Rapat Pendeta HKBP: Ada Pesan?

August 2, 2009
By Daniel T.A. Harahap

rapat-pendeta-hkbp.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Para pendeta HKBP akan mengadakan Rapat di Seminarium Sipoholon 3-7 Agustus minggu depan di bawah terang tema: Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati (Lukas 6:36). Rapat Pendeta Hatopan itu sungguh besar. Yang hadir diperkirakan kurang-lebih 1500 (baca: seribu lima ratus) orang pendeta HKBP. Biaya perhelatan sebagaimana diterakan dalam proposal Rp 1.5 milyard (belum termasuk ongkos peserta). Namun bukan hanya dari segi keuangan. Seribu lima ratus pendeta demi rapat tersebut harus meninggalkan jemaatnya paling sedikit selama lima hari. Pertanyaan: sepenting apakah rapat pendeta itu sehingga HKBP harus mengeluarkan milyardan rupiah (termasuk untuk ongkos dan sangu pendeta di jalan)? Apakah gerangan yang akan dihasilkan oleh Rapat itu untuk HKBP secara keseluruhan dan untuk seluruh warga jemaat? Lantas apa pula makna pertemuan 1500 pendeta itu bagi masyarakat dan negeri ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas masih terus mengganggu hati dan pikiran saya hingga pagi ini.  Dari proposal yang saya baca di web HKBP ada sejumlah hal yang hendak dibicarakan (dan diputuskan?), antara lain: penyeragaman teknis pelayanan pendeta HKBP, teologi persembahan, perkawinan, sakramen, pelayanan holistik dan transformatif dan seperti biasa juga tentu menyangkut poda tohonan (dogma jabatan gerejawi) dan kesejahteraan pendeta.Tentu saja tema yang “mengusik” dan sangat kena: Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Sementara saya mengendapkan dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin kawan-kawan bisa memberi komentar, pesan, kesan atau harapan kepada Rapat Pendeta HKBP 3-7 Oktober nanti. Pastilah itu sangat berguna bagi saya dan kami para pendeta. Ditunggu. Horas. Sangap ma di Jahowa.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

70 Responses to Rapat Pendeta HKBP: Ada Pesan?

  1. O. Pasaribu on July 27, 2009 at 9:01 am

    Menurut saya jumlah peserta terlalu banyak. Disamping tidak efisien pastilah tidak bisa lagi fokus pada rapat. Seharusnya dibuat utusan saja misalnya per resort. Apakah ini untuk mengakomodir pendeta resort yang tidak cocok (dang masipangkulingan) dengan pendeta pagaran seperti di gereja kami? Di resort kami ada 3 pendeta, semuanya berangkat. Ini pemborosan luar biasa.
    Semoga setelah pulang dari Pearaja mereka dapat akur.

  2. Horas Simatupang on July 27, 2009 at 9:06 am

    Syalom Amang. Au Horas Simatupang manitip pesan saotik tu Amang asa tolong jo dipasahat di Rapot Pendeta.
    Begini Amang, saya bergereja di HKBP Ressort Sidikalang II Distrik VI Dairi.
    Dua minggu yang lalu saya mendengar warta jemat (tingting) tentang pemcatan atau ruas bali huria
    Karena anak mereka lahir tidak tepat waktu dengan tangal pemberkatn nikah (dang hombar tu tingki pamasumasuon nasida).
    Oleh karena itu mereka di keluarkan dari huria.

    sementara kita tau dan kita lihat banyak warga hkbp yang seperti itu dan hkuman nya bukan langsung dikeluarkan atau bali huria. bahkan anak sintua sendiri ada yang seperti itu.

    Yang saya tanyakan, apakah memang aturan HKBP seperti itu?
    Apa tidak ditogu-togu dulu atau diperingatkan dulu?
    Bagimana jika tidak ada huria atau gereja lain yang mau menerima mereka, apa mereka tidak perlu bertobat lagi?

    Mohon di bahas amang. mauliate.

  3. Waspada Marbun on July 27, 2009 at 9:21 am

    Rapat Pendeta HKBP yang akan dihadiri 1500 Pendeta dengan tujuan seperti proposal yang telah diterangkan oleh Amang Pendeta diatas, menurut saya prinsipnya bagus. Jika kita menyimak tata cara pemberkatan perkawinan, persembahan, dll telah berbeda beda di hampir setiap Gereja. Tergantung bagaimana Ressort atau Huria melaksanakannya. Usulan dari saya agar di tetapkan jika Para Pendeta mau Berkotbah apakah mengajak Jemat membaca Nats Kotbah secara bergantian? atau lebih baik Pendeta yang berkotbah yang akan membacanya?. Menurut saya lebih baik Pendeta mebacanya agar lebih hikmat dan di mengerti. Biaya rapat memang tinggi, dan bukan hanya 1.5M, tapi bisa 3 M termasuk iaya lainnya yang semuanya di tanggung oleh HKBP, cq Ressort dan perorangan “Thanks God”. Yang menarik, karena semua Pendeta akan berada di Tarutung selama 1 minggu (termasuk perjalanan), jika ada pelayanan yang harus dilakukan oleh Pendeta hal ini yang menjadi dilema di setiap Huria. Mungkin bisa kita panggil Pendeta Yang telah Pensiun, atau Pendeta dari Gereja lain, misalnya GKI. Apakah adaa saran yang lain??. Horas Amang selamat Marraport. JBU

  4. m tampubolon on July 27, 2009 at 9:52 am

    Selamat pagi Amang, saya sebagai simpatisan gereja HKBP, cuma mengatakan selamat mengadakan rapat, smoga damai sejahtera dan roh kudus yang bekerja demi warga jemaat HKBP. Disamping plus – minus nya.

    Bravo HKBP

  5. minton on July 27, 2009 at 10:16 am

    Selamat pagi amang DTA. Usul yg bisa kami berikan sehubungan dengan Rapat Pendeta yg akan digelar di Sipoholon 3-7 Agustus 2009 yad.
    Mohon di seragamkan tata Ibadah di HKBP hal-hal berikut :
    Sebagaimana yg saya lihat dan ikuti Ibadah minggu di HKBP Kertajaya Semarang tahun lalu juga di HKBP Serpong 2 minggu terakhir Juli 2009 ini,
    dan di GKI pada umumnya saya sungguh merasa lebih bersuka cita mengikutinya.
    1. Ada petugas (Penatua/Jemaat) yamg menerima jemaat yg akan mengikuti Ibadah sambil menyerahkan tata acara & tingting bagi gereja
    yg sdh menyediakan secara tercetak.
    2. Sebelum acara dimulai Liturgis/Penatua mengumumkan bila ada ralat dalam tata acara atau salah cetak,utk menjaga kehikmatan Ibadah dimohon mematikan/silent HPone, mengucapkan selamat datang bagi
    Jemaat yg baru pertama beribadah pada gereja tersebut.
    3. Kantong persembahan diserahkan/diterima oleh seorang penatua/liturgis pada/dari petugas yg mengedarkan kantong kolekte ke jemaat.
    4. Setelah Ibadah selesai Jemaat di beri kesempatan menyalami Pendeta dan Liturgis yg memimpin Ibadah.

    5. Sosialisasi tentang uang persembahan itu agar di serahkan secara utuh dimasukan dalam kantong persembahan sangat baik.

    Itulah amang yg bisa kami usulkan, biarlah Tuhan yg menjadi pengharapan kita agar semakin teguh iman serta penyajian ibadah kita bagi kemuliaan Allah. Mohon maaf kekurangan kami jemaat HKBP. Trima kasih amang, Selamat mengikuti Rapat Pendeta HKBPyad. Tuhan bersama kita.

  6. hodner Ltoruan on July 27, 2009 at 10:19 am

    Selamat melaksanakan “Rapat Pendeta HKBP”. Sebagai ruas na metmet, kami mengharapkan agar para “Amang” Pendeta di Seminarium Sipoholon dapat merumuskan “arah yang jelas” pelayanan HKBP ke depan. Selama ini kami sering merasakan “ketidak adilan” dalam pelaksanaan aturan, contoh: pelaksanaan “Sidi” (malua). Kenapa ada yang sudah latihan, karena tidak lulus ujian tidak boleh sidi, sementara di pihak lain boleh “menompang” dll, dan beberapa hal lain. Kami mohon ada aturan yang jelas dan tegas.

    Kami juga sering mendengar (anekdot), jika di Sipoholon para pendeta berkumpul sering saling unjuk “kepribadian” (mobil pribadi, rumah pribadi, dll), kami sangat berharap rapat Pendeta kali ini lebih banyak unjuk kemampuan pelayanan ketimbang hal-hal pribadi di atas. Mohon maaf, jika bahasa ini agak “menyinggung”. Sekali lagi Selamat menjalankan Rapat Pendeta yang baik.

  7. Marlina on July 27, 2009 at 11:33 am

    Saya tertarik dengan teologi persembahan dan perkawinan.Belakangan ini banyak jenis persembahan yang termuat dalam tingting seperti Pelean Daud, Perpuluhan,dll. Apakah HKBP telah memiliki aturan mengenai berbagai persembahan yang ada? Khusus perpuluhan, sepertinya HKBP belum memberikan perhatian penuh. Jika warga jemaat diberikan pemahaman penuh mengenai teologi persembahan dan dibarengi dengan gereja yang transparan dalam pengelolaan persembahan, maka pengabaran injil, pelayanan-pelayanan gereja, termasuk kesejahteraan pendeta menjadi lebih mudah untuk diwujudkan.

    Khusus tentang perkawinan, saya mengalami sendiri ketidakseragaman aturan yang ada. Calon suami saya (sekarang sudah menjadi suami saya) Katolik harus mengikuti Sidi di gereja saya (HKBP Jatiwaringin), sementara itu aturan di HKBP Cempaka Putih (kebetulan calon suami tinggal di Cempaka Putih) tidak mengharuskan calon suami saya mengikuti Sidi karena telah mengikuti sakramen yang menyerupai Sidi serta sudah adanya konsesus di dalam PGI. Dalam satu wilayah Jakarta saja tidak ada keseragaman aturan mengenai hal ini.Saya mengutarakan hal ini bukan untuk menyudutkan gereja HKBP manapun, tetapi ini kenyataan. Mengapa tidak ada aturan yang sama?..

  8. Bergman Silitonga on July 27, 2009 at 1:22 pm

    Saya yang awam tidak berani memberi komentar, karena itu ulaon tohonan dan tentunya juga sakral. Hanya saja saya berharap rapat ini membuahkan sesuatu yang baru dalam pelayanan. Saya percaya HKBP sudah sangat dewasa menentukan arah, visi dan misinya. Selamat mar rapot ya amang, Tuhan memberkati

  9. M. S. Siahaan on July 27, 2009 at 2:30 pm

    Dear Pdt. Harahap,
    Saya senang ada diantara Pendeta yang “mau” memberi komentar tentang Rapat Pendeta Hatopan (“RPH”) ini.
    Menurut saya, paling tidak ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan “manfaat” dari suatu pertemuan dengan skala besar seperti RPH ini.

    Pertama, pendekatan “cost benefit ratio”. Pendekatan ini untuk melihat seberapa bermanfaatkah Rapat Pendeta Hatopan itu dibandingkan dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi kalau harus ditambahkan dengan biaya “Pre Rapat Pendeta” yaitu biaya rapat dari masing-masing Pendeta di setiap Distrik.

    Kedua, pendekatan “efektifitas” rapat. Saya agak ragu tentang efektifitas suatu rapat dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Pengalaman mengikuti rapat-rapat baik di tingkat Distrik maupun Hatopan membenarkan hal tersebut (maaf ini, banyaknya peserta yang hanya merokok dan ngobrol serta harus bolak-balik dipanggil panitia untuk memasuki ruang sidang, apalagi ini pesertanya hanya Pendeta, sudah pasti ajang pertemuan ini menjadi ajang reuni)).

    Jadi, Pdt Harahap, dari penjelasan saya di atas, saya sependepat dengan Bapak bahwa HKBP terutama para Pendeta perlu untuk mengkaji ulang pelaksanaan RPH ini. Perlu pemikiran yang jernih untuk melihat urgensi suatu pertemuan. Selain itu, perlu mempertimbangkan kebersamaan sesama “partohonan”. Bapak bisa bayangkan kalau ke enam pengemban tohonan di lingkungan HKBP itu, berkeras masing-masing harus memiliki rapat-rapat tersendiri. Beberapa tahun yang lalu, partohonan Guru Huria sudah melaksanakannya. Bagaimana jadinya kalau suatu saat kami para sintua juga memaksa untuk memiliki Rapat Sintua Hatopan?

    Terimakasih, Selamat berRPH, Tuhan memberkati.

  10. Nakita on July 27, 2009 at 4:07 pm

    Amang, kalau bisa, diselipkan beberapa usulan ini: HKBP pusat dan seluruh cabangnya membuat laporan keuangan dan diaudit independen.

  11. Nakita on July 27, 2009 at 4:11 pm

    Oya satu lagi. Saya punya anak usia sekolah (4 tahun). Sayangnya di lingkungan saya, sulit sekali ditemukan PAUD (pendidikan anak usia dini) – seperti paly group, pre school atau TK. Kebanyakan PAUD seperti ini diselenggarakan oleh lingkungan mesjid. Hampir di setiap mesjid, musholla ada play group s.d. TK.

    Mengapa gereja tidak ambil pelayanan PAUD ini? Padahal setahu saya, HKBP di huta, banyak yang buka sekolah. Mengapa justru di Jakarta, tidak ada yang seperti ini? Paling tidak, anak-anak yang sekolah minggu di suatu HKBP bisa juga menikmati PAUD ini (dekat rumah masing-masing).

  12. meb on July 27, 2009 at 4:15 pm

    mungkin perlu untuk dibuatkan standar kostum untuk ke gereja, jangan terlalu mewah la, ga cocok ke gereja dan bikin masy. sekitar iri aja itu…
    horas7x

  13. richard hutahaean on July 27, 2009 at 7:16 pm

    Mauliate ma tu Jahowa.
    Singkat saja, saya tetap mengajukan usul yang mudah-mudahan dapat amang suarakan di Rapat Pendeta. Hanya satu usul saya : Periodeisasi Sintua.

  14. rady on July 27, 2009 at 8:48 pm

    saya usul periodeisasi di Guru Sekolah Minggu dan adanya perhatian rutin dari pendeta untuk Sekolah Minggu (misal: sekali dua bulan).

  15. Ruth siahaan on July 27, 2009 at 9:37 pm

    amang ..
    saya Ruth Br siahaan,
    umur saya 15 jalan 16 tahun

    saya organis baru di HKBP saya di jakarta ..
    melihat kakak2 saya yg (juga) organis .. saya sering menemukan kakak saya tiba2 di “todong” mengiringi sebuah lagu di tengah2 khotbah (mungkin memang sudah kebiasaan si pendeta amang , kalau berkhotbah di selingi dengan lagu2 agar tidak bosen mungkin , atau ada sebuah lagu yg temanya sama dengan khotbah yg akan ia bawakan ..) .. mereka yg senior dari saya saja amang terkadang kagok dengan “todongan” itu .. apalagi saya yg masih junior ..
    kebetulah lokasi organnya di muka gereja (di depan) .. jadi pasti dari semua penjuru gereja dapat melihat dengan leluasa si-organis .. jadi seandainya tiba2 saya di todong sama pendeta untuk mengiringi nyanyiannya (yg terkadang lagu yg tak saya kenal) apakah saya harus menolak ?? (seandainya di tolak .. sebagai manusia pasti saya akan malu .. ,, di depan jemaat menolak itu .. dan pasti akan banyak cibiran “katanya organis ko ga bisa ngiringin lagu nya” .. ,, seandainya saya menerima .. bagaimana mau main .. lagu nya aja gak kenal ..)

    jadi yg mau saya titip salam kan pada pendeta2 itu ..
    kalau mau menggunakan “jasa” saya (atau parorgen lainnya) untuk mempe-ramai khotbahnya dengan nyanyian di iringi musik tolong lah di konfirmasikan dulu kepada pemusik .. minimal bertanya .”apa anda kenal dengan lagu ini?”.
    kami para organis HKBP tidak genius .. tidak semua lagu bisa saya mainkan secara tiba2 ..
    perlu belajar sedikit ..

    saya rasa hanya itu amang “UNEK2″ saya yg sudah lumayan lama saya pendam ..
    kiranya amang bisa membantu ..

    mauliate amang!

    pro ruth siahaan:
    saya pikir berkotbah ya berkotbah, bernyanyi ya bernyanyi. Jangan dicampur-aduk. Pengkotbah tidak usah sok jadi penyanyi di mimbar. Dan para penyanyi jangan sok jadi pengkotbah. Selanjutnya: organis ya organis. :-) Selamat melayani Ruth. Lain kali kalau tidak tahu bilang saja kepada si pengkotbah yang “keganjenan” menyanyi di mimbar: maaf, saya tidak tahu. :-)

  16. Jansen H. Sinamo on July 27, 2009 at 9:48 pm

    Saya berdoa agar dan yakin bahwa rapat akbar ini akan mendatangkan berkat besar buat para pendeta dan selanjutnya bagi golongan parhalado, jemaat, dan lingkungan gereja HKBP.

    Kebetulan di pertengahan bulan Juli ini saya diundang mengisi sesi Etos Kerja Kristiani pada rapat pendeta Distrik XXII Riau, di Pekanbaru, yang dihadiri 98 orang pendeta, dan dari sana sudah saya dengar dan mulai endus aroma rapat bolon ini.

    Pokok harapan saya adalah: kiranya melalui pertemuan ini para pendeta semakin berkualitas dalam melaksanakan tugas panggilan kependetaannya dalam 3 area utama:

    1. Sakramental atau Presbiterial atau Imamat — sedemikian sehingga misteri iman kita semakin dihayati dan didarahi (dipardaginghon jala diparmudarhon) seluruh jemaat, yakni sakramen itu menjadi basis kehidupan bermarturia, berkoinonia, dan berdiakonia secara genuine, kreatif, dan positif sehingga bersama-sama kita semua berbuah dan bertumbuh terus ke arah Kristus yang adalah kepala.

    2. Pastoral atau Kegembalaan atau Kepemimpinan — sedemikian sehingga para pendeta menjadi gembala yang berkarakter serupa dengan Yesus Sang Gembala Agung seperti seperti yang antara lain terungkap dalam tema rapat ini (murah hati).

    3. Managerial atau Profesional atau Teknikal — sehingga para pendeta semakin efektif dan produktif dalam mengelola seluruh sumberdaya jemaat bagi pembangunan tubuh Kristus, terutama sumberdaya personal dirinya berupa talenta-talenta insani sang pendeta yang terasah semakin cemerlang (kemampuan berkotbah, mengajar, memecahkan masalah, menggagas solusi-solusi cerdas, menggunakan teknologi web 2.0, dsb).

    Tentang biaya, saya percaya bhw Tuhan Sang Sumber Berkat akan mencukupkan seluruh keperluan para hamba-Nya (cukup untuk sangu, cukup untuk ongkos dengan kenderaan terbaik termasuk pesawat terbang, cukup untuk penyediaan fasilitas terbaik pertemuan, cukup untuk membeli oleh-oleh buat para tercinta di Tapanuli dan di Jakarta, dsb).

    Sangat besar harapan masyarakat atas HKBP tetapi harapan itu tak mungkin terwujud melebihi kualitas para pendeta HKBP: imannya, kasihnya, semangatnya, pengetahuannya, ketrampilannya.

    May God bless the clergy abundantly and through them bless the conggregation richly.

  17. Friska pardede on July 27, 2009 at 10:51 pm

    Inilah usul saya :
    -agar dibentuk departemen remaja mengingat masa2 inilah anak2 remaja
    kita mencari jati diri termasuk gampang tergoda dgn aliran2 yg aneh
    -Lebih penting remaja ini diperhatikan dari pada punguan ama dan ina
    kecuali banyak ama2 naso tarpissang dan aian nasega2.

    -Agar dalam belajar sidi diajarkan, sejarah berdirinya HKBPdan perjalanan
    HKBP ini pada awal2 berkembang yg banyak makan korban dan dgn susah
    payah dikembangkan para pendahulu2 kita, sedangkan sekte2yg lain
    saat ini dalam mencari anggotanya bermodalkan teknologi dan
    mendatangi greja2 dan sekolah2.

    - Agar semua greja HKBP mengadakan konseling pra nikah minimal 6 bln sebelum pernikahan..
    - Tersedianya waktu dan tempat untuk konseling pernikahan, juga konseling untuk prolem2 kehidupan lainnya yang makin lama makin banyak.

    - Kalau menempatkan pendeta, tempatkanlah sesuai dgn kemampuannya krn mantan pendeta kami tdk pernah mau berkotbah di ibadah sore( kebanyakan remaja dan naposo) krn beliau tdk percaya diri berbahasa Indonesia. Ditambai angka donganma……….

  18. elumban on July 28, 2009 at 7:18 am

    Mudah2an usul2 di atas tdk kebanyakan, saya berharap usul amang Jansen Sinamo mendapat perhatian utk diperhatikan HKBP.
    Kalau boleh nitip, tolong ditanyakan Amang Pendeta kami kapan diganti?

  19. abrianto nababan on July 28, 2009 at 8:31 am

    Saya ragu efektifitas rapat dengan jumlah peserta yang begitu banyak ( 1500 orang ), tidak akan ada sesuatu yang baru sebagai hasil rapat yang akan di bawa ke resort masing2 kecuali manjaha hasil rapat yang begitu panjang dan menbosankan

    Usul :
    1. Kurangi peserta rapat, kalau bisa hanya Pdt.Resort + Praeses + Ketua2 Dewan dari masing2 distrik.
    2. Setiap Ketua Dewan ( Pusat ) harus mempresentasikan apa2 yang akan dilakukan ke depan
    3.Kemudian Buatkan sesi diskusi khusus membahas program kerja setiap Dewan yang telah dipresentasikan tadi dan kesimpulan dari sesi tersebut menjadi pedoman kerja masing2 resort ( dan harus ditandatangai seluruh peserta rapat )
    4.Tingkatkan IT di HKBP
    5.Tingkatkan Uang pensiun untuk setiap Pdt, karena saya sangat prihatin ternyata uang pensiun Pdt di HKBP ada yang kurang dari Rp. 500 ribu/bulan, padahal sudah mengabdi lebih dr 30 tahun, pernah jadi Pdt Resort bahkan pernah jadi Direktur Zending ( maaf saya tdk usah menyebutkan namanya ) dan yang paling menggelikan apabila pdt ybs sdh meninggal masih dikurangi entah beberapa persen….luar biasa ini HKBP…apa benar begitu amang ?
    6.Audit kekuangan HKBP setiap tahun dengan memanggil tim audit independent

    Demikian amang usul saya, khusus usul saya no.5, saya tunggu hasilnya, mohon amang sampaikan pada forum

  20. tanobato on July 28, 2009 at 8:51 am

    Aku usul supaya thema yang bagus tersebut (tentang “murah hati”) benar-benar menjadi penerang bagi RPH ini. Diperdalam tentang makna, dan maksud yang terkandung di dalamnya. Lalu di-interiofikasi, untuk selanjutnya di-eksteriofikasi … Pastilah HKBP akan menjadi tubuh Kristus yang memadai. Dan pemimpin (sejati dan sehati) HKBP harus dapat menjadi model, alias figur teladan bagi semua gembala.

    Dibanding SG yang sarat muatan politis dan perebutan kekuasaan, RPH sewajarnya adalah wahana untuk pemikiran dan penetapan strategi penatalayanan (jangan terganggu dengan isu mutasi yang belakangan merajalela di kalangan pendeta sehingga mengganggu konsentrasi pelayanan!). Sebagai warga jemaat, aku berharap semua peserta rapat meminta tuntunan Roh Kudus dengan sungguh-sungguh untuk memimpin semua orang dalam mencari solusi bagi perbaikan pelayanan.

    Karena ini rapat pendeta, sebaiknya diusulkan skema pemeliharaan kesehatan pendeta dan keluarganya (sudah saatnya diasuransikan secara layak …), dan skema pensiun yang menjamin pandita na suda gogo tidak menjadi “pengemis” di hari tuanya; sebaliknya menjalani sisa hidup pada masa tuanya dengan damai sejahtera. Dan warga jemaat tetap hormat kepada mereka …

    Horas jala gabe! Lam holongma rohanta di hakabepe!

  21. partopitao on July 28, 2009 at 9:18 am

    Sesuai dengan harapan amang pendeta untuk memberikan;
    1. Komentar
    2. kesan
    3. Pesan
    4. Harapan
    sebagai warga hkbp yang tetap mencintai hkbp akan coba kami memberikan.

    1. Komentar:
    Rapat dengan jumlah 1500 orang kurang efektif dan effisien karena ini sudah rapat umum yang pada umumnya hanya mendengar sipembicara, sedang untuk interaktif atas pembahasan topik2 rapat sudah tidak mungkin dilakukan. DPR yang berjumlah 550an orang saja dengan fasiltas gedung dan sarana lengkap hanya mendengarkan sipembicara saja dan pembahasan detilnya dilakukan per komisi2.
    Tentang biaya yang cukup besar, ya karena jumlah peserta besar ya memang menjadi besar. Tetapi jika dilakukan rapat ini dengan hanya dengan utusan per distrik misalnya (pendeta distrik didampingi pendeta kepala dept) dan utusan ini nantinya malakukan hal yg sama didistrik masing2 maka akan dapat menghemat jauh akan biaya tersebut.

    2.Kesan:
    Bagi kami ini lebih ditujukan untuk reuni atau pertemuan para pendeta untuk tukar pikiran dan pengalaman masing2 di daerah pelayanannya. Juga untuk refreshing/penyegaran dari pelayanan yang sudah rutin setiap hari/minggu/bulan. Ini tentu ada juga manfaatnya tetapi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan sudah kurang tepat sasaran.

    3. Pesan
    Karena rapat ini sudah ditetapkan dan harus jalan, sebagai warga hkbp kami titip pesan seperti yang sudah banyak diberikan pemberi pesan diatas, untuk dapat dirangkum oleh amang pendeta DTA untuk disampaikan dirapat tersebut “jika memungkinkan”.

    4.Harapan
    Semoga rapat ini dapat membawa pelayanan digereja2 hkbp nantinya lebih baik dari yang sudah ada saat ini. Semoga semua peserta rapat diberkati Tuhan dan dapat menuntaskan topik2 bahasan dengan baik demi kemajuan hkbp dan kemuliaan Tuhan.

  22. JP Manalu on July 28, 2009 at 12:16 pm

    Horas amang,
    Saya juga mau menitipkan harapan :
    1. Mengingat jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghelat acara ini sangat besar, baik biaya langsung (akomodasi dll) maupun biaya tidak langsung (karena “pekerja fulltimer” meninggalkan ladang dalam waktu yang relatif lama, kemungkinan di beberapa gereja, untuk pelayananan nanti mengundang pelayan dari gereja lain), saya sangat berharap semua peserta RPH mengikutinya dengan baik. Sehingga rapat yang “mestinya” menjadi arena menggumuli dengan intensif permasalahan-permasalahan terkini, tidak menjadi arena “reuni” bagi sebagian amang/inang pdt sebagaimana disinyalir pemosting sebelumnya.
    2. Urgensi untuk menghelat rapat “akbar” seperti ini saat ini apakah memang sudah sangat mendesak? Mengingat jumlah peserta rapat yang mencapai 1.500 orang (apalagi nyaris 100% Batak pula :) ) apakah tidak sepatutnya ditinjau kembali mengenai efektifitasnya. Jika diperkenankan, bagaimana kalau ke depan rapat sejenis dilakukan dengan bantuan Tehnologi Informasi, untuk yang wilayahnya belum tersentuh TI bisalah dihadirkan ke daerah yang sudah memiliki sarana tehnologi.
    Sebagai gambaran saja amang, minggu kemarin kami melakukan audit di huria di Solo untuk posisi akhir Juni 2009, jumlah biaya rapat yang dikeluarkan (Mulai dari konven, rapat distrik, rapat mpsd, rapat huria, rapat resort rapat parhalado resort, rapat parhalado dan rapat-rapat seksi/dewan) jauh lebih besar dari biaya diakonia yang dikeluarkan huria kepada jemaatnya yang ditimpa kemalangan.
    Apa memang kita parhakabepe ini hobby kali rapat ya…. ha ha ha.

  23. Ruas-Bandung on July 28, 2009 at 1:03 pm

    Saya titip usul:
    1. Persembahan satu kali saja yaitu satu kantong (berapa yang harus disetor ke kantor pusat, pakai sistem prosentasi aja seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa ressort di HKBP).
    2. HKBP ressort Bandung Riau tolng dibicarakan lagi sebab ressort yangsudah dihapus dari daftar HKBP ini masih melakukan kebaktian seperti biasanya hanya sudah di luar gedung gereja HKBP Jl. Martadinatha.

    Mauliate

  24. ELTORANG P S on July 28, 2009 at 2:01 pm

    Setiap tahun sejak 1990 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melalui program Satu Dalam Kasih (SDK) mengajak/melibatkan umat Kristen perkotaan untuk membantu umat Kristen yang tidak mampu membeli Alkitab didaerah yang kondisi ekonominya sangat miskin. Setiap tahun ditetapkan jumlah Alkitab yang akan dibagikan dan umat diwilayah mana yang yang akan menerimanya.

    Untuk tahun 2008/2009 ditetapkan target membagikan 30.000 Alkitab untuk umat Kristen di empat wilayah yaitu Sumba di NTT, Hatam Meach di Papua, Malinau di Kaltim dan HUMBANG HASUNDUTAN Tapanuli Sumatera Utara.

    Ada banyak denominasi di Humbang Hasundutan ini, tetapi mestinya HKBP lah yang paling banyak punya gereja (dan dengan demikian lebih banyak juga PENDETAnya) dan mestinya Humbang Hasundutan ini tidak terlalu jauh dari kantor Pusat HKBP na bolon i.

    Saya tidak malu kalau umat Kristen (dan Batak) di Humbang Hasundutan ini dinyatakan miskin sehingga tidak mampu membeli Alkitab. Yang membuat saya prihatin adalah mengapa para PENDETA HKBP dan juga Kantor Pusat HKBP tidak tahu (atau tidak mau tahu?) bahwa ada banyak saudara-saudara kita (mereka tidak mesti warga HKBP) di Humbang Hasundutan yang selalu rindu untuk dapat memiliki Alkitab untuk membantu mereka mendapatkan kekuatan, penghiburan dan pegangan tetapi karena kondisi ekonominya mereka tidak mampu membeli Alkitab.
    Mengapa harus LAI yang mengetahui akan ketidak adaan Alkitab di Humbang Hasundutan ini, padahal LAI tidak punya gereja/pendeta di Humbang Hasundutan dan Kantor mereka jauh di Jakarta.

    Saya pikir kalau warga HKBP diberitahukan akan kekurangan Alkitab ini, mereka akan dengan sukacita mencukupkannya. Di Jakarta ada hampir 200 gereja HKBP di Jakarta (DTA- Kantor Pusat HKBP Pindah Ke Jakarta?, May 11th, 2009), tetapi tidak perlu semua, beberapa gereja HKBP yang besar yang di Jakarta itu akan mampu mengirimkan Alkitab dimaksud, apalagi kalau diberitahukan bahwa yang akan dikirimkan Alkiab/Bibel in natura bukan dalam bentuk uang pembeli Alkitab. Teman saya mengatakan, kenapa para pendeta tidak memberikan kesempatan kepada warga HKBP melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan, ya?

    Teman itu juga mengatakan bahwa Rapat Pendeta itu akan lebih baik lagi bila para Pendeta berkenan mengagendakan juga tentang bagaimana supaya para Pendeta dapat lebih sensitif terhadap hal-hal berkaitan dengan penyampaian Kabar Baik, walaupun memang perlu juga membicarakan kesejahteraaan pendeta. (Amang Pandita DTA, adong dope Departemen Zending ni HKBP?)

  25. rumanap on July 28, 2009 at 2:54 pm

    @Ruth Siahaan.
    Selamat ya, masih muda sudah jadi organis, mengiringi kebaktian lagi.. Saya tidak sependapat dengan DTA, masing-masing punya style ..Kalo memang masih belum mampu, terus teranglah sebelumnya kepada bagian musik gerejamu, supaya mereka mencari yang lebih mampu bila perlu dari luar hkbp, demi kwalitas beribadah.

    Daniel Harahap:
    Yang jelas saya tidak pernah diajarkan oleh dosen Homiletika (Ilmu Berkotbah) agar jadi penyanyi di mimbar. :-)

  26. Happy on July 28, 2009 at 4:48 pm

    Syalom amang… sebagai bagian dari jemaat HKBP, saya mengajak kita mendoakan setiap pendeta yang hadir di sana boleh mengambil keputusan yang terbaik bagi peningkatan pelayanan bagi seluruh jemaat. Saya sangat amat setuju dengan usulan Friska Pardede dan tolong disampaikan dalam rapat nanti ya amang. Sudah saatnya HKBP lebih memberikan perhatian kepada sekolah minggu, kaum remaja dan naposo bulung karena merekalah generasi penerus. Selain itu, saran untuk meningkatkan kesejahteraan pendeta, guru huria, biblevrouw yang sudah pensiun perlu diperhatikan. Tambahan dari saya agar diberikan subsidi khusus bagi pendeta yang melayani di daerah terpencil, misalnya bea siswa bagi anak-anak mereka karena “penghasilan” mereka pasti jauh dari pendeta yang berada di kota-kota apalagi yang di kota besar.

    Salam kami buat seluruh pendeta HKBP, kiranya Sang Empunya Gereja memberkati kalian dan mencukupkan kebutuhan yang diperlukan.

  27. eric arac on July 28, 2009 at 7:57 pm

    Syalom. Kepada amang Daniel selamat mengikuti Rapat Pendeta. Banyak orang berharap, kehadiran para Pendeta seperti amang dapat membuat Rapat Pendeta HKBP semakin berkwalitas. saya sarankan amang bawa biogesic/ obat pusing, sekedar jaga-jaga amang. :)

    Usulan saya satu saja amang, menurut saya sangat penting dan mendasar.
    Sekarang ini banyak jemaat HKBP yang tidak mengerti arti sakramen Perjamuan Kudus. Ada yang mengatakan hanya mengingat kembali apa yang pernah dilakukan Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya. Kebaktian Perjamuan Kudus di beberapa Gereja HKBP semakin tidak tertib, ada yang membawa anak-anak (bukan bayi) sampai ke depan mimbar waktu menerima Perjamuan Kudus.
    Bolehkah diusulkan untuk MENERTIBKAN SETIAP ACARA KEBAKTIAN di Gereja HKBP? Secara khusus Kebaktian Perjamuan Kudus? Misalnya dengan tegas mengatakan yang belum lepas sidi belum boleh mengikuti Kebaktian Perjamuan Kudus dan ketika Kebaktian Perjamuan Kudus, anak-anak tidak diperbolehkan/dibiarkan berjalan mondar-mandir di dalam Gereja.
    Ada titipan usulan dari teman saya, bagaimana kalau Kebaktian Pembukaan dalam Rapat Pendeta itu di buka dengan lagu Buku Ende nomor 1, Ringgas ma Ho Tondingku, mudah-mudahan tidak hanya separo Pendetanya yang bernyanyi, katanya. (ada-ada saja temanku ini, jangan dibawa ke hati amang.)

  28. rumanap on July 28, 2009 at 10:00 pm

    Daniel Harahap:
    Yang jelas saya tidak pernah diajarkan oleh dosen Homiletika (Ilmu Berkotbah) agar jadi penyanyi di mimbar..
    Hehe.. au pe dang lomo pola rohangku nian mambege pandita sai marendei sian mimbar, gabe mago do konsentrasiku. Alai gumodang do dongan marlomo ni roha. Muse hujaha di Bibel i di banua ginjang pe marende-ende do dang manghata-hata i manang ma motret-motret.
    Taringot tu Homiletika muna i, Si Maradona pe dang diajari Pelatihna i manggolhon pake tangan kan ?

  29. simanjuntakm on July 29, 2009 at 7:58 am

    Selamat mengikuti Rapat Pendeta tgl. 03-07 Agustus 2009 di Sipoholon. Saya dan keluarga turut berdoa kiranya semua agenda tercapai dengan hasil yang baik.
    Dan para pendeta yang mengikuti rapat tersebut sekaligus dapat me-’recharge’ energy-nya di daerah yang sejuk itu demi pelayanan di gereja masing masing.
    **Ada kesan amang DTA ingin mengomentari besarnya biaya untuk perhelatan ini, menurut saya ini hal yang wajar dan sangat realistis untuk organisasi sebesar HKBP.

    Hidup HKBP!

  30. Bang Tampu on July 29, 2009 at 8:16 am

    Horas Amang,
    Tolong diusulkan adanya Departement baru atau Sub department. yang menangani masalah-masalah Hukum. Pembongkaran paksa, atau penutupan paksa oleh masyarakat dan pemerintah. Hal semacam ini kurang dapat perhatian oleh pucuk pimpinan HKBP sendiri, selalu membantu melalui doa saja, saya kira tidak cukup, harus berbuat bertindak. Tentulah bagian ini diisi oleh akhli-akhli hukum dan pengacara, dan berkantor pusat di Jakarta.

  31. Ellys on July 29, 2009 at 8:47 am

    Ai molo 1.5M dibagi 1500 rata2 sajuta/orang do kan Amang? Biaya hidup selama 5 hari (makan minimal 3x sehari) makalah dan biaya akomodasi lainnya, ra jumlah yang wajar malah cenderung hemat dope ra Amang. Soal manfaat dari rapat pendeta dengan peserta 1500 , tergantung tu angka hamu pandita i do ra memanfaatkan moment yang ada untuk mengajukan usul, mendengar pembicara dan pendapat peserta lain (boasa molo holan mambege dinilai dang bermanfaat?).
    Saya membayangkan kalau rapat pendeta mau 1500 orang mau 10ribu orang harusnya tetap berjalan dengan baik jauh dari berisik, ai pandita do na marapot dangi?

  32. JP Manalu on July 29, 2009 at 9:30 am

    Saya sedikit menanyakan kepada amang Pdt mengenai RPH :
    1. Apakah ada dasar theologis RPH sehingga harus dilakukan secara hatopan?
    2. Apa perbedaan RPH dengan Rapat Pendeta Distrik(RPD), maksud saya, adakah sesuatu pengambilan keputusan atau usul yang sudah diperbincangkan di RPD berbeda dengan RPH, sehingga para pendeta yang sudah berangkat ke RPD harus berangkat lagi ke RPH?.
    3. Mohon pencerahannya amang, sejak kapan RPH ini diatur dalam AP & P HKBP? Saya hanya menduga saja, jangan-jangan RPH ini digagas ketika HKBP masih di seputaran Tapanuli (atau paling jauh di Medan sekitarnya), sehingga saat itu, untuk mengumpulkan para Pendeta relatif mudah dan biayanya juga tidak begitu besar. Namun kini HKBP sudah menyebar jauh dari Tapanuli, apa memang RPH ini masih suatu kewajiban?.
    Selain itu, setahu saya sudah cukup banyak komisi-komisi di HKBP ada komisi Liturgi dll. Saya berpikir, kenapa tidak dimaksimalkan saja peran komisi-komisi ini melalui alat komunikasi yang tersedia (misal SP Immanuel, Suara HKBP, Web, Milis, blog dll), sehingga tidak mengharuskan dilakukan RPH. Jika para pendeta memiliki gagasan/ide cukup dikomunikasikan ke komisi, selanjutnya tugas komisi untuk melakukan kompilasi untuk selanjutnya dikomunikasikan (kembali) dengan menggunakan alat komunikasi yang tersedia. Selanjutnya komisi menyerahkan kompilasi tersebut kepada Pimpinan Pusat HKBP dan jajarannya. Jika ini bisa dilaksanakan, maka RPH kalaupun harus tetap dilaksanakan secara live, maksimal perwakilan dari distriklah yang menjadi utusan untuk mengikuti RPH untuk mendampingi Praeses.
    Setahu saya di Kantor Pusat ada Balitbang, hemat saya bisa saja Balitbang bekerjasama dengan komisi-komisi yang ada.
    Semoga bermanfaat.

  33. Agus Karta Parulian Panggabean on July 29, 2009 at 9:42 am

    Ya harus ada dong pesannya. Kalo tidak ada pesan, ngapain ngumpul di Sipoholon. Emangnya tempat nongkrong?

    Selain itu pesannya itu harus dilaksanakan, jangan cuma dituliskan aja di secarik kertas.

    Sayang dong duit 1,5 M untuk membiayai Rapat tsb. Bukan hanya itu: jemaat jadi terlantar karena ditinggalkan pendetanya selama 5 hari.

  34. Friska pardede on July 29, 2009 at 7:02 pm

    Pak Rumanap:
    Komentar anda untuk Ruth Siahaan menurut saya kurang membangun untuk anak seusia dia, yang menyarankan bila perlu cari dari greja lain….bukankah seharusnya semua memberikan dukungan kepada anak2 remaja yg mau mengabdikan dirinya dalam usia yg amat belia???

    Komentar amang pendeta Harahap amatlah tepat dan menghibur hatinya, klaupun pendeta ingin menyanyi di tengah2 kotbah ya…nyanyi saja sendiri tdk usah melibatkan org lain(organis) dan seperti kata amang DTA ya…tidak usah keganjenanlah, saya rasapun parorgen itu pasti lebih baik dari song leader utk baca not, tetapi toh mereka ini merasa cukuplah sebagai organis saja biar yg lain kebagian( terutama yg kepengenan tampil)

    Kebetulan ketiga anak saya menjadi organis di greja kami sejak rata2 kls 1 SMP setlh menjalani les selama 4 thn, sambil melanjutkan lesnya sampai 6 thn kemudian,mereka pemain orgen klasik yg sdh sangat langka krn belajarnya sulit dan waktu yg sangat lama itu.
    Ada banyak orang seperti anda ini tidak mengerti tentang seluk beluk organis(yg bermutu dan berkualitas baik), dan saya memahaminya saya bisa berkomentar disini,krn guru musiknya anak2ku amatlah berkualitas, satu diskusian dgn alm. H.A Van DOOP(H. Pandopo) org Belanda dan ahli musik greja, GPIB juga dgn Pastos Sutanto ahli musik greja katolik,saya
    selalu mendampingi mereka ketika les di rumah selama 16 thn ini.

    Ketika putri pertamaku mulai melayani ibadah Minggu langsung membuat iringan musik digreja kami lebih terasa sakral dan kerenanya banyak yg bertanya pada dia les dimana…dan saat ini di greja kami sdh punya 10 org organis klasik, malah GPIB Paulus sdh meminta anakku 2 org utk mengiringi ibadah disana( tetapi krn waktu mrk tidak ada, mereka blm bersedia), jadi tdk perlulah minta organis dari luar, dan yg membuat komment diatas itu adalah putri bungsuku, yg sdh memulai pelayanannya di sekolah Minggu sejak kls 4 sd. Maaf amang DTA apabila komment ini agak panjang.

  35. Dantje on July 30, 2009 at 9:12 am

    Horas Amang Pendeta, rapat dengan peserta 1500 orang? kami setuju dengan komentar di atas yang mana pesertanya cukup dgn Praesess, Pendeta Resort dan beberapa Dewan dari Resort. Hasil rapat yang didapat menjadi tugas dari Pendeta Resort dan Dewan yang dikirim mengikuti rapat untuk mensosialisasikan kepada Pendeta2 yang tidak ikut.

    Ini soal lain lg Pak Pendeta, sering kejadian di masyarakat dan kami rasa menjadi problem di HKBP,
    1. ada yang diberkati di gereja HKBP, 5 bulan kemudian sudah lahir putri atau putra nya dan untuk melaporkan pernikahan dan kelahiran anak ke gereja, meraka takut
    2. ada yang menikah di gereja yang tidak sepaham dengan HKBP, dan mereka mau masuk ke HKBP lagi tapi dengan syarat2 dan peraturan yang ada dan mungkin agak sulit akhirnya sampai sekarang mereka tidak jadi mendaftar.
    Saran kami, bagaimana kalau setiap yang datang untuk melapor atau mendaftar ke HKBP diterima saja dulu, setelah menjadi ruas baru deh mereka dibimbing ya disuruh lah marguru. jadi tidak ada kesan bahwa masuk jd ruas HKBP itu sulit dan akhirnya lari ke gereja2 disekitarnya. Demikian Amang selamat mengikuti Rapat Akbar, Tuhan Yesus Kristus memberkati

  36. liberty on July 30, 2009 at 9:13 am

    kalo usul saya silahkan seluruh Pendeta yang rapat menikmati rapat tersebut ,ambil bagian,kalau uang bisa di cari, tetapi jika ada rapat besar seperti ini saya pikir banyak hal-hal yang bisa di dapat oleh para pendeta baik melalui hasil rapat juga dari sharing kepada teman-teman lama tentu masalah pelayanan. Dampaknya tentu besar kepada pelayanan pasca rapat bisa baik bisa malah jadi lebih buruk, tapi saya yakin akan menjadi lebih baik karena sungguh banyak masukan yang akan mereka dapatkan nantinya jika masing-masing pendeta proaktif.

    Masalah meninggalkan tempat seminggu-dua minggu wajar-wajar saja, kan masih ada pelayan lain, sekarang bagaimana jemaat juga harus mandiri, bisa beribadah dengan baik,bisa berjalan organisasi dalam Gereja dengan baik, kecuali selama ini para pendeta selalu one man show, ya ..ketika ditinggal semuanya dak jalan..

    disinilah selama ini di uji apakah Pendeta melaksanakan kepemimpinan dan managament dengan baik , jika sudah berjalan saya yakin semua pelayanan bisa berjalan dengan baik, malah suatu kesempatan dan kaderisasi untuk yang di tinggal agar lebih mandiri, tinggal selama ditinggal apakah para pendeta masih aktif komunikasi kepada jemaat? selesai rapat? atau hanya istri anak saja yang dihubungi?

    Untuk para organis silahkan menambah kemampuan jangan cuma klasik, sebab kalau hanya klasih kalau disuruh mengiringi lagu yang tidak punya notasi..pasti bingung, pelajari juga musik modern sekarang, saya berani komentar karena saya juga organis jadi itu tidak perlu di permasalahkan.

  37. dangka on July 30, 2009 at 10:38 am

    Selamat marrapot amang….
    dengan jumlah peserta 1500 peserta saya pikir kurang efektif dan cenderung mengarah kepada menghambur-hamburkan biaya. Mungkin dihari mendatang rapat dapat dilaksanakan lebih efektif dengan cara mengirimkan utusan atau perwakilan dari distrik ..!!

    Melihat perkembangan akhir -akhir ini dimana ada pendeta HKBP yang sekarang banyak berperan sebagai manajer, bukan sebagai pelayan, maka kalau boleh kami mengusulkan agar kegiatan tersebut bukanlah hanya kegiatan rapat adminstratif , kumpul – kumpul dan kongkow-kongkow saja, hanya sekedar membicarakan permasalahan pendeta HKBP dari kulit luarnya saja seperti membicarakan kondisi dan adminstratif gereja ..???- ( maaf sebagai jemaat kita tidak tau apa yang menjadi materi rapat dan tujuan rapat ), tapi hendaknya kegiatan tersebut adalah kegiatan untuk me-retreat atau melihat ulang kembali performa / kualitas pelayanan para pendeta HKBP yang akhir – akhir ini semakin banyak dipertanyakan oleh para jemaatnya sendiri … sehingga melalui kegiatan ini para pendeta HKBP kembali mendapatkan pembinaan dan diingatkan kembali bahwa mereka bukan pemimpin/uluan jemaat tetapi pelayan jemaat.

    Bila perlu rapatnya hanya sehari 4 hari adalah pembinaan mental para pendeta .

    Mauliate.
    GBU

  38. Daniel T.A. Harahap on July 30, 2009 at 1:52 pm

    Terima kasih atas kritik dan saran. Ada cukup banyak pendeta yang membaca Ruma Metmet. Semoga semakin mendorong para peserta rapat untuk menjadikan rapat mendatang sungguh-sungguh baik dan berguna bagi gereja dan bangsa. Ayo lanjutkan memberi kritik dan saran. Lebih jujur lebih baik. :-)

  39. florasilaban on July 30, 2009 at 2:18 pm

    semoga rapat pendeta tanggal 3 agustus menghasilkan program pelayanan yang menyentuh untuk semua jemaat.

  40. yanti sihombing on July 30, 2009 at 2:24 pm

    Selamat Marrapot amang….unang lupa kacang sihobuk da?
    Enak lah yaw…… kayak reuni….biasanya sih ada yang tidur sampe jam 3 pagi cerita melulu ama teman lama dikampus… trus besok paginya ngantuk, lalu keluar dari ruang rapat. semoga deh hal yang ini tidak banyak terjadi.kalau nggak,wah… kasian amat mo dibawa kemana neh…
    Tentang usul saya adalah tentang Intgrity……. hubungan jamita ni pandita i dohot ngoluna nang keluargana. Kasian amat….Pdt khotbahnya dame, tapi sesama Pdt. dang marsipangkulingan, sahat muse tu anakkonna, Pdt. khotbahnya keadilan, tetapi tidak mau tau Pdt. yang diperbantukan….(lagu lama ya), Pdt ngomongnya solidaritas, marsahit donganna saulaon ndang ditopot nang pe sapargodungan, alai ditingki i laos boi do manopot ruasna nang pe holan tukkolon (sakit gigi) apalagi na mora. Kayaknya hidup Pdt. itu banyak sandiwara…..
    Usul saya selanjutnya, Pdt yang menikah sama Pdt..diminta 1 berenti, atau Pdt menikah dngan sesama partohonan,sementara Pdt, yang menikah dengan pasangan hidupnya yang berbeda propesi tidak pa..pa..meski mardua huta…Ih……ngilu juga sih gigi ini ngebayangin… itu semua….mengapa tidk disamakan aja… kalau tidak boleh ya tidak! jangan dong yang lain tidak bisa, tapi konco-konco bisa.
    Yang ini….nih… amang ! kayaknya pimpinan HKBP tidak ada yang merokok.. begitu aturannya ya amang…. tapi Pdt HKBP kebanyakan merokok…. di ruang konsistori lagi. kami perempuan yang datang dari rumah sudah wangi, segar, masuk ruang konsistori sebentar aja dah bau asbak,,,menghadap Tuhan bau asbak?sudah tau lagi merokok itu berbahaya….. Pdt… lagi aha nama sitiruon? kasian liat HKBP ku yang kucinta ini. Ini masih Rapat Pendeta kan? belum sinode godang, artinya yang bicara disana itu semuanya Pdt. kan? jadi ngomonglah sebagai Pandita…toh tidak akan kami dengar. semoga deh amang hal yang kuucapkan ini tidak menyinggung amang….sebagai pribadi… tapi kayaknya hal ini telah membuat hati saya teriris… selamat marrapotlah ya amang….unang lupa bawa sweater he..he..

  41. Hedmon Tampubolon on July 30, 2009 at 3:09 pm

    Rapat dengan peserta 1500 orang itu luar biasa, tapi dengan kondisi itu ga efektif dan tidak maksimal, walau ada keputusan saya yakin keputusan tersebut tidak optimal.
    Lebih bagus, peserta hanya mewakili dari distrik saja…jadi setiap hasil rapat nantinya akan diteruskan ke pendeta resort dan selanjutnya ke jemaat.
    Biaya juga akan lebih sedikit apabila peserta dibatasi, lebih bagus biaya tsb dapat dialokasikan ke pos pelayanan yang lebih berguna dan membutuhkan.

    Kalau memang rapat ini sudah direncanakan semula, idealnya topik bahasan rapat nanti dibahas terlebih dahulu di tingkat resort selanjutnya di bawa ke tingkat distrik…nah hasil kesepakatan rapat di distrik itulah yang akan menjadi bahan yang akan dibawa oleh masing2 perwakilan di rapat besar tsb. Jadi, tidak semua harus ikut ke rapat besar tsb.

    tentang materi rapat, menurut saya itu sudah baik utk dibahas…tapi yang menjadi tanda tanya, sudah selama ini HKBP berdiri dan sudah berapa ratus jubileum…masih membahas hal2 yang tidak prinsip???
    masih membahas hal2 teknis? waduh, sayang sekali.
    Pendapat2 diatas mungkin malah lebih tepat dibahas,misal bagaimana peran pendeta dalam mengayomi Naposo agar benar2 sebagai Bunga-bunga ni huria dan tidak lari ke kawanan lain., atau mengatasi kejadian2 yang menyangkut kehidupan berjemaat..

    Mungkin itulah dulu…pendapat dari saya, mauliate..ditambai angka dongan…

  42. Bang Tampu on July 30, 2009 at 3:51 pm

    Horas,
    Untuk kedepan aku kira rapat besar seperti ini, kita sudah dapat menggunakan teknologi on line screen meeting, windows media meeting, atau apalah namanya.
    Untuk Amang DTA, sepulang dari rapat, mohon di informasikan masukan-masukan yang sudah disampaikan pada forum ini, mana saja yang sudah diusulkan pada rapat tersebut, dan jangan lupa ya Amang, dishare hasil-hasilnya.

    Penasaran Mode : On

  43. T.Manullang on July 31, 2009 at 10:20 am

    Harapannami asa lam sadama nian sude Pandita ni HKBP, fakta nuaeng on, adong do blok/kubu2 ni angka Pandita(sai hira parpol), pelayanan tu ruas ni huriana asa lam ditingkathon, angka Pandita na kebetulan ditempathon di huria na dikota2 besar asa unang pasibukhu melayani na di ginjangna, ingkon ruas ni huriana do na umporlu silayanon. Naparpudi, tu hamuna amanami Pandita ni HKBP asa hasabamhon hamu ma na adong, unang mura2 hamu holsoan tu ruasmuna taringot tu parngoluan siap ari. Datung pasombuonni Tuhan i parhobasna hurangon.

  44. Salngam on July 31, 2009 at 12:22 pm

    Horas,
    Kebetulan dua Minggu yang lalu saya pulang kampung. Saya mengamati, jemaatnya kebanyakan hanya ibu-ibu, Bapa-Bapa entah kemana perginya. Ada kesan Sang Pendeta kurang mampu menstimulasi Jemaat Bapa-Bapa dalam penyampaian khotbah (Khotbah Pendeta kata mereka kurang menarik dan sering tidak kontextual). Ayatnya kemana pembahasannya kemana. Diharapkan untuk daerah-daerah dengan kualitas Pengkhotbah “YANG KURANG PINTAR ORASI” agar dimonitor dan lebih dibuat variasi melalui Kantor Pusat (ada semacam pertukaran mimbar internal HKBP terdekat). Kalau perlu ada semacam KKR Distrik khas HKBP dengan pengkhotbah yang piawai atau populer. Tuhan memberkati.

  45. SK. Manik on August 2, 2009 at 7:12 am

    ini keprihatinanan kita semua. dari saran dan kritik yg yg berdatangan, saya masih sedikit berharap dari rapat “besar” ini, keluar kebijaksanaan yg berguna dan didukung semua ruas HKBP.

    mengenai Thema oke-oke saja, tapi dengan nada yg lain thema itu bisa berarti: perbanyaklah persembahanmu dan totok ripe muna”

    Saya usul, dalam setiap khotbah di hkbp, dari atas mimbar, cukuplah dikhotbahkan saja yg sesuai dengan apa nats hari minggu itu, tanpa ditutup pada akhirnya dengan maksud dan tujuan tertentu. Saya punya pengalaman mendengarkan khotbah seorang pendeta yang sangat bagus yang saat itu saya pikir akan menjadi take away yg berguna untuk dibawa pulang, tapi saat klimaks di penghujung khotbah, pendeta berkata: “on pe hamu amang dohot inang, di na laho mardurung tu jolo hita annon, sai Tuhan ta ma na mamboto sadia pasu-pasu naung ta jalo sian Tuhan i dingolunta marsada-sada… dst.. dst”. lantas semuanya menjadi hambar. Tanpa pesan itu, dengan kualitas khotbah yg bagus tsb, saya yakin apa yg dimaksud pendeta tsb pasti akan mengetuk hati ruas untuk memberi lebih. Khotbah ya khotbah.. jangan ada pesan-pesan sponsor. Kalau ada pesan sponsor bolehlah sebelum khotbah. Saya yakin tidak semua pendeta seperti ini bahkan hanya segelintir. Salam.

  46. Friska pardede on August 2, 2009 at 10:22 pm

    Ada lagi nih amang tambahan mumpung masih boleh.

    Tadi di tiga kali ibadah di HKBP kami yg bertugas sebagai pelayan( sebetulnya sih hanya bertugas di persembahan dan manjaha tingting)sedangkan yg meragenda tetap sintua dan kotbah tetap pendeta, krn memang di greja kami sdh diputuskan bw pemberdayaan ruas ya….bentuknya seperti itu saja sekali sebulan weyk2 dan sekali sebulan kategorial.

    Timbul pertanyaan dihati saya lantas sintua kami yg berjumlah 40 org itu kerjanya kapan,,,?hanya 2x1bln saja mereka dapat melayani, apakah memang seperti itu….?kadang2 sih sintua yg mungkin tidak setuju tapi tidak berani bertanya(mungkin tidak ikut rapatnya dulu) mengatakan di seluruh HKBP di dunia, hanya di greja kitalah yg punya gaya seperti ini.
    Boha angka dongan….begitukah?.

    Tu hamu angka panditanami…..marsiajar ma hamu tuangka namasa….alana mantan pendeta kami sampai tersangkut dgn pengadilan tentu melalui proses aduan kekantor polisi gara2 3,5 thn pengabdiannya???di greja kami prestasinnya memecat sintua yg sdh 24 mengabdi sejak awal berdirinya greja kami.

    Walaupun beliau sdh pindah tetap saja kasusnya berjalan (dlm wkt dekat akan diadili di pengadilan).
    Sebagai jemaat biasa sungguh saya miris melihatnya….sai unang be adong na songoni tujoloan on.

    Selamat marrapot ma amang….dari komen2 diatas amang pilihlah yg paling penting( kalau bisa sih semua) utk disampaikan. Horassss
    thn berperan besar

  47. rumanap on August 2, 2009 at 11:47 pm

    @Fris
    Maaf ya Ito kalau commentku ternyata melemahkan. Tidak ada sedikitpun tujuanku kesitu. Saya yakin Rut kelak menjadi pianis yang hebat kalau dan sudah sangat sering tulisan Ito cerita tentang mereka. Tapi maaf sekali lagi topik kita bukan soal musik gereja, kalaupun ada hubungannya kesitu adalah agar Rapat Pendeta juga membicarakan kriteria pemain musik gereja. bisa saja sipemain musik sangat ahli tapi secara psikis masih perlu menunggu lebih dewasa. Saya pernah dengar bahwa yang boleh mengiringi kebaktian dewasa adalah seorang pemain musik yang sudah lepas sidi. Mohon pencerahan benar atau tidak ?

  48. joseph on August 3, 2009 at 2:17 am

    selamat rapat amang.
    Tuhan Memberkati Amang
    dlm menyampaikan saran-saran ini,
    baik atau buruk waktunya.

  49. Yohanes Enho on August 3, 2009 at 2:39 am

    @ amang rumanap:
    pointnya bukan terletak pada bagaimana qt cari gantinya sang organis sebelum beribadah, namun terletak pada bagaimana caranya qt membangun karakter seorang remaja HHBP…jika pada usia remaja saja sudah dihambat untuk melayani, kemana lagi dia akan melayani?ga mau kan ada istilah “sama2 gereja Tuhan koq malah nyuri kawanan domba” serta bagaimana caranya qt mengorganisir serta regenerasi pelayan Tuhan di gereja…Melayani adalah Memberikan Hati sepenuhnya bagi Kemuliaan Tuhan dan bukan untuk Kemegahan sang “Pendeta”……
    @ Amang Harahap :
    simple amang,do not make this meeting become a reunion, but think smart that this meeting had been created as a good media for Him and His disciples….
    Jangan pernah curi kemuliaan Tuhan….Please, jangan lakukan kebodohan seperti anggota MPR/DPR waktu rapat ya para Amang dan Inang Pendeta….
    Amang, kalo boleh kasi masukan, tolong dibahas keseriusan para pendeta dalam melayani, mungkin ada beberapa pihak pendeta yang keenakan ketika ditempatkan di tempat yang enak sehingga ketika dipindahkan,Dia memhon untuk damai saj dengan Surat Tugasnya dia…Apakah ini yang dinamakan pelayanan penuh?
    Terimakasih Amang

  50. andar on August 3, 2009 at 5:04 am

    Terimakasih atas segala saran dan kritik dari rekan-rekan sekalian. Sebagai salah seorang pendeta HKBP dari 1500an pendeta itu, saya merasa terberkati atas segala kritik dan saran, paling tidak untuk mengajak saya tetap rendah hati dan terus belajar dalam menuju kesempurnaan pelayanan tersebut. Kalau boleh usul juga, tolonglah capek sedikit pak Pdt. DTA memberikan laporan pandangan mata dari Seminarium Sipoholon karena saya sendiri harus absen dari pelaksanaan rapat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*