjawab kita. Sebaliknya: semakin bertanggungjawab kita semakin bebas pula jiwa dan hidup kita. Contoh: ketika negeri kita masih di bawah penjajahan Belanda maka penjajah itulah yang bertanggungjawab membangun jalan, jembatan, sekolah dan rumah sakit. Namun setelah kita merdeka maka kita sendirilah yang harus bertanggungjawab membangun semua itu. Contoh lain: ketika seorang anak bebas memilih jurusan sekolahnya maka dia harus bertanggungjawab menyelesaikannya. Ketika seorang bebas menentukan jodohnya maka yang bersangkutan harus bertanggungjawab atas kehidupan pernikahan dan rumah tangganya. Sang Pengkotbah mengatakan bahwa kita semua harus menghadap pengadilan Tuhan (Pengk 9:10) Setiap orang harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.
Namun menarik direnungkan: penolakan tanggungjawab justru membuat kita kehilangan kebebasan kita. Itulah yang terjadi misalnya dengan orang-orang kecancuan narkotika atau kriminal. Berhubung yang bersangkutan tidak mau bertanggungjawab maka akhirnya dia kehilangan kebebasannya. (Pdt Daniel T.A. Harahap)
4. Kemerdekaan Dalam Tuhan
Kita dimerdekakan dari perhambaan dosa agar menjadi hamba Allah. (Roma 6-7). Dengan menjadi hamba Allah kita sebenarnya menjadi orang-orang paling bebas dan merdeka. Mengapa? Karena kita tidak perlu lagi memperhambakan diri kepada apapun atau siapapun juga. Kita cukup hanya memperhambakan diri kepada Allah atau kebenaran, dan hanya rela diperintah mutlak oleh Allah atau kebenaran itu. Sebab itu kita tidak lagi menjadi hamba uang, budak nafsu atau pelayan dosa. Kita tidak akan takut dan takluk lagi kepada perintah dosa.
Pertanyaan:
(1) Apa sajakah yang masih memenjarakan atau memborgol Saudara dan saya sampai saat ini?
(2) Jika Saudara telah dimerdekakan dari berbagai penjara atau borgol itu apakah yang akan Saudara lakukan?
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Terimakasih amang Pdt atas renungan hari ini, saling melengkapi dengan apa yang kami bahas tadi malam di PA sektor.
Krennn!
merdeka….
)
Jawaban saya untuk pertanyaan pertama :Sepertinya tidak ada lagi deh yang memborgol dan memenjarakan saya.
Lalu untuk pertanyaan ke dua :mencoba melakukan yang terbaik untuk apapun yang menjadi tanggung jawab saya.
Mis : jadi jemaat yang baik, jadi pegawai yang baik, jadi warga yang baik, dan yang terpenting jadi ibu yang baik untuk anak2ku dan yang paling utama berusaha menjadi putri yang baik bagi Bapa disorga
Btw …apa sih amang hubungan gambar itu dgn renungan ini?
Trima kasih buat renungannya amang…
Mungkin gambar itu mau menunjukkan kemerdekaan/kebebasan yang kebablasan… Naek kereta api…. ya bebas aja naek. Klo ga bisa duduk, ya di atas gerbongpun jadi… Mungkin karena yang ga bisanya di ban kereta api itu…
Saat ini saya sudah merasakan kemerdekaan ,akan tetapi kemerdekaan tersbut harus dipertanggungjawabkan apakah sudah diisi dengan baik atau belum.
Luar biasa Amang, makna kebebasan yang di gambarkan Amang melalui penumpang kereta yang berjubell sampi ke atap gerbong kereta. Begitu sensitf Amang sampai sempat untuk membuat obek foto tersebut. . . . . tapi kekebasan yang berahklak ya . . . dan punya etika dan tidak kebablasan dan haus ada yang di ingat sebagai tanda . . .Thank U