Rapat Pendeta HKBP: Ada Pesan?

August 2, 2009
By Daniel T.A. Harahap

rapat-pendeta-hkbp.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Para pendeta HKBP akan mengadakan Rapat di Seminarium Sipoholon 3-7 Agustus minggu depan di bawah terang tema: Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati (Lukas 6:36). Rapat Pendeta Hatopan itu sungguh besar. Yang hadir diperkirakan kurang-lebih 1500 (baca: seribu lima ratus) orang pendeta HKBP. Biaya perhelatan sebagaimana diterakan dalam proposal Rp 1.5 milyard (belum termasuk ongkos peserta). Namun bukan hanya dari segi keuangan. Seribu lima ratus pendeta demi rapat tersebut harus meninggalkan jemaatnya paling sedikit selama lima hari. Pertanyaan: sepenting apakah rapat pendeta itu sehingga HKBP harus mengeluarkan milyardan rupiah (termasuk untuk ongkos dan sangu pendeta di jalan)? Apakah gerangan yang akan dihasilkan oleh Rapat itu untuk HKBP secara keseluruhan dan untuk seluruh warga jemaat? Lantas apa pula makna pertemuan 1500 pendeta itu bagi masyarakat dan negeri ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas masih terus mengganggu hati dan pikiran saya hingga pagi ini.  Dari proposal yang saya baca di web HKBP ada sejumlah hal yang hendak dibicarakan (dan diputuskan?), antara lain: penyeragaman teknis pelayanan pendeta HKBP, teologi persembahan, perkawinan, sakramen, pelayanan holistik dan transformatif dan seperti biasa juga tentu menyangkut poda tohonan (dogma jabatan gerejawi) dan kesejahteraan pendeta.Tentu saja tema yang “mengusik” dan sangat kena: Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Sementara saya mengendapkan dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin kawan-kawan bisa memberi komentar, pesan, kesan atau harapan kepada Rapat Pendeta HKBP 3-7 Oktober nanti. Pastilah itu sangat berguna bagi saya dan kami para pendeta. Ditunggu. Horas. Sangap ma di Jahowa.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

70 Responses to Rapat Pendeta HKBP: Ada Pesan?

  1. Carl Tampubolon on August 3, 2009 at 4:29 pm

    Usul amang :
    1. Untuk mewujudkan “Sejahtera Masyarakat, Sejahtera Gereja”, maka HKBP sebagai institusi mempunyai program yang konkrit untuk mensejahterakan jemaatnya, utamanya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Contohnya: Jika suatu daerah potensinya adalah pertanian, maka HKBP membantu mencarikan bibit yg terbaik, kerjasama dgn universitas, pemerintah setempat, dll; Begitu juga di bidang lain, peternakan, perikanan, perkebunan, pendidikan, kesehatan,dll. Dengan demikian HKBP mempunyai langkah nyata dalam mensejahterakan Masyarakat (baca:Jemaatnya). Sumber dana gereja pada akhirnya tdk hanya bersumber dari persembahan atau perpuluhan jemaat saja.

    2. Kalau memungkinkan dibicarakan, pemilihan pejabat2 di HKBP (Ephorus, Sekjen, Kadep, Praeses) yang akan datang, cukup satu kali saja, yaitu hanya memilih Ephorus. Para calon Ephorus sudah memiliki calon Sekjen, Kadep(*kalau dianggap perlu), Praeses (dan diumumkan secara terbuka) apabila kelak akan terpilih jadi Eporus. Dengan demikian pemilihan tidak memerlukan waktu yang lama, dan biaya yang besar.

    3.Bila perlu, dalam periode yang akan datang, jabatan Kadep2 ditiadakan saja, karena tidak ada manfaat yang besar di tengah2 jemaat (yang ada malah penambahan durung2 untuk pekerjaan departemen tersebut…hehehehhe…..), sedangkan kualitas pelayanan tidak ada.

    4. Rapat Pendeta bagaikan reuni para pendeta HKBP. Saya yakin seyakin-yakinnya, para pendeta khususnya pendeta Junior tak akan memberikan pendapat dalam rapat tersebut (…syukur2 mereka tidak tertidur dalam ruang rapat…atau membicarakan property yang mereka peroleh setelah menjadi pendeta….hehehehehe…) karena merasa sungkan dengan pendeta Senior. Usulan saya adalah…bahan2 yg akan dirapatkan dalam rapat pendeta, sudah dirapatkan terlebih dahulu dalam rapat pendeta distrik, dan membuat sikap yg jelas dalam bersikap. Dengan demikian tidak perlu pendeta rame2 datang berbondong-bondong rapat ke sipoholon, cukup perwakilan distrik saja.

    Harapan Saya: semoga dalam rapat pendeta yang akan diadakan tidak ada intrik2 negatif dalam memilih Ketua Rapat Pendeta…semoga….

    Demikian pendapat saya, semoga Rapat Pendeta HKBP sukses, khususnya dalam meningkatkan pelayanan terhadap Jemaatnya, tabe mardongan tangiang. Horas ma di hita….

  2. Romasni on August 3, 2009 at 5:22 pm

    Horas Amang Pandita nami,
    Ala disukkun Amang pesan nami tu rapot pandita on..ba tolong ma jo bahas hamu Amang bohado taringot tu parsikkola mingguonta na di HKBP on? Dang boi be dibaen cara na lebih efektif tu akka dakdanak on??? Ikkon do mengikuti tata ibadah kebaktian dewasa naung diuba sasaotik akka ianakonta on??? Ikkon marbukku ende do dakdanak na so umboto manjaha on dope??? Tolong ma jo Amang.
    I ma jolo pesan sian ahu Amang, atik boha boi masuk tu pembahasan

    Mauliate godang
    Romasni
    (ina ni 2 dakdanak sikkola minggu)

  3. St.K.Sirait on August 3, 2009 at 7:37 pm

    Saya adalah salah satu sintua HKBP di Jakarta. Usul saya supaya sintua di HKBP di periodesasi saja. Selain memberi kesempatan kepada yang lain, supaya tetap terjaga kualitas. Mungkin dapat belajar dari gereja tetangga yang memakai periodesasi sintua. Bagaimana teman-teman suntua, setuju nggak?

  4. St. Henry Irawan Sianturi on August 3, 2009 at 8:24 pm

    Yang menggelitik pikiran saya adalah Tema Rapat Pendeta kali ini, seperti yang tertulis di Lukas 6:36. Mungkin Tema ini diambil berdasarkan Khotbah Tahun Baru Ephorus HKBP 1 Januari 2009 agar ada keseragaman dasar kegiatan HKBP 2009 yang utamanya adalah Tahun Diakonia HKBP 2009.
    Tapi…apakah selama ini Pendeta HKBP adalah pribadi-pribadi yang “tak murah hati” ? Apakah juga selama ini Gereja HKBP adalah Gereja yang “tak Berbelas Kasih” atau “tak Bermurah Hati” seperti yang diinginkan Maksud dan Tujuan Rapat Pendeta HKBP 2009 ini, yaitu agar HKBP dapat hadir sebagai Gereja yang Berbelas Kasih dan Murah Hati?
    Tapi okelah…mungkin maksudnya adalah penyegaran kembali atau “mengingatkan ulang”.
    Poda pasingoton yang disampaikan Ephorus pada saat “Pasahathon Tohonan Hapanditaon” di Angka VI (enam romawi) : “Angkup ni i sai ture ma parangemuna, asa tau tiruon hamu diangka na pinarmahanmuna i, tiruon di hata, di pangalaho, di haporseaon dohot di holong ni roha.”
    Mudah2an dapat menjadi refleksi bagi Amang/Inang Pendeta HKBP dimanapun melayani sehingga benar2 menjadi Pelayan Tuhan yang “Bermurah Hati”.
    Selamat Rapat Pendeta buat Amang Pdt. DTA Harahap. Semoga fit selalu dan enerjik, terutama menyuarakan kebenaran!

  5. Victor Tinambunan on August 3, 2009 at 9:01 pm

    Yang indah dan meneguhkan dari komentar-komentar di atas menunjukkan adanya kerinduan dan komitmen untuk mewujudkan HKBP yang lebih gerejawi (yang sampai sekarang terkesan masih sarat unsur duniawi). Dua komentar (1) Rapat pendeta bukan menetapkan ‘Aturan dan Peraturan HKBP’, jadi usul-usul di atas yang berkaitan dengan Tata Gereja HKBP bisa disampaikan pada kesempatan atau topik percakapan lain.

    (2) Sedikit komentar tentang nyanyian pada waktu khotbah. Agaknya, tidak perlu kita vonis hitam putih. Artinya, kalau nyanyi pada saat khotbah berarti sesat, tidak boleh (hitam) atau sesuatu yang mutlak perlu dalam khotbah, harus (putih). Sejauh itu sebagai wahana meresapkan firman Tuhan dan untuk kemuliaanNya, boleh-boleh saja. Itu tidak sama dengan pengkotbah menjadi ‘penyanyi’. Yang beryanyi tidak semuanya ‘penyanyi’, kok. Benar, bahwa kalau pemusik tidak tahu memainkan organ, jujur saja tidak tahu dan jangan dimainkan. Lebih bagus tanpa musik hening, ketimbang dengan musik membuat pusing.
    Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia amenganugerahkan talenta kepada banyak warga HKBP memainkan music dengan baik. Menurut saya, jadwal pemain music di gereja sebaiknyalah berdasarkaan ‘kemampuan’ bukan pembagian jatah jadwal. Di beberapa jemaat ada penjadwalan pemain music yang lebih merupakan mengambil hati dari pihak parhalado (sedhingga memberi kesempatan kepada mereka yang masih dalam tahap ‘latihan’ padahal ada yang sudah mahir) dan ada pula yang senang ‘menampilkan diri’. Ini sesuatu yang tidak sehat dalam kehidupan bergereja.

    Refleksi singkat saya tentang RPH kali ini silahkan singgah di http://victor-tinambunan.blogspot.com/

  6. sinaga on August 4, 2009 at 9:24 am

    Kepada semua pendeta HKBP yang sedang rapat 3 – 7 Agust 2009. Bicarakan perbaikan kebersamaan pendeta, kesejahteraan bersama, perbaiki moral dan perbuatanmu. Kapan dibicarakan pendeta yang melakukan yang yang jahat pelanggran tali air dan membicarakan sistim yang menyengsarakan sesama partohonan. Pendeta lakukan tugas panggilanmu memberikan kesehteraan kepada jemaat jangan hanya mengharapkan hamuliateon dari jemaat. Jangan bawa penolakan SK sehingga keanggotaannya di rapat pendeta dipersulit. Bersihkan pendeta HKBP dari kasus-kasus moral. ok!!!

  7. Nainggolan Prabu on August 4, 2009 at 1:06 pm

    Menyimak semua saran yang sudah masuk, pada dasarnya kita memahami bhw Jemaat HKBP khususnya berharap agar HKBP sebagai lembaga hrs berbuat lebih banyak lagi bagi kepentingan jemaatnya, kepentingan rakyat Indonesia pada umumnya.

    Berpikir utk kepentingan Jemaatnya, adalah bagaimana mempebaiki agar para Pendeta dapat melayani dengan sangat baik kepada para “Gembalaannya”. Pendeta juga manusia, maka masalah klasik kemanusiaan berupa kesejahteraan menjadi fokus yg sangat penting. Saya tidak tau persis standar penggajian mereka, tapi yang saya tau imbalan (Take Home Pay) nya masih memprihatinkan dibandingkan dg pekerjaan mereka. Menurut para ahlinya, Gaji yang besar bukanlah satu2nya ukuran kesejahteraan, banyak dimensinya, antara lain adalah Periode dan Zone wilayah pelayanan. Mutasi wilayah kerja pendeta perlu ditetapkan dalam satu Aturan jelas yg adil, terukur dan transparan. Dak usah lagi ada KKN.

    Tuntutan Jemaat terhadap Pendeta sangat banyak, harus begini, atau begitu, Jemaat terkadang hanya bisa menghitung kelemahan Pendeta, tidak pernah menyimak, bahkan tak terhitung saking banyaknya kebaikan Pendetanya. Jemaat lupa bahwa Pendeta itu adalah manusia. Siapa bilang Pendeta tidak ingin sesekali jalan ke Mall, sesekali bersantai ke tempat Rekreasi bersama anak dan Isteri?. Berdoa terus juga amat membosankan. Pendeta bukan malaikat.

    Saya tak perlu menyampaikan usul pada rapat Para Pendeta ini, biarlah mereka melihat dan belajar dari apa dan bagaimana mereka selama ini. Mudah2an mereka mengetahui permasalahan, sebab orang yang tahu ttg permasalahanlah yang dapat mengatasinya.

    Seekor Keledai sekalipun tak mau tersungkur dua kali dalam lobang yg sama. Saya hanya perlu mengusulkan kepada semua Jemaat HKBP, agar mulai Agustus 2009 ini, sekali dalam 1 bulan pada ibadah minggu utk mengumpulkan kolekte khusus untuk “Pendeta Kita dan Keluarganya”(Pendeta yg ditetapkan di Gereja kita). Atau ada kotak khusus di dalam gereja yg setiap orang(jemaat) dapat memasukkan serelanya yg khusus utk Pendeta dan Keluarga. Terserah nantinya Pendeta mebaginya dg para Sintua yg rajin dan berkwalitas. Dan tidak perlu diberitakan dalam warta Jemaat, Biarlah Pendeta sendiri yg mengelolanya.

    Saya bukan mau mengatakan bahwa Pendeta perlu dikasihani, pamrih, atau matre. Namun itu mungkin salah satu bentuk dukungan kita agar Pendeta bertambah bahagia dan semangat dalam pekerjaanya pelayanannya, dan mungkin sebagai pertanda bahwa kita adalah bersaudara sebagaimana yang sering kita teriakkan.

    Biarlah Pendeta kita lebih terpokus pada pelayanannya, tak perlu dipusingkan dengan harga Cabe Kriting, Bawang Pipilan, Kentang Super dll yg berkaitan dg “Timus ni Dapur”. Saya yakin(bukan utk menjelekkan) bahwa Inanta ni Pendeta juga seperti kaum Ibu Rumahtangga pada umumnya, belanja ke Pasar juga, pasar yg sama dg para Ibu Rumah Tangga umumnya. Ini bukan untuk menyamakan dg Kotak Sumbangan yg sering kita lihat di Warung atau Pasar. Sebenarnya dulu, di gereja Desa selalu ada yg namanya “Kotak Parasian”. Namun Gereja sekarang sudah hampir tidak ada. Bahkan memahami maksud dan Tujuannya pun kita sudah tidak mau.

    Mungkin masih ingat tahun 2004, semboyan “Bersama Kita Bisa”. Semboyan itu diadopsi dari Falsafah orang Batak ” Aek godang do Aek laut, Dos ni Roha do sibaen Nasaut” ternyata memang “Bisa” oleh karena itu mari kita “berbuat dan Lanjutkan” berbuat sesuatu utk Pendeta kita. Amen.

  8. pargodungan on August 4, 2009 at 5:40 pm

    Hmmm, dari Sipoholon langsung neh komennya. Mudah-mudahan sukses ya Amang. Jadi pengamat dululah ambo di sikko.

  9. nalom (RN) on August 5, 2009 at 10:55 am

    dear Amang DTA,
    saya hanya mau ingatkan, supaya jangan lupa mengangkat isu yang sudah lama dan panjang kita bahas di rumah kita ini. Yaitu tentang Perayaan Natal sebelum 24 Desember. Walaupun saya berada di pihak yg berseberangan dgn Amang dalam memandang isu ini,namun saya sangat concern agar nanti kedepan hal ini tidak lg membingungkan kaum awam.
    Selamat Marrapot, Tuhan memberkati semua pendeta HKBP yang ambil bagian dalam parrapotan. Semoga juga kembali ke jemaat masing-masing dalam keadaan sehat dan penuh semangat melayani.

  10. Hitler P. Sigalingging on August 5, 2009 at 3:29 pm

    Shalom..!
    Ada kejadian menarik minggu y.l sewaktu kami bergereja di HKBP Jati Asih Bekasi Selatan (Minggu pagi, 2 Agustus). Pada saat khotbah yang dibawakan oleh guru huria dan kebetulan Amang ini bukanlah jemaat sini melainkan baru datang dari kampung untuk melakukan safari ? ke kota2 besar seperti Jakarta, Bandung, dan termasuk Bekasi.
    Pada awalnya, mulailah Amang ini menyapa jemaat dengan begitu mantapnya dan sebelumnya tentunya di dalam doa pembukaan yang “jarang2″ seperti ini.
    Selang beberapa menit, mulailah ia menceritakan apa maksud kedatangannya, perjalanannya, dan malah ada sedikit tambahan tentang pribadinya yang sekarang sedang kuliah semester 4, dst, dst…
    Lumayan panjang lebar Amang ini mengulas bagaimana bahagianya ia bisa hadir bersama-sama jemaat sini.
    Namun secara tiba-tiba….., berdirilah salah seorang jemaat (kelihatannya sudah mjd jemat lama dan cukup dituakan) seorang bapak dan berkata (translate sy sendiri): “Unang paganjanghu mangkatai, palelenghu…!”
    Bagai bara besi panas dimasukkan ke dalam air, besssssssssshhh…….
    Terjadi keheningan 180 derajat! Mulai dari situ terjadilah pembahasan khotbah yang “berliku-liku”, tak fokus, dan tidak mantap lagi seperti pada awalnya (ini versi saya lho…:) )
    Yang ingin saya tanyakan dan silakan dibawa ke rapat pendeta, apa yg sebaiknya dilakukan seorang pengkhotbah? Apa yang sebaiknya dilakukan jemaat? Hal-hal kecil seperti ini cukup mengganggu saya dan keluarga sewaktu beribadah itu. Apa yang bisa Amang berikan sebagai solusi?
    Mauliate,

  11. yanti hutabarat on August 5, 2009 at 8:43 pm

    dear Amang Pendeta Harahap,
    input dari saya sebagai salah satu warga HKBP di jakarta adalah apakah dari HKBP ada program & kegiatan pembinaan nyata untuk jangka pendek & panjang di setiap huria yg menangani kehidupan para remaja & dewasa? Karena kalau melihat keadaan sekarang ini yg tantangannya luar biasa, kaum muda adalah area yg cukup ‘urgent’ yah…yg butuh perhatian. mereka tidak hanya perlu dibantu secara group tapi juga personal.
    Mungkin yg saya sampaikan ini diluar konteks agenda rapat tapi kalau bisa dijadikan pembahasan, yah…saya bersyukur juga.
    Kiranay Tuhan memberkati!

  12. sinag on August 6, 2009 at 8:06 am

    Pilih KRP yang mampu membawa parhamaranggion sesama partohonan.

  13. mm Timbo on August 6, 2009 at 9:08 am

    @ruth:
    Prnah dengar lagu : “Biar anak2 datang kepadaKu, itu sabda Yesus Tuhan memanggilku.. Kini aku datang, siap menghadapmu. Ku datang padaMu Yesus memanggilku”
    Jadi bukan melayani pendeta atau jemaat tapi melayani Tuhan
    *Salam sayang-*

  14. lambok limbong on August 6, 2009 at 12:30 pm

    Amang Pdt. Daniel
    Selamat mengikuti Rapat Pendeta HKBP di Sipoholon dan semoga agenda rapat yang direncanakan bisa terlaksana dengan baik.
    Saya jemaat HKBP Kasih Karunia Resort Sipiongot yang berlokasi di Kec. SImangambat Kab. PALUTA,sebelumnya TAPSEL dan menjadi jemaat HKBP sejak tahun 1992.
    Saat ini Guru Huria orangnya itu saja yang sudah memimpin sejak tahun 1995 sampai dengan sekarang.
    Apakah ini bisa dibantu untuk penggantian Guru Huria dari Pusat, sehingga perubahan yang lebih baik. Mauliate aman

  15. Nainggolan Prabu on August 6, 2009 at 5:29 pm

    Atik beha adong akka perbedaan pendapat di ujung ni parrapotan muna akka Pandita nami, sotung unang adong perpecahan ate. Ahape akka rencanamu sai tu denggan ni HKBP ta nabolon on ma sudena. Ala molo hubege hami hamu holan napajolohon pusu-pusu hamu di rapot mu naon, behama ulaning hami akka Ruasmu namarjuta on.

    Lungun do roha molo sai adong bege on akka perpecahan, satolop ma hamu di akka kesimpulan ni rapot mu nai. Nga godang kesusuhan taadopi di akka pardalananta namargareja, unanng be nian ditambai hamu akka lungun ni rohanami akka ruasmu.

    Pos marohanami akka barita na denggan ma begeon nami sian parrapotan munai, ate amang Pandita nami. Horasma.

  16. BUDIMAN GULTOM on August 6, 2009 at 8:08 pm

    Horas amang pandita,
    Menurut saya Persembahan sebagai salah satu topik yang dibahas dalam rapat pendeta kali ini adalah salah satu topik yang sangat menarik dimana akar dari segala dosa yang ada di huria berasal dari persembahan, hal ini saya kemukakan karena kebayakan gereja-gereja hkbp tidak jujur dalam pengaturan pembagian porsi persebahan tersebut sesuai dengan yang telah diaturkan hkbp. sebagai ruas saya sering merenung kenapa setiap minggu kita dikasih berita bohong pada tingting tengtang jumlah pelean tu pusat sebelum mendengar jamita, saran saya kepada amang kalau bisa bersuara pada rapat pendeta ini tolong di bahas dan di pikirkan solusinya untuk tidak membenarkan kebohongan ini.syalom

  17. Dongan Hutapea on August 7, 2009 at 10:29 am

    Saran untuk dibahas pada rapat hatopan HKBP di Sipoholon.
    1. Tunjukkan perjuangan NYATA HKBP PUSAT dihadapan jemaat pada saat ruas berupaya medirikan bagunan gereja yang telah ada izinnya dari pemda khusunya di Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang dan DKI. Unang dung jongjong gareja i marsigulut hamu manempathon pandita yang dekat dengan pimpinan HKBP. jala sae hira hamu namarjasa pada saat peresmian gareja muse.
    2. Mohon para pendeta-pendeta junior dikader dulu didaerah/desa, jangan tanpa pengalaman menjadi ULUAN NIHURIA di gereja kota-kota besar (provinsi) demikian juga perlakuan dan perbuatan harus menjadi suri tauladan, unang holan hata marjamita manis, anggo holan mandok burung beo pe bisa.
    3. Sumber parbadaan di HKBP adalah masalah uang karena dicampuri oleh para pandita, untuk itu harus ada aturan yang jelas bahwa pendeta TIDAK bisa mencampuri urusan keuangan geraja, biarlah itu dikelola secara transparan oleh parhalado dan ruas.
    4. Mohon segala biaya-biaya yang berhubungan dengan kunjungan pejabat – pejabat dari/dan an. HKBP Pusat ke daerah (khususnya gereja HKBP diluar Pulau Sumatera) ditanggung oleh kantor pusat jangan dibebankan ke HKBP tujuan. Ai gabe hami ruas do namapukpuk hamu songon BOS dimana fungsi pelayanan ? Kalau tidak punya biaya ngak usah datang.

    Songonima jolo, mohon maaf bila ada kesalahan.
    Horas & Mauliate.

  18. Hasian LS on August 10, 2009 at 12:16 pm

    Tung mansai tanda jala tandi do halak Batak Amang Dongan Hutapea on. Keterbukaan baik. Tapi, sekalipun miliaran rupiah dari Amang Hutapea untuk pembangunan gereja, sama sekali tidak punya arti apa-apa jika menjadi kesombongan, apalagi yang lebih banyak malah dari orang lain, bukan dari amang Hutapea sendiri. Yang tidak kalah pentingnya dijernihkan dalam berHKBP ini adalah “motivasi” mendirikan gereja. Jangan sampai menjadi sarana kesombongan bagi siapa pun, baik ruas maupun pendeta, tetapi tergerak oleh cinta kasih kepada Tuhan dan kemuliaan hanya kepada-Nya. Ini yang paling kita butuhkan di HKBP. Selama ini, terlalu banyak yang menganggap diri paling berjasa. Padahal, hanya Tuhanlah sumber segala sesuatu yang baik. Kerendahan hati kita sangat sangat perlu agar Tuhan berkenan kepada kehidupan bergereja kita dan kita menjadi berkat.

  19. nalom (RN) on August 11, 2009 at 10:27 am

    @Hasian LS
    Amang sedang mengomentari tulisannya Amang Dongan Hutapea, atau sedang menyindirnya? ;)
    Menurutku Tulisannya Amang Dongan Hutapea, adalah hal yang kasat mata kita lihat selama ini. Tapi kalau Amang sedang menyindirnya sebaiknya jangan lah disini.
    Hanya pada item#2 dari tulisan Amang Dongan Hutapea, saya kurang setuju.
    Huria huria di Pedesaan bukan sekadar tempat pembinaan para pendeta untuk dapat diterjunkan di kota-kota, seolah-olah Pdt di kota-kota itu lebih hebat dari pada yg di huria Pedesaan. Pdt yg di pedesaan itu juga gak kampungan banget deh. Banyak mereka yang juga penuh ketulusan dalam melayani.

  20. Hasian LS on August 13, 2009 at 8:10 pm

    @nalom (RN)
    Sy dengan sengaja mengungkapkan yang menurut saya benar, bukan menyindir. Lebih dari itu, sebuah ajakan untuk pertobatan bagi kita semua pelayan dan warga HKBP. Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*